Kamis, 27 Desember 2007

TUHAN TERTAWA, HAMBA BAHAGIA


"Jika Tuhanmu tertawa kepada hamba, maka tidak ada perhitungan atasnya." (Hadist riwayat Ibnu Zanjuwih dari Na'im bin Hammam al Ghafthani)

APA TUJUAN hidup manusia di dunia? Tak bisa disangkal, pertanyaan ini acapkali lewat begitu saja dalam benak kita. Ada beberapa sebab. Ada yang melewatkannya karena sudah memperoleh jawaban. Ada juga yang melewatkannya karena tak tahu jawabannya. Tapi terlepas memperoleh jawaban atau belum, tak sedikit dari manusia yang mengatakan bahwa tujuan hidup di dunia adalah harta, takhta dan wanita. Tapi cukupkah ketiga tujuan itu? Bahagiakah manusia setelah memperolehnya?
Fakta membuktikan, tak sedikit orang kaya yang masih mengalami kegelisahan ketika ia sudah memiliki harta, takhta dan wanita. Lantas... apa sebenarnya tujuan manusia?
Ada pendapat yang mengatakan bahwa tujuan hidup manusia ada empat: pertama, memperoleh prestasi/kekayaan; kedua, cinta kasih; ketiga, spiritulisme; dan keempat, meninggalkan sesuatu yang berharga bagi generasi sesudahnya.
Tujuan pertama dan kedua adalah tujuan yang dicapai dengan perhitungan untung rugi. Kita tidak mungkin membeli atau menjual sesuatu yang tidak menguntungkan kita. Begitupula dengan cinta kasih, kita tak mungkin terus-menerus mencintai seseorang bila ia tidak membalas cinta kita. Ini semua karena tolak ukur kita adalah kebutuhan jasmani. Bukan kebutuhan ruhani.
Sementara tujuan ketiga dan keempat lebih bersifat ruhani. Artinya kita melakukan sesuatu bukan untuk memperoleh keuntungan materiil dan atau sanjungan serta pujian dari orang lain, kecuali semata-mata karena ingin mendapatkan ridha Allah SWT. Sementara di antara hamba yang diridhai Allah adalah hamba yang syahid. Ini seperti hadist Nabi Muhammad SAW, “jika Tuhanmu ‘tertawa’ kepada seorang hamba maka tidak ada perhitungan padanya.”
Hadist itu bercerita tentang belas kasih Allah atas hambanya karena hambanya benar-benar ikhlas berjuang di jalanNya. Hadist ini turun ketika seorang laki-laki datang kepada Nabi dan bertanya: “Ya Rasulullah, syuhada mana yang paling utama?” Jawab Nabi: “Syuhada yang diketemukan pada barisan yang pertama, mereka tidak menolehkan mukanya sampai mereka terbunuh. Mereka itulah yang akan menempati kamar surga yang teratas dengan ridha Tuhan.”
Dari Hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu Zanjuwaih dari Naim bin Hamam Al Ghathfani di atas, kita bisa mengambil pemahaman bahwa untuk menjadi seorang hamba yang syuhada atau yang diridhai Allah kita harus terus-menerus berusaha menjaga konsistensi kita dalam menjalankan segala perintah dan menjauhi segala laranganNya. Tentu ini bukan hal yang mudah. Tapi bila cinta menjadi dasar ibadah kita kepada Allah, tak ada sesuatu yang tidak bisa kita laksanakan demi ridha Allah. Semoga.

Adib Minanurrachim
Dimuat di SC Magazine Vol III

Tidak ada komentar: