<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2483512749123335218</id><updated>2012-02-17T07:36:43.484+07:00</updated><category term='LAPORAN'/><category term='OPINI'/><category term='ESAI'/><category term='Cerita Pendek'/><category term='REHAL'/><category term='Lirik Lagu Iwan Fals'/><category term='ADVERTORIAL'/><category term='News'/><category term='WAWANCARA'/><category term='EDITORIAL'/><title type='text'>EUDAIMONIA</title><subtitle type='html'>Aktualisasi Potensi Terus Menerus... Semoga!</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://adibdata.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adibdata.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Adib Minanurrachim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15129533338323743129</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-I2gRc1Ay-KI/Trz7pcj6bYI/AAAAAAAAAJM/rpVJ_fN0h8A/s220/wajah%2B%252846%2529.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>78</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2483512749123335218.post-1083778100508457460</id><published>2011-10-17T11:29:00.002+07:00</published><updated>2011-10-17T11:31:26.554+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='News'/><title type='text'>Nilai-nilai Pendidikan Karakter dalam APSSO</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-uT5w76nAJjQ/TpuvjijgwII/AAAAAAAAAFw/TjzeShy0f0g/s1600/content-berita-1929.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 139px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-uT5w76nAJjQ/TpuvjijgwII/AAAAAAAAAFw/TjzeShy0f0g/s200/content-berita-1929.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5664313981454565506" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Yogyakarta (Dikdas): Pendidikan karakter merupakan upaya menanamkan nilai-nilai kebaikan pada diri anak didik, seperti nilai keimanan, ketakwaan, kejujuran, termasuk nilai sportifitas. Direktur Pembinaan Sekolah Dasar (SD), Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar, Kementerian Pendidikan Nasional, Prof. Dr. Ibrahim Bafadal, M. Pd., menilai bahwa ASEAN Primary School Sport Olympiad (APSSO) merupakan kejuaraan olahraga yang menyimpan nilai-nilai pendidikan karakter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;”Sesungguhnya pertandingan seperti Atletik, Sepak Bola, Bulutangkis, Tenis Meja, dan Catur adalah untuk melatih anak-anak bersikap sportif. Anak yang sportif adalah anak yang memiliki karakter baik. Semangat untuk menang adalah hal yang baik. Dalam bahasa psikologi itu disebut prestasi untuk prestasi. Ada sejumlah cabang olahraga yang berbentuk tim, contoh sepak bola mini. Di sini, anak-anak dibiasakan untuk berkerja secara tim, secara kelompok, dan itu merupakan bagian dari pendidikan karakter,” jelas Ibrahim Bafadal, usai mengikuti acara pembukaan APSSO kelima di Hotel Inna Garuda, Jl Malioboro, D.I. Yogyakarta, Sabtu kemarin (8/10).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat APSSO erat kaitannya dengan pendidikan karakter, Ibrahim Bafadal menilai bahwa kejuaraan olahraga tingkat ASEAN tidak cukup hanya untuk jenjang SD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Saya kira, kegiatan olahraga sekaligus untuk mendidik karakter anak, tidak cukup hanya di tingkat SD. Karena pembinaan yang baik itu berkelanjutan. SD di bina, dilanjutkan di SMP, SMA, SMK, bahkan mungkin juga untuk PKLK. Dan APSSO ini pembinaan yang cukup bagus, karena bisa melahirkan para atlet untuk olimpiade olahraga tingkat internasional, karena pembinaannya dimulai dari level sekolah, kecamatan, kabupaten, provinsi, nasional, hingga tingkat ASEAN,” tambah Ibrahim Bafadal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, ketika ditanya apakah kejuaraan olahraga jenjang sekolah dasar yang melibatkan negara-negara ASEAN perlu ditingkatkan menjadi kejuaraan dunia? Ibrahim Bafadal memilih tidak tergesa-gesa mengiyakan. Ia mengatakan bahwa APSSO masih berusia lima tahun, dan masih diselenggarakan di Indonesia, yang merupakan perintis kelahiran APSSO. Ia berharap pada tahun mendatang, APSSO bisa digelar di negara ASEAN lainnya agar bisa lebih mempererat hubungan antarnegara ASEAN. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan begitu sudah bagus di level ASEAN, kita bisa mencoba memprakarsai untuk level yang lebih tinggi, seperti IMC atau kejuaraan internasional Matematika. Karena kejuaraan internasional ini hikmahnya banyak sekali,” tambah Ibrahim Bafadal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara hikmah dari kejuaraan internasional yang disebut Ibrahim Bafadal adalah pertukaran budaya. Misalnya, atlet dari Thailand dengan Indonesia duduk berdampingan pada saat jam makan malam, dan berbincang-bincang. Di antara mereka bisa tercipta komunikasi interaktif yang melahirkan pengetahuan, pemahaman, dan kesadaran akan negara dan bangsa masing-masing berikut kekayaan budayanya, hingga kemudian tercipta keakraban dan sikap saling menghormati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hal ini baru terjadi di tingkat ASEAN saja. Andai ini terjadi di level internasional, tentu akan semakin luas pertukaran budaya yang terjadi, dan itu adalah hal yang sangat bagus. Banyak manfaat yang didapat jika hal itu bisa diwujudkan, bukan hanya sebatas pertandingan olahraga saja,” pungkas Ibrahim Bafadal.* [Adib Minnanurrachim]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Repro: [http://dikdas.kemdiknas.go.id/content/berita/utama/nilai-nilai-2.html]&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2483512749123335218-1083778100508457460?l=adibdata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adibdata.blogspot.com/feeds/1083778100508457460/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2483512749123335218&amp;postID=1083778100508457460' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/1083778100508457460'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/1083778100508457460'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adibdata.blogspot.com/2011/10/nilai-nilai-pendidikan-karakter-dalam.html' title='Nilai-nilai Pendidikan Karakter dalam APSSO'/><author><name>Adib Minanurrachim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15129533338323743129</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-I2gRc1Ay-KI/Trz7pcj6bYI/AAAAAAAAAJM/rpVJ_fN0h8A/s220/wajah%2B%252846%2529.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-uT5w76nAJjQ/TpuvjijgwII/AAAAAAAAAFw/TjzeShy0f0g/s72-c/content-berita-1929.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2483512749123335218.post-7331877564737985301</id><published>2011-10-17T11:24:00.002+07:00</published><updated>2011-10-17T11:28:59.975+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='News'/><title type='text'>APSSO, Blue Print Kegiatan Pendidikan dan Budaya ASEAN</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-NJOKpEi2eSQ/TpuuZS7-VuI/AAAAAAAAAFk/Aa36ygcyzaw/s1600/content-berita-1919.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 140px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-NJOKpEi2eSQ/TpuuZS7-VuI/AAAAAAAAAFk/Aa36ygcyzaw/s200/content-berita-1919.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5664312705951880930" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Yogyakarta (Dikdas): ASEAN Primary School Sport Olympiad (APSSO) merupakan blue print kegiatan pendidikan dan budaya negara-negara yang tergabung dalam Association of Southeast Asian Nations (ASEAN). Demikian butir utama sambutan Prof. Dr. Ibrahim Bafadal, M. Pd., Direktur Pembinaan SD, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar, Kementerian Pendidikan Nasional, pada acara Pembukaan The 5th APSSO yang digelar di Hotel Inna Garuda, Jl Marlioboro, Daerah Istimewa Yogyakarta, Sabtu malam (8/10).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;“APSSO telah menjadi blue print kegiatan ASEAN dalam bidang pendidikan dan kebudayaan,” kata Ibrahim Bafadal, seraya menambahkan bahwa ide kelahiran APSSO tercipta saat memperingati 40 tahun berdirinya ASEAN, pada tahun 2007.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat Ibrahim Bafadal di atas, seiring dengan salah satu tujuan berdirinya ASEAN yang ingin mengembangkan kebudayaan negara-negara anggotanya, selain meningkatkan pertumbuhan ekonomi, kemajuan sosial, dan memajukan perdamaian di tingkat regional. ASEAN berdiri pada 8 Agustus 1967 di Bangkok oleh Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami memutuskan menyelenggarkan APSSO kelima di Kota Yogyakarta, dengan tujuan agar APSSO kelima ini sebagai kegiatan olahraga serta budaya. Keikutsertaan para siswa tidak hanya untuk menjadi juara, tetapi secara tidak langsung akan mendapatkan pengalaman suasana budaya Kota Yogyakarta,” tambah Ibrahim Bafadal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Ibrahim Bafadal, APSSO selalu menjadi salah satu pokok perbincangan setiap ada pertemuan antarnegara anggota ASEAN. Pada tahun 2009, dalam forum Pertemuan Menteri Pendidikan Asia Tenggara ke 32 di Bangkok, Thailand, Indonesia mengangkat APSSO sebagai tema utama pertemuan. Kemudian pada tahun 2010 di Filipina, APSSO menjadi tema terhangat dalam pertemuan antarnegara ASEAN. Dan pada 26 Januari 2011, APSSO juga menjadi salah satu topik pembahasan dalam Pertemuan Menteri Pendidikan ASEAN di Brunei Darussalam. Kehadiran APSSO dalam setiap pertemuan ASEAN ini, adalah bukti bahwa APSSO merupakan kegiatan olahraga siswa sekolah dasar yang menjadi perhatian serius ASEAN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hal ini juga diharapkan dapat meningkatkan semangat bagi para anggota negara ASEAN, untuk menjadi tuan rumah secara bergiliran,” kata Ibrahim Bafadal, yang menghendaki para peserta, pelatih, kepala delegasi, dan juri memperoleh layanan prima dari panitia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada APSSO kelima tahun ini, ada enam negara yg dapat berpartisipasi, yaitu: Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, dan Brunei Darussalam. Sementara Vietnam yg semula menyatakan turut serta, mendadak menggagalkan keikutsertaannya pada detik-detik terakhir menjelang pelaksanaan APSSO.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadir dalam acara pembukaan The 5th APSSO: Direktur Jenderal Pendidikan Dasar Kementerian Pendidikan Nasional (mewakili Menteri Pendidikan Nasional); Deputi Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga, Kementerian Pemuda dan Olahraga (mewakili Menteri Pemuda dan Olahraga); Wakil Gubernur Provinsi D.I.Yogyakarta; Rektor Universitas Negeri Yogyakarta; pejabat Eselon 1 dan 2 di lingkungan Kementerian Pendidikan Nasional; Anggota Muspida Provinsi D.I.Yogyakarta; Ketua Umum KONI pusat; Ketua KONI Provinsi D.I.Yogyakarta; Ketua PB PASI; PB PSSI; PB PERCASI; PB PBSI; PB PTMSI; Delegasi negara-negara ASEAN; Official; Pelatih; Juri; Wasit, dan para siswa sekolah dasar peserta APSSO.* &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;[Adib Minnanurrachim]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Repro: [http://dikdas.kemdiknas.go.id/content/berita/utama/apsso-blue-p-2.html]&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2483512749123335218-7331877564737985301?l=adibdata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adibdata.blogspot.com/feeds/7331877564737985301/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2483512749123335218&amp;postID=7331877564737985301' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/7331877564737985301'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/7331877564737985301'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adibdata.blogspot.com/2011/10/apsso-blue-print-kegiatan-pendidikan.html' title='APSSO, Blue Print Kegiatan Pendidikan dan Budaya ASEAN'/><author><name>Adib Minanurrachim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15129533338323743129</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-I2gRc1Ay-KI/Trz7pcj6bYI/AAAAAAAAAJM/rpVJ_fN0h8A/s220/wajah%2B%252846%2529.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-NJOKpEi2eSQ/TpuuZS7-VuI/AAAAAAAAAFk/Aa36ygcyzaw/s72-c/content-berita-1919.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2483512749123335218.post-5958982228597847584</id><published>2011-07-08T01:29:00.003+07:00</published><updated>2011-07-08T12:11:56.122+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita Pendek'/><title type='text'>Esok Mentari Masih Terbit</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-OwVPlA1Bv6A/ThX9hSos-AI/AAAAAAAAAFA/1maLuxgOhs8/s1600/lain171.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 131px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-OwVPlA1Bv6A/ThX9hSos-AI/AAAAAAAAAFA/1maLuxgOhs8/s200/lain171.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5626682057849370626" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;"KRHOGH…Krhoggh… Krhogggh," terdengar keras dengkuran di pojok kamarku. Tak biasanya Dullah, sobat karibku, mendengkur sekeras malam ini. Dengan tubuh meringkuk memeluk bantal, begitu tentram tidurnya. "Mungkin ia tengah mimpi bersandingkan putri di atas kursi mewah yang beralaskan rupiah," pikirku geli melihat tidurnya yang pulas tiada terkira.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Udara malam ini begitu panas. Sudah 7 bulan lebih musim hujan berlalu, air sungai di belakang kamar kosku menyusut. Entah kenapa hingga bulan Ramadhan tiba, hujan seolah-olah ikut berpuasa. Nyanyian kodok yang biasanya terdengar riang gembira, kini berganti dengan kesedihan yang terbungkus dalam kebisuan. Hanya nyamuk, satu-satunya hewan yang tetap bersemangat berkeliaran dan mendengung-dengungkan nyanyian dari kedua sayap kecilnya di sekitar telingaku. Tak terasa lima ekor telah bergelayutan di beberapa bagian tubuhku. Berkali-kali mereka menyuntik kulit tubuhku, rakus dan haus darah. Plok! timpukku pada salah satu nyamuk. Tapi sial, meleset. “Uh! dasar nyamuk kota, rakus!” keluhku pada mereka yang gesit menghindari serangan lemah tanganku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kusulut satu dari tiga batang rokok 76 hasil ngutang di warung mbok Ijah. “Wuss,” kusemburkan asap penuh racun nikotin itu di sekeliling tubuhku. Lumayan, meski tak seperti baygon, sebagian nyamuk ngacir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan kulirik jam dinding yang tampak cengar-cengir menatap kebuntuan fikiranku. Jam satu pagi. “Huh… aku harus coba menulis sekali lagi,” desahku pelan. Lemah aku beranjak dari tumpukan buku dan beberapa lembar koran harian menuju sebuah meja. “Tinggal seminggu lagi, aku harus dapat uang,” batinku sambil duduk menghadap mesin ketik tuaku. Sementara bayangan Supri, Jalal, Bagio, Safitri datang silih berganti menagih hutang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir-akhir ini akal dan hatiku memang cukup goyah. Pelbagai usaha telah kutempuh, mulai dari ngelamar pekerjaan hingga mencoba menulis di media nasional. Tapi hasilnya kosong. Entah, apakah Tuhan tengah menguji mentalku atau memang nasibku tertulis sial. Jujur saja hal ini berpengaruh pada kondisi jiwa dan kesehatan badanku yang berubah menjadi kurus dan ringkih. “Duh! Gusti Allah, Engkau adalah Dzat Maha Pemurah, semoga Engkau beri kemudahan hambaMu ini dalam mengais rizki,” ratapku dalam  do’a.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asap rokok mengepul pelan nan lebat dari ujung bibir hitamku, menambah suramnya lampu lima watt yang hampir jatuh di atas mesin ketik rentaku. “Tak…tak…tak…” bunyi jeruji-jeruji huruf dari mesin ketik tuaku pada sebuah kertas putih ukuran kwarto. Jari-jemariku bergerak-gerak lincah, menulis huruf demi huruf, merangkai kata-kata, dan membasutnya dengan indahnya sastra hasil belajar empat tahun di Perguruan Tinggi Swasta kala itu. “Yah…demi sebuah bangunan artikel ringan. Semoga usaha yang kesekian kali ini tak sia-sia lagi,” harap kalbuku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-oOo-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“KRINGGGG…..” jerit jam beker yang tergeletak di samping telinga Dullah. Sejenak ia menggeliat, menghentikan mimpi indahnya. Kemudian bangkit dan terduduk lesu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ndro! kamu nggak sahur?” tegur Dullah sambil menggosok kedua kelopak matanya yang ramai dengan kotoran mimpi panjangnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Emangnya udah pukul berapa Dull?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lho, hampir imsak Ndro. Nih lihat jam bekerku kalau nggak percaya!” katanya sambil bangkit duduk berkemul sarung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah, tak terasa hampir setengah empat. Ah… andai saja waktu bisa berhenti sejenak, menanti rampungnya tulisan ini,” desahku kesal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebentar kuhisap dalam-dalam putung rokokku yang hampir habis, kemudian beranjak keluar ke arah pintu seraya berkata kepada Dullah, “kamu basuh muka kotormu dulu Dull, kita sama-sama ke warung Mbok Ijah.” Tanpa menjawab, ia bangkit berdiri dari duduknya, ngeloyor ke jeding.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di warurng mbok ijah, aku hanya minum tiga gelas air putih, dua buah jajan kering dan tak lupa satu batang rokok Djarum 76 kesukaanku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu enggak makan Ndro,” tegur Dullah lembut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Enggak.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa? Kamu bokek? aku ada uang,” kejarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nggak usah Dull! trims, ini aja udah cukup. Bagiku bulan Romadhon kali ini harus dibiasakan ngirit, banyak nahan nafsu biar barokah,” kilahku. Padahal kantongku lagi kempas-kempis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-oOo-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TEPAT pukul setengah sepuluh pagi, aku telah rampungkan tulisanku. Sejenak aku terdiam dalam editing. Setelah kuyakin tiada hal lagi yang penting, baru kemudian aku beranjak ke jeding. Sengaja aku hanya membasuh mukaku dengan sedikit air. Aku tak mandi sebab air cukup sedikit. Maklum, air di kota seperti Surabaya ini tak gratis lagi. Beberapa lembar rupiah harus melayang dari kantong bila ingin puas mandi. Tapi kesegaran mandi itu pun terasa percuma, karena sengatan-sengatan panasnya kota cepat merubahnya dengan peluh-peluh keringat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang benar-benar kelewat. Saat ini bukan hanya BBM yang naik, air pun ikut-ikutan iri hati dan meloncat bertengger bersama BBM. “Hualah, emboh wiss!” umpatku dalam hati memikirkankan keberadaan negeri tercinta ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat setengah sebelas, aku berangkat ke kantor pos di pusat kota. Dengan bekal sepuluh ribu rupiah, aku kirimkan lima buah tulisan yang kurampungkan selama lima minggu di lima media negeri ini. “Yah mudah-mudahan ada yang dilirik,” harapku di tengah terik matahari kota Surabaya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seusai kukirimkan lima tulisan itu, bersama panas—sahabat alamku—aku berjalan pulang ke kosku yang berjarak sekira 3 Km dari kantor Pos. Diiringi tetes-tetes peluh yang mengelilingi dahi dan sebagaian tubuh kurusku, lamat-lamat alam bawah sadarku berdiri menggantikan keteguhan alam nyata. Cukup jelas tergambar keluh-kesah Emakku waktu aku pulang kampung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ndro… kapan kamu dapat kerja? Emak udah nggak mampu lagi nyari uang. Coba kamu usaha dikit-dikit, sudah sarjana kok masih nganggur! Apa nggak malu dengan gelarmu?!” tegur Emmakku sewot menyaksikan anak sulungnya yang nasibnya masih menggelantung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sabar dikit kenapa sih Mak, saya kan lagi usaha nulis. Entar kalo jebol di media dan terkenal, nggak bakalan nyusahin Emak lagi,” jawabku yakin di tengah kelesuan jiwa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jebal-jebol…udah berapa kali kamu janji, tapi nyatanya masih aja nganggur!” ketus Emakku. Sepi, tiada kata keluar dari bibir hitamku. Aku hanya bisa tersenyum kecut dengan kepala menunduk. Memang, aku sadar bahwa aku selalu gagal. Tiga tahun selepas dari PTS, tak satu pun dari tulisanku yang berkenan di hati media-media cetak di negeri ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngelamar pekerjaan? Waduh! nggak usah dibahas. Sudah sepuluh kali lebih aku meminang, tapi sepuluh kali lebih tolakan pula jawabanya. Entah, apakah memang karena indeks prestasiku (IP) yang kurang memuaskan? Atau bekerja itu harus lebih dulu nyiapin segepok uang untuk nyogok? Weleh! kalau yang terakhir ini, jelas aku nggak sudi. Bukan karena nggak mampu. Aku bisa kumpulkan segepok rupiah yang pernah disyaratkan beberapa instansi pemerintah dan swasta padaku. Tapi apalah arti semua itu? Bukankah itu nabrak hati nuraniku dan mencampakkan imanku? Tidak! Aku tak akan melakukan hal itu dan tidak akan pernah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagiku, mendapat pekerjaan itu tak harus dengan segala cara. Ada prosedurnya sendiri dan harus dengan jiwa yang jantan. Lebih-lebih, aku tak akan merasa percuma belajar empat tahun di PTS jika aku mendapatkan pekerjaan tanpa melalui suap, melainkan dengan melihat kualitas ilmu dan kompetensiku dalam bidang pekerjaan tertentu. Meski IP-ku tak memuaskan bukan berarti aku lebih bodoh dari mahasiswa yang meraih cum laude. Sebab IP hanyalah formalitas. Bukan subtansi. Lagi pula, bukankah IP itu bisa dikompromikan? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Duk!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Auww!” jeritku terkejut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak kusadari dahiku telah membentur tiang listrik yang berdiri congkak di tengah trotoar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangkrik! Tiang jelek pembawa sial,” umpatku kesakitan sambil mengelus-elus dahiku yang memar akibat benturan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Duhh… kasihan. Melamun ya mas?” tegur seorang gadis yang kebetulan berada di belakangku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah! E…e..enggak. Hanya karena batu sialan saja aku tersandung,” kilahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis itu hanya tersenyum sambil berlalu. Sementara aku tertegun. Seolah tak percaya melihat wajahnya, senyum manisnya dan resam tubuhnya. Kenapa ia sedemikian manis dan sedemikian persis dengan mendiang kekasihku, Yuanita Sastrawati?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedetik tergerak hatiku untuk memanggilnya, mengejarnya. Tapi, augh! Dahiku terasa sakit dan sedikit pening. Akhirnya dengan amat berat aku tepiskan niat tersebut. Lagi pula tak mungkin Yuanita hidup kembali. Ia sudah tiada. Mustahil ia kembali ke alam nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, berat aku langkahkan kakiku membelok ke kiri, bergegas pulang ke rumah bu Cokro, ibu kosku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-oOo-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PUKUL tiga sore, aku telah sampai di rumah bu Cokro, pemilik rumah kos. Seusai terucap salam dari mulutku dan dijawab si Upik, anak bu Cokro, aku langsung ngeloyor ke kamarku. Dullah tak terlihat batang hidungnya. Padahal siang begini ia biasa duduk-duduk di teras sambil menggoda si Upik. Tapi aku tak risaukannya siang itu. Selain dirundung rasa lelah dan sakit di dahiku, mataku terasa berat sekali. Aku belum tidur sejak tadi malam hingga siang ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak kuasa menahan cuaca yang panas, segera kulepas baju berlengan panjang yang menempel di tubuhku dan mengambil handuk kecil di almari dan kemudian menuangkan sisa air hangat dari tremos sisa tadi malam di atasnya. Sejenak hatiku lega merasakan hangatnya handuk yang aku letakkan di atas dahiku. Kemudian, bersama kondisi perut yang kempis karena berpuasa dan ditambah rasa lelah yang tiada tara, perlahan kurebahkan tubuhku di atas kasur yang terhampar di lantai kamar. Oh…begitu leganya hatiku dapat berbaring siang ini, melepas lelah dan mengikuti tuntutan mataku yang sayu menahan kantuk. Diiringi hembusan angin yang meniup pelan dari baling-baling kipas kecil yang ada di samping tubuhku, rasa lelah dan penat tubuhku berangusur-angsur hilang. Tapi ketika seluruh panca inderaku hampir sepakat untuk istirahat, sayup-sayup kudengar lagu Iwan Fals dari kamar sebelah,… Engkau sarjana muda, resah tak dapat kerja, tak berguna ijazahmu // Empat tahun lamanya bergelut dengan buku, sia-sia semuanya // Setengah putus asa, dia berucap, “ma’af Ibu…” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya tersenyum. Biarlah Iwan bernyanyi demikian. Tapi jelas batinku berkata yakin, bahwa akan ada perubahan; entah esok, lusa, bulan depan, tahun depan atau bahkan menjelang kematiaanku. Perjuangan dan usahaku untuk memperbaiki keadaan musti berlanjut, kendati harus berpeluh dan berdarah-darah. “Huaahhh….letih benar jiwa dan raga ini. Bismillah, izinkan hambaMu istirahat,” do’aku menjelang tidur.*&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adib Minnanurrachim&lt;br /&gt;Nurul Jadid, 03/07/2001&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2483512749123335218-5958982228597847584?l=adibdata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adibdata.blogspot.com/feeds/5958982228597847584/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2483512749123335218&amp;postID=5958982228597847584' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/5958982228597847584'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/5958982228597847584'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adibdata.blogspot.com/2011/07/esok-mentari-masih-terbit.html' title='Esok Mentari Masih Terbit'/><author><name>Adib Minanurrachim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15129533338323743129</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-I2gRc1Ay-KI/Trz7pcj6bYI/AAAAAAAAAJM/rpVJ_fN0h8A/s220/wajah%2B%252846%2529.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-OwVPlA1Bv6A/ThX9hSos-AI/AAAAAAAAAFA/1maLuxgOhs8/s72-c/lain171.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2483512749123335218.post-5611108307576307570</id><published>2011-07-02T08:05:00.008+07:00</published><updated>2011-07-02T13:53:03.845+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lirik Lagu Iwan Fals'/><title type='text'>LAGU SATU   [ H. I. D. U. P. ]</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-m-c7pIgeggM/Tg50IxTQ_hI/AAAAAAAAAE4/NWPKEbrTL8M/s1600/12940_1149088770281_1319453975_30396690_4957933_n.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 190px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-m-c7pIgeggM/Tg50IxTQ_hI/AAAAAAAAAE4/NWPKEbrTL8M/s200/12940_1149088770281_1319453975_30396690_4957933_n.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5624560678654246418" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Oleh; Iwan Fals&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalani hidup&lt;br /&gt;Tenang tenang tenanglah seperti karang&lt;br /&gt;Sebab persoalan bagai gelombang&lt;br /&gt;Tenanglang tenang tenanglah sayang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tek pernah malas&lt;br /&gt;Persoalan yang datang hantam kita&lt;br /&gt;Dan kita tak mungkin untuk menghindar&lt;br /&gt;Semuanya sudah suratan&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Oh matahari&lt;br /&gt;Masih setia&lt;br /&gt;Menyinari rumah kita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak kan berhenti&lt;br /&gt;Tak kan berhenti&lt;br /&gt;Menghangati hati kita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai tanah ini inginkan kita kembali&lt;br /&gt;Sampai kejenuhan mampu merobek robek hati ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebentar saja&lt;br /&gt;Aku pergi meninggalkan&lt;br /&gt;Membelah langit punguti bintang&lt;br /&gt;Untuk kita jadikan hiasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tenang tenang tenanglah sayang&lt;br /&gt;Semuanya sudah suratan&lt;br /&gt;Tenang tenang seperti karang&lt;br /&gt;Bintang bintang jadikan hiasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berlomba kita dengan sang waktu&lt;br /&gt;Jenuhkah kita jawab sang waktu&lt;br /&gt;Bangkitlah kita tunggu sang waktu&lt;br /&gt;Tenanglah kita menjawab waktu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti karang&lt;br /&gt;Tenanglah&lt;br /&gt;Seperti karang&lt;br /&gt;Tenanglah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[ &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Lagu yang bercerita tentang bagaimana menjalani hidup, dan menghadapi kehidupan. &lt;/span&gt;]&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2483512749123335218-5611108307576307570?l=adibdata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adibdata.blogspot.com/feeds/5611108307576307570/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2483512749123335218&amp;postID=5611108307576307570' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/5611108307576307570'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/5611108307576307570'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adibdata.blogspot.com/2011/07/lagu-satu-h-i-d-u-p.html' title='LAGU SATU   [ H. I. D. U. P. ]'/><author><name>Adib Minanurrachim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15129533338323743129</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-I2gRc1Ay-KI/Trz7pcj6bYI/AAAAAAAAAJM/rpVJ_fN0h8A/s220/wajah%2B%252846%2529.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-m-c7pIgeggM/Tg50IxTQ_hI/AAAAAAAAAE4/NWPKEbrTL8M/s72-c/12940_1149088770281_1319453975_30396690_4957933_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2483512749123335218.post-7774763037843762971</id><published>2011-05-06T09:24:00.000+07:00</published><updated>2011-05-06T09:39:29.549+07:00</updated><title type='text'>Tanyaku Sepanjang Batanghari</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-CRSvDQzz_sQ/TcNfUbwRNyI/AAAAAAAAAD4/gBXqKhplmrc/s1600/adibA.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 178px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-CRSvDQzz_sQ/TcNfUbwRNyI/AAAAAAAAAD4/gBXqKhplmrc/s320/adibA.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5603427166031263522" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tanyaku memang menyusuri aliran sungai Batanghari, &lt;br /&gt;yang sunyi dan sepi.&lt;br /&gt;Sesekali singgah di surau pinggiran sungai,&lt;br /&gt;mengambil jeda, mereda letih.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dan lihatlah, sebaris pertanyaan itu berantakan sekarang.&lt;br /&gt;Entah kenapa. Ah, bukan entah. Ia memang lelah.&lt;br /&gt;Perjalanan yang ia tempuh terlalu jauh.&lt;br /&gt;Wajar bila sekarang ia renggangkan ikat pinggang, mengurai huruf demi huruf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;O..., &lt;br /&gt;Ternyata ada banyak noda di sekujur huruf-hurufnya.&lt;br /&gt;Bagaimana ini? Tentu kau merasa jijik, bukan?&lt;br /&gt;Menjauhlah. Tak baik untuk kulitmu yang putih pualam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sebelum kembali berjajar, biarkan huruf-huruf itu mandi besar.&lt;br /&gt;Agar kembali segar saat menjadi sebaris pertanyaan.&lt;br /&gt;Dan kuharap kau tetap di tepi,&lt;br /&gt;di tempat semula yang telah kau tentukan sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di surau pinggir Batanghari ini, sesaat saja,&lt;br /&gt;biarkan tanyaku bermunajat.&lt;br /&gt;Kepada Tuhan, yang mungkin memberi bekal menuju samudera.&lt;br /&gt;Dan setelah ini, tak perlu aku mencarimu lagi, bukan…?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10.09 PM; 04052011&lt;br /&gt;Pamulang, Tangerang Selatan&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2483512749123335218-7774763037843762971?l=adibdata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adibdata.blogspot.com/feeds/7774763037843762971/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2483512749123335218&amp;postID=7774763037843762971' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/7774763037843762971'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/7774763037843762971'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adibdata.blogspot.com/2011/05/tanyaku-sepanjang-batanghari.html' title='Tanyaku Sepanjang Batanghari'/><author><name>Adib Minanurrachim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15129533338323743129</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-I2gRc1Ay-KI/Trz7pcj6bYI/AAAAAAAAAJM/rpVJ_fN0h8A/s220/wajah%2B%252846%2529.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-CRSvDQzz_sQ/TcNfUbwRNyI/AAAAAAAAAD4/gBXqKhplmrc/s72-c/adibA.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2483512749123335218.post-167983481970673883</id><published>2011-02-21T17:02:00.000+07:00</published><updated>2011-02-21T17:13:56.604+07:00</updated><title type='text'>Asvi Menggapai Kebenaran Sejarah</title><content type='html'>Hari-hari akhir bulan September menjadi istimewa bagi Asvi Warman Adam (55). Obsesinya menguak kebenaran sejarah, di antaranya tentang Peristiwa 1965, lagi-lagi memperoleh momentum. Dia ajak pemerintah, sesama sejarawan, dan masyarakat berpikir ulang tentang narasi-narasi masa lampau, utamanya tragedi 1965.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai kemungkinan pelanggaran berat HAM, sekitar Peristiwa 1965, menurut ahli peneliti utama LIPI itu, peristiwa Pulau Buru sebagai peristiwa paling jelas. Tempatnya jelas, tahun terjadinya jelas, pelakunya jelas, serta korban dan jumlahnya jelas. Dengan tujuan mengamankan Pemilu 1971, lebih dari 10.000 orang yang digolongkan tahanan politik 1965 golongan B dimasukkan ke kamp kerja paksa lebih dari 10 tahun. Stigma buruk diterapkan kepada mereka, selain pembunuhan, penangkapan tanpa proses dan pengadilan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kasus Pulau Buru merupakan mata rantai peristiwa sekitar 30 September 1965. Selama bertahun-tahun narasi tentang peristiwa itu hanya satu versi, yakni versi Orde Baru, bagian dari upaya justifikasi kekuasaan dan pengumpulan kekuatan. Justifikasi itu diawali dengan pembunuhan besar-besaran setelah 1 Oktober, ada yang memperkirakan jumlahnya lebih dari setengah juta orang. Penciptaan narasi tunggal disusul proyek Pulau Buru. Gugatan yang muncul dibungkam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring deru reformasi tahun 1998, masyarakat mulai kritis dengan narasi dan pencitraan versi tunggal. Film Pengkhianatan G30S/PKI yang diputar luas setiap akhir bulan September digugat. Menurut dia, tidak lagi diputarnya film itu secara luas merupakan satu keberhasilan. ”Inilah pertama kali terbuka munculnya upaya meluruskan sejarah Peristiwa 1965. Disusul kemudian berbagai versi yang ditulis para korban dan analis-analis yang sebelumnya tidak terkuak ke permukaan,” kata Asvi Warman Adam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asvi mengutip sejarawan Inggris, EH Caar, bahwa kebenaran sejarah gugur manakala ditemukan data baru. Munculnya narasi-narasi baru itu adalah bagian dari ajakan menemukan dan meluruskan. Keputusan politik, katakan ketetapan MPR, adalah produk politik bagian dari justifikasi kekuasaan. Oleh karena itu, ketika data baru semakin banyak ditemukan, versi tunggal perlu ditinjau ulang, kalau perlu, ditindaklanjuti dengan rehabilitasi nama baik dan permintaan maaf dari pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sampel yang representatif&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi pelurusan sejarah dan hapusnya pembohongan, Asvi tidak hanya memimpikan sekitar Peristiwa 1965 atau peristiwa lain, seperti Peristiwa Mei 1998, tetapi bahkan sejak awal Indonesia merdeka. Tidak perlu semuanya, tetapi dipilih peristiwa dan masalah sebagai sampel yang representatif. Misalnya, kurun 1945-1955, 1955-1965, dan seterusnya, sehingga diperoleh sekitar 10 kasus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asvi setuju bahwa demi alasan politis ada bagian-bagian peristiwa yang ditutupi, tergantung dari perspektif masing-masing. Namun, kalau narasi itu adalah kebohongan, itu perlu dibongkar. Taruhlah kisah tentang Serangan Oemoem 1 Maret dengan cara menghilangkan peran tokoh lain. Itu kebohongan sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal ketertarikannya ke sejarah Peristiwa 1965 dimulai pada satu peristiwa pada tahun 1999. Dia diminta ceramah oleh Yayasan Hidup Baru, sebuah yayasan yang mengurusi bekas tahanan politik 1965. ”Saya terharu atas semangat juang mereka. Saya terharu ketika mereka, bapak-ibu berusia sepuh itu, mengumpulkan uang recehan. Hasilnya sekitar Rp 25.000, diserahkan sebagai honorarium ceramah saya,” kenang Asvi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan ketekunan, dia ikuti dan teliti segala narasi Peristiwa 1965 yang berkembang selama ini. Dia sampaikan obsesi itu dalam berbagai tulisan dan karangan pengantar buku, yang semuanya berfokus ajakan menguak kebohongan sejarah, utamanya sekitar Peristiwa 1965.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari tujuh buku yang sudah ditulisnya, menulis Peristiwa 1965 tidak hanya berkenaan dengan peristiwa satu malam tanggal 30 September, tetapi juga penangkapan, penahanan, perburuan massal yang memakan korban lebih dari setengah juta orang, pencabutan paspor mahasiswa Indonesia di luar negeri, serta pembuangan paksa 10.000 tapol ke Pulau Buru tahun 1969-1979. Hal itu termasuk stigma dan diskriminasi jutaan orang keluarga korban Peristiwa 1965. Peristiwa-peristiwa itu disebutnya ”pancalogi”, sebagai rangkaian prolog, peristiwa, dan epilog G30S (Asvi Warman Adam, 1965. Orang-orang di Balik Tragedi, Galangpress, 2009).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Asvi, Peristiwa 1965 merupakan tanda atau pembatas zaman. Dari banyak peristiwa sejarah yang dialami bangsa Indonesia, Peristiwa 1965 merupakan pembatas zaman dalam berbagai bidang. Perubahan politik yang besar terjadi dalam bergesernya kedudukan Indonesia dari pemimpin negara nonblok dan dunia ketiga menjadi ”murid yang baik” AS. Kebijakan ekonomi berdikari menjadi kebijakan ekonomi pasar yang bergantung pada modal asing. Tidak ada kritik, tidak ada polemik, semua dalam satu versi, yakni versi pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peralihan dari profesi wartawan (3 tahun sebagai wartawan) ke peneliti/sejarawan tidak kecil peranan yang diberikan Prof Dr AB Lapian. Dalam status belum setahun bekerja di LIPI, setelah keluar dari majalah Sportif tahun 1983, Asvi memperoleh tawaran mengajar Bahasa Indonesia di Paris, Perancis, sekaligus beasiswa. Dia perlu memperoleh rekomendasi pimpinan LIPI. Lapian bertanya, ”Rekomendasi saya tulis dalam bahasa Inggris, Perancis, atau Indonesia?” Akhirnya rekomendasi ditulis dalam bahasa Indonesia, menerakan bahwa Asvi boleh ke Paris mengajar sekaligus belajar. ”Nah, itulah titik balik profesi saya,” Gelar doktor ilmu sejarah pun diperolehnya dengan disertasi tentang sejarah Vietnam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di benak Asvi, dia memimpikan narasi sejarah dibebaskan dari kebohongan-kebohongan. Biarlah peristiwa itu sendiri bicara tentang sejarahnya! Menggapai kebenaran sejarah? Yaaah..., Asvi tertawa lepas!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BIODATA&lt;br /&gt;a. Nama: Asvi Warman Adam &lt;br /&gt;b. Lahir: Bukittinggi, 8 Oktober 1954 &lt;br /&gt;c. Istri: Nuzli Hayati (52) &lt;br /&gt;d. Anak: Tessi Fathia Adam (23) &lt;br /&gt;e. Pekerjaan: Ahli Peneliti Utama Pusat Penelitian Politik LIPI &lt;br /&gt;f. Pendidikan: Doktor sejarah dari Ecole des Hautes Etudes en Sciences Sosiales, Paris (1990) &lt;br /&gt;g. Karier: Aktif berceramah, menulis artikel tentang rekayasa Orde Baru dan historiografi &lt;br /&gt;h. Indonesia dari perspektif korban, dan menulis setidaknya tujuh buku tentang sejarah kontemporer, terakhir (”Sarwono Prawirohardjo. Pembangun Institusi Ilmu Pengetahuan di Indonesia”, LIPI, 2009)&lt;br /&gt;i. Mantan anggota tim Pengkaji Pelanggaran HAM Berat Soeharto yang dibentuk Komnas HAM tahun 2003&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Repro: http://edukasi.kompas.com/ (Kamis, 1 Oktober 2009 | 01:51 WIB)&lt;br /&gt;Oleh: ST Sularto&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2483512749123335218-167983481970673883?l=adibdata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adibdata.blogspot.com/feeds/167983481970673883/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2483512749123335218&amp;postID=167983481970673883' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/167983481970673883'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/167983481970673883'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adibdata.blogspot.com/2011/02/asvi-menggapai-kebenaran-sejarah.html' title='Asvi Menggapai Kebenaran Sejarah'/><author><name>Adib Minanurrachim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15129533338323743129</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-I2gRc1Ay-KI/Trz7pcj6bYI/AAAAAAAAAJM/rpVJ_fN0h8A/s220/wajah%2B%252846%2529.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2483512749123335218.post-383433212838409561</id><published>2011-02-06T15:45:00.000+07:00</published><updated>2011-02-06T15:52:10.106+07:00</updated><title type='text'>Tak Usah Risau, Bayang-bayang Pasti Datang!</title><content type='html'>bayang-bayang itu, makin menjauh saja&lt;br /&gt;tapi biarlah. tiada ingin aku mengejarnya &lt;br /&gt;sebab waktu sudah senja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan bila malam tiba, &lt;br /&gt;aku tidak akan lari darinya&lt;br /&gt;justru aku akan tenggelam dalam pekatnya malam&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;kesendirian dan kesunyiaan adalah kondisi dasar jiwa manusia&lt;br /&gt;atau sebuah rumah&lt;br /&gt;tempat istirahat jiwaku yang haus anugerah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan bila pagi memaksa mentari menyinari bumi&lt;br /&gt;jadikan bunga-bunga merona tiada henti&lt;br /&gt;aku pun masih teguh pendirian di sini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;maksudku sudah tersampaikan &lt;br /&gt;pada bayang-bayang &lt;br /&gt;yang mirip gelombang menghempas tiada henti dari air yang dangkal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;biarlah pagi alami jenuh dan berganti siang hari&lt;br /&gt;saat itu, bayang-bayang pasti datang sendiri&lt;br /&gt;tawarkan diri, tanpa peduli siapa aku ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu Senja di Jakarta&lt;br /&gt;Ciputat, Minggu 06 Februari 2011&lt;br /&gt;Adib Minnanurrachim&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2483512749123335218-383433212838409561?l=adibdata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adibdata.blogspot.com/feeds/383433212838409561/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2483512749123335218&amp;postID=383433212838409561' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/383433212838409561'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/383433212838409561'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adibdata.blogspot.com/2011/02/tak-usah-risau-bayang-bayang-pasti.html' title='Tak Usah Risau, Bayang-bayang Pasti Datang!'/><author><name>Adib Minanurrachim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15129533338323743129</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-I2gRc1Ay-KI/Trz7pcj6bYI/AAAAAAAAAJM/rpVJ_fN0h8A/s220/wajah%2B%252846%2529.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2483512749123335218.post-9047219881795917077</id><published>2010-11-06T18:30:00.001+07:00</published><updated>2011-05-09T17:49:53.961+07:00</updated><title type='text'>Entah, Mungkin Judulnya</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;untuk yang terdiam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;seperti yang sudah-sudah&lt;br /&gt;tiap senja menyapa, yang terdiam senantiasa turut serta&lt;br /&gt;berlayar di samudera gelisah,&lt;br /&gt;berlabuh di dermaga resah.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;ketika senja lelap, &lt;br /&gt;ia mendaki malam&lt;br /&gt;punguti bintang, &lt;br /&gt;jadikan hiasan di rambutnya yang berkerudung rembulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan seperti biasa, &lt;br /&gt;aku hanya menatap wajahnya yang tak bergoyang&lt;br /&gt;dan kemudian menuliskan satu kalimat, &lt;br /&gt;“sayang, kenapa kau terdiam?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hanya matanya yang nyala menghujam&lt;br /&gt;tepat di hati yang tak bisa mengelak&lt;br /&gt;tentang pertanyaan&lt;br /&gt;yang enggan ia utarakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;baiklah,&lt;br /&gt;sederhana saja &lt;br /&gt;dalam hatiku ada hormat &lt;br /&gt;untukmu, perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi sudahlah,&lt;br /&gt;diamlah bila ternyata itu adanya&lt;br /&gt;untuk menilai dan mengambil kesimpulan&lt;br /&gt;atau bila ternyata enggan, bahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;percayalah,&lt;br /&gt;aku tak mempedulikannya&lt;br /&gt;toh aku sendiri tak bisa menebak,&lt;br /&gt;yang senantiasa tak bisa ditebak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;suatu senja di Jakarta&lt;br /&gt;Sabtu, 06/07/2010&lt;br /&gt;Adib Minnanurrachim&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2483512749123335218-9047219881795917077?l=adibdata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adibdata.blogspot.com/feeds/9047219881795917077/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2483512749123335218&amp;postID=9047219881795917077' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/9047219881795917077'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/9047219881795917077'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adibdata.blogspot.com/2010/11/entah-mungkin-judulnya.html' title='Entah, Mungkin Judulnya'/><author><name>Adib Minanurrachim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15129533338323743129</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-I2gRc1Ay-KI/Trz7pcj6bYI/AAAAAAAAAJM/rpVJ_fN0h8A/s220/wajah%2B%252846%2529.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2483512749123335218.post-6482011937072151417</id><published>2009-05-25T12:39:00.000+07:00</published><updated>2009-05-25T12:51:20.097+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='LAPORAN'/><title type='text'>TAPAK PERJUANGAN KIAI ABDUL HAQ ZAINI ITU MENDADAK TERHENTI</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Duka itu tiba mendadak saat perjuangan terasa panjang...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MALAM pukul 24.37 WIB, terdengar jeritan histeris dari kediaman KH Abd Haq Zaini. Abdul Hafidz, santri Nurul Jadid sekaligus hadam (pembantu) keluarga Kiai Abdul Haq, malam itu menangis tersedu-sedu sambil menggoyang-goyangkan sesosok tubuh berbaju koko warna merah hati yang tergeletak di lantai rumah. Sementara Saili, kawan Hafidz, hanya bisa terdiam sambil meneruskan pijatannya pada dada pria tersebut. Begitu pula seorang santri lainnya yang terus memijat-mijat kaki pria tersebut.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Mendengar jeritan Hafidz, Ny Hj Nuri Firdausiyah, istri Kiai Abdul Haq yang tengah terlelap seketika terjaga dan langsung menemui Hafidz. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa tidak dibawa ke dokter,” tegur Nyai Fir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Beliau menolak, Nyai,” jawab Hafidz panik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tolong panggil Kiai Zuhri dan Faiz,” kata Nyai Fir pada Hafidz sambil duduk dan memijat-mijat tubuh pria yang tergelatak di depannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa menit kemudian, KH Moh Zuhri Zaini, Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid datang. Beliau langsung duduk dan mulai memijat dada pria tersebut sambil berdoa. Detik demi detik berjalan. Menit demi menit pun berlalu. Namun tiada reaksi dari tubuh pria tersebut. Saat Kiai Zuhri memeriksa detak jantung pria yang tergelatak dengan wajah tenang itu, seketika wajah Kiai Zuri berubah duka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Inna lillahi wa inna ilaihi rajiuun,” kata Kiai Zuhri pelan, diiringi hujan air mata seluruh orang yang mengelilingi pria yang tak lain adalah KH. Abd haq Zaini, Lc., Ketua Yayasan Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton Probolinggo. Beliau wafat tepat pukul 12.55 WIB, Senin 18 Mei 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KIAI Abd Haq Zaini adalah putra ke enam dari pasangan KH Zaini Mun’im dan Nyai Hj Nafi’ah asal Madura. Beliau memiliki lima orang kakak, yaitu KH Moh Hasyim Zaini, KH Abdul Wahid Zaini, Ny Hj Aisyah, KH Fadlurrahman, KH Moh Zuhri Zaini, dan memiliki seorang adik laki-laki bernama KH Nur Chotim Zaini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semasa hidupnya, Kiai Abd Haq adalah sosok pria yang sehat dan senang olah raga. Hampir setiap hari selepas subuh, beliau bersama istri tercinta senantiasa menyempatkan diri berolahraga ringan. Berjalan-jalan menghirup segarnya embun pagi di sekitar pesantren Nurul Jadid, sambil menyapa para petani yang mencangkul sawah di pinggiran pesantren.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Beliau sakit keras hingga opname hanya sekali, sekitar satu bulan lalu di rumah sakit Graha Sehat Kraksaan, Probolinggo. Itu pun sekedar sakit tipus karena kecapekan,” kata Faiz Ahz, putra sulung Kiai Abd Haq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Faiz, semasa hidup, ayahandanya hanya punya penyakit diabetes. “Beliau tidak punya penyakit jantung dan sesak nafas. Beliau wafat tidak dalam kondisi sakit,” lanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat Faiz itu dibenarkan Abdul Hafidz. Menurut hadam Kiai Abdul Haq ini, sore hari sebelum duka menyapa, kondisi Kiai Abdul Haq nampak sehat. Setelah sholat isya’, Hafidz yang saat itu badannya kurang sehat diajak Kiai Abdul Haq untuk menghadiri undangan pengajian di dua tempat. Pertama, di daerah sekitar Kabupaten Situbondo. Kedua, menghadiri Haul Habib Jakfar bin Syech Abu Bakar di Pajarakan, Probolinggo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai menghadiri dua acara tersebut, Kiai Abdul Haq bergegas pulang. Tiba di tengah perjalanan, beliau mengeluh kepada Hafidz.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Badan saya kok tidak enak, Fidz,” keluh Kiai Abd Haq&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa, Kiai,” tanya Hafid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Entahlah,” jawab Kiai, yang saat itu pula muntah dengan erangan yang keras. Melihatnya Hafidz panik. Namun Kiai Abdul Haq malah menyarankan agar Hafidz tenang. Dengan senyum berat, beliau menyarankan agar Hafidz bisa segera menuju kediaman beliau. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu Hafidz punya rencana untuk langsung ke rumah sakit. Namun Kiai Abd Haq memaksa untuk segera tiba di rumah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang tiba di rumah, Kiai Abd Haq muntah untuk kedua kalinya. Kedua belah tangannya menjadi dingin. Hafidz pun makin panik. Namun sekali lagi Kiai Abdul Haq mengatakan agar Hafidz tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Demikianlah... duka ini benar-benar mendadak,” kata Hafidz berkaca-kaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KH Abdul Haq Zaini, lahir pada tanggal 5 Mei 1953 di Tanjung, Paiton Probolinggo. Ra (Gus) Abdul Haq kecil lahir dalam keadaan tidak normal. “Tubuhnya terbungkus semacam kulit tipis,” kata Ratib (61) santri senior Pondok Pesantren Nurul Jadid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat keganjilan tersebut, lanjut Ratib, ayahandanya berdoa kepada Allah agar bayi Ra Abdul Haq bisa tumbuh normal. Seiring doa ayahandanya, akhirnya telinga Ra Abdul Haq kecil mulai keluar dari kulit yang membungkus seluruh tubuhnya. Kemudian perlahan-lahan menjadi normal sebagaimana layaknya anak kecil lainnya. “Hanya saja, di ujung bagian telinga kanannya berlubang,” kata Ratib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak kecil, Ra Abdul Haq senang olah raga. Salah satunya adalah pencak silat. Saat itu beliau berniat berguru kepada ayahandanya. Namun karena tingginya tingkat kesibukan ayahandanya, ia dianjurkan untuk berguru pada orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain gemar olah raga, saat remaja Ra Abdul Haq dikenal sebagai pemuda yang sangat pandai bergaul dengan orang lain. “Ia paling mudah akrab dengan para santri, dan tidak membeda-bedakannya,” kata Ratib yang pernah menjadi guru Ra Abdul Haq di Madrasah Aliyah Nurul Jadid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pendidikan, Ra Abdul Haq acapkali tidak masuk sekolah. Beliau lebih senang bermain bersama kawan-kawannya. Namun demikian, nilai ujiannya di sekolah senantiasa baik mulai dari MI, MTs hingga MA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain dikenal cerdas, Ra Abdul Haq juga dikenal sebagai anak yang memiliki budi pekerti yang baik. “Beliau selalu memperhatikan materi yang diberikan guru dengan seksama. Beliau juga selalu hormat kepada guru-gurunya,” kata Ratib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatian terhadap Akhlak tersebut senantiasa Ra Abdul Haq jaga hingga menjadi Ketua Yayasan Pondok Pesantren Nurul Jadid. Di balik wajah beliau yang keras, bibir beliau senantiasa mengembang tulus bila bertemu dengan para santri, dan juga orang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebiasaan bermurah hati kepada orang lain itu, terinspirasi dari kakak kandung beliau, KH Moh Hasyim Zaini. Menurut almarhum Kiai Hasyim bersikap murah hati kepada setiap orang adalah bagian dari latihan kesabaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Setinggi apa pun kitab (ilmu) seseorang, ujungnya adalah tingkah laku,” pesan Kiai Abdul Haq kepada Hafidz, dua hari sebelum beliau wafat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PADA tahun 1986, Kiai Abdul Haq terpilih menjadi Kepala Biro Kepesantrenan Nurul Jadid. Menurut Faizin Syamweil, sebagai Kepala Biro Kepesantrenan beliau lebih senang menempatkan diri sebagai mitra kerja dengan para pengurus pesantren dari pada sebagai salah satu dari jajaran pengasuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap Kiai Abdul Haq itu membawa angin segar dalam tubuh biro kepesantrenan. Roda organisasi berjalan dinamis. Para pengurus menjadi lebih leluasa berdiskusi dengan pemimpinnya, dan mereka menjadi lebih bersemangat dalam bekerja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hanya saja, gaya kiai yang leluasa itu tak jarang menjadikan kawan-kawan terjebak dan kebablasan menganggap Kiai Abdul Haq sebagai kawan,” kenang Faizin, kepala Biro Kepesantren Pondok Pesantren Nurul Jadid. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, lanjut Faizin, Kiai Abdul Haq merasa senang. Karena tujuan beliau bersikap demikian adalah agar para pengurus bisa berterus terang saat menyampaikan sesuatu kepada beliau. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski Kiai Abdul Haq dikenal akrab dengan para pengurus pesantren, namun pada saat tertentu di mana beliau dituntut untuk menjadi salah seorang dari jajaran pengasuh, maka beliau pun menjadi sosok kiai yang sangat disegani oleh para pengurus pesantren.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai Kepala Biro Kepesantrenan, Kiai Abdul Haq tak jemu-jemu melakukan kaderisasi kepada para pengurus biro kepesantrenan. Misalkan, bila muncul persoalan di antara santri, beliau tak langsung menanganinya. Biasanya persoalan itu diberikan terlebih dahulu kepada pengurus. Ini beliau lakukan, selain untuk menjalankan job discription masing-masing bagian dalam biro kepesantrenan, juga untuk melihat sejauh mana kemampuan para pengurus pesantren bisa meredakan pelbagai persoalan yang muncul di antara santri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih jauh, sebagai seorang Kepala Biro Kepesantrenan, tak jarang beliau terjun langsung di lapangan. Misalkan saat menerima laporan bahwa debit air yang mengaliri kamar mandi para santri menurun, Kiai Abdul Haq segera melakukan cek kebenaran laporan tersebut. Setelah mengetahui bahwa laporan itu benar, beliau segera mengumpulkan para pengurus dan memberikan arahan tentang bagaimana menyelesaikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal lain yang mengagumkan para pengurus pesantren adalah cara Kiai Abdul Haq menghadapi santri nakal yang telah direkomendasikan para pengurus untuk dikembalikan kepada orang tuanya. Menghadapi rekomendasi ini, tak jarang Kiai Abdul Haq menolak rekomendasi tesebut, dan memilih santri nakal itu untuk beliau bina secara langsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Biasanya santri nakal itu beliau beri berbagai macam kegiatan. Misalkan menjadi sopir atau hadam (pembantu) beliau,” kata Faizin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kegiatan yang bisa dipantau langsung, Kiai Abdul Haq bisa melakukan komunikasi lebih dalam dengan santri nakal tersebut. Lewat pendekatan ini, perlahan-lahan tingkat kenakalan santri nakal itu mereda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendekatan yang beliau lakukan kepada para santri nakal itu, selain diilhami pendidikan dari ayahanda beliau, juga berangkat dari pengalaman Kiai Abdul Haq saat berkenalan dan berteman dengan pelbagai golongan masyarakat saat menempuh kuliah di Surabaya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Menurut kawan dekat beliau, dulu Kiai Abdul Haq sering meninggalkan bangku kuliah. Ini dilakukan selain untuk belajar hidup mandiri dengan bekerja, juga digunakan untuk menyelami kehidupan kelompok preman, sekaligus menyadarkan mereka,” kata Faizin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara pendidikan yang diperoleh Kiai Abdul Haq dari ayahandanya adalah bersikap terbuka dan apa adanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Menurut Kiai Abdul Haq sendiri, beliau senantiasa diajarkan untuk terbuka kepada ayandanya. Bahkan hingga pada persoalan pribadinya seperti studi di perguruan tinggi yang tak kunjung usai,” lanjut Faizin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu Kiai Abdul Haq sempat menempuh kuliah di beberapa perguruan tinggi di Surabaya seperti Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel dan IKIP Surabaya. Namun dua-duanya tidak sempat diselesaikan sampai sarjana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat hal itu, ayahandanya mengutus kakaknya, alm KH Abdul Wahid Zaini untuk membujuknya agar bersedia menempuh pendidikan di Umul Quro, Makkah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SETELAH wafatnya KH Abd Wahid Zaini pada tahun 2000, Kiai Abdul Haq dipercaya sebagai Ketua Yayasan Pondok Pesantren Nurul Jadid. Selama kurang lebih delapan tahun, tak sedikit hasil usaha beliau yang saat ini sudah bisa dinikmati, baik oleh santri, alumni dan masyarakat. Di antaranya adalah pendirian Sekolah tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES), SMK, penertiban keuangan pesantren, mekanisme pengangkatan guru dan dosen, pembangunan bank mu’amalat, pendirian P4NJ serta lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebagai ketua Yayasan, beliau sangat bersemangat sekali. Terakhir adalah pembelian tanah yayasan seluas 1,3 hektar sebelah timur pesantren dan 2,3 hektar sebelah selatan KUA yang menurut rencana akan dijadikan pusat pendidikan,” kata Faizin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bidang kemasyarakatan, Kiai Abdul Haq merupakan sosok yang memiliki kepedulian tinggi terhadap masyarakat sekitar pesantren. Misalkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat kecil, beliau menjalin kerjasama dengan pemerintah dalam program penggemukan sapi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bila ayahandanya dulu peduli terhadap ekonomi masyarakat sekitar lewat budidaya tembakau, maka Kiai Abdul Haq lewat program penggemukan sapi. Alhamdulillah hasilnya sangat signifikan,” jelas Faizin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih jauh, Kiai Abdul Haq juga dikenal sebagai sosok kiai yang tidak senang membeda-bedakan masyarakat karena golongan atau partai politik. Hal ini seperti tausyiah beliau yang disampaikan pada acara Istighosah, Jum’at 15 Mei 2009 di Masjid Jami Pondok Pesantren Nurul Jadid. Saat itu beliau sangat prihatin terhadap perilaku sebagian santri yang menganggap ‘liyan’ santri dari pesantren lain. Menurut beliau, tak patut santri Nurul Jadid menganggap beda santri dari pesantren lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Santri Nurul Jadid jangan mengkotak-kotakan masyarakat. Bersatulah dengan santri dari pesantren lainnya. Karena kitab yang diajarkan sama, Sulam Taufiq,” pesan Kiai di hadapan para jama’ah Istighosah yang diselenggarakan setiap Sabtu Wage.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEKITAR tahun 2002, Kiai Abdul Haq menjadi Ketua Dewan Syura Dewan Pengurus Cabang (DPC) Partai Kebangkitan Bangsa Probolinggo. Alasan beliau bersedia masuk dalam politik antara lain karena banyak kalangan yang meminta beliau untuk meneruskan tongkat estafet kakak kandungnya, KH Abd Wahid Zaini yang terbukti memberikan pencerahan kepada masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiai Abdul Haq menjabat ketua Dewan Syura DPC PKB sebanyak dua kali. Pada tahap terakhir, sebenarnya beliau enggan. Namun desakan dari para kader partai tak jua mereda. Akhirnya beliau meberikan syarat, bila ada satu kader partai yang tidak sepakat beliau menjadi ketua dewan syura, maka beliau akan mengundurkan diri. Saat pemilihan digelar, ternyata Kiai Abdul Haq terpilih secara aklamasi. Karir terakhir politik Kiai Abdul Haq berada di PKNU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski Kiai Abdul Haq terjun dalam dunia politik, beliau tak pernah sekali pun memaksa santri-santrinya untuk memilih salah satu partai politik. Beliau senantiasa membebaskan para santrinya menentukan pilihan mereka berdasarkan ukuran rasional dan hati nurani masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEBAGAI tokoh pesantren, Kiai Abdul Haq cukup dekat dengan mantan Presiden RI, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Terlebih setelah Gus Dur mengetahui bahwa Kiai Abdul Haq merupakan adik kandung sahabat kentalnya, KH Abdul Wahid Zaini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara pemikiran, ada benang merah atau keselarasan antara Kiai Abdul Haq dengan Gus Dur. Salah satunya adalah usaha Kiai Abdul Haq menjaga ukhuwah islamiyah dan ukhuwwah wathoniah, yang senantiasa tergambar dalam petuah-petuah beliau, baik kepada para santrinya maupun sikap beliau kepada orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TUJUH hari ini, mendung duka masih menggelayuti Pondok Pesantren Nurul Jadid. Para santri, alumni, orang tua santri, para sahabat dan masyarakat datang silih berganti berkunjung ke makam Kiai Abdul Haq Zaini. Tak henti-hentinya untaian do’a mereka panjatkan, agar almarhum Kiai Abdul Haq senantiasa bahagia di akhirat nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya tak pernah merasa kehilangan Kiai Abdul Haq. Senyum beliau akan senantiasa ada bersama saya...” kata salah seorang santri yang enggan disebutkan namanya.*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adib Minnanurrachim&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2483512749123335218-6482011937072151417?l=adibdata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adibdata.blogspot.com/feeds/6482011937072151417/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2483512749123335218&amp;postID=6482011937072151417' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/6482011937072151417'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/6482011937072151417'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adibdata.blogspot.com/2009/05/tapak-perjuangan-kiai-abdul-haq-zaini.html' title='TAPAK PERJUANGAN KIAI ABDUL HAQ ZAINI ITU MENDADAK TERHENTI'/><author><name>Adib Minanurrachim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15129533338323743129</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-I2gRc1Ay-KI/Trz7pcj6bYI/AAAAAAAAAJM/rpVJ_fN0h8A/s220/wajah%2B%252846%2529.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2483512749123335218.post-3759424003641766994</id><published>2008-02-14T00:04:00.000+07:00</published><updated>2008-11-29T04:02:35.025+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='LAPORAN'/><title type='text'>RAGAM SPIRITUAL, RAGAM KETENANGAN</title><content type='html'>&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Seiring kecenderungan masyarakat terhadap spiritualisme, beragam pelatihan spiritual ditawarkan. Mulai ESQ, Quantum Ikhlas hingga Shalat Khusyu. Ada beragam ketenangan dilahirkan.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ABAD 21, oleh sebagian pemikir diidentifikasi sebagai abad spiritualisme. Hal ini tidaklah berlebihan jika melihat maraknya kecenderungan masyarakat pada aspek spiritualitas pada dasawarsa terakhir ini. Kehidupan modern yang bercorak diterministik-materialistik, positivistik-empirik, sering dikritik oleh kaum posmodernis sebagai akar konflik. Namun solusi memuaskan ternyata belum dapat mereka ajukan. Solusi-solusi yang ditawarkan sering dinilai tanpa arah, bahkan mengarah pada solipsisme. Dari keadaan yang penuh kegamangan dan kekeringan jiwa inilah spiritualisme menjadi solusi-alternatif.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dalam kondisi tersebut munculah tokoh seperti Danah Zohar dan Ian Marshall. Mereka berusaha memperbaiki peradaban secara mendasar dengan menggantikan paradigma Newtonian yang atomisitik dengan paradigma holistik relasional kuantum. Pasangan suami istri ini menjelaskan konsep inteligensi pada aspek-aspek kejiwaan yang pada waktu-waktu sebelumnya dianggap irasional, dengan menggulirkan konsep inteligensi spiritual sebagai bentuk inteligensi tertinggi yang memadukan inteligensi intelektual dan inteligensi emosional.&lt;br /&gt;Dalam sebuah wawancara, Danah Zohar mengatakan bahwa kegagalan manusia modern dalam menjalin hubungan suami istri dan kekeringan makna hidup menjadikan mereka kembali pada spiritualisme. “Kesejahteraan tidak hanya berarti berapa banyak uang Anda di bank, tapi juga apakah Anda bahagia? Seberapa kuat dan sehat hubungan kekeluargaan Anda? Karena 50 persen perkawinan di Barat berakhir dengan perceraian. Mereka mengucapkan janji perkawinan, hidup dalam suka dan duka hingga maut memisahkannya, tapi dua tahun kemudian mereka bercerai. Ini masalah krisis spiritual.”&lt;br /&gt;Gambaran Danah Zohar tersebut juga dialami oleh masyarakat di kota-kota besar di Indonesia. Kehidupan matrealistik yang mulanya dianggap sebagai tujuan utama ternyata tak menjamin kehidupan manusia menjadi tambah bahagia. Science yang diagungkan sebagai pencerahan, ternyata tak mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar seperti; mengapa kita dilahirkan? untuk apa kita lahir di dunia? Dan berujung pada pertanyaan soal kematian.&lt;br /&gt;Keadaan cemas tersebut, pada akhirnya juga melahirkan training-training spiritual seperti ESQ (Ary Ginanjar Agustian), Quantum Ikhlas (Erbe Sentanu) dan Shalat Khusyu (Abu Sangkan). Ketiga-tiganya dianggap sebagai jawaban terhadap krisis spiritual manusia modern, meski di dalamnya terdapat berbagai perbedaan, salah satunya metodologi spiritualisme dan tingkat ketenangan yang diperoleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Metode Pelatihan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;SEPERTI tertulis dalam web site ESQ (www.esqway165.com), pelatihan yang bervisi menjadikan Leadership Center kelas dunia yang terkemuka dan independen ini mencoba menuntun peserta untuk membangkitkan 7 nilai dasar, yaitu jujur, tanggung jawab, visioner, disiplin, kerjasama, adil, dan peduli. ESQ memandu seseorang dalam membangun prinsip hidup dan karakter berdasarkan ESQ Way165. Angka 165 merupakan simbol dari 1 Hati pada Yang Maha Pencipta, 6 Prinsip Moral, dan 5 Langkah sukses.&lt;br /&gt;Sebagai materi pelatihan, peserta juga dikenalkan tentang kecerdasan intelektual, emosional, spiritual dan misteri God Spot (Titik Tuhan). Sementara metodologi pelatihan ESQ dibuat sedemikian rupa sehingga peserta akan merasa seperti menikmati sebuah pertunjukkan yang penuh makna. Selain itu, peserta juga akan diajak terlibat beberapa aktifitas dalam training seperti permainan, simulasi, serta saling berbagi pengalaman di antara peserta. Materi training disampaikan secara multimedia yang menggabungkan antara animasi, klip film, efek suara, dan musik. Ditampilkan dengan medium beberapa layar besar hingga 4 x 6 m dengan tata suara sekitar 10.000 watt. Training dilaksanakan di berbagai tempat terpilih dengan standar tertentu untuk memastikan bahwa training dapat berlangsung nyaman dan menyenangkan bagi peserta.&lt;br /&gt;Kurang lebih sama dengan ESQ, Quantum Ikhlas yang digagas Erbe sentanu juga memanfaatkan kemajuan ilmu pengetahuan seperti neuroscience, neurotechnology, microelectronics dan sound healing technology, beriringan dengan tuntunan bijak agama serta falsafah kehidupan yang sejak dulu hidup di tengah masyarakat.&lt;br /&gt;Dalam bukunya, Quantum Ikhlas (Tekhnologi Aktivasi Kekuatan Hati), Nunu—panggilan Erbe Sentanu—mengatakan bahwa dengan menggunakan teknologi DigitalPrayer, manusia dapat mudah mencapai gelombang otak yang tepat bagi setiap kegiatan yang ingin ditingkatkan kualitasnya, seperti belajar cepat, meditasi, relaksasi, mengubah kebiasaan, meningkatkan intuisi sampai awet muda.&lt;br /&gt;Dengan penemuan gelombang otak alpa yang bisa dicapai dengan teknologi, pelatihan ini menganjurkan penggunaan CD yang berisi musik dan suara yang sudah diinsersi dengan gelombang tertentu yang otomatis bisa menurunkan gelombang otak pendengarnya dari kondisi Beta ke kondisi Alpa. Melalui latihan yang intensif, kata Nunu, secara otomatis kondisi fisik otak menjadi terlatih sehingga akses zona iklhas bisa menjadi lebih mudah dan otomatis.&lt;br /&gt;Berbeda dengan dua pelatihan di atas yang lebih tergantung pada peralatan tekhnologi dan tata ruang pelatihan, Sholat Khusyu—sesuai dengan namanya—lebih mengedepankan shilatun dan shalat sebagai media untuk mencapai spiritualisme. Shilatun adlah relaksasi yang bisa dilakukan di berbagai tempat, baik dalam ruang tertutup maupun terbuka. Sementara shalat yang oleh ustadz Abu Sangkan disebut meditasi tertinggi dalam Islam, dijelaskan bisa mengurangi kecemasan dalam kehidupan manusia, dengan lima alasan: pertama, merupakan doa atau meditasi yang teratur, minimal lima kali sehari. Kedua, relaksasi melalui gerakan-gerakan shalat. Ketiga, hetero atau auto sugesti dalam bacaan shalat. Keempat, group therapy dalam shalat jama’ah, atau bahkan dalam shalat sendirian pun minimal terdapat aku dan Allah. Dan kelima, hydro therapy dalam mandi junub atau wudhu sebelum shalat.&lt;br /&gt;Ketiga pelatihan di atas—dengan metodologinya masing-masing—diyakini mampu menurunkan gelombang otak dari beta ke alpa, dan bisa membuat manusia merasakan ketenangan jiwa. Namun demikian, yang perlu dilihat adalah; sejauh mana ketenangan dan kebahagiaan yang dicapai? Samakah antara ketenangan dan kebahagiaan yang diperoleh dari satu pelatihan dengan pelatihan lainnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adib Minanurrachim&lt;br /&gt;Dimuat di SC Vol VI&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2483512749123335218-3759424003641766994?l=adibdata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adibdata.blogspot.com/feeds/3759424003641766994/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2483512749123335218&amp;postID=3759424003641766994' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/3759424003641766994'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/3759424003641766994'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adibdata.blogspot.com/2008/02/ragam-spiritual-ragam-ketenangan.html' title='RAGAM SPIRITUAL, RAGAM KETENANGAN'/><author><name>Adib Minanurrachim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15129533338323743129</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-I2gRc1Ay-KI/Trz7pcj6bYI/AAAAAAAAAJM/rpVJ_fN0h8A/s220/wajah%2B%252846%2529.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2483512749123335218.post-7843963923344828102</id><published>2008-02-13T23:59:00.001+07:00</published><updated>2008-11-29T04:03:35.533+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='WAWANCARA'/><title type='text'>“SUFI ITU INKLUSIF”</title><content type='html'>&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;AGUS MUSTOFA lahir di Malang, 16 Agustus 1963. Putra Syech Djapri Karim, guru tarekat yang sekaligus mantan Dewan Pembina Partai Penganut Tarekat Indonesia pada masa Bung Karno ini, dikenal sebagai penulis produktif buku serial diskusi tasawuf modern. Di antara buku-bukunya adalah, Pusaran Energi Ka’bah, Ternyata Akhirat Tidak Kekal, Untuk Apa Berpuasa, Menyelam ke Samudera Jiwa dan Ruh, Bersatu dengan Allah dan masih banyak lagi. Kegemaran terhadap tasawuf, selain dipengaruhi sosok ayahandanya juga karena pergaulannya dengan beberapa intelektual Islam modern seperti Prof Ahmad Baiquni dan Ir Sahirul Alim M Sc, semasa kuliah di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Januari lalu, kepada penulis yang sedang menyelesaikan buku berjudul Bersyahadah Dalam Rahim ini, saya mewawancarainya seputar fenomena spiritualisme yang makin digandrungi masyarakat modern saat ini. Berikut petikannya:&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Seiring meningkatnya popularitas spiritualisme, ada fenomena tentang seorang spiritualis tapi tidak religius. Bagaimana pendapat anda?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pertama, spiritual itu tergantung bagaimana kita melihat. Sama dengan agama dan Tuhan, tergantung siapa yang melihat. Bisa jadi antara saya dan anda berbeda. Begitu pula dengan spiritual: kata yang sama, tapi setiap orang bisa mendefinisikannya secara berbeda-beda. Tapi inti spiritual adalah sebuah upaya untuk masuk ke dalam jiwa kita. Sebagai manusia, dalam diri kita terdiri dua hal, fisikal juga spiritual.&lt;br /&gt;Tiap agama punya spiritualism, bahkan orang-orang dinamisme dan animisme juga punya. Tapi dalam Islam saya kira berbeda dan menunjukkan kualitas tertentu yang jauh dari yang lainnya. Jadi sekedar definisi secara umum, yang monggo saja.&lt;br /&gt;Kedua, kita sebagai seorang muslim memiliki begitu banya kaidah-kadaih untuk membangunkan spiritual kita. Tapi kunci utamnya adalah menghilangkan ego kita sebagai manusia dan kemudian memunculkan sifat-sifat ketuhanan dalam pikiran, hati dan keseluruhan hidup kita, mengarah pada tauhid. Ini merupakan tingkat spiritualitas yang sangat tinggi.&lt;br /&gt;Dalam Islam, seluruh ajaran Rasulullah merupakan proses spiritualitas kita, tak kecuali rukun Islam. Dan syahadah merupakan pintu masuk spiritualitas seorang muslim.&lt;br /&gt;Saat seseorang sudah mengorientasikan hidupnya dan kepentingannya hanya kepada Allah (laa ilaha illa Allah), sesungguhnya dia sudah mematok sebuah spiritualitas yang tertinggi di seluruh alam semesta ini, dan mengakui Muhammad sebagai pembawa ajaran spiritualitas tersebut.&lt;br /&gt;Jadi, kalau kita kupas spiritualias Islam itu sangat luas dan dalam. Buktinya sejak berada di dalam rahim, kita ini sudah bersyahadah. Kata Allah dalam surah al A’raf ayat 172, ketika Allah mengeluarkan anak-anak Adam dari tulang sulbinya (masih berbentuk ovum dan sperma), lalu dipertemukan di dalam rahim, jiwa itu sudah terbentuk dan kemudian bersyahadah. Saat itu Allah bertanya, alastu birobbikum? (bukankah aku ini Tuhanmu?), mereka menjwab, bala syahidna (ya kami bersaksi bahwa Engkau Tuhanku). Dari sini, bisa diambil kesimpulan bahwa secara fitrah, manusia itu sudah mengarah kepada spiritualitas. Kemudian saat dilahirkan di dunia, dia (jiwa) diminta bersyahadah lagi secara syariah (teori), dan selanjutnya syahadah itu didefinisikan, dipelajari, difahami dan dilaksanakan.&lt;br /&gt;Laa ilaha illa Allah itu bukan hanya teori, tapi juga harus diamalkan, mulai dari bangun tidur sampai tidur kembali. Bagiamana dia makan pagi ingat Allah, bekerja ingat Allah dan seterusnya. Bila ini bisa dilakukan, maka syahadah manusia akan mencapai tahap bahagia bersyahadah dalam seluruh amal perbuatannya, karya-karyanya. Kalau diteruskan lagi, maka akan sampai pada puncaknya, yaitu berserah diri. Kesaksian yang sesungguhnya.&lt;br /&gt;Dari sini, ternyata seluruh ibadah yang dibawa Rosulullah, baik dzikir, sholat dan seterusnya, merupakan proses spiritualisme yang akan membawa seorang muslim menuju puncak spiritualitas Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Dalam mencari kebahagian, begitu ragam jalannya. Ada orang yang tak beragama, bahkan atheis, mengaku bisa mencapai kebahagiaan. Ada pula yang melalui training- training instan, dan ada juga yang melalui pendakian yang panjang dan konsisten. Nah adakah titik pembeda pengalaman spiritual di antara mereka?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tiap orang memang bisa mengalami proses-proses spiritual, termasuk orang yang mengaku tidak beragama semisal melalui semedi dan meditasi. Mereka bisa mengalami relaksasi. Tapi ada perbedaan yang sangat mendasar pada tingkatannya. Antara ketenangan satu dengan ketenangan lainnya bisa berbeda. Begitu juga dengan kebahagiaan satu dengan kebahagiaan lainnya. Ini semua tergantung pada siapa kita menggantungkan proses ketenangan dan kebahagiaan tersebut. Anda diam-diam begini sambil mendengarkan musik klasik, atau musik yang tenang dan tentram, anda bisa dibawa menuju gelombang otak alfa yang bisa memunculkan relaksasi. Atau anda ikut pengobatan relaksasi dengan aromaterapi, anda juga akan mengalami ketenangan. Karena itu, hal semacam ini bisa juga disebut dengan spiritualism.&lt;br /&gt;Tapi kalau kita bandingkan, antara menggantungkan proses spiritualism itu kepada benda dengan kepada Dzat yang tak berhingga (Allah), maka tingkat ketenangan, ketentraman dan kebahagiaannya akan sangat berbeda.&lt;br /&gt;Tingkat tersebut bisa dipahami dari gambaran surga yang bertingkat-tingkat. Ini menunjukkan bahwa ada fase-fase atau kualitas-kualitas, di mana di antara manusia memiliki kualitas spiritual yang berbeda-beda. Jangankan antara muslim dengan non muslim, antar sesama muslim sendiri ada kualitas yang berbeda-beda. Bahkan definisi tentang Tuhan antara saya dan anda bisa berbeda, tergantung sejauh mana kenalnya kita dengan Allah. Dalam Al Qur’an disebutkan mereka belum mengagungkan Allah dengan semestinya. Mereka belum kenal Allah dengan sesungguhnya. Jadi pendekatan kepada Allah untuk meningkatkan kualitas jiwa kita, itu perjalanan yang tak berhingga.&lt;br /&gt;Nah di sini, monggo saja setiap orang meningkatkan kualitas dirinya masing-masing. Tapi pendekatan apa yang dilakukannya? Bila hanya sesuatu yang sederhana, ya sampai di situ saja. Coba bandingkan secara fair seperti yang diajarkan dalam Islam, yang memiliki beberapa pendekatan, yaitu syari’at, tarikat, hakikat dan makrifat, yang kualitasnya berbeda-beda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bagaimana bisa melakukan pendekatan spiritual yang tak berhingga tersebut?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Secara utuh, saya melihat bahwa orang itu akan mengalami kualitas jiwa yang tak berhingga apabila dia berusaha meniadakan dirinya, yang dalam syahadah, sejak awal sudah diajarkan laa ilaha illa Allah. Ini sesungguhnya makna yang sangat luar biasa, tergantung siapa yang membahas dan mendalaminya. Semua Nabi dan Rasul, misinya adalah menegakkan kalimat tauhid. Tapi demikian, laa ilaha illa Allah antara tiap muslim bisa berbeda kualitasnya. Tergantung sejauh mana peniadaan diri (ego) kita di hadapan Allah dan membesarkanNya dalam skala tak berhingga. Itulah yang akan memunculkan kualitas yang berbeda.&lt;br /&gt;Jadi titik pembeda antara pelbagai macam spiritualitas yang ada saat ini adalah, sejauh mana meniadakan diri di hadapan Allah tersebut. Nah saat kita bisa meniadakan diri kita di hadapan Allah, mendadak kita bisa merasa bersatu di dalam kebesaran Dzat Allah tersebut. Ini yang saya jelaskan dalam buku saya, Bersatu dengan Allah. Di situlah tempat kebahagiaan yang luar biasa dan tidak berhingga serta tak bisa digambarkan dalam kata-kata lagi, yang dalam Al Qur’an dikatakan bahwa orang yang dekat dengan Allah itu tidak punya rasa takut, khawatir dan tidak gelisah, kecuali tentram. Tapi ingat, tentram antara satu orang dengan lainnya bisa berbeda.&lt;br /&gt;Tingkatan manusia dalam Al Qur’an itu ada tiga; Iman, Taqwa dan Islam. Ya ayuha alladzina amanuu ittaqullaha haqqo tugotih wala tamutunna illa wa antum muslimuun. (Wahai orang yang beriman, taqwalah dengan sekuat-kuatnya dan sebenar-benarnya dan jangan mati kecuali dalam keadaan berserah diri). Di sini gambaran kualitasnya terlihat. Iman itu sebatas gambaran pemahaman keilmuan sampai yakin. Disuruh naik lagi dengan taqwa dengan usaha yang sungguh-sungguh. Itu tidak gampang. Ada proses panjang untuk meluruskan seluruh ibadah yang kita jalankan. Nah bila ini bisa dilalui, buahnya adalah berserah diri kepada Allah. Dan berserah diri ini ada contohnya, yaitu Nabi Ibrahim saat disuruh mengorbankan putranya yang begitu dicintainya. Ini merupakan contoh tertinggi.&lt;br /&gt;Ukuran seorang spiritualis itu digambarkan Al Qur’an, yakni puncak misi seorang muslim adalah rahmatan lil ‘alamiin. Itu tanda-tanda yang bisa diamati. Makanya seorang Muhammad diutus untuk rahmatan lil ‘alamiin (wamaa arsalna muhammad illa lilrahmatan ‘alamiin). Seorang muslim harus bermanfaat seluas-luasnya bagi siapa saja, tidak terbatas pada muslim, mukmin dan muttaqiin saja. Tapi seluruh umat manusia dan sekalian alam. Jadi ukurannya di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tapi ada juga kan yang mencintai Tuhan tapi enggan hidup sosial, alias nyepi saja. Ini bagaimana?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Wah itu eksklusif, itu tidak benar. Kata Allah, ke mana pun kamu menghadap, kamu berhadapan dengan Allah. Walillahi al masyriqu wal maghrib. Kita melihat matahari terbit, kita berhadapan dengan Allah. Kita melihat pohon, semut, binatang, air dan semuanya kita melihat Allah. Nah bila sudah demikian, maka mencintai Allah itu tidak eksklusif, tapi malah inklusif. Karena kita melihat kehadiran Allah itu di seluruh benda, peristiwa dan semuanya. Jadi salah besar bila ada yang mengatakan bahwa menyatu dengan Allah, itu menjadi eksklusif! Uzlah atau mengasingkan diri, seakan akan hidup ini hanya dirinya dengan Allah, itu tidak benar. Karena misi manusia diciptakan adalah untuk menjadi rahmatan lil ‘alamiin. Justru dengan memberikan rahmat kepada alam, kita sedang berproses menjadikan sifat-sifat kita seperti Allah yang tidak pilih kasih dan mencintai semua makhluk.*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adib Minanurrachim&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2483512749123335218-7843963923344828102?l=adibdata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adibdata.blogspot.com/feeds/7843963923344828102/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2483512749123335218&amp;postID=7843963923344828102' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/7843963923344828102'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/7843963923344828102'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adibdata.blogspot.com/2008/02/sufi-itu-inklusif_13.html' title='“SUFI ITU INKLUSIF”'/><author><name>Adib Minanurrachim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15129533338323743129</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-I2gRc1Ay-KI/Trz7pcj6bYI/AAAAAAAAAJM/rpVJ_fN0h8A/s220/wajah%2B%252846%2529.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2483512749123335218.post-5274584425438635146</id><published>2008-02-13T23:50:00.000+07:00</published><updated>2008-02-13T23:59:36.113+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='WAWANCARA'/><title type='text'>“DANAH ZOHAR TELAH MENDUNIAKAN KEKELIRUANNYA”</title><content type='html'>&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;JALALUDDIN RAKHMAT, lahir di Bandung, 29 Agustus 1949. Kang Jalal—begitu panggilan populernya—dikenal sebagai salah satu tokoh cendikiawan dan mubaligh Islam terkemuka di Indonesia, bersama Gus Dur (KH Abdurahman Wahid) dan almarhum Cak Nur (Prof.Dr. Nurcholis Madjid).&lt;br /&gt;Dari sekian panjang pergulatannya dalam pemikiran Islam, Kang Jalal pernah menyimpulkan bahwa fiqih hanyalah pendapat para ulama dengan merujuk pada sumber yang sama, yaitu Al-Qur’an dan Sunnah. Ia tidak setuju bila klaim kafir dialamatkan pada orang yang berbeda pendapat tentang tafsir Al-Qur’an dan Sunnah. “Bila menentang Al-Qur’an dan Sunnah, itu baru kafir,” katanya.&lt;br /&gt;Karena silang-pendapat fiqh itu pula, Kang Jalal memfikirkan solusi alternatif yang bisa mempersatukan umat Islam, dan pilihannya jatuh pada akhlak. Menurutnya, dalam akhlak, semua orang—apa pun mazhabnya—bisa saling sepakat. Pemikiran ini ia tuangkan dalam buku, Dahulukan Akhlak di Atas Fikih (2002).&lt;br /&gt;Sebagai cendikiawan muslim, Kang Jalal juga bergulat dengan tasawuf. Ketertarikannya pada dunia sufi ini bermula saat bersama-sama Haidar Bagir dan Endang Saefuddin Anshory diundang pada sebuah konferensi di Kolombia pada 1984. Dari konferensi itu ia bertemu dengan ulama-ulama asal Iran yang memiliki pemahaman mendalam tentang tasawuf, dan ia merasa kagum pada mereka.&lt;br /&gt;Pasca kepulangan dari konferensi tersebut, Kang Jalal tenggelam dalam dunia tasawuf dan melahirkan beberapa karya seperti Reformasi Sufistik (1998), Meraih Cinta Ilahi: Pencerahan Sufistik (1999) dan Tafsir Sufi Al-Fâtihah (1999). Selain tasawuf, Kang Jalal juga menulis buku-buku Psikologi, seperti Psikologi Komunikasi (1985) dan Psikologi Agama (2003).&lt;br /&gt;Berangkat dari kemampuan Kang Jalal yang multi disiplin ilmu tersebut, keempat wartawan SC Adib Minanurrachim, Kholis Bakrie, Billyantoro, Azty Arlina dan satu fotografer, Heru Haryono, mewawancarainya seputar perkembangan antara science dan spiritualisme. Berikut petikannya:&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Fenomena fusi antara spiritualitas dengan science seperti yang dilakukan Danah Zohar, penemuan God Spot dan Fisika Quantum, apakah itu merupakan fenomena baru dari perjalanan spiritualisme di barat?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di barat, spiritualitas muncul karena kekecewaan mereka terhadap science yang didasarkan pada logika dan empirisisme. Manusia melihat dunia ini absurd. Untuk apa seluruh kehidupan ini bila diakhiri dengan kematian? Segala usaha manusia sia-sia. Kata Soren Keirkegaard, ada semacam kecemasan yang luar biasa bagi manusia modern saat mereka memikirkan akhir kehidupan. Ia menyebutnya kegelisahan yang tak difahami.&lt;br /&gt;Pertanyaan itulah yang membawa orang-orang ke spiritualisme. Mereka merasa rasio yang menjadi dasar sceince ternyata buntu dan tidak bisa memberikan jawaban, selain mereka juga kecewa terhadap science yang matrealistis.&lt;br /&gt;Mengenai God Spot itu sama kontroversinya dengan G Spot (titit birahi) yang cuma mitos, karena hingga saat ini tidak bisa dibuktikan secara ilmiah.&lt;br /&gt;Sekarang ini ada penelitian neurologis tentang pengalaman-pengalaman keruhanian. Ada yang mengalami keruhanian, misalnya melalui brain imaging, pemasangan semacam saluran-saluran di sekitar kepala untuk melihat gelombang-gelombang otak. Bila orang mengalami pengalaman ruhaniah, ada bagian otak yang katanya berkaitan dengan perasaan, letaknya di sekitar hipocampus (pusat memori harian). Menurut neurolog, di bagian hipocampus itu ada satu tempat yang disebut lobus temporal, berfungsi mengatur kesadaran waktu dalam kehidupan kita. Bila mendadak kesadaran waktu hilang atau tenggelam dalam satu situasi, maka keadaan orang tersebut flow. Nah kata orang, itu yang diseput God Spot, titik yang menyambungkan manusia dengan Tuhan.&lt;br /&gt;Pendapat lain mengatakan, God Spot itu sebenarnya bukan persambungan kita dengan Tuhan, tapi seperti mata lahir ini. Hanya saja, God Spot tidak bisa membuktikan adanya Tuhan, kecuali hanya alat yang bisa merasakan kehadiran Tuhan.&lt;br /&gt;Tapi persoalannya, para ahli neurolog juga menemukan bahwa keadaan blink (‘berkedip’) itu juga dialami orang sakit jiwa. Para penderita skizofrenia dan paranoida juga mengalami rangsangan di tempat yang sama. Dengan kata lain, orang saleh sebetulnya juga mengalami pengalaman neurologis yang sama dengan orang sakit jiwa atau orang gila. Nah, apakah hal itu kita sebut sebagai God Spot (titik Tuhan) atau Mad Spot (titik gila)? Hehehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Dalam pengantar anda di buku Danah Zohar, anda memberikan catatan bahwa Danah Zohar masih terjebak psikologisme. Maksudnya bagaimana?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Danah Zohar itu bukan psikolog, bukan pula neurolog. Dia keliru—kekeliruan yang menjadikannya populer dan sekaligus membumikannya—dengan menyebut kecerdasan spiritual sebagai SQ (spiritual quotient). Karena huruf Q itu kan quotient yang berarti hasil bagi. Huruf Q, dalam matematika merupakan hasil pembagian dari X dibagi Y (X:Y=Q). Ini cocok bila diterapkan pada IQ (Intelligence Quotient). Karena teori ini membagi usia mental dengan usia kronologis. Misalkan ada anak yang usia kronologisnya 5 tahun, tapi kecerdasan mentalnya sudah seperti anak berusia 10 tahun. Maka teorinya adalah 10:5x100= 200. Jadi IQ anak itu adalah 200.&lt;br /&gt;Di kalangan Psikolog tidak ada SQ, yang mungkin ada adalah kecerdasan spiritual atau Spiritual Intelligence (SI). SI ini pernah diusulkan kepada Howard Garner yang berpendapat bahwa manusia setidaknya memiliki delapan kecerdasan yang ada tempatnya di dalam otak. Misalkan kecerdasan kinestetik yang berkaitan dengan cerebellum (otak kecil sebelah belakang yang mengusai koordinasi otot-otot). Tapi kata Garner, di mana letak kecerdasan spiritual? Tidak ada.&lt;br /&gt;Mengenai pandangan Danah Zohar tentang berspiritual tanpa beragama, sebetulnya malah ada yang lebih ekstrim, yakni berspiritual tanpa ada kepercayaan terhadap Tuhan. Agama Budha itu sangat spiritual, tapi mereka tidak percaya sama Tuhan. Alasannya, Tuhan itu tidak bisa digambarkan dan didefinisikan. Seorang antropolog pernah menanyakan teologi mereka. Tapi jawab mereka, our dance is our theology (tarian kami adalah teologi kami). Karena mereka tidak membicarakan Tuhan, mereka hanya membicarakan bagaimana meghilangkan derita dalam kehidupan.&lt;br /&gt;Fenomena itu juga tergambar dalam dunia modern saat ini. Tak sedikit orang berkata, saya seorang spiritual tapi bukan seorang religius. Dalam hal ini, saya kira benar. Sementara yang tidak benar itu adalah ketika SQ itu beredar di Indonesia dan menjadi semacam training-training. Sebenarnya mereka itu bingung membedakan antara mana yang disebut emotional intelligence dan spiritual intelligence? Lalu mengambil jalan pintas dengan menggabungnya dan bernama ESQ, tanpa ada batasan-batasan yang jelas.&lt;br /&gt;Secara ilmiah ESQ itu adalah something you are not able to check and to account (sesuatu di mana anda tidak bisa memeriksa dan melaporkan). Jadi tidak bisa dijelaskan melalui topangan-topangan ilmiah yang bersifat empiris dan logis.&lt;br /&gt;Lebih jauh, apa sih ukuran ESQ? Tangisan? Kalau sudah menangis, maka kita sudah mendapat ridho Allah? Siapa saja yang tidak menangis, maka hatinya sudah membatu dan tidak mendapat petunjuk. Begitukah?&lt;br /&gt;Jadi menurut saya, ESQ itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan emosional, spiritual dan intelegensi. ESQ itu hanya mengulang kesalahan seperti zaman romawi, yaitu Th Holy Roman Empire (kerajaan romawi yang suci), yang merupakan kerajaan Paus. Padahal sebenarnya, itu bukan kerajaan, bukan romawi dan sama sekali tidak suci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tapi di antara alumninya banyak yang mengalami perubahan kepribadian menjadi baik?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kalau mereka menjadi baik itu hanya dongeng saja. Apa sih ukuran kebaikan itu? Ia rajin sholat, hanya itukah? Coba gunakan ukuran lainnya; kenapa sifatnya makin ekstrim terhadap tetangga atau teman sekerjanya? Mengapa ia menganggap orang yang tidak pernah ikut ESQ adalah orang yang belum dapat hidayah? Mengapa pula ia menganggap dirinya sebagai yang paling sholeh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Motif kegilaan masyarakat kota terhadap ESQ karena apa?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Mungkin karena pemasarannya yang sangat bagus. Ada teknik marketing yang menurut saya sangat bagus. Semua teknik yang dipakai multylevel marketting itu juga dipakai dalam ESQ, dan setiap alumninya bisa menjadi marketter sekaligus. Selain itu, memang ada kecenderungan umum, bahwa orang-orang Indonesia ini suka hal-hal yang instan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bagaimana dengan tariqoh-tariqoh yang di antara jalan menuju Allah itu melalui puasa dan lainnya. Apakah ini yang dimaksud dengan spiritual dalam Islam?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iya. Tapi dalam Islam, perjalanan menuju Tuhan itu perjalanan yang panjang dan sama sekali tidak instan. Dulu saya mendirikan pusat kajian tasawuf dan pernah masuk di beberapa tarekat, tapi akhirnya keluar dengan kekecewaan. Karena saya tidak menemukan pengalaman ruhani yang benar-benar tulus. Sulit membedakan pengalaman batin antara orang gila dengan orang sholeh. Sense keduanya itu sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Apakah termasuk dzikir akbar?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dzikir Akbar itu bisa memberikan pengalaman ruhani karena orang yang bergerak dengan gerakan yang sama, bersuara dengan suara yang sama, dan bahkan kadang-kadang pakaiannya juga sama. Dalam situasi seperti itu anda dalam keadaan suggestable, sangat mudah dipengaruhi. Kemudian pembicaranya berbicara dengan menyentuh emosi, kalau perlu juga berakting menangis. Nah, apakah itu pengalaman spiritual? Menurut saya tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Lalu perjalanan menuju Allah itu seperti apa?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan menuju Allah itu transformasi personal dari satu tahap ke tahap yang lebih spiritual. Transformasi ini merupakan perubahan menyeluruh dari seluruh kepribadian kita. Ada seorang sufi modern memberi contoh, bila kita ingin menghilangkan sakit kepala, kita bisa beli obat di apotik, analgesik atau bodrek. Tapi dengan obat, sebenarnya kita hanya menghilangkan sementara rasa sakitnya. Penyakitnya masih tetap. Karena itu bila ingin sembuh, sebenarnya kita juga harus makan teratur dan mengikuti 3 J: jenis makanannya apa, jumlahnya berapa dan jadwalnya teratur-tidak? Artinya, kita juga harus merubah cara hidup kita. Tak cukup membeli obat di apotik saja.&lt;br /&gt;Nah, The Road to Allah adalah upaya untuk tranformasi tersebut. Kita harus merubah cara hidup kita, bukan hanya mengobatinya dengan dzikir. Bila hanya dzikir tanpa melakukan perubahan kepribadian yang buruk, ya sama saja.&lt;br /&gt;Dalam Islam, The Road to Allah itu tasawuf. Tapi persoalannya, orang awam pun pada ngomong tasawuf. Sama dengan spiritual. Selain itu, banyak orang yang terlalu gampang puas. Mengklain dirinya sebagai sufi bila sudah mengambil rujukan kepada kitab Ahmad bin Atha’illah As-Sakandary, yaitu al Hikam, atau bila sudah mulai membahas Kitab Al Ghozali, Ihya ‘Ulumuddin.&lt;br /&gt;Jadi menurut saya, ukuran orang yang menapak jalan menuju Allah itu lebih pada transformasi spiritual, perubahan tingkah laku. Dan ukuran yang lebih utama adalah apakah dia makin penyayang terhadap sesamanya, lebih toleran terhadap orang-orang yang berbeda denganya, dan lebih berkeinginan memberikan kontribusi berharga terhadap kesejahteraan orang lain?*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimuat di SC Vol VI&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2483512749123335218-5274584425438635146?l=adibdata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adibdata.blogspot.com/feeds/5274584425438635146/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2483512749123335218&amp;postID=5274584425438635146' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/5274584425438635146'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/5274584425438635146'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adibdata.blogspot.com/2008/02/danah-zohar-telah-menduniakan.html' title='“DANAH ZOHAR TELAH MENDUNIAKAN KEKELIRUANNYA”'/><author><name>Adib Minanurrachim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15129533338323743129</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-I2gRc1Ay-KI/Trz7pcj6bYI/AAAAAAAAAJM/rpVJ_fN0h8A/s220/wajah%2B%252846%2529.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2483512749123335218.post-2857641574985092292</id><published>2008-02-13T23:44:00.000+07:00</published><updated>2008-02-13T23:58:48.093+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='WAWANCARA'/><title type='text'>“PENGALAMAN SPIRITUAL TIDAK INHEREN DI OTAK”</title><content type='html'>&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Dr H Taufik Pasiak, M Pdi, M Kes lahir di Manado, 29 Januari 1970. Staf pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Samratulangi, Manado ini, sudah lama menggeluti pelbagai persoalan yang berhubungan dengan otak manusia. “Saya sudah berkali-kali membelah otak manusia,” katanya saat berkunjung di kantor redaksi SC beberapa waktu lalu. Sekarang, alumni Universitas Gadjah Mada, Fakultas Kedokteran, Jurusan Spesialis Neuroanatomi ini, sedang melakukan penelitian tentang hubungan otak dengan pengalaman spiritual manusia, untuk tugas disertasinya. Berbetulan sama dengan tema disertasi yang ia angkat, saya mewawancarainya seputar misteri Gos Spot dan hubungan otak dengan pengalaman spiritual. Berikut petikannya:&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Apa hubungan spiritualisme dengan otak?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman spiritual merupakan salah satu kajian di bidang ilmu otak yang cukup menarik. Di bandingkan dengan dulu, saat ini memang memuncak. Kasus seperti Lia Aminuddin dan Ahmad Mushoddeq, itu merupakan kasus-kasus yang membuat ahli mulai memasuki wilayah ini. Mereka mencari tahu, apakah spiritualitas itu berdiri sendiri ataukah ada kaitannya dengan otak manusia?&lt;br /&gt;Ada tiga teori yang berkembang dalam dunia kedokteran terutama yang mendalami hubungan otak dengan spiritualisme, khususnya soal kehadiran Tuhan. Teori pertama adalah God Modul atau God Spot, yang sering salah dipakai oleh orang yang tidak mengerti. Di Indonesia ini banyak sekali kesalahan memakai istilah God Spot, seolah-olah Tuhan itu merupakan sesuatu yang berupa bercak atau modul dalam otak manusia. Teori ini yang mengenalkan adalah Prof V.S. Ramachandran, Direktur Center for Brain and Cognition di Universitas California. Ramachandran berpendapat bahwa pada bagian otak yang namanya lobus temporal itu ada bagian yang kalau dipicu, manusia akan ada pada pengalaman spiritual. Tapi yang dia maksud tidak sesederhana yang dibayangkan oleh orang-orang yang tidak mengerti tentang ini. Seolah-olah God Spot adalah segala-galanya bagi sebuah spiritualitas.&lt;br /&gt;Teori kedua, teori circuit. Artinya kehadiran Tuhan itu bukan sebuah modul tapi sirkuit, beberapa komponen yang saling berhubungan. Jadi dalam otak kita, menurut beberpa ahli ada sirkuit yang kalau dipicu salah satu komponen maka manusia memiliki pengalaman spiritual.&lt;br /&gt;Dan ketiga, yang menurut saya paling tepat, yaitu teori katalisator atau enzim. Enzim itu fungsinya adalah mengkatali sebuah perubahan kimia dalam tubuh. Jadi misalnya dalam otak itu ada sirkuit spiritual yang spesifik untuk hal-hal yang membaur dengan spiritualitas. Ini terletak di bagian depan yang kita sebut dengan area asosiasi orientasi, dan area asosiasi atensi yang terletak di otak belakang. Ini adalah komponen otak yang berperan ketika seseorang itu merasa memiliki pengalaman spiritual. Tapi pengalaman spiritual itu tidak inheren di otak, harus dipicu dari luar, yang dalam istilah para sufi itu kehadiran Tuhan.&lt;br /&gt;Jadi perasaan spiritualitas itu datang kepada otak manusia dan bergabung dengan sirkuit spiritual, yang kemudian melahirkan pengalaman spiritual. Jadi spiritualitas bukan sesuatu yang berada dalam diri manusia. Manusia hanya menyediakan semacam antena atau katalisator yang memandu informasi dari luar.&lt;br /&gt;Sementara itu, pengalaman spiritual itu ada empat termin. Ibarat orang berjalan dari satu tempat ke tempat yang lain, maka dia harus melewati keempat terminal yang keempat-keempatnya merupakan pengalaman spiritual, dilihat dari kaca mata bagian otak yang terlibat.&lt;br /&gt;Pertama perasaan estetik. Ini terjadi bila anda melihat sebuah bunga yang indah, anda melihat alam semesta yang hebat, Ibu yang melahirkan dan seterusnya, anda akan mengalami perasaan estetis. Itu pengalaman mistis. Anda dan atau semua orang pernah mengalaminya.&lt;br /&gt;Kedua namanya cinta, ketika ia merasa terlibat pada sebuah tindakan. Misalkan ketika ia melihat air mengalir, ia merasa seolah-olah merupakan bagian dari air itu.&lt;br /&gt;Ketiga namanya takjub, rasa kagum di luar batas ketika seseorang mengamati sesuatu. Jadi melebihi pengalaman estetik yang pertama dan kedua.&lt;br /&gt;Dan keempat adalah penyatuan atau univikasi, yang dalam istilah hindu disebut nirwana, Kristen union mistika dan Islam menyebutnya fana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bisa dijelaskan tentang univikasi?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Misalkan al Hallaj memverbalkan pengalaman spiritualnya dengan istilah Ana Al Haq, saat itu fungsi sistim limbik dan batang otak atau area asosiasi orientasi yang terletak di bagian belakang otak yang berfungsi membentuk imaginasi tentang diri pada level 3 dimensi, itu hilang digantikan oleh sistem talamokortikal yang sangat giat sekali aktivitasnya. Akibat hilangnya fungsi area asosiasi orientasi, maka diri seseorang itu tidak bisa dipersepsi. Seseorang itu merasa menyatu dengan alam semesta, dia merasa menyatu dengan lingkungan sekitar. Dia tidak lagi melihat dirinya sendiri di mana. Ini pengalaman unifikasi yang dalam kajian neuroscience terjadi saat otak belakang, terutama area asosiasi visual yang befungsi menyusun struktur tubuh manusia dalam posisi 3 dimensi itu hilang. Ini posisi tertinggi yang dialami seseorang yang saat itu merasa menjadi bagian dari alam semesta. Nah dari pengalaman tersebut, acapkali kita salah faham, kita menganggap al Hallaj itu mengaku sebagai Tuhan. Padahal tidak.&lt;br /&gt;Nah pada pengalaman estetik sebaliknya, yang aktif saat itu justru visual, yakni area asosiasi orientasi yang terletak di otak belakang. Jadi kesadaran sebagai manusia masih ada. Tapi pada unifikasi, keasadaran sebagai manusia yang sadar itu hilang. Dengan kata lain kesadarannya berubah menjadi menyatu dengan alam semesta.&lt;br /&gt;Ini tentang pengalaman spiritual, makanya bila anda perhatikan pelatihan-pelatihan yang banyak dilakukan saat ini, termasuk pengalaman yang dialami Lia Aminuddin, itu pengalaman spiritual pada level satu atau paling tinggi pada level cinta. Mereka belum sampai pada level penyatuan atau unifikasi. Jadi pengalaman yang dialami Lia Aminuddin itu pengalaman biasa yang kita semua bisa alami.&lt;br /&gt;Dari pengalaman spiritual di atas, yang terpenting itu adalah, apakah pengalaman spiritual itu semata-mata hanya pengalaman spiritual saja ataukah pengalaman spiritual itu mampu membawa perubahan pada seseorang? Kalau pengalaman spritual itu benar-benar pengalaman spiritual yang sebenarnya, maka orang itu pasti akan berubah menjadi baik. Tentu saja ada ukuran tertentu untuk menilainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ada yang mengatakan, pengalaman ‘spiritual’ antara orang gila dengan orang saleh itu sama. Bisa dijelaskan?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pertama, kalau orang gila (skizofrenia), itu pengalaman tanpa sadar. Tidak ada yang memicu. Sementara pengalaman spiritual itu dipicu oleh stimulus dari luar. Kedua, pada orang gila itu memang kelainan. Sementara pengalaman orang soleh itu tidak. Ketiga, pengalaman mistik ini biasanya terjadi hanya sekali, dan tidak bisa berlangsung lama. Paling hanya berlangsung 2-3 menit saja atau paling lama 30 menit. Ini seperti hasil riset yang pernah dilakukan terhadap Pendeta Zen di Jepang. Sementara orang gila itu bisa sepanjang waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Konon, berkat God Spot, pengalaman spiritual itu bisa dialami semua orang meski pun ia atheis?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman spiritual dalam otak itu bukan spot atau nokhtah. Spot itu titik saja. Pengalaman spiritual itu sirkuit, yaitu ada beberapa titik yang saling berhubungan. Itu pemahaman keliru orang yang tidak paham. Jadi God Spot yang ditemukan oleh Prof V.S. Ramachandran yang dipopulerkan oleh media massa itu tidak seperti yang dia maksud. Karena Ramachandran itu menunjuk pada daerah otak yang disebut lobus temporal, tapi ternyata pengalaman spiritual itu tidak hanya titik yang bernama lobus temporal, dia terlibat dalam sebuah sirkuit. Bila titik, ibarat telphon itu hanya satu, dan anda tidak bisa berkomunikasi. Sementara sirkuit, ibaratnya anda melibatkan telephon anda pada orang lain, dan anda bisa berkomunikasi. Sementara God Spot itu hanya menunjuk satu titik saja. Jadi teori God Spot itu tidak kuat. Itu menjadi kuat hanya pada pelatihan-pelatihan yang tidak mengerti tentang apa itu God Spot!&lt;br /&gt;Jadi sirkuit spiritual dalam otak, itu tidak akan bisa berfungsi bila tidak ada stimulus dari luar. Apa itu stimulus spiritual? Bisa macam-macam. Pertama, ada semacam obat-obatan kimia di mana bila anda menghirupnya, maka sirkuit spiritual anda akan aktif dan anda punya pengalaman spiritual. Kedua, bila anda menderita epilepsi, dan sirkuit spiritual itu teraktivasi, anda juga bisa mempunyai pengalaman ‘spiritual’. Ketiga, bila ada stimulasi listrik ke sirkuit spiritual anda (seperti yang dilakukan oleh Dr Persinger, red), maka anda juga akan merasakan pengalaman spiritual. Keempat, pengalaman spiritual yang datang dari luar, diberi oleh Tuhan, yang kemudian masuk ke dalam sirkuit spiritual anda, sehingga menghasilkan pengalaman spiritual. Jadi sirkuit spiritual atau katalisator itu bisa dipicu dengan berbagai macam hal. Indikator orang yang mengalami pengalaman spiritual yang tepat itu adalah, setelah mengalaminya maka akan ada perubahan menjadi lebih baik. Ini indikator penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kalau pengalaman spiritual yang diperoleh secara instan dengan pendakian panjang, adakah perbedaan antara mereka?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dialami oleh orang-orang yang mengikuti pelatihan-pelatihan itu memang benar sirkuit spiritual, tapi itu instan. Karena untuk mengakifkan sirkuit spiritual di otak itu tidak hanya dengan menonton, mendengar atau lainnya. Ada ritual-ritual tertentu, yang kemudian sirkuit ini bisa teraktivasi secara konstan. Nah untuk melihat perbedaan, apakah ini pengalaman spiritual yang dipicu oleh spiritual instan atau tidak, itu bisa kita lihat dari perilaku mereka dalam ranah sosial.&lt;br /&gt;Ada penelitian di Jepang yang membedakan antara Pendeta Zen yang sedang bermeditasi dengan penderita skizofrenia. Ini ilmiah. Mereka menemukan data bahwa pengalaman mistik yang dialami Pendeta Zen itu menujukkan pengalaman spiritual yang dialaminya bisa hilang dan bisa datang lagi. Sementara pengalaman mistik yang dialami oleh penderita skizofrenia itu terus berlangsung tanpa ada fase berhenti. Itu tanda pertama. Artinya, seorang mistikus atau sufi, itu menyadari bahwa dia mengalami pengalaman spiritual. Berbeda dengan penderita skizofrenia yang tidak sadar dengan apa yang dialaminya.&lt;br /&gt;Kedua, bila seorang sufi mengalami pengalaman spiritual maka ia akan kembali kepada masyarakat dan melakukan pencerahan. Ini yang ditampilkan oleh Rosulullah setelah Isra’ Mi’raj. Coba anda bayangkan, kalau dipikir-pikir secara logis, Nabi Muhammad sudah ada di Surga, ngapain balik di dunia? Jadi bagi orang yang memiliki pengalaman spiritual yang unik ini, ia harus kembali kepada masyarakat dan memberikan pencerahan kepada masyarakat.&lt;br /&gt;Nah kepada teman-teman yang bergiat dalam dunia pelatihan tersebut, saya memberikan apresiasi yang sangat dalam kepada mereka, artinya sebagai usaha yang patut dihargai. Tapi sekali lagi, spiritualitas yang dilahirkan itu instan sekali. Spiritual yang bobotnya lebih rendah apabila dibandingkan dengan spiritualitas yang ditumbuhkan secara baik dari diri sendiri.&lt;br /&gt;Orang yang mengikuti spiritualitas instan itu merasa beriman ketika ada induksi dari luar. Jadi bila anda ada dalam sebuah ruangan dan anda diinduksi dengan film, cerita dan lainnya, anda akan menjadi sangat beriman. Tapi ketika anda pulang ke rumah, maka keimanan anda tertinggal di ruangan tadi. Jadi efeknya sejenak saja. Tapi bila melalui pendakian yang sangat dalam, maka efeknya akan sangat panjang.&lt;br /&gt;Nah selama ini yang kita lihat, pelatihan yang melibatkan banyak orang, para peserta itu memang menangis dan merasa dekat dengan Tuhan. Tapi setelah pulang, mereka kemudian menjadi biasa. Itu kan sama saja dengan dzikir massal yang sejak zaman dulu sudah ada.&lt;br /&gt;Jadi para peserta pelatihan instan itu terkondisikan sedemikian rupa, tapi setelah kondisi itu hilang, maka hlang pulalah pengalaman itu. Bahkan menurut saya yang dialami bukan pengalaman spiritual, tapi seolah-olah pengalaman spiritual.*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adib Minanurrachim&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2483512749123335218-2857641574985092292?l=adibdata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adibdata.blogspot.com/feeds/2857641574985092292/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2483512749123335218&amp;postID=2857641574985092292' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/2857641574985092292'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/2857641574985092292'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adibdata.blogspot.com/2008/02/dr-h-taufik-pasiak-m-pdi-m-kes.html' title='“PENGALAMAN SPIRITUAL TIDAK INHEREN DI OTAK”'/><author><name>Adib Minanurrachim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15129533338323743129</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-I2gRc1Ay-KI/Trz7pcj6bYI/AAAAAAAAAJM/rpVJ_fN0h8A/s220/wajah%2B%252846%2529.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2483512749123335218.post-2798170062452139973</id><published>2008-02-11T23:34:00.000+07:00</published><updated>2008-02-13T23:57:05.468+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='LAPORAN'/><title type='text'>PEMBERSIHAN DIRI</title><content type='html'>&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Syarat pertama menyelami makrifat adalah niat membersihkan diri dari segala hal yang negatif. Pembersihan diri atau tazkiyah an nafs ini bisa diawali dengan mandi besar.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“SILAHKAN bersihkan pikiran anda dengan keinginan kuat. Biarlah otak anda merespon bahwa Anda ingin bersih. Niatkan dzikir kepada Allah. Rasakan sampai terasa dingin mengalir.”&lt;br /&gt;Kata-kata ustadz Abu Sangkan terasa menjalari keheningan. Merasuk kesadaran tiap orang yang hadir pada Malam Jum’at, 27 Desember 2007, di gedung Sekretariat Shalat Center.&lt;br /&gt;“Duduklah dengan sempurna agar tubuh Anda bisa merespon dengan sempurna,” lanjut ustadz Abu Sangkan. “Ketika hati Anda tunduk berdzikir, biarkan otak Anda terlibat sampai menggetarkan seluruh syaraf-syaraf Anda. Sampai ke ujung-ujung kaki dan tangan Anda. Otaklah yang akan menghantarkan pesan ke seluruh bagian tubuh Anda. Lalu tanamkan keinginan kuat: Ya Allah bersihkanlah hati, pikiran dan tubuhku. Ya Allah tuntunlah aku. Allah.”&lt;br /&gt;Seluruh jama'ah mengikuti instruksi ustadz Abu Sangkan. Beberapa orang bersedekap erat, memeluk tubuhnya. Matanya mengatup, mengheningkan pikir. Menyelami lautan spiritual. Bersedia menerima energi ilahiyyah.&lt;br /&gt;“Jangan ragu, biarlah daya ilahi menjalar ke seluruh syaraf dalam tubuh anda. Jangan sampai ada pikiran negatif. Tanamkan pikiran positif dan ucapkan kalimah Allah-Allah. Otak kita akan merespon ketika tubuh kita menerima energi ilahiyyah. Allahu Akbar, ya Rahman ya Rahim. Terus tanamkan hal positif ini. Allahu Akbar. Lalu 'ikatlah' hingga Anda menjadi baik. Menjadi sayang, menjadi santun. Akhlaknya seperti akhlak Allah... sampai otak belakang Anda menyimpannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Mandi Junub&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;RELAKSASI di atas merupakan bagian dari rangkaian kegiatan pengajian Malam Juma’atan yang diselenggarakan di Sholat Center, Jatibening, Bekasi, sekaligus sebagai syukuran kepulangan ustadz Abu Sangkan yang baru datang dari Tanah Suci, Makkah.&lt;br /&gt;Pada malam Jum'at itu, ustadz Abu Sangkan mengupas materi tentang pentingnya niat mandi besar atau mandi junub. Menurutnya, mandi besar itu tidak sekedar mengalirkan air ke seluruh sela-sela tubuh. Tapi juga harus diiringi dengan niat kuat untuk membersihkan jiwa dan raga. “Mandi junub itu tak sekedar membersihkan kotoran dengan air. Tapi harus diniati, dikarepi.”&lt;br /&gt;Mendengar uraian tersebut, mulanya wajah beberapa jama'ah menunjukkan keheranan. “Kok ini yang saya lihat. Aneh ya, kayak nggak ada hubungannya,” kata ustadz Abu Sangkan. “Padahal tidak ada yang zina kan?”.&lt;br /&gt;Tapi begitulah bahasan halaqah Malam Jum’atan. Materinya mengalir begitu saja, sesuai dengan tuntunan ilahi yang diterima.&lt;br /&gt;Sebelum jama'ah lebih kebingungan, ustadz Abu Sangkan menjelaskan bahwa selain merupakan syarat syahnya sholat, mandi besar juga diperuntukkan membersihkan jiwa. Ia membedakan mandi besar secara fiqhiyyah (teori) dan hakikat (falsafi).&lt;br /&gt;”Pernahkah mandi junub dipelajari dengan benar, seperti saat kita sholat? Artinya selama ini kita asal mandi kan? Ini seolah sepele, tapi ini syarat sahnya sholat. Mandi besar itu membersihkan setiap bagian tubuh, semuanya. Semua harus dilakukan dengan niat atau karep yang kuat hingga otak merespon,” jelasnya.&lt;br /&gt;Saat mandi besar dianjurkan untuk melakukan usapan pada seluruh sela-sela tubuh. “Kenapa Rasulullah menyarankan untuk mengelus tiap bagian tubuh yang dialiri air? Ini membangunkan dan mengajak seluruh bagian tubuh kita untuk merasakan apa yang jiwa kita rasakan. Jika Anda mandi dan berdoa, 'Ya Allah bersihkan saya', pasti ada bagian tubuh lainnya yang tidak ikut. Tapi bila kita berdoa sambil mengusapkan tangan mulai dari ujung rambut lalu turun ke muka dan terus ke bawah dengan penuh penghayatan, saat itu sel-sel tubuh kita akan bergetar, itulah respon otak. Seluruh neuron-neuron syaraf akan bergetar dan mengiyakan. Jadi seluruh tubuh harus diniati, dibersihkan sambil diusap, bahkan sampai kemaluan, pantat, sela kaki dan seterusnya,” lanjutnya.&lt;br /&gt;Setelah memberikan penjelasan, lalu ustadz Abu Sangkan mengajak seluruh jama’ah untuk melakukan relaksasi. Seiring semilir angin malam yang terasa menembus tulang, semua hadirin mengikuti instruksi ustadz Abu Sangkan. Gerakan-gerakannya perlahan dan penuh penghayatan.&lt;br /&gt;Selang setengah jam, relaksasi selesai. Waktu sudah menunjukkan pukul 01.00 pagi. Sebelum membubarkan acara yang rutin dilaksanakan setiap Malam Jum’at ini, ustadz Abu Sangkan bertanya kepada seluruh jama'ah, “Adakah korelasinya belajar ketuhanan dengan masalah junub ini?” Sejenak para hadirin terdiam. Selanjutnya tersenyum penuh arti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adib Minanurrachim&lt;br /&gt;Dimuat di SC Vol VI&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2483512749123335218-2798170062452139973?l=adibdata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adibdata.blogspot.com/feeds/2798170062452139973/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2483512749123335218&amp;postID=2798170062452139973' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/2798170062452139973'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/2798170062452139973'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adibdata.blogspot.com/2008/02/pembersihan-diri.html' title='PEMBERSIHAN DIRI'/><author><name>Adib Minanurrachim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15129533338323743129</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-I2gRc1Ay-KI/Trz7pcj6bYI/AAAAAAAAAJM/rpVJ_fN0h8A/s220/wajah%2B%252846%2529.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2483512749123335218.post-4096203097689702966</id><published>2008-02-11T23:30:00.000+07:00</published><updated>2008-02-13T23:56:16.843+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='LAPORAN'/><title type='text'>JEJAK PITUNG DI MARUNDA</title><content type='html'>&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Sebagai Robin Hood Betawi, Pitung jarang menetap. Ia sering berpindah tempat, menghindar dari kejaran Belanda, sambil terus merampas harta tuan tanah dan melindungi nasib rakyat kecil dari penindasan. Di antara jejaknya terdapat di Masjid Al Alam dan Rumah Joglo di Marunda Pulo.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAGI masyarakat Betawi, Pitung adalah pahlawan. Ia hidup di abad 19, warga Rawabelong, dengan ayahnya, Piun, asal Cirebon dan ibunya, Pinah, dari Betawi.&lt;br /&gt;Si Pitung menjadi terkenal bukan hanya karena keberaniannya melawan Belanda, tapi juga kepeduliannya terhadap nasib rakyat yang tertindas oleh kekuasaan Belanda dan tuan tanah.&lt;br /&gt;“Saat itu, kehidupan sosial masyarakat sangat tidak manusiawi. Para tuan tanah tak segan-segan meminta pajak yang tinggi kepada para petani. Bila para petani tidak bisa segera membayar pajak sesuai dengan jatuhnya tempo, maka para begundal tuan tanah itu akan memaksa para petani tersebut dengan cara-cara kasar. Nah dalam situasi seperti itu, munculah Si Pitung,” kata Alwi Shahab, penulis novel Pitung, Robin Hood Betawi.&lt;br /&gt;Dalam perjalanannya, Si Pitung tidak hanya melindungi rakyat dari para begundal (pendekar bayaran) para tuan tanah, tapi juga merampok harta kekayaan mereka, kemudian membagikannya kepada rakyat kecil. Terhadap sepak terjang Si Pitung ini, tidak hanya tuan tanah yang tidak tenang, tapi juga Belanda. “Jakarta tidak aman. Akhirnya Belanda menurunkan Schout van Hinne, kepala kepolisian untuk menangkap Si Pitung,” lanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEBAGAI seorang buron, Pitung tidak memiliki tempat menetap yang pasti. Konon, ia pernah tinggal di Kota Depok, tepatnya di salah satu gedung milik bangsawan asal Belanda, Cornelis Chastelein. Warga Depok lebih sering menyebut gedung tersebut sebagai rumah tua Pondok Cina, karena letaknya yang berada di Kelurahan Pondok Cina, Kecamatan Beji.&lt;br /&gt;Sayangnya, bangunan tua yang berada di Jalan Margonda Raya tersebut sudah tidak ada. Gedung yang menjadi saksi sejarah Kota Depok tersebut sudah terkepung oleh sebuah mal supermegah bernama Margonda City. Memang, projek pembangunan Margonda City tidak sampai menggusur gedung tersebut. Meski begitu, fungsi bangunan sudah berubah menjadi sebuah kafe.&lt;br /&gt;Cerita lainnya, Pitung juga pernah tinggal di Kampung Marunda, baik di Masjid Al Alam atau di rumah joglo kampung Marundo Pulo.&lt;br /&gt;Banyak versi tentang hubungan Pitung dengan masjid Al Alam. Ada yang mengatakan bahwa Masjid Al Alam merupakan tempat bermain Pitung, belajar agama, belajar pukulan sampai sembunyi dari opas dan kompeni. Tapi ada juga yang mengatakan bila Pitung hanya singgah sebentar di Masjid Al Alam untuk mendirikan sholat. Dua pendapat ini menjadi tidak kuat karena tidak ada bukti fisik yang bisa menjelaskan keberadaan Pitung di Masjid tersebut, kecuali pemahaman masyarakat sekitar bahwa Pitung pernah berada di Masjid itu.&lt;br /&gt;Selain Masjid Al Alam, pitung juga pernah menjejakkan kakinya di kampung Marunda Pulo, tepatnya di rumah berbentuk joglo yang terletak sekira 250 m di sebelah selatan masjid Al Alam. Seperti halnya dengan Masjid Al Alam, beragam pendapat menjelaskan hubungan Pitung dengan rumah joglo ini. Ada yang mengatakan bahwa rumah itu milik Pitung, tapi juga ada pendapat yang menjelaskan bahwa rumah itu milik orang kaya yang pernah disatroni Pitung dan para pengikutnya. “Pihak museum mengklaim itu milik si Pitung. Padahal sesungguhnya itu milik orang kaya Marunda dan pernah digarong sama Pitung,” kata M Sambo bin Ishak, wakil ketua Pengurus Masjid Al Alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan asli&lt;br /&gt;RUMAH panggung itu awalnya dibangun tiga kamar, tetapi kemudian dua di antaranya dibongkar sehingga tinggal satu kamar, tanpa perabot. Panjangnya 15 meter dan lebar lima meter. Di bagian tengahnya ada tambahan sayap di kiri-kanan, masing-masing 1,5 meter. Semuanya terbuat dari papan kayu jati, dan beberapa bagian ada besi, seperti jeruji jendela dan penyangga atap.&lt;br /&gt;Tiang penopang bangunan ada 40 buah, tingginya dua meter, tinggi bangunan juga dua meter. Karena bentuknya seperti itu, ruangannya pun tampak pendek, apalagi kalau melewati pintu, pengunjung harus merunduk.&lt;br /&gt;Lantai dari papan kayu jati, sebgaian masih baru. Ada sepuluh jendela yang berdaun pintu dan berjeruji, sedang dua lainnya tanpa jeruji dan daun. Siang hari jendela itu selalu dibuka. Di rumah itulah si jawara Betawi tinggal selama beberapa tahun setelah dikejar-kejar Belanda hingga akhirnya ditangkap, mati dan konon dikuburkan di Pejagalan.&lt;br /&gt;Kalau air laut pasang, pekarangan dan bagian kolong rumah tergenang air laut hingga 50 cm. Cat bangunan rumah yang merah darah sudah memudar.&lt;br /&gt;H Atit Fauzi, tokoh Marunda Pulo, pernah mengatakan bahwa rumah Pitung itu bukan bangunan aslinya, kecuali lokasi tempat rumah itu dibangun. Rumah aslinya dahulu milik juragan nelayan sero, yakni Haji Syafiuddin.&lt;br /&gt;Sementara mengenai perubahan nama pemilik rumah tersebut, bermula dari usaha Pemprov DKI Jakarta untuk mengabadikan nama Pitung, dan selanjutnya ditetapkan sebagai cagar budaya pada tahun 1992.&lt;br /&gt;“Meski dicap sebagai penjahat oleh tuan tanah dan kompeni, ia disanjung oleh rakyat jelata karena sifatnya suka menolong. Sebagai jawara silat, ia menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran, rendah hati, berbudi pekerti baik dan peka terhadap penderitaan orang lain. Ia tidak menggunakan ilmu kesaktian dan bela dirinya demi kesempurnaan diri dan kepuasan materi, kecuali demi kesempurnaan spiritual dan kebahagiaan manusia di sekitarnya," kata Alwi Shahab.*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adib Minanurrachim&lt;br /&gt;Dimuat di SC Vol VI&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2483512749123335218-4096203097689702966?l=adibdata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adibdata.blogspot.com/feeds/4096203097689702966/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2483512749123335218&amp;postID=4096203097689702966' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/4096203097689702966'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/4096203097689702966'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adibdata.blogspot.com/2008/02/jejak-pitung-di-marunda.html' title='JEJAK PITUNG DI MARUNDA'/><author><name>Adib Minanurrachim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15129533338323743129</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-I2gRc1Ay-KI/Trz7pcj6bYI/AAAAAAAAAJM/rpVJ_fN0h8A/s220/wajah%2B%252846%2529.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2483512749123335218.post-3562636817023517987</id><published>2008-02-11T23:27:00.000+07:00</published><updated>2008-02-13T23:54:51.053+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='LAPORAN'/><title type='text'>MASJID AL ALAM MARUNDA: SEMALAM DIBANGUN, MANFAAT BERATUS TAHUN</title><content type='html'>&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Konon Masjid Al Alam (Al Auliya) Marunda, dibangun hanya dalam tempo semalam. Banyak kisah heroik muncul dari masjid ini, di antaraya Si Pitung.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“MENCARI barokah,” begitulah kata Mulyonorahim, salah satu peziarah saat ditanya tujuannya datang ke Masjid Al Alam Marunda, Cilincing, Jakarta Utara. Lelaki asal Kota Pasuruan Jawa Timur itu sudah dua bulan menetap di Masjid Al Alam. Saat ditemui, ia sedang menata ubin lantai di sebelah kanan Masjid. “Saya berniat lillahi ta’ala membantu,” jawabnya.&lt;br /&gt;Senada dengan Mulyono, beberapa peziarah lainnya seperti Fathoni, Madjid dan Ramli juga berniat mencari barokah dengan banyak melakukan ritual ibadah di Masjid Al Alam.&lt;br /&gt;Kedatangan para peziarah yang berasal dari berbagai daerah itu, tidak lepas dari keistimewaan sejarah Masjid Al Alam yang konon dibangun oleh Walisongo. “Masjid ini dibangun Walisongo dengan tempo semalam, saat menempuh perjalanan dari Banten ke Jawa,” kata M. Sambo bin Ishak, wakil ketua Masjid Al Alam. “Karena itu, nama asli masjid ini Al Auliya, masjid yang dibangun para wali Allah,” lanjutnya.&lt;br /&gt;Sementara di tempat terpisah, tokoh Betawi, Alwi Shahab, mengatakan bahwa pendiri masjid Al Alam adalah Fatahilah dan pasukannya pada tahun 1527 M, setelah mengalahkan Portugis di Sunda Kelapa. “Ada keyakinan di masyarakat Marunda, bahwa Fatahillah membangun Masjid Al-Alam hanya dalam sehari,” katanya di Kantor Harian Republika.&lt;br /&gt;Meski berbeda pendapat, baik Sambo dan Alwi Shahab mengatakan hal yang sama bahwa Masjid Al Alam dibangun hanya dalam tempo semalam, meski pijakan alasan keduanya berbeda.&lt;br /&gt;Berangkat dari tempo pembangunan itu, tidak mengherankan bila masjid yang ukurannya mirip musala itu menjadi istimewa bagi masyarakat Marunda khusunya, dan umat Islam umumnya. Terlebih bila mengingat bahwa Masjid Al Alam juga sarat nilai sejarah perlawanan terhadap penjajah.&lt;br /&gt;Seratus tahun kemudian (1628-1629), lanjut Alwi Shahab, ketika ribuan prajurit Mataram pimpinan Bahurekso menyerang markas VOC (kini gedung museum sejarah Jakarta) para prajurit Islam ini lebih dulu singgah di Marunda untuk mengatur siasat perjuangan.&lt;br /&gt;Penuturan Alwi Shahab tersebut, senada dengan penjelasan Sambo tentang lubang kecil berbentuk setengah oval yang terdapat di bagian kiri masjid Al Alam. Menurutnya, lubang tersebut digunakan sebagai pengintaian terhadap bala tentara musuh. “Tidak hanya tentara Demak, tapi juga Si Pitung, Si Ronda, Si Jampang, Si Mirah dan lainnya pernah bersembunyi di sini dari kejaran Belanda. Mereka bisa selamat karena menurut cerita, bila bersembunyi di Masjid ini mereka tidak akan kelihatan.”&lt;br /&gt;Sementara itu, melihat arsitektur Masjid Al Alam akan mengingatkan pada model Masjid Demak, namun berskala lebih mini—ukurannya 10×10 m2. Atapnya yang berbentuk joglo ditopang oleh 4 pilar bulat “kuntet,” seperti kaki bidak catur. Mihrab yang pas dengan ukuran badan menjorok ke dalam tembok, berada di sebelah kiri mimbar. Uniknya masjid ini berplafon setinggi 2 meter dari lantai dalam.&lt;br /&gt;Kemudian, di bagian kiri Masjid, dulunya merupakan kolam yang digunakan untuk mencuci kaki sebelum masuk masjid. Ini mengingatkan pada arsitektur Masjid Agung Banten Lama. Bedanya, kolam di Masjid Agung Banten Lama terletak di bagian depan halaman masjid. “Dulunya di sini memang kolam. Buktinya ada sumur di samping masjid,” kata Sambo sambil menunjuk letak kolam yang saat ini sudah tertutup ubin berwarna merah dan sebuah sumur yang sudah ditutup.&lt;br /&gt;Beberapa bagian masjid lainnya masih asli. Di antaranya adalah tembok di ruang utama masjid yang memiliki ketebalan sekira 27 cm dan hiasan jendela yang terdapat di ruang pengimaman. “Itu juga asli, dalamnya terbuat dari batu giok,” lanjutnya.&lt;br /&gt;Selain itu, Sambo juga menunjukkan sebuah tongkat yang terukir melingkar seperti ular. Menurutnya, tongkat tersebut cukup istimewa dan hanya dikeluarkan setiap hari Jum’at untuk khutbah. “Tongkat ini datangnya misterius. Tiba-tiba datang ke sini lewat air,” katanya.&lt;br /&gt;Saat ini, masjid yang terletak di tepi pantai itu tidak pernah sepi. Selalu diziarahi, terutama setiap malam Jumat Kliwon dengan kegiatan rutin berupa istighosah.&lt;br /&gt;Dengan keistimewaan Masjid Al Alam, baik nilai-nilai sejarah perlawanan yang heroik dan karomah para pendirinya, dalam perkembangannya juga membawa manfaat bagi masyarakat sekitar Marunda, baik yang berhubungan dengan nilai-nilai islami maupun rizki. Dengan ramainya para peziarah, masyarakat bisa mengambil keuntungan dengan menjual makanan di sekitar Masjid Al Alam.&lt;br /&gt;Demikianlah keistimewaan masjid Al Alam atau Al Auliyah Marunda. Meski dibangun hanya dalam tempo semalam, tapi manfaatnya terasa beratus tahun.*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adib Minanurrachim&lt;br /&gt;Dimuat di SC Vol VI&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2483512749123335218-3562636817023517987?l=adibdata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adibdata.blogspot.com/feeds/3562636817023517987/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2483512749123335218&amp;postID=3562636817023517987' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/3562636817023517987'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/3562636817023517987'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adibdata.blogspot.com/2008/02/masjid-al-alam-marunda-semalam-dibangun.html' title='MASJID AL ALAM MARUNDA: SEMALAM DIBANGUN, MANFAAT BERATUS TAHUN'/><author><name>Adib Minanurrachim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15129533338323743129</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-I2gRc1Ay-KI/Trz7pcj6bYI/AAAAAAAAAJM/rpVJ_fN0h8A/s220/wajah%2B%252846%2529.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2483512749123335218.post-7930326903919978568</id><published>2007-12-27T13:22:00.000+07:00</published><updated>2007-12-27T13:23:34.910+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='LAPORAN'/><title type='text'>MASJID AGUNG BANTEN LAMA: NAFAS SEJARAH DAN BUDAYA</title><content type='html'>&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Masjid berarsitektur unik, perpaduan gaya Hindu Jawa, China dan Eropa. Tapi tetap sarat nilai-nilai Islami.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BERDIRINYA Masjid Agung Banten tidak lepas dari tradisi masa lalu, di mana dalam sebuah kota Islam terdapat minimal 4 komponen. Pertama, ada istana sebagai pusat pemerintahan dan tempat tinggal raja-raja. Kedua, Masjid Agung sebagai pusat peribadatan. Ketiga, ada alun-alun sebagai pusat kegiatan dan informasi. Keempat, ada pasar sebagai pusat kegiatan ekonomi. Keempat komponen ini, jejaknya masih terdapat di Desa Banten Lama Kecamatan Kasemen Kabupaten Serang. Tapi yang masih kokoh berdiri dan berfungsi hingga saat ini hanya Masjid Agung.&lt;br /&gt;Masjid Agung Banten, sebagaimana masjid tua dan bersejarah lainnya, selalu diramaikan para peziarah yang bisa mencapai ribuan orang dari berbagai daerah di Jawa umumnya. Sering kali jumlah mereka mencapai puncaknya pada bulan Syawal, Haji, Maulud, Rajab dan Ruwah. Sementara setiap hari Kamis, Jumat dan Minggu juga menjadi hari pilihan bagi para peziarah untuk mengunjungi Masjid Banten. Ada juga waktu yang paling ramai yaitu malam Jum’at ketika malam 14 bulan purnama. “Mereka percaya malam Jumat tanggal 14 bulan purnama adalah waktu di mana para auliya’ berkumpul dan bermusyawarah sehingga dikeramatkan, dan bila berziarah pada tanggal itu doanya mustajabah. Meski faktanya, tidak semua orang berdoa dan beriktikaf di masjid, ada juga yang main-main,” kata M. Al Hatta Kurdie, Sie Pendidikan dan Informasi Kenadziran Masjid Agung Banten Lama.&lt;br /&gt;Bangunan masjid yang terletak sekira 10 km sebelah utara Kota Serang ini merupakan peninggalan Sultan Maulana Hasanuddin (1552-1570), putera pertama Sunan Gunung Jati. Konon, pembangunan Masjid Agung Banten bermula dari instruksi Sunan Gunung Jati kepada Hasanuddin untuk mencari sebidang tanah yang masih suci untuk pembangunan Kerajaan Banten. Hasanuddin lalu shalat dan bermunajat kepada Allah agar diberi petunjuk tentang tanah yang dimaksud ayahandanya. Setelah berdo’a, spontanitas air laut yang berada di sekitarnya menyibak menjadi daratan. Selanjutnya, Hasanuddin mulai mendirikan Kerajaan Banten beserta komponen-komponen lainnya, seperti alun-alun, pasar dan masjid agung.&lt;br /&gt;Dalam pembangunan masjid agung, salah satu arsiteknya adalah Raden Sepat. “Raden Sepat mulanya dari Majapahit, kemudian membangun Masjid Demak, Cirebon dan Masjid Banten Lama ini. Jadi bukan ketaksengajaan bila antara masjid Demak, Cirebon dan Banten Lama secara arsitektur ada mata rantainya. Misalkan dari sisi atapnya, Masjid Agung Demak dan Cirebon itu memiliki atap tiga susun yang bermakna Iman, Islam dan Ikhsan. Ini hampir sama, hanya saja di sini lebih banyak yaitu lima susun, bermakna rukun islam,” kata Hatta Kurdie.&lt;br /&gt;Selain Raden Sepat, beberapa kalangan menyebut Cek Ban Cut sebagai arsitek lainnya. Pendapat ini berangkat dari analisis pada dua tumpukan atap konsentris paling atas yang samar-samar mengingatkan idiom Pagoda China. Kedua atap itu berdiri tepat di atas puncak tumpukan atap ketiga dengan sistem struktur penyalur gaya yang bertemu pada satu titik. Peletakan seperti itu memperlihatkan kesan seakan-akan atap dalam posisi kritis dan mudah goyah, namun hal ini justru menjadi daya tarik tersendiri.&lt;br /&gt;Dua tumpukan atap paling atas itu tampak lebih berfungsi sebagai mahkota dibanding sebagai atap penutup ruang bagian dalam bangunan. Tak heran jika bentuk dan ekspresi seperti itu sebetulnya dapat dibaca dalam dua penafsiran: masjid beratap tumpuk lima atau masjid beratap tumpuk tiga dengan ditambah dua mahkota di atasnya sebagai elemen estetik.&lt;br /&gt;Sejauh ini belum ada arsitektur masjid yang serupa dengan Masjid Agung Banten. Hanya lukisan Masjid Jepara sekira abad ke-16 yang dibuat Wouter Schouten dalam Reistogt Naar en Door Oostindien dan dipublikasikan pertama kali pada tahun 1676 serta dicetak ulang tahun 1780 memperlihatkan masjid beratap tumpuk lima. Masjid yang lukisannya pernah dipublikasikan Francois Valentijn dalam Oude en nieuw Oost-Indien itu memperlihatkan idiom pagoda Cina, baik dari bentuk, ekspresi, hingga ukirannya.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;ELEMEN menarik lainnya adalah menara di sebelah timur yang besar dan monumental serta tergolong unik karena belum pernah terdapat bentuk menara seperti itu di Jawa, bahkan di seluruh Nusantara. Karena menara bukanlah tradisi yang melengkapi masjid di Jawa pada masa awal, maka Masjid Agung Banten termasuk di antara masjid yang mula-mula menggunakan unsur menara di Jawa.&lt;br /&gt;Menara berkonstruksi batu bata setinggi kurang lebih 24 meter ini, konon dulunya lebih berfungsi sebagai menara pandang ke lepas pantai karena bentuknya mirip mercusuar daripada sebagai tempat mengumandangkan azan. Dan semua berita Belanda tentang Banten hampir selalu menyebutkan menara tersebut, membuktikan menara itu selalu menarik perhatian pengunjung Kota Banten masa lampau.&lt;br /&gt;Catatan Dirk van Lier di tahun 1659 maupun Wouter Schouten yang datang pada tahun 1661 menyebut, menara masih digunakan sebagai tempat penyimpanan senjata/amunisi orang Banten. Kemudian baru antara lain tulisan Stavorinus yang menulis tentang Banten tahun 1769 menyebut menara sebagai tempat memanggil orang untuk bersembahyang.&lt;br /&gt;Berita itu menunjukkan pula menara telah dibangun tidak berselang lama dengan pembangunan masjid. Dari hasil penelusuran Dr KC Crucq, yang pernah dimuat dalam karangannya berjudul Aanteekeningen Over de Manara te Banten (Beberapa Catatan tentang Menara di Banten) yang dipublikasikan dalam Tidscrift Voor de Indische Taal, Land and Volkenkunde van Nederlandsch Indie, dinyatakan, menara dibangun pada masa Sultan Maulana Hasanudin ketika putranya Maulana Yusuf sudah dewasa dan menikah.&lt;br /&gt;Seperti dikatakan Pijper (1947:280), menara berbentuk segi delapan itu mengingatkan pada bentuk mercusuar, khususnya mercu Belanda. Saat ini ada bukti peninggalan mercusuar buatan Belanda di Anyer sebelah barat Serang dari abad ke-19, yakni bangunan mercusuar yang dalam beberapa hal memiliki kemiripan dengan Menara Masjid Agung Banten. Bentuk tersebut lazim ditemukan di Negeri Belanda, seperti segi delapan, pintu lengkung bagian atas, konstruksi tangga melingkar seperti spiral, dan kepalanya memiliki dua tingkat. Dari sini, banyak pendapat yang menyimpulkan bahwa pembangunan menara segi delapan dan beberapa tiang penyanggah atap masjid yang juga bersegi delapan dipengaruhi arsitektur Belanda.&lt;br /&gt;Tapi demikian, Hatta Kurdie berpendapat lain. “Masjid ini dibangun jauh sebelum Belanda masuk ke Indonesia. Belanda masuk Banten itu kan tanggal 22 Juni 1596. Sementara masjid ini dibangun tahun 1552. Ada juga pendapat lain, bahwa ini pengaruh dari Budha yang memiliki delapan dewa penguasa delapan penjuru mata angin. Tapi saya lebih sepakat dengan pendapat yang mengatakan bahwa segi delapan pada menara dan ke 24 tiang penyangga atap masjid itu merupakan ide cerdas dari Raden Sepat. Delapan itu merupakan hasil pembagian dari 24 dibagi 3. Ke 24 tiang itu simbol waktu, 24 jam. Sementara 3 adalah simbol dari ibadah, ma’isyah dan istirohah. Jadi pesan yang ingin disampaikan, agar umat islam bisa memanfaatkan waktu seadil-adilnya untuk ketiga hal tersebut yang masing-masing memiliki alokasi waktu sebanyak 8 jam,” jelasnya.&lt;br /&gt;Sementara itu, di sisi selatan masjid terdapat bangunan bertingkat bergaya rumah Belanda kontemporer yang disebut tiyamah (paviliun). Bangunan yang dirancang arsitek Belanda, Hendrik Lucasz Cardeel di abad ke-18 itu dulunya menjadi tempat pertemuan penting. Saat ini, bangunan yang berdenah empat persegi panjang, dua tingkat dan masing-masing memiliki tiga buah ruang besar tersebut difungsikan sebagai museum benda peninggalan, khususnya alat perang. Langgam Eropa sangat jelas pada bangunan itu, khususnya pada jendela besar di tingkat atas. Jendela itu dimaksudkan memasukkan sebanyak mungkin cahaya dan udara.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;SEBENARNYA masih banyak elemen unik lainnya yang secara singkat dapat disebutkan, seperti adanya umpak dari batu andesit berbentuk labu berukuran besar dan beragam pada setiap dasar tiang masjid. Yang berukuran paling besar dengan garis labu yang paling banyak adalah umpak pada empat tiang saka guru di tengah-tengah ruang shalat. Ukuran umpak besar ini tidak akan kita temui di sepanjang Pulau Jawa, kecuali di bekas reruntuhan salah satu masjid Kasultanan Mataram di Plered, Yogyakarta.&lt;br /&gt;Menurut Hatta Kurdie, labu tersebut merupakan simbol dari pertanian. Karena Banten Lama terkenal makmur, gemah rimpah loh jinawi. Bahkan pada masa kepemimpinan Maulana Yusuf , Banten terkenal dengan persawahannya yang luas hingga mencapai batas sungai Citarum. Dan keberadaan Danau Tasikardi merupakan bukti lain yang menguatkan pendapat ini.&lt;br /&gt;Selain itu, terdapat mimbar yang besar dan antik penuh hiasan dan warna. Beberapa kalangan mengatakan, tempat khotbah ini merupakan wakaf Nyai Haji Irad Jonjang Serang pada tanggal 23 Syawal 1323 Hijriyah (1903 M) sebagaimana tertulis dalam huruf Arab gundul pada penampil lengkung bagian atas muka mimbar. Sementara Hatta Kurdie mengatakan, mimbar itu merupakan buah karya Cek Ban Cut, arsitek kebangsaan China yang berganti nama menjadi Pangeran Wiradiguna setelah masuk Islam. Pendapat ini berangkat dari gaya arsitektur yang lebih mirip dengan budaya China, semacam pagoda. Bahkan warnanya pun mirip dengan klenteng.&lt;br /&gt;Berbeda dari mimbarnya yang menarik perhatian, mihrabnya (tempat imam memimpin shalat) yang berbentuk ceruk justru sangat kecil, sempit dan sederhana. Ini berbeda dari mihrab yang berkembang pada masjid di belahan dunia lain.&lt;br /&gt;Adanya pendopo dan kolam untuk wudu di sebelah timur melengkapi karakteristik masjid Jawa umumnya. Tiang pendopo yang dibangun pada masa pemerintahan Sultan Maulana Yusuf itu juga menggunakan umpak batu labu dengan bentuk bangunan dan teknik konstruksi tradisional Jawa. Kemudian pintu depan yang dibangun dengan ukuran kecil dan pendek, dapat ditafsirkan berupa ajakan agar saat masuk masjid, kita harus bersikap tawadhu, rendah hati dan tidak boleh sombong.&lt;br /&gt;Yang aneh adalah tata letak makam Sultan Maualana Hasanuddin beserta keluarganya. Secara tradisi, makam pendiri masjid pada kompleks masjid tradisional di Jawa diletakkan di sisi barat, namun di masjid ini diletakkan di sisi utara. Padahal di sebelah barat Masjid Agung Banten terdapat makam Syarif Husein, penasehat Maualana Hasanuddin. Motif tata letak ini juga terdapat di beberapa masjid bersejarah di wilayah Banten, seperti di Masjid Kasunyatan yang dibangun oleh Maulana Yusuf, putra Maulana Hasanuddin. Makam Maulana Yusuf tidak bertempat di sebelah barat masjid di mana terdapat makam gurunya, Syekh Madani. Melainkan berada di tengah sawah. Mengenai makam Maulana Yusuf ini, Hatta Kurdie berasumsi bahwa peletakan makam di areal sawah tersebut karena kecintaan Maulana Yusuf yang ahli pertanian, terhadap pertanian.&lt;br /&gt;Demikianlah potret Masjid Agung Banten Lama, sebuah peninggalan sejarah yang kaya akan nilai-nilai sejarah dan multi budaya tapi tetap sarat nilai-nilai Islam. Tapi sayang, sejauh pengamatan wartawan SC. Magazine, pemeliharaan terhadap situs sejarah ini kurang maksimal dengan adanya kekeroposan tembok di mana-mana dan rumput liar serta sampah di halaman masjid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Adib Minanurrachim&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Dimuat di SC Magazine Vol V&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2483512749123335218-7930326903919978568?l=adibdata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adibdata.blogspot.com/feeds/7930326903919978568/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2483512749123335218&amp;postID=7930326903919978568' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/7930326903919978568'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/7930326903919978568'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adibdata.blogspot.com/2007/12/masjid-agung-banten-lama-nafas-sejarah_26.html' title='MASJID AGUNG BANTEN LAMA: NAFAS SEJARAH DAN BUDAYA'/><author><name>Adib Minanurrachim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15129533338323743129</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-I2gRc1Ay-KI/Trz7pcj6bYI/AAAAAAAAAJM/rpVJ_fN0h8A/s220/wajah%2B%252846%2529.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2483512749123335218.post-8723882457833341797</id><published>2007-12-27T13:21:00.000+07:00</published><updated>2008-01-02T23:02:13.164+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='LAPORAN'/><title type='text'>JEJAK PENDIDIK DAN DA’I INTELEKTUAL</title><content type='html'>&lt;em&gt;Ia bertekad mengabdikan diri kepada pendidikan dan dakwah demi meningkatkan kualitas sumber daya bangsa Indonesia yang bertauhid kuat dan memiliki intelektual tinggi.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MENTARI mulai merapat ke ufuk barat. Semburat jingga terpancar di sela-sela pepohonan yang tumbuh rindang di bagian kiri kediaman Dr. Ir. Muhammad ‘Imaduddin Abdulrahim, MSc. Kediaman tokoh Muhammadiyah yang akrab dipanggil Bang Imad itu terletak di Jl Bulak Raya No 33 Klender Jakarta Timur. Sesaat setelah teruluk salam, seorang wanita paruh baya keluar dari rumah menyambut kedatangan SC, lalu mempersilahkan masuk ke ruang tamu.&lt;br /&gt;Seperti umumnya rumah cendikiawan muslim, tata ruang tamu rumah Bang Imad tersesaki dengan buku-buku ilmiah dan agama. Sebagian besar buah karyanya tentang tauhid. Sementara di bagian dinding terdapat beberapa foto Bang Imad dan keluarga, serta foto-foto saat menghadiri beberapa pertemuan, baik dengan pejabat negara atau tokoh masyarakat.&lt;br /&gt;Tak lama kemudian datang seorang ibu yang memperkenalkan dirinya sebagai istri Bang Imad bernama Lailatul Qudsiyah. Sambil tersenyum ia menyambut ramah. Namun setelah mengetahui maksud kedatangan SC, raut mukanya berubah. “Maaf, bapak tak mungkin diwawancarai karena sedang kena stroke,” jawabnya pelan. “Tapi bila saudara-saudara hendak memotret, itu tak masalah,” lanjutnya.&lt;br /&gt;Pukul 16.30, dengan dipapah istri dan putranya, Bang Imad datang menghampiri SC. Setelah duduk dan mengatur posisinya, Bang Imad menebar senyum dengan agak susah. Sore itu ia mengenakan pakaian gamis berwarna coklat susu. Keadaan cendikiawan muslim yang terkenal konsisten memperjuangkan tauhid ini cukup memprihatinkan. Kedua kaki dan tangannya sudah tak leluasa digerakkan. Mulutnya pun tak bisa difungsikan dengan baik. Ia lebih banyak mendengar dan menjawab dengan isyarat yang kemudian diterjemahkan oleh istri dan putranya. Meski tubuhnya tak sehat karena stroke yang ia derita sejak beberapa bulan lalu, tapi sorot mata Bang Imad masih memancarkan semangat hidup yang luar biasa. Guratan-guratan di wajahnya yang menua masih menyisakan ketegasan.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;BANG Imad lahir di Tanjungpura, Langkat, Sumatera Timur 21 April 1931. Sejak kecil ia hidup di lingkungan santri. Ayahnya, Tuan Syeikh Abdulrahim adalah Direktur Madrasah Tsanawiyah-Aliyah Al Masrullah dan Kepala Kantor Urusan Agama (KUA), serta Ketua Masyumi Langkat. Sebagai satu-satunya anak laki-laki, Bang Imad begitu disayang. Ia harapan keluarga agar kelak bisa mewarisi darah keulamaan ayahnya. Karena itu, sejak kecil ia memperoleh pendidikan yang keras penuh disiplin.&lt;br /&gt;Pola pendidikan yang ia peroleh dari ayahnya, seperti tafsir Al Qur’an, berbentuk diskusi. Beberapa ayat Al Qur’an terpilih dibacakan dan dijelaskan asbab al-nuzul, lalu disampaikan tafsirannya. Sementara Bang Imad diberi keleluasaan untuk bertanya. Selain menggeluti pendidikan agama, ia juga sekolah di Hollands Inlandsce School (HIS). Di sini ia tidak sampai tamat karena pada Maret 1942 tentara Jepang menduduki seluruh wilayah Sumatera Timur. Selanjutnya di SMP Afdeling dan SMA Negeri Jalan Seram di Medan.&lt;br /&gt;Sejak usia remaja, Bang Imad sudah akrab dengan kegiatan organisasi dan perjuangan. Saat berada di bangku SMA ia mendirikan organisasi Pelajar Islam Indonesia (PII) wilayah Sumatera Utara dan pernah menjadi anggota Hizbullah (organ pemuda Masyumi).&lt;br /&gt;Ketika berada di PII, ia mengagumi pemikiran perintis kemerdekaan, Sjahrir, yang peduli terhadap generasi bangsa dan mengundangnya berpidato di sekolahannya. Sementara saat kuliah di Institut Tekhnlogi Bandung (ITB) dan menjadi anggota Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), ia pernah bertemu Bung Hatta di Bandung. Kala itu ia beserta kawan-kawan HMI mengkritik Bung Hatta yang membiarkan Soekarno berjalan ke arah kediktatoran dengan meninggalkan kursi Wapres. Mendengarnya, sambil tersenyum Bung Hatta menjelaskan bahwa bangsa Indonesia saat itu belum bisa diajak berdemokrasi, karena rakyatnya belum mampu membedakan antara hak dan kewajiban. Sehingga politik kurang tepat untuk dibicarakan. Yang lebih dibutuhkan bangsa saat itu adalah pendidikan. Bung Hatta lalu menganjurkan agar Bang Imad dan kawan-kawanya tidak langsung terjun ke politik, tapi harus belajar menjadi ahli tekhnologi atau ilmu pengetahuan lainnya terlebih dahulu, agar kualitas umat Islam bisa terangkat naik.&lt;br /&gt;Pertemuan dengan Bung Hatta di Ujung Berung Bandung tersebut, ternyata membekas di hati Bang Imad. Anjuran Bung Hatta agar terlebih dahulu melakukan pendidikan terhadap bangsa Indonesia, akhirnya melahirkan tekad di hatinya untuk mengabdikan diri terhadap dunia pendidikan dan dakwah. Terlebih setelah menyadari kaum intelektual Islam sangat sedikit jumlahnya, padahal merupakan mayoritas.&lt;br /&gt;Dus, setelah diangkat menjadi Wakil Ketua Yayasan Pembina Masjid Salman Institut Tekhnologi Bandung (ITB), fokus pikiran Bang Imad adalah melakukan kaderisasi bagi masyarakat agar lahir generasi yang jujur, amanah dan takwa kepada Allah. Keseriusannya dalam pendidikan dan dakwah tidak hanya dilakukan di lingkungan Masjid Salman, tapi juga di HMI dan kampus-kampus di luar ITB serta masyarakat umum. Untuk efektifitas tugasnya, ia mendirikan dan sekaligus menjadi Ketua Korp Mubalig HMI Cabang Bandung. Lembaga ini selanjutnya menjadi Pimpinan Pusat Lembaga Dakwah Mahasiswa Islam (PP LDMI) setelah Kongres HMI di Solo.&lt;br /&gt;Metodologi penyampaian yang biasa digunakan Bang Imad adalah diskusi dan kajian intensif. Sementara inti dakwahnya adalah tauhid, yang menurutnya bisa menciptakan tatanan masyarakat yang takut kepada Allah dan menghindarkan masyarakat dari perbuatan merugikan. Materi tauhid ini kemudian terkenal dengan sebutan tauhid uluhiyyah.&lt;br /&gt;Inspirasi tauhid sebagai inti dakwah diperoleh Bang Imad dari surah Ali Imron ayat 190, “sesungguhya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal.”&lt;br /&gt;Ayat yang menggambarkan fenomena alam tersebut, pernah ditangiskan Rosulullah SAW. Ceritanya, di suatu subuh, para sahabat sedang menunggu Rosulullah untuk sholat berjamaah. Tapi Rosulullah tak jua datang. Akhirnya Bilal datang menjenguknya. Setalah masuk ke kamar, seketika Bilal tercengang. Ia melihat Rosulullah berbaring di atas pembaringan dengan berlinang air mata. Lalu Bilal memberanikan diri mendekat dan bertanya sebab peristiwa yang dialami Rosulullah.&lt;br /&gt;“Celakalah, hai Bilal, orang yang membaca Al Qur’an surah Ali Imron ayat 190 itu, tapi tidak memfikirkan bagaimana makusdnya,” sabda Rosulullah.&lt;br /&gt;Kekhawatiran yang sempat menunda sholat subuh Rosulullah itulah yang menimbulkan inspirasi perjuangan Bang Imad. Ia bertekad menyampaikan pesan tauhid yang merupakan sumpah setia manusia kepada Allah sejak diciptakan pertama kali (ruh). Tauhid adalah nilai dasar kehidupan yang akan menuntun manusia dan berkembang di dunia, serta mengantarnya pulang kembali ke pangkuan Ilahi.&lt;br /&gt;Konsep tauhid itu lalu dikembangkan Bang Imad berdasarkan Al Qur’an dan Hadist, dan menyebarkannya melalui ceramah dan seminar untuk mendapatkan kritik dari umat agar konsepnya mencapai kematangan. Dari ceramah-ceramah dan kritikan itu, ia kumpulkan menjadi buku dengan judul Kuliah Tauhid.&lt;br /&gt;Selain itu, dengan dilhami buku Mujahid Dakwah karya KH Isa Anshari (ayah Endang Syaifuddin Anshari, salah satu penyusun Nilai Dasar Perjuangan HMI selain Bang Imad, Nurcholish Madjid dan Sakib Mahmud), ia mengembangkan konsep tauhid ke dalam paket-paket pelatihan yang bertujuan melatih dan kaderisasi, khususnya para mahasiswa agar senantiasa menghidupkan ruh tauhid. Pelatihan ini terkenal dengan nama Latihan Mujahid Dakwah (LMD), dan telah ia lakukan di beberapa benua baik Asia, Amerika, Eropa dan Australia.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;MENJADI seorang da’i yang teguh dan konsisten menyuarakan kebenaran tauhid bukan tanpa halangan. Selama perjalanan berdakwah, acapkali Bang Imad memperoleh halangan dan bahkan pernah dijebloskan ke penjara Nirbaya Jakarta Timur tanpa pengadilan, dengan tuduhan sebagai dalang dari gerakan mahasiswa ITB menjelang Sidang Umum MPR 1978. Tuduhan ini lantaran ia merupakan tokoh (dosen) di lingkungan kampus ITB dan sekaligus pendiri Masjid Salman, tempat berkumpulnya para aktivis islam.&lt;br /&gt;Penahanan Bang Imad akhirnya berakhir pada Bulan Juli 1979. Namun ia dilarang memberikan ceramah kepada mahasiswa. Seluruh kegiatan diawasi dengan ketat oleh intel. Tapi setelah beberapa bulan berada di bawah pengawasan intel, akhirnya Bang Imad memperoleh kabar baik. Melalui Muhammad Natsir, pendiri Masyumi, ia memperoleh beasiswa dari Kerajaan Arab Saudi untuk meneruskan jenjang pendidikannya ke Iowa University, Amerika Serikat. Di negerei Paman Sam ini ia memilih jurusan Management of Human Resources, sebuah jurusan yang ia pilih untuk menjawab anjuran Bung Hatta dan keprihatinan beberapa tokoh Islam terhadap kualitas sumber daya umat Islam Indonesia.&lt;br /&gt;Setelah memperoleh gelar S3 pada 1985, Bang Imad pulang ke tanah air. Beberapa bulan di Indonesia, bersama dengan almuni Masjid Salman ITB, seperti Ir. Hatta Rajasa, Ir Bambang Sukarsono dan Ir Alimin Abdullah, ia mendirikan Yayayasan Pembina Sari Insani (Yaasin). Selain itu, bersama Aswab Mahasin (pemred majalah Prisma) dan beberapa cendikiawan muslim liannya, ia menjadi pencetus berdirinya Ikatakan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI).&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;MENGINJAK usia senja, tingkat kesibukan Bang Imad bukannya mereda, tapi malah meningkat. “Abang memang kurang memperhatikan kondisi fisik bila sudah bersentuhan dengan dakwah,” ujar Lia, panggilan Ibu Lailatul Qudsiyah.&lt;br /&gt;Kelalaian terhadap kondisi fisik ini, akhirnya melahirkan beberapa penyakit. Di antaranya ia pernah mengalami ganguan jantung, iritasi ginjal dan pembuluh darah dalam otaknya dipenuhi oleh gelembung-gelembung yang menghambat penyaluran darah dari jantung ke otak. Dalam perjalanan usia dan seiring meningkatnya intensitas pekerjaannya, penyakit terakhir ini makin parah dan mengakibatkan Bang Imad terkena stroke.&lt;br /&gt;Demikianlah kisah salah satu pendidik dan da’i Indonesia. Meski saat ini penyakit stroke masih ia derita, tapi sorot mata dan pancaran wajahnya masih menyisakan semangat untuk segera sembuh dan kembali berjuang menyerukan tauhid kepada segenap umat Islam...*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Adib Minanurrachim&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;Dimuat di SC Magazine No V&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2483512749123335218-8723882457833341797?l=adibdata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adibdata.blogspot.com/feeds/8723882457833341797/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2483512749123335218&amp;postID=8723882457833341797' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/8723882457833341797'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/8723882457833341797'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adibdata.blogspot.com/2007/12/jejak-pendidik-dan-dai-intelektual.html' title='JEJAK PENDIDIK DAN DA’I INTELEKTUAL'/><author><name>Adib Minanurrachim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15129533338323743129</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-I2gRc1Ay-KI/Trz7pcj6bYI/AAAAAAAAAJM/rpVJ_fN0h8A/s220/wajah%2B%252846%2529.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2483512749123335218.post-1121668292918016549</id><published>2007-12-27T13:20:00.002+07:00</published><updated>2007-12-28T12:40:13.774+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='LAPORAN'/><title type='text'>HATI, SASARAN UTAMA PENDIDIKAN</title><content type='html'>&lt;em&gt;Mendidik santri dengan uswah, usbah dan dakwah&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU sore (05/08), cuaca cerah merias wajah Pondok Pesantren al Amin Prenduan Sumenep Jawa Timur. Di bawah langit biru yang mulai tergores semburat jingga mentari, pohon-pohon kelapa dan palem berjejer rapi di sepanjang jalan menuju lokasi pesantren. Sementara wajah-wajah ramah para santri menyambut kedatangan dua wartawan SC yang masuk menuju pesantren. Sampai di pintu gerbang, seorang santri menyambut dan mengantar ke ruang tamu di kantor pesantren.&lt;br /&gt;Sepanjang jalan menuju kantor pesantren, tampak beberapa santri menikmati aktivitas mereka masing-masing. Ada yang asyik ngobrol dengan bahasa arab atau inggris di bawah pepohonan kelapa di samping masjid, membaca koran yang tersedia di majalah dinding dekat asrama santri, ada pula yang bercanda sambil berkejar-kejaran.&lt;br /&gt;Adzan shalat ashar berkumandang. Para santri bergegas masuk kamar. Berganti pakaian, mengenakan sarung dan kopiah, mengambil wudhu, lalu melangkah menuju ke masjid yang megah di tengah pesantren, menunaikan shalat ashar berjamaah.&lt;br /&gt;Sementara seorang ustadz yang mengetahui kedatangan SC menyambut ramah dan mempersilahkan beristirahat di dalam kantor pesantren. “Wa’alaikum salam. Silahkan tunggu sebentar. Kiai Idris masih menjadi imam di masjid,” sambut ustadz Jakfar, pengurus bagian humas Pesantren al Amin. “Ya akhi, khudzi al qohwah lidhoif (ya saudaraku, ambilkan kopi untuk tamu),” pintanya kepada salah satu santri.&lt;br /&gt;Selang 30 menit, KH Muhammad Idris Jauhari, wakil direktur Pesantren al Amin, datang dan mempersilahkan SC untuk masuk ke ruang pandapa di samping kediamannya. Kepada SC, Kiai yang berpenampilan sederhana ini bercerita tentang Pesantren al Amin dan pola pendidikan yang diselenggarakannya.&lt;br /&gt;“Sasaran utama pendidikan itu adalah hati. Karena itu kita lebih mementingkan pendidikan spiritual,” kata Kiai Idris. Menurutnya, pendidikan yang ditujukan pada hati akan membentuk akhlak yang mulia. Ini sesuai dengan hadist Nabi, bila hati seseorang itu baik, maka baik pula pikiran dan tingkah lakunya. Sementara bila hatinya buruk, maka buruk pula pikiran dan tingkah lakunya.&lt;br /&gt;Mengingat sasaran utama pendidikan adalah hati, Kiai Idris mengatakan, syarat utama yang harus diterapkan adalah memberikan keyakinan pada calon santri. “Jadi santri yang ke sini harus yakin, bahwa pilihannya benar dan diridhoi Allah. Ini dilakukan melalui talkin. Setelah itu, baru kita bisa menggarap unsur-unsur spiritualnya,” lanjutnya.&lt;br /&gt;Untuk memperkokoh sisi spiritual para santrinya, Kiai Idris menerapkan tiga nilai dasar yang sudah menjadi nafas sehari-hari pesantren al Amin, yaitu uswah, usbah dan dakwah. “Pertama, jangan beri contoh jelek. Bila kiainya bohong dan seterusnya, ini awal kehancuran proses pendidikan. Kedua, pernahkah anda mendengar istilah murid Nabi? Yang ada hanyalah sahabat. Proses pendidikan yang benar, hubungan antara pendidik dan yang dididik adalah sahabat. Bukan top down. Ana waahidun minhum (aku satu kelompok dengan mereka), kata Sayyidina Ali ra. Ketiga, di mana pun anda berada maka lakukanlah dakwah. Bila ada anak yang nakal, tegurlah. Waltakum mingkum ummatun yadu’uuna ilal khoiri (hendaklah sebagian dari kalian menjadi ummat yang mengajak pada kebaikan). Bila ketiga nilai ini dilakukan dengan baik dan istiqomah, nilai-nilai spiritual akan berlangsung secara otomatis,” jelasnya.&lt;br /&gt;Meski Pesantren al Amin memiliki pondasi spiritual yang kokoh, Kiai yang terkenal low profile ini tidak ingin jumawa. “Soal hasil, itu tergantung Allah. Karena tak sedikit anak yang mulanya dididik dengan baik, ternyata pada usia dewasa menjadi jelek. Tapi demikian, usaha untuk menjadikan anak menjadi baik itu tidak boleh berhenti. Karena Allah Maha Pemurah dan Maha Pemberi Rahmat,” kata Kiai Idris sambil tersenyum.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;ADZAN Maghrib berkumandang. Kiai Idris mengajak SC untuk berjamaah di masjid bersama para santri. Setelah shalat, para santri mengaji dengan membentuk kelompok di sekitar halaman masjid. Selang 45 menit, para santri membubarkan diri dan bersiap menunaikan ibadah sholat Isya berjamaah.&lt;br /&gt;Seusai sholat Isya, para santri berhamburan menuju koperasi makan di dalam pesantren. Suasana riuh terdengar dalam koperasi. Ada canda dan tawa. Mereka makan bersama-sama. Ada yang duduk di meja makan dalam koperasi. Ada yang memilih duduk di sebuah gardu yang terletak di samping koperasi. Ada pula yang jongkok berkelompok di luar koperasi. Nuansa persahabatan terasa kental di antara mereka.&lt;br /&gt;Sementara ustadz Jakfar yang menemani SC di ruang tamu pesantren, bercerita tentang keribadian Kiai Idris yang konsisten memberikan uswah kepada santri-santrinya. “Seringkali Kiai Idris menegur kami melalui uswah. Misalkan saat melihat halaman masjid kotor, sementara para santri asyik bercanda, maka Kiai Idris seringkali langsung membersihkannya sendirian,” cerita Jakfar.&lt;br /&gt;Lebih jauh, Jakfar juga bercerita bahwa Kiai Idris terkenal sebagai konseptor dan penulis di lingkungan Pesantren al Amin. Beberapa buah karyanya antara lain buku Hakikat Pesantren, Mencetak Muslim Multi Terampil, Pembudayaan Hidup yang Islami, Anak Muda Menjadi Sufi, dan lainnya. “Dari uswah dan karyanya tersebut, alhamdulillah para santri bisa lebih sadar akan kewajiban-kewajibannya sebagai santri yang selain harus tekun belajar juga harus menjaga akhlak,” jelas bapak tiga putera ini.&lt;br /&gt;Salah satu buku Kiai Idris yang menarik adalah Anak Muda Menjadi Sufi. Dalam buku tipis tersebut, Kiai Idris menjelaskan tentang langkah-langkah menjadi seorang mutasowwif (orang yang berjalan di jalan tasawuf). Menurutnya, langkah-langkah yang perlu diperhatikan untuk menjadi mutasowwif adalah, Iyqon an-Nafs (meyakinkan diri), Taqwim an-Niyyah (meluruskan niat), at-Tafakkur wa at-Tadabbur (berpikir dan merenung), at-Takhollli wa at-Tahalli (membersihkan dan menghias diri) dan at-Tajalli (menampak).&lt;br /&gt;Menurut penjelasannya, yang dimaksud dengan Iyqon an-Nafs adalah iman. Dalam konteks tasawuf, iman harus dimulai dari upaya meyakinkan diri sendiri bahwa ia bisa menjadi mutasowwif. Kedua, menurut beberapa ulama sufi, niat selalu mencakup awal dan akhir dari suatu perbuatan. Meliputi latar belakang, motivasi dan tujuan. Setiap melakukan pekerjaannya, seorang sufi selalu berniat, minimal untuk tiga tujuan utama, niat semata-mata untuk beribadah kepada Allah (mu’amalah ma’a Allah), niat memantapkan diri sebagai kholifah Allah dengan cara mengkaji apa pun yang ditemuinya (mu’amalah ma’a an-nafs), dan niat bersilaturrahim dengan siapa pun dan apa pun, baik langsung maupun tak langsung (mu’amalah ma’a annas wa al-biah).&lt;br /&gt;Ketiga, seorang sufi selalu berupaya untuk memahami dan mendalami subtansi dari apa pun yang dia lihat, dengar, rasakan atau pun yang dia lakukan. Dia tidak akan puas dengan hal-hal yang bersifat lahiriyah, seremonial dan formal. Sehingga tidak mudah tertipu dengan kulit luar. Keempat, dalam melaksanakan proses meyakinkan diri, meluruskan niat, melakukan istithla, tafakkur dan tadabbur, seorang sufi selalu berusaha untuk membebasakan dirinya dari penyakit hati macam takabbur, ‘ujub, riya’, hasud, tama’, malas, ghibah, buhtan, fitnah dan sifat-sifat lain yang bisa merongrong dan membatalkan amal ibadahnya. Dan pada saat yang sama, dia selalu berusaha untuk menghiasi dirinya dengan peningkatan amal-amal sholeh dan akhlak mulia. Kelima, bila keempat proses sebelumnya bisa dilaksanakan dengan istiqomah, seorang sufi akan merasakan kehadiran Allah dalam dirinya dan sekitarnya, kapan saja, di mana saja dan dalam situasi bagaimana pun. Setiap yang dia lihat, dengar, rasakan dan lakukan, suka dan duka, karunia dan musibah, kalah dan menang, dia selalu merasakan adanya kebesaran, keagungan dan keadilan Allah swt. Bila demikian, jiwanya telah mencapai posisi muthmainnah, yang ridho terhadap segala sesuatu yang ditaqdirkan Allah kepadanya, sehingga dia diridhoi Allah. Itulah puncak dari kehidupan seorang muslim yang sufi. Proses tajalli inilah yang dalam tasawuf dikenal dengan nama makrifah.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;PUKUL 21.00 wib, terdengar suara bel petanda usainya kegiatan. Para santri bergegas kembali menuju ke kamar mereka masing-masing. Sementara suara Kiai Idris terdengar bijak dari speaker-speaker yang terdapat di masing-masing kamar para santri. Memberikan tausyiah dan do’a kepada para santri-santrinya serta mengingatkan mereka untuk senatiasa bangun malam untuk mendirikan shalat tahajud...*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Adib Minanurrachim&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dimuat di SC Magazine Vol V&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2483512749123335218-1121668292918016549?l=adibdata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adibdata.blogspot.com/feeds/1121668292918016549/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2483512749123335218&amp;postID=1121668292918016549' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/1121668292918016549'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/1121668292918016549'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adibdata.blogspot.com/2007/12/tasawuf-dalam-pendidikan-pesantren_26.html' title='HATI, SASARAN UTAMA PENDIDIKAN'/><author><name>Adib Minanurrachim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15129533338323743129</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-I2gRc1Ay-KI/Trz7pcj6bYI/AAAAAAAAAJM/rpVJ_fN0h8A/s220/wajah%2B%252846%2529.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2483512749123335218.post-6066226343854042459</id><published>2007-12-27T13:20:00.001+07:00</published><updated>2007-12-28T12:42:07.882+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='LAPORAN'/><title type='text'>TIGA PERJALANAN DAN PENGORBANAN</title><content type='html'>&lt;em&gt;Arofah, Muzdalifah dan Mina bisa ditafsirkan sebagai Pengetahuan, Kesadaran dan Harapan. Tiga perjalanan ini membawa manusia munuju puncak tauhid melalui simbol kurban. &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEBELUM wuquf di Arofah pada tanggal 9 Dzulhijjah, para jamaah haji memotong rambut sebagai simbol ketundukan diri kepada Allah. “Tahallul merupakan simbol ketundukan kita kepada Allah. Karena rambut adalah lambang kebanggaan dan kehormatan manusia,” kata Prof Dr KH Said Agil Siradj di kediamannya, Jl Sadar Raya No 3A Rt 08/04 Cianjur.&lt;br /&gt;Wuquf di padang Arafah yang dilaksanakan sejak tergelincirnya matahari tanggal 9 Dzulhijah, secara historis merupakan napak tilas sejarah pertemuan Adam dan Hawa di Jabal Rahmah. Dari pertemuan dan interaksi antara Adam dan Hawa ini, Dr Ali Syari’ati mengatakan bahwa Arofah adalah simbol pengetahuan. Menurutnya, percikan pertama dari cinta yang memancar dalam perjumpaan tersebut, mendorong mereka untuk saling memahami. Inilah isyarat pengetahuan yang pertama. Adam mengetahui bahwa istrinya memiliki jenis kelamin berbeda dan berasal dari sumber serta alam yang sama. Konsekuensinya, dari sudut pandang filosofis, eksistensi manusia sama tuanya dengan eksistensi pengetahuan; dari sudut pandang ilmiah, sejarah manusia dimulai dengan pengetahuan.&lt;br /&gt;Saat malam mulai merayap, para jamaah haji berangkat ke Muzdalifah. Bila Arofah disebut fase pengetahuan, maka Ali Syari’ati menyebut Muzdalifah/Masy’ar sebagai fase kesadaran. Urutan ini, pengetahuan-kesadaran, bertolak belakang dengan pemahaman manusia umum yang memilih fase kesadaran mendahului fase pengetahuan. Tapi Ali Syari’ati menjelaskan bahwa Adam dan Hawa saat bertemu saling berbagi pendapat, mengkomunikasikan pemikiran-pemikirannya dan mencapai saling pengertian. Kehidupan individual mereka diakhiri dengan terbangunnya sebuah keluarga dan terciptanya cinta yang sadar. Persatuan dua manusia itu dimulai dengan pengetahuan, dan selanjutnya melalui evolusi pengetahuan maka semakin besarlah kesadaran manusia.&lt;br /&gt;Di Masy’ar inilah, lanjut Ali Syari’ati, kekuatan pemahaman mudah diperoleh dengan cara lebih berkonsentrasi dalam keheningan malam. Karena itu, pekerjaan utama manusia adalah melakukan perenungan.&lt;br /&gt;Senada dengan Ali Syari’ati, Aqilmengatakan bahwa Muzdalifah adalah waktu untuk berdzikir kepada Allah. “Di Muzdalifah untuk membesarkan Allah. Di Al Qur’an surah Al Baqarah: 198, tidak ada perintah mencari batu untuk melempar setan, tapi Nabi Muhammad saat di Muzdalifah mencari batu sebanyak 7 butir untuk jumratul aqobah pada tanggal 10.”&lt;br /&gt;Perjalanan selanjutnya ke Mina. Sebagaimana arti katanya, harapan, peristiwa Mina menandakan cita-cita, idealisme dan cinta. Setelah menyiapkan batu-batu sebagai alat perang pada tanggal 10, tepat saat sang surya memancarkan semburat fajarnya, setelah sholat subuh, jama’ah haji berangkat ke Mina untuk melakukan pertempuran terhadap tiga berhala. Menurut Ali Syari’ati, ketiga berhala ini bisa dilukiskan sebagai Fir’aun (penindasan), Karun (kapitalisme) dan Balam (kemunafikan). Sementara Said Aqil Syiraj, menggambarkan setan sebagai segala sesuatu yang menjauhkan manusia dari kebenaran (Allah).&lt;br /&gt;Setelah melewati godaan setan, para jamaah haji kemudian menyembelih hewan kurban dengan niat mengorbankan segala hal yang dicintainya demi cinta kepada Allah. Mereka menjadi Ibrahim, yang siap mengurbankan putra yang ia rindukan hampir seabad, dan Ismail yang siap merelakan nyawanya demi kepatuhan dan cinta kepada Allah semata.&lt;br /&gt;Demikianlah haji, ibadah yang bisa menghantarkan manusia menuju makrifatullah dan revolusi lahir-batin. Dengan melepas ghorizatul ghotob dan ghorizatul syahwat, manusia menemukan dirinya sebagai insan atau ruh. Melalui ruh manusia bisa senantiasa merasa dekat dengan Allah. Ini kemudian akan memunculkan perubahan besar-besaran pada diri manusia yang di kehidupan sebelumnya penuh dengan belepotan dosa.&lt;br /&gt;Tapi haji bukanlah akhir perjalanan spiritual manusia. Seperti dikatakan Prof Dr Ahmad Mubarak, MA, haji adalah bentuk sebagaimana shalat, puasa dan zakat. Adapun subtansinya adalah komunikasi dengan Allah di tiap hembusan nafas...*&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;Adib Minanurrachim&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dimuat di SC Magazine No V&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2483512749123335218-6066226343854042459?l=adibdata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adibdata.blogspot.com/feeds/6066226343854042459/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2483512749123335218&amp;postID=6066226343854042459' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/6066226343854042459'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/6066226343854042459'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adibdata.blogspot.com/2007/12/tiga-perjalanan-dan-pengorbanan_26.html' title='TIGA PERJALANAN DAN PENGORBANAN'/><author><name>Adib Minanurrachim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15129533338323743129</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-I2gRc1Ay-KI/Trz7pcj6bYI/AAAAAAAAAJM/rpVJ_fN0h8A/s220/wajah%2B%252846%2529.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2483512749123335218.post-876997658074460012</id><published>2007-12-27T13:19:00.001+07:00</published><updated>2008-01-08T07:43:30.724+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='LAPORAN'/><title type='text'>MENUJU MAKRIFATULLAH DAN KHOLIFATULLAH</title><content type='html'>&lt;em&gt;Melalui tawaf dan sa’i, manusia bisa menuju makrifatullah dan memperoleh pelajaran menjadi kholifah di dunia.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SECARA historis, haji dilakukan pertama kali oleh Nabi Ibrahim as dan Ismail. Selanjutnya pada masa Nabi Muhammad SAW, haji diwajibkan kepada seluruh manusia yang mampu. Menurut Prof Dr KH Said Agil Siradj, ketua tanfidziah Nahdlatul Ulama, kemampuan ini melingkupi lahir dan batin. Kemampuan lahir berupa fisik, uang dan waktu. Sementara batin berupa kesiapan mental, kesabaran, ketekunan dan kehati-hatian.&lt;br /&gt;Perintah haji yang termaktub dalam Al Qur’an surah Ali Imron ayat 97 tersebut, merupakan ibadah massal yang menampilkan suasana kolosal yang indah. Saat di Makkah, orang-orang yang berasal dari beragam bangsa bersama-sama berkumpul di Baitil Haram. Melepas pakaian dan menggantinya dengan dua lembar kain putih yang membalut tubuh di Miqot.&lt;br /&gt;Menurut Dr Ali Syari’ati dalam bukunya Makna Haji, pakaian yang dikenakan manusia sehari-hari melambangkan status dan perbedaan. Semua itu menciptakan ‘batas-batas’ palsu yang menyebabkan ‘pemisahan’ di antara manusia. Sebagian besar ‘pemisahan’ melahirkan ‘diskriminasi’ yang menciptakan konsep ‘aku’, bukan ‘kita’. ‘Aku’ digunakan dalam konteks rasku, klanku, nilai-nilaiku, jabatanku, dan bukan ‘aku’ sebagai manusia. Ini memunculkan hubungan tuan-hamba, penindas-tertindas, yang beradab-tidak beradab, barat-timur dan seterusnya. Karena itu, di Miqot para jamaah haji harus menanggalkan segala penutup yang dikenakan sehari-hari dan menggantinya dengan pakaian ihram.&lt;br /&gt;Pakaian ihram tersebut, menurut Aqil, merupakan simbol pelepasan ghorizatul ghotob dan ghorizatul syahwat. “Ghorizatul ghotob terdiri dari dorongan nafsu angkara murka, ambisi dan ingin berkuasa. Sementara ghorizatul syahwat terdiri dari dorongan syahwat yang ingin senang, punya sandang, papan dan wanita. Ini semua harus dilepaskan dan diganti dengan pakaian ihram. Pergantian pakaian ini selaras dengan arti kota Makkah yang berasal dari kata makka-yamukku-makkatan yang berarti meremuk dan menghancurkan. Jadi orang yang masuk ke Makkah harus menghancurkan sikap egois dan hawa nafsunya,” katanya.&lt;br /&gt;Seiring dua lembar kain putih yang membalut tubuh, dan niat melakukan ‘perpindahan’ dari sang diri menuju Allah, para jamaah haji berputar dalam gelombang tawaf. Ka’bah dikelilingi lautan manusia yang sangat bergairah. Ka’bah laksana matahari yang berada di tengah, sementara manusia laksana bintang-gemintang yang berjalan di orbitnya dalam sistem tata surya. Ka’bah melambangkan ketidakberubahan dan keabadian Allah. Sementara lingkaran yang bergerak menunjukkan aktivitas dan transisi yang berkesinambungan dari makhlukNya.&lt;br /&gt;Ali Syari’ati mengatakan tawaf adalah contoh dari sebuah sistem yang berdasarkan pada gagasan tentang monoteisme (tauhid) yang meliputi orientasi sebuah partikel (manusia). Allah adalah pusat eksistensi, fokus dari dunia yang sementara ini. Saat tawaf, dalam kelompok manusia itu tidak ada identifikasi individual yang membedakan antara lelaki dan perempuan atau kulit hitam dan putih. Tawaf merupakan transformasi manusia menjadi totalitas umat. Semua ‘aku’ bersatu menjadi ‘kita’ yang mewujudkan ummat dengan tujuan mendekati Allah.&lt;br /&gt;Dalam tawaf juga terdapat simbol sumpah setia kepada Allah. Ini dilambangkan dengan mencium atau menunjuk Hajar Aswad. Gerakan mencium Hajar Aswad berarti telah memilih untuk bersekutu dengan Allah, dan membebaskan diri dari perjanjian sebelumnya; tak lagi menjadi sekutu dari kaum penguasa, hipokrit, aristokrat, kapitalis dan uang. Sejak itu manusia bebas-merdeka.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;USAI melaksanakan tawaf, para tamu Allah berangkat menuju ke Mas’a, yakni jalan antara bukit Shafa dan Marwah yang memiliki panjang sekira ¼ mil. Perjalanan yang disebut sa’i ini dilakukan sebanyak tujuh kali.&lt;br /&gt;Secara historis, sa’i adalah napak tilas perjuangan Hajar mencari seteguk air demi putra tercintanya, Ismail. Saat sa’i manusia memerankan Hajar, seorang wanita miskin, hamba sahaya, bangsa Ethiopia yang direndahkan dan pelayan Sarah, tapi sekaligus Ibu dari para rasul Allah.&lt;br /&gt;Ketika Ibrahim diperintahkan Allah untuk meninggalkan Hajar dan Ismail di sebuah lembah yang kering, tanpa air dan rerumputan sedikit pun, Hajar memandang lekat ke wajah Ibrahim sambil berkata, “Wahai Ibrahim suamiku, betulkah engkau akan meninggalkan kami di tempat seperti ini? Tidakkah engkau melihat bahwa ini adalah tempat yang betul-betul asing bagi kami, tanpa air dan tanpa tanaman? Kepada siapakah engkau serahkan nasibku dan anakmu yang masih bayi ini?‌”&lt;br /&gt;Mendengarnya, Ibrahim meneteskan air mata. Sambil memandang kedua orang yang sangat disayangnya itu ia menjawab, “Allah yang telah memerintahkanku untuk meninggalkanmu di sini.” Sejenak Hajar terdiam. Lalu ia berkata, “Kalau demikian, pergilah wahai Ibrahim. Allah yang Maha Pengasih tidak akan mungkin menelantarkan kami sendirian.”&lt;br /&gt;Setelah mendo’akan mereka berdua seperti termaktub dalam Al Qur’an surah Ibrahim ayat 37, Ibrahim pergi meninggalkan Hajar dan Ismail. Sementara Hajar secara total pasrah terhadap kehendak Allah. Tapi ia tidak duduk termangu di samping putranya dan menunggu tangan gaib membawakan buah-buahan dari langit atau mengalirkan sungai untuk memuaskan dahaganya. Tapi ia segera bangkit dan seorang diri berlari dari satu bukit tandus ke bukit tandus lainnya mencari air. Ia memutuskan menggantungkan pada dirinya dengan mencari dan berjuang tanpa henti. Mengembara di gurun pasir yang asing, ia laksana seorang tahanan di kedua bukit tersebut. Seorang diri dan gelisah, namun penuh harapan dan tekad untuk mencari air dari satu tempat ke tempat lainnya.&lt;br /&gt;Akhirnya segala upaya Hajar sia-sia. Ia kembali dengan sangat sedih kepada anaknya. Tapi betapa ia sangat terkejut, sang anak yang ditinggalkannya di bawah payung ‘cinta’ dalam keadaan haus dan gelisah, tengah menggali pasir dengan tumitnya. Dalam keputusasaan yang memuncak dan dari tempat yang tak diduga, tiba-tiba muncullah air zam-zam.&lt;br /&gt;Dari kisah di atas, Ali Syari’ati mengatakan bahwa sa’i adalah kerja fisik, jalan untuk mencapai kehidupan yang lebih baik, perjuangan dan pencarian untuk memenuhi kebutuhan manusia dari jantung alam.&lt;br /&gt;Sementara Prof Dr Ahmad Mubarok, MA mengatakan bahwa orang yang berusaha dan ingin mendapatkan ridho Allah, hatinya harus bersih. “Orang tua itu kan simbol dari sesuatu yang belepotan (kotor), sementara anak adalah simbol kesucian. Sama dengan sapu, bila sapunya belepotan, lantainya tidak kunjung bersih. Sama dengan membasmi korupsi, bila orang-orang KPK-nya belepotan, korupsi tidak akan habis,” katanya saat ditemui di restoran Abu Nawas Salemba Jakarta Pusat.&lt;br /&gt;Berangkat dari makna tawaf dan sa’i di atas, Ali Syari’ati, pemikir yang dua kali pernah dipenjarakan oleh rezim Iran ini mengatakan, haji telah memecahkan berbagai kontradiksi yang telah membingungkan umat manusia sepanjang sejarah: antara idealisme atau matrealisme, asketisisme atau epikureanisme, kehendak Allah atau kehendak manusia. Terhadap dua hal yang kontradiktif tersebut, melalui haji Allah memberikan jawaban, yakni pilihlah dua-duanya.&lt;br /&gt;Dari sini, ritus tawaf dan sa’i adalah dua pengertian yang saling melengkapi. Satu sisi manusia dengan ruhnya menuju makrifatullah, dan di sisi lain manusia dengan hawa nafsu yang telah ditaklukkan oleh ruhnya (nafsu muthmainnah) menjadi kholifah di dunia.*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Adib Minanurrachim&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Dimuat di SC Magazine Vol V&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2483512749123335218-876997658074460012?l=adibdata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adibdata.blogspot.com/feeds/876997658074460012/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2483512749123335218&amp;postID=876997658074460012' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/876997658074460012'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/876997658074460012'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adibdata.blogspot.com/2007/12/menuju-makrifatullah-dan-kholifah_26.html' title='MENUJU MAKRIFATULLAH DAN KHOLIFATULLAH'/><author><name>Adib Minanurrachim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15129533338323743129</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-I2gRc1Ay-KI/Trz7pcj6bYI/AAAAAAAAAJM/rpVJ_fN0h8A/s220/wajah%2B%252846%2529.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2483512749123335218.post-2555920393499385303</id><published>2007-12-27T13:17:00.002+07:00</published><updated>2008-01-08T07:39:21.793+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='WAWANCARA'/><title type='text'>MENGENAL ALLAH DAN PRIBUMISASI NILAI TAUHID</title><content type='html'>BAGI Prof Dr KH Said Agil Siradj, melaksanakan ibadah haji merupakan kemudahan yang diberikan Allah SWT kepadanya. Tapi dari sekian kali kesempatan, Aqil mengaku pengalamannya berhaji pada tahun 1994 adalah yang tak bisa terlupakan. Saat itu, pria kelahiran Cirebon 3 Juli 1953 silam ini berkesempatan melaksanakan ibadah haji bersama mantan presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) beserta sejumlah kiai lainnya. Saat menjalani proses wukuf di Arafah, Aqil mengaku melihat Gus Dur keluar dari tenda dan memisahkan diri dari jamaah lainnya, mengambil tempat menyendiri dan duduk melakukan dzikir. “Saat itulah saya melihat tepat di atas Gus Dur langit terbuka dan memancarkan sinar tepat ke tubuh Gus Dur. Anda boleh tidak percaya, tapi itulah yang saya lihat dengan mata saya sendiri,” kata Aqil kepada SC, di kediamannya Jl Sadar Raya No 3A Rt 08/04 Cianjur.&lt;br /&gt;Rasa takjub itu membuatnya menanyakan apa yang dilakukan Gus Dur. Menurut Gus Dur, ia sedang membaca surah Al Fatihah seribu kali dan memanjatkan doa kepada Allah SWT untuk menjauhkan rakyat Indonesia dari kedzaliman dan perlakuan tak adil dari penguasa. “Padahal saat itu jelas Gus Dur belum jadi presiden,” lanjutnya&lt;br /&gt;Mendengar penuturan Gus Dur, Aqil mengaku air matanya tak tertahankan jatuh di pipinya. Dia senantiasa merasa tergugah oleh sikap Gus Dur yang mempersembahkan doanya di tanah suci untuk kebaikan seluruh rakyat Indonesia dibandingkan untuk dirinya sendiri. Atas pengalaman itulah, Aqil bertekad seoptimal mungkin mampu ‘mengikuti’ jejak langkah Gus Dur untuk mengabdikan dirinya demi kemaslahatan bangsa.&lt;br /&gt;Di penguhujung musim haji ini, kepada SC, bapak empat putra ini mengingatkan para jamaah calon haji Indonesia hendaknya mampu memanfaatkan kesempatan naik haji dan bisa mengaktualisasikan nilai-nilainya di tanah air. Berikut petikannya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bisa diceritakan sejarah haji?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pertama kali yang diperintahkan haji adalah Nabi Ibrahim. Selanjutnya diwajibkan kepada Rasulullah sejak tahun ke 4 Hijriyah, diwajibkan kepada umat manusia melaksanakan ibadah haji ke baitullah dengan niat karena Allah bagi yang sudah mampu. Kemampuan ini meliputi aspek lahir berupa uang, waktu, fisik dan batin berupa kesiapan mental, kesabaran, ketekunan dan kehati-hatian.&lt;br /&gt;Haji juga merupakan nipak talas sejarah. Misalkan wuquf di Arofah, di sana ada Jabal Rahmah, tempat pertemuan Adam dan Hawa. Mulanya Hawa kan diusir dari surga dan diturunkan di Jiddah. Sementara Adam di India. Setelah ratusan ribu tahun saling mencari dengan berpuasa setiap hari dan selalu berdo’a, robbanaa dzolamnaa angfusanaa wa inlam tagfir lanaa wa tarhamnaa lanakunannaa minal khosiriin, akhirnya Allah menerima tobat mereka dan mempertemukannya di Jabal Arofah. Malam pertama mereka berada di sebuah bukit kecil bernama Khuda’ah yang sekarang menjadi Masjid Mas’aril Haram di Muzdalifah. Makanya orang haji harus mabid di sini.&lt;br /&gt;Dari Muzdalifah inilah sejarah manusia dimulai, makhluk yang aneh dan unik karena terdiri dari dua unsur, ‘alamil malakut yaitu ruhani dan ‘alamul mulki yaitu fisik yang dibuat dari tanah liat dan sperma yang isinya dua hal, ghorizatul ghotob (dorongan angkara murka, ambisi dan ingin berkuasa) dan ghorizatul syahwat (dorongan ingin senang dan hidup mewah). ‘Alamul mulki ini juga disebut basyarun, sementara ‘alamul malakut disebut insan atau ruh. Insan inilah hakikat manusia yang akan hidup dunia-akhirat. Di dalam insan ini ada basyirah, dhomir (moral), fuad (nurani), asror (kekuatan misterius) dan terakhir lathifah atau lathoif (perangkat sangat halus yang bisa mengakses ke mana-mana sampai ‘alam ghaib).&lt;br /&gt;Dalam haji diwajibkan mengenakan pakaian ihram. Karena ihram berarti melepaskan ghorizatul ghotob dan ghorizatul syahwat. Ini sesuai dengan nama kota Makkah, makka-yamukku-makkatan yang berarti, meremuk, menghancurkan. Jadi orang yang masuk ke Makkah harus menghancurkan hawa nafsunya.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Mengenai tawaf, apakah Ibrahim yang melaksanakan pertama kali?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Yang pertama kali tawaf di Ka’bah para malaikat, sebelum Allah menciptakan Adam. Adapun bangunannya sudah ada, meski bentuknya sekedar gundukan tanah yang kemudian dibangun oleh Ibrahim dan Ismail.&lt;br /&gt;Makna tawaf adalah al-bahstu ‘ala dzaat, mencari jati diri kita sebenarnya. Ini tergambar dari perjalanan mulai ujung pojok Hajar Aswad dan kembali lagi ke Hajar Aswad, minallah wa ilahhi. Jadi hidup ini hanya sementara, dari Allah untuk ke Allah. Sehingga hidup ini jangan hanya diwarnai ghorizatul ghotob dan syahwat, tapi harus ada ruang moral, iman dan syukur-syukur makrifat.&lt;br /&gt;Mencium Hajar Aswad saat tawaf, secara metafor melakukan sumpah setia dengan Allah. Sehingga muncul kesadaran bahwa setiap hari kita hadir bersama Allah atau sadar bahwa Allah itu selalu hadir bersama kita.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Lalu apa makna sa’i?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sa’i itu kan fas’au ila dzikrillah, bergegas berdizikir kepada Allah. Inna shofa wal marwata min sya’airillah dan seterusnya... Shofa dan Marwah itu tanda kebesaran Allah, barang siapa haji dan umrah hendaklah sa’i antara Shofa dan Marwah.&lt;br /&gt;Dzikir di sini meliputi qaulan (perkataan), ‘amalan (perbuatan), mauqifan (diam), wa fikron (pemikiran). Apa pun amal-soleh yang kita niatkan karena Allah itu adalah dzikir. Berbeda dengan wirid yang asal mulanya dari waarid-waaridaat, bacaan-bacaan tertentu yang mengharapkan sesuatu melimpah dari Allah.&lt;br /&gt;Setelah sa’i wuquf dulu, waktunya setelah tergelincirnya matahari saat dhuhur tanggal 9 Dzulhijjah hingga malam. Di situlah seharusnya berdo’a. Karena Allah sedang mengobral ampunan dan rahmatnya. Lau kaanat dzunubukum ladzabatil bahr, la kaanat maghfirotullahi akbar, lau kaanat dzunubukum mistla turobil ardhi, la maghfirotullahi aksar, andai dosamu seluas lautan, maka ampunan Allah lebih luas, dan andai dosamu seperti debu yang bertebaran di bumi, maka ampunan Allah lebih banyak. Saat itu kita harus yakin dosanya diampuni. Kalau ragu-ragu malah dosa lagi. Karena menduga Tuhan itu pelit.&lt;br /&gt;Setelah itu berangkat ke mas’aril haram di Muzdalifah. Dalam Al Qur’an surah Al Baqarah: 198, tidak ada perintah mencari batu untuk melempar setan, tapi Nabi Muhammad saat di Muzdalifah mencari batu sebanyak tujuh butir dan digunakan untuk jumratul aqobah pada tanggal 10. Lempar jumrah ini juga merupakan napak tilas sejarah Ibrahim yang di goda setan sampai tiga kali saat hendak melaksanakan perintah Tuhan untuk menyembelih putranya. Kurban merupakan pertarungan hebat antara kecintaan Ibrahim pada putranya yang masih lucu-lucunya dengan kerelaan mengikuti perintah Allah.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Apakah ketiga berhala itu bisa dikontektualisasikan dengan zaman sekarang, misalkan simbol penindasan, kapitalisme dan kemunafikan?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ya boleh-boleh saja. Melempar hawa nafsu diri kita juga boleh. Karena diri kita ini lebih dari sekedar setan. Awal kata setan itu dari syatona, ba’uda yang artinya jauh. Jadi apa saja yang menjauhkan diri kita dari Allah adalah setan.&lt;br /&gt;Oya, sebelumnya ada tahallul dan paling afdhal adalah dipangkas hingga gundul. Ini dido’akan rasulullah sampai tiga kali, ya Allah berilah rahmat bagi orang yang memangkas rambutnya, gundul, lalu ada sahabat yang berkata, wa muqossirin, baru kemudian rosulullah mendoakan orang yang memotong rambut. Tahallul ini simbol dari ketundukan kita kepada Allah, karena rambut adalah lambang kehormatan manusia.&lt;br /&gt;Setelah melakukan haji, kita berziarah ke makam Rasulullah. Ziarah ini bukan termasuk ibadah haji, tapi ada hadist, man hajja wa lam yazurni faqod jafaani, barang siapa haji dan belum berziarah ke tempatku, maka ia tidak dekat denganku. Selain hadist, ada juga ayat Al Qur’an, walau annahum idzdholamuu angfusahum jaauka fastaaghfarullaha wastaghfaru lahum rosula lawajaduullaha tawaaba rohiima, seandainya orang-orang yang dholim dan kemudian datang keadamu ya Muhammad, lalu istighfar di sebelahmu, dan rosulullah pun ikut memintakan ampunan untuk orang tersebut, maka orang-orang tersebut akan memperoleh ampunan Allah. Artinya, Nabi memiliki hak prerogaif memohonkan ampunan kepada Allah untuk siapa pun.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ada yang mengatakan hikmah tawaf dan sa’i adalah pemecah kontradiksi antara Menyandarkan pada-Nya atau pada kehendak manusia. Bagaimana menurut anda?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Boleh saja. Tapi yang gampang, secara etimologis haji bermakna al qosdu, menuju secara sungguh-sungguh kepada Allah. Kalau di tanah air ini kan hanya menyapa, tapi kalau di sana adalah menuju ke makrifat Allah.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tanda haji mabrur?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Setelah haji ia mengalami perubahan positif, baik iman, perilaku dan kehidupan sosialnya dibanding sebelum haji. Dan sepengetahuan saya, orang yang sudah haji itu tidak akan murtad, karena sudah merasakan kebenaran dan kebesaran Allah.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bila banyak orang haji, tentu perilaku bangsa lebih baik. Tapi bangsa ini tetap kurang baik keadaannya. Kenapa?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Itu karena lebih banyaknya gap (jarak), baik dari sisi sosial, ekonomi, intelektual hingga spiritual. Misalkan kita punya cendikiawan kelas internasional macam almarhum Nurkholis Majid (Cak Nur) dan Abdurrahman Wahid (Gus Dur), tapi di sisi lain banyak sekali dari bangsa ini yang masih buta huruf. Ada juga konglomerat yang tingkat kekayaannya sudah mendekati orang terkaya di dunia, tapi tak sedikit dari bangsa ini yang cari makan saja kerepotan.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bila ada pendapat, haji perlu dibatasi sekali saja seumur hidup dan bila ingin haji lagi diharapkan uangnya disedekahkan kepada fakir miskin, bagaimana?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Begini, ada orang kaya. Ia sudah zakat, sedekah, sudah bayar pajak, bangun masjid dan memenuhi kewajiban-kewajiban lainnya. Tapi ternyata uangnya masih lebih... ya tidak apa-apa haji lagi. Karena orang yang sudah haji itu, pasti merasa ada yang kurang, mungkin tawafnya, sa’inya dan lainnya. Ia berhaji lagi untuk menyempurnakan haji yang kurang tersebut. Ini sah-sah saja dan hak setiap umat Islam. Karena bila kita pikir secara jernih, sesungguhnya yang bertanggung jawab terhadap persoalan kemiskinan itu adalah pemerintah, dan itu termaktub dalam UUD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wawancara dengan Prof Dr KH Said Aqil Syiraj (Ketua PBNU Jakarta)&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Adib Minanurrachim, Bilyantoro dan Azty Arlina&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dimuat di SC Magazine No V&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2483512749123335218-2555920393499385303?l=adibdata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adibdata.blogspot.com/feeds/2555920393499385303/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2483512749123335218&amp;postID=2555920393499385303' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/2555920393499385303'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/2555920393499385303'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adibdata.blogspot.com/2007/12/menuju-makrifatullah_26.html' title='MENGENAL ALLAH DAN PRIBUMISASI NILAI TAUHID'/><author><name>Adib Minanurrachim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15129533338323743129</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-I2gRc1Ay-KI/Trz7pcj6bYI/AAAAAAAAAJM/rpVJ_fN0h8A/s220/wajah%2B%252846%2529.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2483512749123335218.post-6598108274724140934</id><published>2007-12-27T13:15:00.000+07:00</published><updated>2007-12-27T13:16:00.940+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='LAPORAN'/><title type='text'>KOMUNITAS ARAB AMPEL: MEMAKMURKAN AMPEL DAN BERDAGANG</title><content type='html'>&lt;em&gt;Komunitas Arab merupakan salah satu pendatang tertua di Indonesia. Konon mereka masuk ke Indonesia sebelum Belanda, Inggris dan Portugis. Mereka mendiami beberapa tempat di Indonesia. Salah satunya adalah Ampel Suci dan Ampel Masjid di sekitar Masjid Sunan Ampel Surabaya. Bagaimana perkembangannya saat ini?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JUMAT pagi pukul 08.00 wib, sepanjang jalan menuju Masjid dan Makam Sunan Ampel mulai ramai. Beberapa pedagang keturunan Arab yang menempati toko di kanan-kiri jalan sibuk menawarkan barang dagangannya kepada para calon pembeli. Ada tasbih, sarung, songkok, mukena, aksesoris  dan lainnya. Sementara pedagang lain, seperti keturunan Jawa dan Madura juga tak kalah semangat menawarkan barang dagangannya seperti kurma, kue, minyak wangi hingga nasi. Sementara para pengunjung yang datang secara berkelompok atau sendiri-sendiri, ada yang tertarik lalu berhenti sejenak, tawar-menawar harga dan membelinya. Tapi tak sedikit dari mereka yang langsung masuk ke Masjid dan terus melangkah ke arah barat menuju makam Sunan Ampel, berziarah.&lt;br /&gt;Meski di sekitar Masjid Ampel ada pedagang Jawa dan Madura, tapi mayoritas adalah keturunan Arab. Mereka terpusat di dua tempat, yaitu Ampel Masjid dan Ampel Suci. Rata-rata para pedagang keturunan Arab di dua tempat ini memiliki toko. Sementara para pedagang Jawa dan Madura hanya bisa berjualan di pinggir jalan dan di sela-sela toko milik para pedagang keturunan Arab.&lt;br /&gt;Umumnya, para pedagang keturunan Arab itu berasal dari Hadramaut, daerah di Yaman Selatan, sebagai pedagang sekaligus menyebarkan Islam. Di Surabaya mereka mendiami wilayah padat di Kota Bawah, kawasan yang dibatasi Kalimas (sebelah barat), Sungai Pegirian (timur), Kembang Jepun (selatan), dan selat Madura (utara).&lt;br /&gt;Ada beberapa pendapat yang mengatakan kapan mereka datang. Ada yang menyebut sejak abad ke 10 M atau sebelumnya. Ada yang memperkirakan abad ke 12 M sebelum berdirinya kerajaan Majapahit. Tapi gelombang besar imigran Arab diperkirakan datang ke negeri ini setelah abad ke 17 M. Mereka tinggal di kantong-kantong pemukiman kota-kota pantai Jawa seperti Cirebon, Pekalongan, Tegal, Semarang, Gresik, Surabaya, Bangil dan sebagainya. Di antara mereka juga tinggal di kota pedalaman seperti Solo dan Yogyakarta. Sebagian kecil dari mereka bahkan ada yang tinggal di Maluku Utara, seperti Ternate, Tidore, dan juga di NTT dan Timor (dulu Timor-Tomur). Rata-rata mereka datang tanpa istri, kemudian kawin dengan warga setempat dan beranak-pinak.&lt;br /&gt;Di Surabaya, jumlah penduduk keturunan Arab diperkirakan mencapai ratusan ribu orang. Umumnya mereka adalah pedagang dan sebagian kecil ulama. Tapi setelah tahun 1960-an, profesi mereka mulai beraneka ragam. Ada yang menjadi guru, dosen, pengacara, wartawan, pekerja sosial, bekerja di pabrik atau perusahaan asing dan sebagainya.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;AKTIVITAS perdagangan yang digeluti keturunan Arab di sekitar Masjid Sunan Ampel, tidak bisa dilepaskan dari pengaruh ketokohan Sunan Ampel. Ini seperti yang dikatakan Musthafa Jamal, salah satu pedagang keturunan Arab. “Sebab utama kami mendirikan toko karena banyaknya peziarah di sini. Alhamdulillah mereka senang berbelanja di sini untuk oleh-oleh bagi keluarganya di rumah,” katanya.&lt;br /&gt;Musthafa Jamal adalah lelaki keturunan Arab yang lahir dan besar di kawasan Ampel. Kakek buyutnya berasal dari Hadramaut, Yaman. Tiba di Indonesia, kakek buyutnya menikah dengan orang Mataram. Lalu memilih kawasan Ampel sebagai tempat tinggal. Saat ini ia melanjutkan usaha dagang keluarganya dengan membuka toko di daerah Ampel Suci yang terletak di sebelah selatan Masjid Ampel.&lt;br /&gt;Menyadari makin meningkatnya rezeki yang ia peroleh, Musthafa mensyukurinya dengan selalu memakmurkan Masjid Ampel. Sementara sebagai ungkapan terima kasih kepada Sunan Ampel yang secara tidak langsung mendatangkan para pengunjung dan pembeli, seminggu sekali Musthafa berziarah ke makam Sunan Ampel. “Masjid Ampel ini merupakan kebanggaan. Karena masjid ini bersejarah dan Sunan Ampel sendiri termasuk Walisongo, bahkan yang tertua dari para sunan. Sehingga di samping bersyukur kepada Allah, kita juga berterima kasih kepada Sunan Ampel. Karena dengan adanya makam Sunan Ampel, banyak orang datang ke sini sehingga ratusan pedagang bisa memperoleh keuntungan,” kata pria yang juga menjadi pendidik di majlis ta’lim di rumahnya.&lt;br /&gt;Meski mengaku selalu istiqomah berziarah ke makam Sunan Ampel, tapi Musthafa tidak mengatakan bahwa apa yang ia lakukan juga selalu dilakukan oleh keturunan Arab lainnya. Bahkan tak sedikit dari keturunan arab yang tidak pergi ke Masjid Ampel dan berziarah ke makam Sunan Ampel. Menurut Musthafa, itu karena adanya pemahaman yang berbeda. Di antara mereka ada yang bermadzhab seperti di Saudi Arabia, di mana sangat anti terhadap ziarah bahkan menganggapnya syirik. Sehingga di antara mereka enggan untuk shalat di Masjid Ampel karena di depannya terdapat makam. “Menghadapi mereka tidak perlu dibalas dengan benci. Bila saling menyalahkan itu tidak akan ada selesainya. Percuma. Itu sudah dari dulu. Selama mereka tidak mengganggu kita, itu tidak masalah. Lana a’maluna wa lakum a’malukum (bagi kita amal perbuatan kita, dan bagimu amal perbuatanmu),” lanjutnya.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;SEMENTARA itu, di tempat terpisah, Ustadz Muhammad Azmi, ketua ta’mir masjid Ampel ketika ditanya tentang ziarah, mengatakan kepada SC bahwa ziarah merupakan ibadah seperti membaca al Qur’an, tahlil dan kalimat toyibah yang dilakukan secara khusyu dan khudhu. “Ziarah kubur itu dianjurkan dalam agama Islam, sebab di dalamnya terkandung manfaat yang sangat besar. Baik bagi orang yang telah meninggal dunia berupa hadiah pahala bacaan Al-Qur’an, atau pun bagi orang yang berziarah itu sendiri, yakni mengingatkan manusia akan kematian yang pasti akan menjemputnya,” katanya.&lt;br /&gt;“Tapi saat ini,” lanjut Azmi “ada pencampuran nilai dengan pelabelan Wisata Religi pada makam Sunan Ampel. Padahal makna wisata itu lebih pada senang-senang. Ini kan bertolak belakang dengan ziarah,” sesalnya.&lt;br /&gt;Fenomena label wisata pada makam Sunan Ampel sudah berlangsung sekira 3 tahun yang lalu. Ini bisa dijumpai dari gapura sebelum masuk ke kawasan Ampel. Pada papan gapura tersebut bertulisakan “Kawasan Wisata Religi Sunan Ampel”.&lt;br /&gt;Rasa sesal yang dikeluhkan Azmi tersebut memang bukan tanpa asalan. Saat ini, banyak sekali para pengunjung yang tidak semuanya bertujuan berziarah ke makam Sunan Ampel. “Dulu ketika saya masih berjualan tahu di sekitar sini, orang yang mau ziarah itu tampak khusyu dan sopan. Klunuk-klunuk (berjalan pelan-pelan) langsung ke makam. Tapi saat ini, terutama setelah adanya kebijakan tentang wisata religi, yah... banyak yang hanya lihat-lihat dan atau cari jodoh,” kata Khoirul Anam, pedagang dari suku Jawa.&lt;br /&gt;Meski mengeluhkan akan merosotnya fenomena nilai spiritual tersebut, Anam, lelaki yang biasa menggunakan kaca mata hitam ini tidak mengelak ketika ditanya manfaat dari kebijakan tersebut. “Memang harus saya akui kebijakan itu mendatangkan banyak pengunjung. Tentu ini menambah keuntungan,” katanya sambil tersenyum malu-malu.&lt;br /&gt;Sementara Azmi, ketika ditanya sikapnya tentang kebijakan tersebut, ia berharap pemerintah bisa menempakan tenaga ahli yang bisa mengarahkan para pengunjung yang datang ke makam Sunan Ampel. “Saya agak kurang bisa meneriman bila orang yang datang ke Ampel itu untuk wisata. Karena dia tidak menghormati Sunan Ampel sebagai tokoh, ulama dan wali. Tapi bila pemerintah ada maksud dakwah di dalam program wisata religi, hendaknya pemerintah harus menempatkan tenaga ahli yang bisa mengarahkan para pengunjung ke makam-makam wali,” lanjut pria yang enggan dipotret ini.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;KUMANDANG adzan terdengar dari Masjid Ampel, menunjukkan waktu Shalat Jum’at akan segera dilaksanakan. Musthafa, Anam dan para pedagang lelaki lainnya mulai meninggalkan toko, menuju ke sumur yang terletak di pinggir masjid. Mengambil wudhu, berdo’a dan melangkah ke dalam masjid, beriktikaf. Sementara toko-toko mereka dijaga oleh istri atau pembantu wanita.&lt;br /&gt;Ruangan Masjid Ampel sangat luas dan tinggi. Beberapa tiang bercat coklat yang di sekelilingnya terdapat kaligrafi al Qur’an, berdiri kokoh menyangga atap masjid. Sementara beberapa pintu jendela dibiarkan terbuka lebar-lebar. Sehingga angin begitu leluasa berhembus ke dalam. Menerpa wajah para jamaah yang khudu’ mendengarkan kohtbah khotib siang itu.&lt;br /&gt;Di dalam masjid yang didirikan pada tahun 1421 ini terdapat beberapa benda bersejarah. Salah satunya adalah Mihrab yang biasa digunakan Sunan Ampel berkhotbah. Mihrab ini terbuat dari kayu jati tebal dan bercat kuning keemasan. Meski sudah berumur ratusan tahun, tapi mihrab yang di bagian atasnya terdapat lambang kerajaan majapahit ini masih kokoh.&lt;br /&gt;Sementara di bagian luar masjid terdapat beberapa makam yang biasa dikunjungi para peziarah. Di antaranya adalah makam Sunan Ampel dan Mbah Bolong yang terletak di sebelah barat masjid, serta makam Mbah Sholeh yang terletak di sebelah timur masjid.&lt;br /&gt;Selang setengah jam, terdengar suara iqomah. Para jama’ah berdiri, merapatkan shaf, bersiap melaksanakan takbiratul ikhram. “Allahu akbar...” terdengar suara Imam diikuti para jamaah. Shalat Jum’at berlangsung dengan khusyu dan khudhu...*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Adib Minanurrachim&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Dimuat di SC Magazine No IV&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2483512749123335218-6598108274724140934?l=adibdata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adibdata.blogspot.com/feeds/6598108274724140934/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2483512749123335218&amp;postID=6598108274724140934' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/6598108274724140934'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/6598108274724140934'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adibdata.blogspot.com/2007/12/komunitas-arab-ampel-memakmurkan-ampel.html' title='KOMUNITAS ARAB AMPEL: MEMAKMURKAN AMPEL DAN BERDAGANG'/><author><name>Adib Minanurrachim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15129533338323743129</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-I2gRc1Ay-KI/Trz7pcj6bYI/AAAAAAAAAJM/rpVJ_fN0h8A/s220/wajah%2B%252846%2529.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2483512749123335218.post-8800955522665400872</id><published>2007-12-27T13:14:00.000+07:00</published><updated>2007-12-27T13:15:01.225+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='LAPORAN'/><title type='text'>SANLAT RAMADHAN JAMA’AH SHALAT KHUSYU: KADERISASI SPIRITUALIS</title><content type='html'>&lt;em&gt;Nikmat bertemu Tuhan adalah tingkat kebahagiaan tak ternilai. Hanya kesungguhan dan totalitas diri bisa menggapainya. Ustadz Abu Sangkan melatih jama’ah shalat khusyu meraih kebahagiaan itu lewat shalat, sekaligus melakukan kaderisasi demi lahirnya masyarakat spiritualis.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PAGI pukul 05.00 wib, seusai menunaikan ibadah shalat subuh, para jama’ah shalat khusyu duduk dengan khudhu dalam ruangan Aula Srikandi di Bumi Perkemahan dan Ghraha Wisata (Buperta) Cibubur Jakarta Timur. Di hadapan mereka berdiri Ustadz Abu Sangkan. Sambil menebar senyum, ustadz berpenampilan rapi ini membacakan lafadz laa ilaha illa Allah dengan irama lambat, lalu bertanya pada jamaah, “apa yang anda ingat?” Seorang jamaah yang duduk di pojok ruangan menjawab, ia teringat nuansa musala kampung dengan bacaan syahadah yang malas dan rasa kantuk. Kemudian ustadz yang akrab di sapa ABS ini mengganti irama syahadah dengan irama bersemangat, lalu bertanya lagi pada jamaah. Seorang jamaah yang berada di tengah-tengah menjawab bahwa ia turut bersemangat kala mendengar bacaan tersebut. “Nah, inilah letak perbedaannya,” jawab ABS. “Ini merupakan pengaruh irama. Sama ketika kita mendengarkan musik Mozart. Tapi Mozart berbeda dengan Al Qur’an. Bila Mozart hanya melahirkan kecerdasan emosional, sementara Al Qur’an bisa sekaligus memperoleh kecerdasan spiritual. Bila Mozart hanya menyajikan ruang, Al Qur’an sekaligus menyuguhkan makna,” jelasnya.&lt;br /&gt;Tanya jawab di atas adalah salah satu dari rangkaian acara Pesantren Kilat (Sanlat) Ramadhan yang diadakan jama’ah shalat khusyu di Aula Srikandi Buperta Cibubur Jakarta Timur pada 28-29 September lalu. Menurut R. Iman Tauchid, Ketua Yayasan Shalat Khusyu sekaligus ketua panitia, acara tahunan ini terdiri dari para jamaah yang sebelumnya pernah mengikuti pelatihan shalat khusyu dan merupakan perwakilan dari beberapa daerah di seluruh Indonesia. “Pesertanya terbatas, sekira 180 orang. Mereka merupakan perwakilan dari tiap daerah atau ketua-ketua halaqah. Harapannya, sepulang dari acara ini mereka bisa menjadi trainer-trainer handal di daerahnya masing-masing,” katanya.&lt;br /&gt;Pernyataan Iman tentang lahirnya trainer kompeten di tengah-tengah masyarakat, sekilas tak berbanding lurus dengan format acara yang lebih mengarah pada pengajian kilat. Ini tergambar dari spanduk yang terbentang di dalam ruangan acara yang dipenuhi aroma bunga sedap malam. Di situ tertulis Sanlat Ramadhan. Bukan Train of Trainer (TOT). Tapi demikian, Iman mengatakan bahwa materi yang diberikan kepada peserta Sanlat Ramadhan berbeda dengan materi yang diberikan kepada peserta biasa. “Materi yang diberikan lebih bersifat pendalaman. Karena di antara mereka adalah ketua halaqoh atau SC daerah. Misalkan ada H Taba Iskandar dari SC Batam, Pak Usman dari Samarinda, Pak Fahri dari Jember, H. Muh Imran Yusuf dari Makassar dan lainnya,” lanjut suami dari Ny Nunung Nuryanti ini.&lt;br /&gt;Pendalaman materi yang dimaksud Iman tergambar dari materi awal yang disampaikan ABS di awal acara yang dimulai pukul 19.00 wib. Di dalam ruangan berukuran sekira 15 m x 10 m tersebut, ABS membedah esensi puasa. “Puasa merupakan ibadah yang tak ada bacaannya. Puasa itu bukan terawaih, tadarus dan lainnya. Puasa adalah mempertahankan kecenderungan nafsu terhadap segala sesuatu yang dilahirkan dari tanah, melalui kesadaran bahwa kita sebenarnya berasal dari tanah. Proses mempertahankan diri ini akan menjadikan jasmani kita lemah. Tapi setelah 3-4 hari kita akan mengalami kebugaran. Nah itulah penemuan ruh. Karena puasa merupakan meditasi untuk kembali menjadi fitrah, kembali pada esensi ruh yang suci dan tak terbatas oleh ruang dan waktu,” kata ustadz berpenampilan low profile ini.&lt;br /&gt;Lebih jauh, Iman mengatakan bahwa ABS juga memberikan materi seputar psikologi massa. “Diberikan juga materi soal bagaimana menghadapi massa melalui sharing pengalaman. Saya sendiri, dulu pernah memberikan solusi. Misalkan saya menyuruh seseorang untuk membeli bakso dan teh manis di sebuah toko pizza. Melakukan tugas ini, orang pasti berdebar-debar karena barangnya kan tidak ada. Dia pasti menduga-duga reaksi dari waiternya, marah atau bagaimanalah. Jadi ini terkait dengan niat. Nah dalam hal ini, Ustadz Abu tadi juga menyampaikan, bila kita memiliki keyakinan akan kebesaran Allah, kita tidak akan kebingungan soal dana pelatihan shalat khusyu,” tutur pria yang berprofesi sebagai konsultan hukum ini.&lt;br /&gt;Sementara itu, salah satu peserta yang sudah mengenal dan mendalami shalat khusyu bercerita kepada SC, bahwa ia telah merasakan kesegaran ruhani yang sebelumnya dicari sejak usia muda. “Alhamdulillah, ini merupakan pencarian saya tentang tazkiyatun nafs sejak usia 19-20 tahun. Waktu itu saya kan mencari melalui berbagai buku dari ulama-ulama Martapura mengenai makrifatullah di mana saya tidak pernah paham. Tapi saat ini banyak terjawab. Ini lho kita mati, kembali kepada Allah, mati sebelum mati atau dalam istilah Al Qur’an antal maut qoblal maut, matikan dirimu sebelum kamu mati,” kata Mohamad Nasir, peserta dari Mimika Papua.&lt;br /&gt;Dari pengalaman spiritual tersebut, Iman berharap bahwa para peserta Sanlat Ramadhan nantinya bisa menyebarkan ajaran shalat khusyu ke tengah-tengah masyarakat. “Saya benar-benar berharap para peserta bisa mengembangkan ajaran ini. Karena bila masyarakat sudah bisa menikmati shalat dan bisa membuktikan bahwa shalat itu mencegah kemungkaran, bangsa ini bisa bangkit dari keterpurukannya. Habis dengan apa lagi kita berjuang memperbaiki bangsa ini bila tidak melalui shalat? Saya yakin, kita bisa memperbaiki bangsa ini melalui shalat khusyu yang melahirkan akhlakul karimah. Dan itu tidak susah,” kata bapak tiga putra ini.&lt;br /&gt;Mendengar ajakan tersebut, Taba Iskandar, salah satu peserta Sanlat Ramadhan dari Batam menyatakan bahwa setelah ia merasakan kesegaran ruhani dari shalat khusyu, secara pribadi ia tergerak untuk menyebarkan kenikmatan shalat kepada keluarga dan lingkungan di sekitarnya. “Saya punya obsesi—paling tidak—saya bisa mengajak keluarga dan lingkungan terkecil di sekitar saya untuk bersama-sama melaksanakan shalat khusyu. Karena bila masyarakat dan para pejabat itu shalatnya khusyu, saya yakin kita tidak akan mengaami kesulitan untuk membangun bangsa ini. Karena selalu mendapat bimbingan dari Allah,” kata pria yang berprofesi sebagai anggota DPRD Kepulauan Riau ini.*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Adib Minanurrachim&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dimuat di SC Magazine No IV&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2483512749123335218-8800955522665400872?l=adibdata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adibdata.blogspot.com/feeds/8800955522665400872/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2483512749123335218&amp;postID=8800955522665400872' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/8800955522665400872'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/8800955522665400872'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adibdata.blogspot.com/2007/12/sanlat-ramadhan-jamaah-shalat-khusyu.html' title='SANLAT RAMADHAN JAMA’AH SHALAT KHUSYU: KADERISASI SPIRITUALIS'/><author><name>Adib Minanurrachim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15129533338323743129</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-I2gRc1Ay-KI/Trz7pcj6bYI/AAAAAAAAAJM/rpVJ_fN0h8A/s220/wajah%2B%252846%2529.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2483512749123335218.post-7081518027320353056</id><published>2007-12-27T13:12:00.000+07:00</published><updated>2007-12-27T13:14:16.138+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='LAPORAN'/><title type='text'>“PUISI, EKSPRESI SPIRITUALITAS DIRI”</title><content type='html'>SENIN siang (06/08), lingkungan di sekitar pesantren Ibnu Cholil yang terletak di Jl Halim Perdana Kusuma Bangkalan Madura ramai. Beberapa mobil berjejer di depan aula pesantren. Saat itu sedang dilaksanakan bedah buku biografi almarhum K.H.M. Cholil AG, salah satu ulama kharismatik Madura dan pendiri pesantren putri Syechona Cholil II Bangkalan. Acara yang dimoderatori Risang, wartawan Radar Madura itu mengundang Prof Dr Mahfudz MD dan D Zawawi Imran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam acara bedah buku itu, Pak D—panggilan akrab D Zawawi Imran—bercerita tentang hikmah mengenang seorang ulama besar. Ia kemudian membacakan puisi tentang Muhammad Rosulullah dengan kebanggan yang terpancar dari sorot mata dan suaranya:&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Karena cinta kepada Nabi bacalah shalawat kepada Nabi&lt;br /&gt;Kalau Allah tidak mengutus Nabi gelaplah jiwa gelaplah hati&lt;br /&gt;.....&lt;br /&gt;Akhlak Nabi bagai bunga-bungaan harum semerbak tiada tandingan&lt;br /&gt;Wahai Nabi, wahai junjungan&lt;br /&gt;Kami senang mengikut tuan&lt;br /&gt;.....&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Hadirin diam menyimak, tersenyum dan kemudian bertepuk tangan. Tapi Pak D belum selesai. Di aula pesantren pimpinan KH Imam Buchori Cholil itu, ia mempersembahkan puisi berjudul Ibu sebagai penutup acara bedah buku biografi KHM Cholil AG. “Kebetulan sabtu kemarin tepat 40 harinya ibu saya meninggal. Tapi saya ada di Samarinda sehingga tidak bisa ikut bersama keluarga. Saya hendak membaca puisi berjudul Ibu yang saya tulis pada tahun 1966, sebelum saya berumur 20 tahun. Puisi ini punya sejarah, puisi ini yang membuat saya diundang di festival internasional di Belanda. Dan semoga makna puisi ini bermanfaat bagi kita semua,” katanya dengan mimik haru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ibu.....&lt;br /&gt;Kalau aku merantau dan datang musim kemarau&lt;br /&gt;Sumur-sumur kering&lt;br /&gt;daunan pun gugur bersama reranting&lt;br /&gt;Hanya mata air air matamu ibu&lt;br /&gt;Yang tetap lancar mengalir&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;Ibu...&lt;br /&gt;Kalau aku merantau&lt;br /&gt;sedap kopyor susumu&lt;br /&gt;Dan ronta kenakalanku&lt;br /&gt;Di hati pada mayang siwalan&lt;br /&gt;memutikkan sari-sari kerinduan&lt;br /&gt;karena hutangku padamu ibu&lt;br /&gt;hutangku padamu ibu&lt;br /&gt;hutangku padamu ibu&lt;br /&gt;hutangku padamu ibu&lt;br /&gt;hutangku padamu ibu&lt;br /&gt;tak kuasa kubayar&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;Ibu adalah buah pertapaanku&lt;br /&gt;Dan ibulah yang meletakkan aku di sini&lt;br /&gt;Saat bunga tembang merebak bau sayap&lt;br /&gt;Ibu menunjuk ke langit kemudian ke bumi&lt;br /&gt;Aku mengangguk meskipun kurang mengerti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.....&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;Ibu...&lt;br /&gt;Kalau aku ikut ujian lalu ditanya pahlawan&lt;br /&gt;Namamu ibu yang akan kusebut paling dahulu&lt;br /&gt;Lantaran aku tahu engkau ibu dan aku anakmu&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;Kalau aku berlayar lalu datang angin sakau&lt;br /&gt;Tuhan yang Ibu tunjukkan sudah kudengar&lt;br /&gt;Ibulahlah ibu bidadari yang berselendang bianglala&lt;br /&gt;Sejenak datang padaku menyuruhku menulis langit biru dengan sajakku.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;TEPAT pukul 14.00 wib, acara bedah buku selesai. Beberapa tamu dan undangan masuk ke dalam ruang makan yang telah disediakan panitia. Sementara Pak D menemui wartawan SC  yang menunggu di serambi masjid Pesantren Ibnu Kholil. Berikut petikan wawancara bersama sastrawan yang juga akrab disebut si Celurit Emas ini tentang sastra pesantren dan kandungan spiritualitas di dalamnya:&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bagiamana perkembangan sastra pesantren saat ini?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Bagus. Bahkan kalau bisa disebut karya santri, bisa dilihat Ayat-Ayat Cinta yang lagi booming karya Habiburrahaman el Shirazy. Sastrawan yang lebih terkenal lainnya adalah Musthafa Bisri, Emha Ainun yang sejak di Gontor sudah menulis puisi di awal tahun 1980-an dan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Yang mempengaruhi sastra pesantren?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dahaga hati dan rasa indah yang selalu dalam hati. Subtansi dari puisi itu adalah kemanusiaan dan keindahan hidup ini. Keindahan itu perlu dihayati dan dinikmati dengan cara hidup sebagai manusia. Bila unsur-unsur kebinatangan merasuki hidup manusia, maka hidup tidak akan indah lagi. Jadi bagaimana menikmati kehidupan ini dengan indah melalui persaudaraan, mengekang hawa nafsu. Bila hawa nafsu menguasi kehidupan manusia maka habislah. Karena itu hawa nafsu itu perlu difilter. Tapi bila tidak bahaya semisal nafsu kepada istri dan makan, ya jangan difilter. Di sinilah dibutuhkan kecerdasan emosianl agar seseorang bisa mengendalikan nafsu dan menempatkan sesuai pada tempatnya. Nah di sini yang disebut akhlakul karimah yang oleh orang-orang disebut moral.&lt;br /&gt;Menurut saya, moral dan akhlakul karimah itu beda. Moral adalah kesepakatan-kesepakatan dalam hidup manusia. Sementara akhlakul karimah, itu sudah berkaitan dengan Allah. Bagaimana cinta pada Allah itu tidak hanya mempengaruhi pribadi seseorang, tapi juga bisa menjadikan cinta yang rahmatan lil alamin. Sehingga kehadiran kita di dunia ini masih ada manfaatnya pada orang lain. Jadi puisi pun juga harus ada manafaatnya bagi orang lain. Ini sesuai dengan sabda Nabi khoirunnas angfauhum linnas. Bila puisi tidak ada manfaatnnya, sama dengan orang ngeleindur (berbicara setengah tidur). Jadi puisi itu juga harus menyampaikan sesuatu, bagian dari ayat-ayat Allah, yang kemudian bisa disebut dakwah.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Apakah sastra juga merupakan media untuk menuangkan spiritualitas seseorang?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ya tergantung siapa yang punya bahasa. Orang yang ahli dalam bahasa sastrawi, itu paling enak menuangkannya kepadatan jiwa melalui puisi. Apalagi bila dikaitkan dengan pesantren, kan bahasa Al Qur’an sendiri adalah bahasa yang indah. Persamaan bunyi, irama dan bahasa yang indah. Jadi tidak mustahil. Karena dalam hadist juga disebutkan, innallaha jamiil yuhibbul jamal (Allah itu Indah dan menyukai sesuatu yang indah).&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Banyak orang mengatakan, puisi anda kental muatan spiritualitasnya, bagaimana menurut anda?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Wah, kalu itu saya tidak bisa mengatakan. Itu kewenangan pengamat.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Selain terus meningkatan kemampuan anda, apakah anda juga memberikan kuliah sastra pada anak-anak muda di pesantren?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ya, setelah kegiatan bersyair saya semakin bergairah, saya juga memotivasi anak-anak di Pesantren al Amin Prenduan Sumenep. Di sana ada teater Hilal, dan alhamdulillah saat ini sudah banyak melahirkan penyair, seperti Jalal D Rahman yang sekarang menjadi Pemred Horison. Tapi demikian, di sana sifatnya saya bukan pengajar, karena puisi memang tidak bisa diajarkan. Barangkali lebih tepat bila dikatakan bahwa saya adalah salah satu penggairah sastra di pesantren tersebut.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Cara menumbuhkan gairah sastra?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kita bacakan puisi yang bagus, kemudian memberikan apresiasi terhadap karya mereka. Jadi kita memang membawa mereka pada suasana sastra yang menarik. Kebetulan mereka tertarik. Karena mereka memang tidak punya kegiatan lainnya, selain sekolah dan mengaji. Di sela-sela waktu senggang, mereka berminat menulis puisi juga. Apalagi di Al Amin memang ada buletin bernama Qolam yang juga memuat karya-karya sastra.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sebagai penyair, apa yang anda harapkan dari pendengar?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ya diharapkan mereka mampu menyerap apa yang disampaikan. Tapi kita kan tidak boleh hanya mengharapkan orang lain sementara kita tidak bisa membangun kata-kata yang bisa diserap oleh orang lain. Jadi dalam dunia kepenyairan juga ada kewajiban membangun kata-kata yang bisa menjadi sebuah komunikasi intensif antara makhluk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Adib Minanurrachim&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Dimuat di SC Magazine No IV&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2483512749123335218-7081518027320353056?l=adibdata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adibdata.blogspot.com/feeds/7081518027320353056/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2483512749123335218&amp;postID=7081518027320353056' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/7081518027320353056'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/7081518027320353056'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adibdata.blogspot.com/2007/12/puisi-ekspresi-spiritualitas-diri.html' title='“PUISI, EKSPRESI SPIRITUALITAS DIRI”'/><author><name>Adib Minanurrachim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15129533338323743129</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-I2gRc1Ay-KI/Trz7pcj6bYI/AAAAAAAAAJM/rpVJ_fN0h8A/s220/wajah%2B%252846%2529.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2483512749123335218.post-2644505200572345186</id><published>2007-12-27T13:09:00.000+07:00</published><updated>2007-12-27T13:12:07.156+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='LAPORAN'/><title type='text'>BEREKSPRESI LEWAT PUISI</title><content type='html'>&lt;em&gt;Sastra pesantren kini memiliki tempat tersendiri di tengah-tengah aneka ragam genre sastra di tanah air. Cakupan temanya luas, tak melulu bicara pesantren.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. ZAWAWI IMRON dilahirkan di Sumenep, Madura, tahun 1946. Perkenalannya dengan dunia sastra dimulai sejak ia masih berumur belasan tahun. “Saya kenal sastra itu sejak kecil, karena di Madura dulu itu kan terkenal sastra lisan. Kemudian ketemu syair-syair agama dalam bahasa Indonesia, di sebuah pesantren di Gapura sebelah timur Sumenep Madura,” katanya.&lt;br /&gt;Sebagai orang yang menggemari sastra, mulanya Pak D tidak mempunyai bayangan bahwa ia akan menjadi seorang penyair. Ia menulis puisi, selain karena pengaruh budaya Madura yang terkenal dengan sastra lisannya, juga karena baginya menulis puisi adalah semata-mata media berekspresi. “Menulis puisi itu kenikmatan sendiri sebagai media ekspresi. Kala itu saya tidak pernah bercita-cita menjadi penyair. Sama sekali tidak pernah. Tapi saya terus menulis. Barulah kemudian pada tahun 1960-an, ada seorang teman yang mengetikkan puisi saya dan dikirimkan ke Minggu Birawa yang redakturnya adalah Pak Sungkan Hadi Oetomo, ternyata dimuat,” katanya tersenyum.&lt;br /&gt;Setelah mengetahui buah karyanya memperoleh respon  positif, semangat Pak D makin menggeloara terhadap sastra. “Sesudah itu, menulislah terus. Pada tahun 1977, terbit buku puisi saya, Semerbak Mayang. Kemudian terbit buku Madura, Akulah Darahmu. Tahun 1982 saya mewakili Jawa Timur mengikuti forum PKR 10 kota di Jakarta. Waktu itu antara lain saya membawa puisi berjudul Bulan Tertusuk Ilalang yang akhirnya terbit dan kemudian oleh Garin Nugraha difilmkan. Setelah itu, ya kegiatan bersyair saya semakin bergairah di samping pada pertengahan tahun 80-an memberikan motivasi kepada anak-anak Pesantren al Amin Prenduan Sumenep,” lanjutnya.&lt;br /&gt;Selain dikenal sebagai sastrawan yang kental akan budaya Madura, Pak D juga dikenal sebagai sastrawan pesantren. Ini terlihat dari pusi Muahmmad Rosulullah di awal tulisan ini atau beberapa karya lainnya.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;BERBICARA sastra pesantren, sastrawan Ahmad Tohari pernah menawarkan batasan. Menurut penulis trilogi Ronggeng Dukuh Paruk ini, sastra pesantren merupakan karya sastra yang hidup dan diciptakan oleh kalangan pesantren, atau karya sastra yang bermuatan misi dakwah. Tentu saja, kalimat “karya sastra yang bermuatan misi dakwah” dalam batasan ini, sangat longgar. Sebab, banyak sastrawan kini yang menghasilkan karya sastra bermuatan misi dakwah, tapi mereka tidak berasal dari kalangan pesantren. Bahkan, banyak karya sastra tentang kehidupan pesantren lengkap dengan segala tata nilai masyarakatnya, namun tidak dihasilkan oleh sastrawan yang punya hubungan erat dengan pesantren.&lt;br /&gt;Karya-karya sastra yang dihasilkan aktivis Forum Lingkar Pena (FLP) di seluruh Indonesia, sebagian bukan produk pesantren, tapi sangat kental memuat misi dakwah agama Islam. Dalam novel-novel Gola Gong misalnya, terutama yang diterbitkan Mizan, misi dakwah itu menjadi ruh yang menghidupi karya tersebut. Begitu juga dengan cerpen-cerpen bahkan komik, semua unsur yang membentuk karya-karya itu hanya sebagai pelengkap dari misi dakwah agama Islam tersebut.&lt;br /&gt;Artinya, batasan “bermuatan misi agama” itu hanya memberi pengertian umum dan bukan ciri khas. Dalam kesusastraan kita kini, ada banyak sastrawan yang merupakan produk pesantren, yang mempunyai kontribusi besar dalam khasanah kesastraan Indonesia mutakhir, seperti KH Mustofa Bisri, Emha Ainun Nadjib, Ahmad Tohari, Fudoli Zaini, Acep Zamzam Nur, Ahmad Syubbanuddin Alwi, Jamal D Rahman, Mathori A Elwa, Nasruddin Anshory dan lainnya. Tapi para sastrawan produk pesantren itu tidak hanya menulis kehidupan di sekitar pesantren, melainkan juga menulis tentang banyak hal sebagaimana sastrawan lain yang bukan produk pondok pesantren. Sebut saja Ahmad Tohari, yang lebih menekuni kehidupan pedesaan dengan segala macam variasinya, baik dalam bentuk cerpen maupun novel. Acep Zamzam Noor lebih banyak dipengaruhi globalisasi peradaban, dan membentuknya sebagai penyair yang santri. Sementara D Zawawi Imron memilih menulis puisi yang kental akan tradisi budaya Madura.&lt;br /&gt;Sekalipun mereka dan D Zawawi Imran tidak melulu bicara kehidupan pesantren, namun kekhasan seorang santri tetap ditemukan dalam karya-karya mereka. Kekhasan ini berkaitan dengan nilai-nilai agama Islam yang mereka anut, yang begitu kental di dalam diri mereka sehingga menghasilkan karya-karya sastra yang kuat akan spiritualitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Adib Minanurrachim&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dimuat di SC Magazine No IV&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2483512749123335218-2644505200572345186?l=adibdata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adibdata.blogspot.com/feeds/2644505200572345186/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2483512749123335218&amp;postID=2644505200572345186' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/2644505200572345186'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/2644505200572345186'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adibdata.blogspot.com/2007/12/berekspresi-lewat-puisi.html' title='BEREKSPRESI LEWAT PUISI'/><author><name>Adib Minanurrachim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15129533338323743129</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-I2gRc1Ay-KI/Trz7pcj6bYI/AAAAAAAAAJM/rpVJ_fN0h8A/s220/wajah%2B%252846%2529.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2483512749123335218.post-9004297178483936623</id><published>2007-12-27T13:07:00.000+07:00</published><updated>2007-12-27T13:09:31.773+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='WAWANCARA'/><title type='text'>“SPIRITUALITAS HARUS TERUS DIASAH”</title><content type='html'>ANGGOTA dewan gubernur di Bank Indonesia (BI) tentu saja orang pilihan. Ia harus memahami persoalan yang menghimpit ekonomi Indonesia, termasuk di dalamnya industri perbankan. S Budi Rochadi adalah salah satu Deputi Gubernur bank Indonesia selain &lt;a href="http://www.bi.go.id/web/id/Tentang+BI/Profile+DG/miranda.htm"&gt;Miranda S. Goeltom (Deputi Gubernur Senior&lt;/a&gt;), &lt;a href="http://www.bi.go.id/web/id/Tentang+BI/Profile+DG/bunbunan.htm"&gt;Bun Bunan EJ. Hutapea (Deputi Gubernur&lt;/a&gt;), &lt;a href="http://www.bi.go.id/web/id/Tentang+BI/Profile+DG/aslim.htm"&gt;Aslim Tadjuddin (Deputi Gubernur&lt;/a&gt;), &lt;a href="http://www.bi.go.id/web/id/Tentang+BI/Profile+DG/hartadi.htm"&gt;Hartadi. A. Sarwono (Deputi Gubernur&lt;/a&gt;), &lt;a href="http://www.bi.go.id/web/id/Tentang+BI/Profile+DG/fadjrijah.htm"&gt;Siti Chalimah Fadjrijah (Deputi Gubernur&lt;/a&gt;), dan &lt;a href="http://www.bi.go.id/web/id/Tentang+BI/Profile+DG/muliaman.htm"&gt;Muliaman D. Hadad (Deputi Gubernur).&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Budi mengawali karirnya di Bank Indonesia (BI) sebagai staf bagian pengawasan kredit, pada tahun 1975. Selang enam tahun kemudian, Budi ditugaskan pada bagian pemeriksaan bank, tingkat III, masih pada bagian yang sama yaitu pengawasan kredit. Tahun 1984, Budi kembali dipindahtugaskan, kali ini pada bagian penilitan dan pengembangan, sebagai kepala desk.&lt;br /&gt;Tahun 1988, pria kelahian Solo, 24 Maret, 56 tahun lalu ini, karirnya mulai menanjak, yaitu menjadi Wakil Kepala Bagian Pengolahan Data. Tak lama setelah itu, pada tahun 1991, ia diangkat menjadi Kepala Bagian Pengolahan Data.&lt;br /&gt;Tahun 1994, Budi kembali ke pengawasan perbankan, kali ini menjabat sebagai Pemeriksa Bank Eksekutif Senior, di Urusan Pengawasan Bank Umum I. Tidak lama kemudian karirnya kembali meningkat, ia dipercaya menjabat sebagai kepala urusan Pengawasan Bank Umum III pada tahun 1997.&lt;br /&gt;Ketika terjadi krisis ekonomi, Budi menjabat sebagai Kepala Urusan Pengaturan dan Pengembangan Perbankan. Sebelum kemudian pada tahun 1998, dia ditunjuk untuk memimpin Kantor Bank Indonesia (KBI) Semarang.&lt;br /&gt;Tahun 2000, dia dipanggil kembali ke kantor pusat, untuk menjabat sebagai Pegawai Utama Setingkat Direktur, di Direktorat Sumber Daya Manusia. Tak lama berselang dia ditugaskan untuk memimpin KBI Medan pada September 2000.&lt;br /&gt;Sebelum menjabat sebagai Kepala Kantor Perwakilan BI di Tokyo, Jepang sejak tahun 2003, Budi sempat menjadi staf ahli Gubernur BI, di biro sekretariat. Dan sekarang ia menjabat Deputi Gubernur di BI Jakarta.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;SEBAGAI Deputi Gubernur BI, Budi memegang prinsip pengabdian dalam menunaikan tugas-tugas yang ia emban. “Selama menjabat, saya tidak merasa ada halangan, karena dasarnya pengabdian. Jadi apa saja jabatannya, itu bukan persoalan. Saya tidak ada target, harus jadi ini atau itu. Karena dasarnya adalah pengabdian dan ibadah,” katanya.&lt;br /&gt;Prinsip mengabdi tersebut, sudah ia tanamkan selepas bangku SLTA. Keteguhannya ini terinspirasi dari ayahandanya yang berprofesi sebagai guru. “Ayah saya dulu seorang guru sehingga lebih banyak mengabdikan dirinya pada negara. Namanya Sunarto Hadiaswoyo. Beliau sebenarnya tentara kemudian keluar untuk menjadi guru. Jadi sepanjang perjalanan hidupnya itu hanya untuk mendirikan sekolah di tempat-tempat terpencil dan mengajar dengan naik sepeda yang saya pikir cukup jauh dari rumah saya di Solo. Jaraknya kira-kira 20 kilometer. Itu tiap hari,” ceritanya kepada wartwan SC.&lt;br /&gt;Seiring perjalanan hidup yang ia jalani, prinsip pengabdian ternyata melahirkan ketenangan bagi suami Ny. Sri Wati Rochadi ini. Terlebih setelah ia mengikuti beberapa komunitas yang bergiat dalam bidang spiritualitas, seperti Perguruan Tenaga Perana dan Pelatihan Shalat Khusyu. Mengenai pengalamannya dalam bidang spiritual, berikut petikan wawancara wartwan SC dengan bapak dua putra ini di halaman rumahnya, Puri Handayani di jl Rasamala:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Apa prinsip anda dalam menapak karir di dunia perbankan?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Prinsipnya adalah pengabdian dan ibadah. Karena Orang mengabdi itu kan mau jadi apa saja kan bukan persoalan. Jadi tidak ada target, bahwa saya harus jadi ini dan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Apakah prinsip itu anda tanam sejak muda?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Semangat pengabdian itu sejak SMA. Harapan pertama saya itu menjadi tentara. Ingin mengabdi pada negara. Tapi perjalanan membawa saya berkarir di dunia perbankkan. Sikap mengabdi itu akan mempengaruhi sikap yang tanpa pamrih. Pekerjaan sebagai ibadah. Jadi tiap tugas yang saya emban, akan saya lakukan dengan sebaik mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Siapakah yang mempengaruhi anda?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Bila pendidikan saya kira kurang mempengaruhi. Tapi bila lingkungan, mungkin. Dulu ayah saya seorang guru sehingga lebih banyak mengabdikan dirinya pada negara. Namanya Sunarto Hadiaswoyo, beliau sebenarnya tentara kemudian keluar untuk menjadi guru. Jadi sepanjang perjalanan hidupnya itu hanya untuk mendirikan sekolah di tempat terpencil dan mengajar dengan naik sepeda yang saya pikir cukup jauh lokasinya dari rumah saya di Solo. Jaraknya kira-kira 20 kilometer. Ia naik tiap hari. Selain tauladan dari ayahanda, pengaruh berikutnya adalah pergaulan bersama teman-teman. Kebetulan saya bergaul dengan kawan-kawan dari Jogja dan Solo. Orang Jogja dan Solo itu kan sikapnya tidak terlalu memikirkan materi. Lain dengan Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bila spiritualisme apakah juga mempengaruhi anda?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Saya pikir iya. Karena saya memang senang sesuatu yang banyak spiritualnya. Misalkan saya ikut perguruan tenaga dalam. Itu sebanarnya juga olah batin. Kemudian saya juga ikut Tenaga Perana, yang guru besarnya dari Filipina. Itu juga spiritual. Kemudian ketemu dengan ustadz Abu Sangkan, itu satu hal yang memengaruhi hidup saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Apa yang anda ambil dalam komunitas spiritual itu?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Saya selalu mengambil yang bener. Artinya tidak ada yang untuk kesaktian. Karena kebatinan untuk kesaktian itu kan ada. Intinya adalah kepasrahan dan mencoba untuk bergerak prospektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Dari tenaga dalam itu ada sisi spiritualnya?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ada. Saya ambil contoh yang dasarnya bukan Islam. Misalkan Tenaga Perana. Itu guru besarnya dari Filipina, eks pengusaha dan beragama katolik. Tapi dasar spiritualnya sesuatu yang general. Misalnya, di situ kan olah meditasi yang akhirnya memberikan blessing (kedamaian) kepada dunia. Ini seperti sholat kan? Bila waktu tahiyat akhir itu ada salam ke kanan dan ke kiri. Nah di waktu salam terakhir itu, kita dianjurkan untuk tersenyum kan? Nah ini dalam bahasa jawanamanya mewayuning ayuning bawono.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Adakah perbedaan dari pelbagai komunitas spiritual yang anda ikuti?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tentunya ada. Misalkan dalam sholat. Dulu, saya dua tahun di Semarang, sementara keluarga di Jakarta. Setiap malam, saya banyak shalat malam, terutama bila menghadapi pelbagai persoalan yang sulit dipecahkan. Segala yang menjadikan saya pusing itu saya ajak untuk sholat. Membaca bacaan-bacaan sholat dengan penuh kepasrahan. Alhamdulillah setelah sholat saya sembuh. Tapi itu berat sekali. Karena harus membutuhkan konsentrasi penuh. Nah hal ini, sebenarnya sama saja dengan di Perguruan Perana yang mengutamakan meditasi dan konsentrasi untuk tujuan tertentu yang tentunya baik. Jadi dalam hal ini, saya melihat ada hubungannya. Misalkan kalau di Perguruan Perana itu kan melihat kekuatan kita. Begitu kita membayangkan Ka’bah, tenaga kita menjadi makin besar. Jadi ada nilai universalnya. Karena di Perguruan Perana juga selalu dihubungkan dengan Ketuhanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tidak ada perbedaan dengan sholat?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ada. Yaitu tingkat kepasarahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Dengan meningkatnya spiritualitas anda, apakah juga meningkatkan kinerja anda sebagai Deputi Gubernur?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Persisinya saya tidak tahu. Mungkin secara positif, ada. Tapi saya tidak pernah menghubungkannya. Tapi intinya saya bekerja menjadi lebih ikhlas. Kalau bekerja lebih ikhlas, tentunya pekerjaan akan menjadi lebih baik kan? Gitu aja prinsipnya. Saya tidak bisa mengukur diri saya. Susah. Tapi saya berusaha bekerja tanpa pamrih dan lillahi ta’ala. Gitu sajalah. Saya bekerjanya amar makruf nahi mungkar yang kadang-kadang tak semua orang bisa melakukannya. Yah, di antaranya mungkin karena spiritualitasme. Bila kita sudah punya dasar tapi bila diasah terus dengan baik, akhirnya kan akan menjadi lebih tajam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sesuatu yang belum anda capai saat ini apa?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Apa ya? Kalau saya, untuk masalah dunia tampaknya tidak ada. Karena saya tidak punya keinginan terlalu muluk. Saya ingin menjalani hidup ini apa adanya saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ada yang mengatakan, kebahagiaan itu ada empat: kasih sayang, prestasi/harta kekayaan, spiritualitas dan meninggalkan kenangan terindah bagi generasi sesudahnya. Kira-kira di antara keempat hal ini apa yang belum anda capai?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Barangkali spiritual. Karena saya ingin bekerja dan mengabdi dengan ikhlas. Bila harta... bukannya saya sok, tapi saya tidak terlalu memikirkannya terlalu dalam. Misalkan kalau saya kehilangan sesuatu, kalau Tuhan memang menghendakinya... ya apa boleh buat? Tak masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kalau poin keempat?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Kalau itu jelas. Dan itu harus diupayakan terus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Upaya-upayanya?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Antara lain, dulu itu saya mengajar di beberapa perguruan tinggi/lembaga pendidikan seperti IPPM, Universitas Bina Nusantara, Universitas Diponegoro dan Institut Bisnis Indonesia. Nah, dalam mengajar itu kan harus ikhlas. Dan untuk orang-orang tertentu ini susah. Bila saya, saya bersyukur karena saya tidak punya obsesi yang kuat tentang dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tidak ada keinginan karena semuanya sudah tergapai atau bagaimana?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Oh tidak-tidak. Kalaupun saya misalnya tidak menjadi Deputi Gubernur, ya tidak apa-apa. Jadi saya hanya berusaha mengabdi dan beribadah dengan apa adanya. Nah mengenai tingkat kebahagiaan yang keempat, antara lain saya menangani kredit kecil, agar masyarakat bawah bisa sepadan dengan masyarakat kaya seperti yang ditegaskan dalam UUD 1945. Itu kalau yang ingin disebut keinginan yang belum dicapai.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Selain itu?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kalau di kantor, diskripsi jabatan saya itu kecil sekali. Saya ingin melampaui diskripsi jabatan tersebut. Dan sekarang saya banyak bertemu dengan orang-orang di luar, mengajak teman-teman seperti para penguasaha. Tidak sekedar bicara sektor formal atau untung-rugi, tapi juga bagaimana bicara mengajak masyarakat kecil bisa ikut bekerja bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kalau tadi banyak bicara ikhlas, sebenarnya menurut anda ikhlas itu pemberian atau sesuatu yang harus diperjuangkan?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Ikhlas itu harus diusahakan pada semua orang. Jadi bukan pemberian. Bukan apa adanya. Yah... bolehlah bila menggunakan bahasa anda, yaitu diperjuangkan.*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wawancara dengan S Budi Rochadi, Deputi Bank Indonesia Jakarta&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Adib Minanurrachim&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dimuat di SC Magazine No IV&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2483512749123335218-9004297178483936623?l=adibdata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adibdata.blogspot.com/feeds/9004297178483936623/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2483512749123335218&amp;postID=9004297178483936623' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/9004297178483936623'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/9004297178483936623'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adibdata.blogspot.com/2007/12/spiritualitas-harus-terus-diasah.html' title='“SPIRITUALITAS HARUS TERUS DIASAH”'/><author><name>Adib Minanurrachim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15129533338323743129</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-I2gRc1Ay-KI/Trz7pcj6bYI/AAAAAAAAAJM/rpVJ_fN0h8A/s220/wajah%2B%252846%2529.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2483512749123335218.post-5469239816194817408</id><published>2007-12-27T13:06:00.000+07:00</published><updated>2007-12-27T13:07:35.371+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='WAWANCARA'/><title type='text'>“SILATURRAHMI SEBAGAI KOMUNIKASI PRODUKTIF”</title><content type='html'>DARI sudut pandang sosiologi, silaturrahmi adalah interaksi yang dijalin antar indvidu dalam sebuah komunitas yang bisa memunculkan understanding (pemahaman bersama), dan pada saat yang sama juga melahirkan transbuilding (saling percaya). Selanjutnya diharapkan akan muncul sinergi untuk menggalang cita-cita bersama. Jadi ukhuwah itu sarana membangun modal sosial. Dalam hal ini ada ayat Al Qur’an yang menggambarkan bahwa Allah menciptakan manusia bersuku-suku, laki-perempuan dan seterusnya untuk saling kenal-mengenal.&lt;br /&gt;Interaksi masyarakat komunal itu face to face. Karena pekerjaan, tempat tinggal dan lingkungannya sama. Itu merupakan interaksi yang membangun budaya. Sementara dalam masyarakat modern, interaksi face to face sulit dilakukan karena situasi dan kondisinya. Tapi biasanya dijembatani dengan telp, sms dan lainnya. Understanding dan trust dalam interaksi adalah modal dasar untuk melakukan sinergi atau gotong royong. Ada perbedaan gotong royong antara masyarakat paguyuban dan patembayan. Dalam masyarakat patembayan, gotong royongnya lebih pada hubungan profesional dan harus dilandasi ikatan kontrak berupa MoU. Sementara pada masyarakat paguyuban itu lebih loose (longgar) dan tidak perjanjian tertulis.&lt;br /&gt;Sebenarnya, gotong royong itu universal. Di India atau di Amerika, yang namanya masyarakat pedesaan itu tidak kalkulatif. Jadi tidak unik Indonesia. Tapi bahwa di Indonesia gotong royong merupakan suatu yang dominan, ya memang kita masyarakat kerabat. Bahkan satu kampung bisa saudara semua.&lt;br /&gt;Di Indonesia, gotong royong antara desa dan kota berbeda. Dan di kota juga ada perbedaan antara kampung dan daerah seperti Menteng ini. Di dekat sini ada kampung Bonang dan intensitas gotong royongnya masih terasa. Karena interaksi face to face-nya masih intensif. Tapi beda dengan di Menteng ini. Misalkan saya dengan tetangga di depan itu hampir tidak pernah ketemu. Karena situasi dan kondisinya memang berbeda, tak selalu bertatap muka secara langsung karena sudah diblok dengan pagar. Ini juga dialami keluarga yang kerabatnya berpencar di mana-mana, baik di Indonesia atau di Amerika dan Eropa. Di Amerika, kerenggangan ini biasa dijembatani dengan moment yang bisa mengumpulkan seluruh keluarga, yaitu Thank Giving Day. Ini merupakan sejarah di mana orang Eropa datang dan disambut oleh orang Indian dengan sajian makanan kalkun. Itu kemudian menjadi tradisi. Ini sama dengan kita bila tiba Idul Fitri. Ada tradisi mudik lebaran, media untuk mengintegrasikan communal feelling yang terpecah karena situasi dan kondisi.&lt;br /&gt;Ada perbedaan antara silaturrahmi dari dimensi sosiologis dan silaturrahi dari dimensi teologis. Dua pengertian ini bisa disebut ayat kauniyah dan qouliyah. Nah ayat kauniyah ini sudah saya katakan tadi. Kalau qauliyah, itu bertolak dari fenomena sosial seperti tadi terus ditambah dengan ukhuwah yang didasarkan pada semangat beribadah, memperkuat komitmen dan menumbuhkan rasa keberagamaan hingga menumbuhkan komunitas religius. Jadi ada spirit agama. Sama saja dengan anak-anak yang pulang kampung. Mereka tak sekedar memperkuat kerekatan antara anak dan orang tua semata, tapi pada saat yang sama juga terjadi check dan recheck tentang spiritual conditionnya. Karena tujuan hidup itu kan tak sekedar cari makan dan berteman, tapi juga bagaimana struggle untuk menetapi sebuah visi-misi yang bersifat sangat pribadi (agama), tapi pada saat yang sama juga kolektif. Makanya juga mengenal jamaah. Nah, jamaah itu kan sebenarnya memperkuat visi-misi keagamaan individu secara kolektif. Sehingga ukhuwah itu mempunyai dimensi spiritual collective.&lt;br /&gt;Sekarang, bisakah silaturrahmi itu mempengaruhi peradaban? Ada istilah human capital, orang punya profesi dan kemampuan sendiri-sendiri. Pada saat mereka bergabung, maka daya rubahnya menjadi lebih besar. Misalkan seorang insinyur atau civil engineer bertemu dengan pemodal dan scientist untuk melakukan kerja bersama. Nah ukhuwah dalam terjemahan seperti ini bila ditransformasikan dalam agenda kerja, akan melahirkan social capital. Bila kuat ukhuwah dan makin besar jaringan ukhuwahnya, harusnya secara teoritis bisa melakukan kerja bersama dan menciptakan perubahan. Tapi bila ukhuwahnya hanya sebatas kangen-kangenan tanpa ada action plan, maka yang muncul hanyalah kerumunan. Bukan barisan.&lt;br /&gt;Menuju masyarakat barisan itu tak mudah. Butuh manajemen, keahlian dalam organisasi dan pemahaman tentang team work. Tapi orang bertemu atas nama ukhuwah tidak selalu menjadi team work. Dan team work juga tak selalu menjadi action. Apalagi melahirkan hasil yang memuaskan. Jadi ada tahapan-tahapannya.&lt;br /&gt;Misalkan kita ingin memajukan komunitas kerumunan menjadi barisan. Dalam masyarakat barisan itu kan ada pembagian tugas (division of labor), ada pemimpin yang bisa dipilih secara teratur, bergilir dengan batas tertentu. Berikutnya ada mekanisme kerja, salah satunya dari sudut keuangan itu harus ada audit. Terus ada program kerja yang dirancang secara bersama-sama. Bukan prgram tokoh tertentu. Tapi seluruh anggota terlibat di dalam merancang dan melaksanakan program.&lt;br /&gt;Sekarang kita diskusi soal ukhuwah. Misalkan, saat ini banyak komunitas pengajian yang tampaknya diisi oleh orang-orang kota. Tapi apakah di dalamnya selain ada ukhuwah emosional juga ada ukhuwah fungsional? Orang datang dan bertemu itu kan lebih pada emosional attachment. Tapi tidak hanya itu yang saya maksud. Ok, emosional attachment itu penting tapi juga harus ditranformasikan ke dalam fungsi: untuk apa kita bertemu?&lt;br /&gt;Dalam idul fitri, idealnya itu ada dua dimensi, dimensi vertikal dan dimensi horisontal. Tapi setelah kita breakdown tadi, ternyata dimensi horisontal hanya mengarah pada emosional attachment, tidak functional attachment. Itu yang menjadi problem. Sehingga pertemuan itu hanya berisi kangen-kangenan.&lt;br /&gt;Barangkali, itu karena kita seringkali terjebak dalam ritualisme tanpa spiritualisme. Misalkan dalam bentuk yang lebih mikro, waktu orang tua terhadap anak kan ada dua pendapat, quality time atau quantity time? Ada yang berpendapat hendaknya kita ini memberikan waktu yang selonggar-longgarnya kepada anak. Tapi ada juga yang bilang, banyak waktu tapi bila tidak ada kualitasnya kan tidak bermakna? Nah ukhuwah juga begitu. Ukhuwah sering dilakukan, tiap hari dan tiap minggu. Tapi problem qualitynya di mana?&lt;br /&gt;Memang di situ ada emosional quality seperti curhat, heart to heart interaction hingga nangis-nangis. Tapi functional quality yang lebih konkrit bagaimana? Apakah nangis-nangis itu bisa nolongin bayar hutang? Apakah bisa ikut kerja melakukan sebuah agenda konkrit untuk economic empowerment, misalkan. Jadi hal itulah yang harus dijabarkan. Sehingga bisa menumbuhkan kesalehan sosial dan bisa mensupport peradaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wawncara dengan Imam B Prasojo (Sosiolog UI)&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Adib Minanurrachim&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dimuat di SC Magazine No IV&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2483512749123335218-5469239816194817408?l=adibdata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adibdata.blogspot.com/feeds/5469239816194817408/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2483512749123335218&amp;postID=5469239816194817408' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/5469239816194817408'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/5469239816194817408'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adibdata.blogspot.com/2007/12/silaturrahmi-sebagai-komunikasi.html' title='“SILATURRAHMI SEBAGAI KOMUNIKASI PRODUKTIF”'/><author><name>Adib Minanurrachim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15129533338323743129</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-I2gRc1Ay-KI/Trz7pcj6bYI/AAAAAAAAAJM/rpVJ_fN0h8A/s220/wajah%2B%252846%2529.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2483512749123335218.post-5289621140304706869</id><published>2007-12-27T13:05:00.000+07:00</published><updated>2007-12-27T13:06:47.693+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='WAWANCARA'/><title type='text'>“SHILATURRAHIM BAGIAN PERADABAN ISLAM”</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Apa makna shilaturahim dalam Islam?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dalam Islam, shilaturahim itu bukan basa-basi, tapi bagian penting dari kehidupan beragama. Karena Rosulullah pernah ditanya, Islam bagaimana yang paling baik? Ketika itu Nabi baru datang di Madinah, beliau menjawab, yang utama dalam Islam adalah liinul kalam (tutur kata yang lembut), wa ifsyaul kalam (menyebar kedamaian), shillatul arham (membina dan mengembangkan hubungan kekeluargaan), dan ith’amu tho’am (memberi makan orang-orang yang lapar). Jadi rukun Islam yang lima yaitu syahadat, shalat, puasa, zakat dan haji ditambah empat lagi yang disebutkan tadi, itulah gambaran Islam yang lebih sempurna.&lt;br /&gt;Keempat jawaban Nabi itu menyangkut kepedulian kita pada masyarakat, tak kecuali yang namanya shillatul arham atau shilaturahim. Ini sangat penting diterapkan dalam kehidupan masyarakat, baik di tingkat yang paling kecil bernama keluarga hingga masyarakat yang lebih besar di luar keluarga semisal bangsa dan bahkan antar bangsa.&lt;br /&gt;Jadi begitu gambarannya. Sehingga dengan adanya shilaturahim, ukhuwah Islamiyah, wathoniyah dan basyariyah akan mudah terbentuk.&lt;br /&gt;Dalam bulan Ramadhan, ada pentunjuk-petunjuk untuk meningkatkan shilaturrahim. Jadi tidak terbatas pada puasa, tarawih, tadarus al Qur’an dan lainnya yang biasa disebut dengan paket Ramadhan. Tapi juga termasuk di dalam Ramadhan adalah pengembangan shillaturahim. Allah sendiri memberikan satu arahan pada beberapa ayat yang membicarakan puasa dan segala rangkaiannya dalam surat al Baqarah ayat 183-189. Di situ diselipkan satu ayat mengenai betapa pentingnya menjalin keakraban. Keakraban pertama adalah keakraban dengan Allah, yakni wa idza saalaka ‘ibadzi ‘anni, fainni qoriib (kalau kamu—Muhammad dan para orang beriman—bertanya tentang Allah, katakan bahwa Allah itu akrab). Allah itu akrab/dekat dan selalu siap menerima permohonan orang-orang yang memohon. Itu salah satu rangkaian dalam ajaran Islam yang berbicara mengenai puasa. Jadi saat orang Islam menunaikan ibadah puasa, patut kita gugah kesadaran berakrab-akaraban, baik kepada Allah maupun pada sesama. Adapun yang sesama itu namanya shilaturrahim.&lt;br /&gt;Tapi saat ini, bagi bangsa Indonesia, shilaturrahim kita belum optimal pelaksanaannya. Karena yang terjadi masih antar orang perorang. Seharusnya ada kesungguhan mengembangkan shilaturahim, baik golongan, kelompok, ormas atau partai di Indonesia. Karena di negeri tercinta ini masih banyak kekalutan dalam kehidupan bermasyarakat yang terjadi karena adanya komunikasi yang tidak sambung. Bukan sekedar antarindividu tapi juga terjadi antargolongan, etnis, agama dan partai. Sehingga kehidupan bermasyarakat tidak bisa dinikmati dengan baik. Keakraban, kerukunan dan kedamaian terasa mahal.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Berangkat dari penjelasan anda, bisakah shilaturrahim itu diklasifikasikan menjadi beberapa macam, seperti shilatul fikri, shilatul rizki hingga shilatul ruh?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Ya, benar. Ungkapan saudara itu memang tercangkum di dalamnya. Karena misalkan anda mengatakan ada shilatul fikri atau shilatul afkar, artinya ada keterbukaan menerima pemikiran orang lain dan begitu pula sebaliknya. Ini merupakan bagian penting dalam kehidupan bersama, karena bisa meminimalisir terjadinya konflik.&lt;br /&gt;Dalam Islam, perbedaan pendapat itu biasa dinamakan ikhtilaf ar ro’yi. Kata ikhtilaf sendiri banyak disebut dalam Al Qur’an. Dalam kitab suci itu, perbedaan lebih banyak diletakan pada segi positifnya. Sementara manusia banyak mempersepsikan perbedaan sebagai sesuatu yang negatif.&lt;br /&gt;Dalam Al Qur’an, misalkan ada ungkapan ikhtifalul laili wa nahar (perbedaan malam dan siang). Ini fenomena alam di mana manusia terlibat di dalamnya, hidup di antara siang dan malam. Selain itu ada juga ungkapan, ikhtilaful alsinatikum wa alwanikum (perbedaan bahasa dan warna kulit kalian). Ini juga bagian dari kehidupan alamiah. Dan kita harus mampu menjadikannya sebagai pelajaran, bahwa kita harus mampu hidup di alam perbedaan-perbedaan itu agar kita bisa lebih menikmati kehidupan ini.&lt;br /&gt;Beberapa kategori shilah yang anda katakan tadi, menurut saya merupakan satu rangkaian kesatuan, bukan bediri sendiri. Soal rizki seperti kaya-miskin, atau sosial seperti profesi itu kan satu paket kehidupan. Jadi semua itu harus diletakkan pada posisi ikhtilaf yang positif. Nah hal ini sesuai dengan jawaban Nabi di atas, yaitu ith’amu tho’am, liinul kalam dan ifsyaul salam. Jadi harus simultan. Itu semua satu paket shilaturrahim.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Apakah bisa dikatakan bahwa persolan sosial itu terjadi selain karena kurangnya shilaturahim dalam arti subtantif, juga karena rendahnya tingkat spiritual bangsa?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Dalam islam, bicara tentang rendah tingginya tingkat spiritual, itu mengacu pada iman. Sementara indikator spiritualas yang sehat dan baik, adalah berfungsinya iman pada diri seseorang. Ada salah satu petunjuk yang jelas dari Rosulullah ketika ditanya tentang mukmin, yaitu almukminu man aminahu annas ‘ala dimaa’ihim wa amwalihim (orang yang mukmin adalah mereka yang oleh masyarakat mendapat kepercayaan bahwa mereka tidak mengganggu kemanan dirinya dan harta bendanya). Jadi salah satu indikator iman itu adalah menjadi kepercayaan orang lain. Orang lain tidak terganggu dari segala sikapnya, termasuk pembicaraannya. Atau dengan kata lain, seorang yang beriman harus mampu menciptakan lingkungan kehidupan yang aman. Nah itu salah satu indikator keimanan. Itulah spiritual menurut pandangan Islam.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Artinya shilaturrahim bisa meningkatkan spiritual seseorang?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Benar sekali. Karena itu saya katakan bahwa shilaturrahim itu bukan basa-basi dan semboyan politik. Tapi satu bagian penting dari ajaran Islam.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Adakah perbedaan shilaturrahim dalam idul fitri dan di luar idul fitri?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Saya kira shilaturrahim di mana-mana itu satu. Cuma idul fitri itu dijadikan momentum di mana shilaturrahim ditonjolkan sedemikian rupa sehingga menjadi acara utama. Seperti misalnya kalau kita di Indonesia ada acara formal bernama halal bil halal, itu merupakan lembaga shilaturrahim.&lt;br /&gt;Jadi maknanya tetap sama. Jadi meski di luar Idul fitri, shilaturrahim harus tetap terbina terus.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bisakah kemudian dikatakan bahwa shilaturrahim merupakan media untuk mensupport peradaban Islam?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Oh ya tentu. Shilaturrahim itu merupakan bagian penting dari peradaban Islam. Tapi yang disesalkan, sejauh ini shilaturrahim tidak terbina secara optimal. Ini merupakan salah satu kesalahan. Padahal pada waktu Rasulullah dan para sahabat itu, shilaturrahim sangat terjaga. Sementara orang-orang non muslim juga merasa aman di tengah-tengah masyarakat muslim, mulai zaman Rasulullah hingga zaman kekhalifahan.*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wawancara dengan Prof KH Ali Yafie (Mantan Rektor IIQ Jakarta)&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Adib Minanurrachim&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Dimuat di SC Magazine No IV&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2483512749123335218-5289621140304706869?l=adibdata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adibdata.blogspot.com/feeds/5289621140304706869/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2483512749123335218&amp;postID=5289621140304706869' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/5289621140304706869'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/5289621140304706869'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adibdata.blogspot.com/2007/12/shilaturrahim-bagian-peradaban-islam.html' title='“SHILATURRAHIM BAGIAN PERADABAN ISLAM”'/><author><name>Adib Minanurrachim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15129533338323743129</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-I2gRc1Ay-KI/Trz7pcj6bYI/AAAAAAAAAJM/rpVJ_fN0h8A/s220/wajah%2B%252846%2529.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2483512749123335218.post-8246765328154721988</id><published>2007-12-27T13:03:00.000+07:00</published><updated>2007-12-27T13:04:58.103+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ESAI'/><title type='text'>TUHAN TERTAWA, HAMBA BAHAGIA</title><content type='html'>&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Jika Tuhanmu tertawa kepada hamba, maka tidak ada perhitungan atasnya." (Hadist riwayat Ibnu Zanjuwih dari Na'im bin Hammam al Ghafthani)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;APA TUJUAN hidup manusia di dunia? Tak bisa disangkal, pertanyaan ini acapkali lewat begitu saja dalam benak kita. Ada beberapa sebab. Ada yang melewatkannya karena sudah memperoleh jawaban. Ada juga yang melewatkannya karena tak tahu jawabannya. Tapi terlepas memperoleh jawaban atau belum, tak sedikit dari manusia yang mengatakan bahwa tujuan hidup di dunia adalah harta, takhta dan wanita. Tapi cukupkah ketiga tujuan itu? Bahagiakah manusia setelah memperolehnya?&lt;br /&gt;Fakta membuktikan, tak sedikit orang kaya yang masih mengalami kegelisahan ketika ia sudah memiliki harta, takhta dan wanita. Lantas... apa sebenarnya tujuan manusia?&lt;br /&gt;Ada pendapat yang mengatakan bahwa tujuan hidup manusia ada empat: pertama, memperoleh prestasi/kekayaan; kedua, cinta kasih; ketiga, spiritulisme; dan keempat, meninggalkan sesuatu yang berharga bagi generasi sesudahnya.&lt;br /&gt;Tujuan pertama dan kedua adalah tujuan yang dicapai dengan perhitungan untung rugi. Kita tidak mungkin membeli atau menjual sesuatu yang tidak menguntungkan kita. Begitupula dengan cinta kasih, kita tak mungkin terus-menerus mencintai seseorang bila ia tidak membalas cinta kita. Ini semua karena tolak ukur kita adalah kebutuhan jasmani. Bukan kebutuhan ruhani.&lt;br /&gt;Sementara tujuan ketiga dan keempat lebih bersifat ruhani. Artinya kita melakukan sesuatu bukan untuk memperoleh keuntungan materiil dan atau sanjungan serta pujian dari orang lain, kecuali semata-mata karena ingin mendapatkan ridha Allah SWT. Sementara di antara hamba yang diridhai Allah adalah hamba yang syahid. Ini seperti hadist Nabi Muhammad SAW, “jika Tuhanmu ‘tertawa’ kepada seorang hamba maka tidak ada perhitungan padanya.”&lt;br /&gt;Hadist itu bercerita tentang belas kasih Allah atas hambanya karena hambanya benar-benar ikhlas berjuang di jalanNya. Hadist ini turun ketika seorang laki-laki datang kepada Nabi dan bertanya: “Ya Rasulullah, syuhada mana yang paling utama?” Jawab Nabi: “Syuhada yang diketemukan pada barisan yang pertama, mereka tidak menolehkan mukanya sampai mereka terbunuh. Mereka itulah yang akan menempati kamar surga yang teratas dengan ridha Tuhan.”&lt;br /&gt;Dari Hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu Zanjuwaih dari Naim bin Hamam Al Ghathfani di atas, kita bisa mengambil pemahaman bahwa untuk menjadi seorang hamba yang syuhada atau yang diridhai Allah kita harus terus-menerus berusaha menjaga konsistensi kita dalam menjalankan segala perintah dan menjauhi segala laranganNya. Tentu ini bukan hal yang mudah. Tapi bila cinta menjadi dasar ibadah kita kepada Allah, tak ada sesuatu yang tidak bisa kita laksanakan demi ridha Allah. Semoga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Adib Minanurrachim&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Dimuat di SC Magazine Vol III&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2483512749123335218-8246765328154721988?l=adibdata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adibdata.blogspot.com/feeds/8246765328154721988/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2483512749123335218&amp;postID=8246765328154721988' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/8246765328154721988'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/8246765328154721988'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adibdata.blogspot.com/2007/12/tuhan-tertawa-hamba-bahagia.html' title='TUHAN TERTAWA, HAMBA BAHAGIA'/><author><name>Adib Minanurrachim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15129533338323743129</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-I2gRc1Ay-KI/Trz7pcj6bYI/AAAAAAAAAJM/rpVJ_fN0h8A/s220/wajah%2B%252846%2529.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2483512749123335218.post-4873088374599325722</id><published>2007-12-27T13:01:00.000+07:00</published><updated>2007-12-27T13:02:01.496+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='REHAL'/><title type='text'>SEHAT LEWAT TAHAJUD</title><content type='html'>BUKAN rahasia lagi bila kesehatan begitu mahal harganya. Apalagi saat ini, di mana perekonomian bangsa Indonesia masih belum membaik. Seorang pengindap penyakit jantung misalnya, akan mengeluarkan biaya puluhan juta rupiah untuk bisa kembali pada kondisi sehat. Itu pun bila masih stadium rendah.&lt;br /&gt;Mengingat betapa mahalnya kondisi sehat, Dr. Moh Shaleh—pengasuh Klinik Terapi Tahajud dan Trainer Salat Khusyuk—membagi pengalaman dan hasil penelitiannya dalam sebuah buku tentang salat tahajud yang bisa menyembuhkan berbagai penyakit, yaitu Terapi Salat Tahajud; Menyembuhkan Berbagai Penyakit. Dalam buku yang sudah terjual ribuan copy ini, Dr Shaleh mendiskripsikan secara ilmiah pengaruh salat tahajud terhadap kesehatan tubuh. Menurutnya, salat tahajud bisa menimbulkan perubahan pada diri kita, yaitu hormon kortisol tidak terlepas dari tubuh melampaui batas toleransi tubuh.&lt;br /&gt;Bagi sebagian orang yang terbiasa berkutat dalam dunia ilmiah tanpa pernah mendalami dunia spiritual, ungkapan Dr Shaleh di atas terasa janggal. Karena sejauh ini, dunia kedokteran adalah dunia ilmiah-empirik. Sehingga mustahil bila tahajud bisa menyembuhkan penyakit.&lt;br /&gt;Tapi demikian, berangkat dari penelitian yang ia lakukan untuk tugas disertasinya di Fakultas Kedokteran Unair Surabaya, Dr. Shaleh berhasil menelaah, meriset dan mengungkap sisi ilmiah dari sebuah keyakinan tentang pengaruh salat tahajud terhadap kesehatan tubuh. Karena menurutnya—dan diyakini beberapa ahli kedokteran lainnya—awal mula segala penyakit itu akibat stress yang banyak melanda orang-orang modern. Sehingga kortisol terlepas dari tubuh melampaui batas toleransi tubuh. Kortisol sendiri adalah hormon yang berfungsi mempertahankan integritas tubuh, sifat responsif pembuluh darah dan volume cairan tubuh. Kelebihan kortisol dapat menyebabkan hipertensi melalui stimulasi renin pada sistem renin angiotensin.&lt;br /&gt;Selain mengurai tentang pengaruh stress terhadap kortisol, pria kelahiran Kediri 47 tahun lalu ini juga membuktikan bahwa keikhlasan seseorang yang merupakan syarat mutlak dalam beribadah (baca; tahajud), bisa diukur secara ilmiah. “Sikap psikis dari konsep religius tentang ikhlas-tidaknya sebuah tindakan memiliki hubungan dan pengaruh yang amat kental dengan proses peningkatan kortisol tubuh. Ini semua bisa diuji dan dibuktikan secara empiris lewat mekanisme kerja penelitian laboratorium paramedis,” katanya dalam wawancara dengan SC via telephon.&lt;br /&gt;Lebih jauh dia mengatakan bahwa realitas fisio-biologis dan psiko-biologis berhasil diintegrasikan dan membuktikan bahwa: pertama, terdapat perbedaan respons ketahanan tubuh imunologik kelompok pengamal salat tahajud antara Post I-Pre dan Post 2-Pre. Kedua, salat tahajud yang dilakukan secara tepat, khusyuk, ikhlas dan kontinu dapat menurunkan sekresi hormon kortisol. Ketiga, salat tahajud yang dilakukan secara tepat, khusyuk, ikhlas dan kontinu dapat meningkatkan perubahan respons ketahanan tubuh imunologik. Keempat, kortisol yang oleh Carlson, penulis buku Psyscology of Behavior, dan ahli lain digunakan sebagai tolak ukur stres dan homeostasis tubuh, dalam penelitian ini kortisol juga dapat dipakai sebagai indikator ikhlas. (h: 186-187)&lt;br /&gt;Berangkat dari hal di atas, tak salah bila Ust Abu Sangkan, trainer dan penulis buku Pelatihan Salat Khusyuk mengatakan bahwa Dr. Moh. Shaleh adalah salah satu tokoh yang sudah lama ditunggu oleh dunia Islam. Dengan ketekunannya menelaah hikmah salat tahajud dari ilmu kedokteran, ia telah melaksanakan apa yang diinginkan Al-Qur’an, yaitu bacalah (iqra), lalu simaklah (wa-sma’u), lalu pikirkanlah (afala tatafakkarun), lalu perhatikanlah (afala tubshirun) lalu teliti/risetlah (afala tandhurun), dan ungkapkanlah (afala tatadabbarun). “Langkah-langkah demiikianlah yang dilakukan oleh Dr. Moh Shaleh dengan melakukan penelitian ilmiah terhadap salat tahajud,” kata Abu Sangkan kepada SC.&lt;br /&gt;Selain itu, Abu Sangkan juga menyatakan bahwa apa yang telah dilakukan oleh Dr. Shaleh dalam bukunya tersebut, merupakan awal dari bangkitnya peradaban Islam yang telah lama terbenam oleh peradaban Eropa.&lt;br /&gt;Akhirnya, buku yang telah dicetak sebanyak empat belas kali ini merupakan buah karya yang turut menyumbang khazanah keilmuan kedokteran dewasa ini. Lebih jauh, buku yang terbagi menjadi 3 sub pembahasan (Anatomi Sistem Kekebalan Tubuh Imunologik; Psikoneuroimonologi Salat Tahajud; dan Pengaruh Salat Tahajud terhadap Peningkatan Respons Ketahanan Tubuh) ini juga berhasil menjawab secara ilmiah-empirik kebenaran Hadist yang diriwayatkan HR turmudzi, yaitu: “salat tahajud dapat menghapus dosa, mendatangkan ketenangan dan menghindarkan diri dari penyakit.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Adib Minanurrachim&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;Dimuat di SC Magazine Vol III&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2483512749123335218-4873088374599325722?l=adibdata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adibdata.blogspot.com/feeds/4873088374599325722/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2483512749123335218&amp;postID=4873088374599325722' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/4873088374599325722'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/4873088374599325722'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adibdata.blogspot.com/2007/12/sehat-lewat-tahajud.html' title='SEHAT LEWAT TAHAJUD'/><author><name>Adib Minanurrachim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15129533338323743129</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-I2gRc1Ay-KI/Trz7pcj6bYI/AAAAAAAAAJM/rpVJ_fN0h8A/s220/wajah%2B%252846%2529.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2483512749123335218.post-1259997969135868314</id><published>2007-12-27T12:59:00.000+07:00</published><updated>2007-12-27T13:00:59.405+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='LAPORAN'/><title type='text'>“SAYA INGIN LEBIH BERMANFAAT”</title><content type='html'>KAMIS sore, suasana Pondok Pesantren At Taibin ramai. Beberapa santri usia 13 – 17 tahun sedang bermain bola di depan kantor pesantren. “Hai, oper sini. Ya. Bagus... gooll,” teriak para santri sambil berlari-lari merayakan gol. Sementara seorang pengurus pesantren, Faisal, menyambut kru SC yang baru datang. Setelah mengetahui maksud kedatangan SC, Faisal mengajak mengelilingi pesantren yang didirikan oleh HM. Ramdhan Effendi alias Anton Medan.&lt;br /&gt;Pesantren At Taibin tidak seperti pesantren umumnya. Santri tidak diajarkan membaca kitab kuning semisal Fathul qorib dan Fathul Mu’in. “Di sini hanya mendalami Al Qur’an dan al Hadist. Sementara kurikulumnya mengacu pada Diknas,” kata Faisal.&lt;br /&gt;Pesantren At Taibin didirikan pada tahun 2004 dan terletak di Jl Raya Kampung Sawah Rt 02/08 Kp Bulak Rata Kel. Pondok Rajeg Cibinong Bogor Jawa Barat. Di Pesantren yang bangunannya berarsitektur Cina ini diajarkan empat bahasa, yaitu Arab, Inggris, Mandarin dan Jepang.&lt;br /&gt;Arsitektur Cina juga terlihat pada bangunan Masjid Jami’ Tan Hok Liang. Modelnya diambil dari istana Dinasti Ching. Masjid ini terdiri dari empat lantai. Lantai bawah digunakan sebagai kantor pesantren. Sementara lantai lainnya digunakan untuk ibadah. Di sisi ujung setiap genteng terdapat lafaz Allah dalam bahasa Arab. Di bawahnya ada goresan huruf Cina, "wang", yang berarti "raja". Sementara di setiap sudut atap terdapat naga. Adapun bagian puncaknya dihiasi lafaz Allah. Di bawahnya terdapat semacam gelangan lonceng, yang terinspirasi dari hiasan kepala putri-putri Shin Chiang, nama provinsi di Cina. Di bawah lonceng-lonceng ini terdapat empat patung burung elang dengan sayap mengepak. Uniknya, di samping masjid itu terdapat sebuah makam yang dinaungi cungkup.&lt;br /&gt;Merasa penasaran dengan beberapa simbol yang tak berhasil diterjemahkan, SC menanyakannya kepada Faisal. Tapi Faisal menganjurkan agar menanyakan langsung kepada sang arsitek, yaitu Anton Medan yang saat itu ada dibalai usaha. Setelah menerima alamat, SC bergegas menuju tempat tersebut. Ketika sampai, Anton Medan sedang sibuk memberikan pengarahan kepada beberapa laki-laki yang membuat sablon. Selang beberapa menit, Anton Medan datang. Meski umurnya sudah mencapai 50 tahun, tapi badannya masih tegap dan suaranya tegas. Berikut petikan wawancaranya:&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bagaimana latar belakang mendirikan pesantren?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Mulanya pesantren itu diperuntukkan para eks napi. Tapi setelah mengevaluasi kondisi sosial masyarakat yang rusak, saya tergerak untuk turut menyelesaikan masalah tersebut. Akhirnya saya kembali pada habitat saya, membina anak-anak eks narapidana. Seiring niat itu, rezeki saya terus mengalir dan agar barokah saya membuka pesantren umum. Saya ingin mendidik mental bangsa melalu generasi muda.&lt;br /&gt;Memang, mulanya saya bimbang. Bila saya buka pesantren, kan tidak logis. Karena saya bukan kiai dan pendidikan terakhir hanya SR, itu pun hanya 7 bulan. Tapi saya juga berpikir, Rosulullah itu bagaimana sih sosoknya, kok beliau mampu merubah bangsa biadab menjadi beradab? Dari sinilah saya termotivasi untuk turut menjawab persoalan bangsa ini ke depan. Kita butuh masyarakat yang berakidah kuat dan berakhlakul karimah. Untuk itu, saya menaruh seorang direktur yang sudah pengalaman dan kompeten tentang pesantren. Bila ada kesulitan kurikulum yang ide dasarnya dari saya, mereka bisa berkoordinasi dengan saya.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Anda mendirikan pesantren yang bagaimana?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Saya mendirikan pesantren yang berbakti wirausaha. Kata ini bukan berarti berdagang saja. Tapi lebih pembangunan ruh atau mentalitas seseorang, agar menjadi pribadi yang mandiri. Konsep kewirausahaan ini dikerjakan dalam 21 hari. Ada sarjana hinga doktor. Mereka menampung seluruh pemikiran saya hingga menjadi sebuah konsep kurikulum berbasis kewirausahaan. Biayanya 100 juta lebih.&lt;br /&gt;Dari kurikulum itu, selama dua tahun kita harus mampu menanamkan tauhid, akhlak dan karakter pada peserta didik. Out put yang diharapkan adalah terbangunnya manusia yang kaya inisiatif, kreatif dan inovatif, agar menjadi manusia yang produktif di tengah masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sejauh ini ada halangan?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Halangannya lebih pada sulitnya mencari guru yang tak sekedar pandai mengajar, tapi juga mendidik. Misalkan pada tahun pertama, sudah sering sekali gonta-ganti guru, karena orientasinya tak jelas. Orientasi mereka hanya sebatas karyawan atau pegawai negeri. Jadi nilai-nilai perjuangannya tidak jelas. Saya butuh tak sekedar guru, tapi juga pendidik. Kalau sekedar guru dan mengajar, apa susahnya? Ada buku lalu tinggal ditransfer.&lt;br /&gt;Sementara itu, bila saya membina eks napi di balai usaha, ini adalah terapi. Bicara kemampuan, saya bisa. Pengalaman ada, juga kemampuan. Karena bila penjara itu disebut kuliah misalnya, maka saya adalah profesornya. Saya kenal sekali seluk-beluk penjara dan para penghuninya. Karena lebih dari 18 tahun saya dipenjara.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kabarnya anda yang menjadi arsitek pembangunan pesantren?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ya. Pesantren itu dibangun pada 2004. Saya yang punya uang, sekaligus menjadi mandor dan juga arsiteknya. Adapun tukang dan kulinya adalah teman-teman eks napi.&lt;br /&gt;Pada bangunan masjid, ada beberapa simbol yang  tidak dimengerti orang lain. Pertama, di atas masjid itu kan ada gelangan lonceng, itu topi Putri Shin Chiang. Shin Chiang adalah nama propinsi di Cina di mana Islam disebarkan di sana, dan putri-putrinya biasa mengenakan topi seperti itu. Kedua, ada burung di atas berjumlah 4 ekor menghadap empat penjuru. Itu burung rajawali. Artinya ummat Islam itu ketika melihat kondisi yang ada, hendaknya matanya setajam mata rajawali. Jangan seperti lima burung kecil yang menunduk dan berada di sudut itu. Ketiga, di atas itu juga ada naga, ini adalah lambang kesuksesan Cina, dan kebetulan nama saya adalah Tan Kok Liang. Tan itu Marga, Kok Itu negara dan Liang Itu naga, sukses.&lt;br /&gt;Terakhir, kenapa ada makam saya di sampingnya? Manusia yang beradab itu harus sadar bahwa ia akan mati. Sebelum mati, apa yang harus disiapkan? Melihatnya, mungkin orang akan mengatakan Anton Medan sekarang sudah bertaubat. Alhamdulillah. Tapi bila ada anggapan, saya masuk Islam karena bercita-cita masuk surga, maka saya katakan, surga bukanlah impian saya dan neraka juga bukan sesuatu yang saya takuti. Ketika saya syahadat, yang ada dalam benak saya adalah, mampukah saya bermanfaat bagi orang lain? Surga dan neraka adalah konswekensi.&lt;br /&gt;Ini semua ekspresi saya yang hanya 7 bulan di SR. Dalam hidup ini saya punya prinsip, bila orang lain bisa kenapa saya tidak? Andai pun gagal, itu pelajaran bagi saya. Sementara pedoman saya jelas: al Qur’an yang membebaskan diskriminasi dan kebodohan.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Apa obsesi anda yang belum tercapai?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Saya ingin mendirikan partai eks napi. Karena eks napi itu pintar-pintar, hanya saja mereka tidak memperoleh kesempatan belajar dan akses kerja tertutup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Adib Minanurrachim&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Dimuat di SC Magazine Vol III&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2483512749123335218-1259997969135868314?l=adibdata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adibdata.blogspot.com/feeds/1259997969135868314/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2483512749123335218&amp;postID=1259997969135868314' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/1259997969135868314'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/1259997969135868314'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adibdata.blogspot.com/2007/12/saya-ingin-lebih-bermanfaat.html' title='“SAYA INGIN LEBIH BERMANFAAT”'/><author><name>Adib Minanurrachim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15129533338323743129</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-I2gRc1Ay-KI/Trz7pcj6bYI/AAAAAAAAAJM/rpVJ_fN0h8A/s220/wajah%2B%252846%2529.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2483512749123335218.post-4101713168194250826</id><published>2007-12-27T12:58:00.000+07:00</published><updated>2007-12-27T12:59:23.713+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='LAPORAN'/><title type='text'>DIBENCI, DIHUJAT, DICINTAI MASYARAKAT</title><content type='html'>&lt;em&gt;Kisah mantan napi yang tercerahkan dan memperoleh tempat di hati masyarakat&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAN HOK LIANG adalah nama asli Anton Medan. Ia lahir di Tebing Tinggi, Sumatera Utara 1 Oktober 1957. Di usia 8 tahun, ia harus berhenti sekolah karena permintaan ibunya untuk membantu berjualan kue. Ia hanya mengenyam bangku Sekolah Rakyat (SR, sekarang SD) selama 7 bulan, dan belum bisa membaca dan menulis.&lt;br /&gt;Menginjak usia 12 tahun, Kok Lien (panggilan kecilnya) menjadi anak terminal Tebing Tinggi, menjual jasa mencarikan penumpang bagi sopir. Kok Lien dikenal rajin. Banyak sopir terminal senang dan memanggilnya Cina Tongkol (Cintong). Tapi tak semua sopir menghargai kerja kerasnya. Suatu ketika ada seorang sopir tidak memberinya upah. Kok Lien protes. Tapi sopir itu malah marah. Terjadilah perang mulut. Tak sabar, Kok Lien mengambil sebuah balok kayu dan menghantam sekuat tenaga. Sopir itu pun tersungkur. Kok Lien lari. Tapi polisi menangkapnya.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;TAHUN 1970 Kok Lien merantau ke Terminal Medan. Usianya baru 13 tahun. Di Medan ia bekerja sebagai pencuci bus. Seperti di terminal Tebing Tinggi, ia dikenal rajin. Dalam satu hari ia bisa membersihkan 3-5 badan bus yang berdebu.&lt;br /&gt;Seolah tak putus dirundung masalah, di terminal ini uangnya dicuri. Menyadarinya Kok Lien gelagapan. Setelah dilidiki, ia menemukan pencurinya dan menegurnya. Tapi si pencuri malah marah dan memukulnya. Orang-orang berdatangan, tapi tak ada yang melerai. Di saat tersudut, Kok Lien melihat sebilah kapak bergerigi yang biasa digunakan membilah es, tergeletak tak jauh darinya. Secepatnya ia ambil dan menghunjamkannya ke wajah lawannya. Seketika lawannya roboh. Kok Lien lalu ditangkap polisi dan dipenjara selama 4 tahun di LP Tiang Listrik, Medan.&lt;br /&gt;Menginjak usia 17 tahun Kok Lien bebas. Ia gembira dan segera pulang, melepas rindu kepada keluarga. Tapi sayang, sampai di rumah ibunya hanya memberi waktu 2 jam untuk melepas rindu. Ibunya malu kepada tetangga. Dengan berat hati, Kok Lien melangkah pergi.&lt;br /&gt;Di tengah kegalauan, ia ingat pamannya yang ada di Jakarta. Ia ingin menjumpainya dan meminta bantuan mencari pekerjaan. Tapi sayang, ia tidak tahu alamat persisnya. “Saya tak tau alamatnya, tapi saya nekad ke Jakarta,” katanya.&lt;br /&gt;Tiba di Jakarta, harapan yang ia pupuk selama perjalanan hancur berantakan. Kurang lebih 7 bulan ia mencari rumah pamannya. Tapi setelah bertemu, ternyata pamannya tidak mengakuinya sebagai kemenakan. Malah menistakannya. Begitu pun adiknya. Ia tercampakkan. Ia kecewa. Di tengah kekecewaan yang mendalam, ia bertemu kenalannya di simpang jalan yang berpenampilan parlente. Temannya baru saja menjambret. Mendengar cerita temannya, ia tertarik. Akhirnya, ia menjual celana kesayangannya demi sebuah pisau. Dengan pisau itulah ia mulai menjambret dan berhasil.&lt;br /&gt;Mulai saat itu kehidupan Kok Lien berubah. Ia sudah memilih kejahatan sebagai profesi. Senjatanya tak sekedar pisau, tapi pistol. Ia pun terkenal sebagai penjahat kelas kakap dan paling dicari di Jakarta dengan nama Anton Medan!&lt;br /&gt;Perjalanan hidup Anton Medan tak sekedar menjadi penjahat profesional. Ia menjadi bandar judi setelah meruntuhkan kekuasaan bandar judi besar bernama Hong Lie. Sebagai bandar judi, pendapatannya satu malam mencapai puluhan juta. Ia menikmati gaya hidup mewah. Tapi ironisnya, kekayaan itu habis pula di dunia judi. Ia frustasi, dan sebagai pelampiasannya justru bermain judi di Genting, Makau, Chistmas, Hongkong maupun Las Vegas. Ia kalah milyaran rupiah. Dalam kebangkrutan itu, ia menemukan hikmah kehidupan yang sangat mendasar. Sejak itulah ia mendalami Islam secara sungguh-sungguh, bahkan di kemudian hari dikenal sebagai da’i.&lt;br /&gt;Lebih jauh, seperti yang tertulis dalam biografi Anton Medan; Pergolakan Jiwa Seorang Mantan Terpidana, buah karya S. Budhi Raharjo, selepas menetapkan pilihan Islam, ia dipercaya sebagai ketua RW di kampungnya. Sebagai abdi masyarakat, ia bekerja sunguh-sunguh. Bahkan ketika harus berhadapan dengan lurah yang diskriminatif terhadap warganya, ia bersedia melawan dan merelakan jabatan ketua RW yang ia sandang. Atas kesediaan berkorban ini, masyarakat di sekelilingnya makin simpatik padanya.&lt;br /&gt;Demikianlah perjalanan hidup Anton Medan: bila dulu ia dibenci dan dihujat masyarakat, tapi sekarang ia dicintai masyarakat.*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Adib Minanurrachim&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Dimuat di SC Magazine Vol III&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2483512749123335218-4101713168194250826?l=adibdata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adibdata.blogspot.com/feeds/4101713168194250826/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2483512749123335218&amp;postID=4101713168194250826' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/4101713168194250826'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/4101713168194250826'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adibdata.blogspot.com/2007/12/dibenci-dihujat-dicintai-masyarakat.html' title='DIBENCI, DIHUJAT, DICINTAI MASYARAKAT'/><author><name>Adib Minanurrachim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15129533338323743129</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-I2gRc1Ay-KI/Trz7pcj6bYI/AAAAAAAAAJM/rpVJ_fN0h8A/s220/wajah%2B%252846%2529.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2483512749123335218.post-1881141885123398315</id><published>2007-12-27T12:57:00.000+07:00</published><updated>2007-12-27T12:58:24.806+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='LAPORAN'/><title type='text'>SC SURABAYA: PAGUYUBAN SPIRITUAL</title><content type='html'>JUM’AT malam 3 Agustus lalu, wartawan SC berkunjung ke Spiritual Community (SC) Surabaya. “Wa’alaikum salam. Dari majalah SC? Silahkan masuk. Silahkan,” sambut ramah Iman Irikora, pengurus SC Surabaya ramah di kediamannya, Jl Margorejo Tangsi III No 34 Surabaya. Setelah beramah tamah, Rico mengajak SC ke salah satu rumah makan. “Wawancaranya di KFC saja ya?” ajaknya.&lt;br /&gt;Sambil menikmati hidangan, lelaki ramah ini bercerita tentang awal mula ketertarikannya terhadap spiritualitas dan aktifitasnya di SC Surabaya.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;MULANYA pria yang akrab disapa Rico ini mengalami kegelisahan tentang cara menjalankan shalat khusyuk. Waktu itu, pada tahun 2004, ketika hendak menunaikan ibadah haji, Rico merasa bahwa shalatnya selama ini tidak bisa khusyuk. “Suatu ketika saya jalan-jalan ke toko buku di Depok. Sebelum masuk, saya berpikir adakah buku tentang pelatihan shalat khusyu? Seiring niat itu, saya masuk ke toko buku. Mendadak bukunya Pak Abu ada di deretan paling depan. Saya langsung kaget. Inilah yang saya cari,” cerita Rico.&lt;br /&gt;Setelah membeli buku dan membacanya, Rico merasa kagum. Tapi kekaguman itu juga diiringi dengan keraguan. “Bisakah saya menjalankan shalat khusyu?” lanjutnya.&lt;br /&gt;Pada Bulan April 2005, untuk kali pertama diselenggarakan pelatihan shalat khusyuk di Surabaya. Tapi saat itu Rico belum bisa mengikutinya. Baru pada Bulan Mei, ia bisa turut serta dalam pelatihan yang diisi oleh Ust. Abu Sangkan. “Alhamdulillah, meski saya banyak tidak mengerti, tapi saya bisa merasakan kenikmatan shalat,” katanya senang.&lt;br /&gt;Setelah mengikuti pelatihan shalat khusyuk, ada perubahan yang dirasakan Rico pada dirinya. Selain mulai mengalami ketenangan jiwa ia juga mulai giat menjalankan ibadah shalat sunnah, seperti shalat tahajud. “Biasanya bila shalat tahajud, siang harinya saya diserang kantuk. Tapi setelah ikut pelatihan, tidak. Begitu pula dengan puasa Senin-Kamis, saya merasa tidak terbebani. Badan saya tetap segar,” lanjutnya.&lt;br /&gt;Setelah merasakan manfaat besar dari pelatihan shalat khusyuk, Rico makin rajin membantu penyelenggaraan pelatihan shalat khusyuk. “Kala itu yang menjadi event orgnizer (EO) adalah teman saya. Saya banyak membantunya. Nah, suatu ketika teman saya tidak bisa melanjutkan pekerjaan itu. Akhirnya saya ditawari Pak Abu agar menjadi EO di Surabaya. Spontanitas saya bersedia dan sangat senang sekali. Karena saya bisa lebih dekat dan bisa menimba ilmu kepada Pak Abu,” katanya.&lt;br /&gt;Sejak saat itu, Rico berperan aktif mengkoordinir teman-temannya ketika hendak mengadakan pelatihan shalat khusyuk. Mulai tahun 2005 hingga saat ini, pelatihan shalat khusyuk bersama Ust Abu Sangkan sudah terselenggara sebanyak 9 kali. “Yang saya pegang itu 4 kali,” tambahnya.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;MESKI sudah sering diselenggarakan pelatihan shalat khusyuk, tapi sejauh ini pola organisasi SC Surabaya masih paguyuban. Belum ada struktur tetap sebagaimana organisasi umumnya. “Meski belum terorganisir secara rapi, temen-teman banyak yang senang menjadi sukarelawan,” katanya.&lt;br /&gt;Pola organisasi paguyuban yang diterapkan SC Surabaya, sejauh ini juga dipengaruhi oleh kebijakan SC Indonesia yang berkantor di Bekasi Jawa Barat, yakni ketua SC daerah harus memperoleh rekomendasi dari Ust Abu Sangkan. Mengingat rekomendasi itu belum turun, SC Surabaya memilih pola organisasi paguyuban. Meski demikian, kegiatan shalat khusyuk jalan terus. Mulai dari halaqoh dan pelatihan shalat khusyuk yang diisi oleh ustadz-ustadz yang sudah mengiktu Train of Trainer bersama Ust Abu Sangkan. Lebih jauh, SC Surabaya juga memeliki jadwal latihan rutin yang dilaksanakan di Masjid Pertamina setiap minggu ketiga, mulai pukul 8 pagi hingga setelah maghrib. Lebih jauh, SC Surabaya juga menyelenggarakan pelatihan di beberapa kota di Jawa Timur, seperti di Malang, Kediri, Nganjuk dan Ponorogo. Sementara Ustadz yang mengisi acara pelatihan, salah satunya adalah Ust. Abdul Aziz.&lt;br /&gt;Sementara itu, sebagai penyelenggara pelatihan shalat khusyuk, selain memperoleh respon positif, Rico juga banyak memperoleh keluhan dari peserta shalat khusyuk. Di antaranya adalah hilangnya rasa khusyuk selepas mengikuti pelatihan secara bersama-sama. Sehingga di antara mereka ada yang enggan untuk ikut kembali pelatihan shalat khusyuk. Tapi demikian, Rico tidak pernah berhenti mengajak mereka. “Setiap bulan, saya selalu mengirim sms ke sebagian besar dari mereka. Ya responnya macam-macam. Ada yang ogah-ogahan dan seterusnya. Tapi setelah mereka kita datangai dan ajak berlatih kembali, mereka bersemangat kembali,” katanya.&lt;br /&gt;Sementara itu, bila di SC Bandung ada kritikan tentang komersialisasi shalat, maka di Surabaya juga terjadi. Menghadapi hal itu, Rico mengatakan bahwa penafsiran tersebut sama sekali salah. Shalat tidak pernah dijual. Adapun biaya yang mahal itu karena masalah tempat yang dipilih oleh para peserta pelatihan shlat khusyuk.&lt;br /&gt;Menurut Rico, anggapan tersebut muncul, karena sebagian besar dari peserta pelatihan memang orang-orang yang berduit. Tapi bila ditelisik lebih dalam, mereka adalah para pencari kebahagiaan hakiki. Dan mereka menemukannya dalam shalat.&lt;br /&gt;Sementara itu, SC Surabaya tidak menutup keinginan para peserta dari kelas menengah ke bawah. Sejak ada pelatihan TOT, SC Surabaya juga mengadakan pelatihan yang hanya mengenakan biaya 50 ribu rupiah untuk membayar konsumsi dan kebersihan. Adapun materinya sama dengan pelatihan yang diisi oleh Ust Abu Sangkan. Seiring kebijakan ini, suara miring itu mulai mereda.&lt;br /&gt;Meski SC Surabaya masih berbentuk organisasi paguyuban, bukan berarti tidak siap untuk menuju organisasi profesional. Sebab menurut Rico, di beberapa daerah sekitar Jawa Timur banyak orang-orang profesional. Sehingga bila sewaktu-waktu ada kebijakan dari SC pusat untuk segera membentuk organisasi profesional, hal itu tidak sulit. “Kita sudah punya tenaga-tenaga profesional. Jadi andai mau membentuk organisasi itu sudah siap,” kata Rico.&lt;br /&gt;Sebelum mengakhiri dialog, Rico menyampaikan harapannya bahwa ia ingin sekali halaqoh yang ada di Surabaya seperti yasinan yang sudah membudaya di Jawa Timur. “Saya pengin, halaqah itu seperti yasinan. Jadi pergi ke rumah-rumah. Adapun materinya adalah shilatun, sharing pengalaman spiritual dan lainnya,” harapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Adib Minanurrachim&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dimuat di SC Magazine Vol III&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2483512749123335218-1881141885123398315?l=adibdata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adibdata.blogspot.com/feeds/1881141885123398315/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2483512749123335218&amp;postID=1881141885123398315' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/1881141885123398315'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/1881141885123398315'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adibdata.blogspot.com/2007/12/sc-surabaya-paguyuban-spiritual.html' title='SC SURABAYA: PAGUYUBAN SPIRITUAL'/><author><name>Adib Minanurrachim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15129533338323743129</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-I2gRc1Ay-KI/Trz7pcj6bYI/AAAAAAAAAJM/rpVJ_fN0h8A/s220/wajah%2B%252846%2529.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2483512749123335218.post-2496995070020502162</id><published>2007-12-27T12:56:00.000+07:00</published><updated>2007-12-27T12:57:34.342+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='WAWANCARA'/><title type='text'>BERIBADAH DENGAN MOTIVASI CINTA</title><content type='html'>TIDAK Mudah menemui Dr. Moh Sholeh. Jadwal kegiatan pria kelahiran Kediri 9 Desember 1960 ini sangat padat. Selain sibuk keliling dalam berbagai pelatihan tentang shalat yang mampu menenangkan hati dan menyembuhkan penyakit, ia juga membuka praktik Klinik Terapi Tahajud di Masjid Al-Akbar Surabaya. Tak sedikit wartawan yang kesulitan menemuinya. Tapi alhamdulillah, setelah beberapa kali menghubuginya, SC berhasil mewawancarainya. “Saya sedang melayani pasiens. Interviewnya besok pukul tujuh pagi saja,” kata pria yang menjadi Guru Besar di Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Surabaya ini.&lt;br /&gt;Pria yang dijuluki profesor tahajud ini menjadi terkenal karena disertasinya tentang shalat tahajud ketika menyelesaikan jenjang pendidikan S 3 di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair Surabaya). Disertasi itu akhirnya menjadi salah satu buku best seller, yaitu Terapi Shalat Tahajud: Menyembuhkan Berbagai Penyakit. “Shalat tahajud bisa membawa ketenangan jiwa. Sementara ketenangan jiwa dapat meningkatkan ketahanan tubuh imunologik, mengurangi risiko terkena penyakit jantung,” katanya optimis.&lt;br /&gt;Terkait dengan keahliannya menganalisis hikmah shalat tahajud dari ilmu kedokteran, kali ini SC mewawancarainya tentang Lailatul qodar. Berikut petikannya dalam bentuk narasi:&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;LAILATUL QODAR merupan sebuah malam yang diistimewakan oleh Allah. Bila malam itu senantiasa dimanfaatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah, insya Allah pahalanya seperti yang dijanjikan oleh Al Qur’an, sama dengan seribu bulan. Jadi hendaknya jangan disia-siakan mengingat umur kita amat sangat pendek.&lt;br /&gt;Sejauh ini masih ada cara pandang yang kurang benar tentang lailatul qodar. Karena pengertian satu malam seperti seribu bulan, acapkali dipahami secara politis. Artinya dijadikan aji mumpung untuk bertobat sementara hari-hari sebelumnya tidak dimanfaatkan untuk bertobat. Menurut saya, bila ingin menjadi kekasih Allah, jangan dipisah-pisahkan antara ibadah wajib dan sunnah atau ibadah yang berpahala besar dan kecil. Karena bagi orang yang cinta kepada Allah, tidak diberi pahala pun tidak apa-apa. Sehingga tidak punya pikiran ekonomis.&lt;br /&gt;Sayyidina Ali ra berkata bahwa tingkatan ibadah itu ada tingkatan pedagang dan orang merdeka. Bila ibadah hanya untuk mendapatkan pahala, itu ibadahnya pedagang. Tapi bila beribadah semata-mata karena Allah itu ibadahnya orang yang merdeka.&lt;br /&gt;Sebagai seorang muslim, alhamdulilah, baik di bulan Ramadhan maupun lainnya, insya Allah saya tidak pernah meninggalkan shalat tahajud. Di bulan Ramadhan, saya tidak hanya mengerjakannya pada sepuluh hari terakhir untuk mengintai kedatangan lailatul qodar, tapi mulai tanggal satu Ramadhan hingga satu Syawal saya selalu rutin menjalankan shalat tahajud dan membaca Al-Qur’an.&lt;br /&gt;Dengan shalat tahajud yang istiqomah tersebut, alhamdulillah saya memperoleh rahmat dari Allah berupa kesembuhan dari penyakit yang saya derita, yaitu kanker kulit. Padahal kanker ini sangat sulit disembuhkan. Dulu kulit saya ini seperti membusuk. Saya sudah pergi ke mana-mana dan semua dokter angkat tangan semua. Kemudian saya melaksanakan tahajud setiap malam, alhamdulillah penyakit saya sembuh dan tidak ada bekas sedikit pun.&lt;br /&gt;Beribadah antara niat mengejar pahala dan karena semata-mata cinta kepada Allah itu beda. Karena niat mengejar pahala, itu bisa disesatkan oleh setan karena ada kepentingan-kepentingan. Misalkan kita ingin mimpi bertemu dengan Rasulullah, bisa saja setan berubah wujud dan menjadi sesuatu yang kita kehendaki. Jadi niat yang benar adalah semata-mata karena Allah.&lt;br /&gt;Memang keinginan itu juga perlu. Tapi kita harus sadar bahwa di atas keinginan itu ada ketentuan Allah yang tidak bisa diotak-atik. Bila ini tidak disadari, akan berakibat frustasi. Ini banyak saya temui ketika saya menghadapi para pasien. Misalkan dia ingin memperoleh kesehatan melalui shalat tahajud yang rutin. Tapi setelah shalat tahajud berulang-ulang kali ternyata kondisinya tidak segera sehat. Akhirnya ia frustasi, “ngapain saya shalat tahajud selama ini bila ternyata saya tidak sehat-sehat?” katanya. Nah dari kasus ini, hendaknya kita ambil pelajaran bahwa bila kita tidak cermat maka bisa tersesat.&lt;br /&gt;Menjalankan shalat tahajud, seharusnya diiringi dengan keikhlasan hati. Karena sebagai manusia kita hanya bisa terus-menerus berusaha, sementara yang menentukan adalah Allah. Sehingga apapun yang terjadi itu bukan berarti do’a kita tidak didengar. Karena Allah itu Maha Mendengar dan Maha Pemberi.&lt;br /&gt;Ibadah yang lillahi ta’ala itu menentramkan jiwa. Karena target yang kita tentukan itu kita pasrahkan pada Allah. Ibadah yang lillahi ta’ala akan menimbulkan perubahan pada diri kita, yaitu hormon kortisol tidak terlepas dari tubuh melampaui batas toleransi tubuh. Kortisol adalah sejenis hormon yang dilepas oleh anak ginjal yang hanya akan dilepas oleh tubuh bila kita ada beban. Tapi bila kondisi kita tenang, pasrah, tawakal dan khusnudzon pada Allah, maka kortisol itu tidak akan dilepas melampaui batas toleransi tubuh. Jadi bila orang ingin sehat maka manfaatkanlah momen-momen ibadah seperti lailatul qodar itu untuk menyerahkan diri kepada Allah, insya Allah penyakitnya sembuh.&lt;br /&gt;Lebih jauh, bila ibadah ikhlas, tulus, istiqomah, dipenuhi dengan tawakkal dan cinta kasih kepada Allah, maka ada hormon yang dilepas yaitu oksitosin, sehingga orang itu akan menjadi saleh. Tapi saat ini, mengapa banyak orang sholat, haji dan seterusnya tapi perilakunya jauh dari pesan moral dari shalat dan haji? Karena shalat dan hajinya masih dalam tataran lidah. Tidak sampai relung hati yang paling dalam. Hati itu kan dibagi menjadi empat, yaitu sodr (paling pinggir) yang berkaitan dengan metabolisme tubuh, hormon dan jantung. Bila seseorang berdzikir sampai pada batas ini (sodr) kemudian dzikirnya menghasilkan sesuatu yang sesuai dengan harapannya (keuntungan) maka dia akan mengalami kesenangan yang luar biasa. Tapi ketika dia mendapatkan kesusahan maka dia akan frustasi. Jadi senang dan susah masih menyelimuti seseorang yang dzikirnya berada dalam tataran sodr. Dzikir orang yang seperti ini tak ubahnya seperti burung beo saya. Burung beo itu saya drilling dan bisa mengucapkan assalamu’alaikum, astaghfirullah al’adzim, alhamdulillah, dan laa ilaha illallaha. Ini hanya sebatas ucapan dan belum bisa merubah perilakunya. Jadi sholat yang masih dalam tataran sodr itu belum bisa merubah perilakunya.&lt;br /&gt;Agak dalam dikit namanya al-qolb, lalu fuad dan terakhir adalah lub. Maka ada istilah ulul al-bab. Nah, orang yang pada tataran lub ini selalu memaknai segala sesuatu secara positif. Apa pun ujian dari Allah dia akan selalu memaknainya positif. Karena dia yakin pasti ada hikmah. Ini memang langka. Barangkali misalnya seperti bilal ketika dipukuli orang-orang suku Quraish tapi dia tidak merasa sakit karena berdzikir ahad, ahad, ahad. Atau juga yang dialami oleh Sayyidina Ali yang terkena panah dan minta tolong kepada sahabat-sahabatnya untuk mencabut panah ketika ia dalam keadaan shalat. Jadi khusu’nya itu sudah merubah perilaku. Dalam teori kedokteran ada, otak melepaskan seretonin, betaindorfin, melatonin kemudian mengikat glutamat. Glutamat itu nerotransmeter, hormon yang menyebar rasa sakit. Nah kalau kita dalam kondisi cinta kepada Allah sampai pada tingkat lub, rasa sakit itu bisa diikat oleh seretonin, betaindorfin, melatonin. Sehingga tidak menebarkan rasa sakit. Ditusuk jarum pun tidak akan merasakan sakit.&lt;br /&gt;Tapi demikian, ini semua adalah proses. Selain kita terus berusaha, kita juga sadar bahwa Allah itu yang berhak menentukan keputusan. Tapi ini jangan diartikan pasrah tanpa ada dinamika usaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wawancara dengan Dr Muh Sholeh&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Adib Minanurrachim&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Dimuat di SC Magazine Vol III&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2483512749123335218-2496995070020502162?l=adibdata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adibdata.blogspot.com/feeds/2496995070020502162/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2483512749123335218&amp;postID=2496995070020502162' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/2496995070020502162'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/2496995070020502162'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adibdata.blogspot.com/2007/12/beribadah-dengan-motivasi-cinta.html' title='BERIBADAH DENGAN MOTIVASI CINTA'/><author><name>Adib Minanurrachim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15129533338323743129</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-I2gRc1Ay-KI/Trz7pcj6bYI/AAAAAAAAAJM/rpVJ_fN0h8A/s220/wajah%2B%252846%2529.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2483512749123335218.post-9221805167135254955</id><published>2007-12-27T12:55:00.000+07:00</published><updated>2007-12-27T12:56:24.580+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ADVERTORIAL'/><title type='text'>SCHOOL OF UNIVERSE: MELATIH GENERASI MANDIRI BERAKHLAK MULIA</title><content type='html'>&lt;em&gt;Belajar sambil bermain di alam terbuka adalah aktifitas yang sangat menyenangkan. School of Universe, adalah salah satu sekolah alam yang menawarkan hal tersebut, dan mencita-citakan lahirnya generasi mandiri melalui keahlian dalam bidang bisnis serta memiliki akhlak mulia.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PAGI itu suasana di lingkungan School of Universe (SoU) tampak cerah. Siswa-siswi yang berusia sekira 6 hingga 10 tahun tampak bergembira bermain-main di halaman sekolah yang luas. Ada yang bermain sepak bola, naik-turun jurang buatan hingga berkubang lumpur di area permainan yang disediakan pihak sekolah. Sementara beberapa wali murid dan para guru tampak akrab berbincang-bincang di sebuah bangunan kayu yang terletak di bawah pohon rindang, sambil mengawasi anak-anak mereka.&lt;br /&gt;SoU terletak di Parung, Bogor, 18 Km sebelah selatan kota Jakarta. Saat ini SoU membuka kelas untuk siswa berusia mulai dari 4 tahun (Taman Kanak-kanak), 6 tahun (Tahun pertama Sekolah dasar) hingga 12 tahun (tahun pertama Sekolah Menengah). Sekolah ini disesuaikan dengan standar bidang pendidikan di Indonesia dan semua fasilitator kelas (guru) minimal menyandang gelar Sarjana (S1).&lt;br /&gt;“Selamat pagi. Maaf saya baru dari kebun belakang,” sapa Ibu Murni ramah, prinsipel SoU pada SC. Magazine yang asyik menikmati taman sekolah yang hijau segar. “Kita ngobrol di mana? Di situ yuk?” lanjutnya sambil menunjuk tempat duduk yang terletak di samping bangunan sekolah. Kepada SC. Magazine, perempuan paruh baya ini bercerita panjang tentang awal mula berdirinya SoU yang berdiri di atas area tanah seluas 1 ha.&lt;br /&gt;Sebagaimana namanya, sekolah alam semesta, asas pembelajaran sekolah yang dibentuk pada tahun 2004 ini berangkat dari Al-Qur’an, Iqra’ bismirabbika alladzi kholaq (bacalah dengan—menyebut—nama Tuhanmu yang menciptakanmu...) [QS 96:1]. “Karena alam semesta adalah sumber pelajaran yang tanpa batas. Di SoU, para siswa dilatih untuk dapat ‘membaca’ semesta dengan cara pandang untuh dan menyeluruh,” kata Murni.&lt;br /&gt;Sementara asas kurikulum yang diterapkan terbagi dalam 3 materi pokok. Pertama, pengembangan akhlak dengan metode "tauladan"; kedua, pengembangan logika dengan metode belajar action learning dan ketiga, pengembangan sifat kepemimpinan dengan metode belajar outbound training.&lt;br /&gt;Asas kurikulum tersebut (khususnya dalam akhlak al-karimah) tampak berangkat dari ide besar penggagas SoU, Ir. Lendo Novo. Sebagai seseorang yang pernah memperoleh gelar ‘Ashoka Award’ dari lembaga Humanitas International yang berpusat di Amerika Serikat pada tahun 2003, pria alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) itu bercita-cita melahirkan generasi yang bisa mengejar kesejahteraan tanpa mengabaikan dampak atas orang lain dan atau lingkungan melalui metode pendidikan yang berangkat dari nilai-nilai moral/agama dan budaya bangsa Indonesia.&lt;br /&gt;“Cinta dan kebijaksanaan adalah dasar untuk membangun hari depan kita bersama dalam rangka mewujudkan gagasan untuk kebaikan kepada bumi dan umat manusia untuk menciptakan perdamaian, kesejahteraan dan kelanjutan alam semesta ini,” tulisnya.&lt;br /&gt;Lebih jauh, meski objek pendidikannya adalah anak-anak usia 4 sampai 13 tahun, tapi pola pendekatan yang diterapkan seperti orang dewasa, yaitu metode berfikir bebas dan kritis. “Untuk anak-anak di dalam tahun-tahun penting perkembangan mereka, kami telah merancang suatu pendekatan yang menonjolkan ketrampilan hidup praktis yang luas, yaitu : wirausaha (bisnis); Teknologi Informasi dan Komunikasi; apresiasi pada konservasi lingkungan; konsisten pada nilai-nilai demokrasi dan toleransi beragama; hubungan yang harmonis dengan orang lain; dan pengembangan kreativitas dan logika,” tutur Murni.&lt;br /&gt;Tapi demikian, bukan berarti SoU meniadakan sama sekali pola pendekatan pedagogis. “Kita sama-sama menggunakannya, tergantung sasaran didiknya berumur berapa. Bila masih berumur 4-5 tahun, kami lebih banyak menggunakan pola pedagogi. Tapi bila sudah 12-13 kami lebih banyak menggunakan andragogis. Jadi dua metode ini saling melengkapi,” lanjut Murni.&lt;br /&gt;Sementara itu, untuk mengantarkan anak-didiknya mencapai hasil yang maksimal, SoU melengkapi infrastruktur sekolah dengan taman bacaan, resource &amp;amp; workshop room, special needs children center, prayer rooms, music room, art room, fasilitas outbound, komputer dan area bermain. Lebih jauh sekolah ini juga menggunakan dua bahasa pengantar, Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MELATIH GENERASI MANDIRI&lt;br /&gt;SEBAGAIMANA keunggulan yang biasa dimiliki masing-masing sekolah, SoU memiliki keunggulan tersendiri selain lingkungan belajar yang asri, yaitu materi bisnis. “Kami memberikan materi ini secara bertahap. Bila untuk TK A dan TK B, tentu hanya sebatas pengenalan tentang bisnis retail. Kami membiasakan mereka agar dari rumah membawa buah-bauahan yang nantinya dijual di sekolah. Pembelinya bisa dari teman, guru hingga orang tua wali murid lainnya. Dari sini, diharapkan ada pengetahuan langsung yang diperoleh anak bahwa dia bisa menghasilkan uang. Sementara untuk High School, materi yang kami berikan meningkat mulai dari pembuatan proposal untuk ditawarkan pada investor hingga bagaimana pola evaluasinya. Untuk investor, bisa terdiri dari para guru, wali murid dan atau kenalan wali murid.”&lt;br /&gt;Lebih jauh, Murni juga menjelaskan bahwa tahapan belajar bisnis di SoU, juga meliputi magang dan praktek lapangan, simulasi &amp;amp; evaluasi serta pendampingan untuk kurun waktu tertentu sampai anak didik bisa mandiri. Harapannya, agar anak-didik bisa memahami dunia bisnis secara menyeluruh.&lt;br /&gt;Meski mencita-citakan agar anak-didiknya mampu menjadi pebisnis, tapi Murni tidak sepakat bila dikatakan menjadi pebisnis adalah menjadi kapitalis. “Sebagaimana visi dan misi SoU, kami ingin mendampingi setiap anak untuk menjadi pemimpin di muka bumi dan memberi rahmat bagi sekalian alam. Karena itu kami lebih menekankan akhlak,” katanya sambil tersenyum manis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Adib Minanurrachim&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Dimuat di SC Magazine Vol III&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2483512749123335218-9221805167135254955?l=adibdata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adibdata.blogspot.com/feeds/9221805167135254955/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2483512749123335218&amp;postID=9221805167135254955' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/9221805167135254955'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/9221805167135254955'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adibdata.blogspot.com/2007/12/school-of-universe-melatih-generasi.html' title='SCHOOL OF UNIVERSE: MELATIH GENERASI MANDIRI BERAKHLAK MULIA'/><author><name>Adib Minanurrachim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15129533338323743129</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-I2gRc1Ay-KI/Trz7pcj6bYI/AAAAAAAAAJM/rpVJ_fN0h8A/s220/wajah%2B%252846%2529.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2483512749123335218.post-8672083708784665783</id><published>2007-12-27T12:53:00.002+07:00</published><updated>2007-12-27T12:54:44.682+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ESAI'/><title type='text'>KEMANDIRIAN BUKTI KEMERDEKAAN DIRI</title><content type='html'>&lt;em&gt;Sebaik-baik usaha adalah pekerjaan seorang laki-laki yang dikerjakan oleh tangannya sendiri dan jual-beli yang bersih (Hadist)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KEMERDEKAAN adalah fitrah setiap manusia yang lahir di dunia. Menjadi manusia yang merdeka, berarti menjadi manusia yang mandiri, tidak tergantung kepada orang lain dan mampu berdiri di atas kaki sendiri.&lt;br /&gt;Menjadi pribadi yang mandiri memang tak mudah. Setidaknya dibutuhkan kesiapan mental yang kuat untuk mencreate/mencipta sebuah pekerjaan dan juga ketabahan sebagai benteng dari setiap kegagalan yang sewaktu-waktu menimpa dan meruntuhkan mental setiap pribadi.&lt;br /&gt;Pekerjaan yang bertolak dari prinsip kemandirian adalah pekerjaan yang ada karena diciptakan. Bukan sebaliknya. Sehingga, selain menjadi pribadi yang merdeka, ia juga bisa menolong orang lain dengan pekerjaan yang ia ciptakan. Secara tersirat ini selaras dengan hadist yang mengatakan al yadu al ‘ulya khoirun min yadi al-sufla (tangan di atas [memberi] lebih baik daripada tangan di bawah [menerima/meminta])&lt;br /&gt;Menjadi pribadi mandiri yang bisa menciptakan lapangan pekerjaan memang tak semudah membalikkan telapak tangan. Setidaknya dibutuhkan jaringan kerja (networking) dan modal (capital). Tapi demikian, di atas jaringan kerja dan modal ada yang lebih utama, yaitu ide-ide segar yang bisa menarik pasar dan investor. Tapi sayang, di antara bangsa Indonesia hanya sedikit yang bisa berbuat demikian. Salah satu sebabnya adalah sistem pendidikan yang kurang mengarahkan generasi bangsa untuk belajar mencipta dan berkreasi sendiri.&lt;br /&gt;Meski budaya mandiri kurang terealisasi, tapi menghasilkan rizki dari sebuah usaha yang bersih adalah lebih baik dari sekedar berdiam diri. Ini seperti tersirat dalam hadist yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan At Thabrani dalam ‘Al Kabir’ dan dalam ‘Al Ausath’ oleh Al Hakim dan Al Bazar dari rafi’ bin Khadij di atas. Hadist tersebut bermula dari sebuah pertanyaan yang diajukan kepada Rasulullah tentang amal usaha yang baik.&lt;br /&gt;Hadist yang menganjurkan setiap pribadi (terutama lelaki dan atau kepala keluarga) untuk menghasilkan rizki dari tangannya sendiri ini, bisa juga dijadikan motivasi untuk menjadi pribadi yang mandiri. Meski untuk semua ini butuh perjuangan yang tiada henti. Wallahu ‘alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Adib Minanurrachim&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Dimuat di SC Magazine Vol II&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2483512749123335218-8672083708784665783?l=adibdata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adibdata.blogspot.com/feeds/8672083708784665783/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2483512749123335218&amp;postID=8672083708784665783' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/8672083708784665783'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/8672083708784665783'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adibdata.blogspot.com/2007/12/kemandirian-bukti-kemerdekaan-diri.html' title='KEMANDIRIAN BUKTI KEMERDEKAAN DIRI'/><author><name>Adib Minanurrachim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15129533338323743129</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-I2gRc1Ay-KI/Trz7pcj6bYI/AAAAAAAAAJM/rpVJ_fN0h8A/s220/wajah%2B%252846%2529.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2483512749123335218.post-8585118878546269090</id><published>2007-12-27T12:53:00.001+07:00</published><updated>2007-12-27T12:53:46.836+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='LAPORAN'/><title type='text'>DEBU: BERDZIKIR LEWAT MUSIK DAN SYAIR</title><content type='html'>&lt;em&gt;Komunitas sufi sekaligus grup musik religius asal New Mexico, Amerika Serikat, mengajak berdzikir lewat musik dan syair.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SABTU pagi, salah satu rumah di perumahan Cinere Jakarta, tampak ramai. Beberapa lelaki dan perempuan kebangsaan asing sibuk dengan alat musik masing-masing. Ada yang memegang alat musik asal Turki semisal Kanoon dan Saz (Baglama), ada juga yang memegang Santur (alat musik dari Iran) dan beberapa alat musik lainnya dari berbagai belahan dunia, tak kecuali Gendok-gendok dari Sulawesi Selatan.&lt;br /&gt;"Wa'alaikum salam. Wah, kami sedang latihan, mas. Wawancaranya nanti saja ya. Silahkan masuk," sambut ramah Musthafa, salah satu personil Debu kepada SC. Magazine.&lt;br /&gt;Setelah seluruh personil Debu siap, Musthafa memberi aba-aba. Suara merdu Musthafa pun mengalun seiring melodi dari masing-masing alat musik. SC. Magazine yang duduk di pojok ruangan terkesima mendengar perpaduan bunyi berbagai alat musik dengan suara jernih Musthafa. Terlebih ketika memperhatikan syair-syair buah karya Syekh Fattaah, ulama sufi pemimpin komunitas Debu, yang terasa begitu sejuk karena sarat pujian pada Sang Pencipta.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;SYEKH Fattaah adalah ulama sufi yang lahir di Portland Maine, Amerika Serikat 5 Oktober 1943, dan besar di Los Angles. Sejak 1981 Syekh Fattaah sudah menjalankan kehidupan Sufi. Pada 1982 dia mendapat ijazah Tarekat Syadziliyyah dari Syekh Fadhlallah dari Iraq. Sejak memperoleh ijazah dari ulama sufi berkebangsan Inggris tersebut, dia mulai menulis syairnya dalam bahasa Inggris sebanyak 130 syair.&lt;br /&gt;Pada tahun 1983 dia menempuh perjalanan spiritualnya ke Pakistan dan memperoleh ijazah Tarekat Chisytiyah dari Syekh Ikram, dan selanjutnya pada 1989 dia memperoleh ijazah Tarekat Rufa'iyah dari Syekh Jamali di Kosovo.&lt;br /&gt;Setelah memperoleh ijazah dari kedua ulama sufi tersebut, selain terus menuangkan rasa cintanya kepada Allah SWT dalam bentuk syair, Syekh Fattaah juga membentuk kelompok musik bernama Dust On The Road pada tahun 1990, di New Mexico.&lt;br /&gt;Syekh Fattaah tergolong ulama yang memiliki jiwa seni yang tinggi. Ini bisa dilihat dari buah karyanya dalam bentuk syair tasawuf yang berjumlah ratusan. Di antara syair-syairnya, acapkali ia ciptakan saat menempuh perjalanan spiritual ke beberapa daerah. Misalkan ketika berada di Taos, New Mexico, dia menulis syair sebanyak 40 buah dalam bahasa Inggris dan Spanyol. Selanjutnya pada 1992, saat pindah ke Questa, New Mexico, dia menulis sekira 30 syair. Dan pada 1996, saat pindah ke Republik Dominika, dia menulis 40 syair dalam bahasa Spanyol.&lt;br /&gt;Pada 1999, setelah mendapat ilham, Syekh Fattaah bersama murid-muridnya yang merupakan keluarga besarnya hijrah ke Indonesia. Di sini dia terus meningkatkan produktifitasnya dalam menulis syair tasawuf, baik dalam bahasa Indonesia, Arab, Turki, Mandarin, Italia, Farsi hingga Hindia. Di antara syairnya ada yang berpola pantun.&lt;br /&gt;Dari beberapa syair buah karya Syekh Fattaah, banyak orang-orang dari berbagai negara yang mengaguminya. Seorang artis Italia berkebangsaan Swedia, Hayam Nur As Sufi, mengatakan bahwa cara penyampaian Syekh Fattaah dalam syair berbahasa Italia lebih indah dari orang Italia sendiri. Demikian pula penyanyi Italia bernama Mario Chauro, sangat mengagumi gubahan syair-syairnya. Bahkan seorang penganut Zoroaster di Iran bernama Farhad, karena sangat takjub dengan syair-syair Syekh Fattaah ia kemudian memeluk Agama Islam.&lt;br /&gt;Pada tahun 2001, Syekh Fattaah memperoleh Ijazah Tarekat Qadiriyah dari Syekh Rais, Maluku.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;DUA jam berlalu. Latihan rutin setiap hari Sabtu pun usai. Musthafa, lelaki berkulit putih dengan rambut pirang dikuncir di belakang, perlahan bangkit dan melangkah ke salah satu meja di mana SC. Magazine menunggunya. Dengan keringat yang masih menetes di dahi, lelaki kebangsaan Amerika ini memulai cerita tentang komunitas sufinya.&lt;br /&gt;"Allah memang Maha Tahu. Dialah yang punya kehendak dan rencana. Suatu malam, Syekh Fattaah mendapat ilham. Di antara sadar dan tidak, beliau mendengar hatif (bisikan halus) yang menyebutkan nama 'Indonesia'. Beliau tersentak dan segera mengutarakan pada istrinya bahwa komunitas ini harus pergi ke Indonesia untuk bisa hidup sesuai impian," cerita putra kandung Syekh Fattaah ini.&lt;br /&gt;Seperti yang tertulis dalam web site Debu, &lt;a href="http://www.musikdebu.com/" target="_blank"&gt;www.musikdebu.com&lt;/a&gt;, kegelisahan komunitas ini berangkat dari kota kecil di daerah New Mexico—sebuah propinsi yang terletak antara Texas dan Arizona, Amerika Serikat—yang kehidupannya sangat liberal dan sekuler. Merasa kurang tentram, pada 1997, sebagian dari mereka pindah ke negara Republik Dominika. Tapi ternyata kehidupan masyarakatnya tak jauh beda dengan Amerika. "Sungguh, bukan lingkungan yang ramah bagi kami yang sangat rindu suasana Islami. Tapi sekarang alhamdulillah, di sini kami menemukan ketenangan," kata Musthafa.&lt;br /&gt;Perjalanan komunitas ini menuju Indonesia tergolong unik. Waktu itu mereka sama sekali tidak mengenal Indonesia. Kemudian mereka mencari informasi tentang Indonesia melalui internet dan berhasil berkenalan dengan salah satu warga Indonesia, Ust Farid Uqbah. "Kami ke Indonesia 3 Minggu setelah Syekh Fattaah memperoleh Ilham. Bahasa Indonesia yang kami ketahui kala itu hanya satu kata, yaitu saya. Hahaha... tapi alhamdulillah, kenalan kami, Ust Farid Uqbah, seorang dosen di LIPIA Jakarta, sangat membantu kami untuk mengenal lebih dalam Indonesia," lanjutnya.&lt;br /&gt;Maret 1999, ketika situasi sosial-politik di Indonesia kurang kondusif, komunitas sufi ini tiba di Jakarta. Setelah bertemu dengan Ust Farid Uqbah, mereka dikenalkan dengan Dr. M. Tamimi, seorang arsitek tinggal di Jakarta. Dari kenalan baru ini, mereka memperoleh tempat tinggal di daerah Pasar Minggu, Jakarta Selatan dan menetap selama 3 bulan.&lt;br /&gt;Di tempat baru itu, di bawah bimbingan Syekh Fattaah, mereka terus mempelajari tasawuf. Mengehembuskan dzikir dalam bentuk syair dan nyanyian. "Menyanyi adalah semata-mata dzikir dan ibadah. Saat itu Debu belum lahir. Kami bernyanyi sebatas kenikmatan untuk komunitas sendiri sekaligus menjadi bagian dari perkembangan spiritual," cerita lelaki yang telah dikaruniai tiga putera ini.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;KELAHIRAN DEBU&lt;br /&gt;INISIATIF membentuk grup musik yang bernafaskan tasawuf, baru lahir setelah komunitas ini menetap selama 3,5 tahun di Ujung Pandang, Makassar. Mereka datang ke sana karena undangan dari Universitas Muslim Indonesia (UMI) Ujung Pandang untuk mengajar mahasiswa baru tentang agama Islam.&lt;br /&gt;Tiba di Ujung Pandang mereka ditempatkan di Bukit Barugah. Tak lama kemudian, mereka dipindahkan lagi ke Desa Padang Lampe, di mana berdiri sebuah Pesantren milik UMI, Darul Mukhlisin. Di sini mereka mulai mengabdikan diri dengan mengajar ajaran Islam kepada para mahasiswa baru. Mulai Al-Qur'an, Al-Hadist hingga Bahasa Inggris. Sementara Syekh Fattaah, setiap habis menunaikan shalat lima waktu, memimpin dan membimbing anggota komunitasnya berzikir bersama para mahasiswa. Agar lebih menarik minat para mahasiswa, Syekh Fattaah berinisiatif mengenalkan keindahan Islam melalui syair dan nyanyian yang sarat pelajaran akhlak dan adab. Pelan namun pasti, para mahasiswa mulai menyenangi ajaran Syekh Fattaah. "Dari situ kami memperoleh inspirasi bahwa salah satu dakwah yang bisa menarik hati masyarakat—khususnya kaum muda—adalah melalui musik," tutur Musthafa.&lt;br /&gt;Setelah melihat respon positif dari para mahasiswa di Ujung Pandang, komunitas ini kemudian membentuk grup musik Debu, sebuah nama yang diambil dari Dust On The Road, kelompok musik yang didirikan Syekh Fattaah pada tahun 1990, di New Mexico. Di antara personil Debu saat ini adalah Maryam, Husniah, Fadilah, Syakurah, Naimah, Najib, Hasinah, Susaan, Najmah, Laila, Zakariyah, Mujahid, Saleem, Daood, Lukman, Naseem, dan Mustafa.&lt;br /&gt;Meski sebagian besar dari anggota komunitas ini adalah keluarga besar Syekh Fattaah, tapi mereka tidak eksklusif. Karena selain di antara mereka ada etnis berkulit hitam, juga terdapat dua orang warga negara Indonesia, yaitu Wahab dan Arif.&lt;br /&gt;Sebagai komunitas sufi, Debu menganggap musik dan nyanyian hanyalah media untuk dakwah dan syiar ilmu-ilmu Islam. "Syekh Fattaah selalu menekankan pada kami, bahwa bermusik dan bernyanyi bukanlah tujuan. Jika suatu saat aktivitas ini membuat kami berpaling dari kecintaan terhadap Allah SWT, beliau akan menghentikan aktivitas ini dan membubarkannya," kata Musthafa.&lt;br /&gt;Demikianlah perjalanan komunitas Debu di Indonesia. Melalui syair-syair buah karya Syekh Fattaah, Debu terus-menerus menyampaikan pesan cinta kepada umat manusia agar tidak berpaling dari Sang Pencipta. "Kami tidak ingin terjebak dalam perpecahan. Kami selalu menyampaikan perdamaian dengan satu kalimat laa ilaha illa Allah," kata Musthafa sambil menyanyikan sebait lagu berjudul HU, Dendang Sufi: Datanglah, hai sufi, marilah pulang//Kesempatan inilah sangat jarang//Marilah kita bergandengan tangan//Dan berjalan bersama atas jalan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Adib Minanurrachim&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Dimuat di SC Magazine Vol II&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2483512749123335218-8585118878546269090?l=adibdata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adibdata.blogspot.com/feeds/8585118878546269090/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2483512749123335218&amp;postID=8585118878546269090' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/8585118878546269090'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/8585118878546269090'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adibdata.blogspot.com/2007/12/debu-berdzikir-lewat-musik-dan-syair.html' title='DEBU: BERDZIKIR LEWAT MUSIK DAN SYAIR'/><author><name>Adib Minanurrachim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15129533338323743129</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-I2gRc1Ay-KI/Trz7pcj6bYI/AAAAAAAAAJM/rpVJ_fN0h8A/s220/wajah%2B%252846%2529.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2483512749123335218.post-7212427532010560072</id><published>2007-12-27T12:52:00.001+07:00</published><updated>2007-12-27T12:52:54.557+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='REHAL'/><title type='text'>SANG SABDA: KIDUNG CINTA SHALAT ABU SANGKAN</title><content type='html'>&lt;em&gt;Selain menjadi trainer shalat khusyu, Abu Sangkan adalah seniman. Ini terbukti dengan buah karyanya dalam bentuk album. Seperti dalam setiap karya lukisnya, album yang ia beri judul Sang Sabda ini penuh nilai-nilai spiritual.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SANG Sabda adalah cipta rasa Abu Sangkan yang terejawantahkan dalam keheningan pemikiran. Sebuah karya seni yang berangkat dari telaah mendalam terhadap Al-Qur’an dan pengalaman sepiritualnya. Ini seperti yang tergambar dalam setiap syair yang terdapat dalam sembilan judul lagu dalam album tersebut. Di antaranya adalah Singgah di Rumah Nabi, Citra diri, Di Atas Jiwa, Menembus Asry, Nabi Yusuf, Tahajjud, Pujiku Untuk-Mu, Taubat dan Mars Shalat.&lt;br /&gt;Dalam sebuah wawancara dengan SC. Magazine, Abu Sangkan menguraikan beberapa kandungan lagu dalam album Sang Sabda. “Dalam lagu Singgah Di Rumah Nabi, ini tercipta setelah saya memperoleh inspirasi di Bulan Ramadhan. Saat itu tepat tengah malam tanggal 27 Ramadhan, hati ini tiba-tiba merasa rindu kepada Rasulullah. Suasana ketika saya berada di Makkah, seolah menyeruak dalam jiwa saya. Bahkan saya merasa tidak berada di makam Nabi Muhammad SAW, tapi di rumah beliau. Hingga hati saya merasa tunduk dan bershalawat Allahuma Solli ‘ala Muhamad,” jelasnya.&lt;br /&gt;Sementara mengenai Citra Diri, lelaki yang telah dianugerahi tiga putra ini mengatakan bahwa lagu ini adalah keinginan diri sebagai manusia yang tidak ingin diremehkan, meski itu dari malaikat. Ini tampak dari syair lagunya yang berangkat dari kisah malaikat dan setan yang memprotes Allah SWT ketika memilih manusia sebagai khalifah di dunia. “Mengenai Citra Diri ini, saya juga agak ingin membuktikan kepada malaikat, bahwa manusia adalah makhluk yang tidak boleh diremehkan. Lebih dari itu semua, saya ingin mengatakan bahwa sebagai makhluk, malaikat tidak pantas memprotes Sang Kholiq.”&lt;br /&gt;Lebih jauh, mengenai Citra Diri, Abu Sangkan tampak sepemikiran dengan Prof. Dr. Quraish Shihab dalam tulisannya yang berjudul Mengembangkan SDM. “Seandainya malaikat yang hanya memiliki sikap patuh atas perintah Allah menjadi khalifah di bumi, maka mereka tidak akan pernah mengambil inisiatif. Selama Allah tidak memerintahkan mereka melakukan sesuatu, maka mereka hanya berdiam diri. Karena mereka bukan makhluk yang memiliki inisiatif dan tanggung jawab dan bukan makhluk yang diberi potensi untuk dapat mengetahui hukum-hukum, sifat dan fungsi alam,” tulis Quraish Shihab yang dimuat majalah ini pada edisi perdana bulan Juli lalu.&lt;br /&gt;Sementara itu, dalam beberapa judul lagu lainnya seperti Di Atas Jiwa, Menembus Arsy, Nabi Yusuf, Tahajjud, Pujiku Untukmu dan Taubat, ada nuansa cinta ilahi yang hendak disampaikan Abu Sangkan ke para pendengar. Dalam beberapa lagu ini, Abu Sangkan tampak hendak mengatakan bahwa cinta Allah kepada manusia adalah anugerah yang sangat besar dan begitu ia harapkan selama ini. Karena hanya dengan cinta dan kasih sayang dari Sang Khaliq, manusia bisa lepas dari segala beban kehidupan. Lebih jauh, hanya dengan kasih sayang Allah manusia bisa lolos dari segala dosa yang dia perbuat selama di dunia. Sementara untuk memperoleh cinta kasih Allah, Abu Sangkan mengajak segenap umat manusia untuk terus-menerus mendalami shalat lima waktu. Ini tampak dari lagu terakhir yang berjudul Mars Shalat. Dalam lagu yang ia ciptakan dengan irama gembira dan ceria ini, pria yang akrab disapa ABS ini mengatakan bahwa shalat khusyu yang selama ini sangat sulit dicapai sebenarnya sangat mudah. Lebih jauh, menurutnya, shalat adalah meditasi tertinggi dalam Islam dan merupakan wahana istimewa yang bisa menemukan manusia dengan Tuhannya. “Dalam shalat kita bisa berdialog langsung dengan Dzat Yang Maha Sempurna,” katanya sambil tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Adib Minanurrachim&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Dimuat di SC Magazine Vol II&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2483512749123335218-7212427532010560072?l=adibdata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adibdata.blogspot.com/feeds/7212427532010560072/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2483512749123335218&amp;postID=7212427532010560072' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/7212427532010560072'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/7212427532010560072'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adibdata.blogspot.com/2007/12/sang-sabda-kidung-cinta-shalat-abu.html' title='SANG SABDA: KIDUNG CINTA SHALAT ABU SANGKAN'/><author><name>Adib Minanurrachim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15129533338323743129</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-I2gRc1Ay-KI/Trz7pcj6bYI/AAAAAAAAAJM/rpVJ_fN0h8A/s220/wajah%2B%252846%2529.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2483512749123335218.post-2190012135787974332</id><published>2007-12-27T12:51:00.001+07:00</published><updated>2007-12-27T12:51:58.002+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='LAPORAN'/><title type='text'>MENUJU BANGSA PEMERDEKAAN</title><content type='html'>&lt;em&gt;Sudah 62 tahun Indonsia merdeka. Sudah 62 tahun pula bangsa ini berjuang berdarah-darah membangun nation-state. Bagaimana hasil pembangunannya?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BULAN Agustus adalah bulan kemerdekaan. Waktu bersejarah di mana negara ini lahir setelah Bung Karno dan Bung Hatta atas nama bangsa Indonesia memproklamirkan berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), 17 Agustus 62 tahun lalu.&lt;br /&gt;Menanggapi hari kelahiran negara Indonesia, Effendi Gazali, Ph.D., MPS ID, Koordinator Program Master Komunikasi Politik UI, mengatakan bahwa hari kemerdekaan adalah tonggak terpenting untuk melakukan evaluasi terhadap perjalanan bangsa Indonesia. “Komunikasi politik terpenting dalam kemerdekaan adalah bagaimana seorang pemimpin seperti presiden atau kepala daerah, selalu mengevaluasi dan memperbaiki janji-janji politik yang mereka lakukan pada masa pemilu; apakah sudah bisa memerdekakan rakyatnya dari jabatan yang ia emban, baik dari janji-janji kampanye atau sebagai pejabat yang memiliki amanah,” katanya kepada SC. Magazine setelah meneyelesaikan shooting Republik Mimpi di Metro TV.&lt;br /&gt;Pernyataan penggagas parodi politik Republik Mimpi itu tampaknya berangkat dari kondisi bangsa Indonesia. Meski perbaikan-perbaikan terus dilakukan baik dalam bidang sosial, ekonomi, pendidikan, hukum dan politik, tapi kondisi bangsa Indonesia masih belum bisa dikatakan sejahtera sebagaimana cita-cita para founding father yang termaktub dalam pembukaan UUD 1945, yaitu memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Misalkan dalam bidang ekonomi. Naiknya harga beras, minyak goreng dan susu merupakan fakta yang memposisikan rakyat kecil makin terjepit.&lt;br /&gt;Krisis barang kebutuhan pokok tersebut, diyakini beberapa pengamat sebenarnya bisa dihindari jika program departemen seperti revitalisasi pertanian berjalan dan segala distorsi yang terjadi di setiap kegiatan produksi, pengadaan dan distribusi bahan pokok tersebut berjalan.&lt;br /&gt;Kekhawatiran tentang terjadinya distorsi itu, sebenarnya sudah diatasi dengan Surat Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan No 115/-MPP/Kep/2/1998, 27 Februari 1998, yang mengatur mengenai penyediaan barang-barang kebutuhan pokok seperti beras, kedelai, jagung, gula dan minyak goreng. Tapi herannya, bangsa ini tidak pernah lepas dari masalah-masalah sembako yang pasokannya sering menghilang, kalau tidak, harganya melonjak. Kondisi ini akhirnya memposisikan kondisi rakyat kecil makin terjepit. Lebih jauh, kondisi ini juga melemahkan semangat para petani yang acapkali merugi karena hasil panen tak sesuai dengan modal tanam.&lt;br /&gt;“Sejauh ini Bulog belum banyak berperan. Misalkan sebelum petani panen harga bawang adalah Rp 20.000,00. Tapi begitu panen mendadak harga bawang menjadi rendah, hanya Rp 10.000.00. Ini sangat melemahkan semangat petani untuk meningkatkan hasil panen. Seharusnya yang Rp 20.000,00 ditetapkan. Sementara sisa barangnya dibeli Bulog. Jadi rakyat itu menjualnya ke Bulog. Lalu Bulog menyimpannya untuk dijual ke masyarakat. Tapi saat ini yang terjadi kan malah sebaliknya, bagaimana uang Bulog itu dikorup sedasyat-dasyatnya,” kata Prof. Dr KH. Didin Hafiduddin, Ketua Dewan Syari’ah Bank Syari’ah Bukopin kepada SC. Magazine di kediamannya, Bogor.&lt;br /&gt;Fenomena di atas, akhirnya turut mengakibatkan meningkatnya kemiskinan dan pengangguran. “Saat ini masyarakat kita tengah menghadapi masalah-masalah ekonomi. Ini terbukti dari makin meningkatnya jumlah orang miskin. Tahun 2005 jumlah orang miskin adalah 35, 2%. Sementara pada tahun 2006 meningkat menjadi 39,4%. Sementara jumlah pengangguran adalah 11 % dari angkatan kerja. Ini menunjukkan bahwa betapa beratnya masalah-masalah ekonomi yang dihadapi masyarakat kita,” lanjut pria yang menjadi pengajar di Fakultas Pasca Sarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta.&lt;br /&gt;Meski sembako masih menjadi masalah utama, tapi bukan berarti masalah ekonomi bangsa Indonesia memburuk secara keseluruhan. Secara makro-ekonomi, indikator perekonomian tampak ada kemajuan mengesankan. Ini terlihat dari kinerja rupiah dan indeks harga saham gabungan (IHSG). Kurs rupiah sempat berada di bawah Rp 9.000 per dolar AS, sedangkan IHSG bertahan di atas angka 2.000.&lt;br /&gt;Membaiknya indikator finansial tersebut bisa saja dipengaruhi oleh masuknya dana-dana asing berjangka pendek alias hot money. Data terakhir dana asing yang masuk ke Sertifikat Bank Indonesia (SBI) sebesar US$ 1,36 miliar, surat utang negara (SUN) US$ 847 juta, dan pasar saham US$ 623 juta.&lt;br /&gt;“Membaiknya sudut makro ini bukan karena membaiknya ekonomi dalam negeri, tapi karena banyaknya uang yang mengalir ke Indonesia. Sekarang ini ada sekira 500 trilyun uang luar negeri yang mengalir ke dalam negeri. Tapi uang itu hanya disimpan di Sertifikat Bank Indonesia (SBI) untuk diambil bunganya. Tidak diberikan kepada sektor riil. Akibatnya, meski uang banyak tapi Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) tambah tidak baik,” kata pria yang sudah dikaruniai tiga putra ini.&lt;br /&gt;Terpuruknya mikro-ekonomi tersebut, tampaknya makin memburuk setelah pemerintah tidak mencabut kebijakan mengimpor barang kebutuhan pokok. “Dari sisi stuktural, kebijakan-kebijakan pemerintah masih belum berorientasi kepada kepentingan masyarakat. Misalkan seperti kebijakan impor beras yang justru merugikan sektor ekonomi mikro. Seharusnya pemerintah mengeluarkan kebijakan yang lebih berani. Sudahlah soal beras biar kita penuhi sesuai dengan kekuatan kita sendiri. Bahkan bila perlu kita berpuasa. Ini tidak apa-apa. Tapi ironisnya saat ini kita serba mengimpor. Mulai dari sagu, gula, terigu dan lainnya. Ini tidak baik. Kita akan menjadi bangsa yang tergantung. Tidak merdeka.”&lt;br /&gt;Persoalan ekonomi memang cukup mendasar, karena menyangkut keberlangsungan hidup manusia. Tak sedikit manusia yang menyerah menghadapi himpitan ekonomi, dan terpaksa memilih jalan pintas demi mempertahankan hidupnya dengan mencuri dan merampok.&lt;br /&gt;Merespon masalah tersebut, Kiai Didin menawarkan perubahan sistem perekonomian. “Salah satu yang krusial adalah perubahan sistem ekonomi. Kita harus berganti kiblat. Bukan lagi kapitalis, tapi syariah yang tidak menekankan pada bunga tapi sistem bagi hasil. Saya kira ini akan membawa perubahan yang lebih baik,” kata Kiai Didin.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;SEMENTARA itu, selain masalah ekonomi, bangsa ini juga dihadapkan dengan masalah kesenjangan intelektual. “Selain kesenjangan ekonomi, kita juga dihadapkan dengan kesenjangan intelektual. Satu sisi kita sudah memiliki intelektual yang kelas internasional, tapi di sisi lain kita juga punya warga negara yang masih buta huruf. Nah yang kayak begini ini dibutuhkan pengorbanan membangun bangsa,” kata Prof. Dr KH. Said Aqil Siraj, ketua PBNU kepada SC. Magazine di kediamannya, Cianjur.&lt;br /&gt;Pendapat tentang kesenjangan intelektual tergambar dari banyaknya anak-anak kecil dan remaja yang terpaksa berkelahi dengan waktu mencari nafkah hidup di hampir setiap kota di Indonesia. Ada yang menjajakan koran, mengamen hingga mengemis. Fakta sosial lainnya adalah keadaan warga negara Indonesia yang berada di daerah-daerah pedalaman yang tidak menemukan lembaga pendidikan, seperti di pedalaman Papua. Fakta sosial ini, menurut Kiai Aqil, selain karena himpitan ekonomi, juga karena faktor mahalnya biaya pendidikan.&lt;br /&gt;Sementara itu, di sisi lain, dunia pendidikan ternyata masih dipenuhi berbagai persoalan, baik mengenai swastanisasi lembaga pendidikan melalui Badan Hukum Pendidikan (BHP) dan Ujian Nasional (UN) yang konfliktif. Ini seperti yang dikeluhkan Prof. Dr. Winarno Surakhmad, Ketua Forum Profesional Pendidikan Regional dalam tulisannya, Kriminalisasi Pendidikan. “Kriminalisasi pendidikan terjadi jika  perumus kebijakan dan pengelola pendidikan menangani amanah dengan sikap salah, seperti tidak peduli falsafah tentang hakikat manusia, realitas kehidupan, dan bagaimana "ilmu sekolah" dapat berdampak positif dalam peradaban manusia. Pandangan yang mendasari perilaku pendidik tak dibenarkan dogmatis atau spekulatif. Bahkan tidak cukup hanya dengan common sense. Indikator keberhasilannya bukan pada target, melainkan pada makna. Peserta didik adalah manusia, bukan angka.”&lt;br /&gt;Keluhan yang ditulis pemerhati pendidikan itu, diamini oleh Drs. Budi Setiawan atau Habudi, Mantan Presiden dalam parodi politik Republik Mimpi yang ditemui SC. Magazine di sela-sela kesibukannya shooting di Metro TV. “Sisdiknas masih berorientasi pada angka. Ini memang mudah mengukurnya. Tapi jika masalah moral dan budi pekerti, ini masih dianggap sesuatu yang imajiner, sulit diukur. Tapi kita harus orientasikan ke sana. Kita harus menghargai kejujuran dan loyalitas yang sekarang ini makin terkikis.”&lt;br /&gt;Kekhawatiran akibat dari sistem pendidikan yang lebih menekankan unsur matematis memang masuk akal. “Bagaimana dengan masalah fundamental dehumanisasi, dekulturisasi, dan deindonesianisasi! Atau, memang tidak penting dibandingkan realisasi BHP yang kontroversial, standardisasi setengah jadi, UN yang kian konfliktif, dan obsesi berkompetisi yang tidak meyakinkan? Lima puluh tahun dari sekarang, saat seluruh bangsa telah lengkap dicerdaskan melalui strategi dan standar UN, apa yang pasti terjadi? Jika konsep yang salah itu diteruskan, tak mustahil jutaan anak bangsa, sepi tetapi pasti, akan terbunuh sebelum mati. Kegairahannya, potensinya, aspirasinya, hak pribadinya, semua akan teratrofi oleh UN. Kalau ini bukan kriminalisasi pendidikan, lalu apa?” tulis Winarno Surachmad.&lt;br /&gt;Sementara itu, merespon persoalan UN yang rencananya akan tetap dijalankan oleh pemerintah, Seto Mulyadi, Ketua Komnas Perlindungan anak mengusulkan agar ke depan UN sekedar menjadi alat ukur untuk memetakan potensi anak-didik. Bukan pintu besi kelulusan. “Kenapa UN tidak sekedar menjadi pemetaan potensi anak didik, sehingga semua berlangsung dengan jujur,” katanya.&lt;br /&gt;Pendapat pria yang akrab disapa Kak Seto tersebut berangkat dari pengamatannya terhadap UN yang acapkali dilakukan dengan kecurangan. “Karena UN menjadi penentu kelulusan, akhirnya ditempuhlah semua cara. Kebocoran, mencontek sampai ada kasus air mata guru di Medan. Bukankah ini justru mendidik anak-anak untuk tidak jujur? Mendidik anak menjadi calon koruptor-koruptor masa depan? Jika seperti ini, apakah bangsa ini bisa dikatakan merdeka?”&lt;br /&gt;Sementara itu, Dr H Ahmad Satori Ismail, Ketua Umum Ikatan Da’i Indonesia menilai bahwa sejauh ini dunia pendidikan Indonesia kurang menghargai pendidikan agama. “Pendidikan agama hanya diberikan sekilas saja. Belum mengarah pada bagaimana bisa terjun ke masyarakat dan memberikan pengorbanan untuk mereka. Karena pendidikan agama tidak dijadikan faktor lulus-tidaknya seseorang. Bagaimana perilakunya di kelas, di rumah  dan di lingkungan lain. Padahal akhlak seharusnya dijadikan faktor fital menilai pelajar, mengingat bangsa ini sudah mengalami dekadensi moral dengan fenomena korupsi di segala lini,” katanya prihatin.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;BERANGKAT dari persoalan ekonomi yang memposisikan bangsa dan negara ini kehilangan kemandirian dan jatuhnya harga diri di hadapan negeri dan bangsa lain, boleh jadi telah membuktikan kalau kita memang belum merdeka. Sementara dari sisi pendidikan yang lebih mengutamakan angka tanpa memperhatikan kualitas akhlak generasi bisa jadi hanya akan melahirkan para calon pemimpin yang pragmatis dan kurang bisa memikirkan rakyatnya.&lt;br /&gt;Berangkat dari hal itu, dan mengingat masih menumpuknya persoalan lainnya yang dihadapi bangsa dan negara ini, Efendi Gazali menawarkan langkah-langkah pemerdekaan bangsa melalui perjuangan dari pemiskinan dan pembodohan.&lt;br /&gt;“Bicara kemerdekaan, maka juga bicara soal bagaimana masyarakat bawah itu bisa berjuang untuk memerdekakan dirinya dari pembodohan dan pemiskinan. Pemiskinan bisa terjadi karena bangsa ini dijajah oleh neoliberalisme dan atau karena sebagian kelompok dari bangsa ini tanpa sadar memikirkan dirinya sendiri sehingga memiskinkan kelompok lainnya. Sikap individualis ini merupakan salah satu karakter koruptor. Ini luar biasa betul. Hanya orang bodoh yang tidak tahu bahwa dia sedang dikorupsi. Karena itu, ini tugas semua kalangan yang pro terhadap kemerdekaan ideal-subtansial. Salah satu agenda penting saat ini adalah bagaimana memperjuangkan peningkatan anggaran pendidikan 20%. Selanjutnya bagaimana memantau pelaksanaannya dengan baik dan benar. Karena ketika dana mengucur ke bawah, acapkali ada potongan-potongan yang koruptif,” kata Gazali kepada SC. Magazine.&lt;br /&gt;Lebih jauh, menurut salah satu peneliti terbaik UI tahun 2003 dalam bidang sosial dan kemanusiaan ini, andai tidak dimiskin-miskinkan, Indonesia adalah bangsa besar dan bisa maju. “Tapi karena tidak demikian, langkah terbaik saat ini adalah bagaimana kita mulai belajar mandiri dari lingkungan kita yang terkecil. Misalkan bila ada hutan yang rusak, mari kita coba perbaiki sendiri. Bila ada sekolah yang rusak, mari kita perbaiki sendiri. Jangan terlalu tergantung terhadap pemerintah. Tapi demikian, pada saat yang sama kita tekan pemerintah untuk mematuhi janji-janjinya dan bisa mematuhi amanahnya serta tanggung jawabnya,” katanya bersemangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Adib Minanurrachim&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Dimuat di SC Magazine Vol II&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2483512749123335218-2190012135787974332?l=adibdata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adibdata.blogspot.com/feeds/2190012135787974332/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2483512749123335218&amp;postID=2190012135787974332' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/2190012135787974332'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/2190012135787974332'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adibdata.blogspot.com/2007/12/menuju-bangsa-pemerdekaan.html' title='MENUJU BANGSA PEMERDEKAAN'/><author><name>Adib Minanurrachim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15129533338323743129</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-I2gRc1Ay-KI/Trz7pcj6bYI/AAAAAAAAAJM/rpVJ_fN0h8A/s220/wajah%2B%252846%2529.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2483512749123335218.post-2556374152840452029</id><published>2007-12-27T12:50:00.000+07:00</published><updated>2007-12-27T12:51:10.149+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='WAWANCARA'/><title type='text'>“KEMERDEKAAN ADALAH TONGGAK INTROSPEKSI”</title><content type='html'>KOMUNIKASI politik yang terpenting dalam kemerdekaan adalah bagaimana seorang pemimpin seperti presiden atau kepala daerah, selalu mengevaluasi dan memperbaiki janji-janji politik yang mereka lakukan pada masa pemilu. Jadi dari 17 Agustus pertama ke 17 Agustus selanjutnya, adakah sesuatu yang terealisasi dari janji-janjinya?&lt;br /&gt;Memang orang bisa mengukur semenjak pertama kali ia dilantik. Tapi hari kemerdekaan adalah tonggak yang bisa dijadikan ukuran, dan selayaknya pejabat itu mengevaluasi diri, apakah sudah bisa memerdekakan rakyatnya dari jabatan yang ia emban, baik dari janji-janji kampanye atau sebagai pejabat yang memiliki amanah.&lt;br /&gt;Bicara kemerdekaan, maka juga bicara soal bagaimana masyarakat bawah itu bisa berjuang untuk memerdekakan dirinya dari pembodohan dan pemiskinan. Saat ini masih banyak fenomena yang mengindikasikan pembodohan dan pemiskinan. Di antaranya adalah kesenjangan intelektual dan ekonomi di antara bangsa sendiri.&lt;br /&gt;Pemiskinan bisa terjadi karena bangsa ini dijajah oleh neoliberalisme dan atau karena sebagian kelompok dari bangsa ini tanpa sadar memikirkan dirinya sendiri sehingga memiskinkan kelompok lainnya. Sikap individualis ini merupakan salah satu karakter koruptor.  Dan parahnya, korupsi sudah menjalar ke mana-mana. Ini luar biasa betul. Hanya orang bodoh yang tidak tahu bahwa dia sedang dikorupsi. Karena itu, ini tugas semua kalangan yang pro terhadap kemerdekaan ideal-subtansial. Ada tugas wartawan, mahasiswa, akademisi dan lainnya untuk membantu proses pemerdekaan ini.&lt;br /&gt;Memang dalam memperjuangkannya, tentu setiap orang harus berusaha sendiri. Artinya secara individual, mereka juga berjuang melawan pembodohan dan pemiskinan. Tapi saya ingin mengatakan bahwa ini adalah tugas bangsa, tugas kita semua untuk melakukan pemerdekaan. Bila bangsa ini bisa merdeka dari dua hal itu, niscaya akan menjadikan bangsa mandiri. Memang ada sebagian orang yang mengatakan bahwa, ada juga dong orang miskin yang bisa berdikari. Tapi ini bukan lingkungan ideal yang dimaksud oleh UUD 1945 yang mencita-citakan pembangunan bangsa Indonesia seutuhnya. Karena pembangunan itu hanya bisa dicapai bila bangsa ini merdeka dari pembodohan dan pemiskinan. Jadi bila dari atas ada pembodohan dan pemiskinan, maka dari bawah harus ada pemerdekaan diri. Nah sekarang bagaimana melawannya. Bila dulu kita melawan penjajah Belanda, kemudian rezim otoriter, nah bila sekarang apa? Sekarang kebebasan sudah ada, tapi bukan berarti perjuangan berhenti, masih ada tugas melawan pembodohan dan pemiskianan, yaitu melalui pendidikan.&lt;br /&gt;Salah satu agenda penting saat ini adalah bagaimana memperjuangkan peningkatan anggaran pendidikan 20%. Selanjutnya bagaimana memantau pelaksanaannya dengan baik dan benar. Karena ketika dana mengucur ke bawah, acapkali ada potongan-potongan yang koruptif.&lt;br /&gt;Sementara itu, dalam rangka pemerdekaan, ada yang menawarkan terbentuknya civil society (CS). Sebenarnya CS itu sudah ada dan berakar dari kebudayaan kita. Banyak orang yang menganggap bahwa CS adalah kaum borjuis yang memulai perjuangan dari kafe-kafe pada zaman kebangkitan di era pencerahan Eropa. Tapi sebenarnya CS adalah sebuah masyarakat yang bisa lepas dan mandiri dari kungkungan pasar dan negara/penguasa. Saat ini tekanan dari penguasa masih ada, paling tidak penguasa yang belum bersungguh-sungguh merealisasikan janji-janjinya pada masa kampanye, dan belum menjadikan kehidupan rakyatnya sejahtera. Sementara disisi lain, tekanan pasar justru luar biasa. Saat ini kami berjuang melawan pembodohan dari pasar, salah satunya adalah melawan sinetron-sinetron yang cukup mempengaruhi dan bahkan menghegemoni pola pikir generasi muda. Itu pembodohan besar bagi bangsa. Nah dalam hal ini sudah ada CS yang melawannya, misalkan gerakan satu hari tidak melihat televisi.&lt;br /&gt;Selanjutnya juga perlu ada perlawanan akibat negatif dari globalisasi. Karena ini bisa melunturkan jati diri bangsa. Ini sudah dapat dipastikan. Kami dari Salemba School menemukan indikasi bahwa ada kelompok tertetu yang ingin melunturkan jati diri bangsa, baik dengan menjadikan diri kita tergantung terhadap tekhnologinya dan atau super culture yang mereka anggap baik. Jadi mereka sangat senang sekali bila kita demikian cepat mengambil American Idol dan program-program lainnya, supaya kita terus-menerus mengikuti trend mereka. Indikatornya adalah capital flow, makro ekonomi dan lain-lain. Padahal jati diri kita semisal gotong-royong dan senasip sepenanggungan makin menipis. Coba dilihat berapa dana yang ada di Sertifikat Bank Indonesia (SBI) saat ini dan tidak bergerak untuk sektor riil? Inilah bukti bahwa kita belum merdeka dan belum bebas dari upaya-upaya yang dilakukan oleh pihak tertentu yang bertujuan memiskinkan bangsa sendiri.&lt;br /&gt;Jadi sebenarnya, andai tidak dimiskin-miskinkan betul, kita ini adalah bangsa besar dan bisa maju. Tapi karena persoalannya tidak demikian, maka langkah terbaik saat ini adalah bagaimana kita bersama-sama mengajak—dari lingkungan kita yang terkecil—kita perbaiki sendiri. Andai ada hutan yang rusak, mari kita coba perbaiki sendiri. Bila ada sekolah yang rusak, mari kita perbaiki sendiri. Jangan terlalu tergantung terhadap pemerintah. Tapi demikian, pada saat yang sama kita tekan pemerintah untuk mematuhi janji-janjinya dan bisa mematuhi amanahnya serta tanggung jawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wawancara dengan Effendi Gazali, Ph.D., MPS ID (Koordinator Program Master Komunikasi Politik UI)&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Adib Minanurrachim&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Dimuat di SC Magazine Vol II&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2483512749123335218-2556374152840452029?l=adibdata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adibdata.blogspot.com/feeds/2556374152840452029/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2483512749123335218&amp;postID=2556374152840452029' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/2556374152840452029'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/2556374152840452029'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adibdata.blogspot.com/2007/12/kemerdekaan-adalah-tonggak-introspeksi.html' title='“KEMERDEKAAN ADALAH TONGGAK INTROSPEKSI”'/><author><name>Adib Minanurrachim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15129533338323743129</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-I2gRc1Ay-KI/Trz7pcj6bYI/AAAAAAAAAJM/rpVJ_fN0h8A/s220/wajah%2B%252846%2529.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2483512749123335218.post-6652906623873465334</id><published>2007-12-27T12:49:00.000+07:00</published><updated>2007-12-27T12:50:21.679+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='WAWANCARA'/><title type='text'>“SOLUSINYA EKONOMI SYARI’AH”</title><content type='html'>SAAT INI masyarakat kita tengah menghadapi masalah-masalah ekonomi. Ini terbukti dari makin meningkatnya jumlah orang miskin. Tahun 2005 jumlah orang miskin adalah 35, 2%. Sementara pada tahun 2006 meningkat menjadi 39,4%. Sementara jumlah pengangguran adalah 11 % dari angkatan kerja. Saya kira hal ini menunjukkan bahwa betapa beratnya masalah-masalah ekonomi yang dihadapi masyarakat kita.&lt;br /&gt;Beberapa waktu yang lalu harga minyak tanah naik. Sementara baru-baru ini adalah minyak goreng dan susu. Ini berpengaruh pada daya beli masyarakat yang semakin rendah. Jangankan yang tidak punya penghasilan, yang punya penghasilan saja mengalami kesulitan. Ini hanya sedikit contoh betapa masalah ekonomi merupakan persoalan yang sangat berat.&lt;br /&gt;Lebih jauh, kondisi mikro ekonomi kita hampir tidak jalan, meski dari sudut makro ekonomi kita membaik. Tapi membaiknya sudut makro ini bukan karena membaiknya ekonomi dalam negeri, tapi karena banyaknya uang yang mengalir ke Indonesia. Sekarang ini ada sekira 500 trilyun uang luar negeri yang mengalir ke dalam negeri. Tapi uang tersebut hanya disimpan di Sertifikat Bank Indonesia (SBI) untuk diambil bunganya. Tidak diberikan kepada sektor riil. Akibatnya, meski uang banyak tapi Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) tambah tidak baik. Sementara upaya-upaya yang dilakukan, tampaknya belum bisa merubah keadaan.&lt;br /&gt;Masalah ekonomi ini karena dua hal, kultural dan struktural. Kultural itu dicirikan dari etos kerja yang semakin melemah. Orang lebih banyak mengandalkan pada belas kasihan orang lain, seperti masih banyaknya pengemis-pengemis yang sehat di jalanan. Ini sama dengan kondisi negara yang juga mengemis kepada negara-negara maju. Ini sikap yang tidak arif. Sementara secara struktural, kebijakan-kebijakan pemerintah masih belum berorientasi kepada kepentingan masyarakat. Misalkan seperti kebijakan impor beras yang justru merugikan sektor ekonomi mikro. Seharusnya pemerintah mengeluarkan kebijakan yang lebih berani. Sudahlah soal beras biar kita penuhi sesuai dengan kekuatan kita sendiri. Bahkan bila perlu kita berpuasa. Jadi harus ada larangan tentang impor. Kembali pada tahun sebelum 66. Ini tidak apa-apa. Tapi ironisnya saat ini kita serba mengimpor. Mulai dari sagu, gula, terigu dan lainnya. Ini tidak baik. Sangat membahayakan. Kita akan menjadi bangsa yang dependen. Tidak independen!&lt;br /&gt;Sementara Bulog sejauh ini belum banyak berperan. Misalkan sebelum petani panen harga bawang adalah Rp 20.000,00. Tapi begitu panen mendadak harga bawang menjadi rendah, hanya Rp 10.000.00. Nah ini kan sangat melemahkan semangat petani untuk meningkatkan hasil panen. Seharusnya yang Rp 20.000,00 ditetapkan. Sementara sisa barangnya dibeli Bulog. Jadi rakyat itu menjualnya ke Bulog. Lalu Bulog menyimpannya untuk dijual ke masyarakat. Tapi saat ini yang terjadi kan malah sebaliknya, bagaimana uang Bulog itu dikorup sedasyat-dasyatnya.&lt;br /&gt;Tampaknya ini merupakan indikasi menurunnya kesalehan sosial atau tanggung jawab sosial dari masyarakat kita. Artinya orang-orang yang mendapatkan amanah dan kedudukan itu hampir tidak ada kesalehan sosialnya.&lt;br /&gt;Melihat hal di atas dan mengingat sebagian besar warga Indonesia adalah muslim, ini memang ironis. Tapi walau bagaimana pun, kita patut bersyukur bahwa mayoritas masyarakat kita muslim. Hanya barangkali saat ini pemahaman tentang keislaman perlu menyeluruh. Karena sejauh ini Islam hanya dipandang hanya dalam sudut pandang vertikal. Jadi yang terpenting adalah bagaimana kita membangun kesalehan secara individu dengan Allah SWT. Padahal bila kita melihat dari berbagai macam ayat dan hadist, yang individual itu harus tercermin dari kesalehan sosial. Shalat yang baik itu bukan hanya ditentukan dari praktik shalat yang baik, tapi juga ditentukan bagaiamana setelah shalat itu dia semakin sayang sama masyarakat, bertanggung jawab, selalu merasa bahwa Allah selalu mengawasi kita, melarang kita untuk KKN. Jadi tidak dipisahkan.&lt;br /&gt;Kedua adalah sistemnya yang belum jalan. Jadi norma-norma agama itu belum terefleksikan dalam sistem. Seharusnya kan sudah menjadi sistem. Bukan sekedar norma-norma saja.&lt;br /&gt;Jadi, menurut saya pemerintah harus serius betul memperhatikan masalah ekonomi ini. Jika tidak, akan memburuk. Salah satu yang krusial adalah perubahan sistem ekonomi. Kita harus berganti kiblat. Bukan lagi kapitalis, tapi syariah. Jika syariah, penekanannya bukan pada bunga tapi pada sistem bagi hasil. Saya kira ini akan membawa perubahan yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wawancara dengan Prof. Dr. KH. Didin hafiduddin (Ketua Umum Badan Amil Zakat Nasional)&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Adib Minanurrachim&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Dimuat di SC Magazine Vol II&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2483512749123335218-6652906623873465334?l=adibdata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adibdata.blogspot.com/feeds/6652906623873465334/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2483512749123335218&amp;postID=6652906623873465334' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/6652906623873465334'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/6652906623873465334'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adibdata.blogspot.com/2007/12/solusinya-ekonomi-syariah.html' title='“SOLUSINYA EKONOMI SYARI’AH”'/><author><name>Adib Minanurrachim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15129533338323743129</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-I2gRc1Ay-KI/Trz7pcj6bYI/AAAAAAAAAJM/rpVJ_fN0h8A/s220/wajah%2B%252846%2529.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2483512749123335218.post-2381997240883773519</id><published>2007-12-27T12:48:00.000+07:00</published><updated>2007-12-27T12:49:34.740+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='WAWANCARA'/><title type='text'>“PENDIDIKAN YANG MENGUTAMAKAN AKHLAK”</title><content type='html'>MENJELANG kemerdekaan Indonesia yang ke 62 tahun ini, alhamdulillah, saya melihat bangsa ini masih tegar meski berbagai macam krisis telah menimpa. Hanya saja ada fenomena-fenomena yang mungkin kurang menyamankan. Misalkan masih banyak penyelewengan, perselingkuhan, pelacuran, keamanan sosial yang kurang ideal dan masalah ketetanngan jiwa yang berkurang. Ini dari sisi sosial. Kalau bukan karena kekokohan iman, barangkali kondisinya makin meburuk.&lt;br /&gt;Jadi, secara sosial-ekonomi bangsa Indonesia belum merdeka dalam arti sesungguhnya. Misalkan soal beras kita masih mengimpor, dan baru-baru ini kerepotan masalah susu. Artinya bangsa ini masih belum bisa mandiri. Padahal tanah luas dan kekayaan alam melimpah. Ini memprihatinkan.&lt;br /&gt;Hal itu terjadi, barangkali selain karena kita sendiri boleh jadi tidak serius untuk bisa mandiri, juga karena ada faktor x yang menginginkan bangsa ini agar tidak merdeka seutuhnya.&lt;br /&gt;Dari dalam, coba saja kita lihat fenomena pembalakan hutan secara liar hingga menimbulkan kekeringan dan para petani pun kebingungan. Bukankah ini bukti bahwa kita belum arif terhadap alam dan belum serius untuk mandiri? Lebih jauh, masih banyak orang Indonesia yang mementingkan diri sendiri dan kelompok, kurang memikirkan bangsa dan negaranya.&lt;br /&gt;Sementara dari luar, seakan-akan ada negara asing yang membantu kita. Tapi membantunya  bukan untuk menjadikan bangsa ini mandiri, tapi sebaliknya menjadi tergantung kepada mereka. Hal ini, meski sulit dikatakan, tapi faktanya memang terjadi. Bila ada bantuan misalkan gandum, itu bukan bertujuan agar kita bisa menanam sendiri dan mandiri. Tapi sebaliknya, agar kita tergantung. Atau bantuan lainnya seperti dari IMF dan World Bank. Jadi ini semua adalah perangkap ekonomi yang menjadikan kita seakan-akan tidak akan pernah merdeka dalam arti ideal subtansial.&lt;br /&gt;Kemerdekaan bila ditinjau dari Islam, kita merupakan bangsa yang kurang memiliki kekokohan iman. Belajar pun kurang serius dan kurang memiliki tujuan mulia. Misalkan para pelajar saat ini, mereka itu menuntut ilmu untuk memajukan bangsa atau sekedar belajar agar mendapatkan ijazah dan memperoleh pekerjaan? Dua hal ini berbeda. Bila belajar hanya untuk memperoleh kerja, secara tidak langsung pola pikir politik etis yang diterapkan Belanda pada masa lalu terulang kembali. Karena Belanda memberikan kebijakan politik etis, itu hanya supaya kita menjadi pekerja mereka.&lt;br /&gt;Jadi keilmuan yang dalam Islam akan dimintai pertanggungjawaban, itu tidak diteruskan melalui pengabdian kepada nusa dan bangsa. Hanya sedikit dari bangsa ini yang malkukannya. Nah ini dari orang-orang yang akan membina/mengurus bangsa. Bila sudah begini, bagaimana generasi kita selanjutnya?&lt;br /&gt;Sementara dari sisi penguasa, tampak masih didominasi oleh kepentingan pribadi dan kelompok. Cobalah anda teliti, berapa persen dari seluruh pejabat di Indonesia yang punya ketulusan untuk memajukan bangsa dan negara ini? Jadi nasionalisme yang mereka omongkan ketika masih belum menjadi pejabat adalah nasionalisme semu. Karena mereka lupa setelah mendapatkan jabatan.&lt;br /&gt;Dalam Islam, itu kan disebutkan khoiru annaasi angfauhum linnaas. Nah bila ini ditanamkan, bahwa kita berjuang untuk membahagiakan orang lain, itu kan baik. Tapi sayang ini kurang ditanamkan dalam bangsa ini.&lt;br /&gt;Pola pikir yang individual tersebut, bisa juga dikatakan bahwa ada fenomena ketakmerdekaan spiritual dari bangsa ini. Karena sikap individual adalah salah satu bukti bahwa orang itu terjangkiti kekeringan spiritual. Bila memiliki spiritual yang tinggi, pasti ia akan memikirkan nasib orang lain.&lt;br /&gt;Memang secara materi, manusia itu membutuhkan makan dan segala hal yang terkait kebutuhan jasmani. Tapi bila spiritualitasnya tinggi, yang ingin ia capai adalah kebahagiaan spiritual. Apa bedanya antara kebahagiaan jasmani dan spiritual? Bila jasmanai itu terbatas, sementara spiritual itu tidak terbatas. Misalkan keinginannya adalah kepuasan seksual. Setelah ia memperolehnya,maka ya sudah, selesai. Tapi ada satu kesenangan yang tak terbatas, yakni kesenangan spiritual. Karena hidup bagi spiritualis itu bukan untuk dapat, tapi untuk memberi. Mudahnya bisa diibaratkan dengan orang tua kita. Ketika masih kecil, kita sangat menginginkan sebuah mainan. Kala itu orang tua kita tidak bisa membelikannya karena tidak punya uang. Tapi demikian, orang tua kita tidak berarti tidak berusaha. Mereka berusaha sekeras tenaga mencari reziki dan menabung sedikit demi sedikit agar bisa membeli mainan tersebut. Nah melihat ia berhasil membelikan mainan untuk anaknya, dan anaknya senang dengan mainan itu, hati si orang tua sudah senang. Padahal ia mengeluarkan biaya. Jadi, bila spiritualitas seseorang itu tinggi, maka dia tidak akan menyakiti orang lain. Karena Allah itu Maha Pengasih dan Penyayang. Sehingga yang keluar dari orang tingkat spiritualitasnya tinggi maka segala ucapan dan tindakannya akan penuh kasih sayang. Nah nilai-nilai seperti ini dan atau pola cinta kasih oraang tua kepada anaknya, seharusnya diterapkan oleh para penguasa pada bangsa dan negara ini. Tapi sayang, ini masih belum ditanamkan kepada generasi bangsa secara total.&lt;br /&gt;Fenomena di atas, barangkali juga kurang maksimalnya pendidikan agama di Indonesia. Karena fenomena yang terjadi, pendidikan agama hanya ditujukan untuk mengisi intelektualitas saja. Belum mengarahkan bagaimana bisa terjun ke masyarakat dan memberikan pengorbanan untuk mereka. Lebih jauh pendidikan agama masih sangat kurang. Karena pendidikan di Indonesia ini sudah sekuler. Sehingga belajar agama itu hanya sekilas. Karena pendidikan agama tidak dijadikan faktor untuk lulus-tidaknya seseorang. Bagaimana perilakunya di kelas, di rumah  dan di lingkungan lain tidak tidak menjadi faktor yang signifikan bagi kelulusan seorang pelajar.&lt;br /&gt;Jadi akhlak itu seharusnya dijadikan faktor fital bagi menilai seorang pelajar. Karena akhlak itu adalah buah dari sebuah keyakinan dan ibadah. Kalau aqidah dan ibadahnya benar maka buahnya benar. Lebih jauh Rosulullah bersabda, innamaa bu’istu liutammima makarimal akhlak (saya diutus untuk memperbaiki akhlak).&lt;br /&gt;Jadi, tujuan pendidikan Islam secara umum adalah menciptakan seorang mukmin yang ahli ibadah, soleh, baik dunia dan akhirat.&lt;br /&gt;Tentang hal ini, Yusuf Qordawi mengatakan bahwa tujuan pendidikan adalah menciptakan satu generasi muslim, bukan pribadi, tapi generasi yang menyatu dan mampu menjadi perekat ummat. Nah bila ada lembaga pendidikan yang mengajarkan menjadi perekat ummat, ini baik. Misalkan Gontor atau pesantren-pesantren lainnya yang mengajak orang menjadi perekat ummat.&lt;br /&gt;Sebagai da’i saya menginginkan agar bangsa ini menyadari dan kembali pada Allah dan melakukan evaluasi mengapa bangsa ini seakan-akan sulit untuk bisa mengarah ke depan. Ummat Islam dan umat lainnya perlu bersatu dan saling bahu-membahu membangun dan meningkatkan kualitas pendidikan agar kehidupan bangsa Indonesia bisa membaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wawancara dengan DR H Ahmad Satori Ismail, MA (Ketua Umum Ikatan Da’i Indonesia)&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Adib Minanurrachim&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Dimuat di SC Magazine Vol II&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2483512749123335218-2381997240883773519?l=adibdata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adibdata.blogspot.com/feeds/2381997240883773519/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2483512749123335218&amp;postID=2381997240883773519' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/2381997240883773519'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/2381997240883773519'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adibdata.blogspot.com/2007/12/pendidikan-yang-mengutamakan-akhlak.html' title='“PENDIDIKAN YANG MENGUTAMAKAN AKHLAK”'/><author><name>Adib Minanurrachim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15129533338323743129</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-I2gRc1Ay-KI/Trz7pcj6bYI/AAAAAAAAAJM/rpVJ_fN0h8A/s220/wajah%2B%252846%2529.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2483512749123335218.post-4928436586051437281</id><published>2007-12-27T12:47:00.002+07:00</published><updated>2007-12-27T12:48:40.244+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='WAWANCARA'/><title type='text'>“PENDIDIKAN GERBANG PEMERDEKAAN”</title><content type='html'>(II)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MENYAMBUT kemerdekaan ini, sudah sepatutnya kita bersyukur kepada Allah SWT. Memang masih banyak persoalan yang perlu segera diselesaikan. Sehingga ada yang mengatakan bahwa secara ideal-subtansial, kita belum merdeka.&lt;br /&gt;Di tengah pelbagai masalah yang menimpa bangsa ini, ada yang memberikan tawaran radikal dengan perubahan bentuk negara. Alasan yang dikemukakan bermacam-macam. Ada yang mengatakan bahwa hingga detik ini Pancasila belum bisa menawarkan perubahan yang signifikan, para pejabatnya bayak yang korup dan keluar dari nilai-nilai Islam begitu pula masyarakatnya, sehingga mereka beranggapan perlu ada penerapan syariah, menjadi negara Islam. Dalam konteks ini, saya tidak bicara salah-benar atau baik-tidak baik. Tapi persoalannya ini bukan masalah dasar negara atau filosofi kebangsaannya. Tapi semata-mata persoalan manusianya yang belum beres.&lt;br /&gt;Khilafah, itu kan sistem politik. Namanya kholifah misalkan, kecuali khulafaurrasyidin Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali, yang dholim juga tidak kurang-kurang. Misalkan Kholifah Malik Abdul Malik bin Marwan. Selama menjadi kholifah—waktu itu jumlah manusia di dunia barangkali masih berkisar 3, 5 juta—ia telah membunuh rakyat sebanyak 70 ribu. Begitu pula kholifah-kholifah pada masa Dinasti Usmani, juga banyak melakukan kedzoliman. Jadi sistem itu memang harus baik. Tapi jangan hanya simbol. Saat ini persoalannya bukan simbol. Tapi orangnya. Pancasila sudah baik, UUD juga sudah baik. Hanya implementasinya saja yang kurang baik.&lt;br /&gt;Inti kemerdekaan, salah satunya harus punya jati diri yang utuh. Tidak terkontaminasi dan tidak terpengaruh oleh siapa pun. Dulu nenek moyang kita dijajah oleh belanda lebih dari 300 tahun, justru semakin kokoh mempertahankan jati diri bangsa. Tapi sekarang, hanya karena pengaruh globalisasi, internet dan televisi kita menjadi belanda semua, menjadi kebarat-baratan. Sikap gotong-royong dan toleran terkikis menuju individualis, rela berkorban terkikis menjadi pamrih dan seterusnya.&lt;br /&gt;Untuk memajukan menuju bangsa, yang paling mendasar dibutuhkan saat ini adalah pendidikan. Contoh mudahnya adalah Jepang. Setelah Negeri Sakura ini mengalami efek dari bom atom, yang ditanyakan pertama kali oleh Kaisar Jepang adalah jumlah tenaga pendidik. Karena bila masih ada pendidik, masih ada harapan negara itu bisa bangkit kembali. Nah persoalannya saat ini, pendidikan di Indonesia memang sangat merosot. Salah satunya adalah soal anggaran pendidikan. Sehingga perhatian yang kurang ini kurang bisa melahirkan generasi yang mandiri dan berakhlak mulia. Ini bisa dilihat dari perilaku para pejabat yang korup, mereka itu kan sarjana, tapi kenapa masih korup? Nah, berarti ada sesuatu yang hilang dari dunia pendidikan, yaitu moral dan nilai-nilai agama. Selama ini yang ditonjolkan masih sisi materi saja, unsur rohani kurang diberi ruang. Padahal ini penting. Karena bila sebuah generasi memiliki iman yang kokoh, dalam dirinya akan timbul kesadaran penuh bahwa ia adalah manusia yang selalu bersama Tuhan, selalu dimonitor dan dideteksi. Sehingga yang lahir dalam bentuk perilaku adalah semangat untuk berbuat baik.&lt;br /&gt;Dalam bahasa arabnya, pendidikan adalah tarbiah, bukan sekedar ta’lim. Bila ta’lim itu tranfer of knowledge. Sementara tarbiyah itu berasal dari kata ruh. Sehingga ada kesadaran bahwa kita punya ruh, kita punya Tuhan yang selalu bersama kita. Sehingga dalam diri kita akan lahir semangat berbuat baik. Sementara ketika akan berbuat jahat, kita akan berpikir ulang-ulang. Karena Tuhan selalu bersama kita.&lt;br /&gt;Pendidikan itu harus menyeluruh. Karena yang membentuk karakter seseorang itu juga lingkungan. Misalkan saya punya anak empat. Mereka sudah saya didik dengan benar, baik ibadah dan seterusnya. Sementara anak orang lain terserah, saya tidak ikut campur. Nah ini tidak bisa. Karena anak saya yang empat itu kan akan tergabung dengan... misalkan 94 anak-anak lainnya, baik di sekolah atau di lingkungan lainnya. Bayangkan apakah anak saya yang empat itu bisa mewarnai yang 94 anak lainnya? Bukankah malah sebaliknya? Jadi, pendidikan moral ini adalah pendidikan bersama. Tidak bisa secara sendiri-sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wawancara dengan Prof Dr KH Said Aqil Syiraj (Ketua PBNU Jakarta)&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Adib Minanurrachim&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Dimuat di SC Magazine Vol II&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2483512749123335218-4928436586051437281?l=adibdata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adibdata.blogspot.com/feeds/4928436586051437281/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2483512749123335218&amp;postID=4928436586051437281' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/4928436586051437281'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/4928436586051437281'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adibdata.blogspot.com/2007/12/pendidikan-gerbang-pemerdekaan.html' title='“PENDIDIKAN GERBANG PEMERDEKAAN”'/><author><name>Adib Minanurrachim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15129533338323743129</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-I2gRc1Ay-KI/Trz7pcj6bYI/AAAAAAAAAJM/rpVJ_fN0h8A/s220/wajah%2B%252846%2529.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2483512749123335218.post-7076655784772688659</id><published>2007-12-27T12:47:00.001+07:00</published><updated>2007-12-27T12:47:32.321+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='WAWANCARA'/><title type='text'>“PERBEDAAN MADZHAB TAK MENGURANGI SOLIDARITAS ISLAM”</title><content type='html'>(I)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DALAM Islam, kita harus memaknai kemerdekaan sebagaimana Al-Qur’an mengatakan kuntum khoiro ummatin ukhrijat linnas ta’muruna bil makruf wa tanhauna anil mungkar wa tu’minuna billah.&lt;br /&gt;Salah satu nilai kemerdekaan adalah kebebasan. Tapi ini juga ada batasannya. Karena kebebasan yang tanpa batas itu akan mengganggu orang lain. Namanya Interaksi sosial, saling menyempurnakan itu pasti ada batasnya. Begitu juga dalam beragama. Kita bebas beragama, tapi jangan mematikan agama lain.&lt;br /&gt;Dalam Islam itu yang baku dan tidak boleh diotak-atik itu hanya 5 %, seperti rukun Iman dan Islam. Ada lagi 13 item yang tidak boleh dimakan, seperti bangkai, babi dan lainnya. Ada pula beberapa perempuan yang tidak boleh dikawin, adik kandung, ibu kandung dan lainnya. Selain itu adalah wilayah kita berkreasi, wilayah kita untuk ijtihad, memahami nilai-nilai Islam untuk dikembangkan. Makanya Islam itu tidak sekedar menawarkan aqidah dan syari’ah, tapi Islam juga menawarkan tsaqofah (ilmu pengetahuan), muhadloroh (budaya) dan tamddun (sistem). Misalkan ketika Rosulullah membangun madinah, beliau membangun masyarakat yang memiliki UU agar sadar akan hak dan kewajiban, sehingga disebut mutamaddin atau masyarakat madani. Kotanya yang mulanya bernama Yatsrib diganti Madinah. Sementara sistemnya namanya tamaddun.&lt;br /&gt;Jadi kemunculan madzhab itu sama sekali tidak mengganggu dan mengurangi solidaritas umat Islam. Karena kita satu Tuhan, satu Al-Qur’an dan satu Qiblat. Madzhab itu pemahaman masing-masing individu sesuai dengan imamnya.&lt;br /&gt;Soal fanatisme, itu memang ada di mana-mana. Tidak hanya di Islam, tapi juga ada di Katolik, Hindu dan seterusnya. Yang menjadi persoalan hanya bila fanatisme itu melahirkan kekerasan, itu sudah tidak benar. Membuktikan bahwa kadar intelektualitasnya sangat rendah. Karena tidak ada agama yang mengajarkan kekerasan.&lt;br /&gt;Sementara untuk mempersatukan umat Islam pada khususnya dan bangsa Indonesia umumnya, marilah kita tonjolkan Islam yang rahmatan lil alamin. Karena Islam itu agama yang humanis, bukan hanya aqidah dan syariah. Jadi... ibadah shalat, zakat, puasa dan seterusnya yang berhak menilai atau memberi pahala itu Allah. Kita tidak usah masuk di situ. Karena bila kita masuk di situ, kita nanti akan menjadi Tuhan. Kita ini wilayahnya adalah budaya, peradaban dan ilmu pengetahuan. Komunikasi dan interaksi dan bagaimana kita mengajak orang, melakukan kebaikan dan meninggalkan keburukan. Seperti yang dilakukan oleh Wali Songo.&lt;br /&gt;Jadi marilah kita laksanakan Islam dengan ramah. Selain shalat, zakat dan seterusnya kita juga berakhlakul karimah. Salah satu contoh yang menarik adalah bank syari’ah, yang kabarnya para nasabahnya juga banyak yang non muslim. Di sana ada kejujuran dan keterbukaan. Nah dakwah seperti inilah yang bagus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wawancara dengan Prof. Dr. KH. Said Aqil Siraj, MA (Ketua PBNU Jakarta)&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Adib Minanurrachim&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Dimuat di SC Magazine Vol II&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2483512749123335218-7076655784772688659?l=adibdata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adibdata.blogspot.com/feeds/7076655784772688659/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2483512749123335218&amp;postID=7076655784772688659' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/7076655784772688659'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/7076655784772688659'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adibdata.blogspot.com/2007/12/perbedaan-madzhab-tak-mengurangi.html' title='“PERBEDAAN MADZHAB TAK MENGURANGI SOLIDARITAS ISLAM”'/><author><name>Adib Minanurrachim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15129533338323743129</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-I2gRc1Ay-KI/Trz7pcj6bYI/AAAAAAAAAJM/rpVJ_fN0h8A/s220/wajah%2B%252846%2529.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2483512749123335218.post-8607375342384783910</id><published>2007-12-27T12:45:00.000+07:00</published><updated>2007-12-27T12:46:41.714+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='WAWANCARA'/><title type='text'>“HARUS DISYUKURI DENGAN SYARIAT ISLAM”</title><content type='html'>KEMERDEKAAN itu bukan untuk diperingati tapi harus disyukuri. Karena memperingati itu tindakan mubazdir. Kemerdekaan itu lahir karena jihad bangsa Indonesia kepada orang kafir. Cara mensyukurinya diisi dengan syari’at Islam. Harapannya, bila kemerdekaan itu disyukuri dengan penerapan syareat islam, maka bisa menghasilkan baldatun thoyyibatun wa rabbun ghafur. Pola penerapan syaret itu harus menggunakan UU syareat Islam. Kepemimpinan yang diterapkan bukan lagi seperti saat ini. Tapi menggunakan ulil amri, yaitu khilafah.&lt;br /&gt;Untuk menuju kemerdekaan ideal-subtansial, itu harus melalui penerapan syareat islam, sehingga nantinya bisa melahirkan kesejahteraan dan moralitas bangsa yang baik.&lt;br /&gt;Sikap pemerintahan Islam kepada orang kafir itu setidaknya ada dua: 1) Laa ikra ha fiddin (jangan memaksakan agama) 2) orang kafir harus diperlakuakn dengan adil&lt;br /&gt;Penegakan syareat ini memang banyak tantangannya. Tapi ini adalah sunnatullah. Sejauh ini, menurut saya perjuangan kepada pengakan syareat masih bisa menggunakan dakwah bil lisan. Jadi jihad itu kan ada tahapan-tahapannya. Mulai lisan, harta hingga tangan (senjata). Tapi menurut saya, saat ini kita masih cukup menggunakan argumentasi.&lt;br /&gt;Saat ini memang berbeda dengan zaman orba. Bila dulu berwacana saja tidak boleh, tapi saat ini sudah boleh. Tapi saat ini kebebasannya sudah kebablasan, banyak yang keluar dari syareat Islam semisal majalah pornografi dan seterusnya. Ironisnya lagi syareat islam yang jeas-jelas tujuannya baik, itu masih dipersulit.&lt;br /&gt;Kebebasan dalam islam, menurut saya adalah kebebasan yang tidak keluar dari Islam.&lt;br /&gt;Perbedaan mengenai multi madzhab itu adalah alamiah. Ini wajar selama tidak mengenai perbedaan yang pokok. Misalkan yang pokok itu adalah mengenai jumlah rakaat shalat. Itu tidak boleh berbeda. Tapi bila perbedaan itu hanya mengenai cabangnya, misalkan persoalan perbedaan qhunut dan atau cara meletakkan jari telunjuk yang berbeda-beda pada tahiyyat akhir itu tidak masalah.&lt;br /&gt;Bila perbedaan madzhab ini kemudian meruncing dan menimbulkan friksi di antara ummat islam, maka solusinya adalah daulah islamiyyah, negara islam. karena al-immamul yarfa’ul alkhilafah (imam itu bisa menyelesaikan perbedaan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wawancara dengan Abu Bakar Ba’asyir&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Adib Minanurrachim&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;Dimuat di SC Magazine Vol II&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2483512749123335218-8607375342384783910?l=adibdata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adibdata.blogspot.com/feeds/8607375342384783910/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2483512749123335218&amp;postID=8607375342384783910' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/8607375342384783910'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/8607375342384783910'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adibdata.blogspot.com/2007/12/harus-disyukuri-dengan-syariat-islam.html' title='“HARUS DISYUKURI DENGAN SYARIAT ISLAM”'/><author><name>Adib Minanurrachim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15129533338323743129</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-I2gRc1Ay-KI/Trz7pcj6bYI/AAAAAAAAAJM/rpVJ_fN0h8A/s220/wajah%2B%252846%2529.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2483512749123335218.post-9121026903672282033</id><published>2007-12-27T12:44:00.000+07:00</published><updated>2007-12-27T12:45:11.061+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ESAI'/><title type='text'>SHALAT MENERANGI KEHIDUPAN KELUARGA</title><content type='html'>&lt;em&gt;“Ingatlah, shalat (yang dikerjakan) seseorang di rumahnya menjadi cahaya. Maka terangilah rumahmu dengan cahaya itu.”  (Hadist)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SIKAP dan perilaku seseorang, acapkali dipengaruhi oleh dua hal. Pertama gen dari kedua orang tuanya. Kedua lingkungan di mana dia tumbuh berkembang menjadi manusia dewasa.&lt;br /&gt;Dari kedua hal tersebut, yang paling berpengaruh terhadap proses pertumbuhan dan pembentukan kepribadian seseorang—mulai kecil hingga remaja dan atau dewasa—adalah lingkungan keluarga. Di lingkungan ini, seorang anak memperoleh pengetahuan pertamanya. Mendengar adzan dari ayahandanya ketika ia pertama kali menatap dunia. Memperoleh kasih sayang dari Ibunda ketika ia masih menyusu. Belajar membaca, menulis dan berkomunikasi dengan sesama manusia ketika ia beranjak remaja.&lt;br /&gt;Mengingat betapa besar pengaruh keluarga terhadap pertumbuhan seorang anak, maka menerangi lingkungan keluarga dengan shalat adalah sebuah tindakan yang disunnahkan oleh Rasulullah SAW. Karena shalat adalah dialog istimewa dengan Sang Khaliq, di mana seorang muslim bisa berkeluh kesah kepada Yang Maha Kasih. Lebih jauh, bila ia bisa mengerjakan shalat dengan benar dan bisa menyelami dan menghayatinya, insyaallah shalat yang ia kerjakan akan berbuah hikmah dan menjadi cahaya hati, yang menerbitkan cahaya ma’rifah (mengenal Allah) dan mukasyafah (yang membuka tabir penutup dengan Allah). Hingga nantinya, ia dan keluarganya bisa selalu menititi jalan yang diridhoi Allah SWT, terhindar dari perbuatan mungkar, serta mendapat petunjuk kepada jalan yang bertaburan cahaya.&lt;br /&gt;Kronologi turunnya hadist di atas bermula dari pertanyaan yang dilontarkan Umar bin Khattab kepada Rasulullah SAW seputar shalat yang ia kerjakan di rumah karena tidak bisa datang ke masjid. Berikutnya, jawaban ini diberikan kepada segolongan penduduk Irak yang berkunjung ke kediaman khalifah Umar bin Khattab yang menanyakan tentang seseorang yang mengerjakan shalat dirumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Adib Minanurrachim&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;Dimuat di SC Magazine Vol I&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2483512749123335218-9121026903672282033?l=adibdata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adibdata.blogspot.com/feeds/9121026903672282033/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2483512749123335218&amp;postID=9121026903672282033' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/9121026903672282033'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/9121026903672282033'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adibdata.blogspot.com/2007/12/shalat-menerangi-kehidupan-keluarga.html' title='SHALAT MENERANGI KEHIDUPAN KELUARGA'/><author><name>Adib Minanurrachim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15129533338323743129</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-I2gRc1Ay-KI/Trz7pcj6bYI/AAAAAAAAAJM/rpVJ_fN0h8A/s220/wajah%2B%252846%2529.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2483512749123335218.post-5892271533817871935</id><published>2007-12-27T11:51:00.000+07:00</published><updated>2007-12-27T11:52:50.183+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='WAWANCARA'/><title type='text'>SHALAT KHUSYU: PERJALANAN RUHANIYYAH</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Secara filosofis, apa makna shalat?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Sebagaimana Nabi Muhammad SAW meninggalkan bumi dan naik ke langit untuk berdialog dengan Yang Maha Kasih, begitu juga dengan orang yang shalat. Nabi pernah bersabda, Solluu Shalatan Muwadi (Shalatlah kamu dengan shalat yang menyatakan selamat tinggal kepada dunia ini). Jadi secara singkat, dalam posisi shalat seorang hamba tidak lagi berada di bumi tapi dia naik ke langit. Dalam istilah spiritual, dia getting connected with the source (bertemu dengan sumber segala sumber). Sementara Jalaluddin ar Rumi berkata, kalian punya sayap tapi kenapa kalian tidak terbang ke langit? Malah terus-menerus merayap di bumi?&lt;br /&gt;Tetapi kehidupan kita sehari-hari menyebabkan kita terpuruk di dunia ini. Pusat perhatian kita dipusatkan kepada kepentingan-kepentingan duniawi. Sehingga kita melumpuhkan diri dalam berhubungan dengan Yang Maha Kuasa.&lt;br /&gt;Jika orang yang menjalankan hakikat shalat dengan benar, maka dia akan mempunyai pandangan ruhaniyah yang tidak materialistis. Tapi jika kita memahami shalat sebagai rutinitas menjenuhkan, misalkan pendekatan yang kita lakukan pada shalat hanyalah pendekatan fiqh, bukan pendekatan spiritual, maka orang itu hanya akan disibukkan dengan bagaimana caranya bisa menggerakkan telunjuk ketika takbiratul ikhram, rukuk, takhiat akhir dan seterusnya. Jika kita hanya memperhatikan tata cara tersebut (tanpa memperhatikan pendekatan spiritual), maka kita tidak akan bisa naik ke langit. Tapi terus merayap di bumi. Sama dengan kecoak. Hehehe...&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Apakah yang fiqhiyyah itu mengganggu?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Oh, tidak. Tidak mengganggu. Kita masih tetap menjalankan fiqh. Fiqh masih tetap harus kita pergunakan. Tidak bisa kemudian ada anggapan bahwa fiqh tidak bisa membawa saya kepada Tuhan. Saya pilih meditasi saja. Yang sama maksud tadi perhatian. Tapi perhatian kita tidak pada gerak-gerik fisik seperti yang diajarkan dalam fiqh.&lt;br /&gt;Saya percaya di dunia ini ada yang disebut dengan law attraction, yaitu mencurahkan perhatian pada satu hal. Ketika kita mencurahkan perhatian kita pada satu hal, Tuhan akan membantu kita untuk berkembang pada persoalan tersebut. Sebagai contoh ringan, saya mulai mempelajari hal yang baru, psikiatri, tentang gangguan kejiwaan. Nah ketika saya fokuskan perhatian saya pada hal tersebut dan berdoa pada Tuhan, maka Dia kemudian menggerakkan seluruh alam semesta untuk memenuhi keinginan saya. Artinya, saya kemudian mendapatkan buku-buku tentang psikiatri, psikoterapi. Saya kemudian diundang oleh para psikiater. Saya menghadiri seminar-seminar tentang psikiatri dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Apa itu shalat khusyuk?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Shalat khusyu itu masalah ruhaniyah. Bukan masalah fisik. Tapi masalah ruh kita. Kita hanya bisa shalat khusyu, bila perhatian kita bukan pada gerakan-gerakan fisik.&lt;br /&gt;Sementara itu, kenapa doa kita tidak khusyu dalam shalat? Karena kita tidak memperhatikan makna doa tersebut. Misalkan ketika Allah Akbar, kita menjalaninya begitu saja. Ketika kita membaca alfatihah dan surat serta doa’doa lainnya, diri kita tidak hadir di dalamnya. Tapi ketika kita pada tahap akhir, kita berdoa dengan doa pribadi. Lalu kita menjadi khusyu. Jadi ada kesadaran di dalamnya, tidak otomatis. Begitu sampai pada yang pribadi, kita ikutsertakan hati kita. Misalkan dalam shalat saya, ada doa-doa pribadi untuk keperluan-keperluan sendiri seperti dalam sujud yang terakhir atau pada qhunut. Jadi, sebagaimana sabda Nabi Muhammad, janganlah mengatakan bahwa shalat kita itu khusyu atau tidak khusyu. Karena kata Nabi, khusyu itu bisa sepertiganya, bisa setengahnya. Khusyu itu masalah down loading atau up loading. Jadi bisa saja sekian persen saja khusyu-nya.&lt;br /&gt;Jadi dalam shalat-shalat kita ada bagian-bagian tertentu khusyu-nya. Seperti ketika kita membaca doa yang sangat khusus atau ketika saat-saat emosionil. Ini bisa mempengaruhi kekhusyukan kita. Bila anda misalkan berada di tengah-tengah kesibukan rapat, lalu anda shalat, bukankah ketika shalat pikiran anda masih tentang rapat? Nah di saat seperti ini, tidak ada kekhusyukan. Tapi bila ada waktu tertentu yang memang dipersiapkan untuk shalat, itu beda perasaannya. Atau ketika kita akan menjalankan shalat sudah dipenuhi dengan keharuan, maka kita akan menjadi lebih khusyu.&lt;br /&gt;Dulu itu ada seorang direktur bank. Suatu ketika ia datang ke Tanjung Priuk. Di situ anak-anak kecil mengaji dan orang-orang miskin berdoa menjelang maghrib. Mesjidnya gelap kecil dan jelek. Menyaksikan hal tersebut, ia terharu. Begitu shalat maghrib, dia terisak-isak. Dia berterima kasih kepada Tuhan karena bisa membantu fakir miskin.&lt;br /&gt;Contoh lainnya, orang bisa menemukan kekhusyukan ketika menjalankan ibadah haji. Ia bisa menangis terisak-isak di depan Ka’bah. Karena untuk haji dia telah meluangkan waktu khusus. Mengeluarkan biaya dan perhatian yang khusus juga. Tapi bila hajinya tidak khusus atau reguler seperti saya yang setiap tahun membimbing haji, bisa jadi akan kehilangan kekhusyukan. Saya mulai kehilangan gereget haji itu. Saya tidak menangis lagi ketika melihat Ka’bah. Karena itu adalah pekerjaan. Jadi yang kita butuhkan dalam kekhusyukan adalah kehadiran kita, our present. Menghadirkan jiwa kita di dalam ibadah.&lt;br /&gt;Saya juga pernah menjalankan shalat khusyu bertolak dari sesuatu yang lucu, setelah menonton film Titanic. Ceritanya, ketika itu saya terlambat shalat ashar, karena menyaksikan film titanic dulu. Film itu kan berakhir ketika kapal tenggelam sementara banyak penumpangnya yang mati terapung-apung dengan diiringi sebuah lagu. Nah ketika mendirikan shalat, saya masih dipenuhi keharuan. Maka di akhir shalat, saya berdoa dengan penuh keharuan: Tuhan anugerahkan keluarga dan keturunan yang menyejukkan hatiku. Saya juga pernah shalat khusyu di dekat jenazah orang tua saya yang akan dishalatkan di masjid. Ketika itu datang waktu shalat. Dan saya shalat dengan khusyu. Bukan karena menshalati mayatnya, tapi bila kita shalat dan di samping kita ada mayat maka kita diingatkan dengan hari kembalinya kita.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Apa yang anda rasakan dalam shalat khusyu?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Dalam shalat khusyu itu saya merasakan ketenangan dan ketentraman jiwa. Merasakan besarnya kasih sayang Tuhan dalam kehidupan kita dan keyakinan bahwa doa-doa kita akan dijawab. Itu hasil maksimal.&lt;br /&gt;Tapi bila ditanya hasil shalat khusyu itu apa? Apakah proyek saya akan berjalan dengan lebih baik? Tampaknya saya tidak punya pengalaman yang seperti itu.&lt;br /&gt;Apakah shalat khusyu berpengaruh pada pola kehidupan seseorang?&lt;br /&gt;Jelas. Saya merasakan ada pengaruh kekhusyukan itu terhadap... paling tidak pandangan kita tentang kehidupan. Kita tidak lagi terikat dengan hal-hal yang material. Yang semula kita mati-matian untuk mengejar karir dan kedudukan, maka hal itu tidak penting lagi. Mungkin kita akan lebih terlibat dalam kegiatan yang mempunyai tujuan-tujuan yang lebih agung.&lt;br /&gt;Ada seorang psikolog, jika tidak salah robert evens. Sebenarnya bukunya ini tentang psikologi agama. Judulnya althebert contion. Buku ini menjelaskan tentang 4 tujuan hidup yang dikejar menusia. 1) Kekayaan dan prestasi. 2) Hubungan cinta dan kasih sayang. 3) Agama dan spiritualitas. 4) Tujuan untuk meninggalkan kenangan indah kalau kita mati. Meninggalkan legalcy, istilah steven cook. Kalau orang hidup untuk tujuan pertama, itu kurang bahagia dibandingkan dengan tujuan ketiga dan terakhir.&lt;br /&gt;Bila orang hidup untuk mendekatkan diri kepada Allah, maka tujuan-tujuan kebendaan tidak begitu penting. Jadi dia memperoleh kebahagiaan dengan kualitas yang tertingggi. Saya kira itulah yang akan dicapai oleh orang yang shalat khusyu.&lt;br /&gt;Itu seperti do’a Nabi Ibrahim dalam surah as Syuara, yakni kita diajarkan untuk mengatakan bahwa Tuhan berikan padaku kemampuan untuk meninggalkan kenangan indah sepeninggalku (Rabbi Ijalli Lisana Sidqi fil Akhiri). Artinya, hendaknya kita berfikir meninggalkan kenangan indah bagi generasi sepeninggal kita bila kita out dari dunia. Coba, apa yang akan kita tinggalkan bagi generasi mereka nanti? Tujuan ini hanya bisa dicapai setelah orang mencapai tujuan-tujuan spiritualitas seperti merasakan ketenangan batin dan merasakan kehadiran Tuhan dalam kehidupan sehari-harinya. &lt;br /&gt;Karena itu yang disebut kecerdasan spiritual itu bukanlah nangis-nangis karena menonton video tentang kebesaran Tuhan atau dengan mengingat-ingat dosa. Kecerdasan spiritual itu akan tampak dari sikapnya yang lebih baik kepada sesama manusia dari pada sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kiat-kiatnya untuk bisa shalat khusyu?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Hadirkan hatimu dalam shalat. Enteng sekali ngomongnya ya? Hahaha.&lt;br /&gt;Lalu bagaimana kita bisa melatih? Menurut saya, tidak bisa latihan-latihannya dengan kursus-kursus. Karena itu perjalanan ruhani kita yang panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wawancara dengan Prof. Dr. Jalaluddin Rahmat, M. Sc&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Adib Minanurrachim&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Dimuat di SC Magazine Vol I&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2483512749123335218-5892271533817871935?l=adibdata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adibdata.blogspot.com/feeds/5892271533817871935/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2483512749123335218&amp;postID=5892271533817871935' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/5892271533817871935'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/5892271533817871935'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adibdata.blogspot.com/2007/12/shalat-khusyu-perjalanan-ruhaniyyah.html' title='SHALAT KHUSYU: PERJALANAN RUHANIYYAH'/><author><name>Adib Minanurrachim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15129533338323743129</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-I2gRc1Ay-KI/Trz7pcj6bYI/AAAAAAAAAJM/rpVJ_fN0h8A/s220/wajah%2B%252846%2529.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2483512749123335218.post-4286396246448421607</id><published>2007-12-27T11:48:00.000+07:00</published><updated>2007-12-27T11:51:32.284+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='WAWANCARA'/><title type='text'>“PERLU PRIBUMISASI HIKMAH AL TASYRI”</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Bagaimana pandangan anda tentang persoalan ekonomi dewasa ini?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Saat ini masyarakat kita tengah menghadapi masalah-masalah ekonomi. Ini terbukti dari makin meningkatnya jumlah orang miskin. Tahun 2005 jumlah orang miskin adalah 35, 2%. Sementara pada tahun 2006 meningkat menjadi 39,4%. Sementara jumlah pengangguran adalah 11 % dari angkatan kerja. Saya kira hal ini menunjukkan bahwa betapa beratnya masalah-masalah ekonomi yang dihadapi masyarakat kita.&lt;br /&gt;Beberapa waktu yang lalu harga minyak tanah kan naik. Sementara baru-baru ini adalah minyak goreng. Ini berpengaruh pada daya beli masyarakat yang semakin rendah. Jangankan yang tidak punya penghasilan, yang punya penghasilan saja mengalami kesulitan. Ini hanya sedikit contoh betapa masalah ekonomi merupakan persoalan yang sangat berat.&lt;br /&gt;Lebih jauh, kondisi mikro ekonomi kita hampir tidak jalan. Meski dari sudut makro ekonomi kita membaik. Tapi membaiknya sudut makro ini bukan karena membaiknya ekonomi dalam negeri, tapi karena banyaknya uang yang mengalir ke Indonesia. Sekarang ini ada sekitar 500 trilyun uang luar negeri yang mengalir ke dalam negeri. Tapi uang tersebut hanya disimpan di Sertifikat Bank Indonesia (SBI) untuk diambil bunganya. Tidak diberikan kepada sektoril. Akibatnya, meski uang banyak tapi Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) tambah tidak baik. Malah sebaliknya. Sementara upaya-upaya yang dilakukan, tampaknya belum bisa merubah keadaan. Karena itu, menurut saya pemerintah harus serius betul memperhatikan masalah ekonomi ini. Jika tidak, akan memburuk. Salah satu yang krusial adalah perubahan sistem ekonomi. Kita harus berganti kiblat. Bukan lagi kapitalis, tapi syariah. Jika syariah, penekanannya bukan pada bunga tapi pada sistem bagi hasil. Saya kira ini akan membawa perubahan yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tampaknya masalah ekonomi ini akibat dari kapitalisme global. Bagaimana bila ditinjau dari sisi struktural dan kultural?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Benar. Masalah ekonomi ini juga terkait dengan dua hal, kultural dan struktural. Kultural itu dicirikan dari etos kerja yang semakin melemah. Ini memang kita rasakan. Orang lebih banyak mengandalkan pada belas kasihan orang lain. Seperti masih banyaknya pengemis-pengemis yang sehat seperti anak-anak muda di jalanan. Ini sama dengan kondisi negara yang juga mengemis kepada negara-negara maju. Menurut saya ini adalah sikap yang sangat-sangat tidak arif. Sementara secara struktural, kebijakan-kebijakan pemerintah masih belum berorientasi kepada kepentingan masyarakat. Misalkan pemerintah masih menetapkan kebijakan pada impor beras yang nota bene merugikan sektor ekonomi mikro. Seharusnya pemerintah mengeluarkan kebijakan yang lebih berani. Sudahlah soal beras biar kita penuhi sesuai dengan kekuatan kita sendiri. Bahkan bila perlu kita berpuasa. Jadi harus ada larangan tentang impor. Kembali pada tahun sebelum 66. Ini tidak apa-apa. Tapi ironisnya saat ini kita serba mengimpor. Mulai dari sagu, gula, terigu dan lainnya. Ini tidak baik. Sangat membahayakan. Kita akan menjadi bangsa yang dependen. Tidak independen!&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bagaimana peran Bulog selama ini?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sejauh ini Bulog belum banyak berperan. Misalkan sebelum petani panen harga bawang adalah Rp 20.000,00. Tapi begitu panen mendadak harga bawang menjadi rendah, hanya Rp 10.000.00. Nah ini kan sangat melemahkan semangat petani untuk meningkatkan hasil panen. Seharusnya yang Rp 20.000,00 ditetapkan. Sementara sisa barangnya dibeli Bulog. Jadi rakyat itu menjualnya ke Bulog. Lalu Bulog menyimpannya untuk dijual ke masyarakat. Tapi saat ini yang terjadi kan malah sebaliknya, bagaimana uang Bulog itu dikorup sedasyat-dasyatnya.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Apakah ini bukti menurunya kesalehan sosial?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Mungkin di satu sisi benar. Tanggung jawab sosial dari masyarakat kita semakin berkurang. Artinya orang-orang yang mendapatkan amanah dan kedudukan itu hampir tidak ada kesalehan sosialnya. Dari para pejabat itu kan kita berharap bahwa jabatan itu sebagai amanah untuk dipertanggungjawabkan. Saya pernah menulis dalam sebuah surat kabar tentang dua pilar kepemimpinan untuk membangun masyarakat kita agar lebih baik. Pertama, sebagai ulil amri. Orang yang mendapatkan amanah untuk mengurus masalah ummah. Jadi jabatan itu bukan dijadikan peluang untuk memeperkaya diri. Tapi seharusnya dijadikan kesempatan yang terbaik untukdiberikan kepada masyarakat. Yang kedua adalah Khadimul Ummah, pelayan ummat. Jadi seharusnya menjadpi pemimpin itu harus melayani umat. Tapi sekarang kan yang terjadi dilayani, rakyat yan dikuras. Uang rakyat dibawa ke pusat dan dari pusat dibagi-bagikan. Jadi ini sesuatu yang tidak benar.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bila melihat status bangsa Indonesia, tampaknya ada yang ironis. Kita terkenal sebagai bangsa religisu tapi KKN jalan terus. Ini bagaimana?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pertama, apa pun realitasnya, patut kita syukuri. Masyarakat kita muslim. Penganut muslim yang baik. Tetapi barangkali saat ini pemahaman tentang keislaman kurang konprehensif. Islam hanya dipandang hanya dalam sudut pandang vertikal. Jadi yang terpenting adalah bagaimana kita membangun kesalehan secara individu, dengan Allah SWT. Nah, padahal bila kita melihat dari berbagai macam ayat dan hadist yang individual itu harus tercermin dari kesalehan sosial. Shalat yang baik itu bukan hanya ditentukan dari praktik shalat yang baik. Tapi juga ditentukan bagaiamana setelah shalat itu dia semakin sayang sama masyarakat, bertanggung jawab, selalu merasa bahwa Allah selalu mengawasi kita, melarang kita untuk KKN. Jadi tidak dipisahkan. Sehingga menurut saya, yang perlu diluruskan adalah pemahaman masyarakat. Ada semacam sekularisme dalam islam. Yaitu ada pemisahan antara urusan akhirat dan dunia. Bahwa masjid itu tidak terkait dengan pasar. Di Majid kita tidak boleh berdusta sementara di pasar kita tidak boleh. Nah, saat ini ada gejkala seperti itu. Seharusnya kan tidak boleh terpisah anatara masjid dan kampus, masjid dngan pasar, denganbirokrasi dan seterusnya.&lt;br /&gt;Kedua adalah sistemnya yang belum jalan. Jadi norma-norma agama itu belum terefleksikan dalam sistem. Seharusnya kan sudah menjadi sistem. Bukan sekedar norma-norma saja. Jujur hal itu harus dijadikan sebagai sistem. Kemudian juga msialnay hal-hal yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Adakah fenomena bahwa ibadah hanya dijadikan sebagai  rutinitas menjalankan kewajiban saja?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ya saya sering mengatakan yang terjkadi sekarang adalah sekedar pemenuhan kewajiban. Bukan sebagai kebutuhan. Kan lain ini. Misalkan bila saya menganggap shalat sebagai kebutuhan maka bila saya tidak mengerjakannya maka ada sesuatu yang hilang. Tapi bila shalat hanya dianggap sebagai kewajiaban, maka saya hanya sekedar menjalankannya. Dan kalau saya tidak melaksanakannya saya takut. Ya ini tidak salah. Ini seharusnya dijadikan dasar. Jangan dijadikan sebuah pemahaman yang terus menerus. Tapi realitas ini yang harus kita terima.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bagaimana kiat-kiatnya untuk mencintai ibadah?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Memang perlu ada semacam contoh. Karena masyarakiat kita saat ini memang membutuhkan uswah. Karena itu menurut saya, saat ini bagaimana ditumbuhkan orang tua di rumah dijadikan contoh bagi anak-anaknya. Guru sebagai contoh bagi bagi muridnya dan pejabat sebagai contoh bagi rakyatnya. Karena itu marilah berlomba-loba menjadikan diri kita menjadi figur. Sekecil apa pun ruang lingkup kita, tapi yang namanya uswah itu adalah suatu hal yang penting. Artinya agama itu tidak hanya sekedar pada tahap pengetahuan dan wacana. Tapi hingga pada tahap implementasi. Itu yang pertama.&lt;br /&gt;Yang kedua adalah sosialiasasi tentang ajaran Islam yang menyeluruh. Ini perlu untuk terus dilakukan. Dan juga termasuk ajaran agama islam yang menyangkut berbagai bidang kehidupan. Ini harus dimuncuilkan. Sekarang ini yang ada di majlis-majlis ta’lim yang ada kan hanya bagaimana beribadah yang baik. Tapi belum pada bagaimana berdagang yang baik, bagaiamana berbisnis yang baik, bagaimana bermuamalah yang baik? Itu juga harus kita lakukan. Bagaiamana berpolitik yang baik? Nah ini harus kita lakuikan. Dan politiknya orang muslim harus berbeda dengan cara politiknya orang sekuler. Apalagi dengan yang non muslim. Malah jangan sampai perilaku politis yang muslim lebih jelek daripada politisi non muslim.&lt;br /&gt;Kemudian juga harus ada proses pembiasaan. At-tamrinat. Latihan-latihan. Artinya kita contoh pola yang dicontoihkan oleh rasul. Misalkan mulai kecil aanak-anak itu harus dibiasakan dengan perilaku islami, semisal kejujuran dan tanggung jawab dan lainnya.&lt;br /&gt;Jadi kita harus memposisikan agama tidak hanya sebagai aspek pengetahuan tapi juga pada perilaku. Misalkan bila kita antri untuk beli tiket KA, yang terjadi kan soiapa yang kuat ia dapat. Nah ini perlu kita perbaiki.&lt;br /&gt;Di samping itu juga hal-hal yang bersifat amal jama’i juga harus ditumbuhkan.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Hal di atas apakah juga karena kurangnya pemahaman masyarakat tentang sisi spiritual ibadah?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Bisa saja.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Lantas bagaimana untuk memberikan pencerahan kepada masyarakat?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Betul. Saya setuju itu. Jadi sekarang ini kan banyak yang lebih menjelaskan hukum. Fiqh oriented. Jadi kalau ibadah haji itu, yang diberikan hanya sebatas mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan. Tetapi makna dari ibadah atau hikmahnya... jadi ada hukmu tsayri ada juga hikma tasyri. Jadi sekarang ini yang menonjol adalah hukmu syar’i: ini yang harus dilakukan dan ini yang tidak boleh dilakukan. Tapi hikmahnya belum banyak yang menjelaskan. Misalkan kenapa sih zakat itu diwajibkan? Harusnya diungkap, digali maknanya. Atau kenapa shalat itu diwajibkan? nah maka perlu kita ungkap hikmahnya.&lt;br /&gt;Jadi selama ini belum seimbang. Lantas kenapa tidak seimbang? Karena untuk menjelaskan hikmah juga bukan pekerjaan mudah. Perlu melakukan analisa yang dalam dan tajam. Pwerlu pemikiran yang kritis.&lt;br /&gt;Bila menjelaskan hukum itu kan mudah: misalkan shalat itu wajib. Tapi jika menjelaskan hikmah shalat? Itu kan memerlukan penelaahan yang mendalam dan daya fikir yang mendalam.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Cara menjelaskan hikmah shalat?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Di antara hikmah shalat itu kan kita bisa menumbuhkan persamaan. Orang tidak dipandang dari sudut pandang jabatan dan kekeayaan. Tapi orang itu di hadapan Allah itu sama, kecuali kadar taqwanya. Sehingga hikmah yang bisa digali adalah, ketika kita menjadi orang yang punya jabatan mentereng dan kaya seharusnya kita tidak boleh sombong. Orang yang ruku dan sujud itu kan sama. Ketika imam ruku maka semuanya rukuk.&lt;br /&gt;Kedua adalah shalat juga mengajarkan pada kita untuk disiplin. Disiplin pada aturan dan waktu. Misalkan shalat ashar itu mulai setengah empat hingga setengah enam. Maka jangan kita shalat ashar jam tiga atau setengah tuj, ini tidak boleh. Jadi dalam islam itu diajarkan untuk bagaimana menghargai waktu.&lt;br /&gt;Shalat juga menumbuhkan etos kerja. Coba lihat, shalat itu kan gerakan-gerakan. Nah jika kita ingin memperoleh pertolongan dari Allah, kita harus beribadah. Iyaka na’budu wa iyyaka nasta’in. Na’budu dulu baru nastain. Tidak bisa nasta’in dulu baru na’budu. Nah hikmahnya adalah kita harus bekerja keras terlebih dahulu baru kemudian bisa menikmati hasilnya.&lt;br /&gt;Demikian juga, shalat bisa menghasilkan ketenanganjiwa. Itu jelas sekali. Karena kita dalam shalat itu kan berdialog dengan Allah. Tapi ini ada catatannya, yaitu shalat yang harus dikerjakan dengan tertib. Bacaan-bacaannya harus dibaca dengan pelahan dan penuh penghayatan. Nah bila dilakukan seperti itu, orang itu kan seperti berdialog. Nah... kata-kata warzukli itu terkait antara ketika kita berhadapan dengan Allah dalam shalat dengan ketika kita berada diluar. Redaksi Warzukli itu kan konteksnya ada di luar shalat. Artinya ketika kita ingin mencari rezeki, maka kita tidak boleh keluar dari garis-garis yang telah ditentukan oleh Allah. Sehingga orang yang shalatnya bener itu tidak mungkin KKN. Apabila bila meresapi inna shalati wanusuki wa mahyaya wamamti lillahi robbil alamin. Karena dia merasa direcord/dicatat oleh Allah.&lt;br /&gt;Kemudian juga shalat juga bisa menumbuhkan keberpihakan pada pemimpin yang baik. Shalat itu kan harus tunduk pada imam. Jadi kita harus tunduk pada pemimpin. Bila imam rukuk, maka kita juga rukuk. Tapi jika pemimpin itu salah, maka juga harus kita koreksi. Bila perlu kita ganti. Misalkan salah bacaan dan gerakannya. Tetapi koreksinya dengan cara yang baik. Bukan dengan cara yang vulgar dan tidak sopan. Cukup dengan kata subhanallah. Nah ini hanya sebagian dari hikmah shalat. Seharusnya ini sudah menjadi sistem dalam kehidupan kita.&lt;br /&gt;Kebetulan saya banyak bergelut dalam dunia perzakatan. Saya selalu menguraikan hikmah zakat. Misalkan saya selalu menjelaskan bahwa hikmah dari zakat adalah bisa menumbuhkan etos kerja. Orang yang zakat pasti tidak akan korupsi, bila ia benar-bvenar ikhlas. Karena zakat itu tidak dari tangan yang kotor. Zakat itu bukan pencucian uang. Tapi zakat itu adalah membersihkan harta yang telah kjita dapatkan dari cara-cara yang bersih. Agar jangan sampai ada harta kita yang merupakan hak orang lain.&lt;br /&gt;Zakat juga bisa menumbuhkan etos kerja. Orang yang berzakat pasti bukan orang yang malas bekerja. Orang yang malas tak mungkin bisa berzakat. Jadi gerakan sadar zakat adalah gerakan etos kerja.&lt;br /&gt;Kemudian juga menumbuhkan kasih-sayang kepada sesama, khususnya mereka yitu dhuafa atau mustahiq, nah inilah yang disebut dengan kesalehan sosial. Dalam hadist disebutkan taro mukminin fi tarokhumihim watatufihim kama fi syajarin wahid. (kau lihat orang-orang mukimin dalam kasih sayangnya sperti dalam satu tubuh).&lt;br /&gt;Saya menguraikan zakat itu ada sebelesa, ini pernah saya tulis dalam buku saya (nih spesial untuk adik, deh. hahaha) zakat dalam ekonomi modern. Nah demikian pula hikmah-hikmah yang lain.&lt;br /&gt;Misal dalam contoh zakat itu untuk menumbuhkan harta, bukan untuk mengurtangi hjarta. Nah selama ini kan sebaliknya, orang beranggapan bahwa jika saya berxakat maka harta saya berkurang. Mungkin secara nominal harta itu berkurang ketika itu. Dari sepuluh juta dikurangi dua setengah persen kan duaratus lima puluh ribu. Tapi sesungguhnya dengan berzakat itu harta kita akan terus berlipat ganda. Karena dengan berzakat maka etos kerja kita akan bertambah dan terus bertambah sehingga harta kekayaan kita akan terus meningkat. Sehingga kita punya keinginan untuk terus memberikan yang terbaik bagi masyarakat kita. Dan secara empirik, orang-orang yang ikhlas dalam berzakat akan mengalami hal ini, hartanya tidak akan pernah berkurang. Meski pun dalam menjelaskan hikmah zakat ini—jujur saja—sangat sulit sekali. Ada yang bisa dilakukan dengan kata-kata atau teori-teori ekonomi, tapi ada pula yang hanya bisa dirasakan saja. Makanya saya sering mengatakan, lakukan sebaik-baiknya dengan penuh keikhlasan, nanti anda akan merasakan bahwa zakat adalah sebuah kenikmatan. Lakukan shalat dengan sebaik-baiknya maka anda akan merasakan sebauh kenikmatan. Kita akan merasa butuh dengan shalat dan zakat.&lt;br /&gt;Jadi jangan sampai ketika kita berbuat baik dengan orang lain itu, kita merasa bahwa orang lain yang butuh. Tapi kita yang butuh. Karena zakat itu yang paling banyak menerima manfaat dari zakat itu bukan orang yang kita beri, tapi kita yang memberi. Bukan mustahiq tapi muzakki.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Apakah sesuai dengan kalimat “Memberi itu terangkan hati?”&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Benar. Dan itu bisa dirasakan. Kalau saya biasanya menggunakan slogan bila anda ingin mengembangakan usaha anda maka berzakatlah. Anda ingin memperoleh kep[uasan bathin maka shalatlah. Jadi arahnya ke sana.&lt;br /&gt;Tapi untuk menjelaskan hikmah ini sangat tidak mudah. Du\ibutuhkan kedalaman fikiran dan harus banyak bacaan, banyak pengalaman spiritual sehingga agama itu dirasakan dan dihayati.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Terakhir, bila melihat tema-tema yang baru saja menjadi dialog anta kita, bagaiamana pendapat bapak tentang majalah kami yang akan terbit ini?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Oh! Baru terbit ya?&lt;br /&gt;Saya kira ini bagus sekali. Saya memberikan apresiasi pada majalah-majalah seperti ini, yang bergerak dalam bidang spiritual. Tetapi kita dalam “tidak terpisah” dengan aspek-aspek yang lain. Spiritual itu boleh jargonnya. Hikmahnya. Sehingga tidak boleh melepaskan dari hukum syari. Karena kita tidak bisa bicara hikmah saja, lalu mengabvaikan hukum. Begitu pula sebaliknya.&lt;br /&gt;Jadi jika seseorang spiritualitasnya sudah baik, maka bagaimana hal itu tercermin dalam perilakunya yang semakin baik.&lt;br /&gt;Jadi yang saya harapkan adalah, penekanannya pada spiritual yang bisa melahirkan etos kerja. Sehingga dicintai oleh masyarakat dan masyarakat menjadi butuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wawancara dengan Prof. Dr. Didin Hafiduddin&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Adib Minanurrachim&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dimuat di SC Magazine Vol I&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2483512749123335218-4286396246448421607?l=adibdata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adibdata.blogspot.com/feeds/4286396246448421607/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2483512749123335218&amp;postID=4286396246448421607' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/4286396246448421607'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/4286396246448421607'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adibdata.blogspot.com/2007/12/perlu-pribumisasi-hikmah-al-tasyri.html' title='“PERLU PRIBUMISASI HIKMAH AL TASYRI”'/><author><name>Adib Minanurrachim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15129533338323743129</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-I2gRc1Ay-KI/Trz7pcj6bYI/AAAAAAAAAJM/rpVJ_fN0h8A/s220/wajah%2B%252846%2529.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2483512749123335218.post-6945590463635208958</id><published>2007-12-27T11:46:00.000+07:00</published><updated>2007-12-27T11:48:27.544+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='WAWANCARA'/><title type='text'>SHALAT KHUSYU: MENSTABILKAN KADAR KORTISOL</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Bagaimana shalat ditinjau dari sisi kesehatan?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Ditinjau dari sisi kesehatan, shalat itu ibarat meditasi. Meditasi ideal. Ketika meditasi, seseorang harus mencapai keadaan antara tidur dan sadar. Di dalam shalat kita disuruh khusyu dan khudur sekaligus. Khusyu itu seperti konsentrasi penuh, khudur itu artinya hadir/sadar. Jadi antara kedua keadaan ini orang tidak tidur. Dengan membaca surah-surah dalam shalat dan bergerak, dia tidak tidur. Karena jika tertidur maka meditasinya itu tidak ada artinya. Jadi tujuan meditasi itu mengkondisikan otak kita dalam posisi mencapai gelombang teta. Teta itu adalah gelombang neurotransmiter (penghantar terhadap rangsang ke otak). Gelombang teta ini gelomba+ng ideal di mana seseorang dalam keadaan rileks. Dan puncak kreatifitas manusia itu ada dalam gelombang teta. Makanya, ketika seseorang lupa akan sesuatu, ketika shalat mendadak ia akan mengingatnya. Misalkan seseorang lupa menaruh kunci. Lalu dia shalat, maka acapkali dia akan mengingatnya. Tapi ini bukan dalam arti shalat untuk mencari kunci.&lt;br /&gt;Jadi ketika seseorang bekerja dan mengalami situasi pelik, lalu dia mengambil wudlu dan mendirikan shalat, setelah shalat maka kita akan fres kembali. Dengan satu syarat bahwa shalat kita benar-benar khusyu. Jadi shalat ini adalah proses meditasi yang paling sempurna karena memenuhi syarat-syarat meditasi yang sebenarnya. Itu dari aspek psikologis.&lt;br /&gt;Kemudian dari aspek fisik, orang yang melakukan shalat itu menggerakkan seluruh bagian tubuh, sehingga seluruh sendi dan otot-ototnya bergerak dan menjadi lentur. Lalu gerakan dalam shalat ini juga merangsang otot-otot dan jantung serta otot kita, sehingga bila otak seseorang dalam keadaan stagnan, maka akan kembali fresh.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Apakah shalat bisa membantu seseorang untuk sembuh dari sakit?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Saat ini saya mengembangkan metode smart feeling. Jadi saya mengembangkan sebuah metode di mana seseorang yang menjalani pengobatan, baik untuk menyembuhkan penyakit atau peningkatan status kesehatan itu dengan beberapa cara. Salah satunya dengan ibadah. Saya selalu nasehatkan kepada pasien saya agar shalat khusyu.&lt;br /&gt;“Shalat khusyu? wah sulit sekali?” keluh mereka. Tapi saya selalu bilang bahwa syarat utamanya adalah jangan tergesa-gesa. Karena shalat yang tergesa-gesa tidak akan memberikan keseimbangan pada hormonal di tubuh kita. Jadi bila ada orang yang sakit lalu menjalani proses penyembuhan yang sempurna, yaitu minum obat, mengontrol makan, mengoptimalkan ibadah dan berdoa kepada Allah, saya jamin insyaallah sembuh. Tapi metode ini jika diterapkan kepada pasien, mereka tidak hanya mendapatkan manfaat yang kecil.&lt;br /&gt;Pertama, saya selalu minta kepada pasien itu agar dia sadar akan tiga aspek dalam pengobatan. Ini adalah dasar dari kesembuhan seseorang dari penyakit. 1) Adalah islam. Orang yang meyakini keislamannya itu ditandai dengan berserah diri kepada Allah. 2) Iman, orang yang beriman akan mempercayai bahwa yang menyembuhkan seseorang dari penyakit adalah Allah. 3) Ihsan. Orang yang ihsan akan yakin bahwa Allah selalu mengawasinya dan Allah dekat dengannya. Dengan ketiga aspek ini, maka orang itu akan bisa lebih mudah menjalani proses penyembuhan. Itu sudah bisa dibuktikan.&lt;br /&gt;Jadi dalam smart feeling itu ada lima metode yang saya terapkan. Pertama, Sehat melalui makanan. Artinya, bila seseorang itu sakit, meski sakitnya kanker, dia perlu mengatur makanannya. Bila dia bisa mengatur pola makannya, kemungkinan berkembangnya sel kangker itu akan lebih kecil. Tadi itu saya sempat diskusi dengan teman-teman, tentang kemungkinan penyakit kanker bisa disembuhkan tanpa obat kimia. Saya jawab mungkin. Penyakit kanker itu muncul karena berbagai faktor yang merusak sel. Bila faktor yang merusak sel itu kita hindari maka tidak ada faktor-faktor baru yang masuk ke dalam tubuh kita yang bisa mempengaruhi pertumbuhan sel kanker tersebut. Sehingga yang masuk ke dalam tubuh kita selalu baik. Contohnya bahan carsinogenik, yaitu bahan yang dipercaya akan memunculkan atau menyebabkan seseorang bisa menderita penyakit kanker. Semisal makanan-makanan yang berwarna dan sebagainya. Kalau kita bisa mengontrol makanan kita maka kita sudah punya 50% modal untuk sembuh dari kanker. Kita yakin bahwa sel kanker itu kan punya umur. Tidak mungkin selama-lamanya sel tersebut ada. Nah, jika ia tidak disuplai dengan bahan-bahan makanan yang bisa menumbuh-kembangkannya, maka dia tidak akan memproduksi sel-sel kanker yang baru. Sementara sel yang lama akan lemah. Ketika sel kanker itu lemah, maka umurnya pendek.&lt;br /&gt;Kedua adalah ibadah. Bila seseorang menjalankan shalat khusyu maka pikiran dan hatinya akan tenang. Itu merupakan kondisi yang kondusif untuk memperoleh kesehatan. Saya rasa semua orang setuju. Ketiga adalah doa. Ini seringkali dilupakan oleh seseorang. Karena ketika seseorang ditimpa penyakit, langkah pertama yang dia lakukan adalah bingung mencari obat. Bukan meminta pertolongan kepada Allah. Misalkan dia sakit kepala atau sakit perut, maka langkah pertamanya adalah bingung cari obat sakit kepala dan sakit perut. Seharusnya ingat pada Allah dan beristighfar lalu berdoa akan kesembuhan. Ini insyaallah akan berhasil. Karena meminta langsung kepada Yang Maha Penyembuh.&lt;br /&gt;Keempat adalah memperbaiki lingkungan. Karena lingkungan itu sangat mendorong sehat-sakitnya seseorang. Nabi sendiri sudah mengingatkan, bagaimana kita tidak boleh buang air besar di atas air yang tenang semisal danau.&lt;br /&gt;Lingkungan ini ada dua, lingkungan fisik dan sosial. Lingkungan fisik itu seperti jangan buang air sembarangan dan selalu membersihkan halaman. Sementara yang sosial adalah keluarga. Bila keluarga seseorang kacau balau, saya yakin badannya tidak akan sehat.&lt;br /&gt;Kelima adalah tibbun nabawi, obat-obat atau cara-cara yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Dengan kelima faktor ini, insyaallah orang tersebut akan sembuh dari penyakitnya.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Apakah shalat juga bisa menyembuhkan impotensi?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Saya yakin bisa, baik dari aspek rohani maupun medis. Salah satu sebab munculnya penyakit impotensi itu karena persoalan psikologi, spiritual atau aspek sosial.&lt;br /&gt;Impotensi itu ada dua macam, organis dan psikologis. Pertama, impotensi yang disebabkan karena faktor organ itu sendiri, tubuhnya mengalami gangguan. Misalnya penderita kencing manis yang lama. Penderita tekanan darah tinggi yang lama. Penderita penyakit jantung, stroke dan ginjal. Ini semua menyebabkan terjadinya impotensi. Tapi semua penyakit ini bisa disembuhkan bila seseorang bisa mengerjakan shalat dengan khusyu.&lt;br /&gt;Seseorang bisa mencapai keadaan flow (melayang/ekstase) waktu shalat bila dia bisa memelihara suasana dengan baik, khudur, pikirannya bisa konsentrasi pada Allah: shalatlah seoalah-olah kamu melihat Allah. Tapi jika kamu tidak melihatNYA, maka sesungguhnya Allah melihatmu. Dalam kondisi seperti itu, orang kan dalam kondisi bermesraan dengan Allah. Sehingga secara otomatis hormon-hormon dalam tubuhnya, seperti yang telah dibuktikan oleh Moh. Shaleh (penulis buku Tahjjud), terutama hormon kortisolnya akan mempunyai kadar kortisol yang baik dan seimbang.&lt;br /&gt;Kortisol adalah hormon yang diproduksi oleh ginjal yang mempunyai hubungan mengontrol kadar gula darah. Jika kadar gula darah rendah, maka kortisol bekerja mengubah lemak menjadi gula. Tapi jika normal, maka kortisol ini bagus untuk kesehatan. Sementara jika kadar kortisolnya tinggi, maka biasanya orang itu akan mengalami stres berat. Jadi meski seseorang itu tidak mengkonsumsi gula, tapi kortisol tetap mengubah lemak menjadi gula. Keadaan ini tentu berbahaya bagi kesehatannya. Sehingga lama-lama ia akan menderita kencing manis, karena kadar gulanya tinggi. Selain itu, bila kadar kortisolnya tidak terkendali, bisa menyebutkan penyakit jantung, ginjal, liver termasuk juga impotensi.&lt;br /&gt;Semua penyakit-penyakit organis tersebut bisa menyebabkan seseorang menderita penyakit impotensi. Sehingga dengan dengan shalat khusyu ia akan bisa meminimalisir penyakit yangia derita. Hanya saja, khasiatnya tida seperti orang yang minum cildenafil (obat perangsang?). hehehe. Karena bila minum cildenafil orang itu akan bisa langsung berereksi. Tapi bila melalui shalat, ini bertahap. Dimulai dari merubah kebiasaan hidup, memperbaiki diri dan shalat khusyu dengan jangka waktu yang lama, insyaallah akan memberikan efek positif terhadap kesehatan orang tersebut.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bagaimana dengan daya tahannya?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ejakulasi dini itu berhubungan dengan pikiran, biasanya karena mengalami kecemasan yang sangat tinggi. Nah, kecemasan ini bisa diatasi dengan shalat. Karena shalat bisa membuat pikiran menjadi tenang. Tapi kembali lagi, kita harus ingat bahwa shalat yang dimaksud adalah yang khusyu dan tuma’ninah.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bila daya tahan kesembuhannya bagaimana?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Bila seseorang menggunakan cildenafil, itu sekali minum untuk sekali pakai. Tapi jika orang menjalankan pengobatan secara tradisional, khususnya dengan shalat dan atau ibadah yang baik lainnya, ini bisa jangka panjang. Dia akan bisa lama menikmati hasilnya. Dan yang terpenting untuk menjadi perhatian kita saat ini adalah kita harus meminimalkan minum obat kimia. Artinya jika tidak perlu meminum obat kimia, sebaiknya jangan minum. Tapi jika terpaksa, ya apa boleh buat? Di klinik saya tidak ada obat kimia. Satu tetes pun tidak ada.&lt;br /&gt;Jadi jika seseorang bisa menjalankan ibadah dengan baik, shalatnya khusyu, maka dia akan jarang mengindap penyakit. Kalau sakitnya jarang maka tidak perlu meminum obat kimia. Alhamdulillah saya sudah 4 tahun ini tidak pernah meminum obat kimia satu tablet pun. Bahkan vitamin c saja, saya tidak mau. Tablet-tablet yang terbuat dari zat kimia saya tidak mau. Selama empat tahun ini, saya sudah bisa mengatasi masalah kesehatan saya tanpa zat kimia. Nah ini harus disebarluaskan.&lt;br /&gt;Soal kelangsingan tubuh, saya tidak menganjurkan untuk melakukan diet. Saya tidak suka diet ketat. Karena Nabi tidak pernah melarang ummatnya untuk makan. Jadi jika ada orang sakit, misalkan kencing manis, dia tidak perlu khawatir untuk makan makanan yang menyebabkan memperparah kondisi tubuhnya. Karena Nabi menganjurkan makanlah makanan sekedar untuk menegakkan tubuhmu. Apa bila masih kurang, maka sepertiga makanan, sepertiga minuman dan sepertiga udara. Itu prinsip dalam islam. Jika itu dijalankan, maka tidak akan ada orang yang kegemukan.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Apakah ada penelitian tentang keberhasilan dari anjuran Nabi itu?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kita nanti akan menelitinya. Tapi saya yakin ini akan berhasil dan bermanfaat. Coba saja lihat ulama-ulama yang tua-tua. Mereka masih bisa sehat daya ingatnya juga tajam, itu karena apa?&lt;br /&gt;Bila menghadapi makanan kita harus khusnudzon (berbaik sangka). Artinya, masyarakat saat ini kan banyak yang menderita penyakit, sehingga setiap dia akan makan sesuatu yang diingat adalah ancaman akan timbulnya penyakit baru dan atau kambuhnya penyakit lama. Misalkan jika kita makan sate kambing, maka yang kita ingat adalah darah tinggi. Makan kacang yang kita ingat asam urat dan setrusnya. Nah,  karena dia berburuk sangka terlebih dahulu terhadap makanan tersebut, maka ketika dia makan sedikit Allah memberinya penyakit. Nah kita tidak boleh berprasangka buruk pada makanan. Kita ikut sunnah rasul, makanlah sebelum lapar dan berhentilah sebelum kenyang. Sederhananya, janganlah menuruti nafsu kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wawancara dengan Dr. Moh. Ali Assegaf&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Adib Minanurrachim&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Dimuat di SC Magazine Vol I&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2483512749123335218-6945590463635208958?l=adibdata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adibdata.blogspot.com/feeds/6945590463635208958/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2483512749123335218&amp;postID=6945590463635208958' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/6945590463635208958'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/6945590463635208958'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adibdata.blogspot.com/2007/12/shalat-khusyu-menstabilkan-kadar.html' title='SHALAT KHUSYU: MENSTABILKAN KADAR KORTISOL'/><author><name>Adib Minanurrachim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15129533338323743129</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-I2gRc1Ay-KI/Trz7pcj6bYI/AAAAAAAAAJM/rpVJ_fN0h8A/s220/wajah%2B%252846%2529.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2483512749123335218.post-5917314081812206076</id><published>2007-12-27T11:44:00.000+07:00</published><updated>2007-12-27T11:46:25.301+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='WAWANCARA'/><title type='text'>SHALAT MENDORONG KESEMBUHAN GANGGUAN KEJIWAAN</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Apa itu gangguan kejiwaan?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ganguan kejiwaan adalah seseorang yang mengalami tekanan yang disebut stres lalu mengalami ketidaktenangan. Misalnya orang tersebut menderita sakit badanya dan macam-macam tapi kalau dicari tidak ada penyakitnya, itu berarti ada faktor kejiwaan. Terus seseorang itu mengalami ketakutan, kecemasan, kegelisahan, depresi, lemah semangat, merasa dirinya tidak berguna hingga merasa ingin bunuh diri. Jadi yang terbanyak di dunia kedokteran itu ada cemas, depresi dan stress. Bisa di sembuhkan dengan konsultasi.&lt;br /&gt;Ilmu kedokteran jiwa adalah ilmu yang mempelajari perilaku perasaan seseorang. Pola penanganannya bisa melalui obat. Bila ingin cepat sembuh harus dibarengi dengan shalat, berzikir dan doa. Karena shalat itu bisa membawa ketenangan jiwa. Nah karena gangguan kejiwaan itu sulit dicari asal-usulnya penyakitnya, maka ketenangan ini perlu. Jadi shalat itu sudah ada penmelitian-penelitianya dan bisa membuktikan sangat bagus sekali dan bisa mencegah perbuatan-perbuatan yang bisa menjurus pada ganguan kejiawaan. Misalnya, kalau seseorang itu menjalankan shalat, maka dia akan menjauhi hal-hal yang tidak benar (innal shalata tanha anil fakhsa wal mungkar). Jika shalatnya benar, maka dia tidak akan mengkonsumsi narkotika, alkohol dan berjudi. Korupsi itu juga gangguan kejiwaaan. Karena sudah cukup hidupnya tapi masih korupsi.&lt;br /&gt;Bukankah banyak orang yang shalatnya rutin tapi tidak memperoleh ketenangan jiwa?&lt;br /&gt;Shalat itu kan ritual, salah satu dari rukun Islam. Nah, jika seseorang yang telah rajin melakukan shalat tapi belum tenang, barangkali imannya yang perlu ditingkatkan. Lebih mengimani bahwa Allah itu Maha Pengasih, Pemurah, Mengetahui dan lainnya. Sehingga shalatnya bisa menjadi khusyu.Shalat yang khusyu itu kan pasrah.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Apakah hanya dengan melakukan pendekatan shalat khusyu, orang-orang yang mengalami gangguan kejiwaan tersebut bisa sembuh?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Oh tidak. Mereka juga harus berobat. Tidak bisa hanya dengan shalat saja. Karena Nabi Muhammad SAW menganjurkan agar orang itu harus berikhtiar. Berobat. Nah nantinya disertai dengan shalat.&lt;br /&gt;Di sisi lain, sakit atau tidak sakit, shalat itu kan wajib. Nah dalam shalat itulah orang itu harus memohon agar selalu diberi kesehatan. Lalu ditambah dengan shalat sunnah dan shalat tahajjud. Artinya, meski pun orang itu tidak sakit ya tetap shalat. Cuma jika orang itu sakit barangkali perlu menambah intensitas shalatnya.&lt;br /&gt;Jika diprosentasekan, berapa persen pengaruh shalat dalam proses penyembuhan pasien?&lt;br /&gt;Wah ini tidak bisa diprosentasekan. Ini tergantung pasiennya. Sejauh mana dia sungguh-sungguh melakukan shalat.&lt;br /&gt;Bila si pasien tidak melakukan shalat, apakah dia tidak mudah menjalani proses penyembuhan?&lt;br /&gt;Bisa sembuh juga. Cuman tidak dapat pahala.&lt;br /&gt;Emm... barangkali dia tidak tenang juga. Badannya sih sembuh, tapi kejiwaannya mungkin tidak. Karena agama itu mengobati kejiwaan seseorang. Jadi shalat itu cukup mendorong kesembuhan seseorang dari gangguan kejiwaan yang dialami oleh seseorang.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Selain shalat, adakah ritual lainnya?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Bisa dzikir, doa atau bahkan puasa.&lt;br /&gt;Apakah nama pengobatan yang menggabungkan antara ilmu kejiwaan dengan agama?&lt;br /&gt;Namnaya psikoreligi. Faktor agama dan kedokteran jiwa itu adalah kedua hal yang berdekatan. Bila agama adalah ilmu yang kebenarannya mutlak, sementara psikologi itu adalah ilmu yang bermula dari usaha pencarian manusia. Jadi hubungan antara keduanya adalah imbal-balik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wawancara dengan Prof Dr. Dadang Hawari (Psikolog)&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Adib Minanurrachim&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Dimuat di SC Magazine Vol I&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2483512749123335218-5917314081812206076?l=adibdata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adibdata.blogspot.com/feeds/5917314081812206076/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2483512749123335218&amp;postID=5917314081812206076' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/5917314081812206076'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/5917314081812206076'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adibdata.blogspot.com/2007/12/shalat-mendorong-kesembuhan-gangguan.html' title='SHALAT MENDORONG KESEMBUHAN GANGGUAN KEJIWAAN'/><author><name>Adib Minanurrachim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15129533338323743129</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-I2gRc1Ay-KI/Trz7pcj6bYI/AAAAAAAAAJM/rpVJ_fN0h8A/s220/wajah%2B%252846%2529.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2483512749123335218.post-4757987285222595127</id><published>2007-12-22T15:36:00.000+07:00</published><updated>2007-12-27T11:43:56.003+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='LAPORAN'/><title type='text'>MENGHAPUS JEJAK DISKRIMINATIF TIONGHOA</title><content type='html'>&lt;em&gt;Jejak-jejak diskriminasi yang menimpa warga Tionghoa tampak masih membekas. Tak hanya masalah pelayanan publik, tapi juga masalah agama. Masih ada anggapan, antara Tionghoa dan Islam adalah ibarat dua hal yang saling bertolak belakang. Padahal Tionghoa bukanlah sebuah agama kecuali etnik.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KEGELISAHAN tentang kuatnya anggapan di atas dirasakan oleh H.S. Willy Pangestu, Sekeretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (DPP PITI). “Kami merasakan masih ada kabut yang menaungi Indonesia bahwa antara Tionghoa dan Islam adalah dua hal yang terpisahkan. Padahal Tionghoa itu bukanlah agama. Tapi suku sebagaimana Jawa, Betawi, Sunda dan lainnya,” kata Willy lemah kepada SC Magazine di kantor PITI yang terletak di Jl Hayam Wuruk Jakarta Barat.&lt;br /&gt;Menurut pria bernama asli Pang Hiok Chen ini, meski saat ini Indonesia sudah memasuki era keterbukaan, tapi fenomena diskriminasi yang dialami oleh etnis Tionghoa masih terjadi. Sementara ketika ditanya sebab-musababnya, menurut pria yang menjadi muallaf di usia 44 tahun tersebut, fenomena diskriminasi terjadi karena kebijakan diskriminatif yang pernah dilakukan pemerintah kolonial Belanda dan diteruskan pemerintah RI. “Belanda sudah menjadikan kita berkelompok-kelompok. Tapi ironisnya RI melanjutkannya,” tambahnya di kantor DPP PITI.&lt;br /&gt;Persoalan diskriminasi terhadap warga Tionghoa memang bukan kabar baru. Seperti yang dilaporkan Wikimedia, diskriminasi itu dimulai sejak zaman Belanda. Pada saat itu, pemerintahan Hindia Belanda mengeluarkan kebijakan berupa batasan ruang gerak pada warganegara Tionghoa dengan adanya &lt;a title="Passenstelsel" href="http://ms.wikipedia.org/w/index.php?title=Passenstelsel&amp;amp;action=edit"&gt;Passenstelsel&lt;/a&gt; dan Wijkenstelsel. Sejak kasus Batavia pada tahun &lt;a title="1740" href="http://ms.wikipedia.org/wiki/1740"&gt;1740&lt;/a&gt;, orang Tionghoa tidak dibenarkan bermukim secara bebas. Aturan ini kemudian menubuhkan &lt;a title="Pecinan" href="http://ms.wikipedia.org/w/index.php?title=Pecinan&amp;amp;action=edit"&gt;pecinan&lt;/a&gt;, yaitu pemukiman etnik Tionghoa di sejumlah kota besar di Hindia Belanda.&lt;br /&gt;Pada masa kemerdekaan, &lt;a name="Pasca_kemerdekaan"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a title="Diskriminasi" href="http://ms.wikipedia.org/wiki/Diskriminasi"&gt;diskriminasi&lt;/a&gt; terhadap kelompok etnik Tionghoa terus berlangsung pada zaman &lt;a title="Orde Lama" href="http://ms.wikipedia.org/w/index.php?title=Orde_Lama&amp;amp;action=edit"&gt;Orde Lama&lt;/a&gt; dan &lt;a title="Orde Baru" href="http://ms.wikipedia.org/wiki/Orde_Baru"&gt;Orde Baru&lt;/a&gt;. Pada era Orde Lama, pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah No. 10 tahun 1959 tentang larangan bagi warganegara Tionghoa untuk berniaga di kawasan luar ibu kota provinsi dan kabupaten. Sementara pada era Orde Baru, juga terdapat aturan diskrimintif berupa &lt;a title="Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia" href="http://ms.wikipedia.org/w/index.php?title=Surat_Bukti_Kewarganegaraan_Republik_Indonesia&amp;amp;action=edit"&gt;Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia&lt;/a&gt; (SBKRI). Aturan ini hanya diperuntukkan kepada keturunan Tionghoa, tidak untuk warga negara Indonesia lainnya. Sehingga kemunculan SBKRI menimbulkan kesan bahwa Tionghoa adalah warganegara yang status kewarganegaraannya masih dipertanyakan.&lt;br /&gt;Memasuki era reformasi, seluruh aturan yang membatasi ruang gerak etnis Tionghoa akhirnya dihapus dengan lahirnya UU No 12 tahun 2006 tentang Kewarganegaraan yang menjamin persamaan hak dan kewajiban seluruh warganegara Indonesia. Namun demikian, dalam tataran praksis, masih ditemukan fenomena diskriminasi yang dialami etnis Tionghoa, terutama dalam masalah pelayanan publik semisal paspor, KTP dan atau dalam hubungan sosial masyarakat.&lt;br /&gt;Menanggapi fenomena tersebut, kepada SC Magazine, Prof Dr. Jalaluddin Rahmat mengatakan bahwa hal itu seharusnya tidak terjadi, karena etnis Tionghoa juga turut berjasa dan mewarnai perjalanan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). “Dalam sejarah kemerdekaan Indonesia hingga saat ini, etnis Tionghoa banyak memberikan kontribusi. Tidak hanya keringat tapi juga darah.”&lt;br /&gt;Pendapat pria yang akrab disapa Kang Jalal di atas memang benar. Bila kita tengok sejarah, etnis Tionghoa juga turut berjasa mulai kebangkitan nasionalisme hingga saat ini. Misalkan proses kebangkitan &lt;a title="Nasionalisme" href="http://ms.wikipedia.org/wiki/Nasionalisme"&gt;nasionalisme&lt;/a&gt; di Hindia Belanda, ternyata tidak terlepas dari perkembangan yang terjadi dalam komunitas Tionghoa. Pada 17 Maret 1900, di Batavia, organisasi etnis Tionghoa, &lt;a title="Tiong Hoa Hwee Koan" href="http://ms.wikipedia.org/w/index.php?title=Tiong_Hoa_Hwee_Koan&amp;amp;action=edit"&gt;Tiong Hoa Hwee Koan&lt;/a&gt; (THHK) mendirikan sekolah-sekolah sebanyak 54 buah. Sementara pada rentang tahun antara &lt;a title="1908" href="http://ms.wikipedia.org/wiki/1908"&gt;1908&lt;/a&gt; hingga 1934, mereka telah mendirikan 450 buah sekolah. Inisiatif ini kemudian diikuti oleh kelompok-kelompok etnik yang lain, seperti kelompok etnik &lt;a title="Arab" href="http://ms.wikipedia.org/wiki/Arab"&gt;Arab&lt;/a&gt; yang mendirikan Djamiatul Khair meniru model THHK. Sementara &lt;a title="Priyayi" href="http://ms.wikipedia.org/wiki/Priyayi"&gt;golongan bangsawan&lt;/a&gt; Jawa membentuk &lt;a title="Budi Utomo" href="http://ms.wikipedia.org/w/index.php?title=Budi_Utomo&amp;amp;action=edit"&gt;Budi Utomo&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;Pada tahun &lt;a title="1909" href="http://ms.wikipedia.org/wiki/1909"&gt;1909&lt;/a&gt;, RA &lt;a title="Tirtoadisuryo" href="http://ms.wikipedia.org/w/index.php?title=Tirtoadisuryo&amp;amp;action=edit"&gt;Tirtoadisuryo&lt;/a&gt; membentuk &lt;a title="Sarekat Dagang Islamiyah" href="http://ms.wikipedia.org/w/index.php?title=Sarekat_Dagang_Islamiyah&amp;amp;action=edit"&gt;Sarekat Dagang Islamiyah&lt;/a&gt; (SDI) di &lt;a title="Buitenzorg" href="http://ms.wikipedia.org/w/index.php?title=Buitenzorg&amp;amp;action=edit"&gt;Buitenzorg&lt;/a&gt; (Bogor). Organisasi ini mengikuti model &lt;a title="Siang Hwee" href="http://ms.wikipedia.org/w/index.php?title=Siang_Hwee&amp;amp;action=edit"&gt;Siang Hwee&lt;/a&gt; (dewan perdagangan orang Tionghoa) yang dibentuk pada tahun &lt;a title="1906" href="http://ms.wikipedia.org/wiki/1906"&gt;1906&lt;/a&gt; di Batavia. Di sisi lain, etnis Tionghoa juga menerbitkan surat kabar berbahasa melayu, &lt;a title="Sin Po" href="http://ms.wikipedia.org/wiki/Sin_Po"&gt;Sin Po&lt;/a&gt;. Media ini banyak memberikan sumbangan dalam penyebaran maklumat yang bersifat &lt;a title="Nasionalisme" href="http://ms.wikipedia.org/wiki/Nasionalisme"&gt;nasionalisme&lt;/a&gt;. Misalkan lagu &lt;a title="Indonesia Raya" href="http://ms.wikipedia.org/wiki/Indonesia_Raya"&gt;Indonesia Raya&lt;/a&gt; yang digubah oleh &lt;a title="W.R. Supratman" href="http://ms.wikipedia.org/w/index.php?title=W.R._Supratman&amp;amp;action=edit"&gt;W.R. Supratman&lt;/a&gt;, untuk pertama kalinya diterbitkan oleh surat kabar ini. Pada &lt;a title="1920-an" href="http://ms.wikipedia.org/wiki/1920-an"&gt;1920-an&lt;/a&gt;, Sin Po juga memelopori penggunaan bahasa &lt;a title="Bumiputera" href="http://ms.wikipedia.org/wiki/Bumiputera"&gt;bumiputera&lt;/a&gt; Indonesia sebagai pengganti untuk bahasa Belanda inlander bagi semua terbitannya. Langkah ini kemudian diikuti oleh banyak media lainnya.&lt;br /&gt;Pada Agustus &lt;a title="1945" href="http://ms.wikipedia.org/wiki/1945"&gt;1945&lt;/a&gt;, tokoh Tionghoa seperti &lt;a title="Djiaw Kie Siong" href="http://ms.wikipedia.org/w/index.php?title=Djiaw_Kie_Siong&amp;amp;action=edit"&gt;Djiaw Kie Siong&lt;/a&gt; memperkenankan rumahnya digunakan untuk mempercepat persiapan kemerdekaan oleh &lt;a title="Sukarno" href="http://ms.wikipedia.org/wiki/Sukarno"&gt;Sukarno&lt;/a&gt; dan &lt;a title="Mohammad Hatta" href="http://ms.wikipedia.org/wiki/Mohammad_Hatta"&gt;Mohammad Hatta&lt;/a&gt;. Sementara dalam &lt;a title="Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia" href="http://ms.wikipedia.org/wiki/Badan_Penyelidik_Usaha_Persiapan_Kemerdekaan_Indonesia"&gt;Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia&lt;/a&gt; (BPUPKI) yang merumuskan &lt;a title="UUD'45" href="http://ms.wikipedia.org/w/index.php?title=UUD%2745&amp;amp;action=edit"&gt;UUD'45&lt;/a&gt;, terdapat lima orang Tionghoa, yaitu &lt;a title="Liem Koen Hian" href="http://ms.wikipedia.org/wiki/Liem_Koen_Hian"&gt;Liem Koen Hian&lt;/a&gt;, &lt;a title="Tan Eng Hoa" href="http://ms.wikipedia.org/w/index.php?title=Tan_Eng_Hoa&amp;amp;action=edit"&gt;Tan Eng Hoa&lt;/a&gt;, &lt;a title="Oey Tiang Tjoe" href="http://ms.wikipedia.org/wiki/Oey_Tiang_Tjoe"&gt;Oey Tiang Tjoe&lt;/a&gt;, &lt;a title="Oey Tjong Hauw" href="http://ms.wikipedia.org/wiki/Oey_Tjong_Hauw"&gt;Oey Tjong Hauw&lt;/a&gt; dan Drs. &lt;a title="Yap Tjwan Bing" href="http://ms.wikipedia.org/wiki/Yap_Tjwan_Bing"&gt;Yap Tjwan Bing&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;Selanjutnya pada masa pasca kemerdekaan hingga saat ini, etnis Tionghoa bersama-sama kelompok lainnya telah memberikan kontribusi terhadap pembangunan nasional. Para pengusaha Tionghoa telah mendirikan industri padat karya yang bisa menyerap banyak tenaga kerja serta membayar pajak yang termasuk terbesar di Indonesia. Beberapa nama lain yang turut memberikan kontribusi bagi NKRI antara lain; Tan Joe Hok dalam olahraga bulutangkis; Teguh Karya, Fifi Young dan Tan Tjeng Bok dalam dunia teater Indonesia; dr. Oen Boen Bing di bidang kedokteran; Martha Tilaar di industri komestik Indonesia; ataupun Johanes Surya yang menjadi arsitek tim Olimpiade Matematika Indonesia merebut medali-medali emas di ajang regional dan Internasional.&lt;br /&gt;Bila melihat peran etnis Tionghoa di atas, diskriminasi yang mereka alami adalah ketidakadailan. Tapi persoalannya, mengapa masih ada angapan bahwa Tionghoa adalah “liyan” atau orang asing?&lt;br /&gt;Menjawab persoalan tersebut, Kang Jalal mengatakan bahwa diskriminasi itu disebabkan oleh banyak faktor. Selain faktor politik dan ekonomi juga karena faktor agama. “Biasanya hubungan keduanya renggang karena kepentingan-kepentingan politik. Di zaman Orde Baru, kita melihat banyak ketegangan antara Tionghoa dengan warga lain di negara ini. Ini disebabkan pertama, ada kecenderungan bahwa hubungan penguasa dengan kelompok pebisnis Tionghoa itu lebih dekat daripada kelompok pebisnis Melayu. Akibatnya, setelah pengusaha Tionghoa menguasai dunia usaha, timbullah kecemburuan sosial. Biasanya ini dibumbui dengan kepentingan-kepentingan politik oleh elit politik tertentu. Sehingga menimbulkan kerusuhan Mei 1998 lalu dan yang menjadi korban adalah  kelompok-kelompok Tionghoa yang menurut saya berbisnis dengan jujur, dan bahkan acapkali mendapatkan penindasan dari penguasa, sama dengan pebisnis Melayu lainnya. Mereka juga jadi korban dari pebisnis besar yang tidak terjamah.”&lt;br /&gt;Masih menurut Kang Jalal, kurangnya kesadaran dalam beragama juga menjadi faktor masih adanya sikap diskriminasif tersebut. “Kedua, saya pikir ini juga terjadi karena faktor agama. Karena dengan orang Arab meski secara fisik kita berbeda, mereka berhidung mancung sementara kita pesek, tapi mereka relatif bisa berbaur dengan masyarakat Indonesia secara keseluruhan. Saya juga melihat bahwa jika Tionghoa beragama Islam mereka juga terintegrasi secara total dengan masyarakat Indonesia. Sampai di kampung-kampung orang Tionghoa yang beragama Islam hampir tidak bisa dibedakan dengan penduduk Melayu.”&lt;br /&gt;Tapi demikian, Kang Jalal menggarisbawahi bahwa sikap diskriminatif ini juga merupakan akibat dari sikap sebagian etnis Tionghoa yang eksklusif. “Sebabnya sekarang berpulang kepada kedua belah pihak. Pertama, jangan kita lupakan bahwa ada sebagian dari Tionghoa yang sangat eksklusif karena kekayaan. Mereka biasa membentuk perumahan dan perhimpunan eksklusif yang tidak memasukkan kelompok Melayu ke dalamnya. Jadi sikap eksklusif seperti ini, apa pun alasannya, tentu saja akan membuat perasaan orang Melayu terasing. Lebih jauh, ada beberapa pebisnis Tionghoa yang menguasai ekonomi dan tak jarang menggunakan cara kekerasan melalui dukungan dari penguasa. Misalnya ada satu pasar tradisonal yang telah berlangsung sekian lama. Lalu orang Tionghoa datang ke oknum aparat Kecamatan dan minta membantunya merubah pasar menjadi super mall. Sehingga pedagang-pedagang kecil yang nota bene mayoritas terdiri dari etnis Melayu tersingkir karena tidak mampu membeli tempat yang baru saja terbangun itu. Ini terjadi di pelbagai tempat di Indonesia. Kedua, dari etnis Melayu juga perlu introspeksi. Terutama kelompok dari bangsa Indonesia yang menganggap Tionghoa sebagai sapi perahan. Mereka dipaksa mengeluarkan uang. Terutama pebisnis Tionghoa yang ada di bawah.”&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;ISLAM SEBAGAI RAMATAN LILALAMIN&lt;br /&gt;MELIHAT persoalan diskriminasi yang hingga detik ini masih belum mereda, barangkali perlu segera dicari solusinya. Adapun agama yang disinyalir menjadi faktor utama dari masih kuatnya sikap diskriminatif, barangkali sebelum menjastifikasinya, dibutuhkan pemikiran yang bijak. Harapannya agar agama tidak menjadi kambing hitam dari jejak-jejak diskriminasi yang masih tampak dalam hubungan sosial-masyarakat antara etnis Tionghoa dengan warganegara Indonesia lainnya.&lt;br /&gt;Ketika ditanya alasan filosofis mengapa agama menjadi faktor utama dari munculnya sikap diskriminatif, Kang Jalal mengatakan, bahwa agama adalah pedoman hidup manusia yang menuntut perhatian yang mendaam. “Agama begitu mendasar. Nilai-nilai yang mendasari agama adalah nilai-nilai yang untuk itu kita mau hidup dan mati. Beda lagi bila kita punya perhatian pada partai politik, ini tidak menuntut seluruh kepribadian kita.”&lt;br /&gt;Bertolak dari pendapat Kang Jalal tersebut, wajar jika kemudian warganegara Indonesia yang nota bene mayoritas beragama Islam mempunyai pandangan lain kepada etnis Tionghoa yang nota bene mayoritas dari mereka beragama non muslim. Tapi demikian, apakah kemudian menjadi wajar jika seorang muslim menganggap etnis Tionghoa sebagai liyan? Bukankah Tionghoa adalah etnis, sama dengan Jawa, Sunda, Betawi, Bugis dan lainnya? Lebih-lebih, bukankah di antara etnis Tionghoa juga ada yang muslim? Bahkan ada organisasi yang manaungi Tionghoa muslim, yaitu PITI.&lt;br /&gt;Menjawab persoalan tersebut, KH. Nuril Huda dari Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama mengatakan bahwa, saat ini yang dibutuhkan adalah pemahaman islam yang kaffah. “Islam itu rahmatan lilalamin. Kasih sayang kepada alam, tidak hanya kepada umat manusia, tapi juga alam. Nah sekarang ini memang banyak kelompok dari umat Islam yang memahami Islam tidak kaffah. Misalkan mereka yang berdakwah melalui cara-cara kekerasan. Sebenarnya itu tidak boleh. Di dunia ini tidak ada kekerasan yang bisa menyelesaikan masalah, terutama untuk perkembangan Islam.”&lt;br /&gt;Sementara Willy Pangestu dari PITI mensinyalir perlu ada perubahan pola komunikasi yang selama ini dilakukan umat Islam kepada warganegara non muslim. “Di sini terlalu menekankan religius seseorang. Ini berbeda dengan pendekatan orang barat, di mana komunikasi dibangun bukan atas dasar keagamaan. Karena persoalan agama adalah masalah pribadi. Karena itu pola pendekatan yang kita lakukan kepada warga Tionghoa non muslim adalah pendekatan budaya. Seharusnya agama itu adalah koridor, agar orang itu ketika melakukan segala aktivitas tidak keluar dari koridor tersebut. Nah PITI saat ini, memulai dakwahnya tidak dari keyakinan. Karena kami sadar bahwa budaya dan karakter orang Tionghoa itu sangat heterogen.”&lt;br /&gt;Sementara itu, dalam rangka menghapus jejak-jejak diskriminasi, Kang Jalal berpendapat agar ada sosialisasi dan pemahaman mendalam tentang pluralisme religius. “Solusinya adalah pluralisme religius. Ini belum begitu populer dikalangan Islam. Bahkan MUI mengharamkannya. Padahal tanpa adanya sikap ini, agak sulit kita menjalin integrasi. Karena mayoritas kelompok Tionghoa tidak beragama Islam. Tanpa sikap pluralisme, agak sulit orang Islam berintegrasi dengan mereka yang non muslim. Mereka akan selalu curiga dengan gerakan Tionghoa, bisa dimunculkan isu kristenisasi. Sehingga dialog akan menjadi sulit dilakukan antara kedua belah kelompok.”&lt;br /&gt;Masih menurut Kang Jalal, pluralisme religius bisa membawa orang kepada pluralisme politik dan pluralisme sosial. “Saya pikir yang paling penting saat ini adalah bagaimana kita mempromosikan dan mendorong pluralisme religius ini. Sehingga orang tidak mengambil jarak dengan orang yang beragama lain. Jika kita pluralis secara religius maka dengan sendirinya kita juga akan pluralis secara sosial dan politis. Saya sekarang misalnya, merasa dekat dengan kelompok-kelompok agama lainnya. Saya sering diundang di Gereja, saya sering dialog dengan tokoh-tokoh agama bahkan saya sering berceramah di hadapan pengikut agama Budha dan tidak ada jarak antara saya dengan mereka.”&lt;br /&gt;Pluralisme religius memang baru di kalangan umat Islam. Bahkan MUI mengharamkannya. Karena menurut MUI menganggap semua agama benar adalah tidak benar. Tapi terlepas dari perdebatan soal haram-tidaknya pluralisme religius, barangkali dalam rangka menghapus jejak-jejak diskriminasi yang dialami etnis Tionghoa, pribumisasi nilai-nilai islam yang rahmatan lilalamin merupakan jalan tengah yang cukup bijak. Lebih jauh, bukankah pola komunikasi dalam islam selain Ukhuwah Islamiyyah dan Wathoniyyah, ada pula Ukhuwah Basyariyah?&lt;br /&gt;“Jadi, dengan pengakuan sebagai warga negara Indonesia yang tanpa diskriminasi, kita berharap bisa membantu proses kebangsaan kita. Ukhuwah itu menurut saya ada tiga, Islamiyah, Watoniyah dan Basyaraiyah. Tapi jujur saja saya lebih condong ke Basyariyah,” kata Willy sambil tersenyum.*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Adib Minanurrachim&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dimuat di SC Magazine Vol I&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2483512749123335218-4757987285222595127?l=adibdata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adibdata.blogspot.com/feeds/4757987285222595127/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2483512749123335218&amp;postID=4757987285222595127' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/4757987285222595127'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/4757987285222595127'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adibdata.blogspot.com/2007/12/tiga-perjalanan-dan-pengorbanan.html' title='MENGHAPUS JEJAK DISKRIMINATIF TIONGHOA'/><author><name>Adib Minanurrachim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15129533338323743129</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-I2gRc1Ay-KI/Trz7pcj6bYI/AAAAAAAAAJM/rpVJ_fN0h8A/s220/wajah%2B%252846%2529.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2483512749123335218.post-7678631566302216840</id><published>2007-12-22T15:33:00.000+07:00</published><updated>2007-12-27T11:42:35.664+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='WAWANCARA'/><title type='text'>“SOLUSINYA PLURALISME RELIGIUS”</title><content type='html'>Jalaluddin Rakhmat, lahir di Bandung, 29 Agustus 1949. Pria yang akrab dipanggil Kang Jalal ini merupakan salah satu tokoh cendikiawan dan mubaligh Islam terkemuka di Indonesia, bersama Gus Dur (KH Abdurahman Wahid) dan Cak Nur almarhum (Prof.Dr. Nurcholis Madjid). Keaktifannya sebagai intelektual membuahkan puluhan buku dalam berbagai disiplin keilmuan dan tema. Lebih dari 45 buku sudah dia tulis dan diterbitkan oleh beberapa penerbit terkemuka. Kini ia mencoba mengembangkan jangkauan pencerahan pemikiran umat dan dakwahnya melalui dunia cyber, Website The Jalal Center for the Enlightenment (&lt;a href="http://www.jalal-center.com/"&gt;www.jalal-center.com&lt;/a&gt;).&lt;br /&gt;Dari pengalaman hidup masa remajanya ketika mengalami pubertas beragama, Kang Jalal akhirnya menemukan bahwa fiqih hanyalah pendapat para ulama dengan merujuk pada sumber yang sama, yaitu Al-Qurán dan Sunnah. “Artinya kalau orang menentang al-Qurán dan Sunnah, jelas ia kafir. Tapi kalau hanya menentang pendapat orang tentang Al-Qurán dan Sunnah, kita tidak boleh menyebutnya kafir. Itu hanya perbedaan tafsiran saja,” jelasnya.&lt;br /&gt;“Karena itulah kemudian saya berfikir bahwa sebenarnya ada hal yang mungkin mempersatukan kita semua, yaitu akhlak. Dalam bidang akhlak, semua orang bisa bersetuju, apapun mazhabnya. Lalu saya punya pendirian: kalau berhadapan dengan perbedaan pada level fiqih saya akan dahulukan akhlak.”&lt;br /&gt;Bertolak dari pemikiran dan sikapnya yang moderat tersebut, SC Magazine mewawancarainya seputar persoalan diskriminatif yang dialami etnis tionghoa. Berikut petikannya:&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Apakah saat ini masih ada fenomena diskriminasi yang dialami etnik Tionghoa?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Saat ini relatif lebih baik. Di zaman Orde Baru, kita melihat banyak ketegangan antara Tionghoa dengan warga lain di negara ini. Ini disebabkan karena kebijakan pemerintah. Ada kecenderungan hubungan penguasa dengan kelompok pebisnis Tionghoa itu lebih dekat daripada pebisnis Melayu. Akibatnya, setelah pengusaha Tionghoa menguasai dunia usaha timbullah kecemburuan sosial. Biasanya ini dibumbui dengan kepentingan-kepentingan politik oleh elit politik tertentu. Sehingga menimbulkan kerusuhan pada Mei 1998 lalu, dan yang menjadi korban adalah sebagian kelompok Tionghoa lainnya yang menurut saya berbisnis dengan jujur, dan bahkan acapkali mendapatkan penindasan dari penguasa sama dengan pebisnis Melayu lainnya.&lt;br /&gt;Sebagian mungkin menghubungkan dengan kapitalisme internasional. Jadi ketika neo kapitalisme mengembangkan sayap-sayap bisnisnya ke dunia ketiga, khususnya di Indonesia, mereka bekerja sama dengan kelompok elite yaitu orang-orang Tionghoa.&lt;br /&gt;Saat ini memang masih ada anggapan dari warganegara Indonesia lainnya bahwa Tionghoa adalah orang asing, meski hanya sebagian. Dengan kata lain belum ada integrasi lokal antara Tionghoa dengan ras Melayu. Saya heran, karena ini tidak terjadi dengan kelompok Arab atau lainnya. Padahal secara fisik kita lebih dekat dengan orang Tionghoa daripada Arab.&lt;br /&gt;Saya pikir ini terjadi karena faktor agama. Karena dengan orang Arab meski secara fisik kita berbeda, mereka berhidung mancung sementara kita pesek, tapi mereka relatif bisa berbaur dengan masyarakat Indonesia secara keseluruhan. Begitu pula dengan Tionghoa muslim, mereka juga terintegrasi secara total dengan masyarakat Indonesia. Sampai di kampung-kampung Tionghoa muslim hampir tidak bisa dibedakan dengan penduduk Melayu.&lt;br /&gt;Nah sekarang, barangkali solusinya berpulang kepada kedua belah pihak. Pertama, jangan kita lupakan, ada sebagian dari Tionghoa yang sangat eksklusif karena kekayaan. Mereka biasa membentuk perumahan dan perhimpunan mewah yang eksklusif, yang tidak memasukkan kelompok Melayu ke dalamnya. Jika kita melihat di tempat-tempat hiburan, tempat orang menghabiskan uang, kita temukan mayoritas orang yang hadir di situ adalah Tionghoa. Jadi sikap eksklusif seperti ini, apa pun alasannya, tentu saja akan membuat perasaan orang Melayu terasing.&lt;br /&gt;Kedua, dari etnis Melayu juga perlu introspeksi. Terutama kelompok dari bangsa Indonesia yang menganggap Tionghoa sebagai sapi perahan. Mereka dipaksa mengeluarkan uang. Terutama pebisnis Tionghoa yang ada di bawah.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bila diskriminasi kepada Tionghoa muslim?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tidak. Tapi jika diskriminasi kepada Tionghoa muslim dari Tionghoa non muslim itu ada. Dan saya sering menyaksikan hal-hal itu, atau mereka melapor kepada saya. Itu karena faktor agama.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Solusi terhadap fenomena diskriminasi ini bagaimana?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Pluralisme religius, yaitu satu pandangan yang mengatakan bahwa agama lain memperoleh kesempatan yang sama memperoleh keselamatan di hari akhir. Ada pluralisme politis, yaitu bukan saja kita mengakui kehadiran kelompok-kelompok yang lain tapi kita juga mengakui hak-hak yang sama pada kelompok politik untuk mempengaruhi para pengambil keputusan. Ada juga pluralisme sosial, yaitu pengakuan pada eksistensi kelompok-kelompok sosial mana pun sekaligus menghilangkan tindakan diskriminatif terhadap kelompok-kelompok mana pun.&lt;br /&gt;Saya hendak memulainya dari pluralisme religius. Ini belum begitu populer di kalangan Islam. Bahkan MUI mengharamkannya. Padahal tanpa adanya sikap pluralisme ini, agak sulit kita menjalin integrasi. Karena mayoritas kelompok Tionghoa tidak beragama Islam. Sehingga dengan sikap anti pluralisme, agak sulit orang Islam berintegrasi dengan mereka yang non muslim. Dengan sikap anti ini, mereka akan selalu curiga dengan gerakan Tionghoa, bisa dimunculkan isu kristenisasi. Dan dialog akan menjadi sulit dilakukan antara kedua belah kelompok.&lt;br /&gt;Pluralisme religius ini bisa membawa orang pada pluralisme politik dan pluralisme sosial. Saya pikir yang paling penting saat ini adalah bagaimana kita mempromosikan dan mendorong pluralisme religius ini. Sehingga orang tidak mengambil jarak dengan orang yang beragama lain. Jika kita pluralis secara religius maka dengan sendirinya kita juga akan pluralis secara sosial dan politis. Saya sekarang misalnya, merasa dekat dengan kelompok-kelompok lainnya. Saya sering diundang di gereja, saya sering dialog dengan tokoh-tokoh agama bahkan saya sering berceramah di hadapan pengikut agama budha dan tidak ada jarak antara saya dengan mereka. Bahkan saat ini saya hampir tidak pernah memperhatikan apakah dia itu Tionghoa atau bukan. Karena dengan sikap plural ini saya memandang manusia mempunyai hak yang sama untuk kembali kepada Tuhan.&lt;br /&gt;Agama begitu mendasar karena menuntut perhatian yang paling mendalam. Nilai-nilai yang didasari oleh agama adalah nilai-nilai yang untuk itu kita mau hidup dan mati. Beda lagi bila kita punya perhatian pada partai politik, ini tidak menuntut seluruh kepribadian kita. Jadi jika sikap beragama sudah pluralis maka itu sudah otomatis yang lainnya akan pluralis. Tapi jika orang pluralis secara politis, bisa jadi dia tidak pluralis secara religius.&lt;br /&gt;Jadi orang yang pluralis secara religius, itu akan mengakui dan menghormati keberadaan orang lain yang beragama non muslim. Dia akan lebih tulus menghormatinya.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Apakah pluralisme ini berarti mengimani agama lain?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Salah satu ciri orang yang tidak pluralis adalah kekhawatirannya bahwa sikap pluralis ini akan menggoyahkan keimanannya. Saya ini bersikap pluralis dan saya tidak pernah merasa keimanan saya goyang.&lt;br /&gt;Saya punya pengajian di Masjid Bandung setiap Minggu. Salah satu jamaah saya yang paling setia adalah seorang Romo. Namanya Romo Tri. Saya juga pernah diundang dalam keuskupannya di Gereja Katolik untuk memberi ceramah. Romo Tri pernah memberikan pernyataan sebagai berikut, “karena saya ini menjadi pengurus untuk seminari, jadi untuk hari Minggu saya tidak mengadakan Misa. Saya gunakan hari Minggu untuk mengaji di Pak Jalal. Makin sering saya mengaji di Pak Jalal, makin kuat keimanan Katolik saya.”  Sementara saya mengatakan kepadanya, “makin sering saya berdialog dengan orang Katolik, maka makin kuat keimanan saya.”&lt;br /&gt;Jadi—meski ini keliru, tapi biarlah yang keliru ini diyakini—pluralisme itu mengakui semua agama benar. Jika dia meyakini semua agama benar, dia tidak akan merasa pindah agama. Malah bila dia menganggap hanya satu agama yang benar, besar kemungkinan dia akan pindah agama. Misalkan ada dua orang. Satu Islam dan satu Kristen. Masing-masing meyakini agamanya sebagai yang paling benar, otomatis akan terjadi debat. Salah satunya akan pindah agama bila kalah. Tapi jika orang itu pluralis maka dia tidak akan pindah agama. Toh seluruh agama mempunyai peluang untuk selamat. Saya misalkan tidak pernah terpikir untuk pindah agama setelah saya pluralis. Tapi saya sekarang menghormati sesama umat manusia dengan satu ukuran yaitu penghormatan amal solih, untuk kontribusi kepada umat manusia.&lt;br /&gt;Saat ini kan banyak pandangan seseorang kepada orang lain yang agak merendahkan. Seorang anak kecil datang pada orang tuanya setelah melihat Bunda Teresa menyantuni orang-orang miskin. “Pak, meski dia baik kan tetap masuk neraka, sebab agamanya berbeda?” Nah, anak kecil saja punya pikiran seperti itu, bagaimana bila ia sudah dewasa. Tidak akan ada penghormatan kepada orang yang beragama lain. Mungkin jika orang beragama lain melakukan amal baik, dia tidak akan membantunya.&lt;br /&gt;Pluralisme ini adalah anggapan, dan siapa pun orangnya, apa pun agamanya akan memperoleh keselamatan. Karena orang seperti itu tidak perlu ganti agama. Ada teman saya yang sudah pluralis. Tapi dia kurang full pluralisnya. Dia akan menikah dengan gadis yang beragama lain dan ngomong pada saya, “jangan ajarkan pluralisme religius padanya. Agar dia pindah ke agama saya, Islam.” Jadi jika kita tidak ingin orang Islam pindah agama, ajarkan pada mereka pluralisme.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PITI pernah mengatakan bahwa ooganisasi di luar PITI enggan berdakwah kepada Tionghoa. Kira-kira apa sebabnya?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Mungkin karena lebih banyak kurang tahunya para pendakwah tentang kultur etnik Tionghoa. Misalkan saya sebagai seorang dai yang akan melakukan dakwah kepada mereka, maka setidaknya saya harus mengetahui kultur mereka. Tapi... saya juga tidak tahu. Karena saya bukan pimpinan ormas kecuali independen. Dan tidak ikut ormas mana pun kala itu.&lt;br /&gt;Yang kedua mungkin juga karena undangan dari pihak PITI juga yang jarang. Tapi saya yakin para pendakwah akan sangat senang bila diundang oleh pihak PITI. Malah banyak orang PITI Tionghoa yang malah populer di kalangan Melayu. Misalkan saat ini ada Anton Medan. Terlepas dari latar belakangnya, tapi saat ini saya melihatnya sebagai dai yang mukhlis.*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wawancara dengan Prof. Dr. Jalaluddin Rakhmat, M. Sc&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Adib Minanurrachim&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Dimuat di SC Magazine Vol I&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2483512749123335218-7678631566302216840?l=adibdata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adibdata.blogspot.com/feeds/7678631566302216840/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2483512749123335218&amp;postID=7678631566302216840' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/7678631566302216840'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/7678631566302216840'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adibdata.blogspot.com/2007/12/menuju-makrifatullah-dan-kholifah.html' title='“SOLUSINYA PLURALISME RELIGIUS”'/><author><name>Adib Minanurrachim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15129533338323743129</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-I2gRc1Ay-KI/Trz7pcj6bYI/AAAAAAAAAJM/rpVJ_fN0h8A/s220/wajah%2B%252846%2529.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2483512749123335218.post-2726017478863914770</id><published>2007-12-19T15:11:00.001+07:00</published><updated>2007-12-27T11:39:38.317+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='WAWANCARA'/><title type='text'>“KITA SENANG MENDENGAR AJAKAN PITI”</title><content type='html'>DI NEGERI ini, barangkali para muballighnya perlu diberi pengetahuan kembali dalam masalah dakwah Islamiyyah. Sebab akhir-akhir ini banyak kelompok Islam yang berdakwah melalui cara-cara kasar, seolah memaksa kepada seseorang. Ini tidak boleh. Karena Islam tidak seperti itu. Islam itu rahmatan lilalamin. Kasih sayang kepada alam, tidak hanya kepada umat manusia. Dalam berdakwah, NU meneruskan pola dakwah wali sembilan yang penuh kesejukan. Tidak ada kata-kata dan tindakan yang cenderung memaksa seseorang.&lt;br /&gt;Salah satu bentuk dari kelompok Islam yang baru tersebut adalah mereka yang ngotot berpendapat bahwa Pancasila ini kurang pas diterapkan di negeri ini dan perlu diganti dengan asas Islam. Sementara dalil yang biasa digunakan adalah karena mayoritas bangsa Indonesia adalah muslim. Usulan ini, sebenarnya sudah pernah diusulkan oleh para founding father kita. Tapi akhirnya diputuskan bukan negara Islam, tapi negara hukum yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Menurut NU, ini sudah final. Karena NU tidak ingin yang simbolik, tapi pribumisasi nilai-nilai dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sehingga yang menonjol adalah Islam yang ramah bukan Islam yang marah.&lt;br /&gt;Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) berdakwah ke seluruh segmen masyarakat. Sementara untuk kelompok Tionghoa memang masih kurang tergarap. Karena obyek dakwah dari LDNU memang sangat banyak, hampir di seluruh provinsi di NKRI ini. Sehingga ada beberapa daerah dan segmen yang tidak terjangkau.&lt;br /&gt;Tapi kami pernah melakukan kerjasama dengan etnis Tionghoa, misalkan kerja sama dalam masalah kebanjiran di Jakarta atau kerjasama mencari bahan-bahan untuk membantu umat. Tapi secara intensif memang masih belum.&lt;br /&gt;Ajakan berdakwah dari PITI sangat baik sekali. Kita bisa bekerja sama dengan mereka. Kita tidak pilih-pilih. Karena sesama umat Islam kita ini adalah saudara. Dalam NU itu kan ada ukhuwah Islamiyyah, wathoniyyah dan basyariyyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wawancara dengan KH. Nuril Huda (Ketua Lembaga Dawkah Nahdlatul Ulama)&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Adib Minanurrachim&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dimuat di SC Magazine Vol I&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2483512749123335218-2726017478863914770?l=adibdata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adibdata.blogspot.com/feeds/2726017478863914770/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2483512749123335218&amp;postID=2726017478863914770' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/2726017478863914770'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/2726017478863914770'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adibdata.blogspot.com/2007/12/manusia-dan-bintang.html' title='“KITA SENANG MENDENGAR AJAKAN PITI”'/><author><name>Adib Minanurrachim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15129533338323743129</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-I2gRc1Ay-KI/Trz7pcj6bYI/AAAAAAAAAJM/rpVJ_fN0h8A/s220/wajah%2B%252846%2529.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2483512749123335218.post-4711470343488228892</id><published>2007-12-19T13:08:00.000+07:00</published><updated>2007-12-27T11:38:23.665+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='WAWANCARA'/><title type='text'>SAYA MENEMUKAN KETENANGAN DI ISLAM</title><content type='html'>DULUNYA, mulai kecil hingga SMA, barangkali saya tidak beragama. Hingga saya masuk sekolah nasional, saya baru belajar agama katolik. Ketika kuliah saya juga universitas kristen.&lt;br /&gt;Saya masuk Islam pada usia 44 tahun. Saya berasal dari keluarga yang sangat demokratis. Orang tua saya, mungkin kecilnya dulu pernah masuk sekolah Katolik. Tapi kepada anak-anaknya tidak pernah menekankan/mendidik untuk mengikutinya. Sejak kecil saya sudah sangat akrab dengan keluarga-keluarga haji. Keluarga saya juga dekat.&lt;br /&gt;Saya menjadi muallaf mungkin karena lebih banyak terpengaruh dari pergaulan setelah dewasa di Sidoarjo, Surabaya. Selain itu, saya lebih banyak bergerak dalam organisasi Badan Komunikasi Persatuan dan Kesatuan Bangsa (BKOM PKB) mulai 1971. Dan dulu, saya tidak pernah memandang agama satu lebih baik daripada agama lainya.&lt;br /&gt;Saya pikir, pendidikan agama itu boleh mulai kecil. Tapi pada saat penetapan/pemilihan pada agama apa yang harus saya pilih, maka orang itu harus benar-benar mantap, dewasa. Sehingga pilihannya adalah pilihan yang terbaik.&lt;br /&gt;Kita memang tahu butuh suatu pengenalan terhadap agama. Tapi di mana kita dapat hidayah, kita kan tidak tahu. Mungkin jika anda dikasih dua-atau tiga pilihan agama, barangkali anda juga tidak pilih Islam. Tapi karena sejak kecil sudah tahu atau dipilihkan Islam, maka itulah hidupmu.&lt;br /&gt;Waktu sekolah saya pernah dekat dengan satu-dua gereja. Tapi yang saya rasakan tidak sebegitu mantap dan setenang ketika saya dekat dengan Islam. Dan hidayah itu kan datang tanpa kita sadari, mendadak dan kita mencintai. Saya merasakan datangnya hidayah itu sebagai ketenangan jiwa. Karena setelah masuk Islam, saya lebih tenang, lebih sabar, menerima apa adanya dan ada perubahan perilku. Dulu saya mungkin orang yang keras dan tidak sabaran. Tapi sekarang insyaallah menjadi lebih sabar.&lt;br /&gt;Proses masuk Islam itu tidak tiba-tiba. Tapi mulanya memang saya tidak sengaja. Ceritanya, sepuluh tahun sebelum saya masuk Islam. Anak saya yang ketika itu masih bayi sekira berumur 2-3 bulan, sakit keras. Sudah berobat dengan segala cara tapi tidak sembuh. Suatu ketika saya bermimpi bertemu dengan seorang berjubah putih. Ia berkata kepada saya, “kenapa tidak kamu adzani?” Saya langsung bangun dari tidur. Terkejut. Tapi akhirnya saya tidak menghiraukannya. “Ah, hanya bunga tidur,” pikir saya.&lt;br /&gt;Hingga suatu ketika saya bertemu dengan teman dekat dari Ambon, Maluku. Saya bercerita kepadanya. Dan ia menekankan agar saya segera melaksanakan anjuran orang berjubah putih dalam mimpi saya. Setelah itu, kami segera berangkat ke Rumah Sakit dan teman saya tersebut melaksanakan adzan di dekat anak saya. Alhamdulillah anak saya kemudian berangsur-angsur baik. Tapi saya tidak langsung masuk Islam, meski tiga tahun di setiap ramadhan saya sudah ikut puasa. Hingga kemudian, setelah saya merasakan kedekatan yang sangat dekat, saya putuskan untuk melakukan ikrar.&lt;br /&gt;Ketika saya masuk Islam tidak ada halangan satu pun. Karena keluarga saya sangat demokratis. Untuk keluarga saya sekarang, saya juga didik anak-anak saya sebagaimana orang tua saya mendidik saya. Demokratis. Saya tidak pernah menekankan pada mereka ini dan itu. Terserah mereka mau mengimani agama apa. Istri saya nasrani mulai kecil.&lt;br /&gt;Jadi, saya lebih setuju bahwa masa untuk memilih sebuah pilihan yang tidak berubah selamanya adalah pada usia 40-an&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wawancara dengan Willy Pangestu (Sekjen PITI)&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Adib Minanurrachim&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Dimuat di SC Magazine Vol I&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2483512749123335218-4711470343488228892?l=adibdata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adibdata.blogspot.com/feeds/4711470343488228892/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2483512749123335218&amp;postID=4711470343488228892' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/4711470343488228892'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/4711470343488228892'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adibdata.blogspot.com/2007/12/qurban.html' title='SAYA MENEMUKAN KETENANGAN DI ISLAM'/><author><name>Adib Minanurrachim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15129533338323743129</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-I2gRc1Ay-KI/Trz7pcj6bYI/AAAAAAAAAJM/rpVJ_fN0h8A/s220/wajah%2B%252846%2529.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2483512749123335218.post-4532711551404039251</id><published>2007-12-14T13:44:00.000+07:00</published><updated>2007-12-27T11:37:06.327+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='WAWANCARA'/><title type='text'>“TIONGHOA JUGA ADA YANG ISLAM”</title><content type='html'>PADA masa Orde Baru, pemerintah suka memberikan tekanan kepada etnis Tionghoa sehingga organisasi ini tidak menjadi besar. Salah satunya adalah tekanan pada penggunaan istilah Tionghoa. Sehingga organisasi ini sempat mengalami perubahan kepanjangan. Dari Persatuan Islam Tionghoa Indonesia menjadi Pembina Iman Tauhid Indonesia.&lt;br /&gt;Visi-misi PITI adalah untuk menyingkirkan kabut yang menaungi Indonesia selama ini bahwa antara Tionghoa dan Islam seoalah merupakan dua hal yang terpisahkan. Padahal Tionghoa itu bukanlah agama. Tapi suku sebagaimana Jawa, Betawi dan lainnya.&lt;br /&gt;Organisasi ini dibentuk juga untuk mempermudah syiar orang-orang Tionghoa muslim kepada warga Tionghoa yang belum muslim. Ini bertolak dari anjuran pengurus Muhammadiyah agar syiar di kalangan Tionghoa dilakukan oleh orang Tionghoa sendiri. Anjuran ini memang menimbulkan kesan bahwa orang Tionghoa itu tidak mungkin Islam. Imej ini terlalu kuat di masyarakat. Lebih-lebih organisasi besar semisal NU dan Muhammadiyah tidak pernah syiar kepada orang-orang Tionghoa. Tapi kami tidak menutup diri. Kami tetap mengajak kerjasama dengan mereka dalam syiar sehingga perkembangan organisasi ini bisa membaik.&lt;br /&gt;Saat ini PITI sudah memiliki 17 DPW di 17 provinsi. Susunan organisasinya dimulai dari DPP (Jakarta), DPW (Provinsi), DPD (Kabupaten) hingga DPC (kecamatan).&lt;br /&gt;Program-program PITI adalah pengajian di daerah-daerah dan juga pembinaan terutama untuk mereka yang baru masuk Islam. Selain itu, PITI juga wadah bagi warga Tionghoa yang mau mengenal Islam lebih jauh. Kami sangat terbuka, karena bila tertutup mana mungkin mereka mau mencintai Islam? Program lainnya adalah memberikan penjelasan kepada masyarakat tentang mana yang religi dan mana yang tradisi. Misalkan Imlek yang hingga detik ini banyak dipahami sebagai ajaran agama. Padahal itu bukan agama kecuali tradisi. Imlek itu bila di Jawa sama dengan Sura. Sementara di Islam ada Muharram.&lt;br /&gt;Pola pendekatan yang kita lakukan selama ini adalah pendekatan budaya. Karena kami sadar bahwa budaya dan karakter orang Tionghoa itu sangat heterogen. Misalkan saya ini sudah berbeda dengan orang Tionghoa yang ada di Sumatera. Saya ini sudah tiga generasi di Indonesia. Selain itu juga dengan mengangkat tokoh muslim yang terkenal seperti Laksamana Cheng Hoo. Nah di Surabaya itu kan ada Masjid Muhammad Cheng Hoo yang manfaatnya sangat luar biasa. Kalau dulu sebelum ada masjid, orang Tionghoa Jawa Timur yang menjadi muallaf dalam dua-tiga bulan hanya satu muallaf. Tapi saat ini, hampir setiap jumat ada muallaf.&lt;br /&gt;Ada beberapa masjid di Jakarta yang dibangun oleh Muslim Tionghoa. Tapi seiring kebijakan Orde Baru yang melarang komunitas Tionghoa muslim berkembang, maka identitas mereka hilang. Mereka menjadi pribumi. Sehingga Masjid-masjid tersebut tidak dikenal sebagai masjid yang didirikan oleh Tionghoa muslim. Di antara masjid yang dibangun oleh orang Tionghoa adalah Masjid Kebun Jeruk dan Masjid di Glodok.&lt;br /&gt;Kebijakan Orde Baru tersebut juga berimplikasi pada perpecahan antara Tionghoa. Sehingga Tionghoa Islam menjadi pribumi sementara Tionghoa non Islam seolah menjadi yang lain. Akhirnya hubungan antara keduanya terpisah. Tapi setelah adanya PITI ini, kita mencoba mendekatkan hubungan tersebut.&lt;br /&gt;Ada perbedaan antara misi Tionghoa Muslim lama dengan Tionghoa Muslim baru. Bila Tionghoa Muslim lama hanya mengerti soal agama dan kurang mengerti soal nasionalisme. Tapi PITI yang sekarang ini juga berpikir tentang nasionalisme dan kebangsaan.&lt;br /&gt;PITI sebagai organisasi tidak pernah mengeluarkan fatwa apa pun. Kita selalu menyerahkannya kepada individu masing-masing. Karena PITI selalu menyesuaikan diri dengan ormas-ormas besar. Misalkan jika berada di salah satu tempat yang kebetulan warga Muhammadiyahnya besar, maka PITI juga lebih banyak mengikutinya. Begitu pun jika NU yang kuat. Karena itu saya lebih suka mengatakan bahwa jangan dilihat orang Tionghoa itu sebagai orang lain (liyan). Yang membedakannya hanyalah warna kulit. Bila masih ada pembedaan antara satu dan lainnya maka kita tidak akan bisa bersatu.&lt;br /&gt;Harapan saya terhadap ormas yang masih enggan melakukan syiar di kalangan warga Tionghoa adalah kita harus benar-benar tahu sejarah penyebaran agama Islam di Indonesia di mana orang-orang Tionghoa juga berperan di dalamnya. Hanya karena politik, hal ini kemudian dihilangkan. Bila hal ini disadari, saya kira tidak ada lagi perbedaan. Termasuk yang ingin kami ungkap saat ini adalah ada beberapa walisongo yang berdarah Tionghoa.&lt;br /&gt;Jadi, dengan pengakuan sebagai warga negara Indonesia yang tanpa diskriminasi, kita berharap bisa membantu proses kebangsaan kita. Ukhuwah itu menurut saya ada tiga, Islamiyah, Watoniyah dan Basyaraiyah. Tapi jujur saja saya lebih condong ke Basyariyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wawancara dengan H.S. Willy Pangestu (Sekjen Persatuan Islam Tionghoa Indonesia)&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Adib Minanurrachim&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Dimuat di SC Magazine Vol I&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2483512749123335218-4532711551404039251?l=adibdata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adibdata.blogspot.com/feeds/4532711551404039251/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2483512749123335218&amp;postID=4532711551404039251' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/4532711551404039251'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/4532711551404039251'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adibdata.blogspot.com/2007/12/tasawuf-dalam-pendidikan-pesantren.html' title='“TIONGHOA JUGA ADA YANG ISLAM”'/><author><name>Adib Minanurrachim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15129533338323743129</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-I2gRc1Ay-KI/Trz7pcj6bYI/AAAAAAAAAJM/rpVJ_fN0h8A/s220/wajah%2B%252846%2529.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2483512749123335218.post-8036492223972307875</id><published>2007-12-14T13:30:00.000+07:00</published><updated>2007-12-27T11:34:36.497+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='LAPORAN'/><title type='text'>PROFIL PERSATUAN ISLAM TIONGHOA INDONESIA</title><content type='html'>PERSATUAN Islam Tionghoa Indonesia (PITI) didirikan di Jakarta pada tanggal 14 April 1961, antara lain oleh alm. H. Abdul Karim (Oei Tjeng Hien), alm. H. Abd. Somad (Yap A Siong) dan alm. Kho Goan Tjin. Tujuan dari pendirian organisasi ini adalah mempersatukan muslim Indonesia dengan muslim Tionghoa.&lt;br /&gt;PITI merupakan fusi dari Persatuan Islam Tionghoa (PIT) pimpinan alm. H. Abdusomad (Yap A Siong) dan Persatuan Tionghjoa Muslim (PTM) pimpinan alm. Kho Goan Tjin.&lt;br /&gt;Sebelum kemerdekaan PIT dan PTM yang didirikan di Medan dan Bengkulu, masih bersifat lokal. Sehingga keberadaan PIT dan PTM ketika itu belum begitu dirasakan masyarakat, baik muslim Tionghoa dan muslim Indonesia. Karena itu, untuk merealisasikan perkembangan ukhuwah islamiyah di kalangan muslim Tionghoa, maka PIT dan PTM merelakan diri pindah ke Jakarta, bergabung dalam satu wadah, yakni PITI.&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;PITI didirikan juga atas saran saran Ketua Pengurus Pusat Muhammadiyah, alm. KH. Ibrahim kepada alm H. Abd. Karim Oei bahwa dakwah islamiyyah kepada etnis Tionghoa harus dilakukan oleh etnis Tionghoa yang muslim.&lt;br /&gt;Visi PITI adalah mewujudkan Islam rahmatan lil alamin (islam sebagai rahmat bagi seluruh alam). Sementara Misi PITI adalah selain untuk mempersatukan umat islam di lingkungan tempat tinggal dan pekerjaannya, juga sebagai wadah yang siap memberikan pembelaan dan perlindungan bagi para muallaf yang untuk sementara mempunyai masalah dengan keluarga dan lingkungannya. Alasan terakhir ini disebabkan karena adanya anggapan kuat di antara etnis Tionghoa non muslim, bahwa Islam itu identik dengan kemunduran, kemalasan, kebodohan, kekumuhan, pemaksaan dan kekerasan (radikal dan teroris). Pandangan ini salah. Karena sesungguhnya, Islam sudah masuk ke Tiongkok sebelum agama islam masuk ke Indonesia dan saat ini sudah dianut oleh lebih kurang 80-100 juta umat.&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;DALAM perjalanan sejarah keorganisasiannya, PITI sempat mengalami perubahan nama menjadi Pembina Iman Tauhid Indonesia. Ini disebabkan karena di rentang tahun antara 1960-1970an terdapat kebijakan yang melarang simbol-simbol, identitas yang menurut pemerintah bisa menghambat persatuan dan kesatuan. Perubahan nama itu terjadi pada tanggal 15 Desember 1972.&lt;br /&gt;Singkatan PITI harus dipertahankan. Soal apakah berkepanjangan Pembina Iman Tauhid Islam, Persatuan Islam Tionghoa Indonesia atau bahkan lainnya tidak terlalu penting. Karena singkatan PITI sudah memasyarakat di kalangan umat Islam. PITI adalah muslim Tionghoa. Muslim Tionghoa adalah PITI. PITI adalah panggilan atau sebutan kesayangan umat Islam terhadap muslim Tionghoa.&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;SEJAK didirikan sampai saat ini, keanggotaan dan kepengurusan PITI bersifat terbuka dan demokratis. Tidak terbatas hanya muslim Tionghoa tapi juga muslim Indonesia secara keseluruhan.&lt;br /&gt;Apapun dan bagaimana pun kondisi organisasinya, PITI sangat diperlukan oleh etnis Tionghoa, baik yang muslim maupun non muslim. Bagi muslim Tionghoa, PITI adalah wadah silaturrahmi dan upaya saling memperkuat semangat dalam menjalankan ajaran Islam di lingkungan keluarganya yang masih non muslim. Sementara bagi etnis Tionghoa non muslim, PITI adalah jembatan bagi mereka untuk mengenal Islam dan atau sekedar berhubungan dengan umat islam. Bagi pemerintah, PITI adalah komponen bangsa yang dapat berperan strategis sebagai jembatan, penghubung antara suku dan etnis serta sebagai perekat untuk lebih mempererat persatuan dan kesatuan bangsa dalam bingkai NKRI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Adib Minanurrachim&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dimuat di SC Magazine Vol I&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2483512749123335218-8036492223972307875?l=adibdata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adibdata.blogspot.com/feeds/8036492223972307875/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2483512749123335218&amp;postID=8036492223972307875' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/8036492223972307875'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/8036492223972307875'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adibdata.blogspot.com/2007/12/masjid-agung-banten-lama-nafas-sejarah.html' title='PROFIL PERSATUAN ISLAM TIONGHOA INDONESIA'/><author><name>Adib Minanurrachim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15129533338323743129</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-I2gRc1Ay-KI/Trz7pcj6bYI/AAAAAAAAAJM/rpVJ_fN0h8A/s220/wajah%2B%252846%2529.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2483512749123335218.post-7324803642872771890</id><published>2007-11-22T20:24:00.001+07:00</published><updated>2007-12-27T11:31:55.615+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='REHAL'/><title type='text'>CINTA TUHAN, SHALAT NIKMAT</title><content type='html'>&lt;em&gt;“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh amat berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka kembali kepada-Nya. (QS. Al-Baqarah, 2: 45-46)”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAGI sebagian besar muslim, bukan rahasia bila menjalankan ibadah shalat acapkali dirasakan sebagai rutinitas yang melelahkan. Bahkan tak jarang, shalat dipahami sebagai rutinitas yang kadang-kadang menghambat seseorang dalam proses perolehan nafkah kehidupan. Ini biasanya dirasakan oleh sebagian masyarakat yang letih menghadapi himpitan hidup di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya dan lainnya. Sehingga di antara mereka tak sedikit yang dengan terpaksa meninggalkan shalat.&lt;br /&gt;Perspektif di atas, tampakya bertolak dari pemahaman bahwa shalat adalah kewajiban yang harus dijalankan agar terhindar dari sanksi neraka dan harapan masuk surga. Pemahaman ini tidak salah. Tapi bila seseorang hanya memahami shalat sebatas rutinitas kewajiban yang harus dilaksanakan, maka dapat dipastikan ia akan mengalami kelelahan dan bahkan kebosanan. Hingga kemudian, ia bisa dengan mudah meninggalkan shalat.&lt;br /&gt;Bertolak dari hal tersebut, dibutuhkan pemahaman tentang hikmah shalat yang nota bene bisa menjadikan jiwa seseorang menjadi tenang dan tentram. Tapi sayang, ini tak mudah dilakukan. Karena sebagaimana karakternya, hikmah tak mudah dicerna dengan panca indera kecuali rasa. Sehingga selain dibutuhkan pemahaman filosofis tentang shalat juga dibutuhkan pelatihan yang sungguh-sungguh untuk mendalami hakikat shalat, dengan harapan bisa memperoleh hikmah yang bermanfaat bagi kehidupan manusia.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;SIFAT dasar manusia adalah pamrih. Kita akan merasa enggan bila memberikan sesuatu kepada orang lain bila kita tidak memperoleh sesuatu pun darinya. Tapi sikap pamrih ini ternyata tidak berlaku bagi seseorang yang jatuh cinta. Orang yang mabok asmara, bisa dipastikan akan melakukan segala sesuatu (meski kadang mustahil dilakukan) untuk seseorang yang ia cintai. Ia rela memberi meski ia tidak menerima. Sebab baginya, membahagiakan impian hati adalah kebutuhan dari gejolak rasa yang terus meluap tiada henti.&lt;br /&gt;Keadaan mabuk asmara tersebut, adalah sebuah ibarat yang disampaikan Abu Sangkan dalam bukunya, Pelatihan Shalat Khusyu, Shalat sebagai Meditasi Tertinggi dalam Islam, untuk lebih mempermudah seseorang menyelami dan meresapi shalat khusyu (hal. 12). Dalam buku yang sudah dicetak sebanyak 12 kali ini, secara subtantif, ia hendak mengatakan bahwa dengan mencintai Tuhan, maka kita bisa mengerjakan shalat dengan khusyu. Karena itu dalam bukunya ia tidak terlalu memfokuskan pada pembahasan fiqhiyyah shalat. Tapi ia lebih tertarik mengajak seseorang untuk menyelami hakikat shalat yang nota bene merupakan wasilah untuk berdialog langsung dengan Tuhan. Harapannya, ada tetes-tetes hikmah yang bisa membasuh sikap dan perilaku setiap muslim menjadi muslim  yang berakhlakul karimah. Sederhananya, Abu Sangakn ingin berkata seperti Jalaluddin Arrumi, kalian punya sayap tapi kenapa kalian tidak terbang ke langit? Malah terus-menerus merayap di bumi?&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;DALAM buku setebal 136 ini, Abu Sangkan mencoba membagi pengalamannya dalam menjalankan ibadah shalat. Buku ini terbagi menjadi beberapa bab. Tapi secara subtantif buku ini mengupas kedalaman shalat mulai dari persiapan menjelang shalat seperti wudhu hingga doa.&lt;br /&gt;Buku ini cocok untuk semua umat islam yang mengalami kekeringan makna ketika menjalankan ibadah shalat. Lebih jauh, buku ini adalah ajakan untuk bersama-sama lebih mencintai Allah SWT melalui shalat khusyu. Bila anda ingin mencicipi nikmatnya bercinta dengan Tuhan, anda bisa membaca buku ini. Minimal anda akan mendapatkan pemahaman tentang hakikat dan hikmah shalat, meski itu semua butuh perjuangan yang tak pernah putus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Adib Minanurrachim&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;Dimuat di SC Magazine Vol I&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2483512749123335218-7324803642872771890?l=adibdata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adibdata.blogspot.com/feeds/7324803642872771890/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2483512749123335218&amp;postID=7324803642872771890' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/7324803642872771890'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/7324803642872771890'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adibdata.blogspot.com/2007/11/j-o-d-o-h.html' title='CINTA TUHAN, SHALAT NIKMAT'/><author><name>Adib Minanurrachim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15129533338323743129</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-I2gRc1Ay-KI/Trz7pcj6bYI/AAAAAAAAAJM/rpVJ_fN0h8A/s220/wajah%2B%252846%2529.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2483512749123335218.post-7325357791283273663</id><published>2007-11-22T20:23:00.000+07:00</published><updated>2007-12-27T11:30:16.320+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ADVERTORIAL'/><title type='text'>RESTO TRADISIONAL, SENTUHAN ISLAMI</title><content type='html'>&lt;em&gt;Bagi warga urban di Jakarta, menikmati masakan tradisional bersama keluarga di sebuah tempat yang asri dan terasa di kampung sendiri memang tak mudah. Tapi kesulitan itu dijawab Restoran Pondok Laras. Selain menyediakan menu masakan tradisional, saung yang luas, tempat mainan anak-anak, Pondok Laras juga memberikan sentuhan Islami.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEKILAS, restoran bergaya tradisional Jawa ini kurang menarik dilihat. Halamannya hanya bisa menampung beberapa mobil. Sementara bagian dinding depannya terbuat dari kayu yang sudah mulai kusam. Sehingga orang yang tidak pernah berkunjung ke sana, tampak ngeh untuk mampir dan menikmati makanan di dalamnya.&lt;br /&gt;Tapi setelah kita masuk di dalamnya, perasaan ngeh tadi akan berubah takjub. Dengan luas sekira 700 m, restoran ini ternyata tak sekedar menyajikan menu masakan tradisional khas Jawa yang lezat, tapi juga menyediakan ruangan yang luas dan lingkungan yang asri seperti di taman rekreasi.&lt;br /&gt;Restoran ini terdiri dari dua ruangan. Di ruangan pertama, selain kita bisa memilih duduk di kursi atau lesehan, kita juga bisa membaca buku-buku Islami di perpustakaan mini yang sengaja disediakan di pojok ruang depan. Sementara bila kita ingin lebih menikmati masakan dengan nuansa alami, kita bisa turun ke ruang kedua yang terletak di bawah. Di sana kita bisa memilih beberapa saung yang memiliki ukuran berbeda-beda. Mulai saung kecil yang cukup ditempati untuk satu keluarga hingga saung yang bisa memuat sekira 300-an orang dan bisa digunakan untuk acara hajatan semisal pernikahan hingga acara rapat atau syukuran. Saung-saung ini berdiri di atas kolam ikan. Menariknya, nama-nama saung ini diambil dari tempat-tempat haji, seperti Makkah, Madinah, Mina dan lain sebagainya. Sementara di sekitarnya terdapat rerumputan hijau dan bunga-bunga yang menyegarkan mata. Lebih jauh, terdapat beberapa hewan untuk melengkapinya, seperti monyet dan burung kausari.&lt;br /&gt;Restoran ini terasa makin tentram dengan nuansa Islami yang bersumber dari mushalla yang indah dengan kubah menjulang tinggi. Bangunan ini tak sekedar diperuntukkan ibadah shalat saja, tapi juga untuk pengajian dan tahsin al-Qur’an. Di samping itu, kita juga akan senang dengan sikap ramah gadis-gadis berjilbab ketika melayani pesanan makanan.&lt;br /&gt;Lebih jauh, restoran ini juga cocok bagi keluarga yang membawa putra-putrinya. Karena di ruangan bawah, terdapat beberapa mainan. Sehingga, selain bisa menikmati masakan yang lezat pengunjung juga bisa bercengkerama dengan keluarga. Dus, restoran pondok laras memang sesuai dengan namanya, tempat beristirahat. “Sesuai namanya, saya ingin menjadikan restoran ini sebagai rumah makan plus tempat melepas penat,” kata H. Djoko Waloeyo, pemilik restoran Pondok Laras kepada SC Magazine.&lt;br /&gt;MENU TRADISIONAL&lt;br /&gt;SEBAGAIMANA diceritakan Djoko, menu yang disajikan hanya masakan-masakan tradisional Jawa. “Ini sebagai bentuk keprihatianan saya terhadap fenomena masakan tradisional yang mulai di lupakan oleh bangsa Indonesia, khususnya warga perkotaan.”&lt;br /&gt;Salah satu menu utama restoran yang berdiri sejak tahun 1991 ini adalah ayam plenet. Masakan yang terbuat dari ayam goreng yang diplenet/ditumbuk dengan sambal pedas ini merupakan masakan yang paling digemari para pengunjung. Ketika ditanya tentang asal mula menu tersebut, Djoko mengatakan bahwa ayam plenet ini berasal dari Nganjuk, Jawa Timur. “Ketika saya mampir di salah satu warung di Nganjuk, saya dihidangkan masakan ayam plenet. Setelah merasakan kelezatannya, saya meminta resepnya dan kemudian istri saya mencobanya di rumah. Ternyata hasilnya nikmat. Sejak itu saya menjadikannya salah satu menu utama di restoran ini,” kata bapak berpenampilan sederhana ini.&lt;br /&gt;Selain ayam plenet, Djoko juga mempunyai daftar menu tradisional yang cukup variatif dan menggoda selera. Daftar menu tersebut di bagi menjadi enam. Pertama masakan tradisional semisal, gurame asam manis, ayam plenet, pecel lele, sop iga dan lainnya. Kedua masakan laut semisal, cumi goreng tepung, udang saus tiram, udang goreng tepung dan udang asem manis. Ketiga makanan kecil semisal, lumpia, otak-otak, tempe mendoan dan lainnya. Keempat jus, semisal jus tomat, melon, markisa, strawbery dan lainnya. Kelima wedang, semisal wedang bajigur, beras kencur, temulawak, jahe dan lainnya. Terakhir makanan penutup semisal, asinan, rujak gobet dan buah.&lt;br /&gt;SENTUHAN ISLAMI&lt;br /&gt;SEMENTARA mengenai nuansa Islam yang hadir di restoran, Djoko mengaku menerapkannya setelah dekat dengan Islam. Awalnya ia sering bertemu dengan beberapa orangtua murid saat mengantar anaknya di sekolah Dasar Islam Nurul Fikri pada tahun 1993 lalu. Dari situ kesadaran Islamnya bersemi, hingga akhirya dia dan seluruh kelaurganya berupaya mengamalkan Islam secara kaffah. Bahkan para pegawai wanitanya yang berjumlah 17 orang diwajibkan berjilbab.&lt;br /&gt;“Memang pada awalnya berat. Tapi setelah kita beri pengertian dan penyadaran mengenai agama, malah mereka semakin senang,”ujarnya menjelaskan. Kepedulian Djoko dengan da’wah tidak sebatas itu, bahkan dia acapkali mengundang masyarakat sekitar untuk mengikuti pengajian di Mushollanya. Sekira 40 orang hadir setiap Selasa Malam. Kini dia merasakan betul, ternyata sentuhan Islam di restorannya turut menarik pembeli. Bila di hari-hari biasa saja sudah ramai, apalagi di Bulan Ramadhan dan Idul Fitri. “Bila Ramadhan kita hanya buka mulai jam 4 hingga setelah Maghrib. Melihat pembeli, masyaaallah restoran ini seperti lautan putih. Kebahagiaan yang saya rasakan melebihi keuntungan yang saya dapatkan,” katanya berkaca-kaca.&lt;br /&gt;Menurut Djoko, selain yakin kepada Allah, ketekunan dan kesabaran adalah kunci suksesnya. “Dengan ketekunan dan kesabaran kita akan mampu mengatasi berbagai permasalahan,” ujarnya.&lt;br /&gt;Lebih dari itu, landasan dalam berusahanya mengacu pada Surat Al-Baqarah ayat 45, yakni sabar dan shalat sebagai penolong kaum mukmin. Hingga kini dia bersyukur selalu dimudahkan dalam berusaha.&lt;br /&gt;Sekarang, pria kelahiran Manahan, Solo 12 Desember 62 tahun lalu ini merasa bahagia dengan restoran yang diwarnai sentuhan Islami itu. Namun bukan pemilik saja yang merasakannya, salah satupengunjung dan pelanggan yang berhasil di temuai SC Magazine, menyatakan hal yang sama. “Saya suka makan di sini, selain tempat dan pelayannya yang menyenangkan, makan di sini juga menyejukkan suasana hati,” kata Wahyu, pelanggan yang berprofesi sebagai dosen di STAI Al-Qudwah Depok.&lt;br /&gt;Sentuhan Islami terbukti membuat Pondok Laras semakin digemari pengunjung, namun suasana Islami itu tak sekedar polesan penarik langganan, tapi Djoko dan keluarganya tak segan-segan menegur jika di tempatnya dijadikan sebagai ajang kencan. Bahkan sepasang muda-mudi diberi tempat di ruang depan dan jika suasana agak sepi beberapa pelayan berkumpul di ruang sebelahnya. Semua ini bukan hanya untuk menjaga citra, namun menegaskan bahwa sebagai pengusaha ia juga dapat berdakwah.&lt;br /&gt;“Saya ini tidak pandai berceramah, tapi saya yakin apa pun profesinya, kita harus berupaya menegakkan syiar Islam,” tambahnya tegas.*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Adib Minanurrachim dan Azti Arlina&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dimuat di SC Magazine Vol I&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2483512749123335218-7325357791283273663?l=adibdata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adibdata.blogspot.com/feeds/7325357791283273663/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2483512749123335218&amp;postID=7325357791283273663' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/7325357791283273663'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/7325357791283273663'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adibdata.blogspot.com/2007/11/bunga-kehidupan.html' title='RESTO TRADISIONAL, SENTUHAN ISLAMI'/><author><name>Adib Minanurrachim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15129533338323743129</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-I2gRc1Ay-KI/Trz7pcj6bYI/AAAAAAAAAJM/rpVJ_fN0h8A/s220/wajah%2B%252846%2529.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2483512749123335218.post-469846144148132683</id><published>2007-11-11T21:53:00.000+07:00</published><updated>2007-12-27T11:18:00.058+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='EDITORIAL'/><title type='text'>PANCASILA DAN DEMOKRASI</title><content type='html'>&lt;em&gt;Konon Buddha dan Siwa merupakan dua zat yang berbeda // Mereka memang berbeda, tapi bagaimanakah bisa dikenali?// Sebab kebenaran Jina (Buddha) dan Siwa adalah tunggal // Terpecah belahlah itu, tapi satu jualah itu. Tidak ada kerancuan dalam kebenaran. (&lt;/em&gt;&lt;a title="Mpu Tantular" href="http://www.blogger.com/wiki/Mpu_Tantular"&gt;&lt;em&gt;Mpu Tantular&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt;, &lt;/em&gt;&lt;a title="Kakawin Sutasoma" href="http://www.blogger.com/wiki/Kakawin_Sutasoma"&gt;&lt;em&gt;Kakawin Sutasoma&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt;)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KUTIPAN bait di atas adalah terjemahan dari Bahasa Jawa Kuna (Kawi), yang dikutip dari &lt;a title="Kakawin" href="http://www.blogger.com/wiki/Kakawin"&gt;Kakawin&lt;/a&gt; (Kitab) Jawa Kuna&lt;a title="Kakawin Sutasoma" href="http://www.blogger.com/wiki/Kakawin_Sutasoma"&gt; Sutasoma&lt;/a&gt;, karya &lt;a title="Mpu Tantular" href="http://www.blogger.com/wiki/Mpu_Tantular"&gt;Mpu Tantular&lt;/a&gt;  pada masa Kerajaan &lt;a title="Majapahit" href="http://www.blogger.com/wiki/Majapahit"&gt;Majapahit&lt;/a&gt; di &lt;a title="Abad ke-14" href="http://www.blogger.com/wiki/Abad_ke-14"&gt;abad XIV&lt;/a&gt;. Kakawin ini istimewa, karena menggambarkan &lt;a title="Toleransi" href="http://www.blogger.com/w/index.php?title=Toleransi&amp;amp;action=edit"&gt;toleransi&lt;/a&gt; antara &lt;a title="Umat" href="http://www.blogger.com/wiki/Umat"&gt;umat&lt;/a&gt; &lt;a title="Hindu" href="http://www.blogger.com/wiki/Hindu"&gt;Hindu&lt;/a&gt; &lt;a title="Siwa" href="http://www.blogger.com/wiki/Siwa"&gt;Siwa&lt;/a&gt; dengan umat &lt;a title="Buddha" href="http://www.blogger.com/wiki/Buddha"&gt;Buddha&lt;/a&gt; di bawah bendera Majapahit. Atas sikap toleran dan kehendak bersatu ini, Majapahit pernah mengalami masa keemasan dan terkenal sebagai nation state (negara-bangsa) yang memiliki pola organisasi rapi seperti Imperium Romawi, dan merupakan negara maritim terbesar di dunia pada zamannya.&lt;br /&gt;Subtansi pemikiran Mpu Tantular itu, lalu dijadikan motto Bangsa Indonesia dengan nama Bhinneka Tunggal Ika (berbeda-beda tapi tetap satu). Ini seperti ditegaskan Ir. Soekarno di hadapan anggota Sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada tanggal 1 Juni 1945, bahwa Bangsa Indonesia hendak mendirikan sebuah negara “semua untuk semua”, bukan untuk satu orang atau satu golongan. Soekarno menegaskan subtansi ajaran itu, karena menyadari bahwa Bangsa Indonesia terdiri dari pelbagai macam suku, adat, ras dan agama yang berbeda-beda. Dia bercita-cita mendirikan nation-state seperti zaman Sriwijaya dan Majapahit melalui Pancasila dan demokrasi. Dengan Pancasila, Bangsa Indonesia memiliki karakteristik sekaligus cita-cita. Sementara demokrasi adalah instrumen perjuangannya.&lt;br /&gt;Menurut Otto Bauer, tokoh Prancis yang dikutip Soekarno dalam pidato pertamanya, bangsa adalah satu persatuan perangai yang timbul karena persatuan nasib. Bangsa bukan karena kesamaan suku, adat, ras dan agama. Bangsa adalah sikap bersama ketika nasib yang sama mempersatukannya. Sederhananya, menurut Ernest Renan, ada kehendak untuk bersatu (le desir d’etre ensemble). Ini dibuktikan ketika pada masa perjuangan, Bangsa Indonesia dari Sabang sampai Merauke memiliki kecenderungan sikap yang sama untuk merdeka dari cengkeraman penjajah Belanda maupun Jepang.&lt;br /&gt;Tapi sebagai bangsa kita tidak kemudian menjadi chauvinis, mengaku sebagai bangsa tertinggi di dunia dan merendahkan bangsa lain. Kita harus menuju pada persatuan dan persaudaraan dunia. Bukan sebaliknya.&lt;br /&gt;Cita-cita Bangsa Indonesia adalah terkandung dalam nilai-nilai dari Pancasila (lima sila/azas), yang mendasari berdirinya Negara Indonesia. Nilai-nilai itu adalah; pertama pluralisme agama (kebebasan menganut dan menjalankan ajaran agamanya masing-masing); kedua humanisme; ketiga nasionalisme; keempat demokrasi; kelima ekonomi kerakyatan. Kelima nilai ini—meminjam istilah Jurgen Habermas—merupakan ‘proyek’ masa depan yang tak pernah usai, yang harus diperjuangkan terus-menerus agar kita bisa merasakan tetes-tetes sari patinya.&lt;br /&gt;Bukti tak kunjung usainya ‘proyek’ itu, adalah masih sedemikian banyaknya masalah yang terus-menerus dihadapi Bangsa Indonesia sejak merdeka hingga era reformasi saat ini. Mulai soal terancamnya nilai pluralisme dengan konflik antaragama di Poso Sulawesi Tengah, obsesi membuat peraturan daerah tentang pemberlakuan ajaran agama tertentu; terancamnya humanisme dengan kasus trafficking, buruh; terancamnya nasionalisme dengan gerakan separatisme seperti Republik Maluku Selatan (RMS) di Maluku; terancamnya demokrasi dengan oligarki partai, fenomena ‘hukum rimba’ Pilkada; terancamnya ekonomi kerakyatan dengan makin maraknya KKN, dll.&lt;br /&gt;Pertanyaannya, mengapa masalah itu bermunculan? Ada yang menjawab, itu terjadi karena Pancasila mulai kehilangan ruh dan maknanya. Sehingga perlu ada restorasi (pemugaran kembali) agar Pancasila bisa kembali bermakna dan lebih bisa memberi motivasi agar bangsa ini lebih mempererat persatuan. &lt;br /&gt;Pendapat itu, barangkali merupakan keresahan sebagian kalangan terhadap fenomena kurangnya penjiwaan Bangsa Indonesia terhadap nilai-nilai Pancasila. Sebelumnya, ini juga terjadi pada masa Demokrasi Terpimpin Soekarno dan lebih-lebih Demokrasi Pancasila Soeharto.  &lt;br /&gt;Pertama, Soekarno membubarkan parlemen dan mengumpulkan kekuasaan dalam hanya dirinya. Meski langkah diktatorial ini didukung oleh rakyat yang tak sabar dengan “cekcok para politisi”, tapi menurut Bung Hatta, sistem yang mengandalkan kekuasaan pada orang per orang, tak ubahnya seperti rumah kertas yang cepat rontok. Kedua, Soeharto memposisikan Pancasila sebagai instrumen politik untuk menjaga kelestarian status quo. Sehingga rezim ini menjadi tertutup, otoriter-represif dan menumbuh-suburkan KKN di segala lini dan tingkatan.&lt;br /&gt;Merespon tawaran restorasi itu, KH. Abdurrahman Wahid, mantan Presiden Republik Indonesia mengatakan bahwa restorasi tidak perlu, tapi Pancasila perlu dikembangkan. Artinya, nilai-nilai yang terkandung dalam kelima sila itu perlu terus diperjuangkan.&lt;br /&gt;Sementara itu, sejauh ini instrumen perjuangan yang masih dianggap relevan adalah demokrasi. Karena demokrasi menjamin persamaan hak asasi manusia. Sehingga kita bisa memperbaiki pelbagai masalah melalui jalur musyawarah dan mufakat.&lt;br /&gt;Lebih jauh, melalui demokrasi, kita tidak menjadi bangsa yang merdeka tapi kaum kapitalisnya merajalela. Artinya, kita punya peluang merealisasikan kesejahteraan sosial. Ini diperkuat dengan nilai sila kelima, yaitu ekonomi kerakyatan.&lt;br /&gt;Meski demikian, jika demokrasi tanpa disertai dengan supremasi hukum yang independen, tujuan mulia di atas masih juga bisa dimanipulasi. Contoh mudahnya adalah kasus KKN Soeharto dan kroni-kroninya. Mereka lolos bukan karena tidak ada hukum, tapi karena hukum yang tidak independen.&lt;br /&gt;Sementara itu, keberadaan pers bebas yang bertanggung jawab, sejauh ini ternyata bisa menjadi pilar demokrasi setelah eksekutif, legislatif dan yudikatif. Karena pers bisa meminimalisir kasus-kasus kejahatan melalui publikasi, yang kemudian dilanjutkan dengan kontrol oleh masyarakat. Mengingat betapa penting kehadiran pers bebas dan bertanggungjawab ini, barangkali kehadiran RUU Rahasia Negara perlu ditolak dan menggantinya dengan turut memperjuangkan RUU Kebebasan Memperoleh Informasi Publik menjadi legal drafting.&lt;br /&gt;Terakhir, dalam rangka memperjuangkan nilai-nilai Pancasila, kehadiran civil society (masyarakat kuat) mutlak diperlukan. Ini bisa dilakukan bila segenap elemen pro demokrasi bersatu, merapatkan barisan untuk melakukan pendidikan terhadap masyarakat. Sehingga nantinya akan tercipta masyarakat yang berdaya. Karena itu, falsafah Bhinneka Tunggal Ika yang telah berurat akar ratusan tahun di bumi Indonesia, perlu terus kita pelihara dan jaga. Ini seperti kutipan syair lagu Iwan Fals yang berjudul Di Bawah TiangBendera: Pada tanah yang sama kita berdiri // Pada air yang sama kita berjanji // Karena darah yang sama jangan bertengkar // Karena tulang yang sama usah berpencar // Indonesia... Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Adib Minanurrochim&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Dimuat di ALFIKR No 14 Th XIV Desember 2006 Februari 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2483512749123335218-469846144148132683?l=adibdata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adibdata.blogspot.com/feeds/469846144148132683/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2483512749123335218&amp;postID=469846144148132683' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/469846144148132683'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2483512749123335218/posts/default/469846144148132683'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adibdata.blogspot.com/2007/11/komunitas-arab-surabaya-memakmurkan.html' title='PANCASILA DAN DEMOKRASI'/><author><name>Adib Minanurrachim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15129533338323743129</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-I2gRc1Ay-KI/Trz7pcj6bYI/AAAAAAAAAJM/rpVJ_fN0h8A/s220/wajah%2B%252846%2529.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2483512749123335218.post-8602171508235166392</id><published>2007-11-11T21:50:00.001+07:00</published><updated>2007-12-27T11:15:13.943+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='LAPORAN'/><title type='text'>MENGGUGAT KESAKTIAN PANCASILA</title><content type='html'>&lt;em&gt;Peringatan hari Kesaktian Pancasila telah berlalu. Tapi polemik soal mengapa ada peringatan Kesaktian Pancasila, hingga kini masih berlanjut. Lebih-lebih, benarkah Pancasila sakti, bertuah? Tapi mengapa masih banyak fenomena yang jauh dari nilai-nilai Pancasila? Adakah yang tak tuntas? Perlukah Restorasi Pancasila?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;APA filosofi Indonesia merdeka?" tanya Bung 
