Kamis, 27 Desember 2007

“PUISI, EKSPRESI SPIRITUALITAS DIRI”

SENIN siang (06/08), lingkungan di sekitar pesantren Ibnu Cholil yang terletak di Jl Halim Perdana Kusuma Bangkalan Madura ramai. Beberapa mobil berjejer di depan aula pesantren. Saat itu sedang dilaksanakan bedah buku biografi almarhum K.H.M. Cholil AG, salah satu ulama kharismatik Madura dan pendiri pesantren putri Syechona Cholil II Bangkalan. Acara yang dimoderatori Risang, wartawan Radar Madura itu mengundang Prof Dr Mahfudz MD dan D Zawawi Imran.

Dalam acara bedah buku itu, Pak D—panggilan akrab D Zawawi Imran—bercerita tentang hikmah mengenang seorang ulama besar. Ia kemudian membacakan puisi tentang Muhammad Rosulullah dengan kebanggan yang terpancar dari sorot mata dan suaranya:
Karena cinta kepada Nabi bacalah shalawat kepada Nabi
Kalau Allah tidak mengutus Nabi gelaplah jiwa gelaplah hati
.....
Akhlak Nabi bagai bunga-bungaan harum semerbak tiada tandingan
Wahai Nabi, wahai junjungan
Kami senang mengikut tuan
.....


Hadirin diam menyimak, tersenyum dan kemudian bertepuk tangan. Tapi Pak D belum selesai. Di aula pesantren pimpinan KH Imam Buchori Cholil itu, ia mempersembahkan puisi berjudul Ibu sebagai penutup acara bedah buku biografi KHM Cholil AG. “Kebetulan sabtu kemarin tepat 40 harinya ibu saya meninggal. Tapi saya ada di Samarinda sehingga tidak bisa ikut bersama keluarga. Saya hendak membaca puisi berjudul Ibu yang saya tulis pada tahun 1966, sebelum saya berumur 20 tahun. Puisi ini punya sejarah, puisi ini yang membuat saya diundang di festival internasional di Belanda. Dan semoga makna puisi ini bermanfaat bagi kita semua,” katanya dengan mimik haru.

Ibu.....
Kalau aku merantau dan datang musim kemarau
Sumur-sumur kering
daunan pun gugur bersama reranting
Hanya mata air air matamu ibu
Yang tetap lancar mengalir
-
Ibu...
Kalau aku merantau
sedap kopyor susumu
Dan ronta kenakalanku
Di hati pada mayang siwalan
memutikkan sari-sari kerinduan
karena hutangku padamu ibu
hutangku padamu ibu
hutangku padamu ibu
hutangku padamu ibu
hutangku padamu ibu
tak kuasa kubayar
-
Ibu adalah buah pertapaanku
Dan ibulah yang meletakkan aku di sini
Saat bunga tembang merebak bau sayap
Ibu menunjuk ke langit kemudian ke bumi
Aku mengangguk meskipun kurang mengerti

.....
-
Ibu...
Kalau aku ikut ujian lalu ditanya pahlawan
Namamu ibu yang akan kusebut paling dahulu
Lantaran aku tahu engkau ibu dan aku anakmu
-
Kalau aku berlayar lalu datang angin sakau
Tuhan yang Ibu tunjukkan sudah kudengar
Ibulahlah ibu bidadari yang berselendang bianglala
Sejenak datang padaku menyuruhku menulis langit biru dengan sajakku.

***
TEPAT pukul 14.00 wib, acara bedah buku selesai. Beberapa tamu dan undangan masuk ke dalam ruang makan yang telah disediakan panitia. Sementara Pak D menemui wartawan SC yang menunggu di serambi masjid Pesantren Ibnu Kholil. Berikut petikan wawancara bersama sastrawan yang juga akrab disebut si Celurit Emas ini tentang sastra pesantren dan kandungan spiritualitas di dalamnya:
Bagiamana perkembangan sastra pesantren saat ini?
Bagus. Bahkan kalau bisa disebut karya santri, bisa dilihat Ayat-Ayat Cinta yang lagi booming karya Habiburrahaman el Shirazy. Sastrawan yang lebih terkenal lainnya adalah Musthafa Bisri, Emha Ainun yang sejak di Gontor sudah menulis puisi di awal tahun 1980-an dan lainnya.
Yang mempengaruhi sastra pesantren?
Dahaga hati dan rasa indah yang selalu dalam hati. Subtansi dari puisi itu adalah kemanusiaan dan keindahan hidup ini. Keindahan itu perlu dihayati dan dinikmati dengan cara hidup sebagai manusia. Bila unsur-unsur kebinatangan merasuki hidup manusia, maka hidup tidak akan indah lagi. Jadi bagaimana menikmati kehidupan ini dengan indah melalui persaudaraan, mengekang hawa nafsu. Bila hawa nafsu menguasi kehidupan manusia maka habislah. Karena itu hawa nafsu itu perlu difilter. Tapi bila tidak bahaya semisal nafsu kepada istri dan makan, ya jangan difilter. Di sinilah dibutuhkan kecerdasan emosianl agar seseorang bisa mengendalikan nafsu dan menempatkan sesuai pada tempatnya. Nah di sini yang disebut akhlakul karimah yang oleh orang-orang disebut moral.
Menurut saya, moral dan akhlakul karimah itu beda. Moral adalah kesepakatan-kesepakatan dalam hidup manusia. Sementara akhlakul karimah, itu sudah berkaitan dengan Allah. Bagaimana cinta pada Allah itu tidak hanya mempengaruhi pribadi seseorang, tapi juga bisa menjadikan cinta yang rahmatan lil alamin. Sehingga kehadiran kita di dunia ini masih ada manfaatnya pada orang lain. Jadi puisi pun juga harus ada manafaatnya bagi orang lain. Ini sesuai dengan sabda Nabi khoirunnas angfauhum linnas. Bila puisi tidak ada manfaatnnya, sama dengan orang ngeleindur (berbicara setengah tidur). Jadi puisi itu juga harus menyampaikan sesuatu, bagian dari ayat-ayat Allah, yang kemudian bisa disebut dakwah.
Apakah sastra juga merupakan media untuk menuangkan spiritualitas seseorang?
Ya tergantung siapa yang punya bahasa. Orang yang ahli dalam bahasa sastrawi, itu paling enak menuangkannya kepadatan jiwa melalui puisi. Apalagi bila dikaitkan dengan pesantren, kan bahasa Al Qur’an sendiri adalah bahasa yang indah. Persamaan bunyi, irama dan bahasa yang indah. Jadi tidak mustahil. Karena dalam hadist juga disebutkan, innallaha jamiil yuhibbul jamal (Allah itu Indah dan menyukai sesuatu yang indah).
Banyak orang mengatakan, puisi anda kental muatan spiritualitasnya, bagaimana menurut anda?
Wah, kalu itu saya tidak bisa mengatakan. Itu kewenangan pengamat.
Selain terus meningkatan kemampuan anda, apakah anda juga memberikan kuliah sastra pada anak-anak muda di pesantren?
Ya, setelah kegiatan bersyair saya semakin bergairah, saya juga memotivasi anak-anak di Pesantren al Amin Prenduan Sumenep. Di sana ada teater Hilal, dan alhamdulillah saat ini sudah banyak melahirkan penyair, seperti Jalal D Rahman yang sekarang menjadi Pemred Horison. Tapi demikian, di sana sifatnya saya bukan pengajar, karena puisi memang tidak bisa diajarkan. Barangkali lebih tepat bila dikatakan bahwa saya adalah salah satu penggairah sastra di pesantren tersebut.
Cara menumbuhkan gairah sastra?
Kita bacakan puisi yang bagus, kemudian memberikan apresiasi terhadap karya mereka. Jadi kita memang membawa mereka pada suasana sastra yang menarik. Kebetulan mereka tertarik. Karena mereka memang tidak punya kegiatan lainnya, selain sekolah dan mengaji. Di sela-sela waktu senggang, mereka berminat menulis puisi juga. Apalagi di Al Amin memang ada buletin bernama Qolam yang juga memuat karya-karya sastra.
Sebagai penyair, apa yang anda harapkan dari pendengar?
Ya diharapkan mereka mampu menyerap apa yang disampaikan. Tapi kita kan tidak boleh hanya mengharapkan orang lain sementara kita tidak bisa membangun kata-kata yang bisa diserap oleh orang lain. Jadi dalam dunia kepenyairan juga ada kewajiban membangun kata-kata yang bisa menjadi sebuah komunikasi intensif antara makhluk

Adib Minanurrachim
Dimuat di SC Magazine No IV

1 komentar:

R@M@ mengatakan...

saya salah satu santri dari KH. IMAM BUCHORI CHOLIL, saya terkesan dengan puisi & pernyataan Pak D tentang Moral & akhlaqul Karimah.
Semoga manfa'at bagi para pembacanya