Kamis, 14 Februari 2008

RAGAM SPIRITUAL, RAGAM KETENANGAN


Seiring kecenderungan masyarakat terhadap spiritualisme, beragam pelatihan spiritual ditawarkan. Mulai ESQ, Quantum Ikhlas hingga Shalat Khusyu. Ada beragam ketenangan dilahirkan.


ABAD 21, oleh sebagian pemikir diidentifikasi sebagai abad spiritualisme. Hal ini tidaklah berlebihan jika melihat maraknya kecenderungan masyarakat pada aspek spiritualitas pada dasawarsa terakhir ini. Kehidupan modern yang bercorak diterministik-materialistik, positivistik-empirik, sering dikritik oleh kaum posmodernis sebagai akar konflik. Namun solusi memuaskan ternyata belum dapat mereka ajukan. Solusi-solusi yang ditawarkan sering dinilai tanpa arah, bahkan mengarah pada solipsisme. Dari keadaan yang penuh kegamangan dan kekeringan jiwa inilah spiritualisme menjadi solusi-alternatif.

Dalam kondisi tersebut munculah tokoh seperti Danah Zohar dan Ian Marshall. Mereka berusaha memperbaiki peradaban secara mendasar dengan menggantikan paradigma Newtonian yang atomisitik dengan paradigma holistik relasional kuantum. Pasangan suami istri ini menjelaskan konsep inteligensi pada aspek-aspek kejiwaan yang pada waktu-waktu sebelumnya dianggap irasional, dengan menggulirkan konsep inteligensi spiritual sebagai bentuk inteligensi tertinggi yang memadukan inteligensi intelektual dan inteligensi emosional.
Dalam sebuah wawancara, Danah Zohar mengatakan bahwa kegagalan manusia modern dalam menjalin hubungan suami istri dan kekeringan makna hidup menjadikan mereka kembali pada spiritualisme. “Kesejahteraan tidak hanya berarti berapa banyak uang Anda di bank, tapi juga apakah Anda bahagia? Seberapa kuat dan sehat hubungan kekeluargaan Anda? Karena 50 persen perkawinan di Barat berakhir dengan perceraian. Mereka mengucapkan janji perkawinan, hidup dalam suka dan duka hingga maut memisahkannya, tapi dua tahun kemudian mereka bercerai. Ini masalah krisis spiritual.”
Gambaran Danah Zohar tersebut juga dialami oleh masyarakat di kota-kota besar di Indonesia. Kehidupan matrealistik yang mulanya dianggap sebagai tujuan utama ternyata tak menjamin kehidupan manusia menjadi tambah bahagia. Science yang diagungkan sebagai pencerahan, ternyata tak mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar seperti; mengapa kita dilahirkan? untuk apa kita lahir di dunia? Dan berujung pada pertanyaan soal kematian.
Keadaan cemas tersebut, pada akhirnya juga melahirkan training-training spiritual seperti ESQ (Ary Ginanjar Agustian), Quantum Ikhlas (Erbe Sentanu) dan Shalat Khusyu (Abu Sangkan). Ketiga-tiganya dianggap sebagai jawaban terhadap krisis spiritual manusia modern, meski di dalamnya terdapat berbagai perbedaan, salah satunya metodologi spiritualisme dan tingkat ketenangan yang diperoleh.

Metode Pelatihan
SEPERTI tertulis dalam web site ESQ (www.esqway165.com), pelatihan yang bervisi menjadikan Leadership Center kelas dunia yang terkemuka dan independen ini mencoba menuntun peserta untuk membangkitkan 7 nilai dasar, yaitu jujur, tanggung jawab, visioner, disiplin, kerjasama, adil, dan peduli. ESQ memandu seseorang dalam membangun prinsip hidup dan karakter berdasarkan ESQ Way165. Angka 165 merupakan simbol dari 1 Hati pada Yang Maha Pencipta, 6 Prinsip Moral, dan 5 Langkah sukses.
Sebagai materi pelatihan, peserta juga dikenalkan tentang kecerdasan intelektual, emosional, spiritual dan misteri God Spot (Titik Tuhan). Sementara metodologi pelatihan ESQ dibuat sedemikian rupa sehingga peserta akan merasa seperti menikmati sebuah pertunjukkan yang penuh makna. Selain itu, peserta juga akan diajak terlibat beberapa aktifitas dalam training seperti permainan, simulasi, serta saling berbagi pengalaman di antara peserta. Materi training disampaikan secara multimedia yang menggabungkan antara animasi, klip film, efek suara, dan musik. Ditampilkan dengan medium beberapa layar besar hingga 4 x 6 m dengan tata suara sekitar 10.000 watt. Training dilaksanakan di berbagai tempat terpilih dengan standar tertentu untuk memastikan bahwa training dapat berlangsung nyaman dan menyenangkan bagi peserta.
Kurang lebih sama dengan ESQ, Quantum Ikhlas yang digagas Erbe sentanu juga memanfaatkan kemajuan ilmu pengetahuan seperti neuroscience, neurotechnology, microelectronics dan sound healing technology, beriringan dengan tuntunan bijak agama serta falsafah kehidupan yang sejak dulu hidup di tengah masyarakat.
Dalam bukunya, Quantum Ikhlas (Tekhnologi Aktivasi Kekuatan Hati), Nunu—panggilan Erbe Sentanu—mengatakan bahwa dengan menggunakan teknologi DigitalPrayer, manusia dapat mudah mencapai gelombang otak yang tepat bagi setiap kegiatan yang ingin ditingkatkan kualitasnya, seperti belajar cepat, meditasi, relaksasi, mengubah kebiasaan, meningkatkan intuisi sampai awet muda.
Dengan penemuan gelombang otak alpa yang bisa dicapai dengan teknologi, pelatihan ini menganjurkan penggunaan CD yang berisi musik dan suara yang sudah diinsersi dengan gelombang tertentu yang otomatis bisa menurunkan gelombang otak pendengarnya dari kondisi Beta ke kondisi Alpa. Melalui latihan yang intensif, kata Nunu, secara otomatis kondisi fisik otak menjadi terlatih sehingga akses zona iklhas bisa menjadi lebih mudah dan otomatis.
Berbeda dengan dua pelatihan di atas yang lebih tergantung pada peralatan tekhnologi dan tata ruang pelatihan, Sholat Khusyu—sesuai dengan namanya—lebih mengedepankan shilatun dan shalat sebagai media untuk mencapai spiritualisme. Shilatun adlah relaksasi yang bisa dilakukan di berbagai tempat, baik dalam ruang tertutup maupun terbuka. Sementara shalat yang oleh ustadz Abu Sangkan disebut meditasi tertinggi dalam Islam, dijelaskan bisa mengurangi kecemasan dalam kehidupan manusia, dengan lima alasan: pertama, merupakan doa atau meditasi yang teratur, minimal lima kali sehari. Kedua, relaksasi melalui gerakan-gerakan shalat. Ketiga, hetero atau auto sugesti dalam bacaan shalat. Keempat, group therapy dalam shalat jama’ah, atau bahkan dalam shalat sendirian pun minimal terdapat aku dan Allah. Dan kelima, hydro therapy dalam mandi junub atau wudhu sebelum shalat.
Ketiga pelatihan di atas—dengan metodologinya masing-masing—diyakini mampu menurunkan gelombang otak dari beta ke alpa, dan bisa membuat manusia merasakan ketenangan jiwa. Namun demikian, yang perlu dilihat adalah; sejauh mana ketenangan dan kebahagiaan yang dicapai? Samakah antara ketenangan dan kebahagiaan yang diperoleh dari satu pelatihan dengan pelatihan lainnya?

Adib Minanurrachim
Dimuat di SC Vol VI

1 komentar:

firdaus mengatakan...

ESQ165+Quantun Ikhlas+Abu Sangkan = Kabbalah (Masonic)