Kamis, 27 Desember 2007
TUHAN TERTAWA, HAMBA BAHAGIA
"Jika Tuhanmu tertawa kepada hamba, maka tidak ada perhitungan atasnya." (Hadist riwayat Ibnu Zanjuwih dari Na'im bin Hammam al Ghafthani)
APA TUJUAN hidup manusia di dunia? Tak bisa disangkal, pertanyaan ini acapkali lewat begitu saja dalam benak kita. Ada beberapa sebab. Ada yang melewatkannya karena sudah memperoleh jawaban. Ada juga yang melewatkannya karena tak tahu jawabannya. Tapi terlepas memperoleh jawaban atau belum, tak sedikit dari manusia yang mengatakan bahwa tujuan hidup di dunia adalah harta, takhta dan wanita. Tapi cukupkah ketiga tujuan itu? Bahagiakah manusia setelah memperolehnya?
Fakta membuktikan, tak sedikit orang kaya yang masih mengalami kegelisahan ketika ia sudah memiliki harta, takhta dan wanita. Lantas... apa sebenarnya tujuan manusia?
Ada pendapat yang mengatakan bahwa tujuan hidup manusia ada empat: pertama, memperoleh prestasi/kekayaan; kedua, cinta kasih; ketiga, spiritulisme; dan keempat, meninggalkan sesuatu yang berharga bagi generasi sesudahnya.
Tujuan pertama dan kedua adalah tujuan yang dicapai dengan perhitungan untung rugi. Kita tidak mungkin membeli atau menjual sesuatu yang tidak menguntungkan kita. Begitupula dengan cinta kasih, kita tak mungkin terus-menerus mencintai seseorang bila ia tidak membalas cinta kita. Ini semua karena tolak ukur kita adalah kebutuhan jasmani. Bukan kebutuhan ruhani.
Sementara tujuan ketiga dan keempat lebih bersifat ruhani. Artinya kita melakukan sesuatu bukan untuk memperoleh keuntungan materiil dan atau sanjungan serta pujian dari orang lain, kecuali semata-mata karena ingin mendapatkan ridha Allah SWT. Sementara di antara hamba yang diridhai Allah adalah hamba yang syahid. Ini seperti hadist Nabi Muhammad SAW, “jika Tuhanmu ‘tertawa’ kepada seorang hamba maka tidak ada perhitungan padanya.”
Hadist itu bercerita tentang belas kasih Allah atas hambanya karena hambanya benar-benar ikhlas berjuang di jalanNya. Hadist ini turun ketika seorang laki-laki datang kepada Nabi dan bertanya: “Ya Rasulullah, syuhada mana yang paling utama?” Jawab Nabi: “Syuhada yang diketemukan pada barisan yang pertama, mereka tidak menolehkan mukanya sampai mereka terbunuh. Mereka itulah yang akan menempati kamar surga yang teratas dengan ridha Tuhan.”
Dari Hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu Zanjuwaih dari Naim bin Hamam Al Ghathfani di atas, kita bisa mengambil pemahaman bahwa untuk menjadi seorang hamba yang syuhada atau yang diridhai Allah kita harus terus-menerus berusaha menjaga konsistensi kita dalam menjalankan segala perintah dan menjauhi segala laranganNya. Tentu ini bukan hal yang mudah. Tapi bila cinta menjadi dasar ibadah kita kepada Allah, tak ada sesuatu yang tidak bisa kita laksanakan demi ridha Allah. Semoga.
Adib Minanurrachim
Dimuat di SC Magazine Vol III
SEHAT LEWAT TAHAJUD
BUKAN rahasia lagi bila kesehatan begitu mahal harganya. Apalagi saat ini, di mana perekonomian bangsa Indonesia masih belum membaik. Seorang pengindap penyakit jantung misalnya, akan mengeluarkan biaya puluhan juta rupiah untuk bisa kembali pada kondisi sehat. Itu pun bila masih stadium rendah.
Mengingat betapa mahalnya kondisi sehat, Dr. Moh Shaleh—pengasuh Klinik Terapi Tahajud dan Trainer Salat Khusyuk—membagi pengalaman dan hasil penelitiannya dalam sebuah buku tentang salat tahajud yang bisa menyembuhkan berbagai penyakit, yaitu Terapi Salat Tahajud; Menyembuhkan Berbagai Penyakit. Dalam buku yang sudah terjual ribuan copy ini, Dr Shaleh mendiskripsikan secara ilmiah pengaruh salat tahajud terhadap kesehatan tubuh. Menurutnya, salat tahajud bisa menimbulkan perubahan pada diri kita, yaitu hormon kortisol tidak terlepas dari tubuh melampaui batas toleransi tubuh.
Bagi sebagian orang yang terbiasa berkutat dalam dunia ilmiah tanpa pernah mendalami dunia spiritual, ungkapan Dr Shaleh di atas terasa janggal. Karena sejauh ini, dunia kedokteran adalah dunia ilmiah-empirik. Sehingga mustahil bila tahajud bisa menyembuhkan penyakit.
Tapi demikian, berangkat dari penelitian yang ia lakukan untuk tugas disertasinya di Fakultas Kedokteran Unair Surabaya, Dr. Shaleh berhasil menelaah, meriset dan mengungkap sisi ilmiah dari sebuah keyakinan tentang pengaruh salat tahajud terhadap kesehatan tubuh. Karena menurutnya—dan diyakini beberapa ahli kedokteran lainnya—awal mula segala penyakit itu akibat stress yang banyak melanda orang-orang modern. Sehingga kortisol terlepas dari tubuh melampaui batas toleransi tubuh. Kortisol sendiri adalah hormon yang berfungsi mempertahankan integritas tubuh, sifat responsif pembuluh darah dan volume cairan tubuh. Kelebihan kortisol dapat menyebabkan hipertensi melalui stimulasi renin pada sistem renin angiotensin.
Selain mengurai tentang pengaruh stress terhadap kortisol, pria kelahiran Kediri 47 tahun lalu ini juga membuktikan bahwa keikhlasan seseorang yang merupakan syarat mutlak dalam beribadah (baca; tahajud), bisa diukur secara ilmiah. “Sikap psikis dari konsep religius tentang ikhlas-tidaknya sebuah tindakan memiliki hubungan dan pengaruh yang amat kental dengan proses peningkatan kortisol tubuh. Ini semua bisa diuji dan dibuktikan secara empiris lewat mekanisme kerja penelitian laboratorium paramedis,” katanya dalam wawancara dengan SC via telephon.
Lebih jauh dia mengatakan bahwa realitas fisio-biologis dan psiko-biologis berhasil diintegrasikan dan membuktikan bahwa: pertama, terdapat perbedaan respons ketahanan tubuh imunologik kelompok pengamal salat tahajud antara Post I-Pre dan Post 2-Pre. Kedua, salat tahajud yang dilakukan secara tepat, khusyuk, ikhlas dan kontinu dapat menurunkan sekresi hormon kortisol. Ketiga, salat tahajud yang dilakukan secara tepat, khusyuk, ikhlas dan kontinu dapat meningkatkan perubahan respons ketahanan tubuh imunologik. Keempat, kortisol yang oleh Carlson, penulis buku Psyscology of Behavior, dan ahli lain digunakan sebagai tolak ukur stres dan homeostasis tubuh, dalam penelitian ini kortisol juga dapat dipakai sebagai indikator ikhlas. (h: 186-187)
Berangkat dari hal di atas, tak salah bila Ust Abu Sangkan, trainer dan penulis buku Pelatihan Salat Khusyuk mengatakan bahwa Dr. Moh. Shaleh adalah salah satu tokoh yang sudah lama ditunggu oleh dunia Islam. Dengan ketekunannya menelaah hikmah salat tahajud dari ilmu kedokteran, ia telah melaksanakan apa yang diinginkan Al-Qur’an, yaitu bacalah (iqra), lalu simaklah (wa-sma’u), lalu pikirkanlah (afala tatafakkarun), lalu perhatikanlah (afala tubshirun) lalu teliti/risetlah (afala tandhurun), dan ungkapkanlah (afala tatadabbarun). “Langkah-langkah demiikianlah yang dilakukan oleh Dr. Moh Shaleh dengan melakukan penelitian ilmiah terhadap salat tahajud,” kata Abu Sangkan kepada SC.
Selain itu, Abu Sangkan juga menyatakan bahwa apa yang telah dilakukan oleh Dr. Shaleh dalam bukunya tersebut, merupakan awal dari bangkitnya peradaban Islam yang telah lama terbenam oleh peradaban Eropa.
Akhirnya, buku yang telah dicetak sebanyak empat belas kali ini merupakan buah karya yang turut menyumbang khazanah keilmuan kedokteran dewasa ini. Lebih jauh, buku yang terbagi menjadi 3 sub pembahasan (Anatomi Sistem Kekebalan Tubuh Imunologik; Psikoneuroimonologi Salat Tahajud; dan Pengaruh Salat Tahajud terhadap Peningkatan Respons Ketahanan Tubuh) ini juga berhasil menjawab secara ilmiah-empirik kebenaran Hadist yang diriwayatkan HR turmudzi, yaitu: “salat tahajud dapat menghapus dosa, mendatangkan ketenangan dan menghindarkan diri dari penyakit.”
Adib Minanurrachim
Dimuat di SC Magazine Vol III
Mengingat betapa mahalnya kondisi sehat, Dr. Moh Shaleh—pengasuh Klinik Terapi Tahajud dan Trainer Salat Khusyuk—membagi pengalaman dan hasil penelitiannya dalam sebuah buku tentang salat tahajud yang bisa menyembuhkan berbagai penyakit, yaitu Terapi Salat Tahajud; Menyembuhkan Berbagai Penyakit. Dalam buku yang sudah terjual ribuan copy ini, Dr Shaleh mendiskripsikan secara ilmiah pengaruh salat tahajud terhadap kesehatan tubuh. Menurutnya, salat tahajud bisa menimbulkan perubahan pada diri kita, yaitu hormon kortisol tidak terlepas dari tubuh melampaui batas toleransi tubuh.
Bagi sebagian orang yang terbiasa berkutat dalam dunia ilmiah tanpa pernah mendalami dunia spiritual, ungkapan Dr Shaleh di atas terasa janggal. Karena sejauh ini, dunia kedokteran adalah dunia ilmiah-empirik. Sehingga mustahil bila tahajud bisa menyembuhkan penyakit.
Tapi demikian, berangkat dari penelitian yang ia lakukan untuk tugas disertasinya di Fakultas Kedokteran Unair Surabaya, Dr. Shaleh berhasil menelaah, meriset dan mengungkap sisi ilmiah dari sebuah keyakinan tentang pengaruh salat tahajud terhadap kesehatan tubuh. Karena menurutnya—dan diyakini beberapa ahli kedokteran lainnya—awal mula segala penyakit itu akibat stress yang banyak melanda orang-orang modern. Sehingga kortisol terlepas dari tubuh melampaui batas toleransi tubuh. Kortisol sendiri adalah hormon yang berfungsi mempertahankan integritas tubuh, sifat responsif pembuluh darah dan volume cairan tubuh. Kelebihan kortisol dapat menyebabkan hipertensi melalui stimulasi renin pada sistem renin angiotensin.
Selain mengurai tentang pengaruh stress terhadap kortisol, pria kelahiran Kediri 47 tahun lalu ini juga membuktikan bahwa keikhlasan seseorang yang merupakan syarat mutlak dalam beribadah (baca; tahajud), bisa diukur secara ilmiah. “Sikap psikis dari konsep religius tentang ikhlas-tidaknya sebuah tindakan memiliki hubungan dan pengaruh yang amat kental dengan proses peningkatan kortisol tubuh. Ini semua bisa diuji dan dibuktikan secara empiris lewat mekanisme kerja penelitian laboratorium paramedis,” katanya dalam wawancara dengan SC via telephon.
Lebih jauh dia mengatakan bahwa realitas fisio-biologis dan psiko-biologis berhasil diintegrasikan dan membuktikan bahwa: pertama, terdapat perbedaan respons ketahanan tubuh imunologik kelompok pengamal salat tahajud antara Post I-Pre dan Post 2-Pre. Kedua, salat tahajud yang dilakukan secara tepat, khusyuk, ikhlas dan kontinu dapat menurunkan sekresi hormon kortisol. Ketiga, salat tahajud yang dilakukan secara tepat, khusyuk, ikhlas dan kontinu dapat meningkatkan perubahan respons ketahanan tubuh imunologik. Keempat, kortisol yang oleh Carlson, penulis buku Psyscology of Behavior, dan ahli lain digunakan sebagai tolak ukur stres dan homeostasis tubuh, dalam penelitian ini kortisol juga dapat dipakai sebagai indikator ikhlas. (h: 186-187)
Berangkat dari hal di atas, tak salah bila Ust Abu Sangkan, trainer dan penulis buku Pelatihan Salat Khusyuk mengatakan bahwa Dr. Moh. Shaleh adalah salah satu tokoh yang sudah lama ditunggu oleh dunia Islam. Dengan ketekunannya menelaah hikmah salat tahajud dari ilmu kedokteran, ia telah melaksanakan apa yang diinginkan Al-Qur’an, yaitu bacalah (iqra), lalu simaklah (wa-sma’u), lalu pikirkanlah (afala tatafakkarun), lalu perhatikanlah (afala tubshirun) lalu teliti/risetlah (afala tandhurun), dan ungkapkanlah (afala tatadabbarun). “Langkah-langkah demiikianlah yang dilakukan oleh Dr. Moh Shaleh dengan melakukan penelitian ilmiah terhadap salat tahajud,” kata Abu Sangkan kepada SC.
Selain itu, Abu Sangkan juga menyatakan bahwa apa yang telah dilakukan oleh Dr. Shaleh dalam bukunya tersebut, merupakan awal dari bangkitnya peradaban Islam yang telah lama terbenam oleh peradaban Eropa.
Akhirnya, buku yang telah dicetak sebanyak empat belas kali ini merupakan buah karya yang turut menyumbang khazanah keilmuan kedokteran dewasa ini. Lebih jauh, buku yang terbagi menjadi 3 sub pembahasan (Anatomi Sistem Kekebalan Tubuh Imunologik; Psikoneuroimonologi Salat Tahajud; dan Pengaruh Salat Tahajud terhadap Peningkatan Respons Ketahanan Tubuh) ini juga berhasil menjawab secara ilmiah-empirik kebenaran Hadist yang diriwayatkan HR turmudzi, yaitu: “salat tahajud dapat menghapus dosa, mendatangkan ketenangan dan menghindarkan diri dari penyakit.”
Adib Minanurrachim
Dimuat di SC Magazine Vol III
“SAYA INGIN LEBIH BERMANFAAT”
KAMIS sore, suasana Pondok Pesantren At Taibin ramai. Beberapa santri usia 13 – 17 tahun sedang bermain bola di depan kantor pesantren. “Hai, oper sini. Ya. Bagus... gooll,” teriak para santri sambil berlari-lari merayakan gol. Sementara seorang pengurus pesantren, Faisal, menyambut kru SC yang baru datang. Setelah mengetahui maksud kedatangan SC, Faisal mengajak mengelilingi pesantren yang didirikan oleh HM. Ramdhan Effendi alias Anton Medan.
Pesantren At Taibin tidak seperti pesantren umumnya. Santri tidak diajarkan membaca kitab kuning semisal Fathul qorib dan Fathul Mu’in. “Di sini hanya mendalami Al Qur’an dan al Hadist. Sementara kurikulumnya mengacu pada Diknas,” kata Faisal.
Pesantren At Taibin didirikan pada tahun 2004 dan terletak di Jl Raya Kampung Sawah Rt 02/08 Kp Bulak Rata Kel. Pondok Rajeg Cibinong Bogor Jawa Barat. Di Pesantren yang bangunannya berarsitektur Cina ini diajarkan empat bahasa, yaitu Arab, Inggris, Mandarin dan Jepang.
Arsitektur Cina juga terlihat pada bangunan Masjid Jami’ Tan Hok Liang. Modelnya diambil dari istana Dinasti Ching. Masjid ini terdiri dari empat lantai. Lantai bawah digunakan sebagai kantor pesantren. Sementara lantai lainnya digunakan untuk ibadah. Di sisi ujung setiap genteng terdapat lafaz Allah dalam bahasa Arab. Di bawahnya ada goresan huruf Cina, "wang", yang berarti "raja". Sementara di setiap sudut atap terdapat naga. Adapun bagian puncaknya dihiasi lafaz Allah. Di bawahnya terdapat semacam gelangan lonceng, yang terinspirasi dari hiasan kepala putri-putri Shin Chiang, nama provinsi di Cina. Di bawah lonceng-lonceng ini terdapat empat patung burung elang dengan sayap mengepak. Uniknya, di samping masjid itu terdapat sebuah makam yang dinaungi cungkup.
Merasa penasaran dengan beberapa simbol yang tak berhasil diterjemahkan, SC menanyakannya kepada Faisal. Tapi Faisal menganjurkan agar menanyakan langsung kepada sang arsitek, yaitu Anton Medan yang saat itu ada dibalai usaha. Setelah menerima alamat, SC bergegas menuju tempat tersebut. Ketika sampai, Anton Medan sedang sibuk memberikan pengarahan kepada beberapa laki-laki yang membuat sablon. Selang beberapa menit, Anton Medan datang. Meski umurnya sudah mencapai 50 tahun, tapi badannya masih tegap dan suaranya tegas. Berikut petikan wawancaranya:
Bagaimana latar belakang mendirikan pesantren?
Mulanya pesantren itu diperuntukkan para eks napi. Tapi setelah mengevaluasi kondisi sosial masyarakat yang rusak, saya tergerak untuk turut menyelesaikan masalah tersebut. Akhirnya saya kembali pada habitat saya, membina anak-anak eks narapidana. Seiring niat itu, rezeki saya terus mengalir dan agar barokah saya membuka pesantren umum. Saya ingin mendidik mental bangsa melalu generasi muda.
Memang, mulanya saya bimbang. Bila saya buka pesantren, kan tidak logis. Karena saya bukan kiai dan pendidikan terakhir hanya SR, itu pun hanya 7 bulan. Tapi saya juga berpikir, Rosulullah itu bagaimana sih sosoknya, kok beliau mampu merubah bangsa biadab menjadi beradab? Dari sinilah saya termotivasi untuk turut menjawab persoalan bangsa ini ke depan. Kita butuh masyarakat yang berakidah kuat dan berakhlakul karimah. Untuk itu, saya menaruh seorang direktur yang sudah pengalaman dan kompeten tentang pesantren. Bila ada kesulitan kurikulum yang ide dasarnya dari saya, mereka bisa berkoordinasi dengan saya.
Anda mendirikan pesantren yang bagaimana?
Saya mendirikan pesantren yang berbakti wirausaha. Kata ini bukan berarti berdagang saja. Tapi lebih pembangunan ruh atau mentalitas seseorang, agar menjadi pribadi yang mandiri. Konsep kewirausahaan ini dikerjakan dalam 21 hari. Ada sarjana hinga doktor. Mereka menampung seluruh pemikiran saya hingga menjadi sebuah konsep kurikulum berbasis kewirausahaan. Biayanya 100 juta lebih.
Dari kurikulum itu, selama dua tahun kita harus mampu menanamkan tauhid, akhlak dan karakter pada peserta didik. Out put yang diharapkan adalah terbangunnya manusia yang kaya inisiatif, kreatif dan inovatif, agar menjadi manusia yang produktif di tengah masyarakat.
Sejauh ini ada halangan?
Halangannya lebih pada sulitnya mencari guru yang tak sekedar pandai mengajar, tapi juga mendidik. Misalkan pada tahun pertama, sudah sering sekali gonta-ganti guru, karena orientasinya tak jelas. Orientasi mereka hanya sebatas karyawan atau pegawai negeri. Jadi nilai-nilai perjuangannya tidak jelas. Saya butuh tak sekedar guru, tapi juga pendidik. Kalau sekedar guru dan mengajar, apa susahnya? Ada buku lalu tinggal ditransfer.
Sementara itu, bila saya membina eks napi di balai usaha, ini adalah terapi. Bicara kemampuan, saya bisa. Pengalaman ada, juga kemampuan. Karena bila penjara itu disebut kuliah misalnya, maka saya adalah profesornya. Saya kenal sekali seluk-beluk penjara dan para penghuninya. Karena lebih dari 18 tahun saya dipenjara.
Kabarnya anda yang menjadi arsitek pembangunan pesantren?
Ya. Pesantren itu dibangun pada 2004. Saya yang punya uang, sekaligus menjadi mandor dan juga arsiteknya. Adapun tukang dan kulinya adalah teman-teman eks napi.
Pada bangunan masjid, ada beberapa simbol yang tidak dimengerti orang lain. Pertama, di atas masjid itu kan ada gelangan lonceng, itu topi Putri Shin Chiang. Shin Chiang adalah nama propinsi di Cina di mana Islam disebarkan di sana, dan putri-putrinya biasa mengenakan topi seperti itu. Kedua, ada burung di atas berjumlah 4 ekor menghadap empat penjuru. Itu burung rajawali. Artinya ummat Islam itu ketika melihat kondisi yang ada, hendaknya matanya setajam mata rajawali. Jangan seperti lima burung kecil yang menunduk dan berada di sudut itu. Ketiga, di atas itu juga ada naga, ini adalah lambang kesuksesan Cina, dan kebetulan nama saya adalah Tan Kok Liang. Tan itu Marga, Kok Itu negara dan Liang Itu naga, sukses.
Terakhir, kenapa ada makam saya di sampingnya? Manusia yang beradab itu harus sadar bahwa ia akan mati. Sebelum mati, apa yang harus disiapkan? Melihatnya, mungkin orang akan mengatakan Anton Medan sekarang sudah bertaubat. Alhamdulillah. Tapi bila ada anggapan, saya masuk Islam karena bercita-cita masuk surga, maka saya katakan, surga bukanlah impian saya dan neraka juga bukan sesuatu yang saya takuti. Ketika saya syahadat, yang ada dalam benak saya adalah, mampukah saya bermanfaat bagi orang lain? Surga dan neraka adalah konswekensi.
Ini semua ekspresi saya yang hanya 7 bulan di SR. Dalam hidup ini saya punya prinsip, bila orang lain bisa kenapa saya tidak? Andai pun gagal, itu pelajaran bagi saya. Sementara pedoman saya jelas: al Qur’an yang membebaskan diskriminasi dan kebodohan.
Apa obsesi anda yang belum tercapai?
Saya ingin mendirikan partai eks napi. Karena eks napi itu pintar-pintar, hanya saja mereka tidak memperoleh kesempatan belajar dan akses kerja tertutup.
Adib Minanurrachim
Dimuat di SC Magazine Vol III
Pesantren At Taibin tidak seperti pesantren umumnya. Santri tidak diajarkan membaca kitab kuning semisal Fathul qorib dan Fathul Mu’in. “Di sini hanya mendalami Al Qur’an dan al Hadist. Sementara kurikulumnya mengacu pada Diknas,” kata Faisal.
Pesantren At Taibin didirikan pada tahun 2004 dan terletak di Jl Raya Kampung Sawah Rt 02/08 Kp Bulak Rata Kel. Pondok Rajeg Cibinong Bogor Jawa Barat. Di Pesantren yang bangunannya berarsitektur Cina ini diajarkan empat bahasa, yaitu Arab, Inggris, Mandarin dan Jepang.
Arsitektur Cina juga terlihat pada bangunan Masjid Jami’ Tan Hok Liang. Modelnya diambil dari istana Dinasti Ching. Masjid ini terdiri dari empat lantai. Lantai bawah digunakan sebagai kantor pesantren. Sementara lantai lainnya digunakan untuk ibadah. Di sisi ujung setiap genteng terdapat lafaz Allah dalam bahasa Arab. Di bawahnya ada goresan huruf Cina, "wang", yang berarti "raja". Sementara di setiap sudut atap terdapat naga. Adapun bagian puncaknya dihiasi lafaz Allah. Di bawahnya terdapat semacam gelangan lonceng, yang terinspirasi dari hiasan kepala putri-putri Shin Chiang, nama provinsi di Cina. Di bawah lonceng-lonceng ini terdapat empat patung burung elang dengan sayap mengepak. Uniknya, di samping masjid itu terdapat sebuah makam yang dinaungi cungkup.
Merasa penasaran dengan beberapa simbol yang tak berhasil diterjemahkan, SC menanyakannya kepada Faisal. Tapi Faisal menganjurkan agar menanyakan langsung kepada sang arsitek, yaitu Anton Medan yang saat itu ada dibalai usaha. Setelah menerima alamat, SC bergegas menuju tempat tersebut. Ketika sampai, Anton Medan sedang sibuk memberikan pengarahan kepada beberapa laki-laki yang membuat sablon. Selang beberapa menit, Anton Medan datang. Meski umurnya sudah mencapai 50 tahun, tapi badannya masih tegap dan suaranya tegas. Berikut petikan wawancaranya:
Bagaimana latar belakang mendirikan pesantren?
Mulanya pesantren itu diperuntukkan para eks napi. Tapi setelah mengevaluasi kondisi sosial masyarakat yang rusak, saya tergerak untuk turut menyelesaikan masalah tersebut. Akhirnya saya kembali pada habitat saya, membina anak-anak eks narapidana. Seiring niat itu, rezeki saya terus mengalir dan agar barokah saya membuka pesantren umum. Saya ingin mendidik mental bangsa melalu generasi muda.
Memang, mulanya saya bimbang. Bila saya buka pesantren, kan tidak logis. Karena saya bukan kiai dan pendidikan terakhir hanya SR, itu pun hanya 7 bulan. Tapi saya juga berpikir, Rosulullah itu bagaimana sih sosoknya, kok beliau mampu merubah bangsa biadab menjadi beradab? Dari sinilah saya termotivasi untuk turut menjawab persoalan bangsa ini ke depan. Kita butuh masyarakat yang berakidah kuat dan berakhlakul karimah. Untuk itu, saya menaruh seorang direktur yang sudah pengalaman dan kompeten tentang pesantren. Bila ada kesulitan kurikulum yang ide dasarnya dari saya, mereka bisa berkoordinasi dengan saya.
Anda mendirikan pesantren yang bagaimana?
Saya mendirikan pesantren yang berbakti wirausaha. Kata ini bukan berarti berdagang saja. Tapi lebih pembangunan ruh atau mentalitas seseorang, agar menjadi pribadi yang mandiri. Konsep kewirausahaan ini dikerjakan dalam 21 hari. Ada sarjana hinga doktor. Mereka menampung seluruh pemikiran saya hingga menjadi sebuah konsep kurikulum berbasis kewirausahaan. Biayanya 100 juta lebih.
Dari kurikulum itu, selama dua tahun kita harus mampu menanamkan tauhid, akhlak dan karakter pada peserta didik. Out put yang diharapkan adalah terbangunnya manusia yang kaya inisiatif, kreatif dan inovatif, agar menjadi manusia yang produktif di tengah masyarakat.
Sejauh ini ada halangan?
Halangannya lebih pada sulitnya mencari guru yang tak sekedar pandai mengajar, tapi juga mendidik. Misalkan pada tahun pertama, sudah sering sekali gonta-ganti guru, karena orientasinya tak jelas. Orientasi mereka hanya sebatas karyawan atau pegawai negeri. Jadi nilai-nilai perjuangannya tidak jelas. Saya butuh tak sekedar guru, tapi juga pendidik. Kalau sekedar guru dan mengajar, apa susahnya? Ada buku lalu tinggal ditransfer.
Sementara itu, bila saya membina eks napi di balai usaha, ini adalah terapi. Bicara kemampuan, saya bisa. Pengalaman ada, juga kemampuan. Karena bila penjara itu disebut kuliah misalnya, maka saya adalah profesornya. Saya kenal sekali seluk-beluk penjara dan para penghuninya. Karena lebih dari 18 tahun saya dipenjara.
Kabarnya anda yang menjadi arsitek pembangunan pesantren?
Ya. Pesantren itu dibangun pada 2004. Saya yang punya uang, sekaligus menjadi mandor dan juga arsiteknya. Adapun tukang dan kulinya adalah teman-teman eks napi.
Pada bangunan masjid, ada beberapa simbol yang tidak dimengerti orang lain. Pertama, di atas masjid itu kan ada gelangan lonceng, itu topi Putri Shin Chiang. Shin Chiang adalah nama propinsi di Cina di mana Islam disebarkan di sana, dan putri-putrinya biasa mengenakan topi seperti itu. Kedua, ada burung di atas berjumlah 4 ekor menghadap empat penjuru. Itu burung rajawali. Artinya ummat Islam itu ketika melihat kondisi yang ada, hendaknya matanya setajam mata rajawali. Jangan seperti lima burung kecil yang menunduk dan berada di sudut itu. Ketiga, di atas itu juga ada naga, ini adalah lambang kesuksesan Cina, dan kebetulan nama saya adalah Tan Kok Liang. Tan itu Marga, Kok Itu negara dan Liang Itu naga, sukses.
Terakhir, kenapa ada makam saya di sampingnya? Manusia yang beradab itu harus sadar bahwa ia akan mati. Sebelum mati, apa yang harus disiapkan? Melihatnya, mungkin orang akan mengatakan Anton Medan sekarang sudah bertaubat. Alhamdulillah. Tapi bila ada anggapan, saya masuk Islam karena bercita-cita masuk surga, maka saya katakan, surga bukanlah impian saya dan neraka juga bukan sesuatu yang saya takuti. Ketika saya syahadat, yang ada dalam benak saya adalah, mampukah saya bermanfaat bagi orang lain? Surga dan neraka adalah konswekensi.
Ini semua ekspresi saya yang hanya 7 bulan di SR. Dalam hidup ini saya punya prinsip, bila orang lain bisa kenapa saya tidak? Andai pun gagal, itu pelajaran bagi saya. Sementara pedoman saya jelas: al Qur’an yang membebaskan diskriminasi dan kebodohan.
Apa obsesi anda yang belum tercapai?
Saya ingin mendirikan partai eks napi. Karena eks napi itu pintar-pintar, hanya saja mereka tidak memperoleh kesempatan belajar dan akses kerja tertutup.
Adib Minanurrachim
Dimuat di SC Magazine Vol III
DIBENCI, DIHUJAT, DICINTAI MASYARAKAT
Kisah mantan napi yang tercerahkan dan memperoleh tempat di hati masyarakat
TAN HOK LIANG adalah nama asli Anton Medan. Ia lahir di Tebing Tinggi, Sumatera Utara 1 Oktober 1957. Di usia 8 tahun, ia harus berhenti sekolah karena permintaan ibunya untuk membantu berjualan kue. Ia hanya mengenyam bangku Sekolah Rakyat (SR, sekarang SD) selama 7 bulan, dan belum bisa membaca dan menulis.
Menginjak usia 12 tahun, Kok Lien (panggilan kecilnya) menjadi anak terminal Tebing Tinggi, menjual jasa mencarikan penumpang bagi sopir. Kok Lien dikenal rajin. Banyak sopir terminal senang dan memanggilnya Cina Tongkol (Cintong). Tapi tak semua sopir menghargai kerja kerasnya. Suatu ketika ada seorang sopir tidak memberinya upah. Kok Lien protes. Tapi sopir itu malah marah. Terjadilah perang mulut. Tak sabar, Kok Lien mengambil sebuah balok kayu dan menghantam sekuat tenaga. Sopir itu pun tersungkur. Kok Lien lari. Tapi polisi menangkapnya.
***
TAHUN 1970 Kok Lien merantau ke Terminal Medan. Usianya baru 13 tahun. Di Medan ia bekerja sebagai pencuci bus. Seperti di terminal Tebing Tinggi, ia dikenal rajin. Dalam satu hari ia bisa membersihkan 3-5 badan bus yang berdebu.
Seolah tak putus dirundung masalah, di terminal ini uangnya dicuri. Menyadarinya Kok Lien gelagapan. Setelah dilidiki, ia menemukan pencurinya dan menegurnya. Tapi si pencuri malah marah dan memukulnya. Orang-orang berdatangan, tapi tak ada yang melerai. Di saat tersudut, Kok Lien melihat sebilah kapak bergerigi yang biasa digunakan membilah es, tergeletak tak jauh darinya. Secepatnya ia ambil dan menghunjamkannya ke wajah lawannya. Seketika lawannya roboh. Kok Lien lalu ditangkap polisi dan dipenjara selama 4 tahun di LP Tiang Listrik, Medan.
Menginjak usia 17 tahun Kok Lien bebas. Ia gembira dan segera pulang, melepas rindu kepada keluarga. Tapi sayang, sampai di rumah ibunya hanya memberi waktu 2 jam untuk melepas rindu. Ibunya malu kepada tetangga. Dengan berat hati, Kok Lien melangkah pergi.
Di tengah kegalauan, ia ingat pamannya yang ada di Jakarta. Ia ingin menjumpainya dan meminta bantuan mencari pekerjaan. Tapi sayang, ia tidak tahu alamat persisnya. “Saya tak tau alamatnya, tapi saya nekad ke Jakarta,” katanya.
Tiba di Jakarta, harapan yang ia pupuk selama perjalanan hancur berantakan. Kurang lebih 7 bulan ia mencari rumah pamannya. Tapi setelah bertemu, ternyata pamannya tidak mengakuinya sebagai kemenakan. Malah menistakannya. Begitu pun adiknya. Ia tercampakkan. Ia kecewa. Di tengah kekecewaan yang mendalam, ia bertemu kenalannya di simpang jalan yang berpenampilan parlente. Temannya baru saja menjambret. Mendengar cerita temannya, ia tertarik. Akhirnya, ia menjual celana kesayangannya demi sebuah pisau. Dengan pisau itulah ia mulai menjambret dan berhasil.
Mulai saat itu kehidupan Kok Lien berubah. Ia sudah memilih kejahatan sebagai profesi. Senjatanya tak sekedar pisau, tapi pistol. Ia pun terkenal sebagai penjahat kelas kakap dan paling dicari di Jakarta dengan nama Anton Medan!
Perjalanan hidup Anton Medan tak sekedar menjadi penjahat profesional. Ia menjadi bandar judi setelah meruntuhkan kekuasaan bandar judi besar bernama Hong Lie. Sebagai bandar judi, pendapatannya satu malam mencapai puluhan juta. Ia menikmati gaya hidup mewah. Tapi ironisnya, kekayaan itu habis pula di dunia judi. Ia frustasi, dan sebagai pelampiasannya justru bermain judi di Genting, Makau, Chistmas, Hongkong maupun Las Vegas. Ia kalah milyaran rupiah. Dalam kebangkrutan itu, ia menemukan hikmah kehidupan yang sangat mendasar. Sejak itulah ia mendalami Islam secara sungguh-sungguh, bahkan di kemudian hari dikenal sebagai da’i.
Lebih jauh, seperti yang tertulis dalam biografi Anton Medan; Pergolakan Jiwa Seorang Mantan Terpidana, buah karya S. Budhi Raharjo, selepas menetapkan pilihan Islam, ia dipercaya sebagai ketua RW di kampungnya. Sebagai abdi masyarakat, ia bekerja sunguh-sunguh. Bahkan ketika harus berhadapan dengan lurah yang diskriminatif terhadap warganya, ia bersedia melawan dan merelakan jabatan ketua RW yang ia sandang. Atas kesediaan berkorban ini, masyarakat di sekelilingnya makin simpatik padanya.
Demikianlah perjalanan hidup Anton Medan: bila dulu ia dibenci dan dihujat masyarakat, tapi sekarang ia dicintai masyarakat.*
Adib Minanurrachim
Dimuat di SC Magazine Vol III
TAN HOK LIANG adalah nama asli Anton Medan. Ia lahir di Tebing Tinggi, Sumatera Utara 1 Oktober 1957. Di usia 8 tahun, ia harus berhenti sekolah karena permintaan ibunya untuk membantu berjualan kue. Ia hanya mengenyam bangku Sekolah Rakyat (SR, sekarang SD) selama 7 bulan, dan belum bisa membaca dan menulis.
Menginjak usia 12 tahun, Kok Lien (panggilan kecilnya) menjadi anak terminal Tebing Tinggi, menjual jasa mencarikan penumpang bagi sopir. Kok Lien dikenal rajin. Banyak sopir terminal senang dan memanggilnya Cina Tongkol (Cintong). Tapi tak semua sopir menghargai kerja kerasnya. Suatu ketika ada seorang sopir tidak memberinya upah. Kok Lien protes. Tapi sopir itu malah marah. Terjadilah perang mulut. Tak sabar, Kok Lien mengambil sebuah balok kayu dan menghantam sekuat tenaga. Sopir itu pun tersungkur. Kok Lien lari. Tapi polisi menangkapnya.
***
TAHUN 1970 Kok Lien merantau ke Terminal Medan. Usianya baru 13 tahun. Di Medan ia bekerja sebagai pencuci bus. Seperti di terminal Tebing Tinggi, ia dikenal rajin. Dalam satu hari ia bisa membersihkan 3-5 badan bus yang berdebu.
Seolah tak putus dirundung masalah, di terminal ini uangnya dicuri. Menyadarinya Kok Lien gelagapan. Setelah dilidiki, ia menemukan pencurinya dan menegurnya. Tapi si pencuri malah marah dan memukulnya. Orang-orang berdatangan, tapi tak ada yang melerai. Di saat tersudut, Kok Lien melihat sebilah kapak bergerigi yang biasa digunakan membilah es, tergeletak tak jauh darinya. Secepatnya ia ambil dan menghunjamkannya ke wajah lawannya. Seketika lawannya roboh. Kok Lien lalu ditangkap polisi dan dipenjara selama 4 tahun di LP Tiang Listrik, Medan.
Menginjak usia 17 tahun Kok Lien bebas. Ia gembira dan segera pulang, melepas rindu kepada keluarga. Tapi sayang, sampai di rumah ibunya hanya memberi waktu 2 jam untuk melepas rindu. Ibunya malu kepada tetangga. Dengan berat hati, Kok Lien melangkah pergi.
Di tengah kegalauan, ia ingat pamannya yang ada di Jakarta. Ia ingin menjumpainya dan meminta bantuan mencari pekerjaan. Tapi sayang, ia tidak tahu alamat persisnya. “Saya tak tau alamatnya, tapi saya nekad ke Jakarta,” katanya.
Tiba di Jakarta, harapan yang ia pupuk selama perjalanan hancur berantakan. Kurang lebih 7 bulan ia mencari rumah pamannya. Tapi setelah bertemu, ternyata pamannya tidak mengakuinya sebagai kemenakan. Malah menistakannya. Begitu pun adiknya. Ia tercampakkan. Ia kecewa. Di tengah kekecewaan yang mendalam, ia bertemu kenalannya di simpang jalan yang berpenampilan parlente. Temannya baru saja menjambret. Mendengar cerita temannya, ia tertarik. Akhirnya, ia menjual celana kesayangannya demi sebuah pisau. Dengan pisau itulah ia mulai menjambret dan berhasil.
Mulai saat itu kehidupan Kok Lien berubah. Ia sudah memilih kejahatan sebagai profesi. Senjatanya tak sekedar pisau, tapi pistol. Ia pun terkenal sebagai penjahat kelas kakap dan paling dicari di Jakarta dengan nama Anton Medan!
Perjalanan hidup Anton Medan tak sekedar menjadi penjahat profesional. Ia menjadi bandar judi setelah meruntuhkan kekuasaan bandar judi besar bernama Hong Lie. Sebagai bandar judi, pendapatannya satu malam mencapai puluhan juta. Ia menikmati gaya hidup mewah. Tapi ironisnya, kekayaan itu habis pula di dunia judi. Ia frustasi, dan sebagai pelampiasannya justru bermain judi di Genting, Makau, Chistmas, Hongkong maupun Las Vegas. Ia kalah milyaran rupiah. Dalam kebangkrutan itu, ia menemukan hikmah kehidupan yang sangat mendasar. Sejak itulah ia mendalami Islam secara sungguh-sungguh, bahkan di kemudian hari dikenal sebagai da’i.
Lebih jauh, seperti yang tertulis dalam biografi Anton Medan; Pergolakan Jiwa Seorang Mantan Terpidana, buah karya S. Budhi Raharjo, selepas menetapkan pilihan Islam, ia dipercaya sebagai ketua RW di kampungnya. Sebagai abdi masyarakat, ia bekerja sunguh-sunguh. Bahkan ketika harus berhadapan dengan lurah yang diskriminatif terhadap warganya, ia bersedia melawan dan merelakan jabatan ketua RW yang ia sandang. Atas kesediaan berkorban ini, masyarakat di sekelilingnya makin simpatik padanya.
Demikianlah perjalanan hidup Anton Medan: bila dulu ia dibenci dan dihujat masyarakat, tapi sekarang ia dicintai masyarakat.*
Adib Minanurrachim
Dimuat di SC Magazine Vol III
SC SURABAYA: PAGUYUBAN SPIRITUAL
JUM’AT malam 3 Agustus lalu, wartawan SC berkunjung ke Spiritual Community (SC) Surabaya. “Wa’alaikum salam. Dari majalah SC? Silahkan masuk. Silahkan,” sambut ramah Iman Irikora, pengurus SC Surabaya ramah di kediamannya, Jl Margorejo Tangsi III No 34 Surabaya. Setelah beramah tamah, Rico mengajak SC ke salah satu rumah makan. “Wawancaranya di KFC saja ya?” ajaknya.
Sambil menikmati hidangan, lelaki ramah ini bercerita tentang awal mula ketertarikannya terhadap spiritualitas dan aktifitasnya di SC Surabaya.
***
MULANYA pria yang akrab disapa Rico ini mengalami kegelisahan tentang cara menjalankan shalat khusyuk. Waktu itu, pada tahun 2004, ketika hendak menunaikan ibadah haji, Rico merasa bahwa shalatnya selama ini tidak bisa khusyuk. “Suatu ketika saya jalan-jalan ke toko buku di Depok. Sebelum masuk, saya berpikir adakah buku tentang pelatihan shalat khusyu? Seiring niat itu, saya masuk ke toko buku. Mendadak bukunya Pak Abu ada di deretan paling depan. Saya langsung kaget. Inilah yang saya cari,” cerita Rico.
Setelah membeli buku dan membacanya, Rico merasa kagum. Tapi kekaguman itu juga diiringi dengan keraguan. “Bisakah saya menjalankan shalat khusyu?” lanjutnya.
Pada Bulan April 2005, untuk kali pertama diselenggarakan pelatihan shalat khusyuk di Surabaya. Tapi saat itu Rico belum bisa mengikutinya. Baru pada Bulan Mei, ia bisa turut serta dalam pelatihan yang diisi oleh Ust. Abu Sangkan. “Alhamdulillah, meski saya banyak tidak mengerti, tapi saya bisa merasakan kenikmatan shalat,” katanya senang.
Setelah mengikuti pelatihan shalat khusyuk, ada perubahan yang dirasakan Rico pada dirinya. Selain mulai mengalami ketenangan jiwa ia juga mulai giat menjalankan ibadah shalat sunnah, seperti shalat tahajud. “Biasanya bila shalat tahajud, siang harinya saya diserang kantuk. Tapi setelah ikut pelatihan, tidak. Begitu pula dengan puasa Senin-Kamis, saya merasa tidak terbebani. Badan saya tetap segar,” lanjutnya.
Setelah merasakan manfaat besar dari pelatihan shalat khusyuk, Rico makin rajin membantu penyelenggaraan pelatihan shalat khusyuk. “Kala itu yang menjadi event orgnizer (EO) adalah teman saya. Saya banyak membantunya. Nah, suatu ketika teman saya tidak bisa melanjutkan pekerjaan itu. Akhirnya saya ditawari Pak Abu agar menjadi EO di Surabaya. Spontanitas saya bersedia dan sangat senang sekali. Karena saya bisa lebih dekat dan bisa menimba ilmu kepada Pak Abu,” katanya.
Sejak saat itu, Rico berperan aktif mengkoordinir teman-temannya ketika hendak mengadakan pelatihan shalat khusyuk. Mulai tahun 2005 hingga saat ini, pelatihan shalat khusyuk bersama Ust Abu Sangkan sudah terselenggara sebanyak 9 kali. “Yang saya pegang itu 4 kali,” tambahnya.
***
MESKI sudah sering diselenggarakan pelatihan shalat khusyuk, tapi sejauh ini pola organisasi SC Surabaya masih paguyuban. Belum ada struktur tetap sebagaimana organisasi umumnya. “Meski belum terorganisir secara rapi, temen-teman banyak yang senang menjadi sukarelawan,” katanya.
Pola organisasi paguyuban yang diterapkan SC Surabaya, sejauh ini juga dipengaruhi oleh kebijakan SC Indonesia yang berkantor di Bekasi Jawa Barat, yakni ketua SC daerah harus memperoleh rekomendasi dari Ust Abu Sangkan. Mengingat rekomendasi itu belum turun, SC Surabaya memilih pola organisasi paguyuban. Meski demikian, kegiatan shalat khusyuk jalan terus. Mulai dari halaqoh dan pelatihan shalat khusyuk yang diisi oleh ustadz-ustadz yang sudah mengiktu Train of Trainer bersama Ust Abu Sangkan. Lebih jauh, SC Surabaya juga memeliki jadwal latihan rutin yang dilaksanakan di Masjid Pertamina setiap minggu ketiga, mulai pukul 8 pagi hingga setelah maghrib. Lebih jauh, SC Surabaya juga menyelenggarakan pelatihan di beberapa kota di Jawa Timur, seperti di Malang, Kediri, Nganjuk dan Ponorogo. Sementara Ustadz yang mengisi acara pelatihan, salah satunya adalah Ust. Abdul Aziz.
Sementara itu, sebagai penyelenggara pelatihan shalat khusyuk, selain memperoleh respon positif, Rico juga banyak memperoleh keluhan dari peserta shalat khusyuk. Di antaranya adalah hilangnya rasa khusyuk selepas mengikuti pelatihan secara bersama-sama. Sehingga di antara mereka ada yang enggan untuk ikut kembali pelatihan shalat khusyuk. Tapi demikian, Rico tidak pernah berhenti mengajak mereka. “Setiap bulan, saya selalu mengirim sms ke sebagian besar dari mereka. Ya responnya macam-macam. Ada yang ogah-ogahan dan seterusnya. Tapi setelah mereka kita datangai dan ajak berlatih kembali, mereka bersemangat kembali,” katanya.
Sementara itu, bila di SC Bandung ada kritikan tentang komersialisasi shalat, maka di Surabaya juga terjadi. Menghadapi hal itu, Rico mengatakan bahwa penafsiran tersebut sama sekali salah. Shalat tidak pernah dijual. Adapun biaya yang mahal itu karena masalah tempat yang dipilih oleh para peserta pelatihan shlat khusyuk.
Menurut Rico, anggapan tersebut muncul, karena sebagian besar dari peserta pelatihan memang orang-orang yang berduit. Tapi bila ditelisik lebih dalam, mereka adalah para pencari kebahagiaan hakiki. Dan mereka menemukannya dalam shalat.
Sementara itu, SC Surabaya tidak menutup keinginan para peserta dari kelas menengah ke bawah. Sejak ada pelatihan TOT, SC Surabaya juga mengadakan pelatihan yang hanya mengenakan biaya 50 ribu rupiah untuk membayar konsumsi dan kebersihan. Adapun materinya sama dengan pelatihan yang diisi oleh Ust Abu Sangkan. Seiring kebijakan ini, suara miring itu mulai mereda.
Meski SC Surabaya masih berbentuk organisasi paguyuban, bukan berarti tidak siap untuk menuju organisasi profesional. Sebab menurut Rico, di beberapa daerah sekitar Jawa Timur banyak orang-orang profesional. Sehingga bila sewaktu-waktu ada kebijakan dari SC pusat untuk segera membentuk organisasi profesional, hal itu tidak sulit. “Kita sudah punya tenaga-tenaga profesional. Jadi andai mau membentuk organisasi itu sudah siap,” kata Rico.
Sebelum mengakhiri dialog, Rico menyampaikan harapannya bahwa ia ingin sekali halaqoh yang ada di Surabaya seperti yasinan yang sudah membudaya di Jawa Timur. “Saya pengin, halaqah itu seperti yasinan. Jadi pergi ke rumah-rumah. Adapun materinya adalah shilatun, sharing pengalaman spiritual dan lainnya,” harapnya.
Adib Minanurrachim
Dimuat di SC Magazine Vol III
Sambil menikmati hidangan, lelaki ramah ini bercerita tentang awal mula ketertarikannya terhadap spiritualitas dan aktifitasnya di SC Surabaya.
***
MULANYA pria yang akrab disapa Rico ini mengalami kegelisahan tentang cara menjalankan shalat khusyuk. Waktu itu, pada tahun 2004, ketika hendak menunaikan ibadah haji, Rico merasa bahwa shalatnya selama ini tidak bisa khusyuk. “Suatu ketika saya jalan-jalan ke toko buku di Depok. Sebelum masuk, saya berpikir adakah buku tentang pelatihan shalat khusyu? Seiring niat itu, saya masuk ke toko buku. Mendadak bukunya Pak Abu ada di deretan paling depan. Saya langsung kaget. Inilah yang saya cari,” cerita Rico.
Setelah membeli buku dan membacanya, Rico merasa kagum. Tapi kekaguman itu juga diiringi dengan keraguan. “Bisakah saya menjalankan shalat khusyu?” lanjutnya.
Pada Bulan April 2005, untuk kali pertama diselenggarakan pelatihan shalat khusyuk di Surabaya. Tapi saat itu Rico belum bisa mengikutinya. Baru pada Bulan Mei, ia bisa turut serta dalam pelatihan yang diisi oleh Ust. Abu Sangkan. “Alhamdulillah, meski saya banyak tidak mengerti, tapi saya bisa merasakan kenikmatan shalat,” katanya senang.
Setelah mengikuti pelatihan shalat khusyuk, ada perubahan yang dirasakan Rico pada dirinya. Selain mulai mengalami ketenangan jiwa ia juga mulai giat menjalankan ibadah shalat sunnah, seperti shalat tahajud. “Biasanya bila shalat tahajud, siang harinya saya diserang kantuk. Tapi setelah ikut pelatihan, tidak. Begitu pula dengan puasa Senin-Kamis, saya merasa tidak terbebani. Badan saya tetap segar,” lanjutnya.
Setelah merasakan manfaat besar dari pelatihan shalat khusyuk, Rico makin rajin membantu penyelenggaraan pelatihan shalat khusyuk. “Kala itu yang menjadi event orgnizer (EO) adalah teman saya. Saya banyak membantunya. Nah, suatu ketika teman saya tidak bisa melanjutkan pekerjaan itu. Akhirnya saya ditawari Pak Abu agar menjadi EO di Surabaya. Spontanitas saya bersedia dan sangat senang sekali. Karena saya bisa lebih dekat dan bisa menimba ilmu kepada Pak Abu,” katanya.
Sejak saat itu, Rico berperan aktif mengkoordinir teman-temannya ketika hendak mengadakan pelatihan shalat khusyuk. Mulai tahun 2005 hingga saat ini, pelatihan shalat khusyuk bersama Ust Abu Sangkan sudah terselenggara sebanyak 9 kali. “Yang saya pegang itu 4 kali,” tambahnya.
***
MESKI sudah sering diselenggarakan pelatihan shalat khusyuk, tapi sejauh ini pola organisasi SC Surabaya masih paguyuban. Belum ada struktur tetap sebagaimana organisasi umumnya. “Meski belum terorganisir secara rapi, temen-teman banyak yang senang menjadi sukarelawan,” katanya.
Pola organisasi paguyuban yang diterapkan SC Surabaya, sejauh ini juga dipengaruhi oleh kebijakan SC Indonesia yang berkantor di Bekasi Jawa Barat, yakni ketua SC daerah harus memperoleh rekomendasi dari Ust Abu Sangkan. Mengingat rekomendasi itu belum turun, SC Surabaya memilih pola organisasi paguyuban. Meski demikian, kegiatan shalat khusyuk jalan terus. Mulai dari halaqoh dan pelatihan shalat khusyuk yang diisi oleh ustadz-ustadz yang sudah mengiktu Train of Trainer bersama Ust Abu Sangkan. Lebih jauh, SC Surabaya juga memeliki jadwal latihan rutin yang dilaksanakan di Masjid Pertamina setiap minggu ketiga, mulai pukul 8 pagi hingga setelah maghrib. Lebih jauh, SC Surabaya juga menyelenggarakan pelatihan di beberapa kota di Jawa Timur, seperti di Malang, Kediri, Nganjuk dan Ponorogo. Sementara Ustadz yang mengisi acara pelatihan, salah satunya adalah Ust. Abdul Aziz.
Sementara itu, sebagai penyelenggara pelatihan shalat khusyuk, selain memperoleh respon positif, Rico juga banyak memperoleh keluhan dari peserta shalat khusyuk. Di antaranya adalah hilangnya rasa khusyuk selepas mengikuti pelatihan secara bersama-sama. Sehingga di antara mereka ada yang enggan untuk ikut kembali pelatihan shalat khusyuk. Tapi demikian, Rico tidak pernah berhenti mengajak mereka. “Setiap bulan, saya selalu mengirim sms ke sebagian besar dari mereka. Ya responnya macam-macam. Ada yang ogah-ogahan dan seterusnya. Tapi setelah mereka kita datangai dan ajak berlatih kembali, mereka bersemangat kembali,” katanya.
Sementara itu, bila di SC Bandung ada kritikan tentang komersialisasi shalat, maka di Surabaya juga terjadi. Menghadapi hal itu, Rico mengatakan bahwa penafsiran tersebut sama sekali salah. Shalat tidak pernah dijual. Adapun biaya yang mahal itu karena masalah tempat yang dipilih oleh para peserta pelatihan shlat khusyuk.
Menurut Rico, anggapan tersebut muncul, karena sebagian besar dari peserta pelatihan memang orang-orang yang berduit. Tapi bila ditelisik lebih dalam, mereka adalah para pencari kebahagiaan hakiki. Dan mereka menemukannya dalam shalat.
Sementara itu, SC Surabaya tidak menutup keinginan para peserta dari kelas menengah ke bawah. Sejak ada pelatihan TOT, SC Surabaya juga mengadakan pelatihan yang hanya mengenakan biaya 50 ribu rupiah untuk membayar konsumsi dan kebersihan. Adapun materinya sama dengan pelatihan yang diisi oleh Ust Abu Sangkan. Seiring kebijakan ini, suara miring itu mulai mereda.
Meski SC Surabaya masih berbentuk organisasi paguyuban, bukan berarti tidak siap untuk menuju organisasi profesional. Sebab menurut Rico, di beberapa daerah sekitar Jawa Timur banyak orang-orang profesional. Sehingga bila sewaktu-waktu ada kebijakan dari SC pusat untuk segera membentuk organisasi profesional, hal itu tidak sulit. “Kita sudah punya tenaga-tenaga profesional. Jadi andai mau membentuk organisasi itu sudah siap,” kata Rico.
Sebelum mengakhiri dialog, Rico menyampaikan harapannya bahwa ia ingin sekali halaqoh yang ada di Surabaya seperti yasinan yang sudah membudaya di Jawa Timur. “Saya pengin, halaqah itu seperti yasinan. Jadi pergi ke rumah-rumah. Adapun materinya adalah shilatun, sharing pengalaman spiritual dan lainnya,” harapnya.
Adib Minanurrachim
Dimuat di SC Magazine Vol III
BERIBADAH DENGAN MOTIVASI CINTA
TIDAK Mudah menemui Dr. Moh Sholeh. Jadwal kegiatan pria kelahiran Kediri 9 Desember 1960 ini sangat padat. Selain sibuk keliling dalam berbagai pelatihan tentang shalat yang mampu menenangkan hati dan menyembuhkan penyakit, ia juga membuka praktik Klinik Terapi Tahajud di Masjid Al-Akbar Surabaya. Tak sedikit wartawan yang kesulitan menemuinya. Tapi alhamdulillah, setelah beberapa kali menghubuginya, SC berhasil mewawancarainya. “Saya sedang melayani pasiens. Interviewnya besok pukul tujuh pagi saja,” kata pria yang menjadi Guru Besar di Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Surabaya ini.
Pria yang dijuluki profesor tahajud ini menjadi terkenal karena disertasinya tentang shalat tahajud ketika menyelesaikan jenjang pendidikan S 3 di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair Surabaya). Disertasi itu akhirnya menjadi salah satu buku best seller, yaitu Terapi Shalat Tahajud: Menyembuhkan Berbagai Penyakit. “Shalat tahajud bisa membawa ketenangan jiwa. Sementara ketenangan jiwa dapat meningkatkan ketahanan tubuh imunologik, mengurangi risiko terkena penyakit jantung,” katanya optimis.
Terkait dengan keahliannya menganalisis hikmah shalat tahajud dari ilmu kedokteran, kali ini SC mewawancarainya tentang Lailatul qodar. Berikut petikannya dalam bentuk narasi:
***
LAILATUL QODAR merupan sebuah malam yang diistimewakan oleh Allah. Bila malam itu senantiasa dimanfaatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah, insya Allah pahalanya seperti yang dijanjikan oleh Al Qur’an, sama dengan seribu bulan. Jadi hendaknya jangan disia-siakan mengingat umur kita amat sangat pendek.
Sejauh ini masih ada cara pandang yang kurang benar tentang lailatul qodar. Karena pengertian satu malam seperti seribu bulan, acapkali dipahami secara politis. Artinya dijadikan aji mumpung untuk bertobat sementara hari-hari sebelumnya tidak dimanfaatkan untuk bertobat. Menurut saya, bila ingin menjadi kekasih Allah, jangan dipisah-pisahkan antara ibadah wajib dan sunnah atau ibadah yang berpahala besar dan kecil. Karena bagi orang yang cinta kepada Allah, tidak diberi pahala pun tidak apa-apa. Sehingga tidak punya pikiran ekonomis.
Sayyidina Ali ra berkata bahwa tingkatan ibadah itu ada tingkatan pedagang dan orang merdeka. Bila ibadah hanya untuk mendapatkan pahala, itu ibadahnya pedagang. Tapi bila beribadah semata-mata karena Allah itu ibadahnya orang yang merdeka.
Sebagai seorang muslim, alhamdulilah, baik di bulan Ramadhan maupun lainnya, insya Allah saya tidak pernah meninggalkan shalat tahajud. Di bulan Ramadhan, saya tidak hanya mengerjakannya pada sepuluh hari terakhir untuk mengintai kedatangan lailatul qodar, tapi mulai tanggal satu Ramadhan hingga satu Syawal saya selalu rutin menjalankan shalat tahajud dan membaca Al-Qur’an.
Dengan shalat tahajud yang istiqomah tersebut, alhamdulillah saya memperoleh rahmat dari Allah berupa kesembuhan dari penyakit yang saya derita, yaitu kanker kulit. Padahal kanker ini sangat sulit disembuhkan. Dulu kulit saya ini seperti membusuk. Saya sudah pergi ke mana-mana dan semua dokter angkat tangan semua. Kemudian saya melaksanakan tahajud setiap malam, alhamdulillah penyakit saya sembuh dan tidak ada bekas sedikit pun.
Beribadah antara niat mengejar pahala dan karena semata-mata cinta kepada Allah itu beda. Karena niat mengejar pahala, itu bisa disesatkan oleh setan karena ada kepentingan-kepentingan. Misalkan kita ingin mimpi bertemu dengan Rasulullah, bisa saja setan berubah wujud dan menjadi sesuatu yang kita kehendaki. Jadi niat yang benar adalah semata-mata karena Allah.
Memang keinginan itu juga perlu. Tapi kita harus sadar bahwa di atas keinginan itu ada ketentuan Allah yang tidak bisa diotak-atik. Bila ini tidak disadari, akan berakibat frustasi. Ini banyak saya temui ketika saya menghadapi para pasien. Misalkan dia ingin memperoleh kesehatan melalui shalat tahajud yang rutin. Tapi setelah shalat tahajud berulang-ulang kali ternyata kondisinya tidak segera sehat. Akhirnya ia frustasi, “ngapain saya shalat tahajud selama ini bila ternyata saya tidak sehat-sehat?” katanya. Nah dari kasus ini, hendaknya kita ambil pelajaran bahwa bila kita tidak cermat maka bisa tersesat.
Menjalankan shalat tahajud, seharusnya diiringi dengan keikhlasan hati. Karena sebagai manusia kita hanya bisa terus-menerus berusaha, sementara yang menentukan adalah Allah. Sehingga apapun yang terjadi itu bukan berarti do’a kita tidak didengar. Karena Allah itu Maha Mendengar dan Maha Pemberi.
Ibadah yang lillahi ta’ala itu menentramkan jiwa. Karena target yang kita tentukan itu kita pasrahkan pada Allah. Ibadah yang lillahi ta’ala akan menimbulkan perubahan pada diri kita, yaitu hormon kortisol tidak terlepas dari tubuh melampaui batas toleransi tubuh. Kortisol adalah sejenis hormon yang dilepas oleh anak ginjal yang hanya akan dilepas oleh tubuh bila kita ada beban. Tapi bila kondisi kita tenang, pasrah, tawakal dan khusnudzon pada Allah, maka kortisol itu tidak akan dilepas melampaui batas toleransi tubuh. Jadi bila orang ingin sehat maka manfaatkanlah momen-momen ibadah seperti lailatul qodar itu untuk menyerahkan diri kepada Allah, insya Allah penyakitnya sembuh.
Lebih jauh, bila ibadah ikhlas, tulus, istiqomah, dipenuhi dengan tawakkal dan cinta kasih kepada Allah, maka ada hormon yang dilepas yaitu oksitosin, sehingga orang itu akan menjadi saleh. Tapi saat ini, mengapa banyak orang sholat, haji dan seterusnya tapi perilakunya jauh dari pesan moral dari shalat dan haji? Karena shalat dan hajinya masih dalam tataran lidah. Tidak sampai relung hati yang paling dalam. Hati itu kan dibagi menjadi empat, yaitu sodr (paling pinggir) yang berkaitan dengan metabolisme tubuh, hormon dan jantung. Bila seseorang berdzikir sampai pada batas ini (sodr) kemudian dzikirnya menghasilkan sesuatu yang sesuai dengan harapannya (keuntungan) maka dia akan mengalami kesenangan yang luar biasa. Tapi ketika dia mendapatkan kesusahan maka dia akan frustasi. Jadi senang dan susah masih menyelimuti seseorang yang dzikirnya berada dalam tataran sodr. Dzikir orang yang seperti ini tak ubahnya seperti burung beo saya. Burung beo itu saya drilling dan bisa mengucapkan assalamu’alaikum, astaghfirullah al’adzim, alhamdulillah, dan laa ilaha illallaha. Ini hanya sebatas ucapan dan belum bisa merubah perilakunya. Jadi sholat yang masih dalam tataran sodr itu belum bisa merubah perilakunya.
Agak dalam dikit namanya al-qolb, lalu fuad dan terakhir adalah lub. Maka ada istilah ulul al-bab. Nah, orang yang pada tataran lub ini selalu memaknai segala sesuatu secara positif. Apa pun ujian dari Allah dia akan selalu memaknainya positif. Karena dia yakin pasti ada hikmah. Ini memang langka. Barangkali misalnya seperti bilal ketika dipukuli orang-orang suku Quraish tapi dia tidak merasa sakit karena berdzikir ahad, ahad, ahad. Atau juga yang dialami oleh Sayyidina Ali yang terkena panah dan minta tolong kepada sahabat-sahabatnya untuk mencabut panah ketika ia dalam keadaan shalat. Jadi khusu’nya itu sudah merubah perilaku. Dalam teori kedokteran ada, otak melepaskan seretonin, betaindorfin, melatonin kemudian mengikat glutamat. Glutamat itu nerotransmeter, hormon yang menyebar rasa sakit. Nah kalau kita dalam kondisi cinta kepada Allah sampai pada tingkat lub, rasa sakit itu bisa diikat oleh seretonin, betaindorfin, melatonin. Sehingga tidak menebarkan rasa sakit. Ditusuk jarum pun tidak akan merasakan sakit.
Tapi demikian, ini semua adalah proses. Selain kita terus berusaha, kita juga sadar bahwa Allah itu yang berhak menentukan keputusan. Tapi ini jangan diartikan pasrah tanpa ada dinamika usaha.
Wawancara dengan Dr Muh Sholeh
Adib Minanurrachim
Dimuat di SC Magazine Vol III
Pria yang dijuluki profesor tahajud ini menjadi terkenal karena disertasinya tentang shalat tahajud ketika menyelesaikan jenjang pendidikan S 3 di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair Surabaya). Disertasi itu akhirnya menjadi salah satu buku best seller, yaitu Terapi Shalat Tahajud: Menyembuhkan Berbagai Penyakit. “Shalat tahajud bisa membawa ketenangan jiwa. Sementara ketenangan jiwa dapat meningkatkan ketahanan tubuh imunologik, mengurangi risiko terkena penyakit jantung,” katanya optimis.
Terkait dengan keahliannya menganalisis hikmah shalat tahajud dari ilmu kedokteran, kali ini SC mewawancarainya tentang Lailatul qodar. Berikut petikannya dalam bentuk narasi:
***
LAILATUL QODAR merupan sebuah malam yang diistimewakan oleh Allah. Bila malam itu senantiasa dimanfaatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah, insya Allah pahalanya seperti yang dijanjikan oleh Al Qur’an, sama dengan seribu bulan. Jadi hendaknya jangan disia-siakan mengingat umur kita amat sangat pendek.
Sejauh ini masih ada cara pandang yang kurang benar tentang lailatul qodar. Karena pengertian satu malam seperti seribu bulan, acapkali dipahami secara politis. Artinya dijadikan aji mumpung untuk bertobat sementara hari-hari sebelumnya tidak dimanfaatkan untuk bertobat. Menurut saya, bila ingin menjadi kekasih Allah, jangan dipisah-pisahkan antara ibadah wajib dan sunnah atau ibadah yang berpahala besar dan kecil. Karena bagi orang yang cinta kepada Allah, tidak diberi pahala pun tidak apa-apa. Sehingga tidak punya pikiran ekonomis.
Sayyidina Ali ra berkata bahwa tingkatan ibadah itu ada tingkatan pedagang dan orang merdeka. Bila ibadah hanya untuk mendapatkan pahala, itu ibadahnya pedagang. Tapi bila beribadah semata-mata karena Allah itu ibadahnya orang yang merdeka.
Sebagai seorang muslim, alhamdulilah, baik di bulan Ramadhan maupun lainnya, insya Allah saya tidak pernah meninggalkan shalat tahajud. Di bulan Ramadhan, saya tidak hanya mengerjakannya pada sepuluh hari terakhir untuk mengintai kedatangan lailatul qodar, tapi mulai tanggal satu Ramadhan hingga satu Syawal saya selalu rutin menjalankan shalat tahajud dan membaca Al-Qur’an.
Dengan shalat tahajud yang istiqomah tersebut, alhamdulillah saya memperoleh rahmat dari Allah berupa kesembuhan dari penyakit yang saya derita, yaitu kanker kulit. Padahal kanker ini sangat sulit disembuhkan. Dulu kulit saya ini seperti membusuk. Saya sudah pergi ke mana-mana dan semua dokter angkat tangan semua. Kemudian saya melaksanakan tahajud setiap malam, alhamdulillah penyakit saya sembuh dan tidak ada bekas sedikit pun.
Beribadah antara niat mengejar pahala dan karena semata-mata cinta kepada Allah itu beda. Karena niat mengejar pahala, itu bisa disesatkan oleh setan karena ada kepentingan-kepentingan. Misalkan kita ingin mimpi bertemu dengan Rasulullah, bisa saja setan berubah wujud dan menjadi sesuatu yang kita kehendaki. Jadi niat yang benar adalah semata-mata karena Allah.
Memang keinginan itu juga perlu. Tapi kita harus sadar bahwa di atas keinginan itu ada ketentuan Allah yang tidak bisa diotak-atik. Bila ini tidak disadari, akan berakibat frustasi. Ini banyak saya temui ketika saya menghadapi para pasien. Misalkan dia ingin memperoleh kesehatan melalui shalat tahajud yang rutin. Tapi setelah shalat tahajud berulang-ulang kali ternyata kondisinya tidak segera sehat. Akhirnya ia frustasi, “ngapain saya shalat tahajud selama ini bila ternyata saya tidak sehat-sehat?” katanya. Nah dari kasus ini, hendaknya kita ambil pelajaran bahwa bila kita tidak cermat maka bisa tersesat.
Menjalankan shalat tahajud, seharusnya diiringi dengan keikhlasan hati. Karena sebagai manusia kita hanya bisa terus-menerus berusaha, sementara yang menentukan adalah Allah. Sehingga apapun yang terjadi itu bukan berarti do’a kita tidak didengar. Karena Allah itu Maha Mendengar dan Maha Pemberi.
Ibadah yang lillahi ta’ala itu menentramkan jiwa. Karena target yang kita tentukan itu kita pasrahkan pada Allah. Ibadah yang lillahi ta’ala akan menimbulkan perubahan pada diri kita, yaitu hormon kortisol tidak terlepas dari tubuh melampaui batas toleransi tubuh. Kortisol adalah sejenis hormon yang dilepas oleh anak ginjal yang hanya akan dilepas oleh tubuh bila kita ada beban. Tapi bila kondisi kita tenang, pasrah, tawakal dan khusnudzon pada Allah, maka kortisol itu tidak akan dilepas melampaui batas toleransi tubuh. Jadi bila orang ingin sehat maka manfaatkanlah momen-momen ibadah seperti lailatul qodar itu untuk menyerahkan diri kepada Allah, insya Allah penyakitnya sembuh.
Lebih jauh, bila ibadah ikhlas, tulus, istiqomah, dipenuhi dengan tawakkal dan cinta kasih kepada Allah, maka ada hormon yang dilepas yaitu oksitosin, sehingga orang itu akan menjadi saleh. Tapi saat ini, mengapa banyak orang sholat, haji dan seterusnya tapi perilakunya jauh dari pesan moral dari shalat dan haji? Karena shalat dan hajinya masih dalam tataran lidah. Tidak sampai relung hati yang paling dalam. Hati itu kan dibagi menjadi empat, yaitu sodr (paling pinggir) yang berkaitan dengan metabolisme tubuh, hormon dan jantung. Bila seseorang berdzikir sampai pada batas ini (sodr) kemudian dzikirnya menghasilkan sesuatu yang sesuai dengan harapannya (keuntungan) maka dia akan mengalami kesenangan yang luar biasa. Tapi ketika dia mendapatkan kesusahan maka dia akan frustasi. Jadi senang dan susah masih menyelimuti seseorang yang dzikirnya berada dalam tataran sodr. Dzikir orang yang seperti ini tak ubahnya seperti burung beo saya. Burung beo itu saya drilling dan bisa mengucapkan assalamu’alaikum, astaghfirullah al’adzim, alhamdulillah, dan laa ilaha illallaha. Ini hanya sebatas ucapan dan belum bisa merubah perilakunya. Jadi sholat yang masih dalam tataran sodr itu belum bisa merubah perilakunya.
Agak dalam dikit namanya al-qolb, lalu fuad dan terakhir adalah lub. Maka ada istilah ulul al-bab. Nah, orang yang pada tataran lub ini selalu memaknai segala sesuatu secara positif. Apa pun ujian dari Allah dia akan selalu memaknainya positif. Karena dia yakin pasti ada hikmah. Ini memang langka. Barangkali misalnya seperti bilal ketika dipukuli orang-orang suku Quraish tapi dia tidak merasa sakit karena berdzikir ahad, ahad, ahad. Atau juga yang dialami oleh Sayyidina Ali yang terkena panah dan minta tolong kepada sahabat-sahabatnya untuk mencabut panah ketika ia dalam keadaan shalat. Jadi khusu’nya itu sudah merubah perilaku. Dalam teori kedokteran ada, otak melepaskan seretonin, betaindorfin, melatonin kemudian mengikat glutamat. Glutamat itu nerotransmeter, hormon yang menyebar rasa sakit. Nah kalau kita dalam kondisi cinta kepada Allah sampai pada tingkat lub, rasa sakit itu bisa diikat oleh seretonin, betaindorfin, melatonin. Sehingga tidak menebarkan rasa sakit. Ditusuk jarum pun tidak akan merasakan sakit.
Tapi demikian, ini semua adalah proses. Selain kita terus berusaha, kita juga sadar bahwa Allah itu yang berhak menentukan keputusan. Tapi ini jangan diartikan pasrah tanpa ada dinamika usaha.
Wawancara dengan Dr Muh Sholeh
Adib Minanurrachim
Dimuat di SC Magazine Vol III
SCHOOL OF UNIVERSE: MELATIH GENERASI MANDIRI BERAKHLAK MULIA
Belajar sambil bermain di alam terbuka adalah aktifitas yang sangat menyenangkan. School of Universe, adalah salah satu sekolah alam yang menawarkan hal tersebut, dan mencita-citakan lahirnya generasi mandiri melalui keahlian dalam bidang bisnis serta memiliki akhlak mulia.
PAGI itu suasana di lingkungan School of Universe (SoU) tampak cerah. Siswa-siswi yang berusia sekira 6 hingga 10 tahun tampak bergembira bermain-main di halaman sekolah yang luas. Ada yang bermain sepak bola, naik-turun jurang buatan hingga berkubang lumpur di area permainan yang disediakan pihak sekolah. Sementara beberapa wali murid dan para guru tampak akrab berbincang-bincang di sebuah bangunan kayu yang terletak di bawah pohon rindang, sambil mengawasi anak-anak mereka.
SoU terletak di Parung, Bogor, 18 Km sebelah selatan kota Jakarta. Saat ini SoU membuka kelas untuk siswa berusia mulai dari 4 tahun (Taman Kanak-kanak), 6 tahun (Tahun pertama Sekolah dasar) hingga 12 tahun (tahun pertama Sekolah Menengah). Sekolah ini disesuaikan dengan standar bidang pendidikan di Indonesia dan semua fasilitator kelas (guru) minimal menyandang gelar Sarjana (S1).
“Selamat pagi. Maaf saya baru dari kebun belakang,” sapa Ibu Murni ramah, prinsipel SoU pada SC. Magazine yang asyik menikmati taman sekolah yang hijau segar. “Kita ngobrol di mana? Di situ yuk?” lanjutnya sambil menunjuk tempat duduk yang terletak di samping bangunan sekolah. Kepada SC. Magazine, perempuan paruh baya ini bercerita panjang tentang awal mula berdirinya SoU yang berdiri di atas area tanah seluas 1 ha.
Sebagaimana namanya, sekolah alam semesta, asas pembelajaran sekolah yang dibentuk pada tahun 2004 ini berangkat dari Al-Qur’an, Iqra’ bismirabbika alladzi kholaq (bacalah dengan—menyebut—nama Tuhanmu yang menciptakanmu...) [QS 96:1]. “Karena alam semesta adalah sumber pelajaran yang tanpa batas. Di SoU, para siswa dilatih untuk dapat ‘membaca’ semesta dengan cara pandang untuh dan menyeluruh,” kata Murni.
Sementara asas kurikulum yang diterapkan terbagi dalam 3 materi pokok. Pertama, pengembangan akhlak dengan metode "tauladan"; kedua, pengembangan logika dengan metode belajar action learning dan ketiga, pengembangan sifat kepemimpinan dengan metode belajar outbound training.
Asas kurikulum tersebut (khususnya dalam akhlak al-karimah) tampak berangkat dari ide besar penggagas SoU, Ir. Lendo Novo. Sebagai seseorang yang pernah memperoleh gelar ‘Ashoka Award’ dari lembaga Humanitas International yang berpusat di Amerika Serikat pada tahun 2003, pria alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) itu bercita-cita melahirkan generasi yang bisa mengejar kesejahteraan tanpa mengabaikan dampak atas orang lain dan atau lingkungan melalui metode pendidikan yang berangkat dari nilai-nilai moral/agama dan budaya bangsa Indonesia.
“Cinta dan kebijaksanaan adalah dasar untuk membangun hari depan kita bersama dalam rangka mewujudkan gagasan untuk kebaikan kepada bumi dan umat manusia untuk menciptakan perdamaian, kesejahteraan dan kelanjutan alam semesta ini,” tulisnya.
Lebih jauh, meski objek pendidikannya adalah anak-anak usia 4 sampai 13 tahun, tapi pola pendekatan yang diterapkan seperti orang dewasa, yaitu metode berfikir bebas dan kritis. “Untuk anak-anak di dalam tahun-tahun penting perkembangan mereka, kami telah merancang suatu pendekatan yang menonjolkan ketrampilan hidup praktis yang luas, yaitu : wirausaha (bisnis); Teknologi Informasi dan Komunikasi; apresiasi pada konservasi lingkungan; konsisten pada nilai-nilai demokrasi dan toleransi beragama; hubungan yang harmonis dengan orang lain; dan pengembangan kreativitas dan logika,” tutur Murni.
Tapi demikian, bukan berarti SoU meniadakan sama sekali pola pendekatan pedagogis. “Kita sama-sama menggunakannya, tergantung sasaran didiknya berumur berapa. Bila masih berumur 4-5 tahun, kami lebih banyak menggunakan pola pedagogi. Tapi bila sudah 12-13 kami lebih banyak menggunakan andragogis. Jadi dua metode ini saling melengkapi,” lanjut Murni.
Sementara itu, untuk mengantarkan anak-didiknya mencapai hasil yang maksimal, SoU melengkapi infrastruktur sekolah dengan taman bacaan, resource & workshop room, special needs children center, prayer rooms, music room, art room, fasilitas outbound, komputer dan area bermain. Lebih jauh sekolah ini juga menggunakan dua bahasa pengantar, Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia.
MELATIH GENERASI MANDIRI
SEBAGAIMANA keunggulan yang biasa dimiliki masing-masing sekolah, SoU memiliki keunggulan tersendiri selain lingkungan belajar yang asri, yaitu materi bisnis. “Kami memberikan materi ini secara bertahap. Bila untuk TK A dan TK B, tentu hanya sebatas pengenalan tentang bisnis retail. Kami membiasakan mereka agar dari rumah membawa buah-bauahan yang nantinya dijual di sekolah. Pembelinya bisa dari teman, guru hingga orang tua wali murid lainnya. Dari sini, diharapkan ada pengetahuan langsung yang diperoleh anak bahwa dia bisa menghasilkan uang. Sementara untuk High School, materi yang kami berikan meningkat mulai dari pembuatan proposal untuk ditawarkan pada investor hingga bagaimana pola evaluasinya. Untuk investor, bisa terdiri dari para guru, wali murid dan atau kenalan wali murid.”
Lebih jauh, Murni juga menjelaskan bahwa tahapan belajar bisnis di SoU, juga meliputi magang dan praktek lapangan, simulasi & evaluasi serta pendampingan untuk kurun waktu tertentu sampai anak didik bisa mandiri. Harapannya, agar anak-didik bisa memahami dunia bisnis secara menyeluruh.
Meski mencita-citakan agar anak-didiknya mampu menjadi pebisnis, tapi Murni tidak sepakat bila dikatakan menjadi pebisnis adalah menjadi kapitalis. “Sebagaimana visi dan misi SoU, kami ingin mendampingi setiap anak untuk menjadi pemimpin di muka bumi dan memberi rahmat bagi sekalian alam. Karena itu kami lebih menekankan akhlak,” katanya sambil tersenyum manis.
Adib Minanurrachim
Dimuat di SC Magazine Vol III
PAGI itu suasana di lingkungan School of Universe (SoU) tampak cerah. Siswa-siswi yang berusia sekira 6 hingga 10 tahun tampak bergembira bermain-main di halaman sekolah yang luas. Ada yang bermain sepak bola, naik-turun jurang buatan hingga berkubang lumpur di area permainan yang disediakan pihak sekolah. Sementara beberapa wali murid dan para guru tampak akrab berbincang-bincang di sebuah bangunan kayu yang terletak di bawah pohon rindang, sambil mengawasi anak-anak mereka.
SoU terletak di Parung, Bogor, 18 Km sebelah selatan kota Jakarta. Saat ini SoU membuka kelas untuk siswa berusia mulai dari 4 tahun (Taman Kanak-kanak), 6 tahun (Tahun pertama Sekolah dasar) hingga 12 tahun (tahun pertama Sekolah Menengah). Sekolah ini disesuaikan dengan standar bidang pendidikan di Indonesia dan semua fasilitator kelas (guru) minimal menyandang gelar Sarjana (S1).
“Selamat pagi. Maaf saya baru dari kebun belakang,” sapa Ibu Murni ramah, prinsipel SoU pada SC. Magazine yang asyik menikmati taman sekolah yang hijau segar. “Kita ngobrol di mana? Di situ yuk?” lanjutnya sambil menunjuk tempat duduk yang terletak di samping bangunan sekolah. Kepada SC. Magazine, perempuan paruh baya ini bercerita panjang tentang awal mula berdirinya SoU yang berdiri di atas area tanah seluas 1 ha.
Sebagaimana namanya, sekolah alam semesta, asas pembelajaran sekolah yang dibentuk pada tahun 2004 ini berangkat dari Al-Qur’an, Iqra’ bismirabbika alladzi kholaq (bacalah dengan—menyebut—nama Tuhanmu yang menciptakanmu...) [QS 96:1]. “Karena alam semesta adalah sumber pelajaran yang tanpa batas. Di SoU, para siswa dilatih untuk dapat ‘membaca’ semesta dengan cara pandang untuh dan menyeluruh,” kata Murni.
Sementara asas kurikulum yang diterapkan terbagi dalam 3 materi pokok. Pertama, pengembangan akhlak dengan metode "tauladan"; kedua, pengembangan logika dengan metode belajar action learning dan ketiga, pengembangan sifat kepemimpinan dengan metode belajar outbound training.
Asas kurikulum tersebut (khususnya dalam akhlak al-karimah) tampak berangkat dari ide besar penggagas SoU, Ir. Lendo Novo. Sebagai seseorang yang pernah memperoleh gelar ‘Ashoka Award’ dari lembaga Humanitas International yang berpusat di Amerika Serikat pada tahun 2003, pria alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) itu bercita-cita melahirkan generasi yang bisa mengejar kesejahteraan tanpa mengabaikan dampak atas orang lain dan atau lingkungan melalui metode pendidikan yang berangkat dari nilai-nilai moral/agama dan budaya bangsa Indonesia.
“Cinta dan kebijaksanaan adalah dasar untuk membangun hari depan kita bersama dalam rangka mewujudkan gagasan untuk kebaikan kepada bumi dan umat manusia untuk menciptakan perdamaian, kesejahteraan dan kelanjutan alam semesta ini,” tulisnya.
Lebih jauh, meski objek pendidikannya adalah anak-anak usia 4 sampai 13 tahun, tapi pola pendekatan yang diterapkan seperti orang dewasa, yaitu metode berfikir bebas dan kritis. “Untuk anak-anak di dalam tahun-tahun penting perkembangan mereka, kami telah merancang suatu pendekatan yang menonjolkan ketrampilan hidup praktis yang luas, yaitu : wirausaha (bisnis); Teknologi Informasi dan Komunikasi; apresiasi pada konservasi lingkungan; konsisten pada nilai-nilai demokrasi dan toleransi beragama; hubungan yang harmonis dengan orang lain; dan pengembangan kreativitas dan logika,” tutur Murni.
Tapi demikian, bukan berarti SoU meniadakan sama sekali pola pendekatan pedagogis. “Kita sama-sama menggunakannya, tergantung sasaran didiknya berumur berapa. Bila masih berumur 4-5 tahun, kami lebih banyak menggunakan pola pedagogi. Tapi bila sudah 12-13 kami lebih banyak menggunakan andragogis. Jadi dua metode ini saling melengkapi,” lanjut Murni.
Sementara itu, untuk mengantarkan anak-didiknya mencapai hasil yang maksimal, SoU melengkapi infrastruktur sekolah dengan taman bacaan, resource & workshop room, special needs children center, prayer rooms, music room, art room, fasilitas outbound, komputer dan area bermain. Lebih jauh sekolah ini juga menggunakan dua bahasa pengantar, Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia.
MELATIH GENERASI MANDIRI
SEBAGAIMANA keunggulan yang biasa dimiliki masing-masing sekolah, SoU memiliki keunggulan tersendiri selain lingkungan belajar yang asri, yaitu materi bisnis. “Kami memberikan materi ini secara bertahap. Bila untuk TK A dan TK B, tentu hanya sebatas pengenalan tentang bisnis retail. Kami membiasakan mereka agar dari rumah membawa buah-bauahan yang nantinya dijual di sekolah. Pembelinya bisa dari teman, guru hingga orang tua wali murid lainnya. Dari sini, diharapkan ada pengetahuan langsung yang diperoleh anak bahwa dia bisa menghasilkan uang. Sementara untuk High School, materi yang kami berikan meningkat mulai dari pembuatan proposal untuk ditawarkan pada investor hingga bagaimana pola evaluasinya. Untuk investor, bisa terdiri dari para guru, wali murid dan atau kenalan wali murid.”
Lebih jauh, Murni juga menjelaskan bahwa tahapan belajar bisnis di SoU, juga meliputi magang dan praktek lapangan, simulasi & evaluasi serta pendampingan untuk kurun waktu tertentu sampai anak didik bisa mandiri. Harapannya, agar anak-didik bisa memahami dunia bisnis secara menyeluruh.
Meski mencita-citakan agar anak-didiknya mampu menjadi pebisnis, tapi Murni tidak sepakat bila dikatakan menjadi pebisnis adalah menjadi kapitalis. “Sebagaimana visi dan misi SoU, kami ingin mendampingi setiap anak untuk menjadi pemimpin di muka bumi dan memberi rahmat bagi sekalian alam. Karena itu kami lebih menekankan akhlak,” katanya sambil tersenyum manis.
Adib Minanurrachim
Dimuat di SC Magazine Vol III
Langganan:
Postingan (Atom)