Sebaik-baik usaha adalah pekerjaan seorang laki-laki yang dikerjakan oleh tangannya sendiri dan jual-beli yang bersih (Hadist)
KEMERDEKAAN adalah fitrah setiap manusia yang lahir di dunia. Menjadi manusia yang merdeka, berarti menjadi manusia yang mandiri, tidak tergantung kepada orang lain dan mampu berdiri di atas kaki sendiri.
Menjadi pribadi yang mandiri memang tak mudah. Setidaknya dibutuhkan kesiapan mental yang kuat untuk mencreate/mencipta sebuah pekerjaan dan juga ketabahan sebagai benteng dari setiap kegagalan yang sewaktu-waktu menimpa dan meruntuhkan mental setiap pribadi.
Pekerjaan yang bertolak dari prinsip kemandirian adalah pekerjaan yang ada karena diciptakan. Bukan sebaliknya. Sehingga, selain menjadi pribadi yang merdeka, ia juga bisa menolong orang lain dengan pekerjaan yang ia ciptakan. Secara tersirat ini selaras dengan hadist yang mengatakan al yadu al ‘ulya khoirun min yadi al-sufla (tangan di atas [memberi] lebih baik daripada tangan di bawah [menerima/meminta])
Menjadi pribadi mandiri yang bisa menciptakan lapangan pekerjaan memang tak semudah membalikkan telapak tangan. Setidaknya dibutuhkan jaringan kerja (networking) dan modal (capital). Tapi demikian, di atas jaringan kerja dan modal ada yang lebih utama, yaitu ide-ide segar yang bisa menarik pasar dan investor. Tapi sayang, di antara bangsa Indonesia hanya sedikit yang bisa berbuat demikian. Salah satu sebabnya adalah sistem pendidikan yang kurang mengarahkan generasi bangsa untuk belajar mencipta dan berkreasi sendiri.
Meski budaya mandiri kurang terealisasi, tapi menghasilkan rizki dari sebuah usaha yang bersih adalah lebih baik dari sekedar berdiam diri. Ini seperti tersirat dalam hadist yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan At Thabrani dalam ‘Al Kabir’ dan dalam ‘Al Ausath’ oleh Al Hakim dan Al Bazar dari rafi’ bin Khadij di atas. Hadist tersebut bermula dari sebuah pertanyaan yang diajukan kepada Rasulullah tentang amal usaha yang baik.
Hadist yang menganjurkan setiap pribadi (terutama lelaki dan atau kepala keluarga) untuk menghasilkan rizki dari tangannya sendiri ini, bisa juga dijadikan motivasi untuk menjadi pribadi yang mandiri. Meski untuk semua ini butuh perjuangan yang tiada henti. Wallahu ‘alam.
Adib Minanurrachim
Dimuat di SC Magazine Vol II
Kamis, 27 Desember 2007
DEBU: BERDZIKIR LEWAT MUSIK DAN SYAIR
Komunitas sufi sekaligus grup musik religius asal New Mexico, Amerika Serikat, mengajak berdzikir lewat musik dan syair.
SABTU pagi, salah satu rumah di perumahan Cinere Jakarta, tampak ramai. Beberapa lelaki dan perempuan kebangsaan asing sibuk dengan alat musik masing-masing. Ada yang memegang alat musik asal Turki semisal Kanoon dan Saz (Baglama), ada juga yang memegang Santur (alat musik dari Iran) dan beberapa alat musik lainnya dari berbagai belahan dunia, tak kecuali Gendok-gendok dari Sulawesi Selatan.
"Wa'alaikum salam. Wah, kami sedang latihan, mas. Wawancaranya nanti saja ya. Silahkan masuk," sambut ramah Musthafa, salah satu personil Debu kepada SC. Magazine.
Setelah seluruh personil Debu siap, Musthafa memberi aba-aba. Suara merdu Musthafa pun mengalun seiring melodi dari masing-masing alat musik. SC. Magazine yang duduk di pojok ruangan terkesima mendengar perpaduan bunyi berbagai alat musik dengan suara jernih Musthafa. Terlebih ketika memperhatikan syair-syair buah karya Syekh Fattaah, ulama sufi pemimpin komunitas Debu, yang terasa begitu sejuk karena sarat pujian pada Sang Pencipta.
***
SYEKH Fattaah adalah ulama sufi yang lahir di Portland Maine, Amerika Serikat 5 Oktober 1943, dan besar di Los Angles. Sejak 1981 Syekh Fattaah sudah menjalankan kehidupan Sufi. Pada 1982 dia mendapat ijazah Tarekat Syadziliyyah dari Syekh Fadhlallah dari Iraq. Sejak memperoleh ijazah dari ulama sufi berkebangsan Inggris tersebut, dia mulai menulis syairnya dalam bahasa Inggris sebanyak 130 syair.
Pada tahun 1983 dia menempuh perjalanan spiritualnya ke Pakistan dan memperoleh ijazah Tarekat Chisytiyah dari Syekh Ikram, dan selanjutnya pada 1989 dia memperoleh ijazah Tarekat Rufa'iyah dari Syekh Jamali di Kosovo.
Setelah memperoleh ijazah dari kedua ulama sufi tersebut, selain terus menuangkan rasa cintanya kepada Allah SWT dalam bentuk syair, Syekh Fattaah juga membentuk kelompok musik bernama Dust On The Road pada tahun 1990, di New Mexico.
Syekh Fattaah tergolong ulama yang memiliki jiwa seni yang tinggi. Ini bisa dilihat dari buah karyanya dalam bentuk syair tasawuf yang berjumlah ratusan. Di antara syair-syairnya, acapkali ia ciptakan saat menempuh perjalanan spiritual ke beberapa daerah. Misalkan ketika berada di Taos, New Mexico, dia menulis syair sebanyak 40 buah dalam bahasa Inggris dan Spanyol. Selanjutnya pada 1992, saat pindah ke Questa, New Mexico, dia menulis sekira 30 syair. Dan pada 1996, saat pindah ke Republik Dominika, dia menulis 40 syair dalam bahasa Spanyol.
Pada 1999, setelah mendapat ilham, Syekh Fattaah bersama murid-muridnya yang merupakan keluarga besarnya hijrah ke Indonesia. Di sini dia terus meningkatkan produktifitasnya dalam menulis syair tasawuf, baik dalam bahasa Indonesia, Arab, Turki, Mandarin, Italia, Farsi hingga Hindia. Di antara syairnya ada yang berpola pantun.
Dari beberapa syair buah karya Syekh Fattaah, banyak orang-orang dari berbagai negara yang mengaguminya. Seorang artis Italia berkebangsaan Swedia, Hayam Nur As Sufi, mengatakan bahwa cara penyampaian Syekh Fattaah dalam syair berbahasa Italia lebih indah dari orang Italia sendiri. Demikian pula penyanyi Italia bernama Mario Chauro, sangat mengagumi gubahan syair-syairnya. Bahkan seorang penganut Zoroaster di Iran bernama Farhad, karena sangat takjub dengan syair-syair Syekh Fattaah ia kemudian memeluk Agama Islam.
Pada tahun 2001, Syekh Fattaah memperoleh Ijazah Tarekat Qadiriyah dari Syekh Rais, Maluku.
***
DUA jam berlalu. Latihan rutin setiap hari Sabtu pun usai. Musthafa, lelaki berkulit putih dengan rambut pirang dikuncir di belakang, perlahan bangkit dan melangkah ke salah satu meja di mana SC. Magazine menunggunya. Dengan keringat yang masih menetes di dahi, lelaki kebangsaan Amerika ini memulai cerita tentang komunitas sufinya.
"Allah memang Maha Tahu. Dialah yang punya kehendak dan rencana. Suatu malam, Syekh Fattaah mendapat ilham. Di antara sadar dan tidak, beliau mendengar hatif (bisikan halus) yang menyebutkan nama 'Indonesia'. Beliau tersentak dan segera mengutarakan pada istrinya bahwa komunitas ini harus pergi ke Indonesia untuk bisa hidup sesuai impian," cerita putra kandung Syekh Fattaah ini.
Seperti yang tertulis dalam web site Debu, www.musikdebu.com, kegelisahan komunitas ini berangkat dari kota kecil di daerah New Mexico—sebuah propinsi yang terletak antara Texas dan Arizona, Amerika Serikat—yang kehidupannya sangat liberal dan sekuler. Merasa kurang tentram, pada 1997, sebagian dari mereka pindah ke negara Republik Dominika. Tapi ternyata kehidupan masyarakatnya tak jauh beda dengan Amerika. "Sungguh, bukan lingkungan yang ramah bagi kami yang sangat rindu suasana Islami. Tapi sekarang alhamdulillah, di sini kami menemukan ketenangan," kata Musthafa.
Perjalanan komunitas ini menuju Indonesia tergolong unik. Waktu itu mereka sama sekali tidak mengenal Indonesia. Kemudian mereka mencari informasi tentang Indonesia melalui internet dan berhasil berkenalan dengan salah satu warga Indonesia, Ust Farid Uqbah. "Kami ke Indonesia 3 Minggu setelah Syekh Fattaah memperoleh Ilham. Bahasa Indonesia yang kami ketahui kala itu hanya satu kata, yaitu saya. Hahaha... tapi alhamdulillah, kenalan kami, Ust Farid Uqbah, seorang dosen di LIPIA Jakarta, sangat membantu kami untuk mengenal lebih dalam Indonesia," lanjutnya.
Maret 1999, ketika situasi sosial-politik di Indonesia kurang kondusif, komunitas sufi ini tiba di Jakarta. Setelah bertemu dengan Ust Farid Uqbah, mereka dikenalkan dengan Dr. M. Tamimi, seorang arsitek tinggal di Jakarta. Dari kenalan baru ini, mereka memperoleh tempat tinggal di daerah Pasar Minggu, Jakarta Selatan dan menetap selama 3 bulan.
Di tempat baru itu, di bawah bimbingan Syekh Fattaah, mereka terus mempelajari tasawuf. Mengehembuskan dzikir dalam bentuk syair dan nyanyian. "Menyanyi adalah semata-mata dzikir dan ibadah. Saat itu Debu belum lahir. Kami bernyanyi sebatas kenikmatan untuk komunitas sendiri sekaligus menjadi bagian dari perkembangan spiritual," cerita lelaki yang telah dikaruniai tiga putera ini.
***
KELAHIRAN DEBU
INISIATIF membentuk grup musik yang bernafaskan tasawuf, baru lahir setelah komunitas ini menetap selama 3,5 tahun di Ujung Pandang, Makassar. Mereka datang ke sana karena undangan dari Universitas Muslim Indonesia (UMI) Ujung Pandang untuk mengajar mahasiswa baru tentang agama Islam.
Tiba di Ujung Pandang mereka ditempatkan di Bukit Barugah. Tak lama kemudian, mereka dipindahkan lagi ke Desa Padang Lampe, di mana berdiri sebuah Pesantren milik UMI, Darul Mukhlisin. Di sini mereka mulai mengabdikan diri dengan mengajar ajaran Islam kepada para mahasiswa baru. Mulai Al-Qur'an, Al-Hadist hingga Bahasa Inggris. Sementara Syekh Fattaah, setiap habis menunaikan shalat lima waktu, memimpin dan membimbing anggota komunitasnya berzikir bersama para mahasiswa. Agar lebih menarik minat para mahasiswa, Syekh Fattaah berinisiatif mengenalkan keindahan Islam melalui syair dan nyanyian yang sarat pelajaran akhlak dan adab. Pelan namun pasti, para mahasiswa mulai menyenangi ajaran Syekh Fattaah. "Dari situ kami memperoleh inspirasi bahwa salah satu dakwah yang bisa menarik hati masyarakat—khususnya kaum muda—adalah melalui musik," tutur Musthafa.
Setelah melihat respon positif dari para mahasiswa di Ujung Pandang, komunitas ini kemudian membentuk grup musik Debu, sebuah nama yang diambil dari Dust On The Road, kelompok musik yang didirikan Syekh Fattaah pada tahun 1990, di New Mexico. Di antara personil Debu saat ini adalah Maryam, Husniah, Fadilah, Syakurah, Naimah, Najib, Hasinah, Susaan, Najmah, Laila, Zakariyah, Mujahid, Saleem, Daood, Lukman, Naseem, dan Mustafa.
Meski sebagian besar dari anggota komunitas ini adalah keluarga besar Syekh Fattaah, tapi mereka tidak eksklusif. Karena selain di antara mereka ada etnis berkulit hitam, juga terdapat dua orang warga negara Indonesia, yaitu Wahab dan Arif.
Sebagai komunitas sufi, Debu menganggap musik dan nyanyian hanyalah media untuk dakwah dan syiar ilmu-ilmu Islam. "Syekh Fattaah selalu menekankan pada kami, bahwa bermusik dan bernyanyi bukanlah tujuan. Jika suatu saat aktivitas ini membuat kami berpaling dari kecintaan terhadap Allah SWT, beliau akan menghentikan aktivitas ini dan membubarkannya," kata Musthafa.
Demikianlah perjalanan komunitas Debu di Indonesia. Melalui syair-syair buah karya Syekh Fattaah, Debu terus-menerus menyampaikan pesan cinta kepada umat manusia agar tidak berpaling dari Sang Pencipta. "Kami tidak ingin terjebak dalam perpecahan. Kami selalu menyampaikan perdamaian dengan satu kalimat laa ilaha illa Allah," kata Musthafa sambil menyanyikan sebait lagu berjudul HU, Dendang Sufi: Datanglah, hai sufi, marilah pulang//Kesempatan inilah sangat jarang//Marilah kita bergandengan tangan//Dan berjalan bersama atas jalan...
Adib Minanurrachim
Dimuat di SC Magazine Vol II
SABTU pagi, salah satu rumah di perumahan Cinere Jakarta, tampak ramai. Beberapa lelaki dan perempuan kebangsaan asing sibuk dengan alat musik masing-masing. Ada yang memegang alat musik asal Turki semisal Kanoon dan Saz (Baglama), ada juga yang memegang Santur (alat musik dari Iran) dan beberapa alat musik lainnya dari berbagai belahan dunia, tak kecuali Gendok-gendok dari Sulawesi Selatan.
"Wa'alaikum salam. Wah, kami sedang latihan, mas. Wawancaranya nanti saja ya. Silahkan masuk," sambut ramah Musthafa, salah satu personil Debu kepada SC. Magazine.
Setelah seluruh personil Debu siap, Musthafa memberi aba-aba. Suara merdu Musthafa pun mengalun seiring melodi dari masing-masing alat musik. SC. Magazine yang duduk di pojok ruangan terkesima mendengar perpaduan bunyi berbagai alat musik dengan suara jernih Musthafa. Terlebih ketika memperhatikan syair-syair buah karya Syekh Fattaah, ulama sufi pemimpin komunitas Debu, yang terasa begitu sejuk karena sarat pujian pada Sang Pencipta.
***
SYEKH Fattaah adalah ulama sufi yang lahir di Portland Maine, Amerika Serikat 5 Oktober 1943, dan besar di Los Angles. Sejak 1981 Syekh Fattaah sudah menjalankan kehidupan Sufi. Pada 1982 dia mendapat ijazah Tarekat Syadziliyyah dari Syekh Fadhlallah dari Iraq. Sejak memperoleh ijazah dari ulama sufi berkebangsan Inggris tersebut, dia mulai menulis syairnya dalam bahasa Inggris sebanyak 130 syair.
Pada tahun 1983 dia menempuh perjalanan spiritualnya ke Pakistan dan memperoleh ijazah Tarekat Chisytiyah dari Syekh Ikram, dan selanjutnya pada 1989 dia memperoleh ijazah Tarekat Rufa'iyah dari Syekh Jamali di Kosovo.
Setelah memperoleh ijazah dari kedua ulama sufi tersebut, selain terus menuangkan rasa cintanya kepada Allah SWT dalam bentuk syair, Syekh Fattaah juga membentuk kelompok musik bernama Dust On The Road pada tahun 1990, di New Mexico.
Syekh Fattaah tergolong ulama yang memiliki jiwa seni yang tinggi. Ini bisa dilihat dari buah karyanya dalam bentuk syair tasawuf yang berjumlah ratusan. Di antara syair-syairnya, acapkali ia ciptakan saat menempuh perjalanan spiritual ke beberapa daerah. Misalkan ketika berada di Taos, New Mexico, dia menulis syair sebanyak 40 buah dalam bahasa Inggris dan Spanyol. Selanjutnya pada 1992, saat pindah ke Questa, New Mexico, dia menulis sekira 30 syair. Dan pada 1996, saat pindah ke Republik Dominika, dia menulis 40 syair dalam bahasa Spanyol.
Pada 1999, setelah mendapat ilham, Syekh Fattaah bersama murid-muridnya yang merupakan keluarga besarnya hijrah ke Indonesia. Di sini dia terus meningkatkan produktifitasnya dalam menulis syair tasawuf, baik dalam bahasa Indonesia, Arab, Turki, Mandarin, Italia, Farsi hingga Hindia. Di antara syairnya ada yang berpola pantun.
Dari beberapa syair buah karya Syekh Fattaah, banyak orang-orang dari berbagai negara yang mengaguminya. Seorang artis Italia berkebangsaan Swedia, Hayam Nur As Sufi, mengatakan bahwa cara penyampaian Syekh Fattaah dalam syair berbahasa Italia lebih indah dari orang Italia sendiri. Demikian pula penyanyi Italia bernama Mario Chauro, sangat mengagumi gubahan syair-syairnya. Bahkan seorang penganut Zoroaster di Iran bernama Farhad, karena sangat takjub dengan syair-syair Syekh Fattaah ia kemudian memeluk Agama Islam.
Pada tahun 2001, Syekh Fattaah memperoleh Ijazah Tarekat Qadiriyah dari Syekh Rais, Maluku.
***
DUA jam berlalu. Latihan rutin setiap hari Sabtu pun usai. Musthafa, lelaki berkulit putih dengan rambut pirang dikuncir di belakang, perlahan bangkit dan melangkah ke salah satu meja di mana SC. Magazine menunggunya. Dengan keringat yang masih menetes di dahi, lelaki kebangsaan Amerika ini memulai cerita tentang komunitas sufinya.
"Allah memang Maha Tahu. Dialah yang punya kehendak dan rencana. Suatu malam, Syekh Fattaah mendapat ilham. Di antara sadar dan tidak, beliau mendengar hatif (bisikan halus) yang menyebutkan nama 'Indonesia'. Beliau tersentak dan segera mengutarakan pada istrinya bahwa komunitas ini harus pergi ke Indonesia untuk bisa hidup sesuai impian," cerita putra kandung Syekh Fattaah ini.
Seperti yang tertulis dalam web site Debu, www.musikdebu.com, kegelisahan komunitas ini berangkat dari kota kecil di daerah New Mexico—sebuah propinsi yang terletak antara Texas dan Arizona, Amerika Serikat—yang kehidupannya sangat liberal dan sekuler. Merasa kurang tentram, pada 1997, sebagian dari mereka pindah ke negara Republik Dominika. Tapi ternyata kehidupan masyarakatnya tak jauh beda dengan Amerika. "Sungguh, bukan lingkungan yang ramah bagi kami yang sangat rindu suasana Islami. Tapi sekarang alhamdulillah, di sini kami menemukan ketenangan," kata Musthafa.
Perjalanan komunitas ini menuju Indonesia tergolong unik. Waktu itu mereka sama sekali tidak mengenal Indonesia. Kemudian mereka mencari informasi tentang Indonesia melalui internet dan berhasil berkenalan dengan salah satu warga Indonesia, Ust Farid Uqbah. "Kami ke Indonesia 3 Minggu setelah Syekh Fattaah memperoleh Ilham. Bahasa Indonesia yang kami ketahui kala itu hanya satu kata, yaitu saya. Hahaha... tapi alhamdulillah, kenalan kami, Ust Farid Uqbah, seorang dosen di LIPIA Jakarta, sangat membantu kami untuk mengenal lebih dalam Indonesia," lanjutnya.
Maret 1999, ketika situasi sosial-politik di Indonesia kurang kondusif, komunitas sufi ini tiba di Jakarta. Setelah bertemu dengan Ust Farid Uqbah, mereka dikenalkan dengan Dr. M. Tamimi, seorang arsitek tinggal di Jakarta. Dari kenalan baru ini, mereka memperoleh tempat tinggal di daerah Pasar Minggu, Jakarta Selatan dan menetap selama 3 bulan.
Di tempat baru itu, di bawah bimbingan Syekh Fattaah, mereka terus mempelajari tasawuf. Mengehembuskan dzikir dalam bentuk syair dan nyanyian. "Menyanyi adalah semata-mata dzikir dan ibadah. Saat itu Debu belum lahir. Kami bernyanyi sebatas kenikmatan untuk komunitas sendiri sekaligus menjadi bagian dari perkembangan spiritual," cerita lelaki yang telah dikaruniai tiga putera ini.
***
KELAHIRAN DEBU
INISIATIF membentuk grup musik yang bernafaskan tasawuf, baru lahir setelah komunitas ini menetap selama 3,5 tahun di Ujung Pandang, Makassar. Mereka datang ke sana karena undangan dari Universitas Muslim Indonesia (UMI) Ujung Pandang untuk mengajar mahasiswa baru tentang agama Islam.
Tiba di Ujung Pandang mereka ditempatkan di Bukit Barugah. Tak lama kemudian, mereka dipindahkan lagi ke Desa Padang Lampe, di mana berdiri sebuah Pesantren milik UMI, Darul Mukhlisin. Di sini mereka mulai mengabdikan diri dengan mengajar ajaran Islam kepada para mahasiswa baru. Mulai Al-Qur'an, Al-Hadist hingga Bahasa Inggris. Sementara Syekh Fattaah, setiap habis menunaikan shalat lima waktu, memimpin dan membimbing anggota komunitasnya berzikir bersama para mahasiswa. Agar lebih menarik minat para mahasiswa, Syekh Fattaah berinisiatif mengenalkan keindahan Islam melalui syair dan nyanyian yang sarat pelajaran akhlak dan adab. Pelan namun pasti, para mahasiswa mulai menyenangi ajaran Syekh Fattaah. "Dari situ kami memperoleh inspirasi bahwa salah satu dakwah yang bisa menarik hati masyarakat—khususnya kaum muda—adalah melalui musik," tutur Musthafa.
Setelah melihat respon positif dari para mahasiswa di Ujung Pandang, komunitas ini kemudian membentuk grup musik Debu, sebuah nama yang diambil dari Dust On The Road, kelompok musik yang didirikan Syekh Fattaah pada tahun 1990, di New Mexico. Di antara personil Debu saat ini adalah Maryam, Husniah, Fadilah, Syakurah, Naimah, Najib, Hasinah, Susaan, Najmah, Laila, Zakariyah, Mujahid, Saleem, Daood, Lukman, Naseem, dan Mustafa.
Meski sebagian besar dari anggota komunitas ini adalah keluarga besar Syekh Fattaah, tapi mereka tidak eksklusif. Karena selain di antara mereka ada etnis berkulit hitam, juga terdapat dua orang warga negara Indonesia, yaitu Wahab dan Arif.
Sebagai komunitas sufi, Debu menganggap musik dan nyanyian hanyalah media untuk dakwah dan syiar ilmu-ilmu Islam. "Syekh Fattaah selalu menekankan pada kami, bahwa bermusik dan bernyanyi bukanlah tujuan. Jika suatu saat aktivitas ini membuat kami berpaling dari kecintaan terhadap Allah SWT, beliau akan menghentikan aktivitas ini dan membubarkannya," kata Musthafa.
Demikianlah perjalanan komunitas Debu di Indonesia. Melalui syair-syair buah karya Syekh Fattaah, Debu terus-menerus menyampaikan pesan cinta kepada umat manusia agar tidak berpaling dari Sang Pencipta. "Kami tidak ingin terjebak dalam perpecahan. Kami selalu menyampaikan perdamaian dengan satu kalimat laa ilaha illa Allah," kata Musthafa sambil menyanyikan sebait lagu berjudul HU, Dendang Sufi: Datanglah, hai sufi, marilah pulang//Kesempatan inilah sangat jarang//Marilah kita bergandengan tangan//Dan berjalan bersama atas jalan...
Adib Minanurrachim
Dimuat di SC Magazine Vol II
SANG SABDA: KIDUNG CINTA SHALAT ABU SANGKAN
Selain menjadi trainer shalat khusyu, Abu Sangkan adalah seniman. Ini terbukti dengan buah karyanya dalam bentuk album. Seperti dalam setiap karya lukisnya, album yang ia beri judul Sang Sabda ini penuh nilai-nilai spiritual.
SANG Sabda adalah cipta rasa Abu Sangkan yang terejawantahkan dalam keheningan pemikiran. Sebuah karya seni yang berangkat dari telaah mendalam terhadap Al-Qur’an dan pengalaman sepiritualnya. Ini seperti yang tergambar dalam setiap syair yang terdapat dalam sembilan judul lagu dalam album tersebut. Di antaranya adalah Singgah di Rumah Nabi, Citra diri, Di Atas Jiwa, Menembus Asry, Nabi Yusuf, Tahajjud, Pujiku Untuk-Mu, Taubat dan Mars Shalat.
Dalam sebuah wawancara dengan SC. Magazine, Abu Sangkan menguraikan beberapa kandungan lagu dalam album Sang Sabda. “Dalam lagu Singgah Di Rumah Nabi, ini tercipta setelah saya memperoleh inspirasi di Bulan Ramadhan. Saat itu tepat tengah malam tanggal 27 Ramadhan, hati ini tiba-tiba merasa rindu kepada Rasulullah. Suasana ketika saya berada di Makkah, seolah menyeruak dalam jiwa saya. Bahkan saya merasa tidak berada di makam Nabi Muhammad SAW, tapi di rumah beliau. Hingga hati saya merasa tunduk dan bershalawat Allahuma Solli ‘ala Muhamad,” jelasnya.
Sementara mengenai Citra Diri, lelaki yang telah dianugerahi tiga putra ini mengatakan bahwa lagu ini adalah keinginan diri sebagai manusia yang tidak ingin diremehkan, meski itu dari malaikat. Ini tampak dari syair lagunya yang berangkat dari kisah malaikat dan setan yang memprotes Allah SWT ketika memilih manusia sebagai khalifah di dunia. “Mengenai Citra Diri ini, saya juga agak ingin membuktikan kepada malaikat, bahwa manusia adalah makhluk yang tidak boleh diremehkan. Lebih dari itu semua, saya ingin mengatakan bahwa sebagai makhluk, malaikat tidak pantas memprotes Sang Kholiq.”
Lebih jauh, mengenai Citra Diri, Abu Sangkan tampak sepemikiran dengan Prof. Dr. Quraish Shihab dalam tulisannya yang berjudul Mengembangkan SDM. “Seandainya malaikat yang hanya memiliki sikap patuh atas perintah Allah menjadi khalifah di bumi, maka mereka tidak akan pernah mengambil inisiatif. Selama Allah tidak memerintahkan mereka melakukan sesuatu, maka mereka hanya berdiam diri. Karena mereka bukan makhluk yang memiliki inisiatif dan tanggung jawab dan bukan makhluk yang diberi potensi untuk dapat mengetahui hukum-hukum, sifat dan fungsi alam,” tulis Quraish Shihab yang dimuat majalah ini pada edisi perdana bulan Juli lalu.
Sementara itu, dalam beberapa judul lagu lainnya seperti Di Atas Jiwa, Menembus Arsy, Nabi Yusuf, Tahajjud, Pujiku Untukmu dan Taubat, ada nuansa cinta ilahi yang hendak disampaikan Abu Sangkan ke para pendengar. Dalam beberapa lagu ini, Abu Sangkan tampak hendak mengatakan bahwa cinta Allah kepada manusia adalah anugerah yang sangat besar dan begitu ia harapkan selama ini. Karena hanya dengan cinta dan kasih sayang dari Sang Khaliq, manusia bisa lepas dari segala beban kehidupan. Lebih jauh, hanya dengan kasih sayang Allah manusia bisa lolos dari segala dosa yang dia perbuat selama di dunia. Sementara untuk memperoleh cinta kasih Allah, Abu Sangkan mengajak segenap umat manusia untuk terus-menerus mendalami shalat lima waktu. Ini tampak dari lagu terakhir yang berjudul Mars Shalat. Dalam lagu yang ia ciptakan dengan irama gembira dan ceria ini, pria yang akrab disapa ABS ini mengatakan bahwa shalat khusyu yang selama ini sangat sulit dicapai sebenarnya sangat mudah. Lebih jauh, menurutnya, shalat adalah meditasi tertinggi dalam Islam dan merupakan wahana istimewa yang bisa menemukan manusia dengan Tuhannya. “Dalam shalat kita bisa berdialog langsung dengan Dzat Yang Maha Sempurna,” katanya sambil tersenyum.
Adib Minanurrachim
Dimuat di SC Magazine Vol II
SANG Sabda adalah cipta rasa Abu Sangkan yang terejawantahkan dalam keheningan pemikiran. Sebuah karya seni yang berangkat dari telaah mendalam terhadap Al-Qur’an dan pengalaman sepiritualnya. Ini seperti yang tergambar dalam setiap syair yang terdapat dalam sembilan judul lagu dalam album tersebut. Di antaranya adalah Singgah di Rumah Nabi, Citra diri, Di Atas Jiwa, Menembus Asry, Nabi Yusuf, Tahajjud, Pujiku Untuk-Mu, Taubat dan Mars Shalat.
Dalam sebuah wawancara dengan SC. Magazine, Abu Sangkan menguraikan beberapa kandungan lagu dalam album Sang Sabda. “Dalam lagu Singgah Di Rumah Nabi, ini tercipta setelah saya memperoleh inspirasi di Bulan Ramadhan. Saat itu tepat tengah malam tanggal 27 Ramadhan, hati ini tiba-tiba merasa rindu kepada Rasulullah. Suasana ketika saya berada di Makkah, seolah menyeruak dalam jiwa saya. Bahkan saya merasa tidak berada di makam Nabi Muhammad SAW, tapi di rumah beliau. Hingga hati saya merasa tunduk dan bershalawat Allahuma Solli ‘ala Muhamad,” jelasnya.
Sementara mengenai Citra Diri, lelaki yang telah dianugerahi tiga putra ini mengatakan bahwa lagu ini adalah keinginan diri sebagai manusia yang tidak ingin diremehkan, meski itu dari malaikat. Ini tampak dari syair lagunya yang berangkat dari kisah malaikat dan setan yang memprotes Allah SWT ketika memilih manusia sebagai khalifah di dunia. “Mengenai Citra Diri ini, saya juga agak ingin membuktikan kepada malaikat, bahwa manusia adalah makhluk yang tidak boleh diremehkan. Lebih dari itu semua, saya ingin mengatakan bahwa sebagai makhluk, malaikat tidak pantas memprotes Sang Kholiq.”
Lebih jauh, mengenai Citra Diri, Abu Sangkan tampak sepemikiran dengan Prof. Dr. Quraish Shihab dalam tulisannya yang berjudul Mengembangkan SDM. “Seandainya malaikat yang hanya memiliki sikap patuh atas perintah Allah menjadi khalifah di bumi, maka mereka tidak akan pernah mengambil inisiatif. Selama Allah tidak memerintahkan mereka melakukan sesuatu, maka mereka hanya berdiam diri. Karena mereka bukan makhluk yang memiliki inisiatif dan tanggung jawab dan bukan makhluk yang diberi potensi untuk dapat mengetahui hukum-hukum, sifat dan fungsi alam,” tulis Quraish Shihab yang dimuat majalah ini pada edisi perdana bulan Juli lalu.
Sementara itu, dalam beberapa judul lagu lainnya seperti Di Atas Jiwa, Menembus Arsy, Nabi Yusuf, Tahajjud, Pujiku Untukmu dan Taubat, ada nuansa cinta ilahi yang hendak disampaikan Abu Sangkan ke para pendengar. Dalam beberapa lagu ini, Abu Sangkan tampak hendak mengatakan bahwa cinta Allah kepada manusia adalah anugerah yang sangat besar dan begitu ia harapkan selama ini. Karena hanya dengan cinta dan kasih sayang dari Sang Khaliq, manusia bisa lepas dari segala beban kehidupan. Lebih jauh, hanya dengan kasih sayang Allah manusia bisa lolos dari segala dosa yang dia perbuat selama di dunia. Sementara untuk memperoleh cinta kasih Allah, Abu Sangkan mengajak segenap umat manusia untuk terus-menerus mendalami shalat lima waktu. Ini tampak dari lagu terakhir yang berjudul Mars Shalat. Dalam lagu yang ia ciptakan dengan irama gembira dan ceria ini, pria yang akrab disapa ABS ini mengatakan bahwa shalat khusyu yang selama ini sangat sulit dicapai sebenarnya sangat mudah. Lebih jauh, menurutnya, shalat adalah meditasi tertinggi dalam Islam dan merupakan wahana istimewa yang bisa menemukan manusia dengan Tuhannya. “Dalam shalat kita bisa berdialog langsung dengan Dzat Yang Maha Sempurna,” katanya sambil tersenyum.
Adib Minanurrachim
Dimuat di SC Magazine Vol II
MENUJU BANGSA PEMERDEKAAN
Sudah 62 tahun Indonsia merdeka. Sudah 62 tahun pula bangsa ini berjuang berdarah-darah membangun nation-state. Bagaimana hasil pembangunannya?
BULAN Agustus adalah bulan kemerdekaan. Waktu bersejarah di mana negara ini lahir setelah Bung Karno dan Bung Hatta atas nama bangsa Indonesia memproklamirkan berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), 17 Agustus 62 tahun lalu.
Menanggapi hari kelahiran negara Indonesia, Effendi Gazali, Ph.D., MPS ID, Koordinator Program Master Komunikasi Politik UI, mengatakan bahwa hari kemerdekaan adalah tonggak terpenting untuk melakukan evaluasi terhadap perjalanan bangsa Indonesia. “Komunikasi politik terpenting dalam kemerdekaan adalah bagaimana seorang pemimpin seperti presiden atau kepala daerah, selalu mengevaluasi dan memperbaiki janji-janji politik yang mereka lakukan pada masa pemilu; apakah sudah bisa memerdekakan rakyatnya dari jabatan yang ia emban, baik dari janji-janji kampanye atau sebagai pejabat yang memiliki amanah,” katanya kepada SC. Magazine setelah meneyelesaikan shooting Republik Mimpi di Metro TV.
Pernyataan penggagas parodi politik Republik Mimpi itu tampaknya berangkat dari kondisi bangsa Indonesia. Meski perbaikan-perbaikan terus dilakukan baik dalam bidang sosial, ekonomi, pendidikan, hukum dan politik, tapi kondisi bangsa Indonesia masih belum bisa dikatakan sejahtera sebagaimana cita-cita para founding father yang termaktub dalam pembukaan UUD 1945, yaitu memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Misalkan dalam bidang ekonomi. Naiknya harga beras, minyak goreng dan susu merupakan fakta yang memposisikan rakyat kecil makin terjepit.
Krisis barang kebutuhan pokok tersebut, diyakini beberapa pengamat sebenarnya bisa dihindari jika program departemen seperti revitalisasi pertanian berjalan dan segala distorsi yang terjadi di setiap kegiatan produksi, pengadaan dan distribusi bahan pokok tersebut berjalan.
Kekhawatiran tentang terjadinya distorsi itu, sebenarnya sudah diatasi dengan Surat Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan No 115/-MPP/Kep/2/1998, 27 Februari 1998, yang mengatur mengenai penyediaan barang-barang kebutuhan pokok seperti beras, kedelai, jagung, gula dan minyak goreng. Tapi herannya, bangsa ini tidak pernah lepas dari masalah-masalah sembako yang pasokannya sering menghilang, kalau tidak, harganya melonjak. Kondisi ini akhirnya memposisikan kondisi rakyat kecil makin terjepit. Lebih jauh, kondisi ini juga melemahkan semangat para petani yang acapkali merugi karena hasil panen tak sesuai dengan modal tanam.
“Sejauh ini Bulog belum banyak berperan. Misalkan sebelum petani panen harga bawang adalah Rp 20.000,00. Tapi begitu panen mendadak harga bawang menjadi rendah, hanya Rp 10.000.00. Ini sangat melemahkan semangat petani untuk meningkatkan hasil panen. Seharusnya yang Rp 20.000,00 ditetapkan. Sementara sisa barangnya dibeli Bulog. Jadi rakyat itu menjualnya ke Bulog. Lalu Bulog menyimpannya untuk dijual ke masyarakat. Tapi saat ini yang terjadi kan malah sebaliknya, bagaimana uang Bulog itu dikorup sedasyat-dasyatnya,” kata Prof. Dr KH. Didin Hafiduddin, Ketua Dewan Syari’ah Bank Syari’ah Bukopin kepada SC. Magazine di kediamannya, Bogor.
Fenomena di atas, akhirnya turut mengakibatkan meningkatnya kemiskinan dan pengangguran. “Saat ini masyarakat kita tengah menghadapi masalah-masalah ekonomi. Ini terbukti dari makin meningkatnya jumlah orang miskin. Tahun 2005 jumlah orang miskin adalah 35, 2%. Sementara pada tahun 2006 meningkat menjadi 39,4%. Sementara jumlah pengangguran adalah 11 % dari angkatan kerja. Ini menunjukkan bahwa betapa beratnya masalah-masalah ekonomi yang dihadapi masyarakat kita,” lanjut pria yang menjadi pengajar di Fakultas Pasca Sarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta.
Meski sembako masih menjadi masalah utama, tapi bukan berarti masalah ekonomi bangsa Indonesia memburuk secara keseluruhan. Secara makro-ekonomi, indikator perekonomian tampak ada kemajuan mengesankan. Ini terlihat dari kinerja rupiah dan indeks harga saham gabungan (IHSG). Kurs rupiah sempat berada di bawah Rp 9.000 per dolar AS, sedangkan IHSG bertahan di atas angka 2.000.
Membaiknya indikator finansial tersebut bisa saja dipengaruhi oleh masuknya dana-dana asing berjangka pendek alias hot money. Data terakhir dana asing yang masuk ke Sertifikat Bank Indonesia (SBI) sebesar US$ 1,36 miliar, surat utang negara (SUN) US$ 847 juta, dan pasar saham US$ 623 juta.
“Membaiknya sudut makro ini bukan karena membaiknya ekonomi dalam negeri, tapi karena banyaknya uang yang mengalir ke Indonesia. Sekarang ini ada sekira 500 trilyun uang luar negeri yang mengalir ke dalam negeri. Tapi uang itu hanya disimpan di Sertifikat Bank Indonesia (SBI) untuk diambil bunganya. Tidak diberikan kepada sektor riil. Akibatnya, meski uang banyak tapi Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) tambah tidak baik,” kata pria yang sudah dikaruniai tiga putra ini.
Terpuruknya mikro-ekonomi tersebut, tampaknya makin memburuk setelah pemerintah tidak mencabut kebijakan mengimpor barang kebutuhan pokok. “Dari sisi stuktural, kebijakan-kebijakan pemerintah masih belum berorientasi kepada kepentingan masyarakat. Misalkan seperti kebijakan impor beras yang justru merugikan sektor ekonomi mikro. Seharusnya pemerintah mengeluarkan kebijakan yang lebih berani. Sudahlah soal beras biar kita penuhi sesuai dengan kekuatan kita sendiri. Bahkan bila perlu kita berpuasa. Ini tidak apa-apa. Tapi ironisnya saat ini kita serba mengimpor. Mulai dari sagu, gula, terigu dan lainnya. Ini tidak baik. Kita akan menjadi bangsa yang tergantung. Tidak merdeka.”
Persoalan ekonomi memang cukup mendasar, karena menyangkut keberlangsungan hidup manusia. Tak sedikit manusia yang menyerah menghadapi himpitan ekonomi, dan terpaksa memilih jalan pintas demi mempertahankan hidupnya dengan mencuri dan merampok.
Merespon masalah tersebut, Kiai Didin menawarkan perubahan sistem perekonomian. “Salah satu yang krusial adalah perubahan sistem ekonomi. Kita harus berganti kiblat. Bukan lagi kapitalis, tapi syariah yang tidak menekankan pada bunga tapi sistem bagi hasil. Saya kira ini akan membawa perubahan yang lebih baik,” kata Kiai Didin.
***
SEMENTARA itu, selain masalah ekonomi, bangsa ini juga dihadapkan dengan masalah kesenjangan intelektual. “Selain kesenjangan ekonomi, kita juga dihadapkan dengan kesenjangan intelektual. Satu sisi kita sudah memiliki intelektual yang kelas internasional, tapi di sisi lain kita juga punya warga negara yang masih buta huruf. Nah yang kayak begini ini dibutuhkan pengorbanan membangun bangsa,” kata Prof. Dr KH. Said Aqil Siraj, ketua PBNU kepada SC. Magazine di kediamannya, Cianjur.
Pendapat tentang kesenjangan intelektual tergambar dari banyaknya anak-anak kecil dan remaja yang terpaksa berkelahi dengan waktu mencari nafkah hidup di hampir setiap kota di Indonesia. Ada yang menjajakan koran, mengamen hingga mengemis. Fakta sosial lainnya adalah keadaan warga negara Indonesia yang berada di daerah-daerah pedalaman yang tidak menemukan lembaga pendidikan, seperti di pedalaman Papua. Fakta sosial ini, menurut Kiai Aqil, selain karena himpitan ekonomi, juga karena faktor mahalnya biaya pendidikan.
Sementara itu, di sisi lain, dunia pendidikan ternyata masih dipenuhi berbagai persoalan, baik mengenai swastanisasi lembaga pendidikan melalui Badan Hukum Pendidikan (BHP) dan Ujian Nasional (UN) yang konfliktif. Ini seperti yang dikeluhkan Prof. Dr. Winarno Surakhmad, Ketua Forum Profesional Pendidikan Regional dalam tulisannya, Kriminalisasi Pendidikan. “Kriminalisasi pendidikan terjadi jika perumus kebijakan dan pengelola pendidikan menangani amanah dengan sikap salah, seperti tidak peduli falsafah tentang hakikat manusia, realitas kehidupan, dan bagaimana "ilmu sekolah" dapat berdampak positif dalam peradaban manusia. Pandangan yang mendasari perilaku pendidik tak dibenarkan dogmatis atau spekulatif. Bahkan tidak cukup hanya dengan common sense. Indikator keberhasilannya bukan pada target, melainkan pada makna. Peserta didik adalah manusia, bukan angka.”
Keluhan yang ditulis pemerhati pendidikan itu, diamini oleh Drs. Budi Setiawan atau Habudi, Mantan Presiden dalam parodi politik Republik Mimpi yang ditemui SC. Magazine di sela-sela kesibukannya shooting di Metro TV. “Sisdiknas masih berorientasi pada angka. Ini memang mudah mengukurnya. Tapi jika masalah moral dan budi pekerti, ini masih dianggap sesuatu yang imajiner, sulit diukur. Tapi kita harus orientasikan ke sana. Kita harus menghargai kejujuran dan loyalitas yang sekarang ini makin terkikis.”
Kekhawatiran akibat dari sistem pendidikan yang lebih menekankan unsur matematis memang masuk akal. “Bagaimana dengan masalah fundamental dehumanisasi, dekulturisasi, dan deindonesianisasi! Atau, memang tidak penting dibandingkan realisasi BHP yang kontroversial, standardisasi setengah jadi, UN yang kian konfliktif, dan obsesi berkompetisi yang tidak meyakinkan? Lima puluh tahun dari sekarang, saat seluruh bangsa telah lengkap dicerdaskan melalui strategi dan standar UN, apa yang pasti terjadi? Jika konsep yang salah itu diteruskan, tak mustahil jutaan anak bangsa, sepi tetapi pasti, akan terbunuh sebelum mati. Kegairahannya, potensinya, aspirasinya, hak pribadinya, semua akan teratrofi oleh UN. Kalau ini bukan kriminalisasi pendidikan, lalu apa?” tulis Winarno Surachmad.
Sementara itu, merespon persoalan UN yang rencananya akan tetap dijalankan oleh pemerintah, Seto Mulyadi, Ketua Komnas Perlindungan anak mengusulkan agar ke depan UN sekedar menjadi alat ukur untuk memetakan potensi anak-didik. Bukan pintu besi kelulusan. “Kenapa UN tidak sekedar menjadi pemetaan potensi anak didik, sehingga semua berlangsung dengan jujur,” katanya.
Pendapat pria yang akrab disapa Kak Seto tersebut berangkat dari pengamatannya terhadap UN yang acapkali dilakukan dengan kecurangan. “Karena UN menjadi penentu kelulusan, akhirnya ditempuhlah semua cara. Kebocoran, mencontek sampai ada kasus air mata guru di Medan. Bukankah ini justru mendidik anak-anak untuk tidak jujur? Mendidik anak menjadi calon koruptor-koruptor masa depan? Jika seperti ini, apakah bangsa ini bisa dikatakan merdeka?”
Sementara itu, Dr H Ahmad Satori Ismail, Ketua Umum Ikatan Da’i Indonesia menilai bahwa sejauh ini dunia pendidikan Indonesia kurang menghargai pendidikan agama. “Pendidikan agama hanya diberikan sekilas saja. Belum mengarah pada bagaimana bisa terjun ke masyarakat dan memberikan pengorbanan untuk mereka. Karena pendidikan agama tidak dijadikan faktor lulus-tidaknya seseorang. Bagaimana perilakunya di kelas, di rumah dan di lingkungan lain. Padahal akhlak seharusnya dijadikan faktor fital menilai pelajar, mengingat bangsa ini sudah mengalami dekadensi moral dengan fenomena korupsi di segala lini,” katanya prihatin.
***
BERANGKAT dari persoalan ekonomi yang memposisikan bangsa dan negara ini kehilangan kemandirian dan jatuhnya harga diri di hadapan negeri dan bangsa lain, boleh jadi telah membuktikan kalau kita memang belum merdeka. Sementara dari sisi pendidikan yang lebih mengutamakan angka tanpa memperhatikan kualitas akhlak generasi bisa jadi hanya akan melahirkan para calon pemimpin yang pragmatis dan kurang bisa memikirkan rakyatnya.
Berangkat dari hal itu, dan mengingat masih menumpuknya persoalan lainnya yang dihadapi bangsa dan negara ini, Efendi Gazali menawarkan langkah-langkah pemerdekaan bangsa melalui perjuangan dari pemiskinan dan pembodohan.
“Bicara kemerdekaan, maka juga bicara soal bagaimana masyarakat bawah itu bisa berjuang untuk memerdekakan dirinya dari pembodohan dan pemiskinan. Pemiskinan bisa terjadi karena bangsa ini dijajah oleh neoliberalisme dan atau karena sebagian kelompok dari bangsa ini tanpa sadar memikirkan dirinya sendiri sehingga memiskinkan kelompok lainnya. Sikap individualis ini merupakan salah satu karakter koruptor. Ini luar biasa betul. Hanya orang bodoh yang tidak tahu bahwa dia sedang dikorupsi. Karena itu, ini tugas semua kalangan yang pro terhadap kemerdekaan ideal-subtansial. Salah satu agenda penting saat ini adalah bagaimana memperjuangkan peningkatan anggaran pendidikan 20%. Selanjutnya bagaimana memantau pelaksanaannya dengan baik dan benar. Karena ketika dana mengucur ke bawah, acapkali ada potongan-potongan yang koruptif,” kata Gazali kepada SC. Magazine.
Lebih jauh, menurut salah satu peneliti terbaik UI tahun 2003 dalam bidang sosial dan kemanusiaan ini, andai tidak dimiskin-miskinkan, Indonesia adalah bangsa besar dan bisa maju. “Tapi karena tidak demikian, langkah terbaik saat ini adalah bagaimana kita mulai belajar mandiri dari lingkungan kita yang terkecil. Misalkan bila ada hutan yang rusak, mari kita coba perbaiki sendiri. Bila ada sekolah yang rusak, mari kita perbaiki sendiri. Jangan terlalu tergantung terhadap pemerintah. Tapi demikian, pada saat yang sama kita tekan pemerintah untuk mematuhi janji-janjinya dan bisa mematuhi amanahnya serta tanggung jawabnya,” katanya bersemangat.
Adib Minanurrachim
Dimuat di SC Magazine Vol II
BULAN Agustus adalah bulan kemerdekaan. Waktu bersejarah di mana negara ini lahir setelah Bung Karno dan Bung Hatta atas nama bangsa Indonesia memproklamirkan berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), 17 Agustus 62 tahun lalu.
Menanggapi hari kelahiran negara Indonesia, Effendi Gazali, Ph.D., MPS ID, Koordinator Program Master Komunikasi Politik UI, mengatakan bahwa hari kemerdekaan adalah tonggak terpenting untuk melakukan evaluasi terhadap perjalanan bangsa Indonesia. “Komunikasi politik terpenting dalam kemerdekaan adalah bagaimana seorang pemimpin seperti presiden atau kepala daerah, selalu mengevaluasi dan memperbaiki janji-janji politik yang mereka lakukan pada masa pemilu; apakah sudah bisa memerdekakan rakyatnya dari jabatan yang ia emban, baik dari janji-janji kampanye atau sebagai pejabat yang memiliki amanah,” katanya kepada SC. Magazine setelah meneyelesaikan shooting Republik Mimpi di Metro TV.
Pernyataan penggagas parodi politik Republik Mimpi itu tampaknya berangkat dari kondisi bangsa Indonesia. Meski perbaikan-perbaikan terus dilakukan baik dalam bidang sosial, ekonomi, pendidikan, hukum dan politik, tapi kondisi bangsa Indonesia masih belum bisa dikatakan sejahtera sebagaimana cita-cita para founding father yang termaktub dalam pembukaan UUD 1945, yaitu memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Misalkan dalam bidang ekonomi. Naiknya harga beras, minyak goreng dan susu merupakan fakta yang memposisikan rakyat kecil makin terjepit.
Krisis barang kebutuhan pokok tersebut, diyakini beberapa pengamat sebenarnya bisa dihindari jika program departemen seperti revitalisasi pertanian berjalan dan segala distorsi yang terjadi di setiap kegiatan produksi, pengadaan dan distribusi bahan pokok tersebut berjalan.
Kekhawatiran tentang terjadinya distorsi itu, sebenarnya sudah diatasi dengan Surat Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan No 115/-MPP/Kep/2/1998, 27 Februari 1998, yang mengatur mengenai penyediaan barang-barang kebutuhan pokok seperti beras, kedelai, jagung, gula dan minyak goreng. Tapi herannya, bangsa ini tidak pernah lepas dari masalah-masalah sembako yang pasokannya sering menghilang, kalau tidak, harganya melonjak. Kondisi ini akhirnya memposisikan kondisi rakyat kecil makin terjepit. Lebih jauh, kondisi ini juga melemahkan semangat para petani yang acapkali merugi karena hasil panen tak sesuai dengan modal tanam.
“Sejauh ini Bulog belum banyak berperan. Misalkan sebelum petani panen harga bawang adalah Rp 20.000,00. Tapi begitu panen mendadak harga bawang menjadi rendah, hanya Rp 10.000.00. Ini sangat melemahkan semangat petani untuk meningkatkan hasil panen. Seharusnya yang Rp 20.000,00 ditetapkan. Sementara sisa barangnya dibeli Bulog. Jadi rakyat itu menjualnya ke Bulog. Lalu Bulog menyimpannya untuk dijual ke masyarakat. Tapi saat ini yang terjadi kan malah sebaliknya, bagaimana uang Bulog itu dikorup sedasyat-dasyatnya,” kata Prof. Dr KH. Didin Hafiduddin, Ketua Dewan Syari’ah Bank Syari’ah Bukopin kepada SC. Magazine di kediamannya, Bogor.
Fenomena di atas, akhirnya turut mengakibatkan meningkatnya kemiskinan dan pengangguran. “Saat ini masyarakat kita tengah menghadapi masalah-masalah ekonomi. Ini terbukti dari makin meningkatnya jumlah orang miskin. Tahun 2005 jumlah orang miskin adalah 35, 2%. Sementara pada tahun 2006 meningkat menjadi 39,4%. Sementara jumlah pengangguran adalah 11 % dari angkatan kerja. Ini menunjukkan bahwa betapa beratnya masalah-masalah ekonomi yang dihadapi masyarakat kita,” lanjut pria yang menjadi pengajar di Fakultas Pasca Sarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta.
Meski sembako masih menjadi masalah utama, tapi bukan berarti masalah ekonomi bangsa Indonesia memburuk secara keseluruhan. Secara makro-ekonomi, indikator perekonomian tampak ada kemajuan mengesankan. Ini terlihat dari kinerja rupiah dan indeks harga saham gabungan (IHSG). Kurs rupiah sempat berada di bawah Rp 9.000 per dolar AS, sedangkan IHSG bertahan di atas angka 2.000.
Membaiknya indikator finansial tersebut bisa saja dipengaruhi oleh masuknya dana-dana asing berjangka pendek alias hot money. Data terakhir dana asing yang masuk ke Sertifikat Bank Indonesia (SBI) sebesar US$ 1,36 miliar, surat utang negara (SUN) US$ 847 juta, dan pasar saham US$ 623 juta.
“Membaiknya sudut makro ini bukan karena membaiknya ekonomi dalam negeri, tapi karena banyaknya uang yang mengalir ke Indonesia. Sekarang ini ada sekira 500 trilyun uang luar negeri yang mengalir ke dalam negeri. Tapi uang itu hanya disimpan di Sertifikat Bank Indonesia (SBI) untuk diambil bunganya. Tidak diberikan kepada sektor riil. Akibatnya, meski uang banyak tapi Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) tambah tidak baik,” kata pria yang sudah dikaruniai tiga putra ini.
Terpuruknya mikro-ekonomi tersebut, tampaknya makin memburuk setelah pemerintah tidak mencabut kebijakan mengimpor barang kebutuhan pokok. “Dari sisi stuktural, kebijakan-kebijakan pemerintah masih belum berorientasi kepada kepentingan masyarakat. Misalkan seperti kebijakan impor beras yang justru merugikan sektor ekonomi mikro. Seharusnya pemerintah mengeluarkan kebijakan yang lebih berani. Sudahlah soal beras biar kita penuhi sesuai dengan kekuatan kita sendiri. Bahkan bila perlu kita berpuasa. Ini tidak apa-apa. Tapi ironisnya saat ini kita serba mengimpor. Mulai dari sagu, gula, terigu dan lainnya. Ini tidak baik. Kita akan menjadi bangsa yang tergantung. Tidak merdeka.”
Persoalan ekonomi memang cukup mendasar, karena menyangkut keberlangsungan hidup manusia. Tak sedikit manusia yang menyerah menghadapi himpitan ekonomi, dan terpaksa memilih jalan pintas demi mempertahankan hidupnya dengan mencuri dan merampok.
Merespon masalah tersebut, Kiai Didin menawarkan perubahan sistem perekonomian. “Salah satu yang krusial adalah perubahan sistem ekonomi. Kita harus berganti kiblat. Bukan lagi kapitalis, tapi syariah yang tidak menekankan pada bunga tapi sistem bagi hasil. Saya kira ini akan membawa perubahan yang lebih baik,” kata Kiai Didin.
***
SEMENTARA itu, selain masalah ekonomi, bangsa ini juga dihadapkan dengan masalah kesenjangan intelektual. “Selain kesenjangan ekonomi, kita juga dihadapkan dengan kesenjangan intelektual. Satu sisi kita sudah memiliki intelektual yang kelas internasional, tapi di sisi lain kita juga punya warga negara yang masih buta huruf. Nah yang kayak begini ini dibutuhkan pengorbanan membangun bangsa,” kata Prof. Dr KH. Said Aqil Siraj, ketua PBNU kepada SC. Magazine di kediamannya, Cianjur.
Pendapat tentang kesenjangan intelektual tergambar dari banyaknya anak-anak kecil dan remaja yang terpaksa berkelahi dengan waktu mencari nafkah hidup di hampir setiap kota di Indonesia. Ada yang menjajakan koran, mengamen hingga mengemis. Fakta sosial lainnya adalah keadaan warga negara Indonesia yang berada di daerah-daerah pedalaman yang tidak menemukan lembaga pendidikan, seperti di pedalaman Papua. Fakta sosial ini, menurut Kiai Aqil, selain karena himpitan ekonomi, juga karena faktor mahalnya biaya pendidikan.
Sementara itu, di sisi lain, dunia pendidikan ternyata masih dipenuhi berbagai persoalan, baik mengenai swastanisasi lembaga pendidikan melalui Badan Hukum Pendidikan (BHP) dan Ujian Nasional (UN) yang konfliktif. Ini seperti yang dikeluhkan Prof. Dr. Winarno Surakhmad, Ketua Forum Profesional Pendidikan Regional dalam tulisannya, Kriminalisasi Pendidikan. “Kriminalisasi pendidikan terjadi jika perumus kebijakan dan pengelola pendidikan menangani amanah dengan sikap salah, seperti tidak peduli falsafah tentang hakikat manusia, realitas kehidupan, dan bagaimana "ilmu sekolah" dapat berdampak positif dalam peradaban manusia. Pandangan yang mendasari perilaku pendidik tak dibenarkan dogmatis atau spekulatif. Bahkan tidak cukup hanya dengan common sense. Indikator keberhasilannya bukan pada target, melainkan pada makna. Peserta didik adalah manusia, bukan angka.”
Keluhan yang ditulis pemerhati pendidikan itu, diamini oleh Drs. Budi Setiawan atau Habudi, Mantan Presiden dalam parodi politik Republik Mimpi yang ditemui SC. Magazine di sela-sela kesibukannya shooting di Metro TV. “Sisdiknas masih berorientasi pada angka. Ini memang mudah mengukurnya. Tapi jika masalah moral dan budi pekerti, ini masih dianggap sesuatu yang imajiner, sulit diukur. Tapi kita harus orientasikan ke sana. Kita harus menghargai kejujuran dan loyalitas yang sekarang ini makin terkikis.”
Kekhawatiran akibat dari sistem pendidikan yang lebih menekankan unsur matematis memang masuk akal. “Bagaimana dengan masalah fundamental dehumanisasi, dekulturisasi, dan deindonesianisasi! Atau, memang tidak penting dibandingkan realisasi BHP yang kontroversial, standardisasi setengah jadi, UN yang kian konfliktif, dan obsesi berkompetisi yang tidak meyakinkan? Lima puluh tahun dari sekarang, saat seluruh bangsa telah lengkap dicerdaskan melalui strategi dan standar UN, apa yang pasti terjadi? Jika konsep yang salah itu diteruskan, tak mustahil jutaan anak bangsa, sepi tetapi pasti, akan terbunuh sebelum mati. Kegairahannya, potensinya, aspirasinya, hak pribadinya, semua akan teratrofi oleh UN. Kalau ini bukan kriminalisasi pendidikan, lalu apa?” tulis Winarno Surachmad.
Sementara itu, merespon persoalan UN yang rencananya akan tetap dijalankan oleh pemerintah, Seto Mulyadi, Ketua Komnas Perlindungan anak mengusulkan agar ke depan UN sekedar menjadi alat ukur untuk memetakan potensi anak-didik. Bukan pintu besi kelulusan. “Kenapa UN tidak sekedar menjadi pemetaan potensi anak didik, sehingga semua berlangsung dengan jujur,” katanya.
Pendapat pria yang akrab disapa Kak Seto tersebut berangkat dari pengamatannya terhadap UN yang acapkali dilakukan dengan kecurangan. “Karena UN menjadi penentu kelulusan, akhirnya ditempuhlah semua cara. Kebocoran, mencontek sampai ada kasus air mata guru di Medan. Bukankah ini justru mendidik anak-anak untuk tidak jujur? Mendidik anak menjadi calon koruptor-koruptor masa depan? Jika seperti ini, apakah bangsa ini bisa dikatakan merdeka?”
Sementara itu, Dr H Ahmad Satori Ismail, Ketua Umum Ikatan Da’i Indonesia menilai bahwa sejauh ini dunia pendidikan Indonesia kurang menghargai pendidikan agama. “Pendidikan agama hanya diberikan sekilas saja. Belum mengarah pada bagaimana bisa terjun ke masyarakat dan memberikan pengorbanan untuk mereka. Karena pendidikan agama tidak dijadikan faktor lulus-tidaknya seseorang. Bagaimana perilakunya di kelas, di rumah dan di lingkungan lain. Padahal akhlak seharusnya dijadikan faktor fital menilai pelajar, mengingat bangsa ini sudah mengalami dekadensi moral dengan fenomena korupsi di segala lini,” katanya prihatin.
***
BERANGKAT dari persoalan ekonomi yang memposisikan bangsa dan negara ini kehilangan kemandirian dan jatuhnya harga diri di hadapan negeri dan bangsa lain, boleh jadi telah membuktikan kalau kita memang belum merdeka. Sementara dari sisi pendidikan yang lebih mengutamakan angka tanpa memperhatikan kualitas akhlak generasi bisa jadi hanya akan melahirkan para calon pemimpin yang pragmatis dan kurang bisa memikirkan rakyatnya.
Berangkat dari hal itu, dan mengingat masih menumpuknya persoalan lainnya yang dihadapi bangsa dan negara ini, Efendi Gazali menawarkan langkah-langkah pemerdekaan bangsa melalui perjuangan dari pemiskinan dan pembodohan.
“Bicara kemerdekaan, maka juga bicara soal bagaimana masyarakat bawah itu bisa berjuang untuk memerdekakan dirinya dari pembodohan dan pemiskinan. Pemiskinan bisa terjadi karena bangsa ini dijajah oleh neoliberalisme dan atau karena sebagian kelompok dari bangsa ini tanpa sadar memikirkan dirinya sendiri sehingga memiskinkan kelompok lainnya. Sikap individualis ini merupakan salah satu karakter koruptor. Ini luar biasa betul. Hanya orang bodoh yang tidak tahu bahwa dia sedang dikorupsi. Karena itu, ini tugas semua kalangan yang pro terhadap kemerdekaan ideal-subtansial. Salah satu agenda penting saat ini adalah bagaimana memperjuangkan peningkatan anggaran pendidikan 20%. Selanjutnya bagaimana memantau pelaksanaannya dengan baik dan benar. Karena ketika dana mengucur ke bawah, acapkali ada potongan-potongan yang koruptif,” kata Gazali kepada SC. Magazine.
Lebih jauh, menurut salah satu peneliti terbaik UI tahun 2003 dalam bidang sosial dan kemanusiaan ini, andai tidak dimiskin-miskinkan, Indonesia adalah bangsa besar dan bisa maju. “Tapi karena tidak demikian, langkah terbaik saat ini adalah bagaimana kita mulai belajar mandiri dari lingkungan kita yang terkecil. Misalkan bila ada hutan yang rusak, mari kita coba perbaiki sendiri. Bila ada sekolah yang rusak, mari kita perbaiki sendiri. Jangan terlalu tergantung terhadap pemerintah. Tapi demikian, pada saat yang sama kita tekan pemerintah untuk mematuhi janji-janjinya dan bisa mematuhi amanahnya serta tanggung jawabnya,” katanya bersemangat.
Adib Minanurrachim
Dimuat di SC Magazine Vol II
“KEMERDEKAAN ADALAH TONGGAK INTROSPEKSI”
KOMUNIKASI politik yang terpenting dalam kemerdekaan adalah bagaimana seorang pemimpin seperti presiden atau kepala daerah, selalu mengevaluasi dan memperbaiki janji-janji politik yang mereka lakukan pada masa pemilu. Jadi dari 17 Agustus pertama ke 17 Agustus selanjutnya, adakah sesuatu yang terealisasi dari janji-janjinya?
Memang orang bisa mengukur semenjak pertama kali ia dilantik. Tapi hari kemerdekaan adalah tonggak yang bisa dijadikan ukuran, dan selayaknya pejabat itu mengevaluasi diri, apakah sudah bisa memerdekakan rakyatnya dari jabatan yang ia emban, baik dari janji-janji kampanye atau sebagai pejabat yang memiliki amanah.
Bicara kemerdekaan, maka juga bicara soal bagaimana masyarakat bawah itu bisa berjuang untuk memerdekakan dirinya dari pembodohan dan pemiskinan. Saat ini masih banyak fenomena yang mengindikasikan pembodohan dan pemiskinan. Di antaranya adalah kesenjangan intelektual dan ekonomi di antara bangsa sendiri.
Pemiskinan bisa terjadi karena bangsa ini dijajah oleh neoliberalisme dan atau karena sebagian kelompok dari bangsa ini tanpa sadar memikirkan dirinya sendiri sehingga memiskinkan kelompok lainnya. Sikap individualis ini merupakan salah satu karakter koruptor. Dan parahnya, korupsi sudah menjalar ke mana-mana. Ini luar biasa betul. Hanya orang bodoh yang tidak tahu bahwa dia sedang dikorupsi. Karena itu, ini tugas semua kalangan yang pro terhadap kemerdekaan ideal-subtansial. Ada tugas wartawan, mahasiswa, akademisi dan lainnya untuk membantu proses pemerdekaan ini.
Memang dalam memperjuangkannya, tentu setiap orang harus berusaha sendiri. Artinya secara individual, mereka juga berjuang melawan pembodohan dan pemiskinan. Tapi saya ingin mengatakan bahwa ini adalah tugas bangsa, tugas kita semua untuk melakukan pemerdekaan. Bila bangsa ini bisa merdeka dari dua hal itu, niscaya akan menjadikan bangsa mandiri. Memang ada sebagian orang yang mengatakan bahwa, ada juga dong orang miskin yang bisa berdikari. Tapi ini bukan lingkungan ideal yang dimaksud oleh UUD 1945 yang mencita-citakan pembangunan bangsa Indonesia seutuhnya. Karena pembangunan itu hanya bisa dicapai bila bangsa ini merdeka dari pembodohan dan pemiskinan. Jadi bila dari atas ada pembodohan dan pemiskinan, maka dari bawah harus ada pemerdekaan diri. Nah sekarang bagaimana melawannya. Bila dulu kita melawan penjajah Belanda, kemudian rezim otoriter, nah bila sekarang apa? Sekarang kebebasan sudah ada, tapi bukan berarti perjuangan berhenti, masih ada tugas melawan pembodohan dan pemiskianan, yaitu melalui pendidikan.
Salah satu agenda penting saat ini adalah bagaimana memperjuangkan peningkatan anggaran pendidikan 20%. Selanjutnya bagaimana memantau pelaksanaannya dengan baik dan benar. Karena ketika dana mengucur ke bawah, acapkali ada potongan-potongan yang koruptif.
Sementara itu, dalam rangka pemerdekaan, ada yang menawarkan terbentuknya civil society (CS). Sebenarnya CS itu sudah ada dan berakar dari kebudayaan kita. Banyak orang yang menganggap bahwa CS adalah kaum borjuis yang memulai perjuangan dari kafe-kafe pada zaman kebangkitan di era pencerahan Eropa. Tapi sebenarnya CS adalah sebuah masyarakat yang bisa lepas dan mandiri dari kungkungan pasar dan negara/penguasa. Saat ini tekanan dari penguasa masih ada, paling tidak penguasa yang belum bersungguh-sungguh merealisasikan janji-janjinya pada masa kampanye, dan belum menjadikan kehidupan rakyatnya sejahtera. Sementara disisi lain, tekanan pasar justru luar biasa. Saat ini kami berjuang melawan pembodohan dari pasar, salah satunya adalah melawan sinetron-sinetron yang cukup mempengaruhi dan bahkan menghegemoni pola pikir generasi muda. Itu pembodohan besar bagi bangsa. Nah dalam hal ini sudah ada CS yang melawannya, misalkan gerakan satu hari tidak melihat televisi.
Selanjutnya juga perlu ada perlawanan akibat negatif dari globalisasi. Karena ini bisa melunturkan jati diri bangsa. Ini sudah dapat dipastikan. Kami dari Salemba School menemukan indikasi bahwa ada kelompok tertetu yang ingin melunturkan jati diri bangsa, baik dengan menjadikan diri kita tergantung terhadap tekhnologinya dan atau super culture yang mereka anggap baik. Jadi mereka sangat senang sekali bila kita demikian cepat mengambil American Idol dan program-program lainnya, supaya kita terus-menerus mengikuti trend mereka. Indikatornya adalah capital flow, makro ekonomi dan lain-lain. Padahal jati diri kita semisal gotong-royong dan senasip sepenanggungan makin menipis. Coba dilihat berapa dana yang ada di Sertifikat Bank Indonesia (SBI) saat ini dan tidak bergerak untuk sektor riil? Inilah bukti bahwa kita belum merdeka dan belum bebas dari upaya-upaya yang dilakukan oleh pihak tertentu yang bertujuan memiskinkan bangsa sendiri.
Jadi sebenarnya, andai tidak dimiskin-miskinkan betul, kita ini adalah bangsa besar dan bisa maju. Tapi karena persoalannya tidak demikian, maka langkah terbaik saat ini adalah bagaimana kita bersama-sama mengajak—dari lingkungan kita yang terkecil—kita perbaiki sendiri. Andai ada hutan yang rusak, mari kita coba perbaiki sendiri. Bila ada sekolah yang rusak, mari kita perbaiki sendiri. Jangan terlalu tergantung terhadap pemerintah. Tapi demikian, pada saat yang sama kita tekan pemerintah untuk mematuhi janji-janjinya dan bisa mematuhi amanahnya serta tanggung jawabnya.
Wawancara dengan Effendi Gazali, Ph.D., MPS ID (Koordinator Program Master Komunikasi Politik UI)
Adib Minanurrachim
Dimuat di SC Magazine Vol II
Memang orang bisa mengukur semenjak pertama kali ia dilantik. Tapi hari kemerdekaan adalah tonggak yang bisa dijadikan ukuran, dan selayaknya pejabat itu mengevaluasi diri, apakah sudah bisa memerdekakan rakyatnya dari jabatan yang ia emban, baik dari janji-janji kampanye atau sebagai pejabat yang memiliki amanah.
Bicara kemerdekaan, maka juga bicara soal bagaimana masyarakat bawah itu bisa berjuang untuk memerdekakan dirinya dari pembodohan dan pemiskinan. Saat ini masih banyak fenomena yang mengindikasikan pembodohan dan pemiskinan. Di antaranya adalah kesenjangan intelektual dan ekonomi di antara bangsa sendiri.
Pemiskinan bisa terjadi karena bangsa ini dijajah oleh neoliberalisme dan atau karena sebagian kelompok dari bangsa ini tanpa sadar memikirkan dirinya sendiri sehingga memiskinkan kelompok lainnya. Sikap individualis ini merupakan salah satu karakter koruptor. Dan parahnya, korupsi sudah menjalar ke mana-mana. Ini luar biasa betul. Hanya orang bodoh yang tidak tahu bahwa dia sedang dikorupsi. Karena itu, ini tugas semua kalangan yang pro terhadap kemerdekaan ideal-subtansial. Ada tugas wartawan, mahasiswa, akademisi dan lainnya untuk membantu proses pemerdekaan ini.
Memang dalam memperjuangkannya, tentu setiap orang harus berusaha sendiri. Artinya secara individual, mereka juga berjuang melawan pembodohan dan pemiskinan. Tapi saya ingin mengatakan bahwa ini adalah tugas bangsa, tugas kita semua untuk melakukan pemerdekaan. Bila bangsa ini bisa merdeka dari dua hal itu, niscaya akan menjadikan bangsa mandiri. Memang ada sebagian orang yang mengatakan bahwa, ada juga dong orang miskin yang bisa berdikari. Tapi ini bukan lingkungan ideal yang dimaksud oleh UUD 1945 yang mencita-citakan pembangunan bangsa Indonesia seutuhnya. Karena pembangunan itu hanya bisa dicapai bila bangsa ini merdeka dari pembodohan dan pemiskinan. Jadi bila dari atas ada pembodohan dan pemiskinan, maka dari bawah harus ada pemerdekaan diri. Nah sekarang bagaimana melawannya. Bila dulu kita melawan penjajah Belanda, kemudian rezim otoriter, nah bila sekarang apa? Sekarang kebebasan sudah ada, tapi bukan berarti perjuangan berhenti, masih ada tugas melawan pembodohan dan pemiskianan, yaitu melalui pendidikan.
Salah satu agenda penting saat ini adalah bagaimana memperjuangkan peningkatan anggaran pendidikan 20%. Selanjutnya bagaimana memantau pelaksanaannya dengan baik dan benar. Karena ketika dana mengucur ke bawah, acapkali ada potongan-potongan yang koruptif.
Sementara itu, dalam rangka pemerdekaan, ada yang menawarkan terbentuknya civil society (CS). Sebenarnya CS itu sudah ada dan berakar dari kebudayaan kita. Banyak orang yang menganggap bahwa CS adalah kaum borjuis yang memulai perjuangan dari kafe-kafe pada zaman kebangkitan di era pencerahan Eropa. Tapi sebenarnya CS adalah sebuah masyarakat yang bisa lepas dan mandiri dari kungkungan pasar dan negara/penguasa. Saat ini tekanan dari penguasa masih ada, paling tidak penguasa yang belum bersungguh-sungguh merealisasikan janji-janjinya pada masa kampanye, dan belum menjadikan kehidupan rakyatnya sejahtera. Sementara disisi lain, tekanan pasar justru luar biasa. Saat ini kami berjuang melawan pembodohan dari pasar, salah satunya adalah melawan sinetron-sinetron yang cukup mempengaruhi dan bahkan menghegemoni pola pikir generasi muda. Itu pembodohan besar bagi bangsa. Nah dalam hal ini sudah ada CS yang melawannya, misalkan gerakan satu hari tidak melihat televisi.
Selanjutnya juga perlu ada perlawanan akibat negatif dari globalisasi. Karena ini bisa melunturkan jati diri bangsa. Ini sudah dapat dipastikan. Kami dari Salemba School menemukan indikasi bahwa ada kelompok tertetu yang ingin melunturkan jati diri bangsa, baik dengan menjadikan diri kita tergantung terhadap tekhnologinya dan atau super culture yang mereka anggap baik. Jadi mereka sangat senang sekali bila kita demikian cepat mengambil American Idol dan program-program lainnya, supaya kita terus-menerus mengikuti trend mereka. Indikatornya adalah capital flow, makro ekonomi dan lain-lain. Padahal jati diri kita semisal gotong-royong dan senasip sepenanggungan makin menipis. Coba dilihat berapa dana yang ada di Sertifikat Bank Indonesia (SBI) saat ini dan tidak bergerak untuk sektor riil? Inilah bukti bahwa kita belum merdeka dan belum bebas dari upaya-upaya yang dilakukan oleh pihak tertentu yang bertujuan memiskinkan bangsa sendiri.
Jadi sebenarnya, andai tidak dimiskin-miskinkan betul, kita ini adalah bangsa besar dan bisa maju. Tapi karena persoalannya tidak demikian, maka langkah terbaik saat ini adalah bagaimana kita bersama-sama mengajak—dari lingkungan kita yang terkecil—kita perbaiki sendiri. Andai ada hutan yang rusak, mari kita coba perbaiki sendiri. Bila ada sekolah yang rusak, mari kita perbaiki sendiri. Jangan terlalu tergantung terhadap pemerintah. Tapi demikian, pada saat yang sama kita tekan pemerintah untuk mematuhi janji-janjinya dan bisa mematuhi amanahnya serta tanggung jawabnya.
Wawancara dengan Effendi Gazali, Ph.D., MPS ID (Koordinator Program Master Komunikasi Politik UI)
Adib Minanurrachim
Dimuat di SC Magazine Vol II
“SOLUSINYA EKONOMI SYARI’AH”
SAAT INI masyarakat kita tengah menghadapi masalah-masalah ekonomi. Ini terbukti dari makin meningkatnya jumlah orang miskin. Tahun 2005 jumlah orang miskin adalah 35, 2%. Sementara pada tahun 2006 meningkat menjadi 39,4%. Sementara jumlah pengangguran adalah 11 % dari angkatan kerja. Saya kira hal ini menunjukkan bahwa betapa beratnya masalah-masalah ekonomi yang dihadapi masyarakat kita.
Beberapa waktu yang lalu harga minyak tanah naik. Sementara baru-baru ini adalah minyak goreng dan susu. Ini berpengaruh pada daya beli masyarakat yang semakin rendah. Jangankan yang tidak punya penghasilan, yang punya penghasilan saja mengalami kesulitan. Ini hanya sedikit contoh betapa masalah ekonomi merupakan persoalan yang sangat berat.
Lebih jauh, kondisi mikro ekonomi kita hampir tidak jalan, meski dari sudut makro ekonomi kita membaik. Tapi membaiknya sudut makro ini bukan karena membaiknya ekonomi dalam negeri, tapi karena banyaknya uang yang mengalir ke Indonesia. Sekarang ini ada sekira 500 trilyun uang luar negeri yang mengalir ke dalam negeri. Tapi uang tersebut hanya disimpan di Sertifikat Bank Indonesia (SBI) untuk diambil bunganya. Tidak diberikan kepada sektor riil. Akibatnya, meski uang banyak tapi Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) tambah tidak baik. Sementara upaya-upaya yang dilakukan, tampaknya belum bisa merubah keadaan.
Masalah ekonomi ini karena dua hal, kultural dan struktural. Kultural itu dicirikan dari etos kerja yang semakin melemah. Orang lebih banyak mengandalkan pada belas kasihan orang lain, seperti masih banyaknya pengemis-pengemis yang sehat di jalanan. Ini sama dengan kondisi negara yang juga mengemis kepada negara-negara maju. Ini sikap yang tidak arif. Sementara secara struktural, kebijakan-kebijakan pemerintah masih belum berorientasi kepada kepentingan masyarakat. Misalkan seperti kebijakan impor beras yang justru merugikan sektor ekonomi mikro. Seharusnya pemerintah mengeluarkan kebijakan yang lebih berani. Sudahlah soal beras biar kita penuhi sesuai dengan kekuatan kita sendiri. Bahkan bila perlu kita berpuasa. Jadi harus ada larangan tentang impor. Kembali pada tahun sebelum 66. Ini tidak apa-apa. Tapi ironisnya saat ini kita serba mengimpor. Mulai dari sagu, gula, terigu dan lainnya. Ini tidak baik. Sangat membahayakan. Kita akan menjadi bangsa yang dependen. Tidak independen!
Sementara Bulog sejauh ini belum banyak berperan. Misalkan sebelum petani panen harga bawang adalah Rp 20.000,00. Tapi begitu panen mendadak harga bawang menjadi rendah, hanya Rp 10.000.00. Nah ini kan sangat melemahkan semangat petani untuk meningkatkan hasil panen. Seharusnya yang Rp 20.000,00 ditetapkan. Sementara sisa barangnya dibeli Bulog. Jadi rakyat itu menjualnya ke Bulog. Lalu Bulog menyimpannya untuk dijual ke masyarakat. Tapi saat ini yang terjadi kan malah sebaliknya, bagaimana uang Bulog itu dikorup sedasyat-dasyatnya.
Tampaknya ini merupakan indikasi menurunnya kesalehan sosial atau tanggung jawab sosial dari masyarakat kita. Artinya orang-orang yang mendapatkan amanah dan kedudukan itu hampir tidak ada kesalehan sosialnya.
Melihat hal di atas dan mengingat sebagian besar warga Indonesia adalah muslim, ini memang ironis. Tapi walau bagaimana pun, kita patut bersyukur bahwa mayoritas masyarakat kita muslim. Hanya barangkali saat ini pemahaman tentang keislaman perlu menyeluruh. Karena sejauh ini Islam hanya dipandang hanya dalam sudut pandang vertikal. Jadi yang terpenting adalah bagaimana kita membangun kesalehan secara individu dengan Allah SWT. Padahal bila kita melihat dari berbagai macam ayat dan hadist, yang individual itu harus tercermin dari kesalehan sosial. Shalat yang baik itu bukan hanya ditentukan dari praktik shalat yang baik, tapi juga ditentukan bagaiamana setelah shalat itu dia semakin sayang sama masyarakat, bertanggung jawab, selalu merasa bahwa Allah selalu mengawasi kita, melarang kita untuk KKN. Jadi tidak dipisahkan.
Kedua adalah sistemnya yang belum jalan. Jadi norma-norma agama itu belum terefleksikan dalam sistem. Seharusnya kan sudah menjadi sistem. Bukan sekedar norma-norma saja.
Jadi, menurut saya pemerintah harus serius betul memperhatikan masalah ekonomi ini. Jika tidak, akan memburuk. Salah satu yang krusial adalah perubahan sistem ekonomi. Kita harus berganti kiblat. Bukan lagi kapitalis, tapi syariah. Jika syariah, penekanannya bukan pada bunga tapi pada sistem bagi hasil. Saya kira ini akan membawa perubahan yang lebih baik.
Wawancara dengan Prof. Dr. KH. Didin hafiduddin (Ketua Umum Badan Amil Zakat Nasional)
Adib Minanurrachim
Dimuat di SC Magazine Vol II
Beberapa waktu yang lalu harga minyak tanah naik. Sementara baru-baru ini adalah minyak goreng dan susu. Ini berpengaruh pada daya beli masyarakat yang semakin rendah. Jangankan yang tidak punya penghasilan, yang punya penghasilan saja mengalami kesulitan. Ini hanya sedikit contoh betapa masalah ekonomi merupakan persoalan yang sangat berat.
Lebih jauh, kondisi mikro ekonomi kita hampir tidak jalan, meski dari sudut makro ekonomi kita membaik. Tapi membaiknya sudut makro ini bukan karena membaiknya ekonomi dalam negeri, tapi karena banyaknya uang yang mengalir ke Indonesia. Sekarang ini ada sekira 500 trilyun uang luar negeri yang mengalir ke dalam negeri. Tapi uang tersebut hanya disimpan di Sertifikat Bank Indonesia (SBI) untuk diambil bunganya. Tidak diberikan kepada sektor riil. Akibatnya, meski uang banyak tapi Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) tambah tidak baik. Sementara upaya-upaya yang dilakukan, tampaknya belum bisa merubah keadaan.
Masalah ekonomi ini karena dua hal, kultural dan struktural. Kultural itu dicirikan dari etos kerja yang semakin melemah. Orang lebih banyak mengandalkan pada belas kasihan orang lain, seperti masih banyaknya pengemis-pengemis yang sehat di jalanan. Ini sama dengan kondisi negara yang juga mengemis kepada negara-negara maju. Ini sikap yang tidak arif. Sementara secara struktural, kebijakan-kebijakan pemerintah masih belum berorientasi kepada kepentingan masyarakat. Misalkan seperti kebijakan impor beras yang justru merugikan sektor ekonomi mikro. Seharusnya pemerintah mengeluarkan kebijakan yang lebih berani. Sudahlah soal beras biar kita penuhi sesuai dengan kekuatan kita sendiri. Bahkan bila perlu kita berpuasa. Jadi harus ada larangan tentang impor. Kembali pada tahun sebelum 66. Ini tidak apa-apa. Tapi ironisnya saat ini kita serba mengimpor. Mulai dari sagu, gula, terigu dan lainnya. Ini tidak baik. Sangat membahayakan. Kita akan menjadi bangsa yang dependen. Tidak independen!
Sementara Bulog sejauh ini belum banyak berperan. Misalkan sebelum petani panen harga bawang adalah Rp 20.000,00. Tapi begitu panen mendadak harga bawang menjadi rendah, hanya Rp 10.000.00. Nah ini kan sangat melemahkan semangat petani untuk meningkatkan hasil panen. Seharusnya yang Rp 20.000,00 ditetapkan. Sementara sisa barangnya dibeli Bulog. Jadi rakyat itu menjualnya ke Bulog. Lalu Bulog menyimpannya untuk dijual ke masyarakat. Tapi saat ini yang terjadi kan malah sebaliknya, bagaimana uang Bulog itu dikorup sedasyat-dasyatnya.
Tampaknya ini merupakan indikasi menurunnya kesalehan sosial atau tanggung jawab sosial dari masyarakat kita. Artinya orang-orang yang mendapatkan amanah dan kedudukan itu hampir tidak ada kesalehan sosialnya.
Melihat hal di atas dan mengingat sebagian besar warga Indonesia adalah muslim, ini memang ironis. Tapi walau bagaimana pun, kita patut bersyukur bahwa mayoritas masyarakat kita muslim. Hanya barangkali saat ini pemahaman tentang keislaman perlu menyeluruh. Karena sejauh ini Islam hanya dipandang hanya dalam sudut pandang vertikal. Jadi yang terpenting adalah bagaimana kita membangun kesalehan secara individu dengan Allah SWT. Padahal bila kita melihat dari berbagai macam ayat dan hadist, yang individual itu harus tercermin dari kesalehan sosial. Shalat yang baik itu bukan hanya ditentukan dari praktik shalat yang baik, tapi juga ditentukan bagaiamana setelah shalat itu dia semakin sayang sama masyarakat, bertanggung jawab, selalu merasa bahwa Allah selalu mengawasi kita, melarang kita untuk KKN. Jadi tidak dipisahkan.
Kedua adalah sistemnya yang belum jalan. Jadi norma-norma agama itu belum terefleksikan dalam sistem. Seharusnya kan sudah menjadi sistem. Bukan sekedar norma-norma saja.
Jadi, menurut saya pemerintah harus serius betul memperhatikan masalah ekonomi ini. Jika tidak, akan memburuk. Salah satu yang krusial adalah perubahan sistem ekonomi. Kita harus berganti kiblat. Bukan lagi kapitalis, tapi syariah. Jika syariah, penekanannya bukan pada bunga tapi pada sistem bagi hasil. Saya kira ini akan membawa perubahan yang lebih baik.
Wawancara dengan Prof. Dr. KH. Didin hafiduddin (Ketua Umum Badan Amil Zakat Nasional)
Adib Minanurrachim
Dimuat di SC Magazine Vol II
“PENDIDIKAN YANG MENGUTAMAKAN AKHLAK”
MENJELANG kemerdekaan Indonesia yang ke 62 tahun ini, alhamdulillah, saya melihat bangsa ini masih tegar meski berbagai macam krisis telah menimpa. Hanya saja ada fenomena-fenomena yang mungkin kurang menyamankan. Misalkan masih banyak penyelewengan, perselingkuhan, pelacuran, keamanan sosial yang kurang ideal dan masalah ketetanngan jiwa yang berkurang. Ini dari sisi sosial. Kalau bukan karena kekokohan iman, barangkali kondisinya makin meburuk.
Jadi, secara sosial-ekonomi bangsa Indonesia belum merdeka dalam arti sesungguhnya. Misalkan soal beras kita masih mengimpor, dan baru-baru ini kerepotan masalah susu. Artinya bangsa ini masih belum bisa mandiri. Padahal tanah luas dan kekayaan alam melimpah. Ini memprihatinkan.
Hal itu terjadi, barangkali selain karena kita sendiri boleh jadi tidak serius untuk bisa mandiri, juga karena ada faktor x yang menginginkan bangsa ini agar tidak merdeka seutuhnya.
Dari dalam, coba saja kita lihat fenomena pembalakan hutan secara liar hingga menimbulkan kekeringan dan para petani pun kebingungan. Bukankah ini bukti bahwa kita belum arif terhadap alam dan belum serius untuk mandiri? Lebih jauh, masih banyak orang Indonesia yang mementingkan diri sendiri dan kelompok, kurang memikirkan bangsa dan negaranya.
Sementara dari luar, seakan-akan ada negara asing yang membantu kita. Tapi membantunya bukan untuk menjadikan bangsa ini mandiri, tapi sebaliknya menjadi tergantung kepada mereka. Hal ini, meski sulit dikatakan, tapi faktanya memang terjadi. Bila ada bantuan misalkan gandum, itu bukan bertujuan agar kita bisa menanam sendiri dan mandiri. Tapi sebaliknya, agar kita tergantung. Atau bantuan lainnya seperti dari IMF dan World Bank. Jadi ini semua adalah perangkap ekonomi yang menjadikan kita seakan-akan tidak akan pernah merdeka dalam arti ideal subtansial.
Kemerdekaan bila ditinjau dari Islam, kita merupakan bangsa yang kurang memiliki kekokohan iman. Belajar pun kurang serius dan kurang memiliki tujuan mulia. Misalkan para pelajar saat ini, mereka itu menuntut ilmu untuk memajukan bangsa atau sekedar belajar agar mendapatkan ijazah dan memperoleh pekerjaan? Dua hal ini berbeda. Bila belajar hanya untuk memperoleh kerja, secara tidak langsung pola pikir politik etis yang diterapkan Belanda pada masa lalu terulang kembali. Karena Belanda memberikan kebijakan politik etis, itu hanya supaya kita menjadi pekerja mereka.
Jadi keilmuan yang dalam Islam akan dimintai pertanggungjawaban, itu tidak diteruskan melalui pengabdian kepada nusa dan bangsa. Hanya sedikit dari bangsa ini yang malkukannya. Nah ini dari orang-orang yang akan membina/mengurus bangsa. Bila sudah begini, bagaimana generasi kita selanjutnya?
Sementara dari sisi penguasa, tampak masih didominasi oleh kepentingan pribadi dan kelompok. Cobalah anda teliti, berapa persen dari seluruh pejabat di Indonesia yang punya ketulusan untuk memajukan bangsa dan negara ini? Jadi nasionalisme yang mereka omongkan ketika masih belum menjadi pejabat adalah nasionalisme semu. Karena mereka lupa setelah mendapatkan jabatan.
Dalam Islam, itu kan disebutkan khoiru annaasi angfauhum linnaas. Nah bila ini ditanamkan, bahwa kita berjuang untuk membahagiakan orang lain, itu kan baik. Tapi sayang ini kurang ditanamkan dalam bangsa ini.
Pola pikir yang individual tersebut, bisa juga dikatakan bahwa ada fenomena ketakmerdekaan spiritual dari bangsa ini. Karena sikap individual adalah salah satu bukti bahwa orang itu terjangkiti kekeringan spiritual. Bila memiliki spiritual yang tinggi, pasti ia akan memikirkan nasib orang lain.
Memang secara materi, manusia itu membutuhkan makan dan segala hal yang terkait kebutuhan jasmani. Tapi bila spiritualitasnya tinggi, yang ingin ia capai adalah kebahagiaan spiritual. Apa bedanya antara kebahagiaan jasmani dan spiritual? Bila jasmanai itu terbatas, sementara spiritual itu tidak terbatas. Misalkan keinginannya adalah kepuasan seksual. Setelah ia memperolehnya,maka ya sudah, selesai. Tapi ada satu kesenangan yang tak terbatas, yakni kesenangan spiritual. Karena hidup bagi spiritualis itu bukan untuk dapat, tapi untuk memberi. Mudahnya bisa diibaratkan dengan orang tua kita. Ketika masih kecil, kita sangat menginginkan sebuah mainan. Kala itu orang tua kita tidak bisa membelikannya karena tidak punya uang. Tapi demikian, orang tua kita tidak berarti tidak berusaha. Mereka berusaha sekeras tenaga mencari reziki dan menabung sedikit demi sedikit agar bisa membeli mainan tersebut. Nah melihat ia berhasil membelikan mainan untuk anaknya, dan anaknya senang dengan mainan itu, hati si orang tua sudah senang. Padahal ia mengeluarkan biaya. Jadi, bila spiritualitas seseorang itu tinggi, maka dia tidak akan menyakiti orang lain. Karena Allah itu Maha Pengasih dan Penyayang. Sehingga yang keluar dari orang tingkat spiritualitasnya tinggi maka segala ucapan dan tindakannya akan penuh kasih sayang. Nah nilai-nilai seperti ini dan atau pola cinta kasih oraang tua kepada anaknya, seharusnya diterapkan oleh para penguasa pada bangsa dan negara ini. Tapi sayang, ini masih belum ditanamkan kepada generasi bangsa secara total.
Fenomena di atas, barangkali juga kurang maksimalnya pendidikan agama di Indonesia. Karena fenomena yang terjadi, pendidikan agama hanya ditujukan untuk mengisi intelektualitas saja. Belum mengarahkan bagaimana bisa terjun ke masyarakat dan memberikan pengorbanan untuk mereka. Lebih jauh pendidikan agama masih sangat kurang. Karena pendidikan di Indonesia ini sudah sekuler. Sehingga belajar agama itu hanya sekilas. Karena pendidikan agama tidak dijadikan faktor untuk lulus-tidaknya seseorang. Bagaimana perilakunya di kelas, di rumah dan di lingkungan lain tidak tidak menjadi faktor yang signifikan bagi kelulusan seorang pelajar.
Jadi akhlak itu seharusnya dijadikan faktor fital bagi menilai seorang pelajar. Karena akhlak itu adalah buah dari sebuah keyakinan dan ibadah. Kalau aqidah dan ibadahnya benar maka buahnya benar. Lebih jauh Rosulullah bersabda, innamaa bu’istu liutammima makarimal akhlak (saya diutus untuk memperbaiki akhlak).
Jadi, tujuan pendidikan Islam secara umum adalah menciptakan seorang mukmin yang ahli ibadah, soleh, baik dunia dan akhirat.
Tentang hal ini, Yusuf Qordawi mengatakan bahwa tujuan pendidikan adalah menciptakan satu generasi muslim, bukan pribadi, tapi generasi yang menyatu dan mampu menjadi perekat ummat. Nah bila ada lembaga pendidikan yang mengajarkan menjadi perekat ummat, ini baik. Misalkan Gontor atau pesantren-pesantren lainnya yang mengajak orang menjadi perekat ummat.
Sebagai da’i saya menginginkan agar bangsa ini menyadari dan kembali pada Allah dan melakukan evaluasi mengapa bangsa ini seakan-akan sulit untuk bisa mengarah ke depan. Ummat Islam dan umat lainnya perlu bersatu dan saling bahu-membahu membangun dan meningkatkan kualitas pendidikan agar kehidupan bangsa Indonesia bisa membaik.
Wawancara dengan DR H Ahmad Satori Ismail, MA (Ketua Umum Ikatan Da’i Indonesia)
Adib Minanurrachim
Dimuat di SC Magazine Vol II
Jadi, secara sosial-ekonomi bangsa Indonesia belum merdeka dalam arti sesungguhnya. Misalkan soal beras kita masih mengimpor, dan baru-baru ini kerepotan masalah susu. Artinya bangsa ini masih belum bisa mandiri. Padahal tanah luas dan kekayaan alam melimpah. Ini memprihatinkan.
Hal itu terjadi, barangkali selain karena kita sendiri boleh jadi tidak serius untuk bisa mandiri, juga karena ada faktor x yang menginginkan bangsa ini agar tidak merdeka seutuhnya.
Dari dalam, coba saja kita lihat fenomena pembalakan hutan secara liar hingga menimbulkan kekeringan dan para petani pun kebingungan. Bukankah ini bukti bahwa kita belum arif terhadap alam dan belum serius untuk mandiri? Lebih jauh, masih banyak orang Indonesia yang mementingkan diri sendiri dan kelompok, kurang memikirkan bangsa dan negaranya.
Sementara dari luar, seakan-akan ada negara asing yang membantu kita. Tapi membantunya bukan untuk menjadikan bangsa ini mandiri, tapi sebaliknya menjadi tergantung kepada mereka. Hal ini, meski sulit dikatakan, tapi faktanya memang terjadi. Bila ada bantuan misalkan gandum, itu bukan bertujuan agar kita bisa menanam sendiri dan mandiri. Tapi sebaliknya, agar kita tergantung. Atau bantuan lainnya seperti dari IMF dan World Bank. Jadi ini semua adalah perangkap ekonomi yang menjadikan kita seakan-akan tidak akan pernah merdeka dalam arti ideal subtansial.
Kemerdekaan bila ditinjau dari Islam, kita merupakan bangsa yang kurang memiliki kekokohan iman. Belajar pun kurang serius dan kurang memiliki tujuan mulia. Misalkan para pelajar saat ini, mereka itu menuntut ilmu untuk memajukan bangsa atau sekedar belajar agar mendapatkan ijazah dan memperoleh pekerjaan? Dua hal ini berbeda. Bila belajar hanya untuk memperoleh kerja, secara tidak langsung pola pikir politik etis yang diterapkan Belanda pada masa lalu terulang kembali. Karena Belanda memberikan kebijakan politik etis, itu hanya supaya kita menjadi pekerja mereka.
Jadi keilmuan yang dalam Islam akan dimintai pertanggungjawaban, itu tidak diteruskan melalui pengabdian kepada nusa dan bangsa. Hanya sedikit dari bangsa ini yang malkukannya. Nah ini dari orang-orang yang akan membina/mengurus bangsa. Bila sudah begini, bagaimana generasi kita selanjutnya?
Sementara dari sisi penguasa, tampak masih didominasi oleh kepentingan pribadi dan kelompok. Cobalah anda teliti, berapa persen dari seluruh pejabat di Indonesia yang punya ketulusan untuk memajukan bangsa dan negara ini? Jadi nasionalisme yang mereka omongkan ketika masih belum menjadi pejabat adalah nasionalisme semu. Karena mereka lupa setelah mendapatkan jabatan.
Dalam Islam, itu kan disebutkan khoiru annaasi angfauhum linnaas. Nah bila ini ditanamkan, bahwa kita berjuang untuk membahagiakan orang lain, itu kan baik. Tapi sayang ini kurang ditanamkan dalam bangsa ini.
Pola pikir yang individual tersebut, bisa juga dikatakan bahwa ada fenomena ketakmerdekaan spiritual dari bangsa ini. Karena sikap individual adalah salah satu bukti bahwa orang itu terjangkiti kekeringan spiritual. Bila memiliki spiritual yang tinggi, pasti ia akan memikirkan nasib orang lain.
Memang secara materi, manusia itu membutuhkan makan dan segala hal yang terkait kebutuhan jasmani. Tapi bila spiritualitasnya tinggi, yang ingin ia capai adalah kebahagiaan spiritual. Apa bedanya antara kebahagiaan jasmani dan spiritual? Bila jasmanai itu terbatas, sementara spiritual itu tidak terbatas. Misalkan keinginannya adalah kepuasan seksual. Setelah ia memperolehnya,maka ya sudah, selesai. Tapi ada satu kesenangan yang tak terbatas, yakni kesenangan spiritual. Karena hidup bagi spiritualis itu bukan untuk dapat, tapi untuk memberi. Mudahnya bisa diibaratkan dengan orang tua kita. Ketika masih kecil, kita sangat menginginkan sebuah mainan. Kala itu orang tua kita tidak bisa membelikannya karena tidak punya uang. Tapi demikian, orang tua kita tidak berarti tidak berusaha. Mereka berusaha sekeras tenaga mencari reziki dan menabung sedikit demi sedikit agar bisa membeli mainan tersebut. Nah melihat ia berhasil membelikan mainan untuk anaknya, dan anaknya senang dengan mainan itu, hati si orang tua sudah senang. Padahal ia mengeluarkan biaya. Jadi, bila spiritualitas seseorang itu tinggi, maka dia tidak akan menyakiti orang lain. Karena Allah itu Maha Pengasih dan Penyayang. Sehingga yang keluar dari orang tingkat spiritualitasnya tinggi maka segala ucapan dan tindakannya akan penuh kasih sayang. Nah nilai-nilai seperti ini dan atau pola cinta kasih oraang tua kepada anaknya, seharusnya diterapkan oleh para penguasa pada bangsa dan negara ini. Tapi sayang, ini masih belum ditanamkan kepada generasi bangsa secara total.
Fenomena di atas, barangkali juga kurang maksimalnya pendidikan agama di Indonesia. Karena fenomena yang terjadi, pendidikan agama hanya ditujukan untuk mengisi intelektualitas saja. Belum mengarahkan bagaimana bisa terjun ke masyarakat dan memberikan pengorbanan untuk mereka. Lebih jauh pendidikan agama masih sangat kurang. Karena pendidikan di Indonesia ini sudah sekuler. Sehingga belajar agama itu hanya sekilas. Karena pendidikan agama tidak dijadikan faktor untuk lulus-tidaknya seseorang. Bagaimana perilakunya di kelas, di rumah dan di lingkungan lain tidak tidak menjadi faktor yang signifikan bagi kelulusan seorang pelajar.
Jadi akhlak itu seharusnya dijadikan faktor fital bagi menilai seorang pelajar. Karena akhlak itu adalah buah dari sebuah keyakinan dan ibadah. Kalau aqidah dan ibadahnya benar maka buahnya benar. Lebih jauh Rosulullah bersabda, innamaa bu’istu liutammima makarimal akhlak (saya diutus untuk memperbaiki akhlak).
Jadi, tujuan pendidikan Islam secara umum adalah menciptakan seorang mukmin yang ahli ibadah, soleh, baik dunia dan akhirat.
Tentang hal ini, Yusuf Qordawi mengatakan bahwa tujuan pendidikan adalah menciptakan satu generasi muslim, bukan pribadi, tapi generasi yang menyatu dan mampu menjadi perekat ummat. Nah bila ada lembaga pendidikan yang mengajarkan menjadi perekat ummat, ini baik. Misalkan Gontor atau pesantren-pesantren lainnya yang mengajak orang menjadi perekat ummat.
Sebagai da’i saya menginginkan agar bangsa ini menyadari dan kembali pada Allah dan melakukan evaluasi mengapa bangsa ini seakan-akan sulit untuk bisa mengarah ke depan. Ummat Islam dan umat lainnya perlu bersatu dan saling bahu-membahu membangun dan meningkatkan kualitas pendidikan agar kehidupan bangsa Indonesia bisa membaik.
Wawancara dengan DR H Ahmad Satori Ismail, MA (Ketua Umum Ikatan Da’i Indonesia)
Adib Minanurrachim
Dimuat di SC Magazine Vol II
Langganan:
Postingan (Atom)