Kamis, 27 Desember 2007

SEHAT LEWAT TAHAJUD

BUKAN rahasia lagi bila kesehatan begitu mahal harganya. Apalagi saat ini, di mana perekonomian bangsa Indonesia masih belum membaik. Seorang pengindap penyakit jantung misalnya, akan mengeluarkan biaya puluhan juta rupiah untuk bisa kembali pada kondisi sehat. Itu pun bila masih stadium rendah.
Mengingat betapa mahalnya kondisi sehat, Dr. Moh Shaleh—pengasuh Klinik Terapi Tahajud dan Trainer Salat Khusyuk—membagi pengalaman dan hasil penelitiannya dalam sebuah buku tentang salat tahajud yang bisa menyembuhkan berbagai penyakit, yaitu Terapi Salat Tahajud; Menyembuhkan Berbagai Penyakit. Dalam buku yang sudah terjual ribuan copy ini, Dr Shaleh mendiskripsikan secara ilmiah pengaruh salat tahajud terhadap kesehatan tubuh. Menurutnya, salat tahajud bisa menimbulkan perubahan pada diri kita, yaitu hormon kortisol tidak terlepas dari tubuh melampaui batas toleransi tubuh.
Bagi sebagian orang yang terbiasa berkutat dalam dunia ilmiah tanpa pernah mendalami dunia spiritual, ungkapan Dr Shaleh di atas terasa janggal. Karena sejauh ini, dunia kedokteran adalah dunia ilmiah-empirik. Sehingga mustahil bila tahajud bisa menyembuhkan penyakit.
Tapi demikian, berangkat dari penelitian yang ia lakukan untuk tugas disertasinya di Fakultas Kedokteran Unair Surabaya, Dr. Shaleh berhasil menelaah, meriset dan mengungkap sisi ilmiah dari sebuah keyakinan tentang pengaruh salat tahajud terhadap kesehatan tubuh. Karena menurutnya—dan diyakini beberapa ahli kedokteran lainnya—awal mula segala penyakit itu akibat stress yang banyak melanda orang-orang modern. Sehingga kortisol terlepas dari tubuh melampaui batas toleransi tubuh. Kortisol sendiri adalah hormon yang berfungsi mempertahankan integritas tubuh, sifat responsif pembuluh darah dan volume cairan tubuh. Kelebihan kortisol dapat menyebabkan hipertensi melalui stimulasi renin pada sistem renin angiotensin.
Selain mengurai tentang pengaruh stress terhadap kortisol, pria kelahiran Kediri 47 tahun lalu ini juga membuktikan bahwa keikhlasan seseorang yang merupakan syarat mutlak dalam beribadah (baca; tahajud), bisa diukur secara ilmiah. “Sikap psikis dari konsep religius tentang ikhlas-tidaknya sebuah tindakan memiliki hubungan dan pengaruh yang amat kental dengan proses peningkatan kortisol tubuh. Ini semua bisa diuji dan dibuktikan secara empiris lewat mekanisme kerja penelitian laboratorium paramedis,” katanya dalam wawancara dengan SC via telephon.
Lebih jauh dia mengatakan bahwa realitas fisio-biologis dan psiko-biologis berhasil diintegrasikan dan membuktikan bahwa: pertama, terdapat perbedaan respons ketahanan tubuh imunologik kelompok pengamal salat tahajud antara Post I-Pre dan Post 2-Pre. Kedua, salat tahajud yang dilakukan secara tepat, khusyuk, ikhlas dan kontinu dapat menurunkan sekresi hormon kortisol. Ketiga, salat tahajud yang dilakukan secara tepat, khusyuk, ikhlas dan kontinu dapat meningkatkan perubahan respons ketahanan tubuh imunologik. Keempat, kortisol yang oleh Carlson, penulis buku Psyscology of Behavior, dan ahli lain digunakan sebagai tolak ukur stres dan homeostasis tubuh, dalam penelitian ini kortisol juga dapat dipakai sebagai indikator ikhlas. (h: 186-187)
Berangkat dari hal di atas, tak salah bila Ust Abu Sangkan, trainer dan penulis buku Pelatihan Salat Khusyuk mengatakan bahwa Dr. Moh. Shaleh adalah salah satu tokoh yang sudah lama ditunggu oleh dunia Islam. Dengan ketekunannya menelaah hikmah salat tahajud dari ilmu kedokteran, ia telah melaksanakan apa yang diinginkan Al-Qur’an, yaitu bacalah (iqra), lalu simaklah (wa-sma’u), lalu pikirkanlah (afala tatafakkarun), lalu perhatikanlah (afala tubshirun) lalu teliti/risetlah (afala tandhurun), dan ungkapkanlah (afala tatadabbarun). “Langkah-langkah demiikianlah yang dilakukan oleh Dr. Moh Shaleh dengan melakukan penelitian ilmiah terhadap salat tahajud,” kata Abu Sangkan kepada SC.
Selain itu, Abu Sangkan juga menyatakan bahwa apa yang telah dilakukan oleh Dr. Shaleh dalam bukunya tersebut, merupakan awal dari bangkitnya peradaban Islam yang telah lama terbenam oleh peradaban Eropa.
Akhirnya, buku yang telah dicetak sebanyak empat belas kali ini merupakan buah karya yang turut menyumbang khazanah keilmuan kedokteran dewasa ini. Lebih jauh, buku yang terbagi menjadi 3 sub pembahasan (Anatomi Sistem Kekebalan Tubuh Imunologik; Psikoneuroimonologi Salat Tahajud; dan Pengaruh Salat Tahajud terhadap Peningkatan Respons Ketahanan Tubuh) ini juga berhasil menjawab secara ilmiah-empirik kebenaran Hadist yang diriwayatkan HR turmudzi, yaitu: “salat tahajud dapat menghapus dosa, mendatangkan ketenangan dan menghindarkan diri dari penyakit.”

Adib Minanurrachim
Dimuat di SC Magazine Vol III

Tidak ada komentar: