Kamis, 27 Desember 2007

“SILATURRAHMI SEBAGAI KOMUNIKASI PRODUKTIF”

DARI sudut pandang sosiologi, silaturrahmi adalah interaksi yang dijalin antar indvidu dalam sebuah komunitas yang bisa memunculkan understanding (pemahaman bersama), dan pada saat yang sama juga melahirkan transbuilding (saling percaya). Selanjutnya diharapkan akan muncul sinergi untuk menggalang cita-cita bersama. Jadi ukhuwah itu sarana membangun modal sosial. Dalam hal ini ada ayat Al Qur’an yang menggambarkan bahwa Allah menciptakan manusia bersuku-suku, laki-perempuan dan seterusnya untuk saling kenal-mengenal.
Interaksi masyarakat komunal itu face to face. Karena pekerjaan, tempat tinggal dan lingkungannya sama. Itu merupakan interaksi yang membangun budaya. Sementara dalam masyarakat modern, interaksi face to face sulit dilakukan karena situasi dan kondisinya. Tapi biasanya dijembatani dengan telp, sms dan lainnya. Understanding dan trust dalam interaksi adalah modal dasar untuk melakukan sinergi atau gotong royong. Ada perbedaan gotong royong antara masyarakat paguyuban dan patembayan. Dalam masyarakat patembayan, gotong royongnya lebih pada hubungan profesional dan harus dilandasi ikatan kontrak berupa MoU. Sementara pada masyarakat paguyuban itu lebih loose (longgar) dan tidak perjanjian tertulis.
Sebenarnya, gotong royong itu universal. Di India atau di Amerika, yang namanya masyarakat pedesaan itu tidak kalkulatif. Jadi tidak unik Indonesia. Tapi bahwa di Indonesia gotong royong merupakan suatu yang dominan, ya memang kita masyarakat kerabat. Bahkan satu kampung bisa saudara semua.
Di Indonesia, gotong royong antara desa dan kota berbeda. Dan di kota juga ada perbedaan antara kampung dan daerah seperti Menteng ini. Di dekat sini ada kampung Bonang dan intensitas gotong royongnya masih terasa. Karena interaksi face to face-nya masih intensif. Tapi beda dengan di Menteng ini. Misalkan saya dengan tetangga di depan itu hampir tidak pernah ketemu. Karena situasi dan kondisinya memang berbeda, tak selalu bertatap muka secara langsung karena sudah diblok dengan pagar. Ini juga dialami keluarga yang kerabatnya berpencar di mana-mana, baik di Indonesia atau di Amerika dan Eropa. Di Amerika, kerenggangan ini biasa dijembatani dengan moment yang bisa mengumpulkan seluruh keluarga, yaitu Thank Giving Day. Ini merupakan sejarah di mana orang Eropa datang dan disambut oleh orang Indian dengan sajian makanan kalkun. Itu kemudian menjadi tradisi. Ini sama dengan kita bila tiba Idul Fitri. Ada tradisi mudik lebaran, media untuk mengintegrasikan communal feelling yang terpecah karena situasi dan kondisi.
Ada perbedaan antara silaturrahmi dari dimensi sosiologis dan silaturrahi dari dimensi teologis. Dua pengertian ini bisa disebut ayat kauniyah dan qouliyah. Nah ayat kauniyah ini sudah saya katakan tadi. Kalau qauliyah, itu bertolak dari fenomena sosial seperti tadi terus ditambah dengan ukhuwah yang didasarkan pada semangat beribadah, memperkuat komitmen dan menumbuhkan rasa keberagamaan hingga menumbuhkan komunitas religius. Jadi ada spirit agama. Sama saja dengan anak-anak yang pulang kampung. Mereka tak sekedar memperkuat kerekatan antara anak dan orang tua semata, tapi pada saat yang sama juga terjadi check dan recheck tentang spiritual conditionnya. Karena tujuan hidup itu kan tak sekedar cari makan dan berteman, tapi juga bagaimana struggle untuk menetapi sebuah visi-misi yang bersifat sangat pribadi (agama), tapi pada saat yang sama juga kolektif. Makanya juga mengenal jamaah. Nah, jamaah itu kan sebenarnya memperkuat visi-misi keagamaan individu secara kolektif. Sehingga ukhuwah itu mempunyai dimensi spiritual collective.
Sekarang, bisakah silaturrahmi itu mempengaruhi peradaban? Ada istilah human capital, orang punya profesi dan kemampuan sendiri-sendiri. Pada saat mereka bergabung, maka daya rubahnya menjadi lebih besar. Misalkan seorang insinyur atau civil engineer bertemu dengan pemodal dan scientist untuk melakukan kerja bersama. Nah ukhuwah dalam terjemahan seperti ini bila ditransformasikan dalam agenda kerja, akan melahirkan social capital. Bila kuat ukhuwah dan makin besar jaringan ukhuwahnya, harusnya secara teoritis bisa melakukan kerja bersama dan menciptakan perubahan. Tapi bila ukhuwahnya hanya sebatas kangen-kangenan tanpa ada action plan, maka yang muncul hanyalah kerumunan. Bukan barisan.
Menuju masyarakat barisan itu tak mudah. Butuh manajemen, keahlian dalam organisasi dan pemahaman tentang team work. Tapi orang bertemu atas nama ukhuwah tidak selalu menjadi team work. Dan team work juga tak selalu menjadi action. Apalagi melahirkan hasil yang memuaskan. Jadi ada tahapan-tahapannya.
Misalkan kita ingin memajukan komunitas kerumunan menjadi barisan. Dalam masyarakat barisan itu kan ada pembagian tugas (division of labor), ada pemimpin yang bisa dipilih secara teratur, bergilir dengan batas tertentu. Berikutnya ada mekanisme kerja, salah satunya dari sudut keuangan itu harus ada audit. Terus ada program kerja yang dirancang secara bersama-sama. Bukan prgram tokoh tertentu. Tapi seluruh anggota terlibat di dalam merancang dan melaksanakan program.
Sekarang kita diskusi soal ukhuwah. Misalkan, saat ini banyak komunitas pengajian yang tampaknya diisi oleh orang-orang kota. Tapi apakah di dalamnya selain ada ukhuwah emosional juga ada ukhuwah fungsional? Orang datang dan bertemu itu kan lebih pada emosional attachment. Tapi tidak hanya itu yang saya maksud. Ok, emosional attachment itu penting tapi juga harus ditranformasikan ke dalam fungsi: untuk apa kita bertemu?
Dalam idul fitri, idealnya itu ada dua dimensi, dimensi vertikal dan dimensi horisontal. Tapi setelah kita breakdown tadi, ternyata dimensi horisontal hanya mengarah pada emosional attachment, tidak functional attachment. Itu yang menjadi problem. Sehingga pertemuan itu hanya berisi kangen-kangenan.
Barangkali, itu karena kita seringkali terjebak dalam ritualisme tanpa spiritualisme. Misalkan dalam bentuk yang lebih mikro, waktu orang tua terhadap anak kan ada dua pendapat, quality time atau quantity time? Ada yang berpendapat hendaknya kita ini memberikan waktu yang selonggar-longgarnya kepada anak. Tapi ada juga yang bilang, banyak waktu tapi bila tidak ada kualitasnya kan tidak bermakna? Nah ukhuwah juga begitu. Ukhuwah sering dilakukan, tiap hari dan tiap minggu. Tapi problem qualitynya di mana?
Memang di situ ada emosional quality seperti curhat, heart to heart interaction hingga nangis-nangis. Tapi functional quality yang lebih konkrit bagaimana? Apakah nangis-nangis itu bisa nolongin bayar hutang? Apakah bisa ikut kerja melakukan sebuah agenda konkrit untuk economic empowerment, misalkan. Jadi hal itulah yang harus dijabarkan. Sehingga bisa menumbuhkan kesalehan sosial dan bisa mensupport peradaban.

Wawncara dengan Imam B Prasojo (Sosiolog UI)
Adib Minanurrachim
Dimuat di SC Magazine No IV

Tidak ada komentar: