Jumat, 08 Juli 2011

Esok Mentari Masih Terbit


"KRHOGH…Krhoggh… Krhogggh," terdengar keras dengkuran di pojok kamarku. Tak biasanya Dullah, sobat karibku, mendengkur sekeras malam ini. Dengan tubuh meringkuk memeluk bantal, begitu tentram tidurnya. "Mungkin ia tengah mimpi bersandingkan putri di atas kursi mewah yang beralaskan rupiah," pikirku geli melihat tidurnya yang pulas tiada terkira.

Udara malam ini begitu panas. Sudah 7 bulan lebih musim hujan berlalu, air sungai di belakang kamar kosku menyusut. Entah kenapa hingga bulan Ramadhan tiba, hujan seolah-olah ikut berpuasa. Nyanyian kodok yang biasanya terdengar riang gembira, kini berganti dengan kesedihan yang terbungkus dalam kebisuan. Hanya nyamuk, satu-satunya hewan yang tetap bersemangat berkeliaran dan mendengung-dengungkan nyanyian dari kedua sayap kecilnya di sekitar telingaku. Tak terasa lima ekor telah bergelayutan di beberapa bagian tubuhku. Berkali-kali mereka menyuntik kulit tubuhku, rakus dan haus darah. Plok! timpukku pada salah satu nyamuk. Tapi sial, meleset. “Uh! dasar nyamuk kota, rakus!” keluhku pada mereka yang gesit menghindari serangan lemah tanganku.

Kusulut satu dari tiga batang rokok 76 hasil ngutang di warung mbok Ijah. “Wuss,” kusemburkan asap penuh racun nikotin itu di sekeliling tubuhku. Lumayan, meski tak seperti baygon, sebagian nyamuk ngacir.

Perlahan kulirik jam dinding yang tampak cengar-cengir menatap kebuntuan fikiranku. Jam satu pagi. “Huh… aku harus coba menulis sekali lagi,” desahku pelan. Lemah aku beranjak dari tumpukan buku dan beberapa lembar koran harian menuju sebuah meja. “Tinggal seminggu lagi, aku harus dapat uang,” batinku sambil duduk menghadap mesin ketik tuaku. Sementara bayangan Supri, Jalal, Bagio, Safitri datang silih berganti menagih hutang.

Akhir-akhir ini akal dan hatiku memang cukup goyah. Pelbagai usaha telah kutempuh, mulai dari ngelamar pekerjaan hingga mencoba menulis di media nasional. Tapi hasilnya kosong. Entah, apakah Tuhan tengah menguji mentalku atau memang nasibku tertulis sial. Jujur saja hal ini berpengaruh pada kondisi jiwa dan kesehatan badanku yang berubah menjadi kurus dan ringkih. “Duh! Gusti Allah, Engkau adalah Dzat Maha Pemurah, semoga Engkau beri kemudahan hambaMu ini dalam mengais rizki,” ratapku dalam do’a.

Asap rokok mengepul pelan nan lebat dari ujung bibir hitamku, menambah suramnya lampu lima watt yang hampir jatuh di atas mesin ketik rentaku. “Tak…tak…tak…” bunyi jeruji-jeruji huruf dari mesin ketik tuaku pada sebuah kertas putih ukuran kwarto. Jari-jemariku bergerak-gerak lincah, menulis huruf demi huruf, merangkai kata-kata, dan membasutnya dengan indahnya sastra hasil belajar empat tahun di Perguruan Tinggi Swasta kala itu. “Yah…demi sebuah bangunan artikel ringan. Semoga usaha yang kesekian kali ini tak sia-sia lagi,” harap kalbuku.

-oOo-

“KRINGGGG…..” jerit jam beker yang tergeletak di samping telinga Dullah. Sejenak ia menggeliat, menghentikan mimpi indahnya. Kemudian bangkit dan terduduk lesu.

“Ndro! kamu nggak sahur?” tegur Dullah sambil menggosok kedua kelopak matanya yang ramai dengan kotoran mimpi panjangnya.

“Emangnya udah pukul berapa Dull?”

“Lho, hampir imsak Ndro. Nih lihat jam bekerku kalau nggak percaya!” katanya sambil bangkit duduk berkemul sarung.

“Wah, tak terasa hampir setengah empat. Ah… andai saja waktu bisa berhenti sejenak, menanti rampungnya tulisan ini,” desahku kesal.

Sebentar kuhisap dalam-dalam putung rokokku yang hampir habis, kemudian beranjak keluar ke arah pintu seraya berkata kepada Dullah, “kamu basuh muka kotormu dulu Dull, kita sama-sama ke warung Mbok Ijah.” Tanpa menjawab, ia bangkit berdiri dari duduknya, ngeloyor ke jeding.

Di warurng mbok ijah, aku hanya minum tiga gelas air putih, dua buah jajan kering dan tak lupa satu batang rokok Djarum 76 kesukaanku.

“Kamu enggak makan Ndro,” tegur Dullah lembut.

“Enggak.”

“Kenapa? Kamu bokek? aku ada uang,” kejarnya.

“Nggak usah Dull! trims, ini aja udah cukup. Bagiku bulan Romadhon kali ini harus dibiasakan ngirit, banyak nahan nafsu biar barokah,” kilahku. Padahal kantongku lagi kempas-kempis.

-oOo-

TEPAT pukul setengah sepuluh pagi, aku telah rampungkan tulisanku. Sejenak aku terdiam dalam editing. Setelah kuyakin tiada hal lagi yang penting, baru kemudian aku beranjak ke jeding. Sengaja aku hanya membasuh mukaku dengan sedikit air. Aku tak mandi sebab air cukup sedikit. Maklum, air di kota seperti Surabaya ini tak gratis lagi. Beberapa lembar rupiah harus melayang dari kantong bila ingin puas mandi. Tapi kesegaran mandi itu pun terasa percuma, karena sengatan-sengatan panasnya kota cepat merubahnya dengan peluh-peluh keringat.

Memang benar-benar kelewat. Saat ini bukan hanya BBM yang naik, air pun ikut-ikutan iri hati dan meloncat bertengger bersama BBM. “Hualah, emboh wiss!” umpatku dalam hati memikirkankan keberadaan negeri tercinta ini.

Tepat setengah sebelas, aku berangkat ke kantor pos di pusat kota. Dengan bekal sepuluh ribu rupiah, aku kirimkan lima buah tulisan yang kurampungkan selama lima minggu di lima media negeri ini. “Yah mudah-mudahan ada yang dilirik,” harapku di tengah terik matahari kota Surabaya.

Seusai kukirimkan lima tulisan itu, bersama panas—sahabat alamku—aku berjalan pulang ke kosku yang berjarak sekira 3 Km dari kantor Pos. Diiringi tetes-tetes peluh yang mengelilingi dahi dan sebagaian tubuh kurusku, lamat-lamat alam bawah sadarku berdiri menggantikan keteguhan alam nyata. Cukup jelas tergambar keluh-kesah Emakku waktu aku pulang kampung.

“Ndro… kapan kamu dapat kerja? Emak udah nggak mampu lagi nyari uang. Coba kamu usaha dikit-dikit, sudah sarjana kok masih nganggur! Apa nggak malu dengan gelarmu?!” tegur Emmakku sewot menyaksikan anak sulungnya yang nasibnya masih menggelantung.

“Sabar dikit kenapa sih Mak, saya kan lagi usaha nulis. Entar kalo jebol di media dan terkenal, nggak bakalan nyusahin Emak lagi,” jawabku yakin di tengah kelesuan jiwa.

“Jebal-jebol…udah berapa kali kamu janji, tapi nyatanya masih aja nganggur!” ketus Emakku. Sepi, tiada kata keluar dari bibir hitamku. Aku hanya bisa tersenyum kecut dengan kepala menunduk. Memang, aku sadar bahwa aku selalu gagal. Tiga tahun selepas dari PTS, tak satu pun dari tulisanku yang berkenan di hati media-media cetak di negeri ini.

Ngelamar pekerjaan? Waduh! nggak usah dibahas. Sudah sepuluh kali lebih aku meminang, tapi sepuluh kali lebih tolakan pula jawabanya. Entah, apakah memang karena indeks prestasiku (IP) yang kurang memuaskan? Atau bekerja itu harus lebih dulu nyiapin segepok uang untuk nyogok? Weleh! kalau yang terakhir ini, jelas aku nggak sudi. Bukan karena nggak mampu. Aku bisa kumpulkan segepok rupiah yang pernah disyaratkan beberapa instansi pemerintah dan swasta padaku. Tapi apalah arti semua itu? Bukankah itu nabrak hati nuraniku dan mencampakkan imanku? Tidak! Aku tak akan melakukan hal itu dan tidak akan pernah.

Bagiku, mendapat pekerjaan itu tak harus dengan segala cara. Ada prosedurnya sendiri dan harus dengan jiwa yang jantan. Lebih-lebih, aku tak akan merasa percuma belajar empat tahun di PTS jika aku mendapatkan pekerjaan tanpa melalui suap, melainkan dengan melihat kualitas ilmu dan kompetensiku dalam bidang pekerjaan tertentu. Meski IP-ku tak memuaskan bukan berarti aku lebih bodoh dari mahasiswa yang meraih cum laude. Sebab IP hanyalah formalitas. Bukan subtansi. Lagi pula, bukankah IP itu bisa dikompromikan?

“Duk!”

“Auww!” jeritku terkejut.

Tak kusadari dahiku telah membentur tiang listrik yang berdiri congkak di tengah trotoar.

“Jangkrik! Tiang jelek pembawa sial,” umpatku kesakitan sambil mengelus-elus dahiku yang memar akibat benturan.

“Duhh… kasihan. Melamun ya mas?” tegur seorang gadis yang kebetulan berada di belakangku.

“Ah! E…e..enggak. Hanya karena batu sialan saja aku tersandung,” kilahku.

Gadis itu hanya tersenyum sambil berlalu. Sementara aku tertegun. Seolah tak percaya melihat wajahnya, senyum manisnya dan resam tubuhnya. Kenapa ia sedemikian manis dan sedemikian persis dengan mendiang kekasihku, Yuanita Sastrawati?

Sedetik tergerak hatiku untuk memanggilnya, mengejarnya. Tapi, augh! Dahiku terasa sakit dan sedikit pening. Akhirnya dengan amat berat aku tepiskan niat tersebut. Lagi pula tak mungkin Yuanita hidup kembali. Ia sudah tiada. Mustahil ia kembali ke alam nyata.

Akhirnya, berat aku langkahkan kakiku membelok ke kiri, bergegas pulang ke rumah bu Cokro, ibu kosku.

-oOo-

PUKUL tiga sore, aku telah sampai di rumah bu Cokro, pemilik rumah kos. Seusai terucap salam dari mulutku dan dijawab si Upik, anak bu Cokro, aku langsung ngeloyor ke kamarku. Dullah tak terlihat batang hidungnya. Padahal siang begini ia biasa duduk-duduk di teras sambil menggoda si Upik. Tapi aku tak risaukannya siang itu. Selain dirundung rasa lelah dan sakit di dahiku, mataku terasa berat sekali. Aku belum tidur sejak tadi malam hingga siang ini.

Tak kuasa menahan cuaca yang panas, segera kulepas baju berlengan panjang yang menempel di tubuhku dan mengambil handuk kecil di almari dan kemudian menuangkan sisa air hangat dari tremos sisa tadi malam di atasnya. Sejenak hatiku lega merasakan hangatnya handuk yang aku letakkan di atas dahiku. Kemudian, bersama kondisi perut yang kempis karena berpuasa dan ditambah rasa lelah yang tiada tara, perlahan kurebahkan tubuhku di atas kasur yang terhampar di lantai kamar. Oh…begitu leganya hatiku dapat berbaring siang ini, melepas lelah dan mengikuti tuntutan mataku yang sayu menahan kantuk. Diiringi hembusan angin yang meniup pelan dari baling-baling kipas kecil yang ada di samping tubuhku, rasa lelah dan penat tubuhku berangusur-angsur hilang. Tapi ketika seluruh panca inderaku hampir sepakat untuk istirahat, sayup-sayup kudengar lagu Iwan Fals dari kamar sebelah,… Engkau sarjana muda, resah tak dapat kerja, tak berguna ijazahmu // Empat tahun lamanya bergelut dengan buku, sia-sia semuanya // Setengah putus asa, dia berucap, “ma’af Ibu…”

Aku hanya tersenyum. Biarlah Iwan bernyanyi demikian. Tapi jelas batinku berkata yakin, bahwa akan ada perubahan; entah esok, lusa, bulan depan, tahun depan atau bahkan menjelang kematiaanku. Perjuangan dan usahaku untuk memperbaiki keadaan musti berlanjut, kendati harus berpeluh dan berdarah-darah. “Huaahhh….letih benar jiwa dan raga ini. Bismillah, izinkan hambaMu istirahat,” do’aku menjelang tidur.*



Adib Minnanurrachim
Nurul Jadid, 03/07/2001

Sabtu, 02 Juli 2011

LAGU SATU [ H. I. D. U. P. ]


Oleh; Iwan Fals

Jalani hidup
Tenang tenang tenanglah seperti karang
Sebab persoalan bagai gelombang
Tenanglang tenang tenanglah sayang

Tek pernah malas
Persoalan yang datang hantam kita
Dan kita tak mungkin untuk menghindar
Semuanya sudah suratan

Oh matahari
Masih setia
Menyinari rumah kita

Tak kan berhenti
Tak kan berhenti
Menghangati hati kita

Sampai tanah ini inginkan kita kembali
Sampai kejenuhan mampu merobek robek hati ini

Sebentar saja
Aku pergi meninggalkan
Membelah langit punguti bintang
Untuk kita jadikan hiasan

Tenang tenang tenanglah sayang
Semuanya sudah suratan
Tenang tenang seperti karang
Bintang bintang jadikan hiasan

Berlomba kita dengan sang waktu
Jenuhkah kita jawab sang waktu
Bangkitlah kita tunggu sang waktu
Tenanglah kita menjawab waktu

Seperti karang
Tenanglah
Seperti karang
Tenanglah


[ Lagu yang bercerita tentang bagaimana menjalani hidup, dan menghadapi kehidupan. ]

Jumat, 06 Mei 2011

Tanyaku Sepanjang Batanghari


Tanyaku memang menyusuri aliran sungai Batanghari,
yang sunyi dan sepi.
Sesekali singgah di surau pinggiran sungai,
mengambil jeda, mereda letih.

Dan lihatlah, sebaris pertanyaan itu berantakan sekarang.
Entah kenapa. Ah, bukan entah. Ia memang lelah.
Perjalanan yang ia tempuh terlalu jauh.
Wajar bila sekarang ia renggangkan ikat pinggang, mengurai huruf demi huruf.

O...,
Ternyata ada banyak noda di sekujur huruf-hurufnya.
Bagaimana ini? Tentu kau merasa jijik, bukan?
Menjauhlah. Tak baik untuk kulitmu yang putih pualam.

Dan sebelum kembali berjajar, biarkan huruf-huruf itu mandi besar.
Agar kembali segar saat menjadi sebaris pertanyaan.
Dan kuharap kau tetap di tepi,
di tempat semula yang telah kau tentukan sendiri.

Di surau pinggir Batanghari ini, sesaat saja,
biarkan tanyaku bermunajat.
Kepada Tuhan, yang mungkin memberi bekal menuju samudera.
Dan setelah ini, tak perlu aku mencarimu lagi, bukan…?


10.09 PM; 04052011
Pamulang, Tangerang Selatan

Senin, 21 Februari 2011

Asvi Menggapai Kebenaran Sejarah

Hari-hari akhir bulan September menjadi istimewa bagi Asvi Warman Adam (55). Obsesinya menguak kebenaran sejarah, di antaranya tentang Peristiwa 1965, lagi-lagi memperoleh momentum. Dia ajak pemerintah, sesama sejarawan, dan masyarakat berpikir ulang tentang narasi-narasi masa lampau, utamanya tragedi 1965.

Mengenai kemungkinan pelanggaran berat HAM, sekitar Peristiwa 1965, menurut ahli peneliti utama LIPI itu, peristiwa Pulau Buru sebagai peristiwa paling jelas. Tempatnya jelas, tahun terjadinya jelas, pelakunya jelas, serta korban dan jumlahnya jelas. Dengan tujuan mengamankan Pemilu 1971, lebih dari 10.000 orang yang digolongkan tahanan politik 1965 golongan B dimasukkan ke kamp kerja paksa lebih dari 10 tahun. Stigma buruk diterapkan kepada mereka, selain pembunuhan, penangkapan tanpa proses dan pengadilan.

Kasus Pulau Buru merupakan mata rantai peristiwa sekitar 30 September 1965. Selama bertahun-tahun narasi tentang peristiwa itu hanya satu versi, yakni versi Orde Baru, bagian dari upaya justifikasi kekuasaan dan pengumpulan kekuatan. Justifikasi itu diawali dengan pembunuhan besar-besaran setelah 1 Oktober, ada yang memperkirakan jumlahnya lebih dari setengah juta orang. Penciptaan narasi tunggal disusul proyek Pulau Buru. Gugatan yang muncul dibungkam.

Seiring deru reformasi tahun 1998, masyarakat mulai kritis dengan narasi dan pencitraan versi tunggal. Film Pengkhianatan G30S/PKI yang diputar luas setiap akhir bulan September digugat. Menurut dia, tidak lagi diputarnya film itu secara luas merupakan satu keberhasilan. ”Inilah pertama kali terbuka munculnya upaya meluruskan sejarah Peristiwa 1965. Disusul kemudian berbagai versi yang ditulis para korban dan analis-analis yang sebelumnya tidak terkuak ke permukaan,” kata Asvi Warman Adam.

Asvi mengutip sejarawan Inggris, EH Caar, bahwa kebenaran sejarah gugur manakala ditemukan data baru. Munculnya narasi-narasi baru itu adalah bagian dari ajakan menemukan dan meluruskan. Keputusan politik, katakan ketetapan MPR, adalah produk politik bagian dari justifikasi kekuasaan. Oleh karena itu, ketika data baru semakin banyak ditemukan, versi tunggal perlu ditinjau ulang, kalau perlu, ditindaklanjuti dengan rehabilitasi nama baik dan permintaan maaf dari pemerintah.

Sampel yang representatif

Demi pelurusan sejarah dan hapusnya pembohongan, Asvi tidak hanya memimpikan sekitar Peristiwa 1965 atau peristiwa lain, seperti Peristiwa Mei 1998, tetapi bahkan sejak awal Indonesia merdeka. Tidak perlu semuanya, tetapi dipilih peristiwa dan masalah sebagai sampel yang representatif. Misalnya, kurun 1945-1955, 1955-1965, dan seterusnya, sehingga diperoleh sekitar 10 kasus.

Asvi setuju bahwa demi alasan politis ada bagian-bagian peristiwa yang ditutupi, tergantung dari perspektif masing-masing. Namun, kalau narasi itu adalah kebohongan, itu perlu dibongkar. Taruhlah kisah tentang Serangan Oemoem 1 Maret dengan cara menghilangkan peran tokoh lain. Itu kebohongan sejarah.

Awal ketertarikannya ke sejarah Peristiwa 1965 dimulai pada satu peristiwa pada tahun 1999. Dia diminta ceramah oleh Yayasan Hidup Baru, sebuah yayasan yang mengurusi bekas tahanan politik 1965. ”Saya terharu atas semangat juang mereka. Saya terharu ketika mereka, bapak-ibu berusia sepuh itu, mengumpulkan uang recehan. Hasilnya sekitar Rp 25.000, diserahkan sebagai honorarium ceramah saya,” kenang Asvi.

Dengan ketekunan, dia ikuti dan teliti segala narasi Peristiwa 1965 yang berkembang selama ini. Dia sampaikan obsesi itu dalam berbagai tulisan dan karangan pengantar buku, yang semuanya berfokus ajakan menguak kebohongan sejarah, utamanya sekitar Peristiwa 1965.

Dari tujuh buku yang sudah ditulisnya, menulis Peristiwa 1965 tidak hanya berkenaan dengan peristiwa satu malam tanggal 30 September, tetapi juga penangkapan, penahanan, perburuan massal yang memakan korban lebih dari setengah juta orang, pencabutan paspor mahasiswa Indonesia di luar negeri, serta pembuangan paksa 10.000 tapol ke Pulau Buru tahun 1969-1979. Hal itu termasuk stigma dan diskriminasi jutaan orang keluarga korban Peristiwa 1965. Peristiwa-peristiwa itu disebutnya ”pancalogi”, sebagai rangkaian prolog, peristiwa, dan epilog G30S (Asvi Warman Adam, 1965. Orang-orang di Balik Tragedi, Galangpress, 2009).

Bagi Asvi, Peristiwa 1965 merupakan tanda atau pembatas zaman. Dari banyak peristiwa sejarah yang dialami bangsa Indonesia, Peristiwa 1965 merupakan pembatas zaman dalam berbagai bidang. Perubahan politik yang besar terjadi dalam bergesernya kedudukan Indonesia dari pemimpin negara nonblok dan dunia ketiga menjadi ”murid yang baik” AS. Kebijakan ekonomi berdikari menjadi kebijakan ekonomi pasar yang bergantung pada modal asing. Tidak ada kritik, tidak ada polemik, semua dalam satu versi, yakni versi pemerintah.

Peralihan dari profesi wartawan (3 tahun sebagai wartawan) ke peneliti/sejarawan tidak kecil peranan yang diberikan Prof Dr AB Lapian. Dalam status belum setahun bekerja di LIPI, setelah keluar dari majalah Sportif tahun 1983, Asvi memperoleh tawaran mengajar Bahasa Indonesia di Paris, Perancis, sekaligus beasiswa. Dia perlu memperoleh rekomendasi pimpinan LIPI. Lapian bertanya, ”Rekomendasi saya tulis dalam bahasa Inggris, Perancis, atau Indonesia?” Akhirnya rekomendasi ditulis dalam bahasa Indonesia, menerakan bahwa Asvi boleh ke Paris mengajar sekaligus belajar. ”Nah, itulah titik balik profesi saya,” Gelar doktor ilmu sejarah pun diperolehnya dengan disertasi tentang sejarah Vietnam.

Di benak Asvi, dia memimpikan narasi sejarah dibebaskan dari kebohongan-kebohongan. Biarlah peristiwa itu sendiri bicara tentang sejarahnya! Menggapai kebenaran sejarah? Yaaah..., Asvi tertawa lepas!

BIODATA
a. Nama: Asvi Warman Adam
b. Lahir: Bukittinggi, 8 Oktober 1954
c. Istri: Nuzli Hayati (52)
d. Anak: Tessi Fathia Adam (23)
e. Pekerjaan: Ahli Peneliti Utama Pusat Penelitian Politik LIPI
f. Pendidikan: Doktor sejarah dari Ecole des Hautes Etudes en Sciences Sosiales, Paris (1990)
g. Karier: Aktif berceramah, menulis artikel tentang rekayasa Orde Baru dan historiografi
h. Indonesia dari perspektif korban, dan menulis setidaknya tujuh buku tentang sejarah kontemporer, terakhir (”Sarwono Prawirohardjo. Pembangun Institusi Ilmu Pengetahuan di Indonesia”, LIPI, 2009)
i. Mantan anggota tim Pengkaji Pelanggaran HAM Berat Soeharto yang dibentuk Komnas HAM tahun 2003


Repro: http://edukasi.kompas.com/ (Kamis, 1 Oktober 2009 | 01:51 WIB)
Oleh: ST Sularto

Minggu, 06 Februari 2011

Tak Usah Risau, Bayang-bayang Pasti Datang!

bayang-bayang itu, makin menjauh saja
tapi biarlah. tiada ingin aku mengejarnya
sebab waktu sudah senja

dan bila malam tiba,
aku tidak akan lari darinya
justru aku akan tenggelam dalam pekatnya malam

kesendirian dan kesunyiaan adalah kondisi dasar jiwa manusia
atau sebuah rumah
tempat istirahat jiwaku yang haus anugerah

dan bila pagi memaksa mentari menyinari bumi
jadikan bunga-bunga merona tiada henti
aku pun masih teguh pendirian di sini

maksudku sudah tersampaikan
pada bayang-bayang
yang mirip gelombang menghempas tiada henti dari air yang dangkal

biarlah pagi alami jenuh dan berganti siang hari
saat itu, bayang-bayang pasti datang sendiri
tawarkan diri, tanpa peduli siapa aku ini


Suatu Senja di Jakarta
Ciputat, Minggu 06 Februari 2011
Adib Minnanurrachim

Sabtu, 06 November 2010

Entah, Mungkin Judulnya

untuk yang terdiam

seperti yang sudah-sudah
tiap senja menyapa, yang terdiam senantiasa turut serta
berlayar di samudera gelisah,
berlabuh di dermaga resah.

ketika senja lelap,
ia mendaki malam
punguti bintang,
jadikan hiasan di rambutnya yang berkerudung rembulan.

dan seperti biasa,
aku hanya menatap wajahnya yang tak bergoyang
dan kemudian menuliskan satu kalimat,
“sayang, kenapa kau terdiam?”

hanya matanya yang nyala menghujam
tepat di hati yang tak bisa mengelak
tentang pertanyaan
yang enggan ia utarakan

baiklah,
sederhana saja
dalam hatiku ada hormat
untukmu, perempuan.

tapi sudahlah,
diamlah bila ternyata itu adanya
untuk menilai dan mengambil kesimpulan
atau bila ternyata enggan, bahkan.

percayalah,
aku tak mempedulikannya
toh aku sendiri tak bisa menebak,
yang senantiasa tak bisa ditebak

suatu senja di Jakarta
Sabtu, 06/07/2010
Adib Minnanurrachim

Senin, 25 Mei 2009

TAPAK PERJUANGAN KIAI ITU MENDADAK TERHENTI

Duka itu tiba mendadak saat perjuangan masih terasa panjang...


MALAM pukul 00.37 WIB, terdengar jeritan histeris dari kediaman KH Abd Haq Zaini. Abdul Hafidz, santri Nurul Jadid sekaligus hadam (pembantu) keluarga Kiai Abdul Haq, malam itu menangis tersedu-sedu sambil menggoyang-goyangkan sesosok tubuh berbaju koko warna merah hati yang tergeletak di lantai rumah. Sementara Saili, kawan Hafidz, hanya bisa terdiam sambil meneruskan pijatannya pada dada pria tersebut. Begitu pula seorang santri lainnya yang terus memijat-mijat kaki pria tersebut.

Mendengar jeritan Hafidz, Ny Hj Nuri Firdausiyah, istri Kiai Abdul Haq yang tengah terlelap seketika terjaga dan langsung menemui Hafidz.

“Kenapa tidak dibawa ke dokter,” tegur Nyai Fir.

“Beliau menolak, Nyai,” jawab Hafidz panik.

“Tolong panggil Kiai Zuhri dan Faiz,” kata Nyai Fir pada Hafidz sambil duduk dan memijat-mijat tubuh pria yang tergelatak di depannya.

Beberapa menit kemudian, KH Moh Zuhri Zaini, Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid datang. Beliau langsung duduk dan mulai memijat dada pria tersebut sambil berdoa. Detik demi detik berjalan. Menit demi menit pun berlalu. Namun tiada reaksi dari tubuh pria tersebut. Saat Kiai Zuhri memeriksa detak jantung pria yang tergelatak dengan wajah tenang itu, seketika wajah Kiai Zuri berubah duka.

“Inna lillahi wa inna ilaihi rajiuun,” kata Kiai Zuhri pelan, diiringi hujan air mata seluruh orang yang mengelilingi pria yang tak lain adalah KH. Abd haq Zaini, Lc., Ketua Yayasan Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton Probolinggo. Beliau wafat tepat pukul 00.55 WIB, Senin 18 Mei 2009.

***

KIAI Abd Haq Zaini adalah putra ke enam dari pasangan KH Zaini Mun’im dan Nyai Hj Nafi’ah asal Madura. Beliau memiliki lima orang kakak, yaitu KH Moh Hasyim Zaini, KH Abdul Wahid Zaini, Ny Hj Aisyah, KH Fadlurrahman, KH Moh Zuhri Zaini, dan memiliki seorang adik laki-laki bernama KH Nur Chotim Zaini.

Semasa hidupnya, Kiai Abd Haq adalah sosok pria yang sehat dan senang olah raga. Hampir setiap hari selepas subuh, beliau bersama istri tercinta senantiasa menyempatkan diri berolahraga ringan. Berjalan-jalan menghirup segarnya embun pagi di sekitar pesantren Nurul Jadid, sambil menyapa para petani yang mencangkul sawah di pinggiran pesantren.

“Beliau sakit keras hingga opname hanya sekali, sekitar satu bulan lalu di rumah sakit Graha Sehat Kraksaan, Probolinggo. Itu pun sekedar sakit tipus karena kecapekan,” kata Faiz Ahz, putra sulung Kiai Abd Haq.

Menurut Faiz, semasa hidup, ayahandanya hanya punya penyakit diabetes. “Beliau tidak punya penyakit jantung dan sesak nafas. Beliau wafat tidak dalam kondisi sakit,” lanjutnya.

Pendapat Faiz itu dibenarkan Abdul Hafidz. Menurut hadam Kiai Abdul Haq ini, sore hari sebelum duka menyapa, kondisi Kiai Abdul Haq nampak sehat. Setelah sholat isya’, Hafidz yang saat itu badannya kurang sehat diajak Kiai Abdul Haq untuk menghadiri undangan pengajian di dua tempat. Pertama, di daerah sekitar Kabupaten Situbondo. Kedua, menghadiri Haul Habib Jakfar bin Syech Abu Bakar di Pajarakan, Probolinggo.

Usai menghadiri dua acara tersebut, Kiai Abdul Haq bergegas pulang. Tiba di tengah perjalanan, beliau mengeluh kepada Hafidz.

“Badan saya kok tidak enak, Fidz,” keluh Kiai Abd Haq

“Ada apa, Kiai,” tanya Hafid

“Entahlah,” jawab Kiai, yang saat itu pula muntah dengan erangan yang keras. Melihatnya Hafidz panik. Namun Kiai Abdul Haq malah menyarankan agar Hafidz tenang. Dengan senyum berat, beliau menyarankan agar Hafidz bisa segera menuju kediaman beliau.

Saat itu Hafidz punya rencana untuk langsung ke rumah sakit. Namun Kiai Abd Haq memaksa untuk segera tiba di rumah.

Menjelang tiba di rumah, Kiai Abd Haq muntah untuk kedua kalinya. Kedua belah tangannya menjadi dingin. Hafidz pun makin panik. Namun sekali lagi Kiai Abdul Haq mengatakan agar Hafidz tenang.

“Demikianlah... duka ini benar-benar mendadak,” kata Hafidz berkaca-kaca.

***

KH Abdul Haq Zaini, lahir pada tanggal 5 Mei 1953 di Tanjung, Paiton Probolinggo. Ra (Gus) Abdul Haq kecil lahir dalam keadaan tidak normal. “Tubuhnya terbungkus semacam kulit tipis,” kata Ratib (61) santri senior Pondok Pesantren Nurul Jadid.

Melihat keganjilan tersebut, lanjut Ratib, ayahandanya berdoa kepada Allah agar bayi Ra Abdul Haq bisa tumbuh normal. Seiring doa ayahandanya, akhirnya telinga Ra Abdul Haq kecil mulai keluar dari kulit yang membungkus seluruh tubuhnya. Kemudian perlahan-lahan menjadi normal sebagaimana layaknya anak kecil lainnya. “Hanya saja, di ujung bagian telinga kanannya berlubang,” kata Ratib.

Sejak kecil, Ra Abdul Haq senang olah raga. Salah satunya adalah pencak silat. Saat itu beliau berniat berguru kepada ayahandanya. Namun karena tingginya tingkat kesibukan ayahandanya, ia dianjurkan untuk berguru pada orang lain.

Selain gemar olah raga, saat remaja Ra Abdul Haq dikenal sebagai pemuda yang sangat pandai bergaul dengan orang lain. “Ia paling mudah akrab dengan para santri, dan tidak membeda-bedakannya,” kata Ratib yang pernah menjadi guru Ra Abdul Haq di Madrasah Aliyah Nurul Jadid.

Dalam pendidikan, Ra Abdul Haq acapkali tidak masuk sekolah. Beliau lebih senang bermain bersama kawan-kawannya. Namun demikian, nilai ujiannya di sekolah senantiasa baik mulai dari MI, MTs hingga MA.

Selain dikenal cerdas, Ra Abdul Haq juga dikenal sebagai anak yang memiliki budi pekerti yang baik. “Beliau selalu memperhatikan materi yang diberikan guru dengan seksama. Beliau juga selalu hormat kepada guru-gurunya,” kata Ratib.

Perhatian terhadap Akhlak tersebut senantiasa Ra Abdul Haq jaga hingga menjadi Ketua Yayasan Pondok Pesantren Nurul Jadid. Di balik wajah beliau yang keras, bibir beliau senantiasa mengembang tulus bila bertemu dengan para santri, dan juga orang lain.

Kebiasaan bermurah hati kepada orang lain itu, terinspirasi dari kakak kandung beliau, KH Moh Hasyim Zaini. Menurut almarhum Kiai Hasyim bersikap murah hati kepada setiap orang adalah bagian dari latihan kesabaran.

“Setinggi apa pun kitab (ilmu) seseorang, ujungnya adalah tingkah laku,” pesan Kiai Abdul Haq kepada Hafidz, dua hari sebelum beliau wafat.

***

PADA tahun 1986, Kiai Abdul Haq terpilih menjadi Kepala Biro Kepesantrenan Nurul Jadid. Menurut Faizin Syamweil, sebagai Kepala Biro Kepesantrenan beliau lebih senang menempatkan diri sebagai mitra kerja dengan para pengurus pesantren dari pada sebagai salah satu dari jajaran pengasuh.

Sikap Kiai Abdul Haq itu membawa angin segar dalam tubuh biro kepesantrenan. Roda organisasi berjalan dinamis. Para pengurus menjadi lebih leluasa berdiskusi dengan pemimpinnya, dan mereka menjadi lebih bersemangat dalam bekerja.

“Hanya saja, gaya kiai yang leluasa itu tak jarang menjadikan kawan-kawan terjebak dan kebablasan menganggap Kiai Abdul Haq sebagai kawan,” kenang Faizin, kepala Biro Kepesantren Pondok Pesantren Nurul Jadid.

Namun demikian, lanjut Faizin, Kiai Abdul Haq merasa senang. Karena tujuan beliau bersikap demikian adalah agar para pengurus bisa berterus terang saat menyampaikan sesuatu kepada beliau.

Meski Kiai Abdul Haq dikenal akrab dengan para pengurus pesantren, namun pada saat tertentu di mana beliau dituntut untuk menjadi salah seorang dari jajaran pengasuh, maka beliau pun menjadi sosok kiai yang sangat disegani oleh para pengurus pesantren.

Sebagai Kepala Biro Kepesantrenan, Kiai Abdul Haq tak jemu-jemu melakukan kaderisasi kepada para pengurus biro kepesantrenan. Misalkan, bila muncul persoalan di antara santri, beliau tak langsung menanganinya. Biasanya persoalan itu diberikan terlebih dahulu kepada pengurus. Ini beliau lakukan, selain untuk menjalankan job discription masing-masing bagian dalam biro kepesantrenan, juga untuk melihat sejauh mana kemampuan para pengurus pesantren bisa meredakan pelbagai persoalan yang muncul di antara santri.

Lebih jauh, sebagai seorang Kepala Biro Kepesantrenan, tak jarang beliau terjun langsung di lapangan. Misalkan saat menerima laporan bahwa debit air yang mengaliri kamar mandi para santri menurun, Kiai Abdul Haq segera melakukan cek kebenaran laporan tersebut. Setelah mengetahui bahwa laporan itu benar, beliau segera mengumpulkan para pengurus dan memberikan arahan tentang bagaimana menyelesaikannya.

Hal lain yang mengagumkan para pengurus pesantren adalah cara Kiai Abdul Haq menghadapi santri nakal yang telah direkomendasikan para pengurus untuk dikembalikan kepada orang tuanya. Menghadapi rekomendasi ini, tak jarang Kiai Abdul Haq menolak rekomendasi tesebut, dan memilih santri nakal itu untuk beliau bina secara langsung.

“Biasanya santri nakal itu beliau beri berbagai macam kegiatan. Misalkan menjadi sopir atau hadam (pembantu) beliau,” kata Faizin.

Dengan kegiatan yang bisa dipantau langsung, Kiai Abdul Haq bisa melakukan komunikasi lebih dalam dengan santri nakal tersebut. Lewat pendekatan ini, perlahan-lahan tingkat kenakalan santri nakal itu mereda.

Pendekatan yang beliau lakukan kepada para santri nakal itu, selain diilhami pendidikan dari ayahanda beliau, juga berangkat dari pengalaman Kiai Abdul Haq saat berkenalan dan berteman dengan pelbagai golongan masyarakat saat menempuh kuliah di Surabaya.

“Menurut kawan dekat beliau, dulu Kiai Abdul Haq sering meninggalkan bangku kuliah. Ini dilakukan selain untuk belajar hidup mandiri dengan bekerja, juga digunakan untuk menyelami kehidupan kelompok preman, sekaligus menyadarkan mereka,” kata Faizin

Sementara pendidikan yang diperoleh Kiai Abdul Haq dari ayahandanya adalah bersikap terbuka dan apa adanya.

“Menurut Kiai Abdul Haq sendiri, beliau senantiasa diajarkan untuk terbuka kepada ayandanya. Bahkan hingga pada persoalan pribadinya seperti studi di perguruan tinggi yang tak kunjung usai,” lanjut Faizin.

Saat itu Kiai Abdul Haq sempat menempuh kuliah di beberapa perguruan tinggi di Surabaya seperti Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel dan IKIP Surabaya. Namun dua-duanya tidak sempat diselesaikan sampai sarjana.

Melihat hal itu, ayahandanya mengutus kakaknya, alm KH Abdul Wahid Zaini untuk membujuknya agar bersedia menempuh pendidikan di Umul Quro, Makkah.

***

SETELAH wafatnya KH Abd Wahid Zaini pada tahun 2000, Kiai Abdul Haq dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pondok Pesantren Nurul Jadid. Selama kurang lebih delapan tahun, tak sedikit hasil usaha beliau yang saat ini sudah bisa dinikmati, baik oleh santri, alumni dan masyarakat. Di antaranya adalah pendirian Sekolah tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES), SMK, penertiban keuangan pesantren, mekanisme pengangkatan guru dan dosen, pembangunan bank mu’amalat, pendirian P4NJ serta lainnya.

“Sebagai ketua Yayasan, beliau sangat bersemangat sekali. Terakhir adalah pembelian tanah yayasan seluas 1,3 hektar sebelah timur pesantren dan 2,3 hektar sebelah selatan KUA yang menurut rencana akan dijadikan pusat pendidikan,” kata Faizin.

Dalam bidang kemasyarakatan, Kiai Abdul Haq merupakan sosok yang memiliki kepedulian tinggi terhadap masyarakat sekitar pesantren. Misalkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat kecil, beliau menjalin kerjasama dengan pemerintah dalam program penggemukan sapi.

“Bila ayahandanya dulu peduli terhadap ekonomi masyarakat sekitar lewat budidaya tembakau, maka Kiai Abdul Haq lewat program penggemukan sapi. Alhamdulillah hasilnya sangat signifikan,” jelas Faizin.

Lebih jauh, Kiai Abdul Haq juga dikenal sebagai sosok kiai yang tidak senang membeda-bedakan masyarakat karena golongan atau partai politik. Hal ini seperti tausyiah beliau yang disampaikan pada acara Istighosah, Jum’at 15 Mei 2009 di Masjid Jami Pondok Pesantren Nurul Jadid. Saat itu beliau sangat prihatin terhadap perilaku sebagian santri yang menganggap ‘liyan’ santri dari pesantren lain. Menurut beliau, tak patut santri Nurul Jadid menganggap beda santri dari pesantren lain.

“Santri Nurul Jadid jangan mengkotak-kotakan masyarakat. Bersatulah dengan santri dari pesantren lainnya. Karena kitab yang diajarkan sama, Sulam Taufiq,” pesan Kiai di hadapan para jama’ah Istighosah yang diselenggarakan setiap Sabtu Wage.

***

SEKITAR tahun 2002, Kiai Abdul Haq menjadi Ketua Dewan Syura Dewan Pengurus Cabang (DPC) Partai Kebangkitan Bangsa Probolinggo. Alasan beliau bersedia masuk dalam politik antara lain karena banyak kalangan yang meminta beliau untuk meneruskan tongkat estafet kakak kandungnya, KH Abd Wahid Zaini yang terbukti memberikan pencerahan kepada masyarakat.

Kiai Abdul Haq menjabat ketua Dewan Syura DPC PKB sebanyak dua kali. Pada tahap terakhir, sebenarnya beliau enggan. Namun desakan dari para kader partai tak jua mereda. Akhirnya beliau meberikan syarat, bila ada satu kader partai yang tidak sepakat beliau menjadi ketua dewan syura, maka beliau akan mengundurkan diri. Saat pemilihan digelar, ternyata Kiai Abdul Haq terpilih secara aklamasi. Karir terakhir politik Kiai Abdul Haq berada di PKNU.

Meski Kiai Abdul Haq terjun dalam dunia politik, beliau tak pernah sekali pun memaksa santri-santrinya untuk memilih salah satu partai politik. Beliau senantiasa membebaskan para santrinya menentukan pilihan mereka berdasarkan ukuran rasional dan hati nurani masing-masing.

***

SEBAGAI tokoh pesantren, Kiai Abdul Haq cukup dekat dengan mantan Presiden RI, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Terlebih setelah Gus Dur mengetahui bahwa Kiai Abdul Haq merupakan adik kandung sahabat kentalnya, KH Abdul Wahid Zaini.

Secara pemikiran, ada benang merah atau keselarasan antara Kiai Abdul Haq dengan Gus Dur. Salah satunya adalah usaha Kiai Abdul Haq menjaga ukhuwah islamiyah dan ukhuwwah wathoniah, yang senantiasa tergambar dalam petuah-petuah beliau, baik kepada para santrinya maupun sikap beliau kepada orang lain.

***

TUJUH hari ini, mendung duka masih menggelayuti Pondok Pesantren Nurul Jadid. Para santri, alumni, orang tua santri, para sahabat dan masyarakat datang silih berganti berkunjung ke makam Kiai Abdul Haq Zaini. Tak henti-hentinya untaian do’a mereka panjatkan, agar almarhum Kiai Abdul Haq senantiasa bahagia di akhirat nanti.

“Saya tak pernah merasa kehilangan Kiai Abdul Haq. Senyum beliau akan senantiasa ada bersama saya...” kata salah seorang santri yang enggan disebutkan namanya.*

Adib Minnanurrachim