(II)
MENYAMBUT kemerdekaan ini, sudah sepatutnya kita bersyukur kepada Allah SWT. Memang masih banyak persoalan yang perlu segera diselesaikan. Sehingga ada yang mengatakan bahwa secara ideal-subtansial, kita belum merdeka.
Di tengah pelbagai masalah yang menimpa bangsa ini, ada yang memberikan tawaran radikal dengan perubahan bentuk negara. Alasan yang dikemukakan bermacam-macam. Ada yang mengatakan bahwa hingga detik ini Pancasila belum bisa menawarkan perubahan yang signifikan, para pejabatnya bayak yang korup dan keluar dari nilai-nilai Islam begitu pula masyarakatnya, sehingga mereka beranggapan perlu ada penerapan syariah, menjadi negara Islam. Dalam konteks ini, saya tidak bicara salah-benar atau baik-tidak baik. Tapi persoalannya ini bukan masalah dasar negara atau filosofi kebangsaannya. Tapi semata-mata persoalan manusianya yang belum beres.
Khilafah, itu kan sistem politik. Namanya kholifah misalkan, kecuali khulafaurrasyidin Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali, yang dholim juga tidak kurang-kurang. Misalkan Kholifah Malik Abdul Malik bin Marwan. Selama menjadi kholifah—waktu itu jumlah manusia di dunia barangkali masih berkisar 3, 5 juta—ia telah membunuh rakyat sebanyak 70 ribu. Begitu pula kholifah-kholifah pada masa Dinasti Usmani, juga banyak melakukan kedzoliman. Jadi sistem itu memang harus baik. Tapi jangan hanya simbol. Saat ini persoalannya bukan simbol. Tapi orangnya. Pancasila sudah baik, UUD juga sudah baik. Hanya implementasinya saja yang kurang baik.
Inti kemerdekaan, salah satunya harus punya jati diri yang utuh. Tidak terkontaminasi dan tidak terpengaruh oleh siapa pun. Dulu nenek moyang kita dijajah oleh belanda lebih dari 300 tahun, justru semakin kokoh mempertahankan jati diri bangsa. Tapi sekarang, hanya karena pengaruh globalisasi, internet dan televisi kita menjadi belanda semua, menjadi kebarat-baratan. Sikap gotong-royong dan toleran terkikis menuju individualis, rela berkorban terkikis menjadi pamrih dan seterusnya.
Untuk memajukan menuju bangsa, yang paling mendasar dibutuhkan saat ini adalah pendidikan. Contoh mudahnya adalah Jepang. Setelah Negeri Sakura ini mengalami efek dari bom atom, yang ditanyakan pertama kali oleh Kaisar Jepang adalah jumlah tenaga pendidik. Karena bila masih ada pendidik, masih ada harapan negara itu bisa bangkit kembali. Nah persoalannya saat ini, pendidikan di Indonesia memang sangat merosot. Salah satunya adalah soal anggaran pendidikan. Sehingga perhatian yang kurang ini kurang bisa melahirkan generasi yang mandiri dan berakhlak mulia. Ini bisa dilihat dari perilaku para pejabat yang korup, mereka itu kan sarjana, tapi kenapa masih korup? Nah, berarti ada sesuatu yang hilang dari dunia pendidikan, yaitu moral dan nilai-nilai agama. Selama ini yang ditonjolkan masih sisi materi saja, unsur rohani kurang diberi ruang. Padahal ini penting. Karena bila sebuah generasi memiliki iman yang kokoh, dalam dirinya akan timbul kesadaran penuh bahwa ia adalah manusia yang selalu bersama Tuhan, selalu dimonitor dan dideteksi. Sehingga yang lahir dalam bentuk perilaku adalah semangat untuk berbuat baik.
Dalam bahasa arabnya, pendidikan adalah tarbiah, bukan sekedar ta’lim. Bila ta’lim itu tranfer of knowledge. Sementara tarbiyah itu berasal dari kata ruh. Sehingga ada kesadaran bahwa kita punya ruh, kita punya Tuhan yang selalu bersama kita. Sehingga dalam diri kita akan lahir semangat berbuat baik. Sementara ketika akan berbuat jahat, kita akan berpikir ulang-ulang. Karena Tuhan selalu bersama kita.
Pendidikan itu harus menyeluruh. Karena yang membentuk karakter seseorang itu juga lingkungan. Misalkan saya punya anak empat. Mereka sudah saya didik dengan benar, baik ibadah dan seterusnya. Sementara anak orang lain terserah, saya tidak ikut campur. Nah ini tidak bisa. Karena anak saya yang empat itu kan akan tergabung dengan... misalkan 94 anak-anak lainnya, baik di sekolah atau di lingkungan lainnya. Bayangkan apakah anak saya yang empat itu bisa mewarnai yang 94 anak lainnya? Bukankah malah sebaliknya? Jadi, pendidikan moral ini adalah pendidikan bersama. Tidak bisa secara sendiri-sendiri.
Wawancara dengan Prof Dr KH Said Aqil Syiraj (Ketua PBNU Jakarta)
Adib Minanurrachim
Dimuat di SC Magazine Vol II
Kamis, 27 Desember 2007
“PERBEDAAN MADZHAB TAK MENGURANGI SOLIDARITAS ISLAM”
(I)
DALAM Islam, kita harus memaknai kemerdekaan sebagaimana Al-Qur’an mengatakan kuntum khoiro ummatin ukhrijat linnas ta’muruna bil makruf wa tanhauna anil mungkar wa tu’minuna billah.
Salah satu nilai kemerdekaan adalah kebebasan. Tapi ini juga ada batasannya. Karena kebebasan yang tanpa batas itu akan mengganggu orang lain. Namanya Interaksi sosial, saling menyempurnakan itu pasti ada batasnya. Begitu juga dalam beragama. Kita bebas beragama, tapi jangan mematikan agama lain.
Dalam Islam itu yang baku dan tidak boleh diotak-atik itu hanya 5 %, seperti rukun Iman dan Islam. Ada lagi 13 item yang tidak boleh dimakan, seperti bangkai, babi dan lainnya. Ada pula beberapa perempuan yang tidak boleh dikawin, adik kandung, ibu kandung dan lainnya. Selain itu adalah wilayah kita berkreasi, wilayah kita untuk ijtihad, memahami nilai-nilai Islam untuk dikembangkan. Makanya Islam itu tidak sekedar menawarkan aqidah dan syari’ah, tapi Islam juga menawarkan tsaqofah (ilmu pengetahuan), muhadloroh (budaya) dan tamddun (sistem). Misalkan ketika Rosulullah membangun madinah, beliau membangun masyarakat yang memiliki UU agar sadar akan hak dan kewajiban, sehingga disebut mutamaddin atau masyarakat madani. Kotanya yang mulanya bernama Yatsrib diganti Madinah. Sementara sistemnya namanya tamaddun.
Jadi kemunculan madzhab itu sama sekali tidak mengganggu dan mengurangi solidaritas umat Islam. Karena kita satu Tuhan, satu Al-Qur’an dan satu Qiblat. Madzhab itu pemahaman masing-masing individu sesuai dengan imamnya.
Soal fanatisme, itu memang ada di mana-mana. Tidak hanya di Islam, tapi juga ada di Katolik, Hindu dan seterusnya. Yang menjadi persoalan hanya bila fanatisme itu melahirkan kekerasan, itu sudah tidak benar. Membuktikan bahwa kadar intelektualitasnya sangat rendah. Karena tidak ada agama yang mengajarkan kekerasan.
Sementara untuk mempersatukan umat Islam pada khususnya dan bangsa Indonesia umumnya, marilah kita tonjolkan Islam yang rahmatan lil alamin. Karena Islam itu agama yang humanis, bukan hanya aqidah dan syariah. Jadi... ibadah shalat, zakat, puasa dan seterusnya yang berhak menilai atau memberi pahala itu Allah. Kita tidak usah masuk di situ. Karena bila kita masuk di situ, kita nanti akan menjadi Tuhan. Kita ini wilayahnya adalah budaya, peradaban dan ilmu pengetahuan. Komunikasi dan interaksi dan bagaimana kita mengajak orang, melakukan kebaikan dan meninggalkan keburukan. Seperti yang dilakukan oleh Wali Songo.
Jadi marilah kita laksanakan Islam dengan ramah. Selain shalat, zakat dan seterusnya kita juga berakhlakul karimah. Salah satu contoh yang menarik adalah bank syari’ah, yang kabarnya para nasabahnya juga banyak yang non muslim. Di sana ada kejujuran dan keterbukaan. Nah dakwah seperti inilah yang bagus.
Wawancara dengan Prof. Dr. KH. Said Aqil Siraj, MA (Ketua PBNU Jakarta)
Adib Minanurrachim
Dimuat di SC Magazine Vol II
DALAM Islam, kita harus memaknai kemerdekaan sebagaimana Al-Qur’an mengatakan kuntum khoiro ummatin ukhrijat linnas ta’muruna bil makruf wa tanhauna anil mungkar wa tu’minuna billah.
Salah satu nilai kemerdekaan adalah kebebasan. Tapi ini juga ada batasannya. Karena kebebasan yang tanpa batas itu akan mengganggu orang lain. Namanya Interaksi sosial, saling menyempurnakan itu pasti ada batasnya. Begitu juga dalam beragama. Kita bebas beragama, tapi jangan mematikan agama lain.
Dalam Islam itu yang baku dan tidak boleh diotak-atik itu hanya 5 %, seperti rukun Iman dan Islam. Ada lagi 13 item yang tidak boleh dimakan, seperti bangkai, babi dan lainnya. Ada pula beberapa perempuan yang tidak boleh dikawin, adik kandung, ibu kandung dan lainnya. Selain itu adalah wilayah kita berkreasi, wilayah kita untuk ijtihad, memahami nilai-nilai Islam untuk dikembangkan. Makanya Islam itu tidak sekedar menawarkan aqidah dan syari’ah, tapi Islam juga menawarkan tsaqofah (ilmu pengetahuan), muhadloroh (budaya) dan tamddun (sistem). Misalkan ketika Rosulullah membangun madinah, beliau membangun masyarakat yang memiliki UU agar sadar akan hak dan kewajiban, sehingga disebut mutamaddin atau masyarakat madani. Kotanya yang mulanya bernama Yatsrib diganti Madinah. Sementara sistemnya namanya tamaddun.
Jadi kemunculan madzhab itu sama sekali tidak mengganggu dan mengurangi solidaritas umat Islam. Karena kita satu Tuhan, satu Al-Qur’an dan satu Qiblat. Madzhab itu pemahaman masing-masing individu sesuai dengan imamnya.
Soal fanatisme, itu memang ada di mana-mana. Tidak hanya di Islam, tapi juga ada di Katolik, Hindu dan seterusnya. Yang menjadi persoalan hanya bila fanatisme itu melahirkan kekerasan, itu sudah tidak benar. Membuktikan bahwa kadar intelektualitasnya sangat rendah. Karena tidak ada agama yang mengajarkan kekerasan.
Sementara untuk mempersatukan umat Islam pada khususnya dan bangsa Indonesia umumnya, marilah kita tonjolkan Islam yang rahmatan lil alamin. Karena Islam itu agama yang humanis, bukan hanya aqidah dan syariah. Jadi... ibadah shalat, zakat, puasa dan seterusnya yang berhak menilai atau memberi pahala itu Allah. Kita tidak usah masuk di situ. Karena bila kita masuk di situ, kita nanti akan menjadi Tuhan. Kita ini wilayahnya adalah budaya, peradaban dan ilmu pengetahuan. Komunikasi dan interaksi dan bagaimana kita mengajak orang, melakukan kebaikan dan meninggalkan keburukan. Seperti yang dilakukan oleh Wali Songo.
Jadi marilah kita laksanakan Islam dengan ramah. Selain shalat, zakat dan seterusnya kita juga berakhlakul karimah. Salah satu contoh yang menarik adalah bank syari’ah, yang kabarnya para nasabahnya juga banyak yang non muslim. Di sana ada kejujuran dan keterbukaan. Nah dakwah seperti inilah yang bagus.
Wawancara dengan Prof. Dr. KH. Said Aqil Siraj, MA (Ketua PBNU Jakarta)
Adib Minanurrachim
Dimuat di SC Magazine Vol II
“HARUS DISYUKURI DENGAN SYARIAT ISLAM”
KEMERDEKAAN itu bukan untuk diperingati tapi harus disyukuri. Karena memperingati itu tindakan mubazdir. Kemerdekaan itu lahir karena jihad bangsa Indonesia kepada orang kafir. Cara mensyukurinya diisi dengan syari’at Islam. Harapannya, bila kemerdekaan itu disyukuri dengan penerapan syareat islam, maka bisa menghasilkan baldatun thoyyibatun wa rabbun ghafur. Pola penerapan syaret itu harus menggunakan UU syareat Islam. Kepemimpinan yang diterapkan bukan lagi seperti saat ini. Tapi menggunakan ulil amri, yaitu khilafah.
Untuk menuju kemerdekaan ideal-subtansial, itu harus melalui penerapan syareat islam, sehingga nantinya bisa melahirkan kesejahteraan dan moralitas bangsa yang baik.
Sikap pemerintahan Islam kepada orang kafir itu setidaknya ada dua: 1) Laa ikra ha fiddin (jangan memaksakan agama) 2) orang kafir harus diperlakuakn dengan adil
Penegakan syareat ini memang banyak tantangannya. Tapi ini adalah sunnatullah. Sejauh ini, menurut saya perjuangan kepada pengakan syareat masih bisa menggunakan dakwah bil lisan. Jadi jihad itu kan ada tahapan-tahapannya. Mulai lisan, harta hingga tangan (senjata). Tapi menurut saya, saat ini kita masih cukup menggunakan argumentasi.
Saat ini memang berbeda dengan zaman orba. Bila dulu berwacana saja tidak boleh, tapi saat ini sudah boleh. Tapi saat ini kebebasannya sudah kebablasan, banyak yang keluar dari syareat Islam semisal majalah pornografi dan seterusnya. Ironisnya lagi syareat islam yang jeas-jelas tujuannya baik, itu masih dipersulit.
Kebebasan dalam islam, menurut saya adalah kebebasan yang tidak keluar dari Islam.
Perbedaan mengenai multi madzhab itu adalah alamiah. Ini wajar selama tidak mengenai perbedaan yang pokok. Misalkan yang pokok itu adalah mengenai jumlah rakaat shalat. Itu tidak boleh berbeda. Tapi bila perbedaan itu hanya mengenai cabangnya, misalkan persoalan perbedaan qhunut dan atau cara meletakkan jari telunjuk yang berbeda-beda pada tahiyyat akhir itu tidak masalah.
Bila perbedaan madzhab ini kemudian meruncing dan menimbulkan friksi di antara ummat islam, maka solusinya adalah daulah islamiyyah, negara islam. karena al-immamul yarfa’ul alkhilafah (imam itu bisa menyelesaikan perbedaan)
Wawancara dengan Abu Bakar Ba’asyir
Adib Minanurrachim
Dimuat di SC Magazine Vol II
Untuk menuju kemerdekaan ideal-subtansial, itu harus melalui penerapan syareat islam, sehingga nantinya bisa melahirkan kesejahteraan dan moralitas bangsa yang baik.
Sikap pemerintahan Islam kepada orang kafir itu setidaknya ada dua: 1) Laa ikra ha fiddin (jangan memaksakan agama) 2) orang kafir harus diperlakuakn dengan adil
Penegakan syareat ini memang banyak tantangannya. Tapi ini adalah sunnatullah. Sejauh ini, menurut saya perjuangan kepada pengakan syareat masih bisa menggunakan dakwah bil lisan. Jadi jihad itu kan ada tahapan-tahapannya. Mulai lisan, harta hingga tangan (senjata). Tapi menurut saya, saat ini kita masih cukup menggunakan argumentasi.
Saat ini memang berbeda dengan zaman orba. Bila dulu berwacana saja tidak boleh, tapi saat ini sudah boleh. Tapi saat ini kebebasannya sudah kebablasan, banyak yang keluar dari syareat Islam semisal majalah pornografi dan seterusnya. Ironisnya lagi syareat islam yang jeas-jelas tujuannya baik, itu masih dipersulit.
Kebebasan dalam islam, menurut saya adalah kebebasan yang tidak keluar dari Islam.
Perbedaan mengenai multi madzhab itu adalah alamiah. Ini wajar selama tidak mengenai perbedaan yang pokok. Misalkan yang pokok itu adalah mengenai jumlah rakaat shalat. Itu tidak boleh berbeda. Tapi bila perbedaan itu hanya mengenai cabangnya, misalkan persoalan perbedaan qhunut dan atau cara meletakkan jari telunjuk yang berbeda-beda pada tahiyyat akhir itu tidak masalah.
Bila perbedaan madzhab ini kemudian meruncing dan menimbulkan friksi di antara ummat islam, maka solusinya adalah daulah islamiyyah, negara islam. karena al-immamul yarfa’ul alkhilafah (imam itu bisa menyelesaikan perbedaan)
Wawancara dengan Abu Bakar Ba’asyir
Adib Minanurrachim
Dimuat di SC Magazine Vol II
SHALAT MENERANGI KEHIDUPAN KELUARGA
“Ingatlah, shalat (yang dikerjakan) seseorang di rumahnya menjadi cahaya. Maka terangilah rumahmu dengan cahaya itu.” (Hadist)
SIKAP dan perilaku seseorang, acapkali dipengaruhi oleh dua hal. Pertama gen dari kedua orang tuanya. Kedua lingkungan di mana dia tumbuh berkembang menjadi manusia dewasa.
Dari kedua hal tersebut, yang paling berpengaruh terhadap proses pertumbuhan dan pembentukan kepribadian seseorang—mulai kecil hingga remaja dan atau dewasa—adalah lingkungan keluarga. Di lingkungan ini, seorang anak memperoleh pengetahuan pertamanya. Mendengar adzan dari ayahandanya ketika ia pertama kali menatap dunia. Memperoleh kasih sayang dari Ibunda ketika ia masih menyusu. Belajar membaca, menulis dan berkomunikasi dengan sesama manusia ketika ia beranjak remaja.
Mengingat betapa besar pengaruh keluarga terhadap pertumbuhan seorang anak, maka menerangi lingkungan keluarga dengan shalat adalah sebuah tindakan yang disunnahkan oleh Rasulullah SAW. Karena shalat adalah dialog istimewa dengan Sang Khaliq, di mana seorang muslim bisa berkeluh kesah kepada Yang Maha Kasih. Lebih jauh, bila ia bisa mengerjakan shalat dengan benar dan bisa menyelami dan menghayatinya, insyaallah shalat yang ia kerjakan akan berbuah hikmah dan menjadi cahaya hati, yang menerbitkan cahaya ma’rifah (mengenal Allah) dan mukasyafah (yang membuka tabir penutup dengan Allah). Hingga nantinya, ia dan keluarganya bisa selalu menititi jalan yang diridhoi Allah SWT, terhindar dari perbuatan mungkar, serta mendapat petunjuk kepada jalan yang bertaburan cahaya.
Kronologi turunnya hadist di atas bermula dari pertanyaan yang dilontarkan Umar bin Khattab kepada Rasulullah SAW seputar shalat yang ia kerjakan di rumah karena tidak bisa datang ke masjid. Berikutnya, jawaban ini diberikan kepada segolongan penduduk Irak yang berkunjung ke kediaman khalifah Umar bin Khattab yang menanyakan tentang seseorang yang mengerjakan shalat dirumahnya.
Adib Minanurrachim
Dimuat di SC Magazine Vol I
SIKAP dan perilaku seseorang, acapkali dipengaruhi oleh dua hal. Pertama gen dari kedua orang tuanya. Kedua lingkungan di mana dia tumbuh berkembang menjadi manusia dewasa.
Dari kedua hal tersebut, yang paling berpengaruh terhadap proses pertumbuhan dan pembentukan kepribadian seseorang—mulai kecil hingga remaja dan atau dewasa—adalah lingkungan keluarga. Di lingkungan ini, seorang anak memperoleh pengetahuan pertamanya. Mendengar adzan dari ayahandanya ketika ia pertama kali menatap dunia. Memperoleh kasih sayang dari Ibunda ketika ia masih menyusu. Belajar membaca, menulis dan berkomunikasi dengan sesama manusia ketika ia beranjak remaja.
Mengingat betapa besar pengaruh keluarga terhadap pertumbuhan seorang anak, maka menerangi lingkungan keluarga dengan shalat adalah sebuah tindakan yang disunnahkan oleh Rasulullah SAW. Karena shalat adalah dialog istimewa dengan Sang Khaliq, di mana seorang muslim bisa berkeluh kesah kepada Yang Maha Kasih. Lebih jauh, bila ia bisa mengerjakan shalat dengan benar dan bisa menyelami dan menghayatinya, insyaallah shalat yang ia kerjakan akan berbuah hikmah dan menjadi cahaya hati, yang menerbitkan cahaya ma’rifah (mengenal Allah) dan mukasyafah (yang membuka tabir penutup dengan Allah). Hingga nantinya, ia dan keluarganya bisa selalu menititi jalan yang diridhoi Allah SWT, terhindar dari perbuatan mungkar, serta mendapat petunjuk kepada jalan yang bertaburan cahaya.
Kronologi turunnya hadist di atas bermula dari pertanyaan yang dilontarkan Umar bin Khattab kepada Rasulullah SAW seputar shalat yang ia kerjakan di rumah karena tidak bisa datang ke masjid. Berikutnya, jawaban ini diberikan kepada segolongan penduduk Irak yang berkunjung ke kediaman khalifah Umar bin Khattab yang menanyakan tentang seseorang yang mengerjakan shalat dirumahnya.
Adib Minanurrachim
Dimuat di SC Magazine Vol I
SHALAT KHUSYU: PERJALANAN RUHANIYYAH
Secara filosofis, apa makna shalat?
Sebagaimana Nabi Muhammad SAW meninggalkan bumi dan naik ke langit untuk berdialog dengan Yang Maha Kasih, begitu juga dengan orang yang shalat. Nabi pernah bersabda, Solluu Shalatan Muwadi (Shalatlah kamu dengan shalat yang menyatakan selamat tinggal kepada dunia ini). Jadi secara singkat, dalam posisi shalat seorang hamba tidak lagi berada di bumi tapi dia naik ke langit. Dalam istilah spiritual, dia getting connected with the source (bertemu dengan sumber segala sumber). Sementara Jalaluddin ar Rumi berkata, kalian punya sayap tapi kenapa kalian tidak terbang ke langit? Malah terus-menerus merayap di bumi?
Tetapi kehidupan kita sehari-hari menyebabkan kita terpuruk di dunia ini. Pusat perhatian kita dipusatkan kepada kepentingan-kepentingan duniawi. Sehingga kita melumpuhkan diri dalam berhubungan dengan Yang Maha Kuasa.
Jika orang yang menjalankan hakikat shalat dengan benar, maka dia akan mempunyai pandangan ruhaniyah yang tidak materialistis. Tapi jika kita memahami shalat sebagai rutinitas menjenuhkan, misalkan pendekatan yang kita lakukan pada shalat hanyalah pendekatan fiqh, bukan pendekatan spiritual, maka orang itu hanya akan disibukkan dengan bagaimana caranya bisa menggerakkan telunjuk ketika takbiratul ikhram, rukuk, takhiat akhir dan seterusnya. Jika kita hanya memperhatikan tata cara tersebut (tanpa memperhatikan pendekatan spiritual), maka kita tidak akan bisa naik ke langit. Tapi terus merayap di bumi. Sama dengan kecoak. Hehehe...
Apakah yang fiqhiyyah itu mengganggu?
Oh, tidak. Tidak mengganggu. Kita masih tetap menjalankan fiqh. Fiqh masih tetap harus kita pergunakan. Tidak bisa kemudian ada anggapan bahwa fiqh tidak bisa membawa saya kepada Tuhan. Saya pilih meditasi saja. Yang sama maksud tadi perhatian. Tapi perhatian kita tidak pada gerak-gerik fisik seperti yang diajarkan dalam fiqh.
Saya percaya di dunia ini ada yang disebut dengan law attraction, yaitu mencurahkan perhatian pada satu hal. Ketika kita mencurahkan perhatian kita pada satu hal, Tuhan akan membantu kita untuk berkembang pada persoalan tersebut. Sebagai contoh ringan, saya mulai mempelajari hal yang baru, psikiatri, tentang gangguan kejiwaan. Nah ketika saya fokuskan perhatian saya pada hal tersebut dan berdoa pada Tuhan, maka Dia kemudian menggerakkan seluruh alam semesta untuk memenuhi keinginan saya. Artinya, saya kemudian mendapatkan buku-buku tentang psikiatri, psikoterapi. Saya kemudian diundang oleh para psikiater. Saya menghadiri seminar-seminar tentang psikiatri dan seterusnya.
Apa itu shalat khusyuk?
Shalat khusyu itu masalah ruhaniyah. Bukan masalah fisik. Tapi masalah ruh kita. Kita hanya bisa shalat khusyu, bila perhatian kita bukan pada gerakan-gerakan fisik.
Sementara itu, kenapa doa kita tidak khusyu dalam shalat? Karena kita tidak memperhatikan makna doa tersebut. Misalkan ketika Allah Akbar, kita menjalaninya begitu saja. Ketika kita membaca alfatihah dan surat serta doa’doa lainnya, diri kita tidak hadir di dalamnya. Tapi ketika kita pada tahap akhir, kita berdoa dengan doa pribadi. Lalu kita menjadi khusyu. Jadi ada kesadaran di dalamnya, tidak otomatis. Begitu sampai pada yang pribadi, kita ikutsertakan hati kita. Misalkan dalam shalat saya, ada doa-doa pribadi untuk keperluan-keperluan sendiri seperti dalam sujud yang terakhir atau pada qhunut. Jadi, sebagaimana sabda Nabi Muhammad, janganlah mengatakan bahwa shalat kita itu khusyu atau tidak khusyu. Karena kata Nabi, khusyu itu bisa sepertiganya, bisa setengahnya. Khusyu itu masalah down loading atau up loading. Jadi bisa saja sekian persen saja khusyu-nya.
Jadi dalam shalat-shalat kita ada bagian-bagian tertentu khusyu-nya. Seperti ketika kita membaca doa yang sangat khusus atau ketika saat-saat emosionil. Ini bisa mempengaruhi kekhusyukan kita. Bila anda misalkan berada di tengah-tengah kesibukan rapat, lalu anda shalat, bukankah ketika shalat pikiran anda masih tentang rapat? Nah di saat seperti ini, tidak ada kekhusyukan. Tapi bila ada waktu tertentu yang memang dipersiapkan untuk shalat, itu beda perasaannya. Atau ketika kita akan menjalankan shalat sudah dipenuhi dengan keharuan, maka kita akan menjadi lebih khusyu.
Dulu itu ada seorang direktur bank. Suatu ketika ia datang ke Tanjung Priuk. Di situ anak-anak kecil mengaji dan orang-orang miskin berdoa menjelang maghrib. Mesjidnya gelap kecil dan jelek. Menyaksikan hal tersebut, ia terharu. Begitu shalat maghrib, dia terisak-isak. Dia berterima kasih kepada Tuhan karena bisa membantu fakir miskin.
Contoh lainnya, orang bisa menemukan kekhusyukan ketika menjalankan ibadah haji. Ia bisa menangis terisak-isak di depan Ka’bah. Karena untuk haji dia telah meluangkan waktu khusus. Mengeluarkan biaya dan perhatian yang khusus juga. Tapi bila hajinya tidak khusus atau reguler seperti saya yang setiap tahun membimbing haji, bisa jadi akan kehilangan kekhusyukan. Saya mulai kehilangan gereget haji itu. Saya tidak menangis lagi ketika melihat Ka’bah. Karena itu adalah pekerjaan. Jadi yang kita butuhkan dalam kekhusyukan adalah kehadiran kita, our present. Menghadirkan jiwa kita di dalam ibadah.
Saya juga pernah menjalankan shalat khusyu bertolak dari sesuatu yang lucu, setelah menonton film Titanic. Ceritanya, ketika itu saya terlambat shalat ashar, karena menyaksikan film titanic dulu. Film itu kan berakhir ketika kapal tenggelam sementara banyak penumpangnya yang mati terapung-apung dengan diiringi sebuah lagu. Nah ketika mendirikan shalat, saya masih dipenuhi keharuan. Maka di akhir shalat, saya berdoa dengan penuh keharuan: Tuhan anugerahkan keluarga dan keturunan yang menyejukkan hatiku. Saya juga pernah shalat khusyu di dekat jenazah orang tua saya yang akan dishalatkan di masjid. Ketika itu datang waktu shalat. Dan saya shalat dengan khusyu. Bukan karena menshalati mayatnya, tapi bila kita shalat dan di samping kita ada mayat maka kita diingatkan dengan hari kembalinya kita.
Apa yang anda rasakan dalam shalat khusyu?
Dalam shalat khusyu itu saya merasakan ketenangan dan ketentraman jiwa. Merasakan besarnya kasih sayang Tuhan dalam kehidupan kita dan keyakinan bahwa doa-doa kita akan dijawab. Itu hasil maksimal.
Tapi bila ditanya hasil shalat khusyu itu apa? Apakah proyek saya akan berjalan dengan lebih baik? Tampaknya saya tidak punya pengalaman yang seperti itu.
Apakah shalat khusyu berpengaruh pada pola kehidupan seseorang?
Jelas. Saya merasakan ada pengaruh kekhusyukan itu terhadap... paling tidak pandangan kita tentang kehidupan. Kita tidak lagi terikat dengan hal-hal yang material. Yang semula kita mati-matian untuk mengejar karir dan kedudukan, maka hal itu tidak penting lagi. Mungkin kita akan lebih terlibat dalam kegiatan yang mempunyai tujuan-tujuan yang lebih agung.
Ada seorang psikolog, jika tidak salah robert evens. Sebenarnya bukunya ini tentang psikologi agama. Judulnya althebert contion. Buku ini menjelaskan tentang 4 tujuan hidup yang dikejar menusia. 1) Kekayaan dan prestasi. 2) Hubungan cinta dan kasih sayang. 3) Agama dan spiritualitas. 4) Tujuan untuk meninggalkan kenangan indah kalau kita mati. Meninggalkan legalcy, istilah steven cook. Kalau orang hidup untuk tujuan pertama, itu kurang bahagia dibandingkan dengan tujuan ketiga dan terakhir.
Bila orang hidup untuk mendekatkan diri kepada Allah, maka tujuan-tujuan kebendaan tidak begitu penting. Jadi dia memperoleh kebahagiaan dengan kualitas yang tertingggi. Saya kira itulah yang akan dicapai oleh orang yang shalat khusyu.
Itu seperti do’a Nabi Ibrahim dalam surah as Syuara, yakni kita diajarkan untuk mengatakan bahwa Tuhan berikan padaku kemampuan untuk meninggalkan kenangan indah sepeninggalku (Rabbi Ijalli Lisana Sidqi fil Akhiri). Artinya, hendaknya kita berfikir meninggalkan kenangan indah bagi generasi sepeninggal kita bila kita out dari dunia. Coba, apa yang akan kita tinggalkan bagi generasi mereka nanti? Tujuan ini hanya bisa dicapai setelah orang mencapai tujuan-tujuan spiritualitas seperti merasakan ketenangan batin dan merasakan kehadiran Tuhan dalam kehidupan sehari-harinya.
Karena itu yang disebut kecerdasan spiritual itu bukanlah nangis-nangis karena menonton video tentang kebesaran Tuhan atau dengan mengingat-ingat dosa. Kecerdasan spiritual itu akan tampak dari sikapnya yang lebih baik kepada sesama manusia dari pada sebelumnya.
Kiat-kiatnya untuk bisa shalat khusyu?
Hadirkan hatimu dalam shalat. Enteng sekali ngomongnya ya? Hahaha.
Lalu bagaimana kita bisa melatih? Menurut saya, tidak bisa latihan-latihannya dengan kursus-kursus. Karena itu perjalanan ruhani kita yang panjang.
Wawancara dengan Prof. Dr. Jalaluddin Rahmat, M. Sc
Adib Minanurrachim
Dimuat di SC Magazine Vol I
Sebagaimana Nabi Muhammad SAW meninggalkan bumi dan naik ke langit untuk berdialog dengan Yang Maha Kasih, begitu juga dengan orang yang shalat. Nabi pernah bersabda, Solluu Shalatan Muwadi (Shalatlah kamu dengan shalat yang menyatakan selamat tinggal kepada dunia ini). Jadi secara singkat, dalam posisi shalat seorang hamba tidak lagi berada di bumi tapi dia naik ke langit. Dalam istilah spiritual, dia getting connected with the source (bertemu dengan sumber segala sumber). Sementara Jalaluddin ar Rumi berkata, kalian punya sayap tapi kenapa kalian tidak terbang ke langit? Malah terus-menerus merayap di bumi?
Tetapi kehidupan kita sehari-hari menyebabkan kita terpuruk di dunia ini. Pusat perhatian kita dipusatkan kepada kepentingan-kepentingan duniawi. Sehingga kita melumpuhkan diri dalam berhubungan dengan Yang Maha Kuasa.
Jika orang yang menjalankan hakikat shalat dengan benar, maka dia akan mempunyai pandangan ruhaniyah yang tidak materialistis. Tapi jika kita memahami shalat sebagai rutinitas menjenuhkan, misalkan pendekatan yang kita lakukan pada shalat hanyalah pendekatan fiqh, bukan pendekatan spiritual, maka orang itu hanya akan disibukkan dengan bagaimana caranya bisa menggerakkan telunjuk ketika takbiratul ikhram, rukuk, takhiat akhir dan seterusnya. Jika kita hanya memperhatikan tata cara tersebut (tanpa memperhatikan pendekatan spiritual), maka kita tidak akan bisa naik ke langit. Tapi terus merayap di bumi. Sama dengan kecoak. Hehehe...
Apakah yang fiqhiyyah itu mengganggu?
Oh, tidak. Tidak mengganggu. Kita masih tetap menjalankan fiqh. Fiqh masih tetap harus kita pergunakan. Tidak bisa kemudian ada anggapan bahwa fiqh tidak bisa membawa saya kepada Tuhan. Saya pilih meditasi saja. Yang sama maksud tadi perhatian. Tapi perhatian kita tidak pada gerak-gerik fisik seperti yang diajarkan dalam fiqh.
Saya percaya di dunia ini ada yang disebut dengan law attraction, yaitu mencurahkan perhatian pada satu hal. Ketika kita mencurahkan perhatian kita pada satu hal, Tuhan akan membantu kita untuk berkembang pada persoalan tersebut. Sebagai contoh ringan, saya mulai mempelajari hal yang baru, psikiatri, tentang gangguan kejiwaan. Nah ketika saya fokuskan perhatian saya pada hal tersebut dan berdoa pada Tuhan, maka Dia kemudian menggerakkan seluruh alam semesta untuk memenuhi keinginan saya. Artinya, saya kemudian mendapatkan buku-buku tentang psikiatri, psikoterapi. Saya kemudian diundang oleh para psikiater. Saya menghadiri seminar-seminar tentang psikiatri dan seterusnya.
Apa itu shalat khusyuk?
Shalat khusyu itu masalah ruhaniyah. Bukan masalah fisik. Tapi masalah ruh kita. Kita hanya bisa shalat khusyu, bila perhatian kita bukan pada gerakan-gerakan fisik.
Sementara itu, kenapa doa kita tidak khusyu dalam shalat? Karena kita tidak memperhatikan makna doa tersebut. Misalkan ketika Allah Akbar, kita menjalaninya begitu saja. Ketika kita membaca alfatihah dan surat serta doa’doa lainnya, diri kita tidak hadir di dalamnya. Tapi ketika kita pada tahap akhir, kita berdoa dengan doa pribadi. Lalu kita menjadi khusyu. Jadi ada kesadaran di dalamnya, tidak otomatis. Begitu sampai pada yang pribadi, kita ikutsertakan hati kita. Misalkan dalam shalat saya, ada doa-doa pribadi untuk keperluan-keperluan sendiri seperti dalam sujud yang terakhir atau pada qhunut. Jadi, sebagaimana sabda Nabi Muhammad, janganlah mengatakan bahwa shalat kita itu khusyu atau tidak khusyu. Karena kata Nabi, khusyu itu bisa sepertiganya, bisa setengahnya. Khusyu itu masalah down loading atau up loading. Jadi bisa saja sekian persen saja khusyu-nya.
Jadi dalam shalat-shalat kita ada bagian-bagian tertentu khusyu-nya. Seperti ketika kita membaca doa yang sangat khusus atau ketika saat-saat emosionil. Ini bisa mempengaruhi kekhusyukan kita. Bila anda misalkan berada di tengah-tengah kesibukan rapat, lalu anda shalat, bukankah ketika shalat pikiran anda masih tentang rapat? Nah di saat seperti ini, tidak ada kekhusyukan. Tapi bila ada waktu tertentu yang memang dipersiapkan untuk shalat, itu beda perasaannya. Atau ketika kita akan menjalankan shalat sudah dipenuhi dengan keharuan, maka kita akan menjadi lebih khusyu.
Dulu itu ada seorang direktur bank. Suatu ketika ia datang ke Tanjung Priuk. Di situ anak-anak kecil mengaji dan orang-orang miskin berdoa menjelang maghrib. Mesjidnya gelap kecil dan jelek. Menyaksikan hal tersebut, ia terharu. Begitu shalat maghrib, dia terisak-isak. Dia berterima kasih kepada Tuhan karena bisa membantu fakir miskin.
Contoh lainnya, orang bisa menemukan kekhusyukan ketika menjalankan ibadah haji. Ia bisa menangis terisak-isak di depan Ka’bah. Karena untuk haji dia telah meluangkan waktu khusus. Mengeluarkan biaya dan perhatian yang khusus juga. Tapi bila hajinya tidak khusus atau reguler seperti saya yang setiap tahun membimbing haji, bisa jadi akan kehilangan kekhusyukan. Saya mulai kehilangan gereget haji itu. Saya tidak menangis lagi ketika melihat Ka’bah. Karena itu adalah pekerjaan. Jadi yang kita butuhkan dalam kekhusyukan adalah kehadiran kita, our present. Menghadirkan jiwa kita di dalam ibadah.
Saya juga pernah menjalankan shalat khusyu bertolak dari sesuatu yang lucu, setelah menonton film Titanic. Ceritanya, ketika itu saya terlambat shalat ashar, karena menyaksikan film titanic dulu. Film itu kan berakhir ketika kapal tenggelam sementara banyak penumpangnya yang mati terapung-apung dengan diiringi sebuah lagu. Nah ketika mendirikan shalat, saya masih dipenuhi keharuan. Maka di akhir shalat, saya berdoa dengan penuh keharuan: Tuhan anugerahkan keluarga dan keturunan yang menyejukkan hatiku. Saya juga pernah shalat khusyu di dekat jenazah orang tua saya yang akan dishalatkan di masjid. Ketika itu datang waktu shalat. Dan saya shalat dengan khusyu. Bukan karena menshalati mayatnya, tapi bila kita shalat dan di samping kita ada mayat maka kita diingatkan dengan hari kembalinya kita.
Apa yang anda rasakan dalam shalat khusyu?
Dalam shalat khusyu itu saya merasakan ketenangan dan ketentraman jiwa. Merasakan besarnya kasih sayang Tuhan dalam kehidupan kita dan keyakinan bahwa doa-doa kita akan dijawab. Itu hasil maksimal.
Tapi bila ditanya hasil shalat khusyu itu apa? Apakah proyek saya akan berjalan dengan lebih baik? Tampaknya saya tidak punya pengalaman yang seperti itu.
Apakah shalat khusyu berpengaruh pada pola kehidupan seseorang?
Jelas. Saya merasakan ada pengaruh kekhusyukan itu terhadap... paling tidak pandangan kita tentang kehidupan. Kita tidak lagi terikat dengan hal-hal yang material. Yang semula kita mati-matian untuk mengejar karir dan kedudukan, maka hal itu tidak penting lagi. Mungkin kita akan lebih terlibat dalam kegiatan yang mempunyai tujuan-tujuan yang lebih agung.
Ada seorang psikolog, jika tidak salah robert evens. Sebenarnya bukunya ini tentang psikologi agama. Judulnya althebert contion. Buku ini menjelaskan tentang 4 tujuan hidup yang dikejar menusia. 1) Kekayaan dan prestasi. 2) Hubungan cinta dan kasih sayang. 3) Agama dan spiritualitas. 4) Tujuan untuk meninggalkan kenangan indah kalau kita mati. Meninggalkan legalcy, istilah steven cook. Kalau orang hidup untuk tujuan pertama, itu kurang bahagia dibandingkan dengan tujuan ketiga dan terakhir.
Bila orang hidup untuk mendekatkan diri kepada Allah, maka tujuan-tujuan kebendaan tidak begitu penting. Jadi dia memperoleh kebahagiaan dengan kualitas yang tertingggi. Saya kira itulah yang akan dicapai oleh orang yang shalat khusyu.
Itu seperti do’a Nabi Ibrahim dalam surah as Syuara, yakni kita diajarkan untuk mengatakan bahwa Tuhan berikan padaku kemampuan untuk meninggalkan kenangan indah sepeninggalku (Rabbi Ijalli Lisana Sidqi fil Akhiri). Artinya, hendaknya kita berfikir meninggalkan kenangan indah bagi generasi sepeninggal kita bila kita out dari dunia. Coba, apa yang akan kita tinggalkan bagi generasi mereka nanti? Tujuan ini hanya bisa dicapai setelah orang mencapai tujuan-tujuan spiritualitas seperti merasakan ketenangan batin dan merasakan kehadiran Tuhan dalam kehidupan sehari-harinya.
Karena itu yang disebut kecerdasan spiritual itu bukanlah nangis-nangis karena menonton video tentang kebesaran Tuhan atau dengan mengingat-ingat dosa. Kecerdasan spiritual itu akan tampak dari sikapnya yang lebih baik kepada sesama manusia dari pada sebelumnya.
Kiat-kiatnya untuk bisa shalat khusyu?
Hadirkan hatimu dalam shalat. Enteng sekali ngomongnya ya? Hahaha.
Lalu bagaimana kita bisa melatih? Menurut saya, tidak bisa latihan-latihannya dengan kursus-kursus. Karena itu perjalanan ruhani kita yang panjang.
Wawancara dengan Prof. Dr. Jalaluddin Rahmat, M. Sc
Adib Minanurrachim
Dimuat di SC Magazine Vol I
“PERLU PRIBUMISASI HIKMAH AL TASYRI”
Bagaimana pandangan anda tentang persoalan ekonomi dewasa ini?
Saat ini masyarakat kita tengah menghadapi masalah-masalah ekonomi. Ini terbukti dari makin meningkatnya jumlah orang miskin. Tahun 2005 jumlah orang miskin adalah 35, 2%. Sementara pada tahun 2006 meningkat menjadi 39,4%. Sementara jumlah pengangguran adalah 11 % dari angkatan kerja. Saya kira hal ini menunjukkan bahwa betapa beratnya masalah-masalah ekonomi yang dihadapi masyarakat kita.
Beberapa waktu yang lalu harga minyak tanah kan naik. Sementara baru-baru ini adalah minyak goreng. Ini berpengaruh pada daya beli masyarakat yang semakin rendah. Jangankan yang tidak punya penghasilan, yang punya penghasilan saja mengalami kesulitan. Ini hanya sedikit contoh betapa masalah ekonomi merupakan persoalan yang sangat berat.
Lebih jauh, kondisi mikro ekonomi kita hampir tidak jalan. Meski dari sudut makro ekonomi kita membaik. Tapi membaiknya sudut makro ini bukan karena membaiknya ekonomi dalam negeri, tapi karena banyaknya uang yang mengalir ke Indonesia. Sekarang ini ada sekitar 500 trilyun uang luar negeri yang mengalir ke dalam negeri. Tapi uang tersebut hanya disimpan di Sertifikat Bank Indonesia (SBI) untuk diambil bunganya. Tidak diberikan kepada sektoril. Akibatnya, meski uang banyak tapi Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) tambah tidak baik. Malah sebaliknya. Sementara upaya-upaya yang dilakukan, tampaknya belum bisa merubah keadaan. Karena itu, menurut saya pemerintah harus serius betul memperhatikan masalah ekonomi ini. Jika tidak, akan memburuk. Salah satu yang krusial adalah perubahan sistem ekonomi. Kita harus berganti kiblat. Bukan lagi kapitalis, tapi syariah. Jika syariah, penekanannya bukan pada bunga tapi pada sistem bagi hasil. Saya kira ini akan membawa perubahan yang lebih baik.
Tampaknya masalah ekonomi ini akibat dari kapitalisme global. Bagaimana bila ditinjau dari sisi struktural dan kultural?
Benar. Masalah ekonomi ini juga terkait dengan dua hal, kultural dan struktural. Kultural itu dicirikan dari etos kerja yang semakin melemah. Ini memang kita rasakan. Orang lebih banyak mengandalkan pada belas kasihan orang lain. Seperti masih banyaknya pengemis-pengemis yang sehat seperti anak-anak muda di jalanan. Ini sama dengan kondisi negara yang juga mengemis kepada negara-negara maju. Menurut saya ini adalah sikap yang sangat-sangat tidak arif. Sementara secara struktural, kebijakan-kebijakan pemerintah masih belum berorientasi kepada kepentingan masyarakat. Misalkan pemerintah masih menetapkan kebijakan pada impor beras yang nota bene merugikan sektor ekonomi mikro. Seharusnya pemerintah mengeluarkan kebijakan yang lebih berani. Sudahlah soal beras biar kita penuhi sesuai dengan kekuatan kita sendiri. Bahkan bila perlu kita berpuasa. Jadi harus ada larangan tentang impor. Kembali pada tahun sebelum 66. Ini tidak apa-apa. Tapi ironisnya saat ini kita serba mengimpor. Mulai dari sagu, gula, terigu dan lainnya. Ini tidak baik. Sangat membahayakan. Kita akan menjadi bangsa yang dependen. Tidak independen!
Bagaimana peran Bulog selama ini?
Sejauh ini Bulog belum banyak berperan. Misalkan sebelum petani panen harga bawang adalah Rp 20.000,00. Tapi begitu panen mendadak harga bawang menjadi rendah, hanya Rp 10.000.00. Nah ini kan sangat melemahkan semangat petani untuk meningkatkan hasil panen. Seharusnya yang Rp 20.000,00 ditetapkan. Sementara sisa barangnya dibeli Bulog. Jadi rakyat itu menjualnya ke Bulog. Lalu Bulog menyimpannya untuk dijual ke masyarakat. Tapi saat ini yang terjadi kan malah sebaliknya, bagaimana uang Bulog itu dikorup sedasyat-dasyatnya.
Apakah ini bukti menurunya kesalehan sosial?
Mungkin di satu sisi benar. Tanggung jawab sosial dari masyarakat kita semakin berkurang. Artinya orang-orang yang mendapatkan amanah dan kedudukan itu hampir tidak ada kesalehan sosialnya. Dari para pejabat itu kan kita berharap bahwa jabatan itu sebagai amanah untuk dipertanggungjawabkan. Saya pernah menulis dalam sebuah surat kabar tentang dua pilar kepemimpinan untuk membangun masyarakat kita agar lebih baik. Pertama, sebagai ulil amri. Orang yang mendapatkan amanah untuk mengurus masalah ummah. Jadi jabatan itu bukan dijadikan peluang untuk memeperkaya diri. Tapi seharusnya dijadikan kesempatan yang terbaik untukdiberikan kepada masyarakat. Yang kedua adalah Khadimul Ummah, pelayan ummat. Jadi seharusnya menjadpi pemimpin itu harus melayani umat. Tapi sekarang kan yang terjadi dilayani, rakyat yan dikuras. Uang rakyat dibawa ke pusat dan dari pusat dibagi-bagikan. Jadi ini sesuatu yang tidak benar.
Bila melihat status bangsa Indonesia, tampaknya ada yang ironis. Kita terkenal sebagai bangsa religisu tapi KKN jalan terus. Ini bagaimana?
Pertama, apa pun realitasnya, patut kita syukuri. Masyarakat kita muslim. Penganut muslim yang baik. Tetapi barangkali saat ini pemahaman tentang keislaman kurang konprehensif. Islam hanya dipandang hanya dalam sudut pandang vertikal. Jadi yang terpenting adalah bagaimana kita membangun kesalehan secara individu, dengan Allah SWT. Nah, padahal bila kita melihat dari berbagai macam ayat dan hadist yang individual itu harus tercermin dari kesalehan sosial. Shalat yang baik itu bukan hanya ditentukan dari praktik shalat yang baik. Tapi juga ditentukan bagaiamana setelah shalat itu dia semakin sayang sama masyarakat, bertanggung jawab, selalu merasa bahwa Allah selalu mengawasi kita, melarang kita untuk KKN. Jadi tidak dipisahkan. Sehingga menurut saya, yang perlu diluruskan adalah pemahaman masyarakat. Ada semacam sekularisme dalam islam. Yaitu ada pemisahan antara urusan akhirat dan dunia. Bahwa masjid itu tidak terkait dengan pasar. Di Majid kita tidak boleh berdusta sementara di pasar kita tidak boleh. Nah, saat ini ada gejkala seperti itu. Seharusnya kan tidak boleh terpisah anatara masjid dan kampus, masjid dngan pasar, denganbirokrasi dan seterusnya.
Kedua adalah sistemnya yang belum jalan. Jadi norma-norma agama itu belum terefleksikan dalam sistem. Seharusnya kan sudah menjadi sistem. Bukan sekedar norma-norma saja. Jujur hal itu harus dijadikan sebagai sistem. Kemudian juga msialnay hal-hal yang lainnya.
Adakah fenomena bahwa ibadah hanya dijadikan sebagai rutinitas menjalankan kewajiban saja?
Ya saya sering mengatakan yang terjkadi sekarang adalah sekedar pemenuhan kewajiban. Bukan sebagai kebutuhan. Kan lain ini. Misalkan bila saya menganggap shalat sebagai kebutuhan maka bila saya tidak mengerjakannya maka ada sesuatu yang hilang. Tapi bila shalat hanya dianggap sebagai kewajiaban, maka saya hanya sekedar menjalankannya. Dan kalau saya tidak melaksanakannya saya takut. Ya ini tidak salah. Ini seharusnya dijadikan dasar. Jangan dijadikan sebuah pemahaman yang terus menerus. Tapi realitas ini yang harus kita terima.
Bagaimana kiat-kiatnya untuk mencintai ibadah?
Memang perlu ada semacam contoh. Karena masyarakiat kita saat ini memang membutuhkan uswah. Karena itu menurut saya, saat ini bagaimana ditumbuhkan orang tua di rumah dijadikan contoh bagi anak-anaknya. Guru sebagai contoh bagi bagi muridnya dan pejabat sebagai contoh bagi rakyatnya. Karena itu marilah berlomba-loba menjadikan diri kita menjadi figur. Sekecil apa pun ruang lingkup kita, tapi yang namanya uswah itu adalah suatu hal yang penting. Artinya agama itu tidak hanya sekedar pada tahap pengetahuan dan wacana. Tapi hingga pada tahap implementasi. Itu yang pertama.
Yang kedua adalah sosialiasasi tentang ajaran Islam yang menyeluruh. Ini perlu untuk terus dilakukan. Dan juga termasuk ajaran agama islam yang menyangkut berbagai bidang kehidupan. Ini harus dimuncuilkan. Sekarang ini yang ada di majlis-majlis ta’lim yang ada kan hanya bagaimana beribadah yang baik. Tapi belum pada bagaimana berdagang yang baik, bagaiamana berbisnis yang baik, bagaimana bermuamalah yang baik? Itu juga harus kita lakukan. Bagaiamana berpolitik yang baik? Nah ini harus kita lakuikan. Dan politiknya orang muslim harus berbeda dengan cara politiknya orang sekuler. Apalagi dengan yang non muslim. Malah jangan sampai perilaku politis yang muslim lebih jelek daripada politisi non muslim.
Kemudian juga harus ada proses pembiasaan. At-tamrinat. Latihan-latihan. Artinya kita contoh pola yang dicontoihkan oleh rasul. Misalkan mulai kecil aanak-anak itu harus dibiasakan dengan perilaku islami, semisal kejujuran dan tanggung jawab dan lainnya.
Jadi kita harus memposisikan agama tidak hanya sebagai aspek pengetahuan tapi juga pada perilaku. Misalkan bila kita antri untuk beli tiket KA, yang terjadi kan soiapa yang kuat ia dapat. Nah ini perlu kita perbaiki.
Di samping itu juga hal-hal yang bersifat amal jama’i juga harus ditumbuhkan.
Hal di atas apakah juga karena kurangnya pemahaman masyarakat tentang sisi spiritual ibadah?
Bisa saja.
Lantas bagaimana untuk memberikan pencerahan kepada masyarakat?
Betul. Saya setuju itu. Jadi sekarang ini kan banyak yang lebih menjelaskan hukum. Fiqh oriented. Jadi kalau ibadah haji itu, yang diberikan hanya sebatas mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan. Tetapi makna dari ibadah atau hikmahnya... jadi ada hukmu tsayri ada juga hikma tasyri. Jadi sekarang ini yang menonjol adalah hukmu syar’i: ini yang harus dilakukan dan ini yang tidak boleh dilakukan. Tapi hikmahnya belum banyak yang menjelaskan. Misalkan kenapa sih zakat itu diwajibkan? Harusnya diungkap, digali maknanya. Atau kenapa shalat itu diwajibkan? nah maka perlu kita ungkap hikmahnya.
Jadi selama ini belum seimbang. Lantas kenapa tidak seimbang? Karena untuk menjelaskan hikmah juga bukan pekerjaan mudah. Perlu melakukan analisa yang dalam dan tajam. Pwerlu pemikiran yang kritis.
Bila menjelaskan hukum itu kan mudah: misalkan shalat itu wajib. Tapi jika menjelaskan hikmah shalat? Itu kan memerlukan penelaahan yang mendalam dan daya fikir yang mendalam.
Cara menjelaskan hikmah shalat?
Di antara hikmah shalat itu kan kita bisa menumbuhkan persamaan. Orang tidak dipandang dari sudut pandang jabatan dan kekeayaan. Tapi orang itu di hadapan Allah itu sama, kecuali kadar taqwanya. Sehingga hikmah yang bisa digali adalah, ketika kita menjadi orang yang punya jabatan mentereng dan kaya seharusnya kita tidak boleh sombong. Orang yang ruku dan sujud itu kan sama. Ketika imam ruku maka semuanya rukuk.
Kedua adalah shalat juga mengajarkan pada kita untuk disiplin. Disiplin pada aturan dan waktu. Misalkan shalat ashar itu mulai setengah empat hingga setengah enam. Maka jangan kita shalat ashar jam tiga atau setengah tuj, ini tidak boleh. Jadi dalam islam itu diajarkan untuk bagaimana menghargai waktu.
Shalat juga menumbuhkan etos kerja. Coba lihat, shalat itu kan gerakan-gerakan. Nah jika kita ingin memperoleh pertolongan dari Allah, kita harus beribadah. Iyaka na’budu wa iyyaka nasta’in. Na’budu dulu baru nastain. Tidak bisa nasta’in dulu baru na’budu. Nah hikmahnya adalah kita harus bekerja keras terlebih dahulu baru kemudian bisa menikmati hasilnya.
Demikian juga, shalat bisa menghasilkan ketenanganjiwa. Itu jelas sekali. Karena kita dalam shalat itu kan berdialog dengan Allah. Tapi ini ada catatannya, yaitu shalat yang harus dikerjakan dengan tertib. Bacaan-bacaannya harus dibaca dengan pelahan dan penuh penghayatan. Nah bila dilakukan seperti itu, orang itu kan seperti berdialog. Nah... kata-kata warzukli itu terkait antara ketika kita berhadapan dengan Allah dalam shalat dengan ketika kita berada diluar. Redaksi Warzukli itu kan konteksnya ada di luar shalat. Artinya ketika kita ingin mencari rezeki, maka kita tidak boleh keluar dari garis-garis yang telah ditentukan oleh Allah. Sehingga orang yang shalatnya bener itu tidak mungkin KKN. Apabila bila meresapi inna shalati wanusuki wa mahyaya wamamti lillahi robbil alamin. Karena dia merasa direcord/dicatat oleh Allah.
Kemudian juga shalat juga bisa menumbuhkan keberpihakan pada pemimpin yang baik. Shalat itu kan harus tunduk pada imam. Jadi kita harus tunduk pada pemimpin. Bila imam rukuk, maka kita juga rukuk. Tapi jika pemimpin itu salah, maka juga harus kita koreksi. Bila perlu kita ganti. Misalkan salah bacaan dan gerakannya. Tetapi koreksinya dengan cara yang baik. Bukan dengan cara yang vulgar dan tidak sopan. Cukup dengan kata subhanallah. Nah ini hanya sebagian dari hikmah shalat. Seharusnya ini sudah menjadi sistem dalam kehidupan kita.
Kebetulan saya banyak bergelut dalam dunia perzakatan. Saya selalu menguraikan hikmah zakat. Misalkan saya selalu menjelaskan bahwa hikmah dari zakat adalah bisa menumbuhkan etos kerja. Orang yang zakat pasti tidak akan korupsi, bila ia benar-bvenar ikhlas. Karena zakat itu tidak dari tangan yang kotor. Zakat itu bukan pencucian uang. Tapi zakat itu adalah membersihkan harta yang telah kjita dapatkan dari cara-cara yang bersih. Agar jangan sampai ada harta kita yang merupakan hak orang lain.
Zakat juga bisa menumbuhkan etos kerja. Orang yang berzakat pasti bukan orang yang malas bekerja. Orang yang malas tak mungkin bisa berzakat. Jadi gerakan sadar zakat adalah gerakan etos kerja.
Kemudian juga menumbuhkan kasih-sayang kepada sesama, khususnya mereka yitu dhuafa atau mustahiq, nah inilah yang disebut dengan kesalehan sosial. Dalam hadist disebutkan taro mukminin fi tarokhumihim watatufihim kama fi syajarin wahid. (kau lihat orang-orang mukimin dalam kasih sayangnya sperti dalam satu tubuh).
Saya menguraikan zakat itu ada sebelesa, ini pernah saya tulis dalam buku saya (nih spesial untuk adik, deh. hahaha) zakat dalam ekonomi modern. Nah demikian pula hikmah-hikmah yang lain.
Misal dalam contoh zakat itu untuk menumbuhkan harta, bukan untuk mengurtangi hjarta. Nah selama ini kan sebaliknya, orang beranggapan bahwa jika saya berxakat maka harta saya berkurang. Mungkin secara nominal harta itu berkurang ketika itu. Dari sepuluh juta dikurangi dua setengah persen kan duaratus lima puluh ribu. Tapi sesungguhnya dengan berzakat itu harta kita akan terus berlipat ganda. Karena dengan berzakat maka etos kerja kita akan bertambah dan terus bertambah sehingga harta kekayaan kita akan terus meningkat. Sehingga kita punya keinginan untuk terus memberikan yang terbaik bagi masyarakat kita. Dan secara empirik, orang-orang yang ikhlas dalam berzakat akan mengalami hal ini, hartanya tidak akan pernah berkurang. Meski pun dalam menjelaskan hikmah zakat ini—jujur saja—sangat sulit sekali. Ada yang bisa dilakukan dengan kata-kata atau teori-teori ekonomi, tapi ada pula yang hanya bisa dirasakan saja. Makanya saya sering mengatakan, lakukan sebaik-baiknya dengan penuh keikhlasan, nanti anda akan merasakan bahwa zakat adalah sebuah kenikmatan. Lakukan shalat dengan sebaik-baiknya maka anda akan merasakan sebauh kenikmatan. Kita akan merasa butuh dengan shalat dan zakat.
Jadi jangan sampai ketika kita berbuat baik dengan orang lain itu, kita merasa bahwa orang lain yang butuh. Tapi kita yang butuh. Karena zakat itu yang paling banyak menerima manfaat dari zakat itu bukan orang yang kita beri, tapi kita yang memberi. Bukan mustahiq tapi muzakki.
Apakah sesuai dengan kalimat “Memberi itu terangkan hati?”
Benar. Dan itu bisa dirasakan. Kalau saya biasanya menggunakan slogan bila anda ingin mengembangakan usaha anda maka berzakatlah. Anda ingin memperoleh kep[uasan bathin maka shalatlah. Jadi arahnya ke sana.
Tapi untuk menjelaskan hikmah ini sangat tidak mudah. Du\ibutuhkan kedalaman fikiran dan harus banyak bacaan, banyak pengalaman spiritual sehingga agama itu dirasakan dan dihayati.
Terakhir, bila melihat tema-tema yang baru saja menjadi dialog anta kita, bagaiamana pendapat bapak tentang majalah kami yang akan terbit ini?
Oh! Baru terbit ya?
Saya kira ini bagus sekali. Saya memberikan apresiasi pada majalah-majalah seperti ini, yang bergerak dalam bidang spiritual. Tetapi kita dalam “tidak terpisah” dengan aspek-aspek yang lain. Spiritual itu boleh jargonnya. Hikmahnya. Sehingga tidak boleh melepaskan dari hukum syari. Karena kita tidak bisa bicara hikmah saja, lalu mengabvaikan hukum. Begitu pula sebaliknya.
Jadi jika seseorang spiritualitasnya sudah baik, maka bagaimana hal itu tercermin dalam perilakunya yang semakin baik.
Jadi yang saya harapkan adalah, penekanannya pada spiritual yang bisa melahirkan etos kerja. Sehingga dicintai oleh masyarakat dan masyarakat menjadi butuh.
Wawancara dengan Prof. Dr. Didin Hafiduddin
Adib Minanurrachim
Dimuat di SC Magazine Vol I
Saat ini masyarakat kita tengah menghadapi masalah-masalah ekonomi. Ini terbukti dari makin meningkatnya jumlah orang miskin. Tahun 2005 jumlah orang miskin adalah 35, 2%. Sementara pada tahun 2006 meningkat menjadi 39,4%. Sementara jumlah pengangguran adalah 11 % dari angkatan kerja. Saya kira hal ini menunjukkan bahwa betapa beratnya masalah-masalah ekonomi yang dihadapi masyarakat kita.
Beberapa waktu yang lalu harga minyak tanah kan naik. Sementara baru-baru ini adalah minyak goreng. Ini berpengaruh pada daya beli masyarakat yang semakin rendah. Jangankan yang tidak punya penghasilan, yang punya penghasilan saja mengalami kesulitan. Ini hanya sedikit contoh betapa masalah ekonomi merupakan persoalan yang sangat berat.
Lebih jauh, kondisi mikro ekonomi kita hampir tidak jalan. Meski dari sudut makro ekonomi kita membaik. Tapi membaiknya sudut makro ini bukan karena membaiknya ekonomi dalam negeri, tapi karena banyaknya uang yang mengalir ke Indonesia. Sekarang ini ada sekitar 500 trilyun uang luar negeri yang mengalir ke dalam negeri. Tapi uang tersebut hanya disimpan di Sertifikat Bank Indonesia (SBI) untuk diambil bunganya. Tidak diberikan kepada sektoril. Akibatnya, meski uang banyak tapi Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) tambah tidak baik. Malah sebaliknya. Sementara upaya-upaya yang dilakukan, tampaknya belum bisa merubah keadaan. Karena itu, menurut saya pemerintah harus serius betul memperhatikan masalah ekonomi ini. Jika tidak, akan memburuk. Salah satu yang krusial adalah perubahan sistem ekonomi. Kita harus berganti kiblat. Bukan lagi kapitalis, tapi syariah. Jika syariah, penekanannya bukan pada bunga tapi pada sistem bagi hasil. Saya kira ini akan membawa perubahan yang lebih baik.
Tampaknya masalah ekonomi ini akibat dari kapitalisme global. Bagaimana bila ditinjau dari sisi struktural dan kultural?
Benar. Masalah ekonomi ini juga terkait dengan dua hal, kultural dan struktural. Kultural itu dicirikan dari etos kerja yang semakin melemah. Ini memang kita rasakan. Orang lebih banyak mengandalkan pada belas kasihan orang lain. Seperti masih banyaknya pengemis-pengemis yang sehat seperti anak-anak muda di jalanan. Ini sama dengan kondisi negara yang juga mengemis kepada negara-negara maju. Menurut saya ini adalah sikap yang sangat-sangat tidak arif. Sementara secara struktural, kebijakan-kebijakan pemerintah masih belum berorientasi kepada kepentingan masyarakat. Misalkan pemerintah masih menetapkan kebijakan pada impor beras yang nota bene merugikan sektor ekonomi mikro. Seharusnya pemerintah mengeluarkan kebijakan yang lebih berani. Sudahlah soal beras biar kita penuhi sesuai dengan kekuatan kita sendiri. Bahkan bila perlu kita berpuasa. Jadi harus ada larangan tentang impor. Kembali pada tahun sebelum 66. Ini tidak apa-apa. Tapi ironisnya saat ini kita serba mengimpor. Mulai dari sagu, gula, terigu dan lainnya. Ini tidak baik. Sangat membahayakan. Kita akan menjadi bangsa yang dependen. Tidak independen!
Bagaimana peran Bulog selama ini?
Sejauh ini Bulog belum banyak berperan. Misalkan sebelum petani panen harga bawang adalah Rp 20.000,00. Tapi begitu panen mendadak harga bawang menjadi rendah, hanya Rp 10.000.00. Nah ini kan sangat melemahkan semangat petani untuk meningkatkan hasil panen. Seharusnya yang Rp 20.000,00 ditetapkan. Sementara sisa barangnya dibeli Bulog. Jadi rakyat itu menjualnya ke Bulog. Lalu Bulog menyimpannya untuk dijual ke masyarakat. Tapi saat ini yang terjadi kan malah sebaliknya, bagaimana uang Bulog itu dikorup sedasyat-dasyatnya.
Apakah ini bukti menurunya kesalehan sosial?
Mungkin di satu sisi benar. Tanggung jawab sosial dari masyarakat kita semakin berkurang. Artinya orang-orang yang mendapatkan amanah dan kedudukan itu hampir tidak ada kesalehan sosialnya. Dari para pejabat itu kan kita berharap bahwa jabatan itu sebagai amanah untuk dipertanggungjawabkan. Saya pernah menulis dalam sebuah surat kabar tentang dua pilar kepemimpinan untuk membangun masyarakat kita agar lebih baik. Pertama, sebagai ulil amri. Orang yang mendapatkan amanah untuk mengurus masalah ummah. Jadi jabatan itu bukan dijadikan peluang untuk memeperkaya diri. Tapi seharusnya dijadikan kesempatan yang terbaik untukdiberikan kepada masyarakat. Yang kedua adalah Khadimul Ummah, pelayan ummat. Jadi seharusnya menjadpi pemimpin itu harus melayani umat. Tapi sekarang kan yang terjadi dilayani, rakyat yan dikuras. Uang rakyat dibawa ke pusat dan dari pusat dibagi-bagikan. Jadi ini sesuatu yang tidak benar.
Bila melihat status bangsa Indonesia, tampaknya ada yang ironis. Kita terkenal sebagai bangsa religisu tapi KKN jalan terus. Ini bagaimana?
Pertama, apa pun realitasnya, patut kita syukuri. Masyarakat kita muslim. Penganut muslim yang baik. Tetapi barangkali saat ini pemahaman tentang keislaman kurang konprehensif. Islam hanya dipandang hanya dalam sudut pandang vertikal. Jadi yang terpenting adalah bagaimana kita membangun kesalehan secara individu, dengan Allah SWT. Nah, padahal bila kita melihat dari berbagai macam ayat dan hadist yang individual itu harus tercermin dari kesalehan sosial. Shalat yang baik itu bukan hanya ditentukan dari praktik shalat yang baik. Tapi juga ditentukan bagaiamana setelah shalat itu dia semakin sayang sama masyarakat, bertanggung jawab, selalu merasa bahwa Allah selalu mengawasi kita, melarang kita untuk KKN. Jadi tidak dipisahkan. Sehingga menurut saya, yang perlu diluruskan adalah pemahaman masyarakat. Ada semacam sekularisme dalam islam. Yaitu ada pemisahan antara urusan akhirat dan dunia. Bahwa masjid itu tidak terkait dengan pasar. Di Majid kita tidak boleh berdusta sementara di pasar kita tidak boleh. Nah, saat ini ada gejkala seperti itu. Seharusnya kan tidak boleh terpisah anatara masjid dan kampus, masjid dngan pasar, denganbirokrasi dan seterusnya.
Kedua adalah sistemnya yang belum jalan. Jadi norma-norma agama itu belum terefleksikan dalam sistem. Seharusnya kan sudah menjadi sistem. Bukan sekedar norma-norma saja. Jujur hal itu harus dijadikan sebagai sistem. Kemudian juga msialnay hal-hal yang lainnya.
Adakah fenomena bahwa ibadah hanya dijadikan sebagai rutinitas menjalankan kewajiban saja?
Ya saya sering mengatakan yang terjkadi sekarang adalah sekedar pemenuhan kewajiban. Bukan sebagai kebutuhan. Kan lain ini. Misalkan bila saya menganggap shalat sebagai kebutuhan maka bila saya tidak mengerjakannya maka ada sesuatu yang hilang. Tapi bila shalat hanya dianggap sebagai kewajiaban, maka saya hanya sekedar menjalankannya. Dan kalau saya tidak melaksanakannya saya takut. Ya ini tidak salah. Ini seharusnya dijadikan dasar. Jangan dijadikan sebuah pemahaman yang terus menerus. Tapi realitas ini yang harus kita terima.
Bagaimana kiat-kiatnya untuk mencintai ibadah?
Memang perlu ada semacam contoh. Karena masyarakiat kita saat ini memang membutuhkan uswah. Karena itu menurut saya, saat ini bagaimana ditumbuhkan orang tua di rumah dijadikan contoh bagi anak-anaknya. Guru sebagai contoh bagi bagi muridnya dan pejabat sebagai contoh bagi rakyatnya. Karena itu marilah berlomba-loba menjadikan diri kita menjadi figur. Sekecil apa pun ruang lingkup kita, tapi yang namanya uswah itu adalah suatu hal yang penting. Artinya agama itu tidak hanya sekedar pada tahap pengetahuan dan wacana. Tapi hingga pada tahap implementasi. Itu yang pertama.
Yang kedua adalah sosialiasasi tentang ajaran Islam yang menyeluruh. Ini perlu untuk terus dilakukan. Dan juga termasuk ajaran agama islam yang menyangkut berbagai bidang kehidupan. Ini harus dimuncuilkan. Sekarang ini yang ada di majlis-majlis ta’lim yang ada kan hanya bagaimana beribadah yang baik. Tapi belum pada bagaimana berdagang yang baik, bagaiamana berbisnis yang baik, bagaimana bermuamalah yang baik? Itu juga harus kita lakukan. Bagaiamana berpolitik yang baik? Nah ini harus kita lakuikan. Dan politiknya orang muslim harus berbeda dengan cara politiknya orang sekuler. Apalagi dengan yang non muslim. Malah jangan sampai perilaku politis yang muslim lebih jelek daripada politisi non muslim.
Kemudian juga harus ada proses pembiasaan. At-tamrinat. Latihan-latihan. Artinya kita contoh pola yang dicontoihkan oleh rasul. Misalkan mulai kecil aanak-anak itu harus dibiasakan dengan perilaku islami, semisal kejujuran dan tanggung jawab dan lainnya.
Jadi kita harus memposisikan agama tidak hanya sebagai aspek pengetahuan tapi juga pada perilaku. Misalkan bila kita antri untuk beli tiket KA, yang terjadi kan soiapa yang kuat ia dapat. Nah ini perlu kita perbaiki.
Di samping itu juga hal-hal yang bersifat amal jama’i juga harus ditumbuhkan.
Hal di atas apakah juga karena kurangnya pemahaman masyarakat tentang sisi spiritual ibadah?
Bisa saja.
Lantas bagaimana untuk memberikan pencerahan kepada masyarakat?
Betul. Saya setuju itu. Jadi sekarang ini kan banyak yang lebih menjelaskan hukum. Fiqh oriented. Jadi kalau ibadah haji itu, yang diberikan hanya sebatas mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan. Tetapi makna dari ibadah atau hikmahnya... jadi ada hukmu tsayri ada juga hikma tasyri. Jadi sekarang ini yang menonjol adalah hukmu syar’i: ini yang harus dilakukan dan ini yang tidak boleh dilakukan. Tapi hikmahnya belum banyak yang menjelaskan. Misalkan kenapa sih zakat itu diwajibkan? Harusnya diungkap, digali maknanya. Atau kenapa shalat itu diwajibkan? nah maka perlu kita ungkap hikmahnya.
Jadi selama ini belum seimbang. Lantas kenapa tidak seimbang? Karena untuk menjelaskan hikmah juga bukan pekerjaan mudah. Perlu melakukan analisa yang dalam dan tajam. Pwerlu pemikiran yang kritis.
Bila menjelaskan hukum itu kan mudah: misalkan shalat itu wajib. Tapi jika menjelaskan hikmah shalat? Itu kan memerlukan penelaahan yang mendalam dan daya fikir yang mendalam.
Cara menjelaskan hikmah shalat?
Di antara hikmah shalat itu kan kita bisa menumbuhkan persamaan. Orang tidak dipandang dari sudut pandang jabatan dan kekeayaan. Tapi orang itu di hadapan Allah itu sama, kecuali kadar taqwanya. Sehingga hikmah yang bisa digali adalah, ketika kita menjadi orang yang punya jabatan mentereng dan kaya seharusnya kita tidak boleh sombong. Orang yang ruku dan sujud itu kan sama. Ketika imam ruku maka semuanya rukuk.
Kedua adalah shalat juga mengajarkan pada kita untuk disiplin. Disiplin pada aturan dan waktu. Misalkan shalat ashar itu mulai setengah empat hingga setengah enam. Maka jangan kita shalat ashar jam tiga atau setengah tuj, ini tidak boleh. Jadi dalam islam itu diajarkan untuk bagaimana menghargai waktu.
Shalat juga menumbuhkan etos kerja. Coba lihat, shalat itu kan gerakan-gerakan. Nah jika kita ingin memperoleh pertolongan dari Allah, kita harus beribadah. Iyaka na’budu wa iyyaka nasta’in. Na’budu dulu baru nastain. Tidak bisa nasta’in dulu baru na’budu. Nah hikmahnya adalah kita harus bekerja keras terlebih dahulu baru kemudian bisa menikmati hasilnya.
Demikian juga, shalat bisa menghasilkan ketenanganjiwa. Itu jelas sekali. Karena kita dalam shalat itu kan berdialog dengan Allah. Tapi ini ada catatannya, yaitu shalat yang harus dikerjakan dengan tertib. Bacaan-bacaannya harus dibaca dengan pelahan dan penuh penghayatan. Nah bila dilakukan seperti itu, orang itu kan seperti berdialog. Nah... kata-kata warzukli itu terkait antara ketika kita berhadapan dengan Allah dalam shalat dengan ketika kita berada diluar. Redaksi Warzukli itu kan konteksnya ada di luar shalat. Artinya ketika kita ingin mencari rezeki, maka kita tidak boleh keluar dari garis-garis yang telah ditentukan oleh Allah. Sehingga orang yang shalatnya bener itu tidak mungkin KKN. Apabila bila meresapi inna shalati wanusuki wa mahyaya wamamti lillahi robbil alamin. Karena dia merasa direcord/dicatat oleh Allah.
Kemudian juga shalat juga bisa menumbuhkan keberpihakan pada pemimpin yang baik. Shalat itu kan harus tunduk pada imam. Jadi kita harus tunduk pada pemimpin. Bila imam rukuk, maka kita juga rukuk. Tapi jika pemimpin itu salah, maka juga harus kita koreksi. Bila perlu kita ganti. Misalkan salah bacaan dan gerakannya. Tetapi koreksinya dengan cara yang baik. Bukan dengan cara yang vulgar dan tidak sopan. Cukup dengan kata subhanallah. Nah ini hanya sebagian dari hikmah shalat. Seharusnya ini sudah menjadi sistem dalam kehidupan kita.
Kebetulan saya banyak bergelut dalam dunia perzakatan. Saya selalu menguraikan hikmah zakat. Misalkan saya selalu menjelaskan bahwa hikmah dari zakat adalah bisa menumbuhkan etos kerja. Orang yang zakat pasti tidak akan korupsi, bila ia benar-bvenar ikhlas. Karena zakat itu tidak dari tangan yang kotor. Zakat itu bukan pencucian uang. Tapi zakat itu adalah membersihkan harta yang telah kjita dapatkan dari cara-cara yang bersih. Agar jangan sampai ada harta kita yang merupakan hak orang lain.
Zakat juga bisa menumbuhkan etos kerja. Orang yang berzakat pasti bukan orang yang malas bekerja. Orang yang malas tak mungkin bisa berzakat. Jadi gerakan sadar zakat adalah gerakan etos kerja.
Kemudian juga menumbuhkan kasih-sayang kepada sesama, khususnya mereka yitu dhuafa atau mustahiq, nah inilah yang disebut dengan kesalehan sosial. Dalam hadist disebutkan taro mukminin fi tarokhumihim watatufihim kama fi syajarin wahid. (kau lihat orang-orang mukimin dalam kasih sayangnya sperti dalam satu tubuh).
Saya menguraikan zakat itu ada sebelesa, ini pernah saya tulis dalam buku saya (nih spesial untuk adik, deh. hahaha) zakat dalam ekonomi modern. Nah demikian pula hikmah-hikmah yang lain.
Misal dalam contoh zakat itu untuk menumbuhkan harta, bukan untuk mengurtangi hjarta. Nah selama ini kan sebaliknya, orang beranggapan bahwa jika saya berxakat maka harta saya berkurang. Mungkin secara nominal harta itu berkurang ketika itu. Dari sepuluh juta dikurangi dua setengah persen kan duaratus lima puluh ribu. Tapi sesungguhnya dengan berzakat itu harta kita akan terus berlipat ganda. Karena dengan berzakat maka etos kerja kita akan bertambah dan terus bertambah sehingga harta kekayaan kita akan terus meningkat. Sehingga kita punya keinginan untuk terus memberikan yang terbaik bagi masyarakat kita. Dan secara empirik, orang-orang yang ikhlas dalam berzakat akan mengalami hal ini, hartanya tidak akan pernah berkurang. Meski pun dalam menjelaskan hikmah zakat ini—jujur saja—sangat sulit sekali. Ada yang bisa dilakukan dengan kata-kata atau teori-teori ekonomi, tapi ada pula yang hanya bisa dirasakan saja. Makanya saya sering mengatakan, lakukan sebaik-baiknya dengan penuh keikhlasan, nanti anda akan merasakan bahwa zakat adalah sebuah kenikmatan. Lakukan shalat dengan sebaik-baiknya maka anda akan merasakan sebauh kenikmatan. Kita akan merasa butuh dengan shalat dan zakat.
Jadi jangan sampai ketika kita berbuat baik dengan orang lain itu, kita merasa bahwa orang lain yang butuh. Tapi kita yang butuh. Karena zakat itu yang paling banyak menerima manfaat dari zakat itu bukan orang yang kita beri, tapi kita yang memberi. Bukan mustahiq tapi muzakki.
Apakah sesuai dengan kalimat “Memberi itu terangkan hati?”
Benar. Dan itu bisa dirasakan. Kalau saya biasanya menggunakan slogan bila anda ingin mengembangakan usaha anda maka berzakatlah. Anda ingin memperoleh kep[uasan bathin maka shalatlah. Jadi arahnya ke sana.
Tapi untuk menjelaskan hikmah ini sangat tidak mudah. Du\ibutuhkan kedalaman fikiran dan harus banyak bacaan, banyak pengalaman spiritual sehingga agama itu dirasakan dan dihayati.
Terakhir, bila melihat tema-tema yang baru saja menjadi dialog anta kita, bagaiamana pendapat bapak tentang majalah kami yang akan terbit ini?
Oh! Baru terbit ya?
Saya kira ini bagus sekali. Saya memberikan apresiasi pada majalah-majalah seperti ini, yang bergerak dalam bidang spiritual. Tetapi kita dalam “tidak terpisah” dengan aspek-aspek yang lain. Spiritual itu boleh jargonnya. Hikmahnya. Sehingga tidak boleh melepaskan dari hukum syari. Karena kita tidak bisa bicara hikmah saja, lalu mengabvaikan hukum. Begitu pula sebaliknya.
Jadi jika seseorang spiritualitasnya sudah baik, maka bagaimana hal itu tercermin dalam perilakunya yang semakin baik.
Jadi yang saya harapkan adalah, penekanannya pada spiritual yang bisa melahirkan etos kerja. Sehingga dicintai oleh masyarakat dan masyarakat menjadi butuh.
Wawancara dengan Prof. Dr. Didin Hafiduddin
Adib Minanurrachim
Dimuat di SC Magazine Vol I
SHALAT KHUSYU: MENSTABILKAN KADAR KORTISOL
Bagaimana shalat ditinjau dari sisi kesehatan?
Ditinjau dari sisi kesehatan, shalat itu ibarat meditasi. Meditasi ideal. Ketika meditasi, seseorang harus mencapai keadaan antara tidur dan sadar. Di dalam shalat kita disuruh khusyu dan khudur sekaligus. Khusyu itu seperti konsentrasi penuh, khudur itu artinya hadir/sadar. Jadi antara kedua keadaan ini orang tidak tidur. Dengan membaca surah-surah dalam shalat dan bergerak, dia tidak tidur. Karena jika tertidur maka meditasinya itu tidak ada artinya. Jadi tujuan meditasi itu mengkondisikan otak kita dalam posisi mencapai gelombang teta. Teta itu adalah gelombang neurotransmiter (penghantar terhadap rangsang ke otak). Gelombang teta ini gelomba+ng ideal di mana seseorang dalam keadaan rileks. Dan puncak kreatifitas manusia itu ada dalam gelombang teta. Makanya, ketika seseorang lupa akan sesuatu, ketika shalat mendadak ia akan mengingatnya. Misalkan seseorang lupa menaruh kunci. Lalu dia shalat, maka acapkali dia akan mengingatnya. Tapi ini bukan dalam arti shalat untuk mencari kunci.
Jadi ketika seseorang bekerja dan mengalami situasi pelik, lalu dia mengambil wudlu dan mendirikan shalat, setelah shalat maka kita akan fres kembali. Dengan satu syarat bahwa shalat kita benar-benar khusyu. Jadi shalat ini adalah proses meditasi yang paling sempurna karena memenuhi syarat-syarat meditasi yang sebenarnya. Itu dari aspek psikologis.
Kemudian dari aspek fisik, orang yang melakukan shalat itu menggerakkan seluruh bagian tubuh, sehingga seluruh sendi dan otot-ototnya bergerak dan menjadi lentur. Lalu gerakan dalam shalat ini juga merangsang otot-otot dan jantung serta otot kita, sehingga bila otak seseorang dalam keadaan stagnan, maka akan kembali fresh.
Apakah shalat bisa membantu seseorang untuk sembuh dari sakit?
Saat ini saya mengembangkan metode smart feeling. Jadi saya mengembangkan sebuah metode di mana seseorang yang menjalani pengobatan, baik untuk menyembuhkan penyakit atau peningkatan status kesehatan itu dengan beberapa cara. Salah satunya dengan ibadah. Saya selalu nasehatkan kepada pasien saya agar shalat khusyu.
“Shalat khusyu? wah sulit sekali?” keluh mereka. Tapi saya selalu bilang bahwa syarat utamanya adalah jangan tergesa-gesa. Karena shalat yang tergesa-gesa tidak akan memberikan keseimbangan pada hormonal di tubuh kita. Jadi bila ada orang yang sakit lalu menjalani proses penyembuhan yang sempurna, yaitu minum obat, mengontrol makan, mengoptimalkan ibadah dan berdoa kepada Allah, saya jamin insyaallah sembuh. Tapi metode ini jika diterapkan kepada pasien, mereka tidak hanya mendapatkan manfaat yang kecil.
Pertama, saya selalu minta kepada pasien itu agar dia sadar akan tiga aspek dalam pengobatan. Ini adalah dasar dari kesembuhan seseorang dari penyakit. 1) Adalah islam. Orang yang meyakini keislamannya itu ditandai dengan berserah diri kepada Allah. 2) Iman, orang yang beriman akan mempercayai bahwa yang menyembuhkan seseorang dari penyakit adalah Allah. 3) Ihsan. Orang yang ihsan akan yakin bahwa Allah selalu mengawasinya dan Allah dekat dengannya. Dengan ketiga aspek ini, maka orang itu akan bisa lebih mudah menjalani proses penyembuhan. Itu sudah bisa dibuktikan.
Jadi dalam smart feeling itu ada lima metode yang saya terapkan. Pertama, Sehat melalui makanan. Artinya, bila seseorang itu sakit, meski sakitnya kanker, dia perlu mengatur makanannya. Bila dia bisa mengatur pola makannya, kemungkinan berkembangnya sel kangker itu akan lebih kecil. Tadi itu saya sempat diskusi dengan teman-teman, tentang kemungkinan penyakit kanker bisa disembuhkan tanpa obat kimia. Saya jawab mungkin. Penyakit kanker itu muncul karena berbagai faktor yang merusak sel. Bila faktor yang merusak sel itu kita hindari maka tidak ada faktor-faktor baru yang masuk ke dalam tubuh kita yang bisa mempengaruhi pertumbuhan sel kanker tersebut. Sehingga yang masuk ke dalam tubuh kita selalu baik. Contohnya bahan carsinogenik, yaitu bahan yang dipercaya akan memunculkan atau menyebabkan seseorang bisa menderita penyakit kanker. Semisal makanan-makanan yang berwarna dan sebagainya. Kalau kita bisa mengontrol makanan kita maka kita sudah punya 50% modal untuk sembuh dari kanker. Kita yakin bahwa sel kanker itu kan punya umur. Tidak mungkin selama-lamanya sel tersebut ada. Nah, jika ia tidak disuplai dengan bahan-bahan makanan yang bisa menumbuh-kembangkannya, maka dia tidak akan memproduksi sel-sel kanker yang baru. Sementara sel yang lama akan lemah. Ketika sel kanker itu lemah, maka umurnya pendek.
Kedua adalah ibadah. Bila seseorang menjalankan shalat khusyu maka pikiran dan hatinya akan tenang. Itu merupakan kondisi yang kondusif untuk memperoleh kesehatan. Saya rasa semua orang setuju. Ketiga adalah doa. Ini seringkali dilupakan oleh seseorang. Karena ketika seseorang ditimpa penyakit, langkah pertama yang dia lakukan adalah bingung mencari obat. Bukan meminta pertolongan kepada Allah. Misalkan dia sakit kepala atau sakit perut, maka langkah pertamanya adalah bingung cari obat sakit kepala dan sakit perut. Seharusnya ingat pada Allah dan beristighfar lalu berdoa akan kesembuhan. Ini insyaallah akan berhasil. Karena meminta langsung kepada Yang Maha Penyembuh.
Keempat adalah memperbaiki lingkungan. Karena lingkungan itu sangat mendorong sehat-sakitnya seseorang. Nabi sendiri sudah mengingatkan, bagaimana kita tidak boleh buang air besar di atas air yang tenang semisal danau.
Lingkungan ini ada dua, lingkungan fisik dan sosial. Lingkungan fisik itu seperti jangan buang air sembarangan dan selalu membersihkan halaman. Sementara yang sosial adalah keluarga. Bila keluarga seseorang kacau balau, saya yakin badannya tidak akan sehat.
Kelima adalah tibbun nabawi, obat-obat atau cara-cara yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Dengan kelima faktor ini, insyaallah orang tersebut akan sembuh dari penyakitnya.
Apakah shalat juga bisa menyembuhkan impotensi?
Saya yakin bisa, baik dari aspek rohani maupun medis. Salah satu sebab munculnya penyakit impotensi itu karena persoalan psikologi, spiritual atau aspek sosial.
Impotensi itu ada dua macam, organis dan psikologis. Pertama, impotensi yang disebabkan karena faktor organ itu sendiri, tubuhnya mengalami gangguan. Misalnya penderita kencing manis yang lama. Penderita tekanan darah tinggi yang lama. Penderita penyakit jantung, stroke dan ginjal. Ini semua menyebabkan terjadinya impotensi. Tapi semua penyakit ini bisa disembuhkan bila seseorang bisa mengerjakan shalat dengan khusyu.
Seseorang bisa mencapai keadaan flow (melayang/ekstase) waktu shalat bila dia bisa memelihara suasana dengan baik, khudur, pikirannya bisa konsentrasi pada Allah: shalatlah seoalah-olah kamu melihat Allah. Tapi jika kamu tidak melihatNYA, maka sesungguhnya Allah melihatmu. Dalam kondisi seperti itu, orang kan dalam kondisi bermesraan dengan Allah. Sehingga secara otomatis hormon-hormon dalam tubuhnya, seperti yang telah dibuktikan oleh Moh. Shaleh (penulis buku Tahjjud), terutama hormon kortisolnya akan mempunyai kadar kortisol yang baik dan seimbang.
Kortisol adalah hormon yang diproduksi oleh ginjal yang mempunyai hubungan mengontrol kadar gula darah. Jika kadar gula darah rendah, maka kortisol bekerja mengubah lemak menjadi gula. Tapi jika normal, maka kortisol ini bagus untuk kesehatan. Sementara jika kadar kortisolnya tinggi, maka biasanya orang itu akan mengalami stres berat. Jadi meski seseorang itu tidak mengkonsumsi gula, tapi kortisol tetap mengubah lemak menjadi gula. Keadaan ini tentu berbahaya bagi kesehatannya. Sehingga lama-lama ia akan menderita kencing manis, karena kadar gulanya tinggi. Selain itu, bila kadar kortisolnya tidak terkendali, bisa menyebutkan penyakit jantung, ginjal, liver termasuk juga impotensi.
Semua penyakit-penyakit organis tersebut bisa menyebabkan seseorang menderita penyakit impotensi. Sehingga dengan dengan shalat khusyu ia akan bisa meminimalisir penyakit yangia derita. Hanya saja, khasiatnya tida seperti orang yang minum cildenafil (obat perangsang?). hehehe. Karena bila minum cildenafil orang itu akan bisa langsung berereksi. Tapi bila melalui shalat, ini bertahap. Dimulai dari merubah kebiasaan hidup, memperbaiki diri dan shalat khusyu dengan jangka waktu yang lama, insyaallah akan memberikan efek positif terhadap kesehatan orang tersebut.
Bagaimana dengan daya tahannya?
Ejakulasi dini itu berhubungan dengan pikiran, biasanya karena mengalami kecemasan yang sangat tinggi. Nah, kecemasan ini bisa diatasi dengan shalat. Karena shalat bisa membuat pikiran menjadi tenang. Tapi kembali lagi, kita harus ingat bahwa shalat yang dimaksud adalah yang khusyu dan tuma’ninah.
Bila daya tahan kesembuhannya bagaimana?
Bila seseorang menggunakan cildenafil, itu sekali minum untuk sekali pakai. Tapi jika orang menjalankan pengobatan secara tradisional, khususnya dengan shalat dan atau ibadah yang baik lainnya, ini bisa jangka panjang. Dia akan bisa lama menikmati hasilnya. Dan yang terpenting untuk menjadi perhatian kita saat ini adalah kita harus meminimalkan minum obat kimia. Artinya jika tidak perlu meminum obat kimia, sebaiknya jangan minum. Tapi jika terpaksa, ya apa boleh buat? Di klinik saya tidak ada obat kimia. Satu tetes pun tidak ada.
Jadi jika seseorang bisa menjalankan ibadah dengan baik, shalatnya khusyu, maka dia akan jarang mengindap penyakit. Kalau sakitnya jarang maka tidak perlu meminum obat kimia. Alhamdulillah saya sudah 4 tahun ini tidak pernah meminum obat kimia satu tablet pun. Bahkan vitamin c saja, saya tidak mau. Tablet-tablet yang terbuat dari zat kimia saya tidak mau. Selama empat tahun ini, saya sudah bisa mengatasi masalah kesehatan saya tanpa zat kimia. Nah ini harus disebarluaskan.
Soal kelangsingan tubuh, saya tidak menganjurkan untuk melakukan diet. Saya tidak suka diet ketat. Karena Nabi tidak pernah melarang ummatnya untuk makan. Jadi jika ada orang sakit, misalkan kencing manis, dia tidak perlu khawatir untuk makan makanan yang menyebabkan memperparah kondisi tubuhnya. Karena Nabi menganjurkan makanlah makanan sekedar untuk menegakkan tubuhmu. Apa bila masih kurang, maka sepertiga makanan, sepertiga minuman dan sepertiga udara. Itu prinsip dalam islam. Jika itu dijalankan, maka tidak akan ada orang yang kegemukan.
Apakah ada penelitian tentang keberhasilan dari anjuran Nabi itu?
Kita nanti akan menelitinya. Tapi saya yakin ini akan berhasil dan bermanfaat. Coba saja lihat ulama-ulama yang tua-tua. Mereka masih bisa sehat daya ingatnya juga tajam, itu karena apa?
Bila menghadapi makanan kita harus khusnudzon (berbaik sangka). Artinya, masyarakat saat ini kan banyak yang menderita penyakit, sehingga setiap dia akan makan sesuatu yang diingat adalah ancaman akan timbulnya penyakit baru dan atau kambuhnya penyakit lama. Misalkan jika kita makan sate kambing, maka yang kita ingat adalah darah tinggi. Makan kacang yang kita ingat asam urat dan setrusnya. Nah, karena dia berburuk sangka terlebih dahulu terhadap makanan tersebut, maka ketika dia makan sedikit Allah memberinya penyakit. Nah kita tidak boleh berprasangka buruk pada makanan. Kita ikut sunnah rasul, makanlah sebelum lapar dan berhentilah sebelum kenyang. Sederhananya, janganlah menuruti nafsu kita.
Wawancara dengan Dr. Moh. Ali Assegaf
Adib Minanurrachim
Dimuat di SC Magazine Vol I
Ditinjau dari sisi kesehatan, shalat itu ibarat meditasi. Meditasi ideal. Ketika meditasi, seseorang harus mencapai keadaan antara tidur dan sadar. Di dalam shalat kita disuruh khusyu dan khudur sekaligus. Khusyu itu seperti konsentrasi penuh, khudur itu artinya hadir/sadar. Jadi antara kedua keadaan ini orang tidak tidur. Dengan membaca surah-surah dalam shalat dan bergerak, dia tidak tidur. Karena jika tertidur maka meditasinya itu tidak ada artinya. Jadi tujuan meditasi itu mengkondisikan otak kita dalam posisi mencapai gelombang teta. Teta itu adalah gelombang neurotransmiter (penghantar terhadap rangsang ke otak). Gelombang teta ini gelomba+ng ideal di mana seseorang dalam keadaan rileks. Dan puncak kreatifitas manusia itu ada dalam gelombang teta. Makanya, ketika seseorang lupa akan sesuatu, ketika shalat mendadak ia akan mengingatnya. Misalkan seseorang lupa menaruh kunci. Lalu dia shalat, maka acapkali dia akan mengingatnya. Tapi ini bukan dalam arti shalat untuk mencari kunci.
Jadi ketika seseorang bekerja dan mengalami situasi pelik, lalu dia mengambil wudlu dan mendirikan shalat, setelah shalat maka kita akan fres kembali. Dengan satu syarat bahwa shalat kita benar-benar khusyu. Jadi shalat ini adalah proses meditasi yang paling sempurna karena memenuhi syarat-syarat meditasi yang sebenarnya. Itu dari aspek psikologis.
Kemudian dari aspek fisik, orang yang melakukan shalat itu menggerakkan seluruh bagian tubuh, sehingga seluruh sendi dan otot-ototnya bergerak dan menjadi lentur. Lalu gerakan dalam shalat ini juga merangsang otot-otot dan jantung serta otot kita, sehingga bila otak seseorang dalam keadaan stagnan, maka akan kembali fresh.
Apakah shalat bisa membantu seseorang untuk sembuh dari sakit?
Saat ini saya mengembangkan metode smart feeling. Jadi saya mengembangkan sebuah metode di mana seseorang yang menjalani pengobatan, baik untuk menyembuhkan penyakit atau peningkatan status kesehatan itu dengan beberapa cara. Salah satunya dengan ibadah. Saya selalu nasehatkan kepada pasien saya agar shalat khusyu.
“Shalat khusyu? wah sulit sekali?” keluh mereka. Tapi saya selalu bilang bahwa syarat utamanya adalah jangan tergesa-gesa. Karena shalat yang tergesa-gesa tidak akan memberikan keseimbangan pada hormonal di tubuh kita. Jadi bila ada orang yang sakit lalu menjalani proses penyembuhan yang sempurna, yaitu minum obat, mengontrol makan, mengoptimalkan ibadah dan berdoa kepada Allah, saya jamin insyaallah sembuh. Tapi metode ini jika diterapkan kepada pasien, mereka tidak hanya mendapatkan manfaat yang kecil.
Pertama, saya selalu minta kepada pasien itu agar dia sadar akan tiga aspek dalam pengobatan. Ini adalah dasar dari kesembuhan seseorang dari penyakit. 1) Adalah islam. Orang yang meyakini keislamannya itu ditandai dengan berserah diri kepada Allah. 2) Iman, orang yang beriman akan mempercayai bahwa yang menyembuhkan seseorang dari penyakit adalah Allah. 3) Ihsan. Orang yang ihsan akan yakin bahwa Allah selalu mengawasinya dan Allah dekat dengannya. Dengan ketiga aspek ini, maka orang itu akan bisa lebih mudah menjalani proses penyembuhan. Itu sudah bisa dibuktikan.
Jadi dalam smart feeling itu ada lima metode yang saya terapkan. Pertama, Sehat melalui makanan. Artinya, bila seseorang itu sakit, meski sakitnya kanker, dia perlu mengatur makanannya. Bila dia bisa mengatur pola makannya, kemungkinan berkembangnya sel kangker itu akan lebih kecil. Tadi itu saya sempat diskusi dengan teman-teman, tentang kemungkinan penyakit kanker bisa disembuhkan tanpa obat kimia. Saya jawab mungkin. Penyakit kanker itu muncul karena berbagai faktor yang merusak sel. Bila faktor yang merusak sel itu kita hindari maka tidak ada faktor-faktor baru yang masuk ke dalam tubuh kita yang bisa mempengaruhi pertumbuhan sel kanker tersebut. Sehingga yang masuk ke dalam tubuh kita selalu baik. Contohnya bahan carsinogenik, yaitu bahan yang dipercaya akan memunculkan atau menyebabkan seseorang bisa menderita penyakit kanker. Semisal makanan-makanan yang berwarna dan sebagainya. Kalau kita bisa mengontrol makanan kita maka kita sudah punya 50% modal untuk sembuh dari kanker. Kita yakin bahwa sel kanker itu kan punya umur. Tidak mungkin selama-lamanya sel tersebut ada. Nah, jika ia tidak disuplai dengan bahan-bahan makanan yang bisa menumbuh-kembangkannya, maka dia tidak akan memproduksi sel-sel kanker yang baru. Sementara sel yang lama akan lemah. Ketika sel kanker itu lemah, maka umurnya pendek.
Kedua adalah ibadah. Bila seseorang menjalankan shalat khusyu maka pikiran dan hatinya akan tenang. Itu merupakan kondisi yang kondusif untuk memperoleh kesehatan. Saya rasa semua orang setuju. Ketiga adalah doa. Ini seringkali dilupakan oleh seseorang. Karena ketika seseorang ditimpa penyakit, langkah pertama yang dia lakukan adalah bingung mencari obat. Bukan meminta pertolongan kepada Allah. Misalkan dia sakit kepala atau sakit perut, maka langkah pertamanya adalah bingung cari obat sakit kepala dan sakit perut. Seharusnya ingat pada Allah dan beristighfar lalu berdoa akan kesembuhan. Ini insyaallah akan berhasil. Karena meminta langsung kepada Yang Maha Penyembuh.
Keempat adalah memperbaiki lingkungan. Karena lingkungan itu sangat mendorong sehat-sakitnya seseorang. Nabi sendiri sudah mengingatkan, bagaimana kita tidak boleh buang air besar di atas air yang tenang semisal danau.
Lingkungan ini ada dua, lingkungan fisik dan sosial. Lingkungan fisik itu seperti jangan buang air sembarangan dan selalu membersihkan halaman. Sementara yang sosial adalah keluarga. Bila keluarga seseorang kacau balau, saya yakin badannya tidak akan sehat.
Kelima adalah tibbun nabawi, obat-obat atau cara-cara yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Dengan kelima faktor ini, insyaallah orang tersebut akan sembuh dari penyakitnya.
Apakah shalat juga bisa menyembuhkan impotensi?
Saya yakin bisa, baik dari aspek rohani maupun medis. Salah satu sebab munculnya penyakit impotensi itu karena persoalan psikologi, spiritual atau aspek sosial.
Impotensi itu ada dua macam, organis dan psikologis. Pertama, impotensi yang disebabkan karena faktor organ itu sendiri, tubuhnya mengalami gangguan. Misalnya penderita kencing manis yang lama. Penderita tekanan darah tinggi yang lama. Penderita penyakit jantung, stroke dan ginjal. Ini semua menyebabkan terjadinya impotensi. Tapi semua penyakit ini bisa disembuhkan bila seseorang bisa mengerjakan shalat dengan khusyu.
Seseorang bisa mencapai keadaan flow (melayang/ekstase) waktu shalat bila dia bisa memelihara suasana dengan baik, khudur, pikirannya bisa konsentrasi pada Allah: shalatlah seoalah-olah kamu melihat Allah. Tapi jika kamu tidak melihatNYA, maka sesungguhnya Allah melihatmu. Dalam kondisi seperti itu, orang kan dalam kondisi bermesraan dengan Allah. Sehingga secara otomatis hormon-hormon dalam tubuhnya, seperti yang telah dibuktikan oleh Moh. Shaleh (penulis buku Tahjjud), terutama hormon kortisolnya akan mempunyai kadar kortisol yang baik dan seimbang.
Kortisol adalah hormon yang diproduksi oleh ginjal yang mempunyai hubungan mengontrol kadar gula darah. Jika kadar gula darah rendah, maka kortisol bekerja mengubah lemak menjadi gula. Tapi jika normal, maka kortisol ini bagus untuk kesehatan. Sementara jika kadar kortisolnya tinggi, maka biasanya orang itu akan mengalami stres berat. Jadi meski seseorang itu tidak mengkonsumsi gula, tapi kortisol tetap mengubah lemak menjadi gula. Keadaan ini tentu berbahaya bagi kesehatannya. Sehingga lama-lama ia akan menderita kencing manis, karena kadar gulanya tinggi. Selain itu, bila kadar kortisolnya tidak terkendali, bisa menyebutkan penyakit jantung, ginjal, liver termasuk juga impotensi.
Semua penyakit-penyakit organis tersebut bisa menyebabkan seseorang menderita penyakit impotensi. Sehingga dengan dengan shalat khusyu ia akan bisa meminimalisir penyakit yangia derita. Hanya saja, khasiatnya tida seperti orang yang minum cildenafil (obat perangsang?). hehehe. Karena bila minum cildenafil orang itu akan bisa langsung berereksi. Tapi bila melalui shalat, ini bertahap. Dimulai dari merubah kebiasaan hidup, memperbaiki diri dan shalat khusyu dengan jangka waktu yang lama, insyaallah akan memberikan efek positif terhadap kesehatan orang tersebut.
Bagaimana dengan daya tahannya?
Ejakulasi dini itu berhubungan dengan pikiran, biasanya karena mengalami kecemasan yang sangat tinggi. Nah, kecemasan ini bisa diatasi dengan shalat. Karena shalat bisa membuat pikiran menjadi tenang. Tapi kembali lagi, kita harus ingat bahwa shalat yang dimaksud adalah yang khusyu dan tuma’ninah.
Bila daya tahan kesembuhannya bagaimana?
Bila seseorang menggunakan cildenafil, itu sekali minum untuk sekali pakai. Tapi jika orang menjalankan pengobatan secara tradisional, khususnya dengan shalat dan atau ibadah yang baik lainnya, ini bisa jangka panjang. Dia akan bisa lama menikmati hasilnya. Dan yang terpenting untuk menjadi perhatian kita saat ini adalah kita harus meminimalkan minum obat kimia. Artinya jika tidak perlu meminum obat kimia, sebaiknya jangan minum. Tapi jika terpaksa, ya apa boleh buat? Di klinik saya tidak ada obat kimia. Satu tetes pun tidak ada.
Jadi jika seseorang bisa menjalankan ibadah dengan baik, shalatnya khusyu, maka dia akan jarang mengindap penyakit. Kalau sakitnya jarang maka tidak perlu meminum obat kimia. Alhamdulillah saya sudah 4 tahun ini tidak pernah meminum obat kimia satu tablet pun. Bahkan vitamin c saja, saya tidak mau. Tablet-tablet yang terbuat dari zat kimia saya tidak mau. Selama empat tahun ini, saya sudah bisa mengatasi masalah kesehatan saya tanpa zat kimia. Nah ini harus disebarluaskan.
Soal kelangsingan tubuh, saya tidak menganjurkan untuk melakukan diet. Saya tidak suka diet ketat. Karena Nabi tidak pernah melarang ummatnya untuk makan. Jadi jika ada orang sakit, misalkan kencing manis, dia tidak perlu khawatir untuk makan makanan yang menyebabkan memperparah kondisi tubuhnya. Karena Nabi menganjurkan makanlah makanan sekedar untuk menegakkan tubuhmu. Apa bila masih kurang, maka sepertiga makanan, sepertiga minuman dan sepertiga udara. Itu prinsip dalam islam. Jika itu dijalankan, maka tidak akan ada orang yang kegemukan.
Apakah ada penelitian tentang keberhasilan dari anjuran Nabi itu?
Kita nanti akan menelitinya. Tapi saya yakin ini akan berhasil dan bermanfaat. Coba saja lihat ulama-ulama yang tua-tua. Mereka masih bisa sehat daya ingatnya juga tajam, itu karena apa?
Bila menghadapi makanan kita harus khusnudzon (berbaik sangka). Artinya, masyarakat saat ini kan banyak yang menderita penyakit, sehingga setiap dia akan makan sesuatu yang diingat adalah ancaman akan timbulnya penyakit baru dan atau kambuhnya penyakit lama. Misalkan jika kita makan sate kambing, maka yang kita ingat adalah darah tinggi. Makan kacang yang kita ingat asam urat dan setrusnya. Nah, karena dia berburuk sangka terlebih dahulu terhadap makanan tersebut, maka ketika dia makan sedikit Allah memberinya penyakit. Nah kita tidak boleh berprasangka buruk pada makanan. Kita ikut sunnah rasul, makanlah sebelum lapar dan berhentilah sebelum kenyang. Sederhananya, janganlah menuruti nafsu kita.
Wawancara dengan Dr. Moh. Ali Assegaf
Adib Minanurrachim
Dimuat di SC Magazine Vol I
Langganan:
Postingan (Atom)