Senin, 17 Oktober 2011

Nilai-nilai Pendidikan Karakter dalam APSSO


Yogyakarta (Dikdas): Pendidikan karakter merupakan upaya menanamkan nilai-nilai kebaikan pada diri anak didik, seperti nilai keimanan, ketakwaan, kejujuran, termasuk nilai sportifitas. Direktur Pembinaan Sekolah Dasar (SD), Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar, Kementerian Pendidikan Nasional, Prof. Dr. Ibrahim Bafadal, M. Pd., menilai bahwa ASEAN Primary School Sport Olympiad (APSSO) merupakan kejuaraan olahraga yang menyimpan nilai-nilai pendidikan karakter.


”Sesungguhnya pertandingan seperti Atletik, Sepak Bola, Bulutangkis, Tenis Meja, dan Catur adalah untuk melatih anak-anak bersikap sportif. Anak yang sportif adalah anak yang memiliki karakter baik. Semangat untuk menang adalah hal yang baik. Dalam bahasa psikologi itu disebut prestasi untuk prestasi. Ada sejumlah cabang olahraga yang berbentuk tim, contoh sepak bola mini. Di sini, anak-anak dibiasakan untuk berkerja secara tim, secara kelompok, dan itu merupakan bagian dari pendidikan karakter,” jelas Ibrahim Bafadal, usai mengikuti acara pembukaan APSSO kelima di Hotel Inna Garuda, Jl Malioboro, D.I. Yogyakarta, Sabtu kemarin (8/10).

Mengingat APSSO erat kaitannya dengan pendidikan karakter, Ibrahim Bafadal menilai bahwa kejuaraan olahraga tingkat ASEAN tidak cukup hanya untuk jenjang SD.

”Saya kira, kegiatan olahraga sekaligus untuk mendidik karakter anak, tidak cukup hanya di tingkat SD. Karena pembinaan yang baik itu berkelanjutan. SD di bina, dilanjutkan di SMP, SMA, SMK, bahkan mungkin juga untuk PKLK. Dan APSSO ini pembinaan yang cukup bagus, karena bisa melahirkan para atlet untuk olimpiade olahraga tingkat internasional, karena pembinaannya dimulai dari level sekolah, kecamatan, kabupaten, provinsi, nasional, hingga tingkat ASEAN,” tambah Ibrahim Bafadal.

Sementara itu, ketika ditanya apakah kejuaraan olahraga jenjang sekolah dasar yang melibatkan negara-negara ASEAN perlu ditingkatkan menjadi kejuaraan dunia? Ibrahim Bafadal memilih tidak tergesa-gesa mengiyakan. Ia mengatakan bahwa APSSO masih berusia lima tahun, dan masih diselenggarakan di Indonesia, yang merupakan perintis kelahiran APSSO. Ia berharap pada tahun mendatang, APSSO bisa digelar di negara ASEAN lainnya agar bisa lebih mempererat hubungan antarnegara ASEAN.

“Dan begitu sudah bagus di level ASEAN, kita bisa mencoba memprakarsai untuk level yang lebih tinggi, seperti IMC atau kejuaraan internasional Matematika. Karena kejuaraan internasional ini hikmahnya banyak sekali,” tambah Ibrahim Bafadal.

Di antara hikmah dari kejuaraan internasional yang disebut Ibrahim Bafadal adalah pertukaran budaya. Misalnya, atlet dari Thailand dengan Indonesia duduk berdampingan pada saat jam makan malam, dan berbincang-bincang. Di antara mereka bisa tercipta komunikasi interaktif yang melahirkan pengetahuan, pemahaman, dan kesadaran akan negara dan bangsa masing-masing berikut kekayaan budayanya, hingga kemudian tercipta keakraban dan sikap saling menghormati.

“Hal ini baru terjadi di tingkat ASEAN saja. Andai ini terjadi di level internasional, tentu akan semakin luas pertukaran budaya yang terjadi, dan itu adalah hal yang sangat bagus. Banyak manfaat yang didapat jika hal itu bisa diwujudkan, bukan hanya sebatas pertandingan olahraga saja,” pungkas Ibrahim Bafadal.* [Adib Minnanurrachim]

Repro: [http://dikdas.kemdiknas.go.id/content/berita/utama/nilai-nilai-2.html]

APSSO, Blue Print Kegiatan Pendidikan dan Budaya ASEAN


Yogyakarta (Dikdas): ASEAN Primary School Sport Olympiad (APSSO) merupakan blue print kegiatan pendidikan dan budaya negara-negara yang tergabung dalam Association of Southeast Asian Nations (ASEAN). Demikian butir utama sambutan Prof. Dr. Ibrahim Bafadal, M. Pd., Direktur Pembinaan SD, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar, Kementerian Pendidikan Nasional, pada acara Pembukaan The 5th APSSO yang digelar di Hotel Inna Garuda, Jl Marlioboro, Daerah Istimewa Yogyakarta, Sabtu malam (8/10).


“APSSO telah menjadi blue print kegiatan ASEAN dalam bidang pendidikan dan kebudayaan,” kata Ibrahim Bafadal, seraya menambahkan bahwa ide kelahiran APSSO tercipta saat memperingati 40 tahun berdirinya ASEAN, pada tahun 2007.

Pendapat Ibrahim Bafadal di atas, seiring dengan salah satu tujuan berdirinya ASEAN yang ingin mengembangkan kebudayaan negara-negara anggotanya, selain meningkatkan pertumbuhan ekonomi, kemajuan sosial, dan memajukan perdamaian di tingkat regional. ASEAN berdiri pada 8 Agustus 1967 di Bangkok oleh Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand.

“Kami memutuskan menyelenggarkan APSSO kelima di Kota Yogyakarta, dengan tujuan agar APSSO kelima ini sebagai kegiatan olahraga serta budaya. Keikutsertaan para siswa tidak hanya untuk menjadi juara, tetapi secara tidak langsung akan mendapatkan pengalaman suasana budaya Kota Yogyakarta,” tambah Ibrahim Bafadal.

Menurut Ibrahim Bafadal, APSSO selalu menjadi salah satu pokok perbincangan setiap ada pertemuan antarnegara anggota ASEAN. Pada tahun 2009, dalam forum Pertemuan Menteri Pendidikan Asia Tenggara ke 32 di Bangkok, Thailand, Indonesia mengangkat APSSO sebagai tema utama pertemuan. Kemudian pada tahun 2010 di Filipina, APSSO menjadi tema terhangat dalam pertemuan antarnegara ASEAN. Dan pada 26 Januari 2011, APSSO juga menjadi salah satu topik pembahasan dalam Pertemuan Menteri Pendidikan ASEAN di Brunei Darussalam. Kehadiran APSSO dalam setiap pertemuan ASEAN ini, adalah bukti bahwa APSSO merupakan kegiatan olahraga siswa sekolah dasar yang menjadi perhatian serius ASEAN.

“Hal ini juga diharapkan dapat meningkatkan semangat bagi para anggota negara ASEAN, untuk menjadi tuan rumah secara bergiliran,” kata Ibrahim Bafadal, yang menghendaki para peserta, pelatih, kepala delegasi, dan juri memperoleh layanan prima dari panitia.

Pada APSSO kelima tahun ini, ada enam negara yg dapat berpartisipasi, yaitu: Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, dan Brunei Darussalam. Sementara Vietnam yg semula menyatakan turut serta, mendadak menggagalkan keikutsertaannya pada detik-detik terakhir menjelang pelaksanaan APSSO.

Hadir dalam acara pembukaan The 5th APSSO: Direktur Jenderal Pendidikan Dasar Kementerian Pendidikan Nasional (mewakili Menteri Pendidikan Nasional); Deputi Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga, Kementerian Pemuda dan Olahraga (mewakili Menteri Pemuda dan Olahraga); Wakil Gubernur Provinsi D.I.Yogyakarta; Rektor Universitas Negeri Yogyakarta; pejabat Eselon 1 dan 2 di lingkungan Kementerian Pendidikan Nasional; Anggota Muspida Provinsi D.I.Yogyakarta; Ketua Umum KONI pusat; Ketua KONI Provinsi D.I.Yogyakarta; Ketua PB PASI; PB PSSI; PB PERCASI; PB PBSI; PB PTMSI; Delegasi negara-negara ASEAN; Official; Pelatih; Juri; Wasit, dan para siswa sekolah dasar peserta APSSO.* [Adib Minnanurrachim]

Repro: [http://dikdas.kemdiknas.go.id/content/berita/utama/apsso-blue-p-2.html]

Jumat, 08 Juli 2011

Esok Mentari Masih Terbit


"KRHOGH…Krhoggh… Krhogggh," terdengar keras dengkuran di pojok kamarku. Tak biasanya Dullah, sobat karibku, mendengkur sekeras malam ini. Dengan tubuh meringkuk memeluk bantal, begitu tentram tidurnya. "Mungkin ia tengah mimpi bersandingkan putri di atas kursi mewah yang beralaskan rupiah," pikirku geli melihat tidurnya yang pulas tiada terkira.

Udara malam ini begitu panas. Sudah 7 bulan lebih musim hujan berlalu, air sungai di belakang kamar kosku menyusut. Entah kenapa hingga bulan Ramadhan tiba, hujan seolah-olah ikut berpuasa. Nyanyian kodok yang biasanya terdengar riang gembira, kini berganti dengan kesedihan yang terbungkus dalam kebisuan. Hanya nyamuk, satu-satunya hewan yang tetap bersemangat berkeliaran dan mendengung-dengungkan nyanyian dari kedua sayap kecilnya di sekitar telingaku. Tak terasa lima ekor telah bergelayutan di beberapa bagian tubuhku. Berkali-kali mereka menyuntik kulit tubuhku, rakus dan haus darah. Plok! timpukku pada salah satu nyamuk. Tapi sial, meleset. “Uh! dasar nyamuk kota, rakus!” keluhku pada mereka yang gesit menghindari serangan lemah tanganku.

Kusulut satu dari tiga batang rokok 76 hasil ngutang di warung mbok Ijah. “Wuss,” kusemburkan asap penuh racun nikotin itu di sekeliling tubuhku. Lumayan, meski tak seperti baygon, sebagian nyamuk ngacir.

Perlahan kulirik jam dinding yang tampak cengar-cengir menatap kebuntuan fikiranku. Jam satu pagi. “Huh… aku harus coba menulis sekali lagi,” desahku pelan. Lemah aku beranjak dari tumpukan buku dan beberapa lembar koran harian menuju sebuah meja. “Tinggal seminggu lagi, aku harus dapat uang,” batinku sambil duduk menghadap mesin ketik tuaku. Sementara bayangan Supri, Jalal, Bagio, Safitri datang silih berganti menagih hutang.

Akhir-akhir ini akal dan hatiku memang cukup goyah. Pelbagai usaha telah kutempuh, mulai dari ngelamar pekerjaan hingga mencoba menulis di media nasional. Tapi hasilnya kosong. Entah, apakah Tuhan tengah menguji mentalku atau memang nasibku tertulis sial. Jujur saja hal ini berpengaruh pada kondisi jiwa dan kesehatan badanku yang berubah menjadi kurus dan ringkih. “Duh! Gusti Allah, Engkau adalah Dzat Maha Pemurah, semoga Engkau beri kemudahan hambaMu ini dalam mengais rizki,” ratapku dalam do’a.

Asap rokok mengepul pelan nan lebat dari ujung bibir hitamku, menambah suramnya lampu lima watt yang hampir jatuh di atas mesin ketik rentaku. “Tak…tak…tak…” bunyi jeruji-jeruji huruf dari mesin ketik tuaku pada sebuah kertas putih ukuran kwarto. Jari-jemariku bergerak-gerak lincah, menulis huruf demi huruf, merangkai kata-kata, dan membasutnya dengan indahnya sastra hasil belajar empat tahun di Perguruan Tinggi Swasta kala itu. “Yah…demi sebuah bangunan artikel ringan. Semoga usaha yang kesekian kali ini tak sia-sia lagi,” harap kalbuku.

-oOo-

“KRINGGGG…..” jerit jam beker yang tergeletak di samping telinga Dullah. Sejenak ia menggeliat, menghentikan mimpi indahnya. Kemudian bangkit dan terduduk lesu.

“Ndro! kamu nggak sahur?” tegur Dullah sambil menggosok kedua kelopak matanya yang ramai dengan kotoran mimpi panjangnya.

“Emangnya udah pukul berapa Dull?”

“Lho, hampir imsak Ndro. Nih lihat jam bekerku kalau nggak percaya!” katanya sambil bangkit duduk berkemul sarung.

“Wah, tak terasa hampir setengah empat. Ah… andai saja waktu bisa berhenti sejenak, menanti rampungnya tulisan ini,” desahku kesal.

Sebentar kuhisap dalam-dalam putung rokokku yang hampir habis, kemudian beranjak keluar ke arah pintu seraya berkata kepada Dullah, “kamu basuh muka kotormu dulu Dull, kita sama-sama ke warung Mbok Ijah.” Tanpa menjawab, ia bangkit berdiri dari duduknya, ngeloyor ke jeding.

Di warurng mbok ijah, aku hanya minum tiga gelas air putih, dua buah jajan kering dan tak lupa satu batang rokok Djarum 76 kesukaanku.

“Kamu enggak makan Ndro,” tegur Dullah lembut.

“Enggak.”

“Kenapa? Kamu bokek? aku ada uang,” kejarnya.

“Nggak usah Dull! trims, ini aja udah cukup. Bagiku bulan Romadhon kali ini harus dibiasakan ngirit, banyak nahan nafsu biar barokah,” kilahku. Padahal kantongku lagi kempas-kempis.

-oOo-

TEPAT pukul setengah sepuluh pagi, aku telah rampungkan tulisanku. Sejenak aku terdiam dalam editing. Setelah kuyakin tiada hal lagi yang penting, baru kemudian aku beranjak ke jeding. Sengaja aku hanya membasuh mukaku dengan sedikit air. Aku tak mandi sebab air cukup sedikit. Maklum, air di kota seperti Surabaya ini tak gratis lagi. Beberapa lembar rupiah harus melayang dari kantong bila ingin puas mandi. Tapi kesegaran mandi itu pun terasa percuma, karena sengatan-sengatan panasnya kota cepat merubahnya dengan peluh-peluh keringat.

Memang benar-benar kelewat. Saat ini bukan hanya BBM yang naik, air pun ikut-ikutan iri hati dan meloncat bertengger bersama BBM. “Hualah, emboh wiss!” umpatku dalam hati memikirkankan keberadaan negeri tercinta ini.

Tepat setengah sebelas, aku berangkat ke kantor pos di pusat kota. Dengan bekal sepuluh ribu rupiah, aku kirimkan lima buah tulisan yang kurampungkan selama lima minggu di lima media negeri ini. “Yah mudah-mudahan ada yang dilirik,” harapku di tengah terik matahari kota Surabaya.

Seusai kukirimkan lima tulisan itu, bersama panas—sahabat alamku—aku berjalan pulang ke kosku yang berjarak sekira 3 Km dari kantor Pos. Diiringi tetes-tetes peluh yang mengelilingi dahi dan sebagaian tubuh kurusku, lamat-lamat alam bawah sadarku berdiri menggantikan keteguhan alam nyata. Cukup jelas tergambar keluh-kesah Emakku waktu aku pulang kampung.

“Ndro… kapan kamu dapat kerja? Emak udah nggak mampu lagi nyari uang. Coba kamu usaha dikit-dikit, sudah sarjana kok masih nganggur! Apa nggak malu dengan gelarmu?!” tegur Emmakku sewot menyaksikan anak sulungnya yang nasibnya masih menggelantung.

“Sabar dikit kenapa sih Mak, saya kan lagi usaha nulis. Entar kalo jebol di media dan terkenal, nggak bakalan nyusahin Emak lagi,” jawabku yakin di tengah kelesuan jiwa.

“Jebal-jebol…udah berapa kali kamu janji, tapi nyatanya masih aja nganggur!” ketus Emakku. Sepi, tiada kata keluar dari bibir hitamku. Aku hanya bisa tersenyum kecut dengan kepala menunduk. Memang, aku sadar bahwa aku selalu gagal. Tiga tahun selepas dari PTS, tak satu pun dari tulisanku yang berkenan di hati media-media cetak di negeri ini.

Ngelamar pekerjaan? Waduh! nggak usah dibahas. Sudah sepuluh kali lebih aku meminang, tapi sepuluh kali lebih tolakan pula jawabanya. Entah, apakah memang karena indeks prestasiku (IP) yang kurang memuaskan? Atau bekerja itu harus lebih dulu nyiapin segepok uang untuk nyogok? Weleh! kalau yang terakhir ini, jelas aku nggak sudi. Bukan karena nggak mampu. Aku bisa kumpulkan segepok rupiah yang pernah disyaratkan beberapa instansi pemerintah dan swasta padaku. Tapi apalah arti semua itu? Bukankah itu nabrak hati nuraniku dan mencampakkan imanku? Tidak! Aku tak akan melakukan hal itu dan tidak akan pernah.

Bagiku, mendapat pekerjaan itu tak harus dengan segala cara. Ada prosedurnya sendiri dan harus dengan jiwa yang jantan. Lebih-lebih, aku tak akan merasa percuma belajar empat tahun di PTS jika aku mendapatkan pekerjaan tanpa melalui suap, melainkan dengan melihat kualitas ilmu dan kompetensiku dalam bidang pekerjaan tertentu. Meski IP-ku tak memuaskan bukan berarti aku lebih bodoh dari mahasiswa yang meraih cum laude. Sebab IP hanyalah formalitas. Bukan subtansi. Lagi pula, bukankah IP itu bisa dikompromikan?

“Duk!”

“Auww!” jeritku terkejut.

Tak kusadari dahiku telah membentur tiang listrik yang berdiri congkak di tengah trotoar.

“Jangkrik! Tiang jelek pembawa sial,” umpatku kesakitan sambil mengelus-elus dahiku yang memar akibat benturan.

“Duhh… kasihan. Melamun ya mas?” tegur seorang gadis yang kebetulan berada di belakangku.

“Ah! E…e..enggak. Hanya karena batu sialan saja aku tersandung,” kilahku.

Gadis itu hanya tersenyum sambil berlalu. Sementara aku tertegun. Seolah tak percaya melihat wajahnya, senyum manisnya dan resam tubuhnya. Kenapa ia sedemikian manis dan sedemikian persis dengan mendiang kekasihku, Yuanita Sastrawati?

Sedetik tergerak hatiku untuk memanggilnya, mengejarnya. Tapi, augh! Dahiku terasa sakit dan sedikit pening. Akhirnya dengan amat berat aku tepiskan niat tersebut. Lagi pula tak mungkin Yuanita hidup kembali. Ia sudah tiada. Mustahil ia kembali ke alam nyata.

Akhirnya, berat aku langkahkan kakiku membelok ke kiri, bergegas pulang ke rumah bu Cokro, ibu kosku.

-oOo-

PUKUL tiga sore, aku telah sampai di rumah bu Cokro, pemilik rumah kos. Seusai terucap salam dari mulutku dan dijawab si Upik, anak bu Cokro, aku langsung ngeloyor ke kamarku. Dullah tak terlihat batang hidungnya. Padahal siang begini ia biasa duduk-duduk di teras sambil menggoda si Upik. Tapi aku tak risaukannya siang itu. Selain dirundung rasa lelah dan sakit di dahiku, mataku terasa berat sekali. Aku belum tidur sejak tadi malam hingga siang ini.

Tak kuasa menahan cuaca yang panas, segera kulepas baju berlengan panjang yang menempel di tubuhku dan mengambil handuk kecil di almari dan kemudian menuangkan sisa air hangat dari tremos sisa tadi malam di atasnya. Sejenak hatiku lega merasakan hangatnya handuk yang aku letakkan di atas dahiku. Kemudian, bersama kondisi perut yang kempis karena berpuasa dan ditambah rasa lelah yang tiada tara, perlahan kurebahkan tubuhku di atas kasur yang terhampar di lantai kamar. Oh…begitu leganya hatiku dapat berbaring siang ini, melepas lelah dan mengikuti tuntutan mataku yang sayu menahan kantuk. Diiringi hembusan angin yang meniup pelan dari baling-baling kipas kecil yang ada di samping tubuhku, rasa lelah dan penat tubuhku berangusur-angsur hilang. Tapi ketika seluruh panca inderaku hampir sepakat untuk istirahat, sayup-sayup kudengar lagu Iwan Fals dari kamar sebelah,… Engkau sarjana muda, resah tak dapat kerja, tak berguna ijazahmu // Empat tahun lamanya bergelut dengan buku, sia-sia semuanya // Setengah putus asa, dia berucap, “ma’af Ibu…”

Aku hanya tersenyum. Biarlah Iwan bernyanyi demikian. Tapi jelas batinku berkata yakin, bahwa akan ada perubahan; entah esok, lusa, bulan depan, tahun depan atau bahkan menjelang kematiaanku. Perjuangan dan usahaku untuk memperbaiki keadaan musti berlanjut, kendati harus berpeluh dan berdarah-darah. “Huaahhh….letih benar jiwa dan raga ini. Bismillah, izinkan hambaMu istirahat,” do’aku menjelang tidur.*



Adib Minnanurrachim
Nurul Jadid, 03/07/2001

Sabtu, 02 Juli 2011

LAGU SATU [ H. I. D. U. P. ]


Oleh; Iwan Fals

Jalani hidup
Tenang tenang tenanglah seperti karang
Sebab persoalan bagai gelombang
Tenanglang tenang tenanglah sayang

Tek pernah malas
Persoalan yang datang hantam kita
Dan kita tak mungkin untuk menghindar
Semuanya sudah suratan

Oh matahari
Masih setia
Menyinari rumah kita

Tak kan berhenti
Tak kan berhenti
Menghangati hati kita

Sampai tanah ini inginkan kita kembali
Sampai kejenuhan mampu merobek robek hati ini

Sebentar saja
Aku pergi meninggalkan
Membelah langit punguti bintang
Untuk kita jadikan hiasan

Tenang tenang tenanglah sayang
Semuanya sudah suratan
Tenang tenang seperti karang
Bintang bintang jadikan hiasan

Berlomba kita dengan sang waktu
Jenuhkah kita jawab sang waktu
Bangkitlah kita tunggu sang waktu
Tenanglah kita menjawab waktu

Seperti karang
Tenanglah
Seperti karang
Tenanglah


[ Lagu yang bercerita tentang bagaimana menjalani hidup, dan menghadapi kehidupan. ]

Jumat, 06 Mei 2011

Tanyaku Sepanjang Batanghari


Tanyaku memang menyusuri aliran sungai Batanghari,
yang sunyi dan sepi.
Sesekali singgah di surau pinggiran sungai,
mengambil jeda, mereda letih.

Dan lihatlah, sebaris pertanyaan itu berantakan sekarang.
Entah kenapa. Ah, bukan entah. Ia memang lelah.
Perjalanan yang ia tempuh terlalu jauh.
Wajar bila sekarang ia renggangkan ikat pinggang, mengurai huruf demi huruf.

O...,
Ternyata ada banyak noda di sekujur huruf-hurufnya.
Bagaimana ini? Tentu kau merasa jijik, bukan?
Menjauhlah. Tak baik untuk kulitmu yang putih pualam.

Dan sebelum kembali berjajar, biarkan huruf-huruf itu mandi besar.
Agar kembali segar saat menjadi sebaris pertanyaan.
Dan kuharap kau tetap di tepi,
di tempat semula yang telah kau tentukan sendiri.

Di surau pinggir Batanghari ini, sesaat saja,
biarkan tanyaku bermunajat.
Kepada Tuhan, yang mungkin memberi bekal menuju samudera.
Dan setelah ini, tak perlu aku mencarimu lagi, bukan…?


10.09 PM; 04052011
Pamulang, Tangerang Selatan

Senin, 21 Februari 2011

Asvi Menggapai Kebenaran Sejarah

Hari-hari akhir bulan September menjadi istimewa bagi Asvi Warman Adam (55). Obsesinya menguak kebenaran sejarah, di antaranya tentang Peristiwa 1965, lagi-lagi memperoleh momentum. Dia ajak pemerintah, sesama sejarawan, dan masyarakat berpikir ulang tentang narasi-narasi masa lampau, utamanya tragedi 1965.

Mengenai kemungkinan pelanggaran berat HAM, sekitar Peristiwa 1965, menurut ahli peneliti utama LIPI itu, peristiwa Pulau Buru sebagai peristiwa paling jelas. Tempatnya jelas, tahun terjadinya jelas, pelakunya jelas, serta korban dan jumlahnya jelas. Dengan tujuan mengamankan Pemilu 1971, lebih dari 10.000 orang yang digolongkan tahanan politik 1965 golongan B dimasukkan ke kamp kerja paksa lebih dari 10 tahun. Stigma buruk diterapkan kepada mereka, selain pembunuhan, penangkapan tanpa proses dan pengadilan.

Kasus Pulau Buru merupakan mata rantai peristiwa sekitar 30 September 1965. Selama bertahun-tahun narasi tentang peristiwa itu hanya satu versi, yakni versi Orde Baru, bagian dari upaya justifikasi kekuasaan dan pengumpulan kekuatan. Justifikasi itu diawali dengan pembunuhan besar-besaran setelah 1 Oktober, ada yang memperkirakan jumlahnya lebih dari setengah juta orang. Penciptaan narasi tunggal disusul proyek Pulau Buru. Gugatan yang muncul dibungkam.

Seiring deru reformasi tahun 1998, masyarakat mulai kritis dengan narasi dan pencitraan versi tunggal. Film Pengkhianatan G30S/PKI yang diputar luas setiap akhir bulan September digugat. Menurut dia, tidak lagi diputarnya film itu secara luas merupakan satu keberhasilan. ”Inilah pertama kali terbuka munculnya upaya meluruskan sejarah Peristiwa 1965. Disusul kemudian berbagai versi yang ditulis para korban dan analis-analis yang sebelumnya tidak terkuak ke permukaan,” kata Asvi Warman Adam.

Asvi mengutip sejarawan Inggris, EH Caar, bahwa kebenaran sejarah gugur manakala ditemukan data baru. Munculnya narasi-narasi baru itu adalah bagian dari ajakan menemukan dan meluruskan. Keputusan politik, katakan ketetapan MPR, adalah produk politik bagian dari justifikasi kekuasaan. Oleh karena itu, ketika data baru semakin banyak ditemukan, versi tunggal perlu ditinjau ulang, kalau perlu, ditindaklanjuti dengan rehabilitasi nama baik dan permintaan maaf dari pemerintah.

Sampel yang representatif

Demi pelurusan sejarah dan hapusnya pembohongan, Asvi tidak hanya memimpikan sekitar Peristiwa 1965 atau peristiwa lain, seperti Peristiwa Mei 1998, tetapi bahkan sejak awal Indonesia merdeka. Tidak perlu semuanya, tetapi dipilih peristiwa dan masalah sebagai sampel yang representatif. Misalnya, kurun 1945-1955, 1955-1965, dan seterusnya, sehingga diperoleh sekitar 10 kasus.

Asvi setuju bahwa demi alasan politis ada bagian-bagian peristiwa yang ditutupi, tergantung dari perspektif masing-masing. Namun, kalau narasi itu adalah kebohongan, itu perlu dibongkar. Taruhlah kisah tentang Serangan Oemoem 1 Maret dengan cara menghilangkan peran tokoh lain. Itu kebohongan sejarah.

Awal ketertarikannya ke sejarah Peristiwa 1965 dimulai pada satu peristiwa pada tahun 1999. Dia diminta ceramah oleh Yayasan Hidup Baru, sebuah yayasan yang mengurusi bekas tahanan politik 1965. ”Saya terharu atas semangat juang mereka. Saya terharu ketika mereka, bapak-ibu berusia sepuh itu, mengumpulkan uang recehan. Hasilnya sekitar Rp 25.000, diserahkan sebagai honorarium ceramah saya,” kenang Asvi.

Dengan ketekunan, dia ikuti dan teliti segala narasi Peristiwa 1965 yang berkembang selama ini. Dia sampaikan obsesi itu dalam berbagai tulisan dan karangan pengantar buku, yang semuanya berfokus ajakan menguak kebohongan sejarah, utamanya sekitar Peristiwa 1965.

Dari tujuh buku yang sudah ditulisnya, menulis Peristiwa 1965 tidak hanya berkenaan dengan peristiwa satu malam tanggal 30 September, tetapi juga penangkapan, penahanan, perburuan massal yang memakan korban lebih dari setengah juta orang, pencabutan paspor mahasiswa Indonesia di luar negeri, serta pembuangan paksa 10.000 tapol ke Pulau Buru tahun 1969-1979. Hal itu termasuk stigma dan diskriminasi jutaan orang keluarga korban Peristiwa 1965. Peristiwa-peristiwa itu disebutnya ”pancalogi”, sebagai rangkaian prolog, peristiwa, dan epilog G30S (Asvi Warman Adam, 1965. Orang-orang di Balik Tragedi, Galangpress, 2009).

Bagi Asvi, Peristiwa 1965 merupakan tanda atau pembatas zaman. Dari banyak peristiwa sejarah yang dialami bangsa Indonesia, Peristiwa 1965 merupakan pembatas zaman dalam berbagai bidang. Perubahan politik yang besar terjadi dalam bergesernya kedudukan Indonesia dari pemimpin negara nonblok dan dunia ketiga menjadi ”murid yang baik” AS. Kebijakan ekonomi berdikari menjadi kebijakan ekonomi pasar yang bergantung pada modal asing. Tidak ada kritik, tidak ada polemik, semua dalam satu versi, yakni versi pemerintah.

Peralihan dari profesi wartawan (3 tahun sebagai wartawan) ke peneliti/sejarawan tidak kecil peranan yang diberikan Prof Dr AB Lapian. Dalam status belum setahun bekerja di LIPI, setelah keluar dari majalah Sportif tahun 1983, Asvi memperoleh tawaran mengajar Bahasa Indonesia di Paris, Perancis, sekaligus beasiswa. Dia perlu memperoleh rekomendasi pimpinan LIPI. Lapian bertanya, ”Rekomendasi saya tulis dalam bahasa Inggris, Perancis, atau Indonesia?” Akhirnya rekomendasi ditulis dalam bahasa Indonesia, menerakan bahwa Asvi boleh ke Paris mengajar sekaligus belajar. ”Nah, itulah titik balik profesi saya,” Gelar doktor ilmu sejarah pun diperolehnya dengan disertasi tentang sejarah Vietnam.

Di benak Asvi, dia memimpikan narasi sejarah dibebaskan dari kebohongan-kebohongan. Biarlah peristiwa itu sendiri bicara tentang sejarahnya! Menggapai kebenaran sejarah? Yaaah..., Asvi tertawa lepas!

BIODATA
a. Nama: Asvi Warman Adam
b. Lahir: Bukittinggi, 8 Oktober 1954
c. Istri: Nuzli Hayati (52)
d. Anak: Tessi Fathia Adam (23)
e. Pekerjaan: Ahli Peneliti Utama Pusat Penelitian Politik LIPI
f. Pendidikan: Doktor sejarah dari Ecole des Hautes Etudes en Sciences Sosiales, Paris (1990)
g. Karier: Aktif berceramah, menulis artikel tentang rekayasa Orde Baru dan historiografi
h. Indonesia dari perspektif korban, dan menulis setidaknya tujuh buku tentang sejarah kontemporer, terakhir (”Sarwono Prawirohardjo. Pembangun Institusi Ilmu Pengetahuan di Indonesia”, LIPI, 2009)
i. Mantan anggota tim Pengkaji Pelanggaran HAM Berat Soeharto yang dibentuk Komnas HAM tahun 2003


Repro: http://edukasi.kompas.com/ (Kamis, 1 Oktober 2009 | 01:51 WIB)
Oleh: ST Sularto

Minggu, 06 Februari 2011

Tak Usah Risau, Bayang-bayang Pasti Datang!

bayang-bayang itu, makin menjauh saja
tapi biarlah. tiada ingin aku mengejarnya
sebab waktu sudah senja

dan bila malam tiba,
aku tidak akan lari darinya
justru aku akan tenggelam dalam pekatnya malam

kesendirian dan kesunyiaan adalah kondisi dasar jiwa manusia
atau sebuah rumah
tempat istirahat jiwaku yang haus anugerah

dan bila pagi memaksa mentari menyinari bumi
jadikan bunga-bunga merona tiada henti
aku pun masih teguh pendirian di sini

maksudku sudah tersampaikan
pada bayang-bayang
yang mirip gelombang menghempas tiada henti dari air yang dangkal

biarlah pagi alami jenuh dan berganti siang hari
saat itu, bayang-bayang pasti datang sendiri
tawarkan diri, tanpa peduli siapa aku ini


Suatu Senja di Jakarta
Ciputat, Minggu 06 Februari 2011
Adib Minnanurrachim