Kamis, 23 Oktober 2014

Merawat Toleransi

Oleh. M. Adib Minanurohim

BUKAN rahasia bila di negara Indonesia, penghormatan terhadap hak asasi manusia masih harus diperjuangkan terus menerus. Karena waktu terus menunjukkan, betapa hak kebebasan menjalankan agama dan keyakinan masih merupakan sesuatu yang bernilai mahal.

Sekedar menyegarkan ingatan, pada tahun 2012 lalu, ada beberapa kasus yang merampas kebebasan beragama dan berkeyakinan. Di antaranya adalah Penyerangan terhadap Jamaah Ahmadiyah di Bogor; penyerangan dan kriminalisasi terhadap warga Syiah di Sampang; GKI Yasmin di Bogor; dan Kasus HKBP Filadelfia di Bekasi.

Berbagai kasus itu, percikan awal api konfliknya, adakalanya dimulai dari persoalan sosial, ekonomi, politik dan lainnya, hingga kemudian berujung pada konflik agama dan keyakinan, serta melibatkan banyak orang dan/atau kelompok. Peristiwa ini, tidak bisa tidak menunjukkan kegagalan negara dalam memberikan perlindungan terhadap warga negaranya (baca; kelompok minoritas). Indonesia yang merupakan negara berideologikan Pancasila dan berfalsafah Bhineka Tunggal Ika, sudah semestinya melindungi kelompok-kelompok minoritas di atas. Karena Indonesia adalah negara yang lahir dari keragaman dan dibangun untuk melindungi keragaman.

Kegagalan negara itu, bisa dilihat dari dua hal sebagai berikut: Pertama, Kepolisian Negara Republik Indonesia yang salah satu tujuannya mewujudkan ketentraman masyarakat dengan menjunjung tinggi hak azasi manusia, acapkali gagal mencegah kekerasan yang terus berulang di berbagai wilayah. Kegagalan ini juga merupakan akibat dari tidak dilaksanakannya prosedur tetap penanganan anarki di jajaran kepolisian, yang diduga karena ketakutan atau bahkan kedekatan aparat kepolisian dengan petinggi ormas maupun tokoh-tokoh massa radikal.

Kedua, pemerintah daerah yang merupakan penyelenggara urusan pemerintahan di tingkat provinsi, kabupaten/kota gagal bertindak netral, dan dalam kondisi tertentu terdapat oknum pemerintah yang justru ikut memprovokasi kebencian yang berakibat pada tindak kekerasan. Dalam kasus GKI Yasmin di Bogor, dan HKBP Filadelfia di Bekasi, terdapat dugaan kuat bahwa kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pemimpin lokal terkait dengan kelompok minoritas sering berat sebelah. Setidaknya 5 gubernur dan 23 bupati/walikota telah mengeluarkan larangan beraktifitas bagi warga Ahmadiyah, dan ini menjadi alat legitimasi bagi kekerasan yang dilakukan oleh kelompok intoleran.

Bahkan, kabar ironi datang dari kasus Syiah di Sampang. Karena, ketika puluhan warga Sampang berupaya mengakhiri konflik dengan jamaah Syiah di sana, pemerintah daerah Sampang malah membisu. Tak ada secuil pun dukungan yang diberikan pemerintah daerah untuk menjaga dan melanggengkan deklarasi damai yang dilaksanakan warga Sampang.

Tentu saja, dilihat dari kacamata negara yang berideologikan Pancasila dan berfalsafah Bhineka Tunggal Ika, fakta di atas cukup menyedihkan. Lebih-lebih, pada tahun 2013 ini, intoleransi antarumat beragama dan keyakinan yang mengancam keutuhan Indonesia masih berlangsung. Contoh yang paling segar adalah kasus penyerbuan terhadap Pesantren Darussholihin, di Desa Puger Kulon, Kecamatan Puger, Jember, Jawa Timur yang diduga beraliran Syiah, dan sikap antipati warga Lenteng Agung, Jakarta Selatan, terhadap Lurah Susan Jasmine Zulkifli yang bergama Kristen Katolik.

Sementara itu, dilihat dari sudut sosial, sebagian besar masyarakat Indonesia nampak masih kesulitan untuk bersikap toleran terhadap seseorang dan/atau kelompok yang memiliki perbedaan. Lebih-lebih, bila jurang perbedaannya terlampau besar, seperti kelompok minoritas di atas di mata kelompok mayoritas.

Selain itu, sebagai kelompok yang diuntungkan keadaan, kelompok mayoritas cenderung lupa bila sebenarnya mereka juga memiliki perbedaan di mata kelompok minoritas. Dan mereka juga kurang menyadari bila seandainya berada pada posisi kelompok minoritas. Dus, kondisi inilah yang acapkali dimanfaatkan oknum untuk membenihkan rasa benci hingga tumbuh berkembang menjadi kesadisan.

Karena itu, perlu ada gerakan yang bisa memberikan kesadaran bagi kelompok mayoritas sekaligus kelompok minoritas tentang pentingnya sikap saling memahami dan menghargai perbedaan. Pola penyadaran ini, tentu saja harus diiringi dengan internalisasi nilai-nilai Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika, agar sikap toleran terhadap liyan bisa melekat dalam kesadaran kedua belah pihak.

Gerakan Kultural dan Keagamaan

Menyikapi persoalan di atas, selain dibutuhkan sikap toleran dari para pemegang kebijakan, juga dibutuhkan gerakan kultural dan keagamaan.

Dalam gerakan kultural, kita bisa menyebarluaskan toleransi melalui media seni-budaya seperti pertunjukan wayang, musik, tarian, dan lain sebagainya. Tentang ini, kita bisa mengambil hikmah dari kisah walisongo yang begitu luwes tatkala berhadapan dengan budaya lokal saat itu.

Sementara pada gerakan keagamaan, kita bisa menyebarluaskan toleransi melalui rutinas ibadah dalam setiap agama di Indonesia. Untuk Islam, kita bisa menunjuk shalawatan, yasinan, tahlilan, hingga kuhtbah jumat sebagai media sosialisasi dan internalisasi nilai-nilai toleransi.

Tentang khutbah jum’ah, ada pengalaman menarik yang pernah saya dapatkan. Saat itu, Jum’at, 6 Sepetember 2013, saya menjalankan ibadah sholat Jum’ah di Masjid Al Ikhlas yang terletak di dalam komplek Komando Daerah Militer (Kodam) III Siliwangi, Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat. Berada dalam kawasan militer, saya menduga Khotib Jum’ah akan berkhutbah seputar cinta tanah air. Namun dugaan saya kurang tepat. Saat itu, khotib berkhutbah tentang toleransi antarmadzhab fiqh.

Ada beberapa dasar yang digunakan Khotib saat menggambarkan toleransi antarmadzhab fiqh. Pertama, adalah sikap Imam Syafi’i soal qunut. Jamak diketahui, bahwa Imam Hanafi dan Imam Hambali tegas mengatakan qunut tak sunah pada salat subuh, kecuali pada salat witir. Karena menurut mereka, dalam salat subuh, Nabi Muhammad melaksanakan qunut hanya selama satu bulan. Setelah itu tidak. Imam Syafi’i menolak pendapat ini. Dengan dalil yang tak kalah kuat, ia meyakini qunut subuh juga berstatus sunah. Sebagai ulama yang konsekuen, Imam Syafi’i tak putus membaca qunut subuh sepanjang hidupnya, kecuali pada suatu hari yang aneh. Ya, saat itu Imam Syafi’i meninggalkan qunut subuh. Perilaku ganjil yang sepintas tampak mengkhianati buah pikirannya sendiri ini terjadi di Baghdad, Iraq. Persisnya, di dekat sebuah makam. Mengapa? Ternyata Imam Syafi’i sedang menaruh hormat kepada ilmu dan jerih payah pemikiran ulama lain, kendatipun berseberangan dengan pahamnya. Karena di tanah makam di sekitar tempat ia salat itu telah bersemayam jasad mujtahid agung, Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit alias Imam Hanafi.

Yang kedua adalah cerita tentang Ketua PBNU KH Idham Cholid dan Buya HAMKA yang merupakan Tokoh Muhammadiyah. Kedua tokoh organisasi besar Islam Indonesia ini, saling menghargai perbedaan dalam ibadah doa qunut.

Dari dua peristiwa di atas, khotib menekankan bahwa Islam akan menjadi agama rahmatan lil ‘aalamiin apabila setiap muslim di muka bumi ini mengedepankan akhlak/perilaku yang mulia. Tentang hal ini, Khotib Jum’ah mengutip hadis Nabi Muhammad SAW, yang menyatakan bahwa sesungguhnya Muhammad diutus untuk menyempurnakan akhlak.

Selepas sholat jumat, kawan-kawan saya yang berbeda aliran fiqh dengan saya, menghampiri saya dan berkata bahwa isi khutbah jum’ah yang disampaikan terasa damai dan menyejukkan.

Cerita di atas, merupakan contoh tentang sikap toleran tentang perbedaan kecil. Merawat perbedaan kecil ini, tentu merupakan langkah penting menuju sikap toleran terhadap perbedaan-perbedaan besar. Tentu saja, bila sikap toleran ini terus-menerus dirawat, kita bisa turut membantu mewujudkan cita-cita para founding fathers tentang negara bangsa Indonesia yang rukun, damai, dan sejahtera. Semoga.

Pernah dimuat di Majalah ALFIKR tahun 2013

* Penulis adalah alumni PP Nurul Jadid, dan sempat aktif di LPM. ALFIKR periode 2001 s.d 2007. Sekarang tinggal di pinggiran Jakarta.

Rabu, 16 Januari 2013

Petuah KH. Zaini Mun’im

Orang yang hidup di Indonesia kemudian tidak melakukan perjuangan, dia telah berbuat maksiat. Orang yang hanya memikirkan masalah ekonominya saja dan pendidikannya sendiri, maka orang itu telah berbuat maksiat. Kita semua harus memikirkan perjuangan rakyat banyak.

Rabu, 29 Agustus 2012

Kopi, Duta Pariwisata Indonesia


JAKARTA, KOMPAS.com - Kopi sangat erat kaitannya dengan pariwisata Indonesia. Sebab, kopi Indonesia merupakan salah satu kopi terbaik di dunia. "Salah satu dari industri kreatif yang tengah kita kembangkan, salah satu sektor terbesar yang harus kita jual adalah culinary. Dari culinary ini bisa makanan dan minuman. Pariwisata tanpa makanan dan minuman itu tidak mungkin. Kopi menjadi bagian penting dari industri kreatif," ungkap Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sapta Nirwandar di Gedung Sapta Pesona, Jakarta, Selasa (28/8/2012).

Sapta mengungkapkan potensi kopi di Indonesia sangat beragam mulai dari Aceh, Sidikalang di Sumatera Utara, Lampung, Jawa, Bali, Flores, Toraja, sampai Wamena. Menurut Director Indonesian Coffee Festival 2012, Ellyanthi Tambunan, ada 14 provinsi penghasil kopi kualitas ekspor di Indonesia. Ia menuturkan kopi-kopi dari 14 provinsi di Indonesia tersebut memiliki 14 cita rasa yang berbeda-beda.

"Karakter dan rasanya berbeda. Sangat unik dan kita tak bisa temukan di belahan bumi mana pun. Karena itu, kami ingin adanya awareness (kesadaran) ini, supaya masyarakat Indonesia bisa bangga dengan produk-produk lokal," tutur Ellyanthi.

Hal senada juga diungkapkan oleh Tuti Mochtar dari Indonesian Coffee Festival 2012 yang juga seorang ahli kopi. Ia mengungkapkan Indonesia merupakan produsen kopi terbesar ketiga di dunia.

"Pariwisata tidak bisa dipisahkan dengan minuman. Indonesia mempunyai kopi beragam dengan kualitas yang baik. Kita punya cara membuat kopi yang unik, seperti dengan kaos kaki, tubruk," ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa kopi juga sudah menjadi bagian dari gaya hidup dengan dibukanya kedai-kedai kopi. Para barista Indonesia yaitu peracik kopi yang bekerja dengan mesin espresso pun diharapkan memiliki keahlian lebih mengenai kopi Indonesia dan mengeluarkan cita rasa kopi Indonesia dengan mesin espresso.

Untuk semakin mengangkat kopi Indonesia, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif pun berencana mengadakan Festival Kopi Indonesia pertama yang diberi tajuk Indonesian Coffee Festival 2012 di Ubud, Bali, pada 15-16 September 2012.

Festival ini merupakan hasil kerja sama Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Pemkab Gianyar, Kerajaan Ubud, Asosiasii Kopi Spesial Indonesia, Komunitas Kopi, dan Blogger Kopi. Nantinya, selain menampilkan kopi-kopi dari berbagai daerah di Indonesia, dalam festival juga cara mengolah dan menyajikan kopi khas Indonesia.

Misalnya penyajian Kopi Tubruk dan Kopi Aceh yang menggunakan kaus. Keunikan dalam penyajian kopi menjadi daya tarik wisata kuliner sebagai bagian dari wisata minat khusus.

repro: http://travel.kompas.com/read/2012/08/29/13240934/Kopi.Duta.Pariwisata.Indonesia#

Kamis, 23 Agustus 2012

Sepotong Senja untuk Pacarku

ALINA TERCINTA,
Bersama surat ini kukirimkan padamu sepotong senja—dengan angin, debur ombak, matahari terbenam dan cahaya keemasan. Apakah kamu menerimanya dalam keadaan lengkap? Seperti setiap senja di setiap pantai, tentu ada juga burung-burung, pasir yang basah, siluet batu karang dan barangkali juga perahu lewat di jauhan. Maaf, aku tidak sempat menelitinya satu per satu. Mestinya ada juga lokan, batu yang berwarna-warni dan bias cahaya yang cemerlang yang berkeretap pada buih yang bagaikan impian selalu saja membuat aku mengangankan segala hal yang mungkin kulakukan bersamamu meski aku tahu semua itu akan tetap tinggal sebagai kemungkinan yang entah kapan menjadi kenyataan.

Kukirimkan sepotong senja ini untukmu Alina, dalam amplop yang tertutup rapat, dari jauh, karena aku ingin memberikan sesuatu yang lebih dari sekadar kata-kata. Sudah terlalu banyak kata di dunia ini Alina, dan kata-kata, ternyata tidak mengubah apa-apa. Aku tidak akan menambah kata-kata yang sudah tak terhitung jumlahnya dalam sejarah kebudayaan manusia Alina. Untuk apa? Kata-kata tidak ada gunanya dan selalu sia-sia. Lagipula siapakah yang masih sudi mendengarnya? Di dunia ini semua orang sibuk berkata-kata tanpa pernah mendengar kata-kata orang lain. Mereka berkata-kata tanpa peduli apakah ada orang lain yang mendengarnya. Bahkan mereka juga tidak peduli dengan kata-katanya sendiri. Sebuah dunia yang sudah kelebihan kata-kata tanpa makna. Kata-kata sudah luber dan tidak dibutuhkan lagi. Setiap kata bisa diganti artinya. Setiap arti bisa diubah maknanya. Itulah dunia kita Alina.

Kukirimkan sepotong senja untukmu Alina, bukan kata-kata cinta. Kukirimkan padamu sepotong senja yang lembut dengan langit kemerah-merahan yang nyata dan betul-betul ada dalam keadaan yang sama seperti ketika aku mengambilnya saat matahari hampir tenggelam di balik cakrawala.

ALINA YANG MANIS, ALINA YANG SENDU.
Akan kuceritakan bagaimana aku mendapatkan senja itu untukmu.

Sore itu aku duduk seorang diri di tepi pantai, memandang dunia yang terdiri dari waktu. Memandang bagaimana ruang dan waktu bersekutu, menjelmakan alam itu untuk mataku. Di tepi pantai, di tepi bumi, semesta adalah sapuan warna keemasan dan lautan adalah cairan logam meski buih pada debur ombak yang menghempas itu tetap saja putih seperti kapas dan langit tetap saja ungu dan angin tetap saja lembab dan basah, dan pasir tetap saja hangat ketika kususupkan kakiku ke dalamnya.

Kemudian tiba-tiba senja dan cahaya gemetar. Keindahan berkutat melawan waktu dan aku tiba-tiba teringat padamu. “Barangkali senja ini bagus untukmu,” pikirku. Maka kupotong senja itu sebelum terlambat, kukerat pada empat sisi lantas kumasukkan ke dalam saku. Dengan begitu keindahan itu bisa abadi dan aku bisa memberikannya padamu.

Setelah itu aku berjalan pulang dengan perasaan senang. Aku tahu kamu akan menyukainya karena aku tahu itulah senja yang selalu kamu bayangkan untuk kita. Aku tahu kamu selalu membayangkan hari libur yang panjang, perjalanan yang jauh, dan barangkali sepasang kursi malas pada sepotong senja di sebuah pantai di mana kita akan bercakap-cakap sembari memandangi langit berangan-angan sambil bertanya-tanya apakah semua ini benar-benar telah terjadi. Kini senja itu bisa kamu bawa ke mana-mana.

Ketika aku meninggalkan pantai itu, kulihat orang-orang datang berbondong-bondong, ternyata mereka menjadi gempar karena senja telah hilang. Kulihat cakrawala itu berlubang sebesar kartu pos.

ALINA SAYANG,
Semua ini telah terjadi dan kejadiannya akan tetap seperti itu. Aku telah sampai ke mobil ketika di antara kerumunan itu kulihat seseorang menunjuk-nunjuk ke arahku.

“Dia yang mengambil senja itu! Saya lihat dia mengambil senja itu!”

Kulihat orang-orang itu melangkah ke arahku. Melihat gelagat itu aku segera masuk mobil dan tancap gas.

“Catat nomernya! Catat nomernya!”

Aku melejit ke jalan raya. Kukebut mobilku tanpa perasaan panik. Aku sudah berniat memberikan senja itu untukmu dan hanya untukmu saja Alina. Tak seorang pun boleh mengambilnya dariku. Cahaya senja yang keemasan itu berbinar-binar dalam saku. Aku merasa cemas karena meskipun kaca mobilku gelap tapi cahaya senja tentu cukup terang dilihat dari luar. Dan ternyata senja itu memang menembus segenap celah dalam mobilku, sehingga mobilku itu meluncur dengan nyala cemerlang ke aspal maupun ke angkasa.

Dari radio yang kusetel aku tahu, berita tentang hilangnya senja telah tersebar ke mana-mana. Dari televisi dalam mobil bahkan kulihat potretku sudah terpampang. Aduh. Baru hilang satu senja saja sudah paniknya seperti itu. Apa tidak bisa menunggu sampai besok? Bagaimana kalau setiap orang mengambil senja untuk pacarnya masing-masing? Barangkali memang sudah waktunya dibuat senja tiruan yang bisa dijual di toko-toko, dikemas dalam kantong plastik dan dijual di kaki lima. Sudah waktunya senja diproduksi besar-besaran supaya bisa dijual anak-anak pedagang asongan di perempatan jalan. “Senja! Senja! Cuma seribu tiga!”

Di jalan tol mobilku melaju masuk kota. Aku harus hati-hati karena semua orang mencariku. Sirene mobil polisi meraung di mana-mana. Cahaya kota yang tetap gemilang tanpa senja membuat cahaya keemasan dari dalam mobilku tidak terlalu kentara. Lagi pula di kota, tidak semua orang peduli apakah senja hilang atau tidak. Di kota kehidupan berjalan tanpa waktu, tidak peduli pagi siang sore atau malam. Jadi tidak pernah penting senja itu ada atau hilang. Senja cuma penting untuk turis yang memotret matahari terbenam. Boleh jadi hanya demi alasan itulah senja yang kubawa ini dicari-cari polisi.

Sirene polisi mendekat dari belakang. Dengan pengeras suara polisi itu memberi peringatan.

“Pengemudi mobil Porsche abu-abu metalik nomor SG 19658 A harap berhenti. Ini polisi. Anda ditahan karena dituduh telah membawa senja. Meskipun tak ada peraturan yang melarangnya, tapi berdasarkan…”

Aku tidak sudi mendengarnya lebih lama lagi. Jadi kulibas dia sampai terpental-pental keluar pagar di tepi jalan. Kutancap gas dan menyelip-nyelip dengan lincah di jalanan. Dalam waktu singkat kota sudah penuh raungan sirene polisi. Terjadi kejar-kejaran yang seru. Tapi aku lebih tahu seluk-beluk kota, jalanan dengan cahaya yang bermain warna, gang-gang gelap yang tak pernah tercatat dalam buku alamat, lorong-lorong rahasia yang hanya diperuntukkan bagi orang-orang di bawah tanah.

Satu mobil terlempar di jalan layang, satu mobil lain tersesat di sebuah kampung, dan satu mobil lagi terguling-guling menabrak truk dan meledak lantas terbakar. Masih ada dua polisi bersepeda motor mengejarku. Ini soal kecil. Mereka tidak pernah bisa mendahuluiku, dan setelah kejar-kejaran beberapa lama, mereka kehabisan bensin dan pengendarnya cuma bisa memaki-maki. Kulihat senja dalam bajuku. Masih utuh. Angin berdesir. Langit semburat ungu. Debur ombak mengempas ke pantai. Hanya padamulah senja ini akan kuserahkan Alina.

Tapi Alina, polisi ternyata tidak sekonyol yang kusangka. Di segenap sudut kota mereka telah siap siaga. Bahkan aku tak bisa membeli makanan untuk mengisi perutku. Bahkan di langit tanpa senja, helikopter mereka menyorotkan lampu ke setiap celah gedung bertingkat. Aku tersudut dan akhirnya nyaris tertangkap. Kalau saja tidak ada gorong-gorong yang terbuka.

Mobilku sudah kutinggal ketika memasuki daerah kumuh itu. Aku berlari di antara gedung, rumah tua, tiang serta temali. Terjatuh di atas sampah, merayapi tangga-tangga reyot, sampai seorang gelandangan menuntunku ke sebuah tempat yang tak pernah kulupakan dalam hidupku.

“Masuklah,” katanya tenang, “Di situ kamu aman.”

Ia menunjuk gorong-gorong yang terbuka itu. Ada tikus keluar dari sana. Baunya bacin dan pesing. Kutengok ke bawah. Kulihat kelelawar bergantungan. Aku ragu-ragu. Namun, deru helikopter dengan lampu sorotnya yang mencari-cari itu melenyapkan keraguanku.

“Masuklah, kamu tidak punya pilihan lain.”

Dan gelandangan itu mendorongku. Aku terjerembab jatuh. Bau busuknya bukan main. Gorong-gorong itu segera tertutup dan kudengar gelandangan itu merebahkan diri di atasnya. Lampu sorot helikopter menembus celah gorong-gorong tapi tak cukup untuk melihatku. Kuraba senja dalam kantongku, cahayanya yang merah keemas-emasan membuat aku bisa melihat dalam kegelapan. Aku melangkah dalam gorong-gorong yang rupanya cukup tinggi juga. Kusibakkan kelelewar bergantungan yang entah mati entah hidup itu. Kulihat cahaya putih di ujung gorong-gorong. Air busuk mengalir setinggi lutut, namun makin ke dalam makin surut. Di tempat yang kering kulihat anak-anak gelandangan duduk-duduk maupun tidur-tiduran, mereka berserakan memeluk rebana dengan mata yang tak memancarkan kebahagiaan. Aku berjalan terus melangkahi mereka dan mencoba bertahan. Betapa pun ini lebih baik daripada aku harus menyerahkan senja Alina.

Di ujung gorong-gorong, di tempat cahaya putih itu ada tangga menurun ke bawah. Kuikuti tangga itu. Cahaya semakin terang dan semakin benderang. Astaga. Kamu boleh tidak percaya Alina, tapi kamu akan terus membacanya. Tangga itu menuju ke mulut sebuah gua, dan tahukah kamu ketika aku keluar dari gua itu aku ada di mana? Di tempat yang persis sama dengan tempat di mana aku mengambil senja itu untukmu Alina. Sebuah pantai dengan senja yang bagus: ombak, angin, dan kepak burung – tak lupa cahaya keemasan dan bias ungu pada mega-mega yang berarak bagaikan aliran mimpi. Cuma saja tidak ada lubang sebesar kartu pos. Jadi, meskipun persis sama, tapi pasti bukan tempat yang sama.

Aku berjalan ke tepi pantai. Tenggelam dalam guyuran alam yang perawan. Nyiur tentu saja, matahari, dan dasar lautan yang bening dengan lidah ombak yang mendesis-desis. Tak ada cottage, tak ada barbeque, tak ada marina – semua itu memang tidak perlu. Senja yang bergetar melawan takdir membiaskan cahaya keemasan ke tepi semesta. Aku sering malu sendiri melihat semua itu. Alina, apakah semua itu mungkin diterjemahkan dalam bahasa?

Sambil duduk di tepi pantai aku berpikir-pikir, untuk apakah semua ini kalau tidak ada yang menyaksikannya? Setelah berjalan ke sana ke mari aku tahu kalau dunia dalam gorong-gorong ini kosong melompong. Tak ada manusia, tak ada tikus, apalagi dinosaurus. Hanya burung yang berkepak, tapi ia sepertinya bukan burung yang bertelur dan membuat sarang. Ia hanya burung yang dihadirkan sebagai ilustrasi senja. Ia hanya berkepak dan berkepak terus di sana. Aku tak habis pikir Alina, alam seperti ini dibuat untuk apa? Untuk apa senja yang bisa membuat seseorang ingin jatuh cinta itu jika tak ada seekor dinosaurus pun menikmatinya? Sementara di atas sana orang-orang ribut kehilangan senja…

Jadi, begitulah Alina, kuambil juga senja itu. Kukerat dengan pisau Swiss yang selalu kubawa, pada empas sisinya, sehingga pada cakrawala itu terbentuk lubang sebesar kartu pos. Dengan dua senja di saku kiri dan kanan aku melangkah pulang. Bumi berhenti beredar di belakangku, menjadi kegelapan yang basah dan bacin. Aku mendaki tangga kembali menuju gorong-gorong bumiku yang tekasih.

Sampai di atas, setelah melewati kelelawar bergantungan, anak-anak gelandangan berkaparan, dan air setinggi lutut, kulihat polisi-polisi berhelikopter sudah pergi. Gelandangan yang menolongku sedang tiduran di bawah tiang listrik sambil meniupkan saksofon.

Aku berjalan mencari mobilku. Masih terparkir dengan baik di supermarket. Nampaknya bahkan baru saja dicuci. Sambil menguyah pizza segera kukebut mobilku menuju ke pantai. Dengan dua senja di saku kiri dan kanan, lengkap dengan matahari, laut, pantai dan cahaya keemasannya masing-masing, mobilku bagai memancarkan cahaya ilahi. Sepanjang jalan-layang, sepanjang jalan tol kutabcap gas dengan kekuatan penuh…

ALINA KEKASIHKU, PACARKU, WANITAKU,
Kamu pasti sudah tahu apa yang terjadi kemudian. Kupasangkan senja yang dari gorong-gorong pada lubang sebesar kartu pos itu dan ternyata pas. Lantas kukirimkan senja yang “asli” ini untukmu, lewat pos. Aku ingin kamu mendapatkan apa yang kulihat pertama kali: senja dalam arti sebenarnya—bukan semacam senja yang ada di gorong-gorong itu.

Kini gorong-gorong ini betul-betul gelap Alina. Pada masa yang akan datang orang-orang tua akan bercerita pada cucunya tentang kenapa gorong-gorong menjadi gelap. Mereka akan berkisah bahwa sebenarnya ada alam lain di bawah gorong-gorong dengan matahari dan rembulannya sendiri, namun semua itu tiada lagi karena seseorang telah mengambil senja untuk menggantikan senja lain di atas bumi. Orang-orang tua itu juga akan bercerita bahwa senja yang asli telah dipotong dan diberikan oleh seseorang kepada pacarnya.

ALINA YANG MANIS, PALING MANIS, DAN AKAN SELALU MANIS,
Terimalah sepotong senja itu, hanya untukmu, dari seseorang yang ingin membahagiakanmu. Awas, hati-hati dengan lautan dan matahari itu, salah-salah cahayanya membakar langit dan kalau tumpah airnya bisa membanjiri permukaan bumi.

Dengan ini kukirimkan pula kerinduanku padamu, dengan cium, peluk, dan bisikan terhangat, dari sebuat tempat yang paling sunyi di dunia.

Penulis: Seno Gumira Ajidarma
Karangbolong-Jakarta, 1991
Kompas, 9-2-1992

Jumat, 10 Agustus 2012

Pelajaran Mengarang


PELAJARAN mengarang sudah dimulai.

“Kalian punya waktu 60 menit,” ujar Ibu Guru Tati, anak-anak kelas V menulis dengan kepala hampir menyentuh meja. Ibu Guru Tati menawarkan tiga judul yang ditulisnya di papan putih. Judul pertama Keluarga Kami yang Berbahagia. Judul kedua Liburan ke Rumah Nenek. Judul ketiga Ibu.

Ibu Guru Tati memandang anak-anak manis yang menulis dengan kening berkerut. Terdengar gesekan halus pena pada kertas. Anak-anak itu sedang tenggelam ke dalam dunianya, pikir Ibu Guru Tati. Dari balik kacamatanya yang tebal, Ibu Guru Tati memandang 40 anak yang manis, yang masa depannya masih panjang, yang belum tahu kelak akan mengalami nasib macam apa.

SEPULUH MENIT segera berlalu. Tapi Sandra, 10 tahun, belum menulis sepatah kata pun di kertasnya. Ia memandang ke luar jendela. Ada dahan bergetar ditiup angin yang kencang. Ingin rasanya ia lari ke luar kelas, meninggalkan kenyataan yang sedang bermain di kepalanya. Kenyataan yang terpaksa diingatnya, karena Ibu Guru Tati mnyuruhnya berpikir tentang Keluarga Kami yang Berbahagia, Liburan ke Rumah Nenek dan Ibu. Sandra memandang Ibu Guru Tati dengan benci.

Setiap kali tiba saatnya pelajaran mengarang, Sandra selalu merasa mendapat kesulitan yang besar, karena ia harus betul-betul mengarang. Ia tidak bisa bercerita apa adanya seperti anak-anak yang lain. Untuk judul apa pun yang ditawarkan Ibu Guru Tati, anak-anak sekelasnya tinggal menuliskan kenyataan yang mereka alami. Tapi, Sandra tidak, Sandra harus mengarang. Dan kini Sandra mendapat pilihan yang semuanya tidak menyenangkan.

Ketika berpikir tentang Keluarga Kami yang Berbahagia, Sandra hanya mendapatkan gambaran sebuah rumah yang berantakan. Botol-botol dan kaleng-kaleng minuman yang kosong berserakan di meja, lantai, bahkan sampai ke atas tempat tidur. Tumpahan bir berceceran di atas kasur yang sepreinya terseret entah ke mana. Bantal-bantal tak bersarung. Pintu yang tak pernah tertutup dan sejumlah manusia yang terus-menerus mendengkur bahkan ketika Sandra pulang dari sekolah.

“Lewat belakang anak jadah, jangan ganggu tamu Mama,” ujar sebuah suara dalam ingatannya, yang ingin selalu dilupakannya.

LIMA BELAS MENIT telah berlalu. Sandra tak mengeri apa yang harus dibayangkannya tentang sebuah keuarga yang bahagia.

“Mama, apakah Sandra punya Papa?”

“Tentu saja punya anak setan! Tapi tidak jelas siapa! Dan kalau pun jelas siapa, belum tentu ia mau jadi Papa kamu! Jelas? Belajarlah hidup tanpa seorang Papa! Taik kucing dengan Papa!”

Apakah Sandra harus berterus terang? Tidak, ia harus mengarang. Namun ia tidak punya gambaran tentang sesuatu yang pantas di tulisnya.

DUA PULUH MENIT telah berlalu. Ibu Guru Tati mondar-mandir di depan kelas. Sandra mencoba berpikir tentang sesuatu yang mirip dengan Liburan ke Rumah Nenek dan yang masuk dalam benaknya adalah gambar seorang wanita yang sedang berdandan di muka cermin. Seorang wanita dengan wajah penuh kerut yang merias dirinya dengan sapuan warna yang serba tebal. Merah itu sangat tebal pada pipinya. Hitam itu sangat tebal pada alisnya. Dan wangi itu sangat memabukkan Sandra.

“Jangan rewel anak setan! Nanti kamu kuajak ke tempatku kerja, tapi awas ya? Kamu tidak usah ceritakan apa yang kamu lihat pada siapa-siapa, ngerti? Awas!”

Wanita itu sudah tua dan menyebalkan. Sandra tak pernah tahu siapa dia. Ibunya memang memanggilnya Mami. Tapi semua orang didengarnya memanggil dia Mami juga. Apakah anaknya begitu banyak? Ibunya sering menitipkan Sandra pada Mami itu kalau ke luar kota berhari-hari entah ke mana.

Di tempat kerja wanita itu, meskipun gelap, Sandra melihat banyak orang dewasa berpeluk-pelukan sampai lengket. Sandra juga mendengar musik yang keras, tapi Mami itu melarangnya nonton.

“Anak siapa itu?”
“Marti.”
“Bapaknya?”
“Mana aku tahu!”

Sandra sampai sekarang tidak mengerti. Mengapa ada sejumlah wanita duduk di ruangan kaca ditonton sejumlah lelaki yang menunjuk-menunjuk mereka.

“Anak kecil kok di bawa kesini sih?”
“Ini titipan si Marti. Aku tidak mungkin meninggalkannya sendirian di rumah. Diperkosa orang malah repot nanti.”

Sandra masih memandang ke luar jendela. Ada langit yang biru di luar sana. Seekor burung terbang dengan kepakan sayap yang anggun.

TIGA PULUH MENIT lewat tanpa permisi. Sandra mencoba berpikir tentang Ibu. Apakah ia akan menulis tentang ibunya? Sandra melihat seorang wanita yang cantik. Seorang wanita yang selalu merokok, selalu bangun siang, yang kalau makan selalu pakai tangan dan kaki kanannya selalu naik ke atas kursi.

Apakah wanita itu ibuku? Ia pernah terbangun malam-malam dan melihat wanita itu menangis sendirian.

“Mama, Mama, kenapa menangis Mama?”

Wanita itu tidak menjawab, ia hanya menangis, sambil memeluk Sandra. Sampai sekarang Sandra masih teringat kejadian itu, setiap pertanyaan hanya akan dijawab dengan, “Diam anak setan!” atau “Bukan urusanmu anak jadah!” atau “Sudah untung kamu kukasih makan dan kusekolahkan baik-baik, jangan cerewet kamu anak sialan!”

Suatu malam wanita itu pulang merangkak-rangkak karena mabuk. Di ruang depan ia muntah-muntah dan tergeletak tidak bisa bangun lagi. Sandra mengepel muntahan-muntahan itu tanpa bertanya-tanya. Wanita yang dikenalnya sebagai ibunya itu sudah biasa pulang dalam keadaan mabuk.

“Mama kerja apa sih?”

Sandra tak pernah lupa, betapa banyaknya kata-kata makian dalam suatu bahasa, yang bisa dilontarkan padanya karena pertanyaan seperti itu.

Tentu, tentu Sandra tahu wanita itu mencintainya. Setiap hari minggu wanita itu mengajaknya jalan-jalan ke plaza ini dan plaza itu. Di sana Sandra bisa mendapatkan boneka, baju, es krim, kentang goreng dan ayam goreng. Dan setiap kali Sandra makan wanita itu selalu menatapnya dengan penuh cinta dan seperti tidak puas-puasnya. Wanita itu selalu melap mulut Sandra yang belepoan dengan es krim sambil berbisik, “Sandra, Sandra…”

Kadang-kadang, sebelum tidur wanita itu membacakan sebuah cerita, dari sebuah buku berbahasa Inggris dengan gambar-gambar berwarna. Selesai membacakan cerita, wanita itu akan mencium Sandra dan selalu memintanya berjanji menjadi anak baik-baik.

“Berjanjilah pada Mama kamu akan jadi wanita baik-baik, Sandra.”
“Seperti Mama?”
“Bukan, bukan seperti Mama. Jangan seperti Mama.”

Sandra selalu belajar untuk menepati janjinya dan ia memang menjadi anak yang patuh. Namun wanita itu tidak selalu berperilaku manis begitu. Sandra lebih sering melihatnya dalam tingkah laku yang lain. Maka berkelebatan di benak Sandra bibir merah yang terus menerus mengeluarkan asap, mulut yang selalu berbau minuman keras, mata yang kuyu, wajah yang pucat dan pager…

Tentu saja Sandra selalu ingat apa yang tertulis dalam pager ibunya. Setiap kali pager itu berbunyi, kalau sedang merias diri di muka cermin, wanita itu selalu meminta Sandra memencet tombol dan membacakannya.

DITUNGGU DI MANDARIN, KAMAR 505, PKL 20.00.

Sandra tahu, setiap kali pager ini menyebut nama hotel, nomor kamar dan sebuah jam pertemuan, ibunya akan pulang terlambat. Kadang-kadang malah tidak pulang sampai dua atau tiga hari. Kalau sudah begitu Sandra akan sangat merindukan wanita itu, tapi, begitulah, ia sudah belajar untuk tidak pernah mengungkapkannya.

EMPAT PULUH MENIT lewat sudah.

“Yang sudah selesai boleh dikumpulkan,” kata Ibu Guru Tati.

Belum ada secoret kata pun di kertas Sandra. Masih putih, bersih, tanpa setitik pun noda. Beberapa anak yang sampai hari itu belum mempunyai persoalan yang terlalu berarti dalam hidupnya menulis dengan lancar. Beberapa di antaranya sudah selesai dan setelah menyerahkannya segera berlari ke luar kelas.

“Kertasmu masih kosong Sandra?” Ibu Guru Tati tiba-tiba bertanya.

Sandra tidak menjawab. Ia mulai menulis judulnya: Ibu. Tapi begitu Ibu Guru Tati pergi, ia melamun lagi. “Mama, Mama,” bisiknya dalam hati. Bahkan dalam hati pun Sandra telah terbiasa hanya berbisik.

Ia juga hanya berbisik malam itu, ketika terbangun karena dipindahkan ke kolong ranjang. Wanita itu barangkali mengira ia masih tidur. Wanita itu barangkali mengira, karena masih tidur maka Sandra tak akan pernah mendengar suara lenguhannya yang panjang maupun yang pendek di atas ranjang. Wanita itu juga tak mengira bahwa Sandra masih terbagun ketika dirinya terkapar tanpa daya dan lelaki yang memeluknya sudah mendengkur keras sekali. Wanita itu tak mendengar lagi ketika di kolong ranjang Sandra berbisik tertahan-tahan, “Mama, Mama,” Pipinya basah oleh airmata.

“Waktu habis, kumpulkan semua ke depan,” ujar Ibu Guru Tati.

Semua anak berdiri dan menumpuk karangannya di meja guru. Sandra menyelipkan kertasnya di tengah.

DI RUMAHNYA, sambil nonton RCTI, Ibu Guru Tati yang belum berkeluarga memeriksa pekerjaan murid-muridnya. Setelah membaca separuh dari tumpukan karangan itu, Ibu Guru Tati berkesimpulan, murid-muridnya mengalami masa kanak-kanak yang indah.

Ia memang belum sampai pada karangan Sandra, yang hanya berisi kalimat sepotong: Ibuku seorang pelacur…

Palmerah, 30 November 1991
Kompas, 5-1-1992

Penulis: Seno Gumira Ajidarma
Ilustrasi dari: http://ekakurniawan.posterous.com/tiga-lukisan-mei-2008

Jumat, 08 Juli 2011

Esok Mentari Masih Terbit


"KRHOGH…Krhoggh… Krhogggh," terdengar keras dengkuran di pojok kamarku. Tak biasanya Dullah, sobat karibku, mendengkur sekeras malam ini. Dengan tubuh meringkuk memeluk bantal, begitu tentram tidurnya. "Mungkin ia tengah mimpi bersandingkan putri di atas kursi mewah yang beralaskan rupiah," pikirku geli melihat tidurnya yang pulas tiada terkira.

Udara malam ini begitu panas. Sudah 7 bulan lebih musim hujan berlalu, air sungai di belakang kamar kosku menyusut. Entah kenapa hingga bulan Ramadhan tiba, hujan seolah-olah ikut berpuasa. Nyanyian kodok yang biasanya terdengar riang gembira, kini berganti dengan kesedihan yang terbungkus dalam kebisuan. Hanya nyamuk, satu-satunya hewan yang tetap bersemangat berkeliaran dan mendengung-dengungkan nyanyian dari kedua sayap kecilnya di sekitar telingaku. Tak terasa lima ekor telah bergelayutan di beberapa bagian tubuhku. Berkali-kali mereka menyuntik kulit tubuhku, rakus dan haus darah. Plok! timpukku pada salah satu nyamuk. Tapi sial, meleset. “Uh! dasar nyamuk kota, rakus!” keluhku pada mereka yang gesit menghindari serangan lemah tanganku.

Kusulut satu dari tiga batang rokok 76 hasil ngutang di warung mbok Ijah. “Wuss,” kusemburkan asap penuh racun nikotin itu di sekeliling tubuhku. Lumayan, meski tak seperti baygon, sebagian nyamuk ngacir.

Perlahan kulirik jam dinding yang tampak cengar-cengir menatap kebuntuan fikiranku. Jam satu pagi. “Huh… aku harus coba menulis sekali lagi,” desahku pelan. Lemah aku beranjak dari tumpukan buku dan beberapa lembar koran harian menuju sebuah meja. “Tinggal seminggu lagi, aku harus dapat uang,” batinku sambil duduk menghadap mesin ketik tuaku. Sementara bayangan Supri, Jalal, Bagio, Safitri datang silih berganti menagih hutang.

Akhir-akhir ini akal dan hatiku memang cukup goyah. Pelbagai usaha telah kutempuh, mulai dari ngelamar pekerjaan hingga mencoba menulis di media nasional. Tapi hasilnya kosong. Entah, apakah Tuhan tengah menguji mentalku atau memang nasibku tertulis sial. Jujur saja hal ini berpengaruh pada kondisi jiwa dan kesehatan badanku yang berubah menjadi kurus dan ringkih. “Duh! Gusti Allah, Engkau adalah Dzat Maha Pemurah, semoga Engkau beri kemudahan hambaMu ini dalam mengais rizki,” ratapku dalam do’a.

Asap rokok mengepul pelan nan lebat dari ujung bibir hitamku, menambah suramnya lampu lima watt yang hampir jatuh di atas mesin ketik rentaku. “Tak…tak…tak…” bunyi jeruji-jeruji huruf dari mesin ketik tuaku pada sebuah kertas putih ukuran kwarto. Jari-jemariku bergerak-gerak lincah, menulis huruf demi huruf, merangkai kata-kata, dan membasutnya dengan indahnya sastra hasil belajar empat tahun di Perguruan Tinggi Swasta kala itu. “Yah…demi sebuah bangunan artikel ringan. Semoga usaha yang kesekian kali ini tak sia-sia lagi,” harap kalbuku.

-oOo-

“KRINGGGG…..” jerit jam beker yang tergeletak di samping telinga Dullah. Sejenak ia menggeliat, menghentikan mimpi indahnya. Kemudian bangkit dan terduduk lesu.

“Ndro! kamu nggak sahur?” tegur Dullah sambil menggosok kedua kelopak matanya yang ramai dengan kotoran mimpi panjangnya.

“Emangnya udah pukul berapa Dull?”

“Lho, hampir imsak Ndro. Nih lihat jam bekerku kalau nggak percaya!” katanya sambil bangkit duduk berkemul sarung.

“Wah, tak terasa hampir setengah empat. Ah… andai saja waktu bisa berhenti sejenak, menanti rampungnya tulisan ini,” desahku kesal.

Sebentar kuhisap dalam-dalam putung rokokku yang hampir habis, kemudian beranjak keluar ke arah pintu seraya berkata kepada Dullah, “kamu basuh muka kotormu dulu Dull, kita sama-sama ke warung Mbok Ijah.” Tanpa menjawab, ia bangkit berdiri dari duduknya, ngeloyor ke jeding.

Di warurng mbok ijah, aku hanya minum tiga gelas air putih, dua buah jajan kering dan tak lupa satu batang rokok Djarum 76 kesukaanku.

“Kamu enggak makan Ndro,” tegur Dullah lembut.

“Enggak.”

“Kenapa? Kamu bokek? aku ada uang,” kejarnya.

“Nggak usah Dull! trims, ini aja udah cukup. Bagiku bulan Romadhon kali ini harus dibiasakan ngirit, banyak nahan nafsu biar barokah,” kilahku. Padahal kantongku lagi kempas-kempis.

-oOo-

TEPAT pukul setengah sepuluh pagi, aku telah rampungkan tulisanku. Sejenak aku terdiam dalam editing. Setelah kuyakin tiada hal lagi yang penting, baru kemudian aku beranjak ke jeding. Sengaja aku hanya membasuh mukaku dengan sedikit air. Aku tak mandi sebab air cukup sedikit. Maklum, air di kota seperti Surabaya ini tak gratis lagi. Beberapa lembar rupiah harus melayang dari kantong bila ingin puas mandi. Tapi kesegaran mandi itu pun terasa percuma, karena sengatan-sengatan panasnya kota cepat merubahnya dengan peluh-peluh keringat.

Memang benar-benar kelewat. Saat ini bukan hanya BBM yang naik, air pun ikut-ikutan iri hati dan meloncat bertengger bersama BBM. “Hualah, emboh wiss!” umpatku dalam hati memikirkankan keberadaan negeri tercinta ini.

Tepat setengah sebelas, aku berangkat ke kantor pos di pusat kota. Dengan bekal sepuluh ribu rupiah, aku kirimkan lima buah tulisan yang kurampungkan selama lima minggu di lima media negeri ini. “Yah mudah-mudahan ada yang dilirik,” harapku di tengah terik matahari kota Surabaya.

Seusai kukirimkan lima tulisan itu, bersama panas—sahabat alamku—aku berjalan pulang ke kosku yang berjarak sekira 3 Km dari kantor Pos. Diiringi tetes-tetes peluh yang mengelilingi dahi dan sebagaian tubuh kurusku, lamat-lamat alam bawah sadarku berdiri menggantikan keteguhan alam nyata. Cukup jelas tergambar keluh-kesah Emakku waktu aku pulang kampung.

“Ndro… kapan kamu dapat kerja? Emak udah nggak mampu lagi nyari uang. Coba kamu usaha dikit-dikit, sudah sarjana kok masih nganggur! Apa nggak malu dengan gelarmu?!” tegur Emmakku sewot menyaksikan anak sulungnya yang nasibnya masih menggelantung.

“Sabar dikit kenapa sih Mak, saya kan lagi usaha nulis. Entar kalo jebol di media dan terkenal, nggak bakalan nyusahin Emak lagi,” jawabku yakin di tengah kelesuan jiwa.

“Jebal-jebol…udah berapa kali kamu janji, tapi nyatanya masih aja nganggur!” ketus Emakku. Sepi, tiada kata keluar dari bibir hitamku. Aku hanya bisa tersenyum kecut dengan kepala menunduk. Memang, aku sadar bahwa aku selalu gagal. Tiga tahun selepas dari PTS, tak satu pun dari tulisanku yang berkenan di hati media-media cetak di negeri ini.

Ngelamar pekerjaan? Waduh! nggak usah dibahas. Sudah sepuluh kali lebih aku meminang, tapi sepuluh kali lebih tolakan pula jawabanya. Entah, apakah memang karena indeks prestasiku (IP) yang kurang memuaskan? Atau bekerja itu harus lebih dulu nyiapin segepok uang untuk nyogok? Weleh! kalau yang terakhir ini, jelas aku nggak sudi. Bukan karena nggak mampu. Aku bisa kumpulkan segepok rupiah yang pernah disyaratkan beberapa instansi pemerintah dan swasta padaku. Tapi apalah arti semua itu? Bukankah itu nabrak hati nuraniku dan mencampakkan imanku? Tidak! Aku tak akan melakukan hal itu dan tidak akan pernah.

Bagiku, mendapat pekerjaan itu tak harus dengan segala cara. Ada prosedurnya sendiri dan harus dengan jiwa yang jantan. Lebih-lebih, aku tak akan merasa percuma belajar empat tahun di PTS jika aku mendapatkan pekerjaan tanpa melalui suap, melainkan dengan melihat kualitas ilmu dan kompetensiku dalam bidang pekerjaan tertentu. Meski IP-ku tak memuaskan bukan berarti aku lebih bodoh dari mahasiswa yang meraih cum laude. Sebab IP hanyalah formalitas. Bukan subtansi. Lagi pula, bukankah IP itu bisa dikompromikan?

“Duk!”

“Auww!” jeritku terkejut.

Tak kusadari dahiku telah membentur tiang listrik yang berdiri congkak di tengah trotoar.

“Jangkrik! Tiang jelek pembawa sial,” umpatku kesakitan sambil mengelus-elus dahiku yang memar akibat benturan.

“Duhh… kasihan. Melamun ya mas?” tegur seorang gadis yang kebetulan berada di belakangku.

“Ah! E…e..enggak. Hanya karena batu sialan saja aku tersandung,” kilahku.

Gadis itu hanya tersenyum sambil berlalu. Sementara aku tertegun. Seolah tak percaya melihat wajahnya, senyum manisnya dan resam tubuhnya. Kenapa ia sedemikian manis dan sedemikian persis dengan mendiang kekasihku, Yuanita Sastrawati?

Sedetik tergerak hatiku untuk memanggilnya, mengejarnya. Tapi, augh! Dahiku terasa sakit dan sedikit pening. Akhirnya dengan amat berat aku tepiskan niat tersebut. Lagi pula tak mungkin Yuanita hidup kembali. Ia sudah tiada. Mustahil ia kembali ke alam nyata.

Akhirnya, berat aku langkahkan kakiku membelok ke kiri, bergegas pulang ke rumah bu Cokro, ibu kosku.

-oOo-

PUKUL tiga sore, aku telah sampai di rumah bu Cokro, pemilik rumah kos. Seusai terucap salam dari mulutku dan dijawab si Upik, anak bu Cokro, aku langsung ngeloyor ke kamarku. Dullah tak terlihat batang hidungnya. Padahal siang begini ia biasa duduk-duduk di teras sambil menggoda si Upik. Tapi aku tak risaukannya siang itu. Selain dirundung rasa lelah dan sakit di dahiku, mataku terasa berat sekali. Aku belum tidur sejak tadi malam hingga siang ini.

Tak kuasa menahan cuaca yang panas, segera kulepas baju berlengan panjang yang menempel di tubuhku dan mengambil handuk kecil di almari dan kemudian menuangkan sisa air hangat dari tremos sisa tadi malam di atasnya. Sejenak hatiku lega merasakan hangatnya handuk yang aku letakkan di atas dahiku. Kemudian, bersama kondisi perut yang kempis karena berpuasa dan ditambah rasa lelah yang tiada tara, perlahan kurebahkan tubuhku di atas kasur yang terhampar di lantai kamar. Oh…begitu leganya hatiku dapat berbaring siang ini, melepas lelah dan mengikuti tuntutan mataku yang sayu menahan kantuk. Diiringi hembusan angin yang meniup pelan dari baling-baling kipas kecil yang ada di samping tubuhku, rasa lelah dan penat tubuhku berangusur-angsur hilang. Tapi ketika seluruh panca inderaku hampir sepakat untuk istirahat, sayup-sayup kudengar lagu Iwan Fals dari kamar sebelah,… Engkau sarjana muda, resah tak dapat kerja, tak berguna ijazahmu // Empat tahun lamanya bergelut dengan buku, sia-sia semuanya // Setengah putus asa, dia berucap, “ma’af Ibu…”

Aku hanya tersenyum. Biarlah Iwan bernyanyi demikian. Tapi jelas batinku berkata yakin, bahwa akan ada perubahan; entah esok, lusa, bulan depan, tahun depan atau bahkan menjelang kematiaanku. Perjuangan dan usahaku untuk memperbaiki keadaan musti berlanjut, kendati harus berpeluh dan berdarah-darah. “Huaahhh….letih benar jiwa dan raga ini. Bismillah, izinkan hambaMu istirahat,” do’aku menjelang tidur.*



Adib Minnanurrachim
Nurul Jadid, 03/07/2001

Sabtu, 02 Juli 2011

LAGU SATU [ H. I. D. U. P. ]


Oleh; Iwan Fals

Jalani hidup
Tenang tenang tenanglah seperti karang
Sebab persoalan bagai gelombang
Tenanglang tenang tenanglah sayang

Tek pernah malas
Persoalan yang datang hantam kita
Dan kita tak mungkin untuk menghindar
Semuanya sudah suratan

Oh matahari
Masih setia
Menyinari rumah kita

Tak kan berhenti
Tak kan berhenti
Menghangati hati kita

Sampai tanah ini inginkan kita kembali
Sampai kejenuhan mampu merobek robek hati ini

Sebentar saja
Aku pergi meninggalkan
Membelah langit punguti bintang
Untuk kita jadikan hiasan

Tenang tenang tenanglah sayang
Semuanya sudah suratan
Tenang tenang seperti karang
Bintang bintang jadikan hiasan

Berlomba kita dengan sang waktu
Jenuhkah kita jawab sang waktu
Bangkitlah kita tunggu sang waktu
Tenanglah kita menjawab waktu

Seperti karang
Tenanglah
Seperti karang
Tenanglah


[ Lagu yang bercerita tentang bagaimana menjalani hidup, dan menghadapi kehidupan. ]

Jumat, 06 Mei 2011

Tanyaku Sepanjang Batanghari


Tanyaku memang menyusuri aliran sungai Batanghari,
yang sunyi dan sepi.
Sesekali singgah di surau pinggiran sungai,
mengambil jeda, mereda letih.

Dan lihatlah, sebaris pertanyaan itu berantakan sekarang.
Entah kenapa. Ah, bukan entah. Ia memang lelah.
Perjalanan yang ia tempuh terlalu jauh.
Wajar bila sekarang ia renggangkan ikat pinggang, mengurai huruf demi huruf.

O...,
Ternyata ada banyak noda di sekujur huruf-hurufnya.
Bagaimana ini? Tentu kau merasa jijik, bukan?
Menjauhlah. Tak baik untuk kulitmu yang putih pualam.

Dan sebelum kembali berjajar, biarkan huruf-huruf itu mandi besar.
Agar kembali segar saat menjadi sebaris pertanyaan.
Dan kuharap kau tetap di tepi,
di tempat semula yang telah kau tentukan sendiri.

Di surau pinggir Batanghari ini, sesaat saja,
biarkan tanyaku bermunajat.
Kepada Tuhan, yang mungkin memberi bekal menuju samudera.
Dan setelah ini, tak perlu aku mencarimu lagi, bukan…?


10.09 PM; 04052011
Pamulang, Tangerang Selatan

Senin, 21 Februari 2011

Asvi Menggapai Kebenaran Sejarah

Hari-hari akhir bulan September menjadi istimewa bagi Asvi Warman Adam (55). Obsesinya menguak kebenaran sejarah, di antaranya tentang Peristiwa 1965, lagi-lagi memperoleh momentum. Dia ajak pemerintah, sesama sejarawan, dan masyarakat berpikir ulang tentang narasi-narasi masa lampau, utamanya tragedi 1965.

Mengenai kemungkinan pelanggaran berat HAM, sekitar Peristiwa 1965, menurut ahli peneliti utama LIPI itu, peristiwa Pulau Buru sebagai peristiwa paling jelas. Tempatnya jelas, tahun terjadinya jelas, pelakunya jelas, serta korban dan jumlahnya jelas. Dengan tujuan mengamankan Pemilu 1971, lebih dari 10.000 orang yang digolongkan tahanan politik 1965 golongan B dimasukkan ke kamp kerja paksa lebih dari 10 tahun. Stigma buruk diterapkan kepada mereka, selain pembunuhan, penangkapan tanpa proses dan pengadilan.

Kasus Pulau Buru merupakan mata rantai peristiwa sekitar 30 September 1965. Selama bertahun-tahun narasi tentang peristiwa itu hanya satu versi, yakni versi Orde Baru, bagian dari upaya justifikasi kekuasaan dan pengumpulan kekuatan. Justifikasi itu diawali dengan pembunuhan besar-besaran setelah 1 Oktober, ada yang memperkirakan jumlahnya lebih dari setengah juta orang. Penciptaan narasi tunggal disusul proyek Pulau Buru. Gugatan yang muncul dibungkam.

Seiring deru reformasi tahun 1998, masyarakat mulai kritis dengan narasi dan pencitraan versi tunggal. Film Pengkhianatan G30S/PKI yang diputar luas setiap akhir bulan September digugat. Menurut dia, tidak lagi diputarnya film itu secara luas merupakan satu keberhasilan. ”Inilah pertama kali terbuka munculnya upaya meluruskan sejarah Peristiwa 1965. Disusul kemudian berbagai versi yang ditulis para korban dan analis-analis yang sebelumnya tidak terkuak ke permukaan,” kata Asvi Warman Adam.

Asvi mengutip sejarawan Inggris, EH Caar, bahwa kebenaran sejarah gugur manakala ditemukan data baru. Munculnya narasi-narasi baru itu adalah bagian dari ajakan menemukan dan meluruskan. Keputusan politik, katakan ketetapan MPR, adalah produk politik bagian dari justifikasi kekuasaan. Oleh karena itu, ketika data baru semakin banyak ditemukan, versi tunggal perlu ditinjau ulang, kalau perlu, ditindaklanjuti dengan rehabilitasi nama baik dan permintaan maaf dari pemerintah.

Sampel yang representatif

Demi pelurusan sejarah dan hapusnya pembohongan, Asvi tidak hanya memimpikan sekitar Peristiwa 1965 atau peristiwa lain, seperti Peristiwa Mei 1998, tetapi bahkan sejak awal Indonesia merdeka. Tidak perlu semuanya, tetapi dipilih peristiwa dan masalah sebagai sampel yang representatif. Misalnya, kurun 1945-1955, 1955-1965, dan seterusnya, sehingga diperoleh sekitar 10 kasus.

Asvi setuju bahwa demi alasan politis ada bagian-bagian peristiwa yang ditutupi, tergantung dari perspektif masing-masing. Namun, kalau narasi itu adalah kebohongan, itu perlu dibongkar. Taruhlah kisah tentang Serangan Oemoem 1 Maret dengan cara menghilangkan peran tokoh lain. Itu kebohongan sejarah.

Awal ketertarikannya ke sejarah Peristiwa 1965 dimulai pada satu peristiwa pada tahun 1999. Dia diminta ceramah oleh Yayasan Hidup Baru, sebuah yayasan yang mengurusi bekas tahanan politik 1965. ”Saya terharu atas semangat juang mereka. Saya terharu ketika mereka, bapak-ibu berusia sepuh itu, mengumpulkan uang recehan. Hasilnya sekitar Rp 25.000, diserahkan sebagai honorarium ceramah saya,” kenang Asvi.

Dengan ketekunan, dia ikuti dan teliti segala narasi Peristiwa 1965 yang berkembang selama ini. Dia sampaikan obsesi itu dalam berbagai tulisan dan karangan pengantar buku, yang semuanya berfokus ajakan menguak kebohongan sejarah, utamanya sekitar Peristiwa 1965.

Dari tujuh buku yang sudah ditulisnya, menulis Peristiwa 1965 tidak hanya berkenaan dengan peristiwa satu malam tanggal 30 September, tetapi juga penangkapan, penahanan, perburuan massal yang memakan korban lebih dari setengah juta orang, pencabutan paspor mahasiswa Indonesia di luar negeri, serta pembuangan paksa 10.000 tapol ke Pulau Buru tahun 1969-1979. Hal itu termasuk stigma dan diskriminasi jutaan orang keluarga korban Peristiwa 1965. Peristiwa-peristiwa itu disebutnya ”pancalogi”, sebagai rangkaian prolog, peristiwa, dan epilog G30S (Asvi Warman Adam, 1965. Orang-orang di Balik Tragedi, Galangpress, 2009).

Bagi Asvi, Peristiwa 1965 merupakan tanda atau pembatas zaman. Dari banyak peristiwa sejarah yang dialami bangsa Indonesia, Peristiwa 1965 merupakan pembatas zaman dalam berbagai bidang. Perubahan politik yang besar terjadi dalam bergesernya kedudukan Indonesia dari pemimpin negara nonblok dan dunia ketiga menjadi ”murid yang baik” AS. Kebijakan ekonomi berdikari menjadi kebijakan ekonomi pasar yang bergantung pada modal asing. Tidak ada kritik, tidak ada polemik, semua dalam satu versi, yakni versi pemerintah.

Peralihan dari profesi wartawan (3 tahun sebagai wartawan) ke peneliti/sejarawan tidak kecil peranan yang diberikan Prof Dr AB Lapian. Dalam status belum setahun bekerja di LIPI, setelah keluar dari majalah Sportif tahun 1983, Asvi memperoleh tawaran mengajar Bahasa Indonesia di Paris, Perancis, sekaligus beasiswa. Dia perlu memperoleh rekomendasi pimpinan LIPI. Lapian bertanya, ”Rekomendasi saya tulis dalam bahasa Inggris, Perancis, atau Indonesia?” Akhirnya rekomendasi ditulis dalam bahasa Indonesia, menerakan bahwa Asvi boleh ke Paris mengajar sekaligus belajar. ”Nah, itulah titik balik profesi saya,” Gelar doktor ilmu sejarah pun diperolehnya dengan disertasi tentang sejarah Vietnam.

Di benak Asvi, dia memimpikan narasi sejarah dibebaskan dari kebohongan-kebohongan. Biarlah peristiwa itu sendiri bicara tentang sejarahnya! Menggapai kebenaran sejarah? Yaaah..., Asvi tertawa lepas!

BIODATA
a. Nama: Asvi Warman Adam
b. Lahir: Bukittinggi, 8 Oktober 1954
c. Istri: Nuzli Hayati (52)
d. Anak: Tessi Fathia Adam (23)
e. Pekerjaan: Ahli Peneliti Utama Pusat Penelitian Politik LIPI
f. Pendidikan: Doktor sejarah dari Ecole des Hautes Etudes en Sciences Sosiales, Paris (1990)
g. Karier: Aktif berceramah, menulis artikel tentang rekayasa Orde Baru dan historiografi
h. Indonesia dari perspektif korban, dan menulis setidaknya tujuh buku tentang sejarah kontemporer, terakhir (”Sarwono Prawirohardjo. Pembangun Institusi Ilmu Pengetahuan di Indonesia”, LIPI, 2009)
i. Mantan anggota tim Pengkaji Pelanggaran HAM Berat Soeharto yang dibentuk Komnas HAM tahun 2003


Repro: http://edukasi.kompas.com/ (Kamis, 1 Oktober 2009 | 01:51 WIB)
Oleh: ST Sularto

Minggu, 06 Februari 2011

Tak Usah Risau, Bayang-bayang Pasti Datang!

bayang-bayang itu, makin menjauh saja
tapi biarlah. tiada ingin aku mengejarnya
sebab waktu sudah senja

dan bila malam tiba,
aku tidak akan lari darinya
justru aku akan tenggelam dalam pekatnya malam

kesendirian dan kesunyiaan adalah kondisi dasar jiwa manusia
atau sebuah rumah
tempat istirahat jiwaku yang haus anugerah

dan bila pagi memaksa mentari menyinari bumi
jadikan bunga-bunga merona tiada henti
aku pun masih teguh pendirian di sini

maksudku sudah tersampaikan
pada bayang-bayang
yang mirip gelombang menghempas tiada henti dari air yang dangkal

biarlah pagi alami jenuh dan berganti siang hari
saat itu, bayang-bayang pasti datang sendiri
tawarkan diri, tanpa peduli siapa aku ini


Suatu Senja di Jakarta
Ciputat, Minggu 06 Februari 2011
Adib Minnanurrachim

Sabtu, 06 November 2010

Entah, Mungkin Judulnya

untuk yang terdiam

seperti yang sudah-sudah
tiap senja menyapa, yang terdiam senantiasa turut serta
berlayar di samudera gelisah,
berlabuh di dermaga resah.

ketika senja lelap,
ia mendaki malam
punguti bintang,
jadikan hiasan di rambutnya yang berkerudung rembulan.

dan seperti biasa,
aku hanya menatap wajahnya yang tak bergoyang
dan kemudian menuliskan satu kalimat,
“sayang, kenapa kau terdiam?”

hanya matanya yang nyala menghujam
tepat di hati yang tak bisa mengelak
tentang pertanyaan
yang enggan ia utarakan

baiklah,
sederhana saja
dalam hatiku ada hormat
untukmu, perempuan.

tapi sudahlah,
diamlah bila ternyata itu adanya
untuk menilai dan mengambil kesimpulan
atau bila ternyata enggan, bahkan.

percayalah,
aku tak mempedulikannya
toh aku sendiri tak bisa menebak,
yang senantiasa tak bisa ditebak

suatu senja di Jakarta
Sabtu, 06/07/2010
Adib Minnanurrachim

Senin, 25 Mei 2009

TAPAK PERJUANGAN KIAI ITU MENDADAK TERHENTI

Duka itu tiba mendadak saat perjuangan masih terasa panjang...


MALAM pukul 00.37 WIB, terdengar jeritan histeris dari kediaman KH Abd Haq Zaini. Abdul Hafidz, santri Nurul Jadid sekaligus hadam (pembantu) keluarga Kiai Abdul Haq, malam itu menangis tersedu-sedu sambil menggoyang-goyangkan sesosok tubuh berbaju koko warna merah hati yang tergeletak di lantai rumah. Sementara Saili, kawan Hafidz, hanya bisa terdiam sambil meneruskan pijatannya pada dada pria tersebut. Begitu pula seorang santri lainnya yang terus memijat-mijat kaki pria tersebut.

Mendengar jeritan Hafidz, Ny Hj Nuri Firdausiyah, istri Kiai Abdul Haq yang tengah terlelap seketika terjaga dan langsung menemui Hafidz.

“Kenapa tidak dibawa ke dokter,” tegur Nyai Fir.

“Beliau menolak, Nyai,” jawab Hafidz panik.

“Tolong panggil Kiai Zuhri dan Faiz,” kata Nyai Fir pada Hafidz sambil duduk dan memijat-mijat tubuh pria yang tergelatak di depannya.

Beberapa menit kemudian, KH Moh Zuhri Zaini, Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid datang. Beliau langsung duduk dan mulai memijat dada pria tersebut sambil berdoa. Detik demi detik berjalan. Menit demi menit pun berlalu. Namun tiada reaksi dari tubuh pria tersebut. Saat Kiai Zuhri memeriksa detak jantung pria yang tergelatak dengan wajah tenang itu, seketika wajah Kiai Zuri berubah duka.

“Inna lillahi wa inna ilaihi rajiuun,” kata Kiai Zuhri pelan, diiringi hujan air mata seluruh orang yang mengelilingi pria yang tak lain adalah KH. Abd haq Zaini, Lc., Ketua Yayasan Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton Probolinggo. Beliau wafat tepat pukul 00.55 WIB, Senin 18 Mei 2009.

***

KIAI Abd Haq Zaini adalah putra ke enam dari pasangan KH Zaini Mun’im dan Nyai Hj Nafi’ah asal Madura. Beliau memiliki lima orang kakak, yaitu KH Moh Hasyim Zaini, KH Abdul Wahid Zaini, Ny Hj Aisyah, KH Fadlurrahman, KH Moh Zuhri Zaini, dan memiliki seorang adik laki-laki bernama KH Nur Chotim Zaini.

Semasa hidupnya, Kiai Abd Haq adalah sosok pria yang sehat dan senang olah raga. Hampir setiap hari selepas subuh, beliau bersama istri tercinta senantiasa menyempatkan diri berolahraga ringan. Berjalan-jalan menghirup segarnya embun pagi di sekitar pesantren Nurul Jadid, sambil menyapa para petani yang mencangkul sawah di pinggiran pesantren.

“Beliau sakit keras hingga opname hanya sekali, sekitar satu bulan lalu di rumah sakit Graha Sehat Kraksaan, Probolinggo. Itu pun sekedar sakit tipus karena kecapekan,” kata Faiz Ahz, putra sulung Kiai Abd Haq.

Menurut Faiz, semasa hidup, ayahandanya hanya punya penyakit diabetes. “Beliau tidak punya penyakit jantung dan sesak nafas. Beliau wafat tidak dalam kondisi sakit,” lanjutnya.

Pendapat Faiz itu dibenarkan Abdul Hafidz. Menurut hadam Kiai Abdul Haq ini, sore hari sebelum duka menyapa, kondisi Kiai Abdul Haq nampak sehat. Setelah sholat isya’, Hafidz yang saat itu badannya kurang sehat diajak Kiai Abdul Haq untuk menghadiri undangan pengajian di dua tempat. Pertama, di daerah sekitar Kabupaten Situbondo. Kedua, menghadiri Haul Habib Jakfar bin Syech Abu Bakar di Pajarakan, Probolinggo.

Usai menghadiri dua acara tersebut, Kiai Abdul Haq bergegas pulang. Tiba di tengah perjalanan, beliau mengeluh kepada Hafidz.

“Badan saya kok tidak enak, Fidz,” keluh Kiai Abd Haq

“Ada apa, Kiai,” tanya Hafid

“Entahlah,” jawab Kiai, yang saat itu pula muntah dengan erangan yang keras. Melihatnya Hafidz panik. Namun Kiai Abdul Haq malah menyarankan agar Hafidz tenang. Dengan senyum berat, beliau menyarankan agar Hafidz bisa segera menuju kediaman beliau.

Saat itu Hafidz punya rencana untuk langsung ke rumah sakit. Namun Kiai Abd Haq memaksa untuk segera tiba di rumah.

Menjelang tiba di rumah, Kiai Abd Haq muntah untuk kedua kalinya. Kedua belah tangannya menjadi dingin. Hafidz pun makin panik. Namun sekali lagi Kiai Abdul Haq mengatakan agar Hafidz tenang.

“Demikianlah... duka ini benar-benar mendadak,” kata Hafidz berkaca-kaca.

***

KH Abdul Haq Zaini, lahir pada tanggal 5 Mei 1953 di Tanjung, Paiton Probolinggo. Ra (Gus) Abdul Haq kecil lahir dalam keadaan tidak normal. “Tubuhnya terbungkus semacam kulit tipis,” kata Ratib (61) santri senior Pondok Pesantren Nurul Jadid.

Melihat keganjilan tersebut, lanjut Ratib, ayahandanya berdoa kepada Allah agar bayi Ra Abdul Haq bisa tumbuh normal. Seiring doa ayahandanya, akhirnya telinga Ra Abdul Haq kecil mulai keluar dari kulit yang membungkus seluruh tubuhnya. Kemudian perlahan-lahan menjadi normal sebagaimana layaknya anak kecil lainnya. “Hanya saja, di ujung bagian telinga kanannya berlubang,” kata Ratib.

Sejak kecil, Ra Abdul Haq senang olah raga. Salah satunya adalah pencak silat. Saat itu beliau berniat berguru kepada ayahandanya. Namun karena tingginya tingkat kesibukan ayahandanya, ia dianjurkan untuk berguru pada orang lain.

Selain gemar olah raga, saat remaja Ra Abdul Haq dikenal sebagai pemuda yang sangat pandai bergaul dengan orang lain. “Ia paling mudah akrab dengan para santri, dan tidak membeda-bedakannya,” kata Ratib yang pernah menjadi guru Ra Abdul Haq di Madrasah Aliyah Nurul Jadid.

Dalam pendidikan, Ra Abdul Haq acapkali tidak masuk sekolah. Beliau lebih senang bermain bersama kawan-kawannya. Namun demikian, nilai ujiannya di sekolah senantiasa baik mulai dari MI, MTs hingga MA.

Selain dikenal cerdas, Ra Abdul Haq juga dikenal sebagai anak yang memiliki budi pekerti yang baik. “Beliau selalu memperhatikan materi yang diberikan guru dengan seksama. Beliau juga selalu hormat kepada guru-gurunya,” kata Ratib.

Perhatian terhadap Akhlak tersebut senantiasa Ra Abdul Haq jaga hingga menjadi Ketua Yayasan Pondok Pesantren Nurul Jadid. Di balik wajah beliau yang keras, bibir beliau senantiasa mengembang tulus bila bertemu dengan para santri, dan juga orang lain.

Kebiasaan bermurah hati kepada orang lain itu, terinspirasi dari kakak kandung beliau, KH Moh Hasyim Zaini. Menurut almarhum Kiai Hasyim bersikap murah hati kepada setiap orang adalah bagian dari latihan kesabaran.

“Setinggi apa pun kitab (ilmu) seseorang, ujungnya adalah tingkah laku,” pesan Kiai Abdul Haq kepada Hafidz, dua hari sebelum beliau wafat.

***

PADA tahun 1986, Kiai Abdul Haq terpilih menjadi Kepala Biro Kepesantrenan Nurul Jadid. Menurut Faizin Syamweil, sebagai Kepala Biro Kepesantrenan beliau lebih senang menempatkan diri sebagai mitra kerja dengan para pengurus pesantren dari pada sebagai salah satu dari jajaran pengasuh.

Sikap Kiai Abdul Haq itu membawa angin segar dalam tubuh biro kepesantrenan. Roda organisasi berjalan dinamis. Para pengurus menjadi lebih leluasa berdiskusi dengan pemimpinnya, dan mereka menjadi lebih bersemangat dalam bekerja.

“Hanya saja, gaya kiai yang leluasa itu tak jarang menjadikan kawan-kawan terjebak dan kebablasan menganggap Kiai Abdul Haq sebagai kawan,” kenang Faizin, kepala Biro Kepesantren Pondok Pesantren Nurul Jadid.

Namun demikian, lanjut Faizin, Kiai Abdul Haq merasa senang. Karena tujuan beliau bersikap demikian adalah agar para pengurus bisa berterus terang saat menyampaikan sesuatu kepada beliau.

Meski Kiai Abdul Haq dikenal akrab dengan para pengurus pesantren, namun pada saat tertentu di mana beliau dituntut untuk menjadi salah seorang dari jajaran pengasuh, maka beliau pun menjadi sosok kiai yang sangat disegani oleh para pengurus pesantren.

Sebagai Kepala Biro Kepesantrenan, Kiai Abdul Haq tak jemu-jemu melakukan kaderisasi kepada para pengurus biro kepesantrenan. Misalkan, bila muncul persoalan di antara santri, beliau tak langsung menanganinya. Biasanya persoalan itu diberikan terlebih dahulu kepada pengurus. Ini beliau lakukan, selain untuk menjalankan job discription masing-masing bagian dalam biro kepesantrenan, juga untuk melihat sejauh mana kemampuan para pengurus pesantren bisa meredakan pelbagai persoalan yang muncul di antara santri.

Lebih jauh, sebagai seorang Kepala Biro Kepesantrenan, tak jarang beliau terjun langsung di lapangan. Misalkan saat menerima laporan bahwa debit air yang mengaliri kamar mandi para santri menurun, Kiai Abdul Haq segera melakukan cek kebenaran laporan tersebut. Setelah mengetahui bahwa laporan itu benar, beliau segera mengumpulkan para pengurus dan memberikan arahan tentang bagaimana menyelesaikannya.

Hal lain yang mengagumkan para pengurus pesantren adalah cara Kiai Abdul Haq menghadapi santri nakal yang telah direkomendasikan para pengurus untuk dikembalikan kepada orang tuanya. Menghadapi rekomendasi ini, tak jarang Kiai Abdul Haq menolak rekomendasi tesebut, dan memilih santri nakal itu untuk beliau bina secara langsung.

“Biasanya santri nakal itu beliau beri berbagai macam kegiatan. Misalkan menjadi sopir atau hadam (pembantu) beliau,” kata Faizin.

Dengan kegiatan yang bisa dipantau langsung, Kiai Abdul Haq bisa melakukan komunikasi lebih dalam dengan santri nakal tersebut. Lewat pendekatan ini, perlahan-lahan tingkat kenakalan santri nakal itu mereda.

Pendekatan yang beliau lakukan kepada para santri nakal itu, selain diilhami pendidikan dari ayahanda beliau, juga berangkat dari pengalaman Kiai Abdul Haq saat berkenalan dan berteman dengan pelbagai golongan masyarakat saat menempuh kuliah di Surabaya.

“Menurut kawan dekat beliau, dulu Kiai Abdul Haq sering meninggalkan bangku kuliah. Ini dilakukan selain untuk belajar hidup mandiri dengan bekerja, juga digunakan untuk menyelami kehidupan kelompok preman, sekaligus menyadarkan mereka,” kata Faizin

Sementara pendidikan yang diperoleh Kiai Abdul Haq dari ayahandanya adalah bersikap terbuka dan apa adanya.

“Menurut Kiai Abdul Haq sendiri, beliau senantiasa diajarkan untuk terbuka kepada ayandanya. Bahkan hingga pada persoalan pribadinya seperti studi di perguruan tinggi yang tak kunjung usai,” lanjut Faizin.

Saat itu Kiai Abdul Haq sempat menempuh kuliah di beberapa perguruan tinggi di Surabaya seperti Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel dan IKIP Surabaya. Namun dua-duanya tidak sempat diselesaikan sampai sarjana.

Melihat hal itu, ayahandanya mengutus kakaknya, alm KH Abdul Wahid Zaini untuk membujuknya agar bersedia menempuh pendidikan di Umul Quro, Makkah.

***

SETELAH wafatnya KH Abd Wahid Zaini pada tahun 2000, Kiai Abdul Haq dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pondok Pesantren Nurul Jadid. Selama kurang lebih delapan tahun, tak sedikit hasil usaha beliau yang saat ini sudah bisa dinikmati, baik oleh santri, alumni dan masyarakat. Di antaranya adalah pendirian Sekolah tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES), SMK, penertiban keuangan pesantren, mekanisme pengangkatan guru dan dosen, pembangunan bank mu’amalat, pendirian P4NJ serta lainnya.

“Sebagai ketua Yayasan, beliau sangat bersemangat sekali. Terakhir adalah pembelian tanah yayasan seluas 1,3 hektar sebelah timur pesantren dan 2,3 hektar sebelah selatan KUA yang menurut rencana akan dijadikan pusat pendidikan,” kata Faizin.

Dalam bidang kemasyarakatan, Kiai Abdul Haq merupakan sosok yang memiliki kepedulian tinggi terhadap masyarakat sekitar pesantren. Misalkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat kecil, beliau menjalin kerjasama dengan pemerintah dalam program penggemukan sapi.

“Bila ayahandanya dulu peduli terhadap ekonomi masyarakat sekitar lewat budidaya tembakau, maka Kiai Abdul Haq lewat program penggemukan sapi. Alhamdulillah hasilnya sangat signifikan,” jelas Faizin.

Lebih jauh, Kiai Abdul Haq juga dikenal sebagai sosok kiai yang tidak senang membeda-bedakan masyarakat karena golongan atau partai politik. Hal ini seperti tausyiah beliau yang disampaikan pada acara Istighosah, Jum’at 15 Mei 2009 di Masjid Jami Pondok Pesantren Nurul Jadid. Saat itu beliau sangat prihatin terhadap perilaku sebagian santri yang menganggap ‘liyan’ santri dari pesantren lain. Menurut beliau, tak patut santri Nurul Jadid menganggap beda santri dari pesantren lain.

“Santri Nurul Jadid jangan mengkotak-kotakan masyarakat. Bersatulah dengan santri dari pesantren lainnya. Karena kitab yang diajarkan sama, Sulam Taufiq,” pesan Kiai di hadapan para jama’ah Istighosah yang diselenggarakan setiap Sabtu Wage.

***

SEKITAR tahun 2002, Kiai Abdul Haq menjadi Ketua Dewan Syura Dewan Pengurus Cabang (DPC) Partai Kebangkitan Bangsa Probolinggo. Alasan beliau bersedia masuk dalam politik antara lain karena banyak kalangan yang meminta beliau untuk meneruskan tongkat estafet kakak kandungnya, KH Abd Wahid Zaini yang terbukti memberikan pencerahan kepada masyarakat.

Kiai Abdul Haq menjabat ketua Dewan Syura DPC PKB sebanyak dua kali. Pada tahap terakhir, sebenarnya beliau enggan. Namun desakan dari para kader partai tak jua mereda. Akhirnya beliau meberikan syarat, bila ada satu kader partai yang tidak sepakat beliau menjadi ketua dewan syura, maka beliau akan mengundurkan diri. Saat pemilihan digelar, ternyata Kiai Abdul Haq terpilih secara aklamasi. Karir terakhir politik Kiai Abdul Haq berada di PKNU.

Meski Kiai Abdul Haq terjun dalam dunia politik, beliau tak pernah sekali pun memaksa santri-santrinya untuk memilih salah satu partai politik. Beliau senantiasa membebaskan para santrinya menentukan pilihan mereka berdasarkan ukuran rasional dan hati nurani masing-masing.

***

SEBAGAI tokoh pesantren, Kiai Abdul Haq cukup dekat dengan mantan Presiden RI, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Terlebih setelah Gus Dur mengetahui bahwa Kiai Abdul Haq merupakan adik kandung sahabat kentalnya, KH Abdul Wahid Zaini.

Secara pemikiran, ada benang merah atau keselarasan antara Kiai Abdul Haq dengan Gus Dur. Salah satunya adalah usaha Kiai Abdul Haq menjaga ukhuwah islamiyah dan ukhuwwah wathoniah, yang senantiasa tergambar dalam petuah-petuah beliau, baik kepada para santrinya maupun sikap beliau kepada orang lain.

***

TUJUH hari ini, mendung duka masih menggelayuti Pondok Pesantren Nurul Jadid. Para santri, alumni, orang tua santri, para sahabat dan masyarakat datang silih berganti berkunjung ke makam Kiai Abdul Haq Zaini. Tak henti-hentinya untaian do’a mereka panjatkan, agar almarhum Kiai Abdul Haq senantiasa bahagia di akhirat nanti.

“Saya tak pernah merasa kehilangan Kiai Abdul Haq. Senyum beliau akan senantiasa ada bersama saya...” kata salah seorang santri yang enggan disebutkan namanya.*

Adib Minnanurrachim

Kamis, 14 Februari 2008

RAGAM SPIRITUAL, RAGAM KETENANGAN


Seiring kecenderungan masyarakat terhadap spiritualisme, beragam pelatihan spiritual ditawarkan. Mulai ESQ, Quantum Ikhlas hingga Shalat Khusyu. Ada beragam ketenangan dilahirkan.


ABAD 21, oleh sebagian pemikir diidentifikasi sebagai abad spiritualisme. Hal ini tidaklah berlebihan jika melihat maraknya kecenderungan masyarakat pada aspek spiritualitas pada dasawarsa terakhir ini. Kehidupan modern yang bercorak diterministik-materialistik, positivistik-empirik, sering dikritik oleh kaum posmodernis sebagai akar konflik. Namun solusi memuaskan ternyata belum dapat mereka ajukan. Solusi-solusi yang ditawarkan sering dinilai tanpa arah, bahkan mengarah pada solipsisme. Dari keadaan yang penuh kegamangan dan kekeringan jiwa inilah spiritualisme menjadi solusi-alternatif.

Dalam kondisi tersebut munculah tokoh seperti Danah Zohar dan Ian Marshall. Mereka berusaha memperbaiki peradaban secara mendasar dengan menggantikan paradigma Newtonian yang atomisitik dengan paradigma holistik relasional kuantum. Pasangan suami istri ini menjelaskan konsep inteligensi pada aspek-aspek kejiwaan yang pada waktu-waktu sebelumnya dianggap irasional, dengan menggulirkan konsep inteligensi spiritual sebagai bentuk inteligensi tertinggi yang memadukan inteligensi intelektual dan inteligensi emosional.
Dalam sebuah wawancara, Danah Zohar mengatakan bahwa kegagalan manusia modern dalam menjalin hubungan suami istri dan kekeringan makna hidup menjadikan mereka kembali pada spiritualisme. “Kesejahteraan tidak hanya berarti berapa banyak uang Anda di bank, tapi juga apakah Anda bahagia? Seberapa kuat dan sehat hubungan kekeluargaan Anda? Karena 50 persen perkawinan di Barat berakhir dengan perceraian. Mereka mengucapkan janji perkawinan, hidup dalam suka dan duka hingga maut memisahkannya, tapi dua tahun kemudian mereka bercerai. Ini masalah krisis spiritual.”
Gambaran Danah Zohar tersebut juga dialami oleh masyarakat di kota-kota besar di Indonesia. Kehidupan matrealistik yang mulanya dianggap sebagai tujuan utama ternyata tak menjamin kehidupan manusia menjadi tambah bahagia. Science yang diagungkan sebagai pencerahan, ternyata tak mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar seperti; mengapa kita dilahirkan? untuk apa kita lahir di dunia? Dan berujung pada pertanyaan soal kematian.
Keadaan cemas tersebut, pada akhirnya juga melahirkan training-training spiritual seperti ESQ (Ary Ginanjar Agustian), Quantum Ikhlas (Erbe Sentanu) dan Shalat Khusyu (Abu Sangkan). Ketiga-tiganya dianggap sebagai jawaban terhadap krisis spiritual manusia modern, meski di dalamnya terdapat berbagai perbedaan, salah satunya metodologi spiritualisme dan tingkat ketenangan yang diperoleh.

Metode Pelatihan
SEPERTI tertulis dalam web site ESQ (www.esqway165.com), pelatihan yang bervisi menjadikan Leadership Center kelas dunia yang terkemuka dan independen ini mencoba menuntun peserta untuk membangkitkan 7 nilai dasar, yaitu jujur, tanggung jawab, visioner, disiplin, kerjasama, adil, dan peduli. ESQ memandu seseorang dalam membangun prinsip hidup dan karakter berdasarkan ESQ Way165. Angka 165 merupakan simbol dari 1 Hati pada Yang Maha Pencipta, 6 Prinsip Moral, dan 5 Langkah sukses.
Sebagai materi pelatihan, peserta juga dikenalkan tentang kecerdasan intelektual, emosional, spiritual dan misteri God Spot (Titik Tuhan). Sementara metodologi pelatihan ESQ dibuat sedemikian rupa sehingga peserta akan merasa seperti menikmati sebuah pertunjukkan yang penuh makna. Selain itu, peserta juga akan diajak terlibat beberapa aktifitas dalam training seperti permainan, simulasi, serta saling berbagi pengalaman di antara peserta. Materi training disampaikan secara multimedia yang menggabungkan antara animasi, klip film, efek suara, dan musik. Ditampilkan dengan medium beberapa layar besar hingga 4 x 6 m dengan tata suara sekitar 10.000 watt. Training dilaksanakan di berbagai tempat terpilih dengan standar tertentu untuk memastikan bahwa training dapat berlangsung nyaman dan menyenangkan bagi peserta.
Kurang lebih sama dengan ESQ, Quantum Ikhlas yang digagas Erbe sentanu juga memanfaatkan kemajuan ilmu pengetahuan seperti neuroscience, neurotechnology, microelectronics dan sound healing technology, beriringan dengan tuntunan bijak agama serta falsafah kehidupan yang sejak dulu hidup di tengah masyarakat.
Dalam bukunya, Quantum Ikhlas (Tekhnologi Aktivasi Kekuatan Hati), Nunu—panggilan Erbe Sentanu—mengatakan bahwa dengan menggunakan teknologi DigitalPrayer, manusia dapat mudah mencapai gelombang otak yang tepat bagi setiap kegiatan yang ingin ditingkatkan kualitasnya, seperti belajar cepat, meditasi, relaksasi, mengubah kebiasaan, meningkatkan intuisi sampai awet muda.
Dengan penemuan gelombang otak alpa yang bisa dicapai dengan teknologi, pelatihan ini menganjurkan penggunaan CD yang berisi musik dan suara yang sudah diinsersi dengan gelombang tertentu yang otomatis bisa menurunkan gelombang otak pendengarnya dari kondisi Beta ke kondisi Alpa. Melalui latihan yang intensif, kata Nunu, secara otomatis kondisi fisik otak menjadi terlatih sehingga akses zona iklhas bisa menjadi lebih mudah dan otomatis.
Berbeda dengan dua pelatihan di atas yang lebih tergantung pada peralatan tekhnologi dan tata ruang pelatihan, Sholat Khusyu—sesuai dengan namanya—lebih mengedepankan shilatun dan shalat sebagai media untuk mencapai spiritualisme. Shilatun adlah relaksasi yang bisa dilakukan di berbagai tempat, baik dalam ruang tertutup maupun terbuka. Sementara shalat yang oleh ustadz Abu Sangkan disebut meditasi tertinggi dalam Islam, dijelaskan bisa mengurangi kecemasan dalam kehidupan manusia, dengan lima alasan: pertama, merupakan doa atau meditasi yang teratur, minimal lima kali sehari. Kedua, relaksasi melalui gerakan-gerakan shalat. Ketiga, hetero atau auto sugesti dalam bacaan shalat. Keempat, group therapy dalam shalat jama’ah, atau bahkan dalam shalat sendirian pun minimal terdapat aku dan Allah. Dan kelima, hydro therapy dalam mandi junub atau wudhu sebelum shalat.
Ketiga pelatihan di atas—dengan metodologinya masing-masing—diyakini mampu menurunkan gelombang otak dari beta ke alpa, dan bisa membuat manusia merasakan ketenangan jiwa. Namun demikian, yang perlu dilihat adalah; sejauh mana ketenangan dan kebahagiaan yang dicapai? Samakah antara ketenangan dan kebahagiaan yang diperoleh dari satu pelatihan dengan pelatihan lainnya?

Adib Minanurrachim
Dimuat di SC Vol VI

Rabu, 13 Februari 2008

“SUFI ITU INKLUSIF”


AGUS MUSTOFA lahir di Malang, 16 Agustus 1963. Putra Syech Djapri Karim, guru tarekat yang sekaligus mantan Dewan Pembina Partai Penganut Tarekat Indonesia pada masa Bung Karno ini, dikenal sebagai penulis produktif buku serial diskusi tasawuf modern. Di antara buku-bukunya adalah, Pusaran Energi Ka’bah, Ternyata Akhirat Tidak Kekal, Untuk Apa Berpuasa, Menyelam ke Samudera Jiwa dan Ruh, Bersatu dengan Allah dan masih banyak lagi. Kegemaran terhadap tasawuf, selain dipengaruhi sosok ayahandanya juga karena pergaulannya dengan beberapa intelektual Islam modern seperti Prof Ahmad Baiquni dan Ir Sahirul Alim M Sc, semasa kuliah di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Januari lalu, kepada penulis yang sedang menyelesaikan buku berjudul Bersyahadah Dalam Rahim ini, saya mewawancarainya seputar fenomena spiritualisme yang makin digandrungi masyarakat modern saat ini. Berikut petikannya:


Seiring meningkatnya popularitas spiritualisme, ada fenomena tentang seorang spiritualis tapi tidak religius. Bagaimana pendapat anda?

Pertama, spiritual itu tergantung bagaimana kita melihat. Sama dengan agama dan Tuhan, tergantung siapa yang melihat. Bisa jadi antara saya dan anda berbeda. Begitu pula dengan spiritual: kata yang sama, tapi setiap orang bisa mendefinisikannya secara berbeda-beda. Tapi inti spiritual adalah sebuah upaya untuk masuk ke dalam jiwa kita. Sebagai manusia, dalam diri kita terdiri dua hal, fisikal juga spiritual.
Tiap agama punya spiritualism, bahkan orang-orang dinamisme dan animisme juga punya. Tapi dalam Islam saya kira berbeda dan menunjukkan kualitas tertentu yang jauh dari yang lainnya. Jadi sekedar definisi secara umum, yang monggo saja.
Kedua, kita sebagai seorang muslim memiliki begitu banya kaidah-kadaih untuk membangunkan spiritual kita. Tapi kunci utamnya adalah menghilangkan ego kita sebagai manusia dan kemudian memunculkan sifat-sifat ketuhanan dalam pikiran, hati dan keseluruhan hidup kita, mengarah pada tauhid. Ini merupakan tingkat spiritualitas yang sangat tinggi.
Dalam Islam, seluruh ajaran Rasulullah merupakan proses spiritualitas kita, tak kecuali rukun Islam. Dan syahadah merupakan pintu masuk spiritualitas seorang muslim.
Saat seseorang sudah mengorientasikan hidupnya dan kepentingannya hanya kepada Allah (laa ilaha illa Allah), sesungguhnya dia sudah mematok sebuah spiritualitas yang tertinggi di seluruh alam semesta ini, dan mengakui Muhammad sebagai pembawa ajaran spiritualitas tersebut.
Jadi, kalau kita kupas spiritualias Islam itu sangat luas dan dalam. Buktinya sejak berada di dalam rahim, kita ini sudah bersyahadah. Kata Allah dalam surah al A’raf ayat 172, ketika Allah mengeluarkan anak-anak Adam dari tulang sulbinya (masih berbentuk ovum dan sperma), lalu dipertemukan di dalam rahim, jiwa itu sudah terbentuk dan kemudian bersyahadah. Saat itu Allah bertanya, alastu birobbikum? (bukankah aku ini Tuhanmu?), mereka menjwab, bala syahidna (ya kami bersaksi bahwa Engkau Tuhanku). Dari sini, bisa diambil kesimpulan bahwa secara fitrah, manusia itu sudah mengarah kepada spiritualitas. Kemudian saat dilahirkan di dunia, dia (jiwa) diminta bersyahadah lagi secara syariah (teori), dan selanjutnya syahadah itu didefinisikan, dipelajari, difahami dan dilaksanakan.
Laa ilaha illa Allah itu bukan hanya teori, tapi juga harus diamalkan, mulai dari bangun tidur sampai tidur kembali. Bagiamana dia makan pagi ingat Allah, bekerja ingat Allah dan seterusnya. Bila ini bisa dilakukan, maka syahadah manusia akan mencapai tahap bahagia bersyahadah dalam seluruh amal perbuatannya, karya-karyanya. Kalau diteruskan lagi, maka akan sampai pada puncaknya, yaitu berserah diri. Kesaksian yang sesungguhnya.
Dari sini, ternyata seluruh ibadah yang dibawa Rosulullah, baik dzikir, sholat dan seterusnya, merupakan proses spiritualisme yang akan membawa seorang muslim menuju puncak spiritualitas Islam.

Dalam mencari kebahagian, begitu ragam jalannya. Ada orang yang tak beragama, bahkan atheis, mengaku bisa mencapai kebahagiaan. Ada pula yang melalui training- training instan, dan ada juga yang melalui pendakian yang panjang dan konsisten. Nah adakah titik pembeda pengalaman spiritual di antara mereka?

Tiap orang memang bisa mengalami proses-proses spiritual, termasuk orang yang mengaku tidak beragama semisal melalui semedi dan meditasi. Mereka bisa mengalami relaksasi. Tapi ada perbedaan yang sangat mendasar pada tingkatannya. Antara ketenangan satu dengan ketenangan lainnya bisa berbeda. Begitu juga dengan kebahagiaan satu dengan kebahagiaan lainnya. Ini semua tergantung pada siapa kita menggantungkan proses ketenangan dan kebahagiaan tersebut. Anda diam-diam begini sambil mendengarkan musik klasik, atau musik yang tenang dan tentram, anda bisa dibawa menuju gelombang otak alfa yang bisa memunculkan relaksasi. Atau anda ikut pengobatan relaksasi dengan aromaterapi, anda juga akan mengalami ketenangan. Karena itu, hal semacam ini bisa juga disebut dengan spiritualism.
Tapi kalau kita bandingkan, antara menggantungkan proses spiritualism itu kepada benda dengan kepada Dzat yang tak berhingga (Allah), maka tingkat ketenangan, ketentraman dan kebahagiaannya akan sangat berbeda.
Tingkat tersebut bisa dipahami dari gambaran surga yang bertingkat-tingkat. Ini menunjukkan bahwa ada fase-fase atau kualitas-kualitas, di mana di antara manusia memiliki kualitas spiritual yang berbeda-beda. Jangankan antara muslim dengan non muslim, antar sesama muslim sendiri ada kualitas yang berbeda-beda. Bahkan definisi tentang Tuhan antara saya dan anda bisa berbeda, tergantung sejauh mana kenalnya kita dengan Allah. Dalam Al Qur’an disebutkan mereka belum mengagungkan Allah dengan semestinya. Mereka belum kenal Allah dengan sesungguhnya. Jadi pendekatan kepada Allah untuk meningkatkan kualitas jiwa kita, itu perjalanan yang tak berhingga.
Nah di sini, monggo saja setiap orang meningkatkan kualitas dirinya masing-masing. Tapi pendekatan apa yang dilakukannya? Bila hanya sesuatu yang sederhana, ya sampai di situ saja. Coba bandingkan secara fair seperti yang diajarkan dalam Islam, yang memiliki beberapa pendekatan, yaitu syari’at, tarikat, hakikat dan makrifat, yang kualitasnya berbeda-beda.

Bagaimana bisa melakukan pendekatan spiritual yang tak berhingga tersebut?

Secara utuh, saya melihat bahwa orang itu akan mengalami kualitas jiwa yang tak berhingga apabila dia berusaha meniadakan dirinya, yang dalam syahadah, sejak awal sudah diajarkan laa ilaha illa Allah. Ini sesungguhnya makna yang sangat luar biasa, tergantung siapa yang membahas dan mendalaminya. Semua Nabi dan Rasul, misinya adalah menegakkan kalimat tauhid. Tapi demikian, laa ilaha illa Allah antara tiap muslim bisa berbeda kualitasnya. Tergantung sejauh mana peniadaan diri (ego) kita di hadapan Allah dan membesarkanNya dalam skala tak berhingga. Itulah yang akan memunculkan kualitas yang berbeda.
Jadi titik pembeda antara pelbagai macam spiritualitas yang ada saat ini adalah, sejauh mana meniadakan diri di hadapan Allah tersebut. Nah saat kita bisa meniadakan diri kita di hadapan Allah, mendadak kita bisa merasa bersatu di dalam kebesaran Dzat Allah tersebut. Ini yang saya jelaskan dalam buku saya, Bersatu dengan Allah. Di situlah tempat kebahagiaan yang luar biasa dan tidak berhingga serta tak bisa digambarkan dalam kata-kata lagi, yang dalam Al Qur’an dikatakan bahwa orang yang dekat dengan Allah itu tidak punya rasa takut, khawatir dan tidak gelisah, kecuali tentram. Tapi ingat, tentram antara satu orang dengan lainnya bisa berbeda.
Tingkatan manusia dalam Al Qur’an itu ada tiga; Iman, Taqwa dan Islam. Ya ayuha alladzina amanuu ittaqullaha haqqo tugotih wala tamutunna illa wa antum muslimuun. (Wahai orang yang beriman, taqwalah dengan sekuat-kuatnya dan sebenar-benarnya dan jangan mati kecuali dalam keadaan berserah diri). Di sini gambaran kualitasnya terlihat. Iman itu sebatas gambaran pemahaman keilmuan sampai yakin. Disuruh naik lagi dengan taqwa dengan usaha yang sungguh-sungguh. Itu tidak gampang. Ada proses panjang untuk meluruskan seluruh ibadah yang kita jalankan. Nah bila ini bisa dilalui, buahnya adalah berserah diri kepada Allah. Dan berserah diri ini ada contohnya, yaitu Nabi Ibrahim saat disuruh mengorbankan putranya yang begitu dicintainya. Ini merupakan contoh tertinggi.
Ukuran seorang spiritualis itu digambarkan Al Qur’an, yakni puncak misi seorang muslim adalah rahmatan lil ‘alamiin. Itu tanda-tanda yang bisa diamati. Makanya seorang Muhammad diutus untuk rahmatan lil ‘alamiin (wamaa arsalna muhammad illa lilrahmatan ‘alamiin). Seorang muslim harus bermanfaat seluas-luasnya bagi siapa saja, tidak terbatas pada muslim, mukmin dan muttaqiin saja. Tapi seluruh umat manusia dan sekalian alam. Jadi ukurannya di sini.

Tapi ada juga kan yang mencintai Tuhan tapi enggan hidup sosial, alias nyepi saja. Ini bagaimana?

Wah itu eksklusif, itu tidak benar. Kata Allah, ke mana pun kamu menghadap, kamu berhadapan dengan Allah. Walillahi al masyriqu wal maghrib. Kita melihat matahari terbit, kita berhadapan dengan Allah. Kita melihat pohon, semut, binatang, air dan semuanya kita melihat Allah. Nah bila sudah demikian, maka mencintai Allah itu tidak eksklusif, tapi malah inklusif. Karena kita melihat kehadiran Allah itu di seluruh benda, peristiwa dan semuanya. Jadi salah besar bila ada yang mengatakan bahwa menyatu dengan Allah, itu menjadi eksklusif! Uzlah atau mengasingkan diri, seakan akan hidup ini hanya dirinya dengan Allah, itu tidak benar. Karena misi manusia diciptakan adalah untuk menjadi rahmatan lil ‘alamiin. Justru dengan memberikan rahmat kepada alam, kita sedang berproses menjadikan sifat-sifat kita seperti Allah yang tidak pilih kasih dan mencintai semua makhluk.*

Adib Minanurrachim

“DANAH ZOHAR TELAH MENDUNIAKAN KEKELIRUANNYA”


JALALUDDIN RAKHMAT, lahir di Bandung, 29 Agustus 1949. Kang Jalal—begitu panggilan populernya—dikenal sebagai salah satu tokoh cendikiawan dan mubaligh Islam terkemuka di Indonesia, bersama Gus Dur (KH Abdurahman Wahid) dan almarhum Cak Nur (Prof.Dr. Nurcholis Madjid).
Dari sekian panjang pergulatannya dalam pemikiran Islam, Kang Jalal pernah menyimpulkan bahwa fiqih hanyalah pendapat para ulama dengan merujuk pada sumber yang sama, yaitu Al-Qur’an dan Sunnah. Ia tidak setuju bila klaim kafir dialamatkan pada orang yang berbeda pendapat tentang tafsir Al-Qur’an dan Sunnah. “Bila menentang Al-Qur’an dan Sunnah, itu baru kafir,” katanya.
Karena silang-pendapat fiqh itu pula, Kang Jalal memfikirkan solusi alternatif yang bisa mempersatukan umat Islam, dan pilihannya jatuh pada akhlak. Menurutnya, dalam akhlak, semua orang—apa pun mazhabnya—bisa saling sepakat. Pemikiran ini ia tuangkan dalam buku, Dahulukan Akhlak di Atas Fikih (2002).
Sebagai cendikiawan muslim, Kang Jalal juga bergulat dengan tasawuf. Ketertarikannya pada dunia sufi ini bermula saat bersama-sama Haidar Bagir dan Endang Saefuddin Anshory diundang pada sebuah konferensi di Kolombia pada 1984. Dari konferensi itu ia bertemu dengan ulama-ulama asal Iran yang memiliki pemahaman mendalam tentang tasawuf, dan ia merasa kagum pada mereka.
Pasca kepulangan dari konferensi tersebut, Kang Jalal tenggelam dalam dunia tasawuf dan melahirkan beberapa karya seperti Reformasi Sufistik (1998), Meraih Cinta Ilahi: Pencerahan Sufistik (1999) dan Tafsir Sufi Al-Fâtihah (1999). Selain tasawuf, Kang Jalal juga menulis buku-buku Psikologi, seperti Psikologi Komunikasi (1985) dan Psikologi Agama (2003).
Berangkat dari kemampuan Kang Jalal yang multi disiplin ilmu tersebut, keempat wartawan SC Adib Minanurrachim, Kholis Bakrie, Billyantoro, Azty Arlina dan satu fotografer, Heru Haryono, mewawancarainya seputar perkembangan antara science dan spiritualisme. Berikut petikannya:

Fenomena fusi antara spiritualitas dengan science seperti yang dilakukan Danah Zohar, penemuan God Spot dan Fisika Quantum, apakah itu merupakan fenomena baru dari perjalanan spiritualisme di barat?

Di barat, spiritualitas muncul karena kekecewaan mereka terhadap science yang didasarkan pada logika dan empirisisme. Manusia melihat dunia ini absurd. Untuk apa seluruh kehidupan ini bila diakhiri dengan kematian? Segala usaha manusia sia-sia. Kata Soren Keirkegaard, ada semacam kecemasan yang luar biasa bagi manusia modern saat mereka memikirkan akhir kehidupan. Ia menyebutnya kegelisahan yang tak difahami.
Pertanyaan itulah yang membawa orang-orang ke spiritualisme. Mereka merasa rasio yang menjadi dasar sceince ternyata buntu dan tidak bisa memberikan jawaban, selain mereka juga kecewa terhadap science yang matrealistis.
Mengenai God Spot itu sama kontroversinya dengan G Spot (titit birahi) yang cuma mitos, karena hingga saat ini tidak bisa dibuktikan secara ilmiah.
Sekarang ini ada penelitian neurologis tentang pengalaman-pengalaman keruhanian. Ada yang mengalami keruhanian, misalnya melalui brain imaging, pemasangan semacam saluran-saluran di sekitar kepala untuk melihat gelombang-gelombang otak. Bila orang mengalami pengalaman ruhaniah, ada bagian otak yang katanya berkaitan dengan perasaan, letaknya di sekitar hipocampus (pusat memori harian). Menurut neurolog, di bagian hipocampus itu ada satu tempat yang disebut lobus temporal, berfungsi mengatur kesadaran waktu dalam kehidupan kita. Bila mendadak kesadaran waktu hilang atau tenggelam dalam satu situasi, maka keadaan orang tersebut flow. Nah kata orang, itu yang diseput God Spot, titik yang menyambungkan manusia dengan Tuhan.
Pendapat lain mengatakan, God Spot itu sebenarnya bukan persambungan kita dengan Tuhan, tapi seperti mata lahir ini. Hanya saja, God Spot tidak bisa membuktikan adanya Tuhan, kecuali hanya alat yang bisa merasakan kehadiran Tuhan.
Tapi persoalannya, para ahli neurolog juga menemukan bahwa keadaan blink (‘berkedip’) itu juga dialami orang sakit jiwa. Para penderita skizofrenia dan paranoida juga mengalami rangsangan di tempat yang sama. Dengan kata lain, orang saleh sebetulnya juga mengalami pengalaman neurologis yang sama dengan orang sakit jiwa atau orang gila. Nah, apakah hal itu kita sebut sebagai God Spot (titik Tuhan) atau Mad Spot (titik gila)? Hehehe...

Dalam pengantar anda di buku Danah Zohar, anda memberikan catatan bahwa Danah Zohar masih terjebak psikologisme. Maksudnya bagaimana?

Danah Zohar itu bukan psikolog, bukan pula neurolog. Dia keliru—kekeliruan yang menjadikannya populer dan sekaligus membumikannya—dengan menyebut kecerdasan spiritual sebagai SQ (spiritual quotient). Karena huruf Q itu kan quotient yang berarti hasil bagi. Huruf Q, dalam matematika merupakan hasil pembagian dari X dibagi Y (X:Y=Q). Ini cocok bila diterapkan pada IQ (Intelligence Quotient). Karena teori ini membagi usia mental dengan usia kronologis. Misalkan ada anak yang usia kronologisnya 5 tahun, tapi kecerdasan mentalnya sudah seperti anak berusia 10 tahun. Maka teorinya adalah 10:5x100= 200. Jadi IQ anak itu adalah 200.
Di kalangan Psikolog tidak ada SQ, yang mungkin ada adalah kecerdasan spiritual atau Spiritual Intelligence (SI). SI ini pernah diusulkan kepada Howard Garner yang berpendapat bahwa manusia setidaknya memiliki delapan kecerdasan yang ada tempatnya di dalam otak. Misalkan kecerdasan kinestetik yang berkaitan dengan cerebellum (otak kecil sebelah belakang yang mengusai koordinasi otot-otot). Tapi kata Garner, di mana letak kecerdasan spiritual? Tidak ada.
Mengenai pandangan Danah Zohar tentang berspiritual tanpa beragama, sebetulnya malah ada yang lebih ekstrim, yakni berspiritual tanpa ada kepercayaan terhadap Tuhan. Agama Budha itu sangat spiritual, tapi mereka tidak percaya sama Tuhan. Alasannya, Tuhan itu tidak bisa digambarkan dan didefinisikan. Seorang antropolog pernah menanyakan teologi mereka. Tapi jawab mereka, our dance is our theology (tarian kami adalah teologi kami). Karena mereka tidak membicarakan Tuhan, mereka hanya membicarakan bagaimana meghilangkan derita dalam kehidupan.
Fenomena itu juga tergambar dalam dunia modern saat ini. Tak sedikit orang berkata, saya seorang spiritual tapi bukan seorang religius. Dalam hal ini, saya kira benar. Sementara yang tidak benar itu adalah ketika SQ itu beredar di Indonesia dan menjadi semacam training-training. Sebenarnya mereka itu bingung membedakan antara mana yang disebut emotional intelligence dan spiritual intelligence? Lalu mengambil jalan pintas dengan menggabungnya dan bernama ESQ, tanpa ada batasan-batasan yang jelas.
Secara ilmiah ESQ itu adalah something you are not able to check and to account (sesuatu di mana anda tidak bisa memeriksa dan melaporkan). Jadi tidak bisa dijelaskan melalui topangan-topangan ilmiah yang bersifat empiris dan logis.
Lebih jauh, apa sih ukuran ESQ? Tangisan? Kalau sudah menangis, maka kita sudah mendapat ridho Allah? Siapa saja yang tidak menangis, maka hatinya sudah membatu dan tidak mendapat petunjuk. Begitukah?
Jadi menurut saya, ESQ itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan emosional, spiritual dan intelegensi. ESQ itu hanya mengulang kesalahan seperti zaman romawi, yaitu Th Holy Roman Empire (kerajaan romawi yang suci), yang merupakan kerajaan Paus. Padahal sebenarnya, itu bukan kerajaan, bukan romawi dan sama sekali tidak suci.

Tapi di antara alumninya banyak yang mengalami perubahan kepribadian menjadi baik?

Kalau mereka menjadi baik itu hanya dongeng saja. Apa sih ukuran kebaikan itu? Ia rajin sholat, hanya itukah? Coba gunakan ukuran lainnya; kenapa sifatnya makin ekstrim terhadap tetangga atau teman sekerjanya? Mengapa ia menganggap orang yang tidak pernah ikut ESQ adalah orang yang belum dapat hidayah? Mengapa pula ia menganggap dirinya sebagai yang paling sholeh?

Motif kegilaan masyarakat kota terhadap ESQ karena apa?

Mungkin karena pemasarannya yang sangat bagus. Ada teknik marketing yang menurut saya sangat bagus. Semua teknik yang dipakai multylevel marketting itu juga dipakai dalam ESQ, dan setiap alumninya bisa menjadi marketter sekaligus. Selain itu, memang ada kecenderungan umum, bahwa orang-orang Indonesia ini suka hal-hal yang instan.

Bagaimana dengan tariqoh-tariqoh yang di antara jalan menuju Allah itu melalui puasa dan lainnya. Apakah ini yang dimaksud dengan spiritual dalam Islam?

Iya. Tapi dalam Islam, perjalanan menuju Tuhan itu perjalanan yang panjang dan sama sekali tidak instan. Dulu saya mendirikan pusat kajian tasawuf dan pernah masuk di beberapa tarekat, tapi akhirnya keluar dengan kekecewaan. Karena saya tidak menemukan pengalaman ruhani yang benar-benar tulus. Sulit membedakan pengalaman batin antara orang gila dengan orang sholeh. Sense keduanya itu sama.

Apakah termasuk dzikir akbar?

Dzikir Akbar itu bisa memberikan pengalaman ruhani karena orang yang bergerak dengan gerakan yang sama, bersuara dengan suara yang sama, dan bahkan kadang-kadang pakaiannya juga sama. Dalam situasi seperti itu anda dalam keadaan suggestable, sangat mudah dipengaruhi. Kemudian pembicaranya berbicara dengan menyentuh emosi, kalau perlu juga berakting menangis. Nah, apakah itu pengalaman spiritual? Menurut saya tidak.

Lalu perjalanan menuju Allah itu seperti apa?

Perjalanan menuju Allah itu transformasi personal dari satu tahap ke tahap yang lebih spiritual. Transformasi ini merupakan perubahan menyeluruh dari seluruh kepribadian kita. Ada seorang sufi modern memberi contoh, bila kita ingin menghilangkan sakit kepala, kita bisa beli obat di apotik, analgesik atau bodrek. Tapi dengan obat, sebenarnya kita hanya menghilangkan sementara rasa sakitnya. Penyakitnya masih tetap. Karena itu bila ingin sembuh, sebenarnya kita juga harus makan teratur dan mengikuti 3 J: jenis makanannya apa, jumlahnya berapa dan jadwalnya teratur-tidak? Artinya, kita juga harus merubah cara hidup kita. Tak cukup membeli obat di apotik saja.
Nah, The Road to Allah adalah upaya untuk tranformasi tersebut. Kita harus merubah cara hidup kita, bukan hanya mengobatinya dengan dzikir. Bila hanya dzikir tanpa melakukan perubahan kepribadian yang buruk, ya sama saja.
Dalam Islam, The Road to Allah itu tasawuf. Tapi persoalannya, orang awam pun pada ngomong tasawuf. Sama dengan spiritual. Selain itu, banyak orang yang terlalu gampang puas. Mengklain dirinya sebagai sufi bila sudah mengambil rujukan kepada kitab Ahmad bin Atha’illah As-Sakandary, yaitu al Hikam, atau bila sudah mulai membahas Kitab Al Ghozali, Ihya ‘Ulumuddin.
Jadi menurut saya, ukuran orang yang menapak jalan menuju Allah itu lebih pada transformasi spiritual, perubahan tingkah laku. Dan ukuran yang lebih utama adalah apakah dia makin penyayang terhadap sesamanya, lebih toleran terhadap orang-orang yang berbeda denganya, dan lebih berkeinginan memberikan kontribusi berharga terhadap kesejahteraan orang lain?*

Dimuat di SC Vol VI