
Yogyakarta (Dikdas): Pendidikan karakter merupakan upaya menanamkan nilai-nilai kebaikan pada diri anak didik, seperti nilai keimanan, ketakwaan, kejujuran, termasuk nilai sportifitas. Direktur Pembinaan Sekolah Dasar (SD), Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar, Kementerian Pendidikan Nasional, Prof. Dr. Ibrahim Bafadal, M. Pd., menilai bahwa ASEAN Primary School Sport Olympiad (APSSO) merupakan kejuaraan olahraga yang menyimpan nilai-nilai pendidikan karakter.
”Sesungguhnya pertandingan seperti Atletik, Sepak Bola, Bulutangkis, Tenis Meja, dan Catur adalah untuk melatih anak-anak bersikap sportif. Anak yang sportif adalah anak yang memiliki karakter baik. Semangat untuk menang adalah hal yang baik. Dalam bahasa psikologi itu disebut prestasi untuk prestasi. Ada sejumlah cabang olahraga yang berbentuk tim, contoh sepak bola mini. Di sini, anak-anak dibiasakan untuk berkerja secara tim, secara kelompok, dan itu merupakan bagian dari pendidikan karakter,” jelas Ibrahim Bafadal, usai mengikuti acara pembukaan APSSO kelima di Hotel Inna Garuda, Jl Malioboro, D.I. Yogyakarta, Sabtu kemarin (8/10).
Mengingat APSSO erat kaitannya dengan pendidikan karakter, Ibrahim Bafadal menilai bahwa kejuaraan olahraga tingkat ASEAN tidak cukup hanya untuk jenjang SD.
”Saya kira, kegiatan olahraga sekaligus untuk mendidik karakter anak, tidak cukup hanya di tingkat SD. Karena pembinaan yang baik itu berkelanjutan. SD di bina, dilanjutkan di SMP, SMA, SMK, bahkan mungkin juga untuk PKLK. Dan APSSO ini pembinaan yang cukup bagus, karena bisa melahirkan para atlet untuk olimpiade olahraga tingkat internasional, karena pembinaannya dimulai dari level sekolah, kecamatan, kabupaten, provinsi, nasional, hingga tingkat ASEAN,” tambah Ibrahim Bafadal.
Sementara itu, ketika ditanya apakah kejuaraan olahraga jenjang sekolah dasar yang melibatkan negara-negara ASEAN perlu ditingkatkan menjadi kejuaraan dunia? Ibrahim Bafadal memilih tidak tergesa-gesa mengiyakan. Ia mengatakan bahwa APSSO masih berusia lima tahun, dan masih diselenggarakan di Indonesia, yang merupakan perintis kelahiran APSSO. Ia berharap pada tahun mendatang, APSSO bisa digelar di negara ASEAN lainnya agar bisa lebih mempererat hubungan antarnegara ASEAN.
“Dan begitu sudah bagus di level ASEAN, kita bisa mencoba memprakarsai untuk level yang lebih tinggi, seperti IMC atau kejuaraan internasional Matematika. Karena kejuaraan internasional ini hikmahnya banyak sekali,” tambah Ibrahim Bafadal.
Di antara hikmah dari kejuaraan internasional yang disebut Ibrahim Bafadal adalah pertukaran budaya. Misalnya, atlet dari Thailand dengan Indonesia duduk berdampingan pada saat jam makan malam, dan berbincang-bincang. Di antara mereka bisa tercipta komunikasi interaktif yang melahirkan pengetahuan, pemahaman, dan kesadaran akan negara dan bangsa masing-masing berikut kekayaan budayanya, hingga kemudian tercipta keakraban dan sikap saling menghormati.
“Hal ini baru terjadi di tingkat ASEAN saja. Andai ini terjadi di level internasional, tentu akan semakin luas pertukaran budaya yang terjadi, dan itu adalah hal yang sangat bagus. Banyak manfaat yang didapat jika hal itu bisa diwujudkan, bukan hanya sebatas pertandingan olahraga saja,” pungkas Ibrahim Bafadal.* [Adib Minnanurrachim]
Repro: [http://dikdas.kemdiknas.go.id/content/berita/utama/nilai-nilai-2.html]



