Jumat, 06 Mei 2011

Tanyaku Sepanjang Batanghari


Tanyaku memang menyusuri aliran sungai Batanghari,
yang sunyi dan sepi.
Sesekali singgah di surau pinggiran sungai,
mengambil jeda, mereda letih.

Dan lihatlah, sebaris pertanyaan itu berantakan sekarang.
Entah kenapa. Ah, bukan entah. Ia memang lelah.
Perjalanan yang ia tempuh terlalu jauh.
Wajar bila sekarang ia renggangkan ikat pinggang, mengurai huruf demi huruf.

O...,
Ternyata ada banyak noda di sekujur huruf-hurufnya.
Bagaimana ini? Tentu kau merasa jijik, bukan?
Menjauhlah. Tak baik untuk kulitmu yang putih pualam.

Dan sebelum kembali berjajar, biarkan huruf-huruf itu mandi besar.
Agar kembali segar saat menjadi sebaris pertanyaan.
Dan kuharap kau tetap di tepi,
di tempat semula yang telah kau tentukan sendiri.

Di surau pinggir Batanghari ini, sesaat saja,
biarkan tanyaku bermunajat.
Kepada Tuhan, yang mungkin memberi bekal menuju samudera.
Dan setelah ini, tak perlu aku mencarimu lagi, bukan…?


10.09 PM; 04052011
Pamulang, Tangerang Selatan

Senin, 21 Februari 2011

Asvi Menggapai Kebenaran Sejarah

Hari-hari akhir bulan September menjadi istimewa bagi Asvi Warman Adam (55). Obsesinya menguak kebenaran sejarah, di antaranya tentang Peristiwa 1965, lagi-lagi memperoleh momentum. Dia ajak pemerintah, sesama sejarawan, dan masyarakat berpikir ulang tentang narasi-narasi masa lampau, utamanya tragedi 1965.

Mengenai kemungkinan pelanggaran berat HAM, sekitar Peristiwa 1965, menurut ahli peneliti utama LIPI itu, peristiwa Pulau Buru sebagai peristiwa paling jelas. Tempatnya jelas, tahun terjadinya jelas, pelakunya jelas, serta korban dan jumlahnya jelas. Dengan tujuan mengamankan Pemilu 1971, lebih dari 10.000 orang yang digolongkan tahanan politik 1965 golongan B dimasukkan ke kamp kerja paksa lebih dari 10 tahun. Stigma buruk diterapkan kepada mereka, selain pembunuhan, penangkapan tanpa proses dan pengadilan.

Kasus Pulau Buru merupakan mata rantai peristiwa sekitar 30 September 1965. Selama bertahun-tahun narasi tentang peristiwa itu hanya satu versi, yakni versi Orde Baru, bagian dari upaya justifikasi kekuasaan dan pengumpulan kekuatan. Justifikasi itu diawali dengan pembunuhan besar-besaran setelah 1 Oktober, ada yang memperkirakan jumlahnya lebih dari setengah juta orang. Penciptaan narasi tunggal disusul proyek Pulau Buru. Gugatan yang muncul dibungkam.

Seiring deru reformasi tahun 1998, masyarakat mulai kritis dengan narasi dan pencitraan versi tunggal. Film Pengkhianatan G30S/PKI yang diputar luas setiap akhir bulan September digugat. Menurut dia, tidak lagi diputarnya film itu secara luas merupakan satu keberhasilan. ”Inilah pertama kali terbuka munculnya upaya meluruskan sejarah Peristiwa 1965. Disusul kemudian berbagai versi yang ditulis para korban dan analis-analis yang sebelumnya tidak terkuak ke permukaan,” kata Asvi Warman Adam.

Asvi mengutip sejarawan Inggris, EH Caar, bahwa kebenaran sejarah gugur manakala ditemukan data baru. Munculnya narasi-narasi baru itu adalah bagian dari ajakan menemukan dan meluruskan. Keputusan politik, katakan ketetapan MPR, adalah produk politik bagian dari justifikasi kekuasaan. Oleh karena itu, ketika data baru semakin banyak ditemukan, versi tunggal perlu ditinjau ulang, kalau perlu, ditindaklanjuti dengan rehabilitasi nama baik dan permintaan maaf dari pemerintah.

Sampel yang representatif

Demi pelurusan sejarah dan hapusnya pembohongan, Asvi tidak hanya memimpikan sekitar Peristiwa 1965 atau peristiwa lain, seperti Peristiwa Mei 1998, tetapi bahkan sejak awal Indonesia merdeka. Tidak perlu semuanya, tetapi dipilih peristiwa dan masalah sebagai sampel yang representatif. Misalnya, kurun 1945-1955, 1955-1965, dan seterusnya, sehingga diperoleh sekitar 10 kasus.

Asvi setuju bahwa demi alasan politis ada bagian-bagian peristiwa yang ditutupi, tergantung dari perspektif masing-masing. Namun, kalau narasi itu adalah kebohongan, itu perlu dibongkar. Taruhlah kisah tentang Serangan Oemoem 1 Maret dengan cara menghilangkan peran tokoh lain. Itu kebohongan sejarah.

Awal ketertarikannya ke sejarah Peristiwa 1965 dimulai pada satu peristiwa pada tahun 1999. Dia diminta ceramah oleh Yayasan Hidup Baru, sebuah yayasan yang mengurusi bekas tahanan politik 1965. ”Saya terharu atas semangat juang mereka. Saya terharu ketika mereka, bapak-ibu berusia sepuh itu, mengumpulkan uang recehan. Hasilnya sekitar Rp 25.000, diserahkan sebagai honorarium ceramah saya,” kenang Asvi.

Dengan ketekunan, dia ikuti dan teliti segala narasi Peristiwa 1965 yang berkembang selama ini. Dia sampaikan obsesi itu dalam berbagai tulisan dan karangan pengantar buku, yang semuanya berfokus ajakan menguak kebohongan sejarah, utamanya sekitar Peristiwa 1965.

Dari tujuh buku yang sudah ditulisnya, menulis Peristiwa 1965 tidak hanya berkenaan dengan peristiwa satu malam tanggal 30 September, tetapi juga penangkapan, penahanan, perburuan massal yang memakan korban lebih dari setengah juta orang, pencabutan paspor mahasiswa Indonesia di luar negeri, serta pembuangan paksa 10.000 tapol ke Pulau Buru tahun 1969-1979. Hal itu termasuk stigma dan diskriminasi jutaan orang keluarga korban Peristiwa 1965. Peristiwa-peristiwa itu disebutnya ”pancalogi”, sebagai rangkaian prolog, peristiwa, dan epilog G30S (Asvi Warman Adam, 1965. Orang-orang di Balik Tragedi, Galangpress, 2009).

Bagi Asvi, Peristiwa 1965 merupakan tanda atau pembatas zaman. Dari banyak peristiwa sejarah yang dialami bangsa Indonesia, Peristiwa 1965 merupakan pembatas zaman dalam berbagai bidang. Perubahan politik yang besar terjadi dalam bergesernya kedudukan Indonesia dari pemimpin negara nonblok dan dunia ketiga menjadi ”murid yang baik” AS. Kebijakan ekonomi berdikari menjadi kebijakan ekonomi pasar yang bergantung pada modal asing. Tidak ada kritik, tidak ada polemik, semua dalam satu versi, yakni versi pemerintah.

Peralihan dari profesi wartawan (3 tahun sebagai wartawan) ke peneliti/sejarawan tidak kecil peranan yang diberikan Prof Dr AB Lapian. Dalam status belum setahun bekerja di LIPI, setelah keluar dari majalah Sportif tahun 1983, Asvi memperoleh tawaran mengajar Bahasa Indonesia di Paris, Perancis, sekaligus beasiswa. Dia perlu memperoleh rekomendasi pimpinan LIPI. Lapian bertanya, ”Rekomendasi saya tulis dalam bahasa Inggris, Perancis, atau Indonesia?” Akhirnya rekomendasi ditulis dalam bahasa Indonesia, menerakan bahwa Asvi boleh ke Paris mengajar sekaligus belajar. ”Nah, itulah titik balik profesi saya,” Gelar doktor ilmu sejarah pun diperolehnya dengan disertasi tentang sejarah Vietnam.

Di benak Asvi, dia memimpikan narasi sejarah dibebaskan dari kebohongan-kebohongan. Biarlah peristiwa itu sendiri bicara tentang sejarahnya! Menggapai kebenaran sejarah? Yaaah..., Asvi tertawa lepas!

BIODATA
a. Nama: Asvi Warman Adam
b. Lahir: Bukittinggi, 8 Oktober 1954
c. Istri: Nuzli Hayati (52)
d. Anak: Tessi Fathia Adam (23)
e. Pekerjaan: Ahli Peneliti Utama Pusat Penelitian Politik LIPI
f. Pendidikan: Doktor sejarah dari Ecole des Hautes Etudes en Sciences Sosiales, Paris (1990)
g. Karier: Aktif berceramah, menulis artikel tentang rekayasa Orde Baru dan historiografi
h. Indonesia dari perspektif korban, dan menulis setidaknya tujuh buku tentang sejarah kontemporer, terakhir (”Sarwono Prawirohardjo. Pembangun Institusi Ilmu Pengetahuan di Indonesia”, LIPI, 2009)
i. Mantan anggota tim Pengkaji Pelanggaran HAM Berat Soeharto yang dibentuk Komnas HAM tahun 2003


Repro: http://edukasi.kompas.com/ (Kamis, 1 Oktober 2009 | 01:51 WIB)
Oleh: ST Sularto

Minggu, 06 Februari 2011

Tak Usah Risau, Bayang-bayang Pasti Datang!

bayang-bayang itu, makin menjauh saja
tapi biarlah. tiada ingin aku mengejarnya
sebab waktu sudah senja

dan bila malam tiba,
aku tidak akan lari darinya
justru aku akan tenggelam dalam pekatnya malam

kesendirian dan kesunyiaan adalah kondisi dasar jiwa manusia
atau sebuah rumah
tempat istirahat jiwaku yang haus anugerah

dan bila pagi memaksa mentari menyinari bumi
jadikan bunga-bunga merona tiada henti
aku pun masih teguh pendirian di sini

maksudku sudah tersampaikan
pada bayang-bayang
yang mirip gelombang menghempas tiada henti dari air yang dangkal

biarlah pagi alami jenuh dan berganti siang hari
saat itu, bayang-bayang pasti datang sendiri
tawarkan diri, tanpa peduli siapa aku ini


Suatu Senja di Jakarta
Ciputat, Minggu 06 Februari 2011
Adib Minnanurrachim

Sabtu, 06 November 2010

Entah, Mungkin Judulnya

untuk yang terdiam

seperti yang sudah-sudah
tiap senja menyapa, yang terdiam senantiasa turut serta
berlayar di samudera gelisah,
berlabuh di dermaga resah.

ketika senja lelap,
ia mendaki malam
punguti bintang,
jadikan hiasan di rambutnya yang berkerudung rembulan.

dan seperti biasa,
aku hanya menatap wajahnya yang tak bergoyang
dan kemudian menuliskan satu kalimat,
“sayang, kenapa kau terdiam?”

hanya matanya yang nyala menghujam
tepat di hati yang tak bisa mengelak
tentang pertanyaan
yang enggan ia utarakan

baiklah,
sederhana saja
dalam hatiku ada hormat
untukmu, perempuan.

tapi sudahlah,
diamlah bila ternyata itu adanya
untuk menilai dan mengambil kesimpulan
atau bila ternyata enggan, bahkan.

percayalah,
aku tak mempedulikannya
toh aku sendiri tak bisa menebak,
yang senantiasa tak bisa ditebak

suatu senja di Jakarta
Sabtu, 06/07/2010
Adib Minnanurrachim

Senin, 25 Mei 2009

TAPAK PERJUANGAN KIAI ITU MENDADAK TERHENTI

Duka itu tiba mendadak saat perjuangan masih terasa panjang...


MALAM pukul 00.37 WIB, terdengar jeritan histeris dari kediaman KH Abd Haq Zaini. Abdul Hafidz, santri Nurul Jadid sekaligus hadam (pembantu) keluarga Kiai Abdul Haq, malam itu menangis tersedu-sedu sambil menggoyang-goyangkan sesosok tubuh berbaju koko warna merah hati yang tergeletak di lantai rumah. Sementara Saili, kawan Hafidz, hanya bisa terdiam sambil meneruskan pijatannya pada dada pria tersebut. Begitu pula seorang santri lainnya yang terus memijat-mijat kaki pria tersebut.

Mendengar jeritan Hafidz, Ny Hj Nuri Firdausiyah, istri Kiai Abdul Haq yang tengah terlelap seketika terjaga dan langsung menemui Hafidz.

“Kenapa tidak dibawa ke dokter,” tegur Nyai Fir.

“Beliau menolak, Nyai,” jawab Hafidz panik.

“Tolong panggil Kiai Zuhri dan Faiz,” kata Nyai Fir pada Hafidz sambil duduk dan memijat-mijat tubuh pria yang tergelatak di depannya.

Beberapa menit kemudian, KH Moh Zuhri Zaini, Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid datang. Beliau langsung duduk dan mulai memijat dada pria tersebut sambil berdoa. Detik demi detik berjalan. Menit demi menit pun berlalu. Namun tiada reaksi dari tubuh pria tersebut. Saat Kiai Zuhri memeriksa detak jantung pria yang tergelatak dengan wajah tenang itu, seketika wajah Kiai Zuri berubah duka.

“Inna lillahi wa inna ilaihi rajiuun,” kata Kiai Zuhri pelan, diiringi hujan air mata seluruh orang yang mengelilingi pria yang tak lain adalah KH. Abd haq Zaini, Lc., Ketua Yayasan Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton Probolinggo. Beliau wafat tepat pukul 00.55 WIB, Senin 18 Mei 2009.

***

KIAI Abd Haq Zaini adalah putra ke enam dari pasangan KH Zaini Mun’im dan Nyai Hj Nafi’ah asal Madura. Beliau memiliki lima orang kakak, yaitu KH Moh Hasyim Zaini, KH Abdul Wahid Zaini, Ny Hj Aisyah, KH Fadlurrahman, KH Moh Zuhri Zaini, dan memiliki seorang adik laki-laki bernama KH Nur Chotim Zaini.

Semasa hidupnya, Kiai Abd Haq adalah sosok pria yang sehat dan senang olah raga. Hampir setiap hari selepas subuh, beliau bersama istri tercinta senantiasa menyempatkan diri berolahraga ringan. Berjalan-jalan menghirup segarnya embun pagi di sekitar pesantren Nurul Jadid, sambil menyapa para petani yang mencangkul sawah di pinggiran pesantren.

“Beliau sakit keras hingga opname hanya sekali, sekitar satu bulan lalu di rumah sakit Graha Sehat Kraksaan, Probolinggo. Itu pun sekedar sakit tipus karena kecapekan,” kata Faiz Ahz, putra sulung Kiai Abd Haq.

Menurut Faiz, semasa hidup, ayahandanya hanya punya penyakit diabetes. “Beliau tidak punya penyakit jantung dan sesak nafas. Beliau wafat tidak dalam kondisi sakit,” lanjutnya.

Pendapat Faiz itu dibenarkan Abdul Hafidz. Menurut hadam Kiai Abdul Haq ini, sore hari sebelum duka menyapa, kondisi Kiai Abdul Haq nampak sehat. Setelah sholat isya’, Hafidz yang saat itu badannya kurang sehat diajak Kiai Abdul Haq untuk menghadiri undangan pengajian di dua tempat. Pertama, di daerah sekitar Kabupaten Situbondo. Kedua, menghadiri Haul Habib Jakfar bin Syech Abu Bakar di Pajarakan, Probolinggo.

Usai menghadiri dua acara tersebut, Kiai Abdul Haq bergegas pulang. Tiba di tengah perjalanan, beliau mengeluh kepada Hafidz.

“Badan saya kok tidak enak, Fidz,” keluh Kiai Abd Haq

“Ada apa, Kiai,” tanya Hafid

“Entahlah,” jawab Kiai, yang saat itu pula muntah dengan erangan yang keras. Melihatnya Hafidz panik. Namun Kiai Abdul Haq malah menyarankan agar Hafidz tenang. Dengan senyum berat, beliau menyarankan agar Hafidz bisa segera menuju kediaman beliau.

Saat itu Hafidz punya rencana untuk langsung ke rumah sakit. Namun Kiai Abd Haq memaksa untuk segera tiba di rumah.

Menjelang tiba di rumah, Kiai Abd Haq muntah untuk kedua kalinya. Kedua belah tangannya menjadi dingin. Hafidz pun makin panik. Namun sekali lagi Kiai Abdul Haq mengatakan agar Hafidz tenang.

“Demikianlah... duka ini benar-benar mendadak,” kata Hafidz berkaca-kaca.

***

KH Abdul Haq Zaini, lahir pada tanggal 5 Mei 1953 di Tanjung, Paiton Probolinggo. Ra (Gus) Abdul Haq kecil lahir dalam keadaan tidak normal. “Tubuhnya terbungkus semacam kulit tipis,” kata Ratib (61) santri senior Pondok Pesantren Nurul Jadid.

Melihat keganjilan tersebut, lanjut Ratib, ayahandanya berdoa kepada Allah agar bayi Ra Abdul Haq bisa tumbuh normal. Seiring doa ayahandanya, akhirnya telinga Ra Abdul Haq kecil mulai keluar dari kulit yang membungkus seluruh tubuhnya. Kemudian perlahan-lahan menjadi normal sebagaimana layaknya anak kecil lainnya. “Hanya saja, di ujung bagian telinga kanannya berlubang,” kata Ratib.

Sejak kecil, Ra Abdul Haq senang olah raga. Salah satunya adalah pencak silat. Saat itu beliau berniat berguru kepada ayahandanya. Namun karena tingginya tingkat kesibukan ayahandanya, ia dianjurkan untuk berguru pada orang lain.

Selain gemar olah raga, saat remaja Ra Abdul Haq dikenal sebagai pemuda yang sangat pandai bergaul dengan orang lain. “Ia paling mudah akrab dengan para santri, dan tidak membeda-bedakannya,” kata Ratib yang pernah menjadi guru Ra Abdul Haq di Madrasah Aliyah Nurul Jadid.

Dalam pendidikan, Ra Abdul Haq acapkali tidak masuk sekolah. Beliau lebih senang bermain bersama kawan-kawannya. Namun demikian, nilai ujiannya di sekolah senantiasa baik mulai dari MI, MTs hingga MA.

Selain dikenal cerdas, Ra Abdul Haq juga dikenal sebagai anak yang memiliki budi pekerti yang baik. “Beliau selalu memperhatikan materi yang diberikan guru dengan seksama. Beliau juga selalu hormat kepada guru-gurunya,” kata Ratib.

Perhatian terhadap Akhlak tersebut senantiasa Ra Abdul Haq jaga hingga menjadi Ketua Yayasan Pondok Pesantren Nurul Jadid. Di balik wajah beliau yang keras, bibir beliau senantiasa mengembang tulus bila bertemu dengan para santri, dan juga orang lain.

Kebiasaan bermurah hati kepada orang lain itu, terinspirasi dari kakak kandung beliau, KH Moh Hasyim Zaini. Menurut almarhum Kiai Hasyim bersikap murah hati kepada setiap orang adalah bagian dari latihan kesabaran.

“Setinggi apa pun kitab (ilmu) seseorang, ujungnya adalah tingkah laku,” pesan Kiai Abdul Haq kepada Hafidz, dua hari sebelum beliau wafat.

***

PADA tahun 1986, Kiai Abdul Haq terpilih menjadi Kepala Biro Kepesantrenan Nurul Jadid. Menurut Faizin Syamweil, sebagai Kepala Biro Kepesantrenan beliau lebih senang menempatkan diri sebagai mitra kerja dengan para pengurus pesantren dari pada sebagai salah satu dari jajaran pengasuh.

Sikap Kiai Abdul Haq itu membawa angin segar dalam tubuh biro kepesantrenan. Roda organisasi berjalan dinamis. Para pengurus menjadi lebih leluasa berdiskusi dengan pemimpinnya, dan mereka menjadi lebih bersemangat dalam bekerja.

“Hanya saja, gaya kiai yang leluasa itu tak jarang menjadikan kawan-kawan terjebak dan kebablasan menganggap Kiai Abdul Haq sebagai kawan,” kenang Faizin, kepala Biro Kepesantren Pondok Pesantren Nurul Jadid.

Namun demikian, lanjut Faizin, Kiai Abdul Haq merasa senang. Karena tujuan beliau bersikap demikian adalah agar para pengurus bisa berterus terang saat menyampaikan sesuatu kepada beliau.

Meski Kiai Abdul Haq dikenal akrab dengan para pengurus pesantren, namun pada saat tertentu di mana beliau dituntut untuk menjadi salah seorang dari jajaran pengasuh, maka beliau pun menjadi sosok kiai yang sangat disegani oleh para pengurus pesantren.

Sebagai Kepala Biro Kepesantrenan, Kiai Abdul Haq tak jemu-jemu melakukan kaderisasi kepada para pengurus biro kepesantrenan. Misalkan, bila muncul persoalan di antara santri, beliau tak langsung menanganinya. Biasanya persoalan itu diberikan terlebih dahulu kepada pengurus. Ini beliau lakukan, selain untuk menjalankan job discription masing-masing bagian dalam biro kepesantrenan, juga untuk melihat sejauh mana kemampuan para pengurus pesantren bisa meredakan pelbagai persoalan yang muncul di antara santri.

Lebih jauh, sebagai seorang Kepala Biro Kepesantrenan, tak jarang beliau terjun langsung di lapangan. Misalkan saat menerima laporan bahwa debit air yang mengaliri kamar mandi para santri menurun, Kiai Abdul Haq segera melakukan cek kebenaran laporan tersebut. Setelah mengetahui bahwa laporan itu benar, beliau segera mengumpulkan para pengurus dan memberikan arahan tentang bagaimana menyelesaikannya.

Hal lain yang mengagumkan para pengurus pesantren adalah cara Kiai Abdul Haq menghadapi santri nakal yang telah direkomendasikan para pengurus untuk dikembalikan kepada orang tuanya. Menghadapi rekomendasi ini, tak jarang Kiai Abdul Haq menolak rekomendasi tesebut, dan memilih santri nakal itu untuk beliau bina secara langsung.

“Biasanya santri nakal itu beliau beri berbagai macam kegiatan. Misalkan menjadi sopir atau hadam (pembantu) beliau,” kata Faizin.

Dengan kegiatan yang bisa dipantau langsung, Kiai Abdul Haq bisa melakukan komunikasi lebih dalam dengan santri nakal tersebut. Lewat pendekatan ini, perlahan-lahan tingkat kenakalan santri nakal itu mereda.

Pendekatan yang beliau lakukan kepada para santri nakal itu, selain diilhami pendidikan dari ayahanda beliau, juga berangkat dari pengalaman Kiai Abdul Haq saat berkenalan dan berteman dengan pelbagai golongan masyarakat saat menempuh kuliah di Surabaya.

“Menurut kawan dekat beliau, dulu Kiai Abdul Haq sering meninggalkan bangku kuliah. Ini dilakukan selain untuk belajar hidup mandiri dengan bekerja, juga digunakan untuk menyelami kehidupan kelompok preman, sekaligus menyadarkan mereka,” kata Faizin

Sementara pendidikan yang diperoleh Kiai Abdul Haq dari ayahandanya adalah bersikap terbuka dan apa adanya.

“Menurut Kiai Abdul Haq sendiri, beliau senantiasa diajarkan untuk terbuka kepada ayandanya. Bahkan hingga pada persoalan pribadinya seperti studi di perguruan tinggi yang tak kunjung usai,” lanjut Faizin.

Saat itu Kiai Abdul Haq sempat menempuh kuliah di beberapa perguruan tinggi di Surabaya seperti Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel dan IKIP Surabaya. Namun dua-duanya tidak sempat diselesaikan sampai sarjana.

Melihat hal itu, ayahandanya mengutus kakaknya, alm KH Abdul Wahid Zaini untuk membujuknya agar bersedia menempuh pendidikan di Umul Quro, Makkah.

***

SETELAH wafatnya KH Abd Wahid Zaini pada tahun 2000, Kiai Abdul Haq dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pondok Pesantren Nurul Jadid. Selama kurang lebih delapan tahun, tak sedikit hasil usaha beliau yang saat ini sudah bisa dinikmati, baik oleh santri, alumni dan masyarakat. Di antaranya adalah pendirian Sekolah tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES), SMK, penertiban keuangan pesantren, mekanisme pengangkatan guru dan dosen, pembangunan bank mu’amalat, pendirian P4NJ serta lainnya.

“Sebagai ketua Yayasan, beliau sangat bersemangat sekali. Terakhir adalah pembelian tanah yayasan seluas 1,3 hektar sebelah timur pesantren dan 2,3 hektar sebelah selatan KUA yang menurut rencana akan dijadikan pusat pendidikan,” kata Faizin.

Dalam bidang kemasyarakatan, Kiai Abdul Haq merupakan sosok yang memiliki kepedulian tinggi terhadap masyarakat sekitar pesantren. Misalkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat kecil, beliau menjalin kerjasama dengan pemerintah dalam program penggemukan sapi.

“Bila ayahandanya dulu peduli terhadap ekonomi masyarakat sekitar lewat budidaya tembakau, maka Kiai Abdul Haq lewat program penggemukan sapi. Alhamdulillah hasilnya sangat signifikan,” jelas Faizin.

Lebih jauh, Kiai Abdul Haq juga dikenal sebagai sosok kiai yang tidak senang membeda-bedakan masyarakat karena golongan atau partai politik. Hal ini seperti tausyiah beliau yang disampaikan pada acara Istighosah, Jum’at 15 Mei 2009 di Masjid Jami Pondok Pesantren Nurul Jadid. Saat itu beliau sangat prihatin terhadap perilaku sebagian santri yang menganggap ‘liyan’ santri dari pesantren lain. Menurut beliau, tak patut santri Nurul Jadid menganggap beda santri dari pesantren lain.

“Santri Nurul Jadid jangan mengkotak-kotakan masyarakat. Bersatulah dengan santri dari pesantren lainnya. Karena kitab yang diajarkan sama, Sulam Taufiq,” pesan Kiai di hadapan para jama’ah Istighosah yang diselenggarakan setiap Sabtu Wage.

***

SEKITAR tahun 2002, Kiai Abdul Haq menjadi Ketua Dewan Syura Dewan Pengurus Cabang (DPC) Partai Kebangkitan Bangsa Probolinggo. Alasan beliau bersedia masuk dalam politik antara lain karena banyak kalangan yang meminta beliau untuk meneruskan tongkat estafet kakak kandungnya, KH Abd Wahid Zaini yang terbukti memberikan pencerahan kepada masyarakat.

Kiai Abdul Haq menjabat ketua Dewan Syura DPC PKB sebanyak dua kali. Pada tahap terakhir, sebenarnya beliau enggan. Namun desakan dari para kader partai tak jua mereda. Akhirnya beliau meberikan syarat, bila ada satu kader partai yang tidak sepakat beliau menjadi ketua dewan syura, maka beliau akan mengundurkan diri. Saat pemilihan digelar, ternyata Kiai Abdul Haq terpilih secara aklamasi. Karir terakhir politik Kiai Abdul Haq berada di PKNU.

Meski Kiai Abdul Haq terjun dalam dunia politik, beliau tak pernah sekali pun memaksa santri-santrinya untuk memilih salah satu partai politik. Beliau senantiasa membebaskan para santrinya menentukan pilihan mereka berdasarkan ukuran rasional dan hati nurani masing-masing.

***

SEBAGAI tokoh pesantren, Kiai Abdul Haq cukup dekat dengan mantan Presiden RI, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Terlebih setelah Gus Dur mengetahui bahwa Kiai Abdul Haq merupakan adik kandung sahabat kentalnya, KH Abdul Wahid Zaini.

Secara pemikiran, ada benang merah atau keselarasan antara Kiai Abdul Haq dengan Gus Dur. Salah satunya adalah usaha Kiai Abdul Haq menjaga ukhuwah islamiyah dan ukhuwwah wathoniah, yang senantiasa tergambar dalam petuah-petuah beliau, baik kepada para santrinya maupun sikap beliau kepada orang lain.

***

TUJUH hari ini, mendung duka masih menggelayuti Pondok Pesantren Nurul Jadid. Para santri, alumni, orang tua santri, para sahabat dan masyarakat datang silih berganti berkunjung ke makam Kiai Abdul Haq Zaini. Tak henti-hentinya untaian do’a mereka panjatkan, agar almarhum Kiai Abdul Haq senantiasa bahagia di akhirat nanti.

“Saya tak pernah merasa kehilangan Kiai Abdul Haq. Senyum beliau akan senantiasa ada bersama saya...” kata salah seorang santri yang enggan disebutkan namanya.*

Adib Minnanurrachim

Kamis, 14 Februari 2008

RAGAM SPIRITUAL, RAGAM KETENANGAN


Seiring kecenderungan masyarakat terhadap spiritualisme, beragam pelatihan spiritual ditawarkan. Mulai ESQ, Quantum Ikhlas hingga Shalat Khusyu. Ada beragam ketenangan dilahirkan.


ABAD 21, oleh sebagian pemikir diidentifikasi sebagai abad spiritualisme. Hal ini tidaklah berlebihan jika melihat maraknya kecenderungan masyarakat pada aspek spiritualitas pada dasawarsa terakhir ini. Kehidupan modern yang bercorak diterministik-materialistik, positivistik-empirik, sering dikritik oleh kaum posmodernis sebagai akar konflik. Namun solusi memuaskan ternyata belum dapat mereka ajukan. Solusi-solusi yang ditawarkan sering dinilai tanpa arah, bahkan mengarah pada solipsisme. Dari keadaan yang penuh kegamangan dan kekeringan jiwa inilah spiritualisme menjadi solusi-alternatif.

Dalam kondisi tersebut munculah tokoh seperti Danah Zohar dan Ian Marshall. Mereka berusaha memperbaiki peradaban secara mendasar dengan menggantikan paradigma Newtonian yang atomisitik dengan paradigma holistik relasional kuantum. Pasangan suami istri ini menjelaskan konsep inteligensi pada aspek-aspek kejiwaan yang pada waktu-waktu sebelumnya dianggap irasional, dengan menggulirkan konsep inteligensi spiritual sebagai bentuk inteligensi tertinggi yang memadukan inteligensi intelektual dan inteligensi emosional.
Dalam sebuah wawancara, Danah Zohar mengatakan bahwa kegagalan manusia modern dalam menjalin hubungan suami istri dan kekeringan makna hidup menjadikan mereka kembali pada spiritualisme. “Kesejahteraan tidak hanya berarti berapa banyak uang Anda di bank, tapi juga apakah Anda bahagia? Seberapa kuat dan sehat hubungan kekeluargaan Anda? Karena 50 persen perkawinan di Barat berakhir dengan perceraian. Mereka mengucapkan janji perkawinan, hidup dalam suka dan duka hingga maut memisahkannya, tapi dua tahun kemudian mereka bercerai. Ini masalah krisis spiritual.”
Gambaran Danah Zohar tersebut juga dialami oleh masyarakat di kota-kota besar di Indonesia. Kehidupan matrealistik yang mulanya dianggap sebagai tujuan utama ternyata tak menjamin kehidupan manusia menjadi tambah bahagia. Science yang diagungkan sebagai pencerahan, ternyata tak mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar seperti; mengapa kita dilahirkan? untuk apa kita lahir di dunia? Dan berujung pada pertanyaan soal kematian.
Keadaan cemas tersebut, pada akhirnya juga melahirkan training-training spiritual seperti ESQ (Ary Ginanjar Agustian), Quantum Ikhlas (Erbe Sentanu) dan Shalat Khusyu (Abu Sangkan). Ketiga-tiganya dianggap sebagai jawaban terhadap krisis spiritual manusia modern, meski di dalamnya terdapat berbagai perbedaan, salah satunya metodologi spiritualisme dan tingkat ketenangan yang diperoleh.

Metode Pelatihan
SEPERTI tertulis dalam web site ESQ (www.esqway165.com), pelatihan yang bervisi menjadikan Leadership Center kelas dunia yang terkemuka dan independen ini mencoba menuntun peserta untuk membangkitkan 7 nilai dasar, yaitu jujur, tanggung jawab, visioner, disiplin, kerjasama, adil, dan peduli. ESQ memandu seseorang dalam membangun prinsip hidup dan karakter berdasarkan ESQ Way165. Angka 165 merupakan simbol dari 1 Hati pada Yang Maha Pencipta, 6 Prinsip Moral, dan 5 Langkah sukses.
Sebagai materi pelatihan, peserta juga dikenalkan tentang kecerdasan intelektual, emosional, spiritual dan misteri God Spot (Titik Tuhan). Sementara metodologi pelatihan ESQ dibuat sedemikian rupa sehingga peserta akan merasa seperti menikmati sebuah pertunjukkan yang penuh makna. Selain itu, peserta juga akan diajak terlibat beberapa aktifitas dalam training seperti permainan, simulasi, serta saling berbagi pengalaman di antara peserta. Materi training disampaikan secara multimedia yang menggabungkan antara animasi, klip film, efek suara, dan musik. Ditampilkan dengan medium beberapa layar besar hingga 4 x 6 m dengan tata suara sekitar 10.000 watt. Training dilaksanakan di berbagai tempat terpilih dengan standar tertentu untuk memastikan bahwa training dapat berlangsung nyaman dan menyenangkan bagi peserta.
Kurang lebih sama dengan ESQ, Quantum Ikhlas yang digagas Erbe sentanu juga memanfaatkan kemajuan ilmu pengetahuan seperti neuroscience, neurotechnology, microelectronics dan sound healing technology, beriringan dengan tuntunan bijak agama serta falsafah kehidupan yang sejak dulu hidup di tengah masyarakat.
Dalam bukunya, Quantum Ikhlas (Tekhnologi Aktivasi Kekuatan Hati), Nunu—panggilan Erbe Sentanu—mengatakan bahwa dengan menggunakan teknologi DigitalPrayer, manusia dapat mudah mencapai gelombang otak yang tepat bagi setiap kegiatan yang ingin ditingkatkan kualitasnya, seperti belajar cepat, meditasi, relaksasi, mengubah kebiasaan, meningkatkan intuisi sampai awet muda.
Dengan penemuan gelombang otak alpa yang bisa dicapai dengan teknologi, pelatihan ini menganjurkan penggunaan CD yang berisi musik dan suara yang sudah diinsersi dengan gelombang tertentu yang otomatis bisa menurunkan gelombang otak pendengarnya dari kondisi Beta ke kondisi Alpa. Melalui latihan yang intensif, kata Nunu, secara otomatis kondisi fisik otak menjadi terlatih sehingga akses zona iklhas bisa menjadi lebih mudah dan otomatis.
Berbeda dengan dua pelatihan di atas yang lebih tergantung pada peralatan tekhnologi dan tata ruang pelatihan, Sholat Khusyu—sesuai dengan namanya—lebih mengedepankan shilatun dan shalat sebagai media untuk mencapai spiritualisme. Shilatun adlah relaksasi yang bisa dilakukan di berbagai tempat, baik dalam ruang tertutup maupun terbuka. Sementara shalat yang oleh ustadz Abu Sangkan disebut meditasi tertinggi dalam Islam, dijelaskan bisa mengurangi kecemasan dalam kehidupan manusia, dengan lima alasan: pertama, merupakan doa atau meditasi yang teratur, minimal lima kali sehari. Kedua, relaksasi melalui gerakan-gerakan shalat. Ketiga, hetero atau auto sugesti dalam bacaan shalat. Keempat, group therapy dalam shalat jama’ah, atau bahkan dalam shalat sendirian pun minimal terdapat aku dan Allah. Dan kelima, hydro therapy dalam mandi junub atau wudhu sebelum shalat.
Ketiga pelatihan di atas—dengan metodologinya masing-masing—diyakini mampu menurunkan gelombang otak dari beta ke alpa, dan bisa membuat manusia merasakan ketenangan jiwa. Namun demikian, yang perlu dilihat adalah; sejauh mana ketenangan dan kebahagiaan yang dicapai? Samakah antara ketenangan dan kebahagiaan yang diperoleh dari satu pelatihan dengan pelatihan lainnya?

Adib Minanurrachim
Dimuat di SC Vol VI

Rabu, 13 Februari 2008

“SUFI ITU INKLUSIF”


AGUS MUSTOFA lahir di Malang, 16 Agustus 1963. Putra Syech Djapri Karim, guru tarekat yang sekaligus mantan Dewan Pembina Partai Penganut Tarekat Indonesia pada masa Bung Karno ini, dikenal sebagai penulis produktif buku serial diskusi tasawuf modern. Di antara buku-bukunya adalah, Pusaran Energi Ka’bah, Ternyata Akhirat Tidak Kekal, Untuk Apa Berpuasa, Menyelam ke Samudera Jiwa dan Ruh, Bersatu dengan Allah dan masih banyak lagi. Kegemaran terhadap tasawuf, selain dipengaruhi sosok ayahandanya juga karena pergaulannya dengan beberapa intelektual Islam modern seperti Prof Ahmad Baiquni dan Ir Sahirul Alim M Sc, semasa kuliah di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Januari lalu, kepada penulis yang sedang menyelesaikan buku berjudul Bersyahadah Dalam Rahim ini, saya mewawancarainya seputar fenomena spiritualisme yang makin digandrungi masyarakat modern saat ini. Berikut petikannya:


Seiring meningkatnya popularitas spiritualisme, ada fenomena tentang seorang spiritualis tapi tidak religius. Bagaimana pendapat anda?

Pertama, spiritual itu tergantung bagaimana kita melihat. Sama dengan agama dan Tuhan, tergantung siapa yang melihat. Bisa jadi antara saya dan anda berbeda. Begitu pula dengan spiritual: kata yang sama, tapi setiap orang bisa mendefinisikannya secara berbeda-beda. Tapi inti spiritual adalah sebuah upaya untuk masuk ke dalam jiwa kita. Sebagai manusia, dalam diri kita terdiri dua hal, fisikal juga spiritual.
Tiap agama punya spiritualism, bahkan orang-orang dinamisme dan animisme juga punya. Tapi dalam Islam saya kira berbeda dan menunjukkan kualitas tertentu yang jauh dari yang lainnya. Jadi sekedar definisi secara umum, yang monggo saja.
Kedua, kita sebagai seorang muslim memiliki begitu banya kaidah-kadaih untuk membangunkan spiritual kita. Tapi kunci utamnya adalah menghilangkan ego kita sebagai manusia dan kemudian memunculkan sifat-sifat ketuhanan dalam pikiran, hati dan keseluruhan hidup kita, mengarah pada tauhid. Ini merupakan tingkat spiritualitas yang sangat tinggi.
Dalam Islam, seluruh ajaran Rasulullah merupakan proses spiritualitas kita, tak kecuali rukun Islam. Dan syahadah merupakan pintu masuk spiritualitas seorang muslim.
Saat seseorang sudah mengorientasikan hidupnya dan kepentingannya hanya kepada Allah (laa ilaha illa Allah), sesungguhnya dia sudah mematok sebuah spiritualitas yang tertinggi di seluruh alam semesta ini, dan mengakui Muhammad sebagai pembawa ajaran spiritualitas tersebut.
Jadi, kalau kita kupas spiritualias Islam itu sangat luas dan dalam. Buktinya sejak berada di dalam rahim, kita ini sudah bersyahadah. Kata Allah dalam surah al A’raf ayat 172, ketika Allah mengeluarkan anak-anak Adam dari tulang sulbinya (masih berbentuk ovum dan sperma), lalu dipertemukan di dalam rahim, jiwa itu sudah terbentuk dan kemudian bersyahadah. Saat itu Allah bertanya, alastu birobbikum? (bukankah aku ini Tuhanmu?), mereka menjwab, bala syahidna (ya kami bersaksi bahwa Engkau Tuhanku). Dari sini, bisa diambil kesimpulan bahwa secara fitrah, manusia itu sudah mengarah kepada spiritualitas. Kemudian saat dilahirkan di dunia, dia (jiwa) diminta bersyahadah lagi secara syariah (teori), dan selanjutnya syahadah itu didefinisikan, dipelajari, difahami dan dilaksanakan.
Laa ilaha illa Allah itu bukan hanya teori, tapi juga harus diamalkan, mulai dari bangun tidur sampai tidur kembali. Bagiamana dia makan pagi ingat Allah, bekerja ingat Allah dan seterusnya. Bila ini bisa dilakukan, maka syahadah manusia akan mencapai tahap bahagia bersyahadah dalam seluruh amal perbuatannya, karya-karyanya. Kalau diteruskan lagi, maka akan sampai pada puncaknya, yaitu berserah diri. Kesaksian yang sesungguhnya.
Dari sini, ternyata seluruh ibadah yang dibawa Rosulullah, baik dzikir, sholat dan seterusnya, merupakan proses spiritualisme yang akan membawa seorang muslim menuju puncak spiritualitas Islam.

Dalam mencari kebahagian, begitu ragam jalannya. Ada orang yang tak beragama, bahkan atheis, mengaku bisa mencapai kebahagiaan. Ada pula yang melalui training- training instan, dan ada juga yang melalui pendakian yang panjang dan konsisten. Nah adakah titik pembeda pengalaman spiritual di antara mereka?

Tiap orang memang bisa mengalami proses-proses spiritual, termasuk orang yang mengaku tidak beragama semisal melalui semedi dan meditasi. Mereka bisa mengalami relaksasi. Tapi ada perbedaan yang sangat mendasar pada tingkatannya. Antara ketenangan satu dengan ketenangan lainnya bisa berbeda. Begitu juga dengan kebahagiaan satu dengan kebahagiaan lainnya. Ini semua tergantung pada siapa kita menggantungkan proses ketenangan dan kebahagiaan tersebut. Anda diam-diam begini sambil mendengarkan musik klasik, atau musik yang tenang dan tentram, anda bisa dibawa menuju gelombang otak alfa yang bisa memunculkan relaksasi. Atau anda ikut pengobatan relaksasi dengan aromaterapi, anda juga akan mengalami ketenangan. Karena itu, hal semacam ini bisa juga disebut dengan spiritualism.
Tapi kalau kita bandingkan, antara menggantungkan proses spiritualism itu kepada benda dengan kepada Dzat yang tak berhingga (Allah), maka tingkat ketenangan, ketentraman dan kebahagiaannya akan sangat berbeda.
Tingkat tersebut bisa dipahami dari gambaran surga yang bertingkat-tingkat. Ini menunjukkan bahwa ada fase-fase atau kualitas-kualitas, di mana di antara manusia memiliki kualitas spiritual yang berbeda-beda. Jangankan antara muslim dengan non muslim, antar sesama muslim sendiri ada kualitas yang berbeda-beda. Bahkan definisi tentang Tuhan antara saya dan anda bisa berbeda, tergantung sejauh mana kenalnya kita dengan Allah. Dalam Al Qur’an disebutkan mereka belum mengagungkan Allah dengan semestinya. Mereka belum kenal Allah dengan sesungguhnya. Jadi pendekatan kepada Allah untuk meningkatkan kualitas jiwa kita, itu perjalanan yang tak berhingga.
Nah di sini, monggo saja setiap orang meningkatkan kualitas dirinya masing-masing. Tapi pendekatan apa yang dilakukannya? Bila hanya sesuatu yang sederhana, ya sampai di situ saja. Coba bandingkan secara fair seperti yang diajarkan dalam Islam, yang memiliki beberapa pendekatan, yaitu syari’at, tarikat, hakikat dan makrifat, yang kualitasnya berbeda-beda.

Bagaimana bisa melakukan pendekatan spiritual yang tak berhingga tersebut?

Secara utuh, saya melihat bahwa orang itu akan mengalami kualitas jiwa yang tak berhingga apabila dia berusaha meniadakan dirinya, yang dalam syahadah, sejak awal sudah diajarkan laa ilaha illa Allah. Ini sesungguhnya makna yang sangat luar biasa, tergantung siapa yang membahas dan mendalaminya. Semua Nabi dan Rasul, misinya adalah menegakkan kalimat tauhid. Tapi demikian, laa ilaha illa Allah antara tiap muslim bisa berbeda kualitasnya. Tergantung sejauh mana peniadaan diri (ego) kita di hadapan Allah dan membesarkanNya dalam skala tak berhingga. Itulah yang akan memunculkan kualitas yang berbeda.
Jadi titik pembeda antara pelbagai macam spiritualitas yang ada saat ini adalah, sejauh mana meniadakan diri di hadapan Allah tersebut. Nah saat kita bisa meniadakan diri kita di hadapan Allah, mendadak kita bisa merasa bersatu di dalam kebesaran Dzat Allah tersebut. Ini yang saya jelaskan dalam buku saya, Bersatu dengan Allah. Di situlah tempat kebahagiaan yang luar biasa dan tidak berhingga serta tak bisa digambarkan dalam kata-kata lagi, yang dalam Al Qur’an dikatakan bahwa orang yang dekat dengan Allah itu tidak punya rasa takut, khawatir dan tidak gelisah, kecuali tentram. Tapi ingat, tentram antara satu orang dengan lainnya bisa berbeda.
Tingkatan manusia dalam Al Qur’an itu ada tiga; Iman, Taqwa dan Islam. Ya ayuha alladzina amanuu ittaqullaha haqqo tugotih wala tamutunna illa wa antum muslimuun. (Wahai orang yang beriman, taqwalah dengan sekuat-kuatnya dan sebenar-benarnya dan jangan mati kecuali dalam keadaan berserah diri). Di sini gambaran kualitasnya terlihat. Iman itu sebatas gambaran pemahaman keilmuan sampai yakin. Disuruh naik lagi dengan taqwa dengan usaha yang sungguh-sungguh. Itu tidak gampang. Ada proses panjang untuk meluruskan seluruh ibadah yang kita jalankan. Nah bila ini bisa dilalui, buahnya adalah berserah diri kepada Allah. Dan berserah diri ini ada contohnya, yaitu Nabi Ibrahim saat disuruh mengorbankan putranya yang begitu dicintainya. Ini merupakan contoh tertinggi.
Ukuran seorang spiritualis itu digambarkan Al Qur’an, yakni puncak misi seorang muslim adalah rahmatan lil ‘alamiin. Itu tanda-tanda yang bisa diamati. Makanya seorang Muhammad diutus untuk rahmatan lil ‘alamiin (wamaa arsalna muhammad illa lilrahmatan ‘alamiin). Seorang muslim harus bermanfaat seluas-luasnya bagi siapa saja, tidak terbatas pada muslim, mukmin dan muttaqiin saja. Tapi seluruh umat manusia dan sekalian alam. Jadi ukurannya di sini.

Tapi ada juga kan yang mencintai Tuhan tapi enggan hidup sosial, alias nyepi saja. Ini bagaimana?

Wah itu eksklusif, itu tidak benar. Kata Allah, ke mana pun kamu menghadap, kamu berhadapan dengan Allah. Walillahi al masyriqu wal maghrib. Kita melihat matahari terbit, kita berhadapan dengan Allah. Kita melihat pohon, semut, binatang, air dan semuanya kita melihat Allah. Nah bila sudah demikian, maka mencintai Allah itu tidak eksklusif, tapi malah inklusif. Karena kita melihat kehadiran Allah itu di seluruh benda, peristiwa dan semuanya. Jadi salah besar bila ada yang mengatakan bahwa menyatu dengan Allah, itu menjadi eksklusif! Uzlah atau mengasingkan diri, seakan akan hidup ini hanya dirinya dengan Allah, itu tidak benar. Karena misi manusia diciptakan adalah untuk menjadi rahmatan lil ‘alamiin. Justru dengan memberikan rahmat kepada alam, kita sedang berproses menjadikan sifat-sifat kita seperti Allah yang tidak pilih kasih dan mencintai semua makhluk.*

Adib Minanurrachim