Rabu, 13 Februari 2008

“PENGALAMAN SPIRITUAL TIDAK INHEREN DI OTAK”


Dr H Taufik Pasiak, M Pdi, M Kes lahir di Manado, 29 Januari 1970. Staf pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Samratulangi, Manado ini, sudah lama menggeluti pelbagai persoalan yang berhubungan dengan otak manusia. “Saya sudah berkali-kali membelah otak manusia,” katanya saat berkunjung di kantor redaksi SC beberapa waktu lalu. Sekarang, alumni Universitas Gadjah Mada, Fakultas Kedokteran, Jurusan Spesialis Neuroanatomi ini, sedang melakukan penelitian tentang hubungan otak dengan pengalaman spiritual manusia, untuk tugas disertasinya. Berbetulan sama dengan tema disertasi yang ia angkat, saya mewawancarainya seputar misteri Gos Spot dan hubungan otak dengan pengalaman spiritual. Berikut petikannya:

Apa hubungan spiritualisme dengan otak?

Pengalaman spiritual merupakan salah satu kajian di bidang ilmu otak yang cukup menarik. Di bandingkan dengan dulu, saat ini memang memuncak. Kasus seperti Lia Aminuddin dan Ahmad Mushoddeq, itu merupakan kasus-kasus yang membuat ahli mulai memasuki wilayah ini. Mereka mencari tahu, apakah spiritualitas itu berdiri sendiri ataukah ada kaitannya dengan otak manusia?
Ada tiga teori yang berkembang dalam dunia kedokteran terutama yang mendalami hubungan otak dengan spiritualisme, khususnya soal kehadiran Tuhan. Teori pertama adalah God Modul atau God Spot, yang sering salah dipakai oleh orang yang tidak mengerti. Di Indonesia ini banyak sekali kesalahan memakai istilah God Spot, seolah-olah Tuhan itu merupakan sesuatu yang berupa bercak atau modul dalam otak manusia. Teori ini yang mengenalkan adalah Prof V.S. Ramachandran, Direktur Center for Brain and Cognition di Universitas California. Ramachandran berpendapat bahwa pada bagian otak yang namanya lobus temporal itu ada bagian yang kalau dipicu, manusia akan ada pada pengalaman spiritual. Tapi yang dia maksud tidak sesederhana yang dibayangkan oleh orang-orang yang tidak mengerti tentang ini. Seolah-olah God Spot adalah segala-galanya bagi sebuah spiritualitas.
Teori kedua, teori circuit. Artinya kehadiran Tuhan itu bukan sebuah modul tapi sirkuit, beberapa komponen yang saling berhubungan. Jadi dalam otak kita, menurut beberpa ahli ada sirkuit yang kalau dipicu salah satu komponen maka manusia memiliki pengalaman spiritual.
Dan ketiga, yang menurut saya paling tepat, yaitu teori katalisator atau enzim. Enzim itu fungsinya adalah mengkatali sebuah perubahan kimia dalam tubuh. Jadi misalnya dalam otak itu ada sirkuit spiritual yang spesifik untuk hal-hal yang membaur dengan spiritualitas. Ini terletak di bagian depan yang kita sebut dengan area asosiasi orientasi, dan area asosiasi atensi yang terletak di otak belakang. Ini adalah komponen otak yang berperan ketika seseorang itu merasa memiliki pengalaman spiritual. Tapi pengalaman spiritual itu tidak inheren di otak, harus dipicu dari luar, yang dalam istilah para sufi itu kehadiran Tuhan.
Jadi perasaan spiritualitas itu datang kepada otak manusia dan bergabung dengan sirkuit spiritual, yang kemudian melahirkan pengalaman spiritual. Jadi spiritualitas bukan sesuatu yang berada dalam diri manusia. Manusia hanya menyediakan semacam antena atau katalisator yang memandu informasi dari luar.
Sementara itu, pengalaman spiritual itu ada empat termin. Ibarat orang berjalan dari satu tempat ke tempat yang lain, maka dia harus melewati keempat terminal yang keempat-keempatnya merupakan pengalaman spiritual, dilihat dari kaca mata bagian otak yang terlibat.
Pertama perasaan estetik. Ini terjadi bila anda melihat sebuah bunga yang indah, anda melihat alam semesta yang hebat, Ibu yang melahirkan dan seterusnya, anda akan mengalami perasaan estetis. Itu pengalaman mistis. Anda dan atau semua orang pernah mengalaminya.
Kedua namanya cinta, ketika ia merasa terlibat pada sebuah tindakan. Misalkan ketika ia melihat air mengalir, ia merasa seolah-olah merupakan bagian dari air itu.
Ketiga namanya takjub, rasa kagum di luar batas ketika seseorang mengamati sesuatu. Jadi melebihi pengalaman estetik yang pertama dan kedua.
Dan keempat adalah penyatuan atau univikasi, yang dalam istilah hindu disebut nirwana, Kristen union mistika dan Islam menyebutnya fana.

Bisa dijelaskan tentang univikasi?

Misalkan al Hallaj memverbalkan pengalaman spiritualnya dengan istilah Ana Al Haq, saat itu fungsi sistim limbik dan batang otak atau area asosiasi orientasi yang terletak di bagian belakang otak yang berfungsi membentuk imaginasi tentang diri pada level 3 dimensi, itu hilang digantikan oleh sistem talamokortikal yang sangat giat sekali aktivitasnya. Akibat hilangnya fungsi area asosiasi orientasi, maka diri seseorang itu tidak bisa dipersepsi. Seseorang itu merasa menyatu dengan alam semesta, dia merasa menyatu dengan lingkungan sekitar. Dia tidak lagi melihat dirinya sendiri di mana. Ini pengalaman unifikasi yang dalam kajian neuroscience terjadi saat otak belakang, terutama area asosiasi visual yang befungsi menyusun struktur tubuh manusia dalam posisi 3 dimensi itu hilang. Ini posisi tertinggi yang dialami seseorang yang saat itu merasa menjadi bagian dari alam semesta. Nah dari pengalaman tersebut, acapkali kita salah faham, kita menganggap al Hallaj itu mengaku sebagai Tuhan. Padahal tidak.
Nah pada pengalaman estetik sebaliknya, yang aktif saat itu justru visual, yakni area asosiasi orientasi yang terletak di otak belakang. Jadi kesadaran sebagai manusia masih ada. Tapi pada unifikasi, keasadaran sebagai manusia yang sadar itu hilang. Dengan kata lain kesadarannya berubah menjadi menyatu dengan alam semesta.
Ini tentang pengalaman spiritual, makanya bila anda perhatikan pelatihan-pelatihan yang banyak dilakukan saat ini, termasuk pengalaman yang dialami Lia Aminuddin, itu pengalaman spiritual pada level satu atau paling tinggi pada level cinta. Mereka belum sampai pada level penyatuan atau unifikasi. Jadi pengalaman yang dialami Lia Aminuddin itu pengalaman biasa yang kita semua bisa alami.
Dari pengalaman spiritual di atas, yang terpenting itu adalah, apakah pengalaman spiritual itu semata-mata hanya pengalaman spiritual saja ataukah pengalaman spiritual itu mampu membawa perubahan pada seseorang? Kalau pengalaman spritual itu benar-benar pengalaman spiritual yang sebenarnya, maka orang itu pasti akan berubah menjadi baik. Tentu saja ada ukuran tertentu untuk menilainya.

Ada yang mengatakan, pengalaman ‘spiritual’ antara orang gila dengan orang saleh itu sama. Bisa dijelaskan?

Pertama, kalau orang gila (skizofrenia), itu pengalaman tanpa sadar. Tidak ada yang memicu. Sementara pengalaman spiritual itu dipicu oleh stimulus dari luar. Kedua, pada orang gila itu memang kelainan. Sementara pengalaman orang soleh itu tidak. Ketiga, pengalaman mistik ini biasanya terjadi hanya sekali, dan tidak bisa berlangsung lama. Paling hanya berlangsung 2-3 menit saja atau paling lama 30 menit. Ini seperti hasil riset yang pernah dilakukan terhadap Pendeta Zen di Jepang. Sementara orang gila itu bisa sepanjang waktu.

Konon, berkat God Spot, pengalaman spiritual itu bisa dialami semua orang meski pun ia atheis?

Pengalaman spiritual dalam otak itu bukan spot atau nokhtah. Spot itu titik saja. Pengalaman spiritual itu sirkuit, yaitu ada beberapa titik yang saling berhubungan. Itu pemahaman keliru orang yang tidak paham. Jadi God Spot yang ditemukan oleh Prof V.S. Ramachandran yang dipopulerkan oleh media massa itu tidak seperti yang dia maksud. Karena Ramachandran itu menunjuk pada daerah otak yang disebut lobus temporal, tapi ternyata pengalaman spiritual itu tidak hanya titik yang bernama lobus temporal, dia terlibat dalam sebuah sirkuit. Bila titik, ibarat telphon itu hanya satu, dan anda tidak bisa berkomunikasi. Sementara sirkuit, ibaratnya anda melibatkan telephon anda pada orang lain, dan anda bisa berkomunikasi. Sementara God Spot itu hanya menunjuk satu titik saja. Jadi teori God Spot itu tidak kuat. Itu menjadi kuat hanya pada pelatihan-pelatihan yang tidak mengerti tentang apa itu God Spot!
Jadi sirkuit spiritual dalam otak, itu tidak akan bisa berfungsi bila tidak ada stimulus dari luar. Apa itu stimulus spiritual? Bisa macam-macam. Pertama, ada semacam obat-obatan kimia di mana bila anda menghirupnya, maka sirkuit spiritual anda akan aktif dan anda punya pengalaman spiritual. Kedua, bila anda menderita epilepsi, dan sirkuit spiritual itu teraktivasi, anda juga bisa mempunyai pengalaman ‘spiritual’. Ketiga, bila ada stimulasi listrik ke sirkuit spiritual anda (seperti yang dilakukan oleh Dr Persinger, red), maka anda juga akan merasakan pengalaman spiritual. Keempat, pengalaman spiritual yang datang dari luar, diberi oleh Tuhan, yang kemudian masuk ke dalam sirkuit spiritual anda, sehingga menghasilkan pengalaman spiritual. Jadi sirkuit spiritual atau katalisator itu bisa dipicu dengan berbagai macam hal. Indikator orang yang mengalami pengalaman spiritual yang tepat itu adalah, setelah mengalaminya maka akan ada perubahan menjadi lebih baik. Ini indikator penting.

Kalau pengalaman spiritual yang diperoleh secara instan dengan pendakian panjang, adakah perbedaan antara mereka?

Yang dialami oleh orang-orang yang mengikuti pelatihan-pelatihan itu memang benar sirkuit spiritual, tapi itu instan. Karena untuk mengakifkan sirkuit spiritual di otak itu tidak hanya dengan menonton, mendengar atau lainnya. Ada ritual-ritual tertentu, yang kemudian sirkuit ini bisa teraktivasi secara konstan. Nah untuk melihat perbedaan, apakah ini pengalaman spiritual yang dipicu oleh spiritual instan atau tidak, itu bisa kita lihat dari perilaku mereka dalam ranah sosial.
Ada penelitian di Jepang yang membedakan antara Pendeta Zen yang sedang bermeditasi dengan penderita skizofrenia. Ini ilmiah. Mereka menemukan data bahwa pengalaman mistik yang dialami Pendeta Zen itu menujukkan pengalaman spiritual yang dialaminya bisa hilang dan bisa datang lagi. Sementara pengalaman mistik yang dialami oleh penderita skizofrenia itu terus berlangsung tanpa ada fase berhenti. Itu tanda pertama. Artinya, seorang mistikus atau sufi, itu menyadari bahwa dia mengalami pengalaman spiritual. Berbeda dengan penderita skizofrenia yang tidak sadar dengan apa yang dialaminya.
Kedua, bila seorang sufi mengalami pengalaman spiritual maka ia akan kembali kepada masyarakat dan melakukan pencerahan. Ini yang ditampilkan oleh Rosulullah setelah Isra’ Mi’raj. Coba anda bayangkan, kalau dipikir-pikir secara logis, Nabi Muhammad sudah ada di Surga, ngapain balik di dunia? Jadi bagi orang yang memiliki pengalaman spiritual yang unik ini, ia harus kembali kepada masyarakat dan memberikan pencerahan kepada masyarakat.
Nah kepada teman-teman yang bergiat dalam dunia pelatihan tersebut, saya memberikan apresiasi yang sangat dalam kepada mereka, artinya sebagai usaha yang patut dihargai. Tapi sekali lagi, spiritualitas yang dilahirkan itu instan sekali. Spiritual yang bobotnya lebih rendah apabila dibandingkan dengan spiritualitas yang ditumbuhkan secara baik dari diri sendiri.
Orang yang mengikuti spiritualitas instan itu merasa beriman ketika ada induksi dari luar. Jadi bila anda ada dalam sebuah ruangan dan anda diinduksi dengan film, cerita dan lainnya, anda akan menjadi sangat beriman. Tapi ketika anda pulang ke rumah, maka keimanan anda tertinggal di ruangan tadi. Jadi efeknya sejenak saja. Tapi bila melalui pendakian yang sangat dalam, maka efeknya akan sangat panjang.
Nah selama ini yang kita lihat, pelatihan yang melibatkan banyak orang, para peserta itu memang menangis dan merasa dekat dengan Tuhan. Tapi setelah pulang, mereka kemudian menjadi biasa. Itu kan sama saja dengan dzikir massal yang sejak zaman dulu sudah ada.
Jadi para peserta pelatihan instan itu terkondisikan sedemikian rupa, tapi setelah kondisi itu hilang, maka hlang pulalah pengalaman itu. Bahkan menurut saya yang dialami bukan pengalaman spiritual, tapi seolah-olah pengalaman spiritual.*

Adib Minanurrachim

2 komentar:

Spiritualisme mengatakan...

dahsyat

Evolution Brain mengatakan...

Terimakasih untuk memposting hasil wawancara dengan dr. Taufiq Pasiak. Saya mengagumi dr. Pasiak karena tulisan-tulisannya yang memadukan unsur neuroscience dengan neuropsikologi dan neurospiritual. Untuk pengalaman spiritual ini saya setuju dipicu dari luar dan tidak menolak datang dari dalam, karena kita sudah ditiupkan "ruhNya". Contohnya nabi Ibrahim menyembelih anaknya mendapat petunjuk dari "mimpi" (mungkin lucid dream kali ya). Nah, ketika terjadi "pengalaman spiritual" ini, kita tidak tahu datang dari stimulus luar atau dalam. Seperti bertanya tentang telur dan ayam. Yang manakah yang lebih dulu? Thx.