Kamis, 27 Desember 2007

“SAYA INGIN LEBIH BERMANFAAT”

KAMIS sore, suasana Pondok Pesantren At Taibin ramai. Beberapa santri usia 13 – 17 tahun sedang bermain bola di depan kantor pesantren. “Hai, oper sini. Ya. Bagus... gooll,” teriak para santri sambil berlari-lari merayakan gol. Sementara seorang pengurus pesantren, Faisal, menyambut kru SC yang baru datang. Setelah mengetahui maksud kedatangan SC, Faisal mengajak mengelilingi pesantren yang didirikan oleh HM. Ramdhan Effendi alias Anton Medan.
Pesantren At Taibin tidak seperti pesantren umumnya. Santri tidak diajarkan membaca kitab kuning semisal Fathul qorib dan Fathul Mu’in. “Di sini hanya mendalami Al Qur’an dan al Hadist. Sementara kurikulumnya mengacu pada Diknas,” kata Faisal.
Pesantren At Taibin didirikan pada tahun 2004 dan terletak di Jl Raya Kampung Sawah Rt 02/08 Kp Bulak Rata Kel. Pondok Rajeg Cibinong Bogor Jawa Barat. Di Pesantren yang bangunannya berarsitektur Cina ini diajarkan empat bahasa, yaitu Arab, Inggris, Mandarin dan Jepang.
Arsitektur Cina juga terlihat pada bangunan Masjid Jami’ Tan Hok Liang. Modelnya diambil dari istana Dinasti Ching. Masjid ini terdiri dari empat lantai. Lantai bawah digunakan sebagai kantor pesantren. Sementara lantai lainnya digunakan untuk ibadah. Di sisi ujung setiap genteng terdapat lafaz Allah dalam bahasa Arab. Di bawahnya ada goresan huruf Cina, "wang", yang berarti "raja". Sementara di setiap sudut atap terdapat naga. Adapun bagian puncaknya dihiasi lafaz Allah. Di bawahnya terdapat semacam gelangan lonceng, yang terinspirasi dari hiasan kepala putri-putri Shin Chiang, nama provinsi di Cina. Di bawah lonceng-lonceng ini terdapat empat patung burung elang dengan sayap mengepak. Uniknya, di samping masjid itu terdapat sebuah makam yang dinaungi cungkup.
Merasa penasaran dengan beberapa simbol yang tak berhasil diterjemahkan, SC menanyakannya kepada Faisal. Tapi Faisal menganjurkan agar menanyakan langsung kepada sang arsitek, yaitu Anton Medan yang saat itu ada dibalai usaha. Setelah menerima alamat, SC bergegas menuju tempat tersebut. Ketika sampai, Anton Medan sedang sibuk memberikan pengarahan kepada beberapa laki-laki yang membuat sablon. Selang beberapa menit, Anton Medan datang. Meski umurnya sudah mencapai 50 tahun, tapi badannya masih tegap dan suaranya tegas. Berikut petikan wawancaranya:
Bagaimana latar belakang mendirikan pesantren?
Mulanya pesantren itu diperuntukkan para eks napi. Tapi setelah mengevaluasi kondisi sosial masyarakat yang rusak, saya tergerak untuk turut menyelesaikan masalah tersebut. Akhirnya saya kembali pada habitat saya, membina anak-anak eks narapidana. Seiring niat itu, rezeki saya terus mengalir dan agar barokah saya membuka pesantren umum. Saya ingin mendidik mental bangsa melalu generasi muda.
Memang, mulanya saya bimbang. Bila saya buka pesantren, kan tidak logis. Karena saya bukan kiai dan pendidikan terakhir hanya SR, itu pun hanya 7 bulan. Tapi saya juga berpikir, Rosulullah itu bagaimana sih sosoknya, kok beliau mampu merubah bangsa biadab menjadi beradab? Dari sinilah saya termotivasi untuk turut menjawab persoalan bangsa ini ke depan. Kita butuh masyarakat yang berakidah kuat dan berakhlakul karimah. Untuk itu, saya menaruh seorang direktur yang sudah pengalaman dan kompeten tentang pesantren. Bila ada kesulitan kurikulum yang ide dasarnya dari saya, mereka bisa berkoordinasi dengan saya.
Anda mendirikan pesantren yang bagaimana?
Saya mendirikan pesantren yang berbakti wirausaha. Kata ini bukan berarti berdagang saja. Tapi lebih pembangunan ruh atau mentalitas seseorang, agar menjadi pribadi yang mandiri. Konsep kewirausahaan ini dikerjakan dalam 21 hari. Ada sarjana hinga doktor. Mereka menampung seluruh pemikiran saya hingga menjadi sebuah konsep kurikulum berbasis kewirausahaan. Biayanya 100 juta lebih.
Dari kurikulum itu, selama dua tahun kita harus mampu menanamkan tauhid, akhlak dan karakter pada peserta didik. Out put yang diharapkan adalah terbangunnya manusia yang kaya inisiatif, kreatif dan inovatif, agar menjadi manusia yang produktif di tengah masyarakat.
Sejauh ini ada halangan?
Halangannya lebih pada sulitnya mencari guru yang tak sekedar pandai mengajar, tapi juga mendidik. Misalkan pada tahun pertama, sudah sering sekali gonta-ganti guru, karena orientasinya tak jelas. Orientasi mereka hanya sebatas karyawan atau pegawai negeri. Jadi nilai-nilai perjuangannya tidak jelas. Saya butuh tak sekedar guru, tapi juga pendidik. Kalau sekedar guru dan mengajar, apa susahnya? Ada buku lalu tinggal ditransfer.
Sementara itu, bila saya membina eks napi di balai usaha, ini adalah terapi. Bicara kemampuan, saya bisa. Pengalaman ada, juga kemampuan. Karena bila penjara itu disebut kuliah misalnya, maka saya adalah profesornya. Saya kenal sekali seluk-beluk penjara dan para penghuninya. Karena lebih dari 18 tahun saya dipenjara.
Kabarnya anda yang menjadi arsitek pembangunan pesantren?
Ya. Pesantren itu dibangun pada 2004. Saya yang punya uang, sekaligus menjadi mandor dan juga arsiteknya. Adapun tukang dan kulinya adalah teman-teman eks napi.
Pada bangunan masjid, ada beberapa simbol yang tidak dimengerti orang lain. Pertama, di atas masjid itu kan ada gelangan lonceng, itu topi Putri Shin Chiang. Shin Chiang adalah nama propinsi di Cina di mana Islam disebarkan di sana, dan putri-putrinya biasa mengenakan topi seperti itu. Kedua, ada burung di atas berjumlah 4 ekor menghadap empat penjuru. Itu burung rajawali. Artinya ummat Islam itu ketika melihat kondisi yang ada, hendaknya matanya setajam mata rajawali. Jangan seperti lima burung kecil yang menunduk dan berada di sudut itu. Ketiga, di atas itu juga ada naga, ini adalah lambang kesuksesan Cina, dan kebetulan nama saya adalah Tan Kok Liang. Tan itu Marga, Kok Itu negara dan Liang Itu naga, sukses.
Terakhir, kenapa ada makam saya di sampingnya? Manusia yang beradab itu harus sadar bahwa ia akan mati. Sebelum mati, apa yang harus disiapkan? Melihatnya, mungkin orang akan mengatakan Anton Medan sekarang sudah bertaubat. Alhamdulillah. Tapi bila ada anggapan, saya masuk Islam karena bercita-cita masuk surga, maka saya katakan, surga bukanlah impian saya dan neraka juga bukan sesuatu yang saya takuti. Ketika saya syahadat, yang ada dalam benak saya adalah, mampukah saya bermanfaat bagi orang lain? Surga dan neraka adalah konswekensi.
Ini semua ekspresi saya yang hanya 7 bulan di SR. Dalam hidup ini saya punya prinsip, bila orang lain bisa kenapa saya tidak? Andai pun gagal, itu pelajaran bagi saya. Sementara pedoman saya jelas: al Qur’an yang membebaskan diskriminasi dan kebodohan.
Apa obsesi anda yang belum tercapai?
Saya ingin mendirikan partai eks napi. Karena eks napi itu pintar-pintar, hanya saja mereka tidak memperoleh kesempatan belajar dan akses kerja tertutup.

Adib Minanurrachim
Dimuat di SC Magazine Vol III

1 komentar:

Unknown mengatakan...

KEPERCAYAAN keuangan & pinjaman adalah sebuah organisasi uang yang dibuat untuk kesejahteraan orang-orang dalam situasi sulit, Ex-pejabat menggunakan sumber ini menyentuh kehidupan orang-orang membutuhkan keuangan perlu membeli rumah mereka sendiri, membayar tagihan (rumah sakit, sekolah, pajak e.t.c.) Memberi mereka cukup ruang untuk membayar kembali dengan bunga sangat rendah 2% dengan agunan. Kami berikan pinjaman dari $1000 di atas orang-orang yang membutuhkan untuk kita di sini untuk melayani dan keberhasilan Anda adalah tujuan kami...
Anda dapat menghubungi kami melalui email di Trustfinances.loan@gmail.com, di bawah the Ketua dari Madam Christine Russell